Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan, e-issn; 2613-9820, issn cetak; 2477-0523 mengundang para ilmuwan untuk mempublikasikan karya ilmiah berupa penelitian atau makalah yang dibuat dalam bentuk artikel berkaitan dengan isu-isu politik, sosial, hukum, kebudayaan dan perekonomian warga negara berdasarkan pancasila. Kewarganegaraan diperlakukan sebagai konsep strategis dalam analisis Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan diterbitkan setiap bulan April dan November.
Articles
184 Documents
Civic Competence Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Negeri 2 Sungai Penuh
Rafzan Rafzan;
Fandy Adpen Lazzavietamsi;
Ahmad Izzul Ito
RONTAL: Jurnal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/a
Penelitian ini bermaksud untuk melihat kompetensi kewarganegaraan dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. Desain penelitian bersifat kualitatif menggunakan metode deskriptif. Informan penelitian dipilih melalui snowball sampling yang melibatkan guru-guru pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah itu, koordinator kurikulum sekolah dan siswa SMA Negeri 2 Sungai Penuh. Data dikumpulkan melalui pengamatan, wawancara dan dokumentasi. Teknik triangulasi digunakan untuk uji validitas data. Setelah data dikumpulkan, analisis dilakukan menggunakan teknik analisis interaktif. Temuan ini mengungkapkan bahwa kompetensi sipil di SMA Negeri 2 Sungai Penuh belum sepenuhnya dilaksanakan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi implementasi kompetensi kewarganegaraan belum terpenuhi, pertama; Kurangnya minat siswa terhadap investasi diri d dalam proses pembelajaran seperti terlalu enggan terlibat dalam diskusi kelompok dan ketidakmauan untuk menghargai pendapat orang lain, kedua; kurangnya pengetahuan guru dalam memahami karakteristik siswa sehingga guru luput membantu dan sering tidak terkontrol selama proses pembelajaran berlansung, ketiga; kurangnya pengetahuan guru dalam memahami potensi siswa yang mengakibatkan metode mengajar guru satu arah.
Pepali Ki Ageng Selo sebagai Konsep Etika Kewarganegaraan
Wawan Shokib Rondli
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/a
The purpose of this research was to explore and uncover the values of Pepali Ki Ageng Selo as the ethics of citizenship. The research’s method used qualitative philosophical approach with factual historical research method conducted by philosophical investigation which followed the way and direction of mind presented in the book entitled Pepali Ki Ageng Selo through interpretation, induction and deduction, interent coherence, holistic, historical continuity, idealization, comparison, heuristika, inclusion or analogical language, description, special methods and reflections of personal researchers. The results of the study revealed the values of Pepali Ki Ageng Selo as the ethics of citizenship. These values were the ethics of citizenship in the life of a nation consisted of (1) socio-cultural ethics; (2) political and governmental ethics; (3) economic and business ethics; (4) scientific ethics; and (5) environmental ethics. These values were the form of orders and prohibitions that should be implemented by citizens in order to achieve happiness. Thus, the results of this study can be a reference in the implementation of Citizenship Education, especially in the context of Pancasila as a political and state ethics. Excavation of philosophical values taught through Pepali Ki Ageng Selo certainly in an effort to strengthen the values contained in the ideology of Pancasila.
Pertanian sebagai basis budaya bangsa Indonesia (Pemahaman pertanian kepada murid sebagai aspek fundamental keterampilan kewarganegaraan)
fandy adpen lazzavietamsi
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/a
Through agriculture, the independence of the Indonesian nation can be achieved, of course it must be supported by the use of agricultural technology and the use of agricultural products by all elements of society. Agriculture is very fundamental for the Indonesian people, and must be cultivated for the next generation of the nation. The civilizing effort is through civic education which has three development domains, namely civic knowledge, civic skills, and civic character. Among the three domains, citizenship skills are the right means for agricultural civilisation. Agriculture as a fundamental basis of citizenship skills is the ability of every young generation of the Indonesian nation to identify and describe, explain and analyze, evaluate, determine and maintain attitudes or opinions regarding public issues in a holistic manner that is useful not only for the survival of Indonesian people but also for the sake of survival. ecology in Indonesia. The strategy of agricultural culture as a cultural basis for citizenship skills must be implemented through various levels and educational pathways by utilizing the concept of green education.
Perwujudan Bela Negara Dan Kewaspadaan Nasional Dalam Menjaga Pertahanan Negara
Moh. Arpat Rasyid
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/a
Kewaspadaan Nasional merupakan suatu arti kata yang sangat bermakna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kewaspadaan sering kita artikan sebagai makna dari kehati-hatian bagi setiap individu. Oleh karena itu apalah arti sebuah nama kalau substansinya dapat lebih dipahami. Dengan menggunakan istilah kewaspadaan nasional pada tulisan ini hendak merancang konsep dan strategi common enemy, yang saat ini memang sangat diperlukan oleh bangsa ini. Konsep dan strategi musuh Bersama merupakan konsep yang terbukti mujarab menyatukan energi kolektif bangsa. Secara yuridis hak dan kewajiban bela negara diwadahi dalam pasal 27 ayat (3) Bab X UUD 1945. Resultante dari ayat ini adalah pasal 30 Bab XII UUD 1945 yang berisi hak dan kewajban warga negara dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Pertahanan negara diselenggarakan dalam Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta. Untuk percepatan implementasi bela negara dalam meningkatkan kewaspadaan nasional di tengah berbagai keterbatasan khususnya waktu, menciptakan common enemy menjadi tinggi relevansinya. Pembatasan oleh kondisi lingkungan strategis, di samping menyangkut waktu juga menyangkut semakin lembutnya dan semakin kompleksnya dimensi ancaman yang berkembang dewasa ini. Untuk itu di samping strategi common enemy, harus dipersiapkan pula aspek mental dan sosio kultural. Strategi common enemy memang strategi yang tepat, tetapi jika semangat penyelenggara negara tidak memahami sosio-kultural masyarakatnya sangat sulit dilaksanakan.
Membangun Keikutsertaan Pemuda Dalam Mewujudkan Sistem Pertahanan Negara
Moh. Arpat Rasyid
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/a
Seiring berkembangnya jaman, di kalangan generasi muda, telah berkembang sebuah jargon yang menjadi ciri para pemuda dalam mengekspresikan kreatifitas dan aktivitas para pemuda yang khas kaum muda biasanya dikenal dengan istilah “gue banget” atau “berani tampil beda”. Bagi pemuda Indonesia, istilah gue banget biasanya terwadahi dalam aksi-aksi revolusioner kebangsaan, tetapi dewasa ini ekspresi tersebut terkesan tergerus oleh banyak faktor seperti kepentingan ekonomi, dan politik, tanpa dipahami oleh generasi elit bangsa. Hal ini kemudian menyebabkan berbagai dampak terjadinya kesenjangan penafsiran komunikasi karena kesalahan pemahaman peran pemuda dalam paham-paham keindonesiaan dan pertahanan negara serta sempitnya ruang ekspresi kebangsaan pemuda yang telah menggerogoti potensi yang dimiliki oleh para penerus bangsa.
Penguatan Nilai Entrepreneurship Dalam Membentuk Karakter Mandiri Di Tengah Pandemi Covid-19 (Studi Deskriptif Pada Mahasiswa FKIP Universitas Khairun)
Sitirahia Hi. Umar;
Wahyudin Noe
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/a
The Covid-19 pandemic that hit the country is a serious concern for the government in raising the economy of the community, including students. One of the efforts made by the government is by holding the Indonesian Student Entrepreneurship Program (PKMI) as a form of implementation of the Independent Learning-Independent Campus (MBKM) policy. The purpose of the program is to provide broad opportunities for students to be involved in entrepreneurial activities so that they hope to form an independent character. However, this is not appreciated because of the low interest of students to be involved in entrepreneurial activities as happened to the students of the Faculty of Teacher Training and Education, Khairun University. This problem must be a joint concern of the educators/lecturers and the leadership of the Khairun University higher education institution. In general, this study aims to obtain descriptive information about the extent to which the internalization of entrepreneurship values in the formation of independent character of Khairun University FKIP students. This research approach is qualitative by using descriptive study method. The results illustrate that: 1) Khairun University FKIP students' understanding of entrepreneurship in general is relatively low 2) the process of internalizing the value of entrepreneurship in the formation of students' independent character is carried out through various educational channels 3) supporting factors in internalizing the value of entrepreneurship to students.
Pendidikan Karakter Melalui Pendekatan Konten Sebagai Konsep Merdeka Belajar Pada Mata Pelajaran IPS Pada Tingkat SMP/Sederajat Di Era Digital
Raharjo Raharjo;
Yuyus Kardiman;
Asep Rudi Casmana
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/a
Implementasi Pendidikan karakter sebagai kajian ontologis-epistimologis Pendidikan kewarganegraan masih terfokus pada proses pembiasaan yang dikelola oleh pihak sekolah, berbagai kegiatan ekstrakurikuluer dan keteladanan dari guru, kepala sekolah, perangkat sekilah lainnya, para tokoh masyarakat serta orang tua Namun melalui pendekatan kelas, dimana Pendidikan karakter terintegrasi dengan setiap mata pelajaran belum banyak dikembangkan pada setiap satuan Pendidikan, sehingga upaya Pendidikan karakter dirasakan sampai saat ini masih belum optimal. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman baru terhadap guru tentang pentingnya dan upaya proses pendidikan karakter berbasis konten yakni terintegrasi melalui mata pelajaran khususnya Ilmu Pengetahuan Sosial tingkat SMP. Metode yang digunakan menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis konten, dengan menghadirkan Pakar rumpun Pendidikan IPS dan Guru-guru mata pelajaran IPS tingkat SMP untuk memberikan penilaian terhadap hasil temuan analisis. Simpulannya bahwa upaya pendidikan karakter dilakukan melalui trisentra yakni dilaksanakan melalui pendekatan pembudayaan sekolah, masyarakat, dan kelas. Namun dalam upaya pendekatan kelas yakni melalui pengintegrasian mata pelajaran terhadap nilai karakter, mengalami banyak tantangan. Tantantan paling pendasar adalah masih banyaknya guru sebagai ujung tombak Pendidikan di lapangan tidak memahami bagaimana proses pengintegrasian mata pelajaran dengan karakter yang mesti dibangun. Pengintegrasian mata pelajaran dengan karakter, dapat dilakukan dengan melakukan analisis terhadap setiap kompetensi dasar dengan karakter yang dapat dikembangkan serta di tanamkan kepada peserta didik
DAMPAK NEGATIF PENGIRIMAN TKI KE LUAR NEGERI TERHADAP KEHIDUPAN KAUM PEREMPUAN SASAK (Studi Kasus di Pulau Lombok Provinsi NTB)
Ahmad Fauzan
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/a
Abstract-The purpose of this study is (1) How to compare the quantity of the quality of the positive an d negative impact as a result of sending TKI abroad (2) What are the factors that contribute to the emergence of negative impacts of sending TKI (3) What are the efforts taken to overcome and reduce the negative impact of sending TKI.The result of the study indicate that the positive impact of development of Indonesia Migrant Workers to the national health is greater than the nagitve impact. The positive impact is improving the family’s economy, being able to bulid houses., buying rice fields and helping poor families. Meanwhile, the negative impact on the sending migrant workers is slow remittances. Vulnerable to the occurrence of misappropriation of wives with other man because no one is determined to leave her husband, kawm with other people.
Peningkatan Kemampuan Menghargai Nilai-Nilai Juang Dalam Proses Perumusan Pancasila Sebagai Dasar Negara Melalui Pendekatan Nyata Siswa Kelas VI Sekolah Dasar
Suharjono Suharjono
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/jr.v3i2.986
Tujuan Penelitian ini adalah upaya untuk meningkatkan mutu pembelajaran pendidikan kewarganegaraan melalui pendekatan pembelajaran nyata pada standar kompetensi menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara siswa kelas VI SDN Joresan Mlarak Ponorogo tahun pelajaran 2017/2018. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian tindakan. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat maka data yang telah terkumpul dianalisis secara statistik yaitu mengunakan rumus mean atau rata-rata. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran nyata dapat meningkatkan aspek psikomotor dan aspek kognitif siswa dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan pokok bahasan menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara siswa kelas VI SDN Joresan Mlarak Ponorogo tahun pelajaran 2017/2018.
Paradigma Konstruktivisme Dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Nahot Tua Parlindungan Sihaloho
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/jr.v5i2.1397
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan mengemban kedudukan dan fungsi sebagai pendidikan nilai, karakter, dan kewarganegaraan khas Indonesia. Melalui Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, para peserta didik sebagai bagian dari warga negara Indonesia diharapkan mampu memahami, menganalisis, dan menjawab masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat secara berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional seperti yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Paradigma konstruktivisme dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dimaknai dengan penyusunan atau membentuk pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, refleksi dan interpretasi sehingga para peserta didik termotivasi dalam menggali makna fisafat dan ideologi Pancasila serta memiliki kecakapan sikap kewarganegaraan Indonesia.Kata kunci: Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Konstruktivisme