cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2021): April" : 13 Documents clear
Eksistensi Tradisi Mangupa Batak Mandailing di Kelurahan Yukum Jaya Lampung Tengah Ali Imron; Yusuf Perdana; Rizky Rahfan Abadi Siregar
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v5i1.15466

Abstract

Tradisi mangupa merupakan sebuah tradisi yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Batak Mandailing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat terhadap tradisi mangupa, bagaimana implementasi tradisi mangupa di Kelurahan Yukum Jaya, dan bagaimana eksistensi tradisi mangupa di tengah arus modernisasi. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Tahapan penelitian ini adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian dijabarkan sebagai berikut: (1) persepsi masyarakat terhadap tradisi mangupa adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kelancaran dalam suatu acara, (2) implementasi tradisi mangupa di Kabupaten Lampung Tengah terdapat beberapa tahapan, mulai dari mengadakan musyawarah, pemberian nasihat dari Dalihan Na Tolu kepada kedua mempelai, hingga memberikan isi pangupa sebagai pedoman hidup setelah menikah, dan (3) tradisi mangupa di Lampung Tengah, khususnya Kelurahan Yukum Jaya masih eksis, dibuktikan dengan setiap acara perkawinan Batak Mandailing dipastikan melaksanakan tradisi mangupa. Tradisi mangupa memuat nilai toleransi dan gotong-royong yang dibuktikan dengan partisipasi masyarakat umum saat tradisi ini dilakukan.   The mangupa is a tradition that is still practiced by the Mandailing Batak community. This study aims to determine how do people perceive the mangupa tradition, how the implementation of the mangupa tradition in Yukum Jaya Village, and how is the existence of the mangupa Tradition amid modernization. The method in this research is a qualitative with a descriptive approach. The stages of this research are as data collection, data reduction, data presentation, and conclusions. The results of the research are described as follows: (1) public perception of the mangupa tradition is an expression of gratitude to God Almighty for the smooth running of an event. (2) the implementation of the mangupa Tradition in Central Lampung Regency consists of several stages, starting from holding deliberations, giving advice from Dalihan Na Tolu to the bride and groom to providing Pangupa contents as a guide for life after marriage, and the mangupa tradition in Central Lampung, especially Yukum Jaya Village, still exists, as evidenced by the fact that every Batak Mandailing wedding ceremony is ensured to carry out the mangupa tradition. The mangupa tradition contains the values ​​of tolerance and cooperation, which is evidenced by the participation of the general public when this tradition is carried out.
The Concept of Spiritual Tourism Novi Rifa'i; Mohammad Kamaludin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v5i1.15530

Abstract

Komunikasi transendental dapat terlihat oleh banyak orang di objek-objek wisata yang ada di lingkungan sekitar kita, seperti upacara kehamilan, kelahiran, sunat, pertunangan, pernikahan, ucapan syukur dan kematian. Melalui penelitian ini para peneliti ingin mengeksplorasi nilai-nilai spiritual yang menjadi obyek pariwisata. Penelitian kualitatif ini akan mengungkap fokus kajian nilai spiritualitas pariwisata dalam mengembangkan konsep wisata spiritual berdasarkan kegiatan pariwisata yang telah dilakukan dengan berbagai atraksi. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif-filosofis. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif karena bertujuan untuk mengungkap  konsep wisata spiritual yang tepat untuk wisata ramah muslim. Nilai spiritual pariwisata dalam Islam adalah pendekatan yang dilakukan oleh manusia kepada Allah SWT dalam menjalankan kegiatan pariwisata. Upaya yang dilakukan adalah menjauhkan haram dan melaksanakan yang halal, baik dalam aktivitas makanan maupun pariwisata. Konsep wisata spiritual yang dihadirkan adalah dengan selalu menggabungkan 4 (empat) elemen dalam menjalankan aktivitas, keempat elemen ini adalah pelaku pariwisata, keberadaan Allah atau kekuatan SWT dalam setiap aktivitasnya, kebijaksanaan Sumber Daya Manusia penyedia layanan, dan keharmonisan, kondisi alam lingkungan yang mengarahkan kepada getaran jiwa atas kehadiran Sang Pencipta di setiap langkah.   Transcendental communication is seen by many people in tourism objects in our surroundings,  such as ceremonies of pregnancy, birth, circumcision, engagement, marriage, thanksgiving and death. Through this research, researchers want to explore spiritual values ​​in tourism. This qualitative research will reveal the focus of the study of the tourism spirituality value and develop the concept of spiritual tourism based on tourism activities that have been carried out with various attractions. Thus, the type of research is qualitative research, using descriptive-philosophical approaches. This study uses a descriptive approach because it aims to disclose the spiritual values of tourism. In the other hand this study also analyzes the right concept of spiritual tourism for Moslem friendly tourism. The spiritual value of tourism in Islam is an approach taken by humans to Allah SWT in carrying out tourism activities. The efforts taken are to avoid the haram and the conduction of the corrupt ones, both in food and tourism activities. The concept of spiritual tourism that is presented  always combines 4 (four) elements in conducting activities, these four elements are tourism actors, the existence or power of Allah SWT in each of its activities, the wisdom of service providers, harmony and the atmosphere of natural environments thrilling the tourist actors to the The Creator in each of their steps.
Pergerakan Sosial Perempuan Pesisir dalam Memperjuangkan Hak Asasi Manusia dan Kesetaraan Gender Ratna Indrawasih; Lengga Pradipta
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v5i1.15537

Abstract

Komunitas pesisir di Indonesia sangat rentan dengan kemiskinan. Untuk mengatasi kemiskinan, kontribusi dari laki laki dan perempuan sangat dibutuhkan. Menurut data terkini, terdapat 2.7 juta nelayan di Indonesia dan mayoritas berada di garis kemiskinan. Nelayan yang masuk dalam kategori ini bukan hanya nelayan laki–laki, namun juga nelayan perempuan. Berbicara mengenai nelayan, laki–laki selalu menjadi sentra utama dalam kegiatan perikanan. Namun pada kenyatannya, di beberapa daerah di Indonesia, kaum perempuan cenderung memiliki peranan lebih signifikan dibanding laki-laki, baik di area domestik maupun pada kegiatan produktif yang berhubungan dengan perikanan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisa keterlibatan serta peran perempuan pesisir dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya serta memberikan pemahaman mengenai kondisi serta pergerakan sosial perempuan pesisir Demak, agar keberadaan mereka diakui oleh pemerintah. Artikel ini dibuat berdasarkan hasil penelitian di Kabupaten Demak dengan menggunakan metode kualitatif melalui pengumpulan data primer (ke lapangan) dan analisa data sekunder. Hasil yang diperoleh melalui penelitian ini menggambarkan bahwa perempuan nelayan di Kabupaten Demak telah menyadari bahwa mereka harus melakukan pergerakan sosial agar bisa memperjuangkan hak dan kesetaraan mereka sebagai subjek hukum yang diakui oleh negara karena melalui pergerakan tersebut barulah mereka bisa mengakses segala program peningkatan kapasitas yang bermanfaat untuk pengurangan kemiskinan.   In Indonesian coastal communities, poverty is becoming one of the major issue. To eradicate poverty, there should be a significant contribution from male and female. According to the latest data, there are 2.7 million fishermen in Indonesia who trapped in poverty. Fishermen who included in this category are not only male, but also female. Discussing about fishermen, male have always been the main centers in fishing activities. But in fact, in some regions in Indonesia, women have more significant role than men, both in the domestic area and in productive activities. This article aims to analyze the involvement of coastal women in fulfilling their family needs as well as to give such understanding about their vivid condition in conducting social movement, so that their existence will be acknowledged by government. This article is based on field research conducted in Demak regency using qualitative methods, such as data collected from primary and secondary sources. The result of this research elucidates that fisherwomen in Demak has realized that they need to conduct social movement to fight for the rights and equalities as the legal subject of a State, because through that movement, then they might access the capacity building program which can eradicate their poverty level.
Perubahan Perilaku Komunikasi Generasi Milenial dan Generasi Z di Era Digital Sirajul Fuad Zis; Nursyirwan Effendi; Elva Ronaning Roem
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v5i1.15550

Abstract

Pada era digital, terjadi perubahan perilaku komunikasi generasi milenial dan generasi ZPerubahan tersebut dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti kurangnya interaksi tatap muka karena kehadiran gawai. Fenomena ini juga terjadi pada generasi milenial dan generasi Z di Kecamatan Kuranji.  Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perilaku komunikasi milenial dan generasi Z di Kecamatan Kuranji danmelihat degradasi komunikasi antarmuka yang terjadi. Adapun teori yang digunakan adalah perilaku komunikasi, komunikasi interpersonal, komunikasi generasi milenial, komunikasi generasi Z, media baru, dan behaviorisme sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz dengan paradigma konstruktivisme. Penelitian ini menganalisis perilaku komunikasi generasi milenial dan generasi Z era digital di Kecamatan Kuranji dari sepuluh orang informan. Hasil penelitian menunjukkan empat perilaku generasi milenial dan generasi Z terbentuk di Kecamatan Kuranji, yaitu perilaku komunikasi dari aktif menjadi pasif disebabkan oleh gawai, berkurangnya komunikasi tatap muka disebabkan oleh gawai, tidak fokus dalam berkomunikasi disebabkan oleh gawai, dan perilaku komunikasi daring disebabkan oleh gawai. Dalam penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku generasi milenial dan generasi Z yang semula interaktif sebelum menggunakan gawai, setelah menggunakan gawai proses komunikasinya menjadi pasif, sehingga tidak terjadi komunikasi efektif.    In the digital era, there has been a change in the communication behavior of millennial generation and generation Z. These changes can be seen in everyday life, such as the lack of face-to-face interaction due to the presence of devices. This phenomenon also occurs in the millennial generation and generation Z in Kuranji District. This study aims to describe the communication behavior of millennials and generation Z in Kuranji District and to see the degradation of communication interfaces that occurs. The theories used are communication behavior, interpersonal communication, millennial generation communication, generation Z communication, new media, and social behaviorism. This study used Alfred Schutz's phenomenological approach with the constructivism paradigm. This study analyzes the communication behavior of the millennial generation and generation Z in the digital era in Kuranji District from ten informants. The results showed that four millennial generation and generation Z behaviors were formed in Kuranji District, namely communication behavior from active to passive caused by devices, reduced face-to-face communication caused by devices, not focusing on communication caused by devices, and online communication behavior caused by devices. In this study, it can be concluded that the behavior of the millennial generation and generation Z, which was originally interactive before using a device, after using a device the communication process becomes passive, so there is no effective communication.
Pengembangan Seni-Budaya sebagai Penguatan Identitas Komunitas Kejawen dan Santri di Desa pada Era Reformasi Bambang Hudayana
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v5i1.15641

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan pengembangan seni-budaya sebagai penguatan identitas komunitas yang berbasis pada pilar politik aliran. Penelitian etnografi ini dilakukan di Desa Pulungsari, Bantul, secara longitudinal (2015-2019). Wawancara etnografi dilakukan kepada elite yang termasuk ke dalam golongan kejawen dan santri, pengelola pertunjukan seni-budaya, dan warga komunitas. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa komunitas kejawen memelihara ritual, tradisi, dan perayaan desa secara Jawa melalui pementasan wayang kulit, karawitan, dan tembang macapatan yang telah menjadi identitasnya. Sementara itu, komunitas santri juga memelihara ritual, tradisi, dan perayaan hari besar agama dengan menampilkan seni-budaya keislaman seperti rodat, selawatan, dan pembacaan kitab suci Quran yang memang menjadi identitasnya. Baik komunitas kejawen maupun santri bersaing untuk memperkuat identitas masing-masing dengan cara mengembangkan festival dan kirab seni-budaya sehingga komunitas tersebut semakin tersegregasi ke dalam komunitas berbasis politik aliran. Hasil studi juga membuktikan pengembangan seni-budaya menjadi relevan bagi tokoh untuk memperkuat identitas komunitas berbasis politik aliran karena mendukung posisinya sebagai elite desa.   This paper chronicles the development of cultural-art performance as a way to strengthen up the community identity based on the pillars of stream politics. This ethnographic research was conducted in Pulungsari Village with a longitudinal base (2015-2019). Ethnographic interviews were conducted involving elites belonging to the kejawen and santri groups, managers of cultural-arts performances, and community members who participate in the art performances and festivals. The results of the study revealed that the kejawen community preserved Javanese rituals, traditions, and village celebrations by conducting puppet shadow, gamelan, and macapatan songs performances which then became their identity. Meanwhile, the santri community preserved Islamic rituals, traditions, and Islamic days celebrations by conducting rodat, selawatan, and reciting the great Al-Quran as their identity. Both the kejawen and santri communities compete to strengthen up their own identities by developing cultural-art festivals and processions. As a result, a community in a village was increasingly segregated into a community based on stream politics. The results of the study also prove that the development of cultural-art performances is relevant for community figures to strengthen up their identity based on stream politics because it supports their position as village elites.
Membaca Rasionalitas Masyarakat Islam Aboge dalam Penggunaan Sikep Penglaris di Dusun Tumpangrejo Kabupaten Malang Novia Ayu Windarani; Luhung Achmad Perguna; Abd. Latif Bustami
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v5i1.15654

Abstract

Tulisan ini menggali rasionalitas penggunaan tradisi sikep penglaris masyarakat Islam Aboge di dusun Tumpangrejo kabupaten Malang dalam perspektif Webberian. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dalam artikel ini dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Analisis data dengan mendeskripsikan secara mendalam  data yang diperoleh melalui  reduksi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Penelitian menemukan bahwa rasionalitas tradisional dan rasionalitas instrumental mengemuka dalam penggunaan sikep penglaris. Salah satu rasionalitas tradisional adalah sikep penglaris merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang sebelum membuka usaha. Tradisi ini menjadi kesadaran kolektif masyarakat Aboge. Secara instrumental, pilihan menggunakan sikep penglaris karena munculnya ketakukan akan gangguan magis yang menyebabkan kebangkrutan atau  usahanya tidak berjalan seperti yang diharapakan. Menariknya antara satu sikep penglaris dengan lainnya memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut karena perbedaan guru spiritiual sekaligus media sikep penglaris. Bertahannya sikep penglaris tidak terlepas dari proses konstruksi yang terus berjalan secara dialektis dalam kehidupan sosial masyarakat Tumpangrejo.      This paper explores the rationality of using the tradition of sikep penglaris in the Islamic community of Aboge in Tumpangrejo, Malang Regency, from a Webberian perspective. A qualitative descriptive approach is used with data collection techniques through observation and interviews in this article. Data analysis by describing in depth the data obtained through reduction, interpretation, and drawing conclusions. Research founds that traditional rationality and instrumental rationality come to the fore in the use of sikep penglaris. One of the traditional rationalities is that sikep penglaris is a tradition passed down from generation to generation before opening a business. This tradition has become the collective consciousness of the Aboge people. Instrumentally, the choice using sikep penglaris due to the fear of magical interference that will cause bankruptcy or the business does not well as expected. Interestingly, there are differences between one sikep penglaris cycle and another. This difference is due to differences in spiritual teachers as well as sikep penglais media. The persistence of sikep penglaris cannot be separated from the construction process that continues in the social life of the Tumpanrejo community dialectically.
Kepercayaan dan Pamali Nelayan Pulau Kambuno di Sulawesi Selatan Andi Adri Arief; Harnita Agusanty; Muhammad Dalvi Mustafa; Kasri
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v5i1.15816

Abstract

Nelayan tradisional di pulau kecil memandang dirinya bersama alam fisik dan alam metafisik berada dalam satu sistem kehidupan antara mikro kosmos dan makro kosmos yang harus selaras.  Oleh karena itu, pengetahuan yang mereka miliki serta ritual yang mereka lakukan berkaitan erat dengan mitos, kultus, ritus, magis, dan pamali sebagai pedoman yang dipergunakan dalam menjalankan aktivitas kehidupannya sehari-hari.  Tujuan penelitian untuk menganalisis kepercayaan dan pamali nelayan pulau-pulau kecil sebagai tata kelakuan yang dipengaruhi oleh unsur budaya lokal dan berpenetrasi ke dalam sistem sosial masyarakat. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus.  Pengumpulan data melalui pengamatan langsung, dan wawancara mendalam melalui teknik snowball dengan prinsip triangulasi. Analisis data melalui content analysis. Selama penelitian berlangsung, ditemukan 30 informan sebagai sumber data primer, yaitu tokoh nelayan, tokoh adat, punggawa, sawi. Hasil penelitian menemukan bahwa praktek ritual yang berasosiasi dengan kepercayaan serta ungkapan-ungkapan berupa pamali pada komunitas nelayan Pulau Kambuno merupakan tata kelakuan yang menjadi aturan-aturan ide, gagasan, serta nilai-nilai yang terikat dalam suatu kesatuan budaya, yaitu (1) pola bersikap yang mendapat isi dari pengarahan dari nilai-nilai budaya, (2) pola bertindak dalam kegiatan komunitas nelayan, dan (3) pola sarana benda-benda (fisik).  Tiga wujud budaya tersebut merupakan jiwa, organisasi dan teknologi sebagai tata tertib yang dijaga eksistensinya dalam keselarasan antara mikro kosmos dengan makro kosmos yang sekaligus mempersatukan segenap komunitas nelayan.  Pola kebudayaan yang diadaptasi nelayan Pulau Kambuno merupakan praktek tradisi yang terwarisi dari generasi ke generasi berikutnya sambil melakukan penyesuain-penyesuaian seiring dengan perkembangan zaman.     Traditional fishermen in small island look at themselves with the physical and metaphysical realms as being in a single system of life between the micro cosmos and macro cosmos which must be in harmony. Therefore, the knowledge they have and the rituals they perform are closely related to myths, cults, rites, magic, pamali as guidelines used in carrying out their daily activities. The research objective was belief analyze and pamali fishermen of small island as behavior that is influenced by local culture elements and penetrate into the social system of society. This type of research is qualitative with a case study approach. Collecting data through direct observation, in-depth interviews using snowball techniques with the principle of triangulation. Data analysis through content analysis. During the research, 30 informants were found as primary data sources, including fishermen leader , traditional leaders, punggawa, sawi.  The results of the study found that ritual practices associated with beliefs and expressions in the form of pamali in the fisherman community of Kambuno Island are behaviors that become rules of ideas, ideas and values ​​that are bound in a cultural unity which includes, namely: (1 ) attitude patterns that get the contents of the direction cultural values, (2) patterns of action in fisherman community activities, and (3) patterns of means (physical) objects. Three forms of culture are the soul, organization and technology as an order which is maintained in harmony between the micro cosmos and macro cosmos which simultaneously unites all fisherman community. Adapted cultural pattern by the fishermen of Kambuno Island is a traditional practice which inherited  from generation to next generation while making adjustments along with the times.
Praktik Pitungan Jawa dalam Penentuan Awal Bercocok Tanam oleh Petani Kota Batu Jabal Tarik Ibrahim; Ary Bakhtiar; Nurul Latifah; Fithri Mufriantie
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v5i1.15818

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan dan memahami pelaksanaan pitungan Jawa dalam aktivitas permulaan waktu tanam pada petani di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Peneliti tinggal di lokasi penelitian selama pelaksanaan penelitian dengan mengamati, melihat, ikut serta, dan berdiskusi dengan warga lokasi penelitian, khususnya para informan. Informan dalam penelitian berjumlah 7 orang terdiri dari penduduk setempat yang memiliki primbon Jawa, mengetahui dan memahami serta mengaplikasikan pitungan Jawa, bersedia berdiskusi secara terbuka dengan peneliti. Analisis data dilakukan dengan tahapan pengumpulan, penyajian, reduksi atau kondensasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pitungan Jawa dalam upaya menentukan awal bercocok tanam bervariasi. Menurut petani, pitungan Jawa adalah kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Mereka percaya pada nasihat orang tua mengenai hal-hal buruk yang telah terbukti di masa lalu apabila tidak mengikuti perkiraan dalam primbon. Petani beranggapan bahwa penerapan pitungan Jawa adalah salah satu bentuk ikhtiar kepada Allah SWT. Meskipun demikian petani tetap menganut ajaran agama dan menghindari tindakan yang bertentangan dengan syariat Islam. Bentuk implementasi pitungan Jawa di Kelurahan Temas tidak persis sama dengan ketentuan yang tertulis dalam primbon, seperti halnya tidak lagi menyediakan sesajen yang ditempatkan dalam takir. Syarat utama petani yang akan melakukan pitungan Jawa yakni haruslah mengingat hari meninggal orang tua dan tanggal 1 Suro. Apabila hasil pitungan Jawa jatuh pada hari tersebut, petani dilarang memulai penanaman. Harapannya adalah untuk menghindari rintangan buruk. Acuan yang digunakan oleh petani adalah oyot, wit, godhong, uwoh yang disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanam.        This study aims to describe and understand the implementation of Javanese calculations in the activity of starting planting time for farmers in Temas Village, Batu District, Batu City. Researchers used a qualitative research approach that was classified as an ethnographic research method. Researchers stay at the research location during the implementation of the research by observing, seeing, participating in, and discussing with residents of the research location, especially informants. There are 7 informants in the study consisting of local residents who have Javanese Primbon, know and understand and apply Javanese calculations, willing to have open discussions with researchers. Data analysis was carried out by collecting, presenting, reducing/condensing, and drawing conclusions. The results showed that the perception of the Javanese count in the effort to determine the start of planting varied. According to farmers, Javanese pitung is local wisdom that needs to be preserved. They trust their parents' advice about bad things that have been proven in the past if they don't follow the predictions in the Primbon. Farmers think that the application of Javanese calculations is a form of endeavor to Allah SWT. Even so, farmers still adhere to religious teachings and avoid actions that are contrary to Islamic law. The form of implementation of the Javanese calculation in Kelurahan Temas is not exactly the same as the provisions written in the Primbon, such as no longer providing offerings that are placed in takir. The main requirement for farmers to do Javanese calculations is to remember the day their parents died and the 1st of Suro. If the results of the Javanese calculations fall on those days, the farmer is prohibited from starting planting. The hope is to avoid bad obstacles. The references used by farmers are oyot, wit, godhong, uwoh which are adjusted to the type of plant to be planted.
Migrasi Orang Biak di Kota Jayapura Alfasis Romarak Ap; Renny Thereesje Tumober; Febriani Safitri
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v5i1.15835

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian dalam aspek geografi sosial. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pola migrasi dan faktor penyebab orang Biak bermigrasi ke Pantai Base-G Kota Jayapura. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Alasan penggunaan metode ini adalah karena teknik wawancara yang digunakan lebih banyak menggunakan wawancara mendalam terhadap informan-informan kunci termasuk penduduk setempat yang mengetahui riwayat pola migrasi dan faktor penarik orang Biak datang ke Pantai Base-G Kota Jayapura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa migran orang Biak datang ke Jayapura karena alasan keamanan di daerah asalnya dan sebelumnya sudah ada orang Biak, yang merupakan keluarga dekat, telah menempati daerah tersebut. Alat transportasi yang pertama kali digunakan ketika datang ke Jayapura adalah kapal perintis. Alasannya karena pada saat itu belum ada kapal berukuran besar yang melayani transportasi dari Biak ke Jayapura. Migran orang Biak di Base-G baru mulai menempati Base-G tahun 1984. Sebelumnya, mereka bertempat tinggal di beberapa kawasan pemukiman penduduk di Kota Jayapura, Abepura, dan Sentani karena alasan belum mempunyai rumah. Penduduknya bertambah jumlahnya menjadi 147 jiwa. Migran orang Biak di Base-G saat ini berprofesi tetap sebagai nelayan, di samping bekerja sebagai buruh bangunan.         This article is a research in the aspect of social geography. The purpose of this study was to determine the migration patterns and factors that attract the Biak people to migrate to Base-G Beach of Jayapura City. The method used is descriptive qualitative. The reason for using this method is due to the interview technique used that mostly use in-depth interviews with key informants including local residents who have the knowledge of the history of migration patterns and the attracting factors of the Biak people to the Base-G Beach, Jayapura City. The results showed that Biak migrants came to Jayapura for security reasons in their home areas and previously there were Biak people, who were close relatives, who had occupied the area. The first means of transportation used when they came to Jayapura were pioneer ships. The reason was because at that time there were no large ships serving transportation from Biak to Jayapura. Biak migrants at Base-G only started to occupy Base-G in 1984. Previously, they lived in several residential areas in Jayapura, Abepura, and Sentani cities because they did not have a house. The population has increased to 147 inhabitants. Biak migrants at Base-G currently work as fishermen, in addition to working as construction workers.
Integrating Cultural Materials as the Media for Extensive Reading for Teaching Bahasa Indonesia as Foreign Language Mohamad Isnaini; Faizin Faizin; Rochmatika Nur Anisa
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v5i1.15851

Abstract

Menyajikan teks Bahasa Indonesia yang ditulis dengan meintegrasikan unsur-unsur budaya untuk materi belajar siswa Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) memberikan banyak manfaat. Selain sebagai sarana untuk meningkatkan jumlah kosa kata, materi yang memasukkan unsur-unsur budaya juga menjadi media untuk mempromosikan budaya Indonesia. Melalui pertimbangan pada kebutuhan belajar siswa BIPA di mana harus memasukkan pembelajaran budaya lokal, penyajian teks bacaan ini dapat dilakukan secara insidental maupun secara langsung dengan menggunakan model membaca ekstensif. Oleh karena itu, penyusanan materi yang mengintegrasikan unsur budaya sangat direkomendasikan untuk dipilih oleh guru karena membantu siswa BIPA dalam mempelajari prinsip-prinsip yang menarik dan otentik. Pada artikel ini, data diambil dari berbagai penelitian terdahulu yang mencakup penyusunan teks berbasis interkultural, model pembelajaran BIPA, dan berbagai jenis model membaca ekstensif. Data diolah secara deskriptif untuk dapat melahirkan gagasan baru tentang penyusunan bahan ajar sebagai materi pendukung proses belajar mengajar di kelas BIPA. Sebagai hasil dari penelitian ini adalah pengajar BIPA diharapkan dapat menyusun teks bacaan yang memiliki kesamaan topik untuk selanjutnya dapat diimbuhkan dengan latihan praktik. Penyusunan buku teks dengan menitikkberatkan konten berbasis budaya dan dikelompokkan sesuai dengan tingkat kemahiran berbahasa juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis bagi para siswa BIPA.          Presenting Indonesian text written by combining cultural elements for student learning materials of Indonesian for Foreign Speakers (BIPA) provides many benefits. Apart from being a stimulation to enrich vocabulary, material that contains cultural elements is also a means to promote Indonesian culture. By considering the learning needs of BIPA students who must include local cultural learning, the presentation of this reading text can be done incidentally or directly by using an extensive reading model. Therefore, it is suggested that teachers choose  a material that  integrates cultural elements since it beneficial for  BIPA students to learn interesting and authentic principles. In this article, data is drawn from various previous studies which include compilation of intercultural based texts, BIPA learning models, and various types of extensive reading models. The data is processed descriptively to be able to generate new ideas about the preparation of teaching materials as expected to support the teaching and learning process in BIPA classes.

Page 1 of 2 | Total Record : 13