cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 280 Documents
Exploring E-Sports: Studi kasus game Pro Evolution Soccer di Indonesia Lastiko Endi Rahmantyo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.25496

Abstract

E-sports di Indonesia menjadi salah satu fenomena kaum muda di Indonesia yang terus berkembang sejak munculnya turnamen e-sports di Asian Games 2018. Hal tersebut disambut dengan munculnya berbagai turnamen dan agenda e-sports yang muncul sejak itu. Namun, sebelum menjadi profesional, beberapa atlet muncul dari kelas amatir, terutama dalam game Pro Evolution Soccer (PES). Dengan menggunakan metode kualitatif yang mengedepankan pengambilan data dengan observasi dan wawancara, penelitian ini bertujuan untuk menemukan konstruksi identitas atlet amatir menuju ke profesional. Temuannya adalah perjalanan karir atlet profesional tersebut didukung oleh keberadaan rental konsol yang ada di daerah dimana mereka tinggal, selain itu dalam perjalanannya terdapat beberapa mistifikasi gaya bermain yang juga menunjang permainan mereka dari waktu ke waktu. Selain itu, komunitas e-sports serta publikasi beberapa turnamen e-sports juga turut berperan aktif terhadap perkembangan profesionalisme para atlet. Unsur teknologi, pemasaran, dan budaya saling berkaitan dalam fenomena pembentukan identitas para atlet e-sports di Indonesia.    E-sports in Indonesia has been one of the growing phenomena among young people in Indonesia since the emergence of e-sports tournaments at the 2018 Asian Games. This was met with the rise of various e-sports tournaments and agendas that have emerged since then. However, before becoming professionals, some athletes came up from the amateur level, especially in the game Pro Evolution Soccer (PES). By using a qualitative method that prioritizes data collection with observation and interviews, this research aims to find the identity construction of amateur athletes heading to professionals. The finding is that the professional athlete's career journey is supported by the existence of console rentals in the area where they live, in addition, there are several mystifications of playing styles that also support their career from time to time. Moreover, the e-sports community and the publication of various e-sports tournaments also play an active role in the development of the athletes' professionalism. Technological, marketing and cultural elements are interrelated in the phenomenon of identity formation of e-sports athletes in Indonesia.
Peran SASUDE sebagai gerakan swadaya literasi anak dalam membangun Sustainable Development Goals Annisa Thaharah; Abdul Karim Batubara
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.25599

Abstract

Sanggar Anak Sungai Deli (SASUDE) merupakan lembaga non pemerintah yang bergerak pada bidang swadaya literasi anak pada wilayah tepian Sungai Deli, kota Medan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran SASUDE sebagai gerakan swadaya literasi anak dalam membangun SDGs khususnya pada pilar ke 4, 5 dan 10. Penelitian ini menggunakan teknik penelitian kualitatif deskriptif yang menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji keabsahan data melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Analisis data yang digunakan mengacu pada model Miles dan Huberman. Dalam dilakukannya penelitian ini terdapat 7 informan, terdiri dari : Founder SASUDE, tim pengajar SASUDE, 2 relawan SASUDE dan 3 orang tua dari anak murid SASUDE. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa SASUDE memiliki peranan dalam mendukung SDGs, yaitu : 1) Menyediakan tempat belajar anak sebagai sarana edukasi anak tepian Sungai Deli, 2) Membangun kualitas literasi anak dengan diadakannya kelas literasi dan program literasi lingkungan, 3) Memperbaiki lingkungan dengan diadakannya program Eco Brick, 4) Menegaskan kesetaraan gender yang ada di tepian Sungai Deli, dan 5) Mengurangi ketimpangan sosial yang hidup di wilayah pinggiran khususnya ketimpangan pendidikan dan ekonomi. Dampak yang diberikan SASUDE cukup besar, meningkatnya kualitas pendidikan anak yang memiliki ekonomi rendah maupun tidak.    Sanggar Anak Sungai Deli (SASUDE) is a non-governmental organization engaged in children's literacy self-help on the banks of the Deli River, Medan City. This study aims to discover the role of SASUDE as a child literacy self-help movement in building SDGs, especially on pillars 4, 5 and 10. This research uses descriptive qualitative research techniques that use data collection techniques through observation, interviews and documentation. Researchers used data validity tests in this study through source and technique triangulation. The data analysis used refers to the Miles and Huberman model. In conducting this research, there were seven informants: the SASUDE Founder, the SASUDE teaching team, 2 SASUDE volunteers and three parents of SASUDE students. Based on the research that has been done, it can be concluded that SASUDE has a role in supporting the SDGs, namely: 1) Providing a place for children's learning as a means of educating children on the banks of the Deli River, 2) Building the quality of children's literacy by holding literacy classes and environmental literacy programs, 3) Improving the environment by holding the Eco Brick program, 4) Affirming gender equality on the banks of the Deli River, and 5) Reducing social inequality living in suburban areas, primarily educational and economic inequality. The impact given by SASUDE is quite significant, increasing the quality of education for children with a low economy.
Komunikasi interpersonal pada konsep diri mahasiswa laki-laki metroseksual di kota Medan Ahmad Gifari Alamsyah; Solihah Titin Sumanti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.25630

Abstract

Laki-laki metroseksual umumnya berada di pusat kota yang lebih besar seperti Kota Medan, dengan penampilan yang rapi, tampan, wangi, menawan dan khasnya sendiri. Fenomena pria metroseksual adalah perilaku unik dalam budaya perkotaan, mereka umumnya memiliki citra maskulin tetapi peduli dengan penampilan, perawatan tubuh, bergaul dengan teman-teman mereka. Meskipun, kita tahu bahwa seperti prihatin dengan penampilan dan perawatan tubuh pada umumnya adalah wanita, bahwa hal-hal yang menyebabkan stigma positif dari masyarakat, dari stigma tersebut akan membentuk konsep diri pria metroseksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tiga hal yaitu (1) Mendeskripsikan Komunikasi Interpersonal seorang laki-laki Metroseksual (2) Menjelaskan konsep diri laki-laki metroseksual di Kota Medan dan (3) Menjelaskan bentuk hambatan komunikasi Interpersonal dan konsep diri laki-laki metroseksual di Kota Medan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif pendekatan fenomenologis dengan teknik pengumpulan data menggunakan data primer melalui observasi dan wawancara mendalam serta data sekunder melalui jurnal, buku maupun artikel. Informan dalam penelitian ini berjumlah enam orang laki-laki metroseksual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Komunikasi interpersonal seorang laki-laki metroseksual memandang gaya hidup metroseksual sesuatu hal yang wajar dengan menjaga penampilan merupakan suatu keharusan oleh setiap individu agar berpenampilan menarik sebagai penunjang dalam melakukan aktifitas sehari-hari; Konsep diri laki-laki metroseksual sebuah bentuk kepedulian diri akan pentingnya penampilan yang mereka tunjukkan terhadap lingkungan sekitarnya sebagai bentuk kepuasan diri untuk sebuah kesenangan pribadi yang efeknya medapat pujian masyarakat dari apa yang mereka kenakan; Hambatan komunikasi interpersonal dan konsep dari yang bernada negatif atau juga stigma negatif antara lain seperti dikatai tidak jantan, tidak macho, takut panas, feminin, mirip perempuan, pretty boy, serta adanya stereotip terhadap disorientasi seksual tertentu. Konsep diri pria metroseksual di Medan memiliki konsep diri sendiri, dengan berbagai aspek fisik, psikis, dan sosial. Dan juga pria metroseksual di kota Medan juga memiliki motif tersendiri yang menyebabkan hak mereka untuk menjalani gaya hidup sebagai pria metroseksual, dan mereka memiliki konsep diri yang positif tentang diri sendiri, kepribadian yang baik, terlihat dari penampilan, serta sikap positif terhadap lingkungan.                                                 Metrosexual men are generally located in larger urban centers such as Medan City, with their own neat, handsome, fragrant, charming, and distinctive appearance. The phenomenon of metrosexual men is a unique behavior in urban culture. They generally have a masculine image but care about appearance, body care, and getting along with their friends. Although we know that as concerned with appearance and body care, in general, are women things that cause positive stigma from society, the such stigma will shape the self-concept of metrosexual men. This study aims to find out three things, namely (1) Describe the interpersonal communication of a metrosexual man, (2) explain the self-concept of metrosexual men in Medan City, and (3) Explain the form of interpersonal communication barriers and the self-concept of metrosexual men in Medan City. This research uses descriptive qualitative methods phenomenological approach with data collection techniques using primary data through observation and in-depth interviews and secondary data through journals, books, and articles. The informants in this study were six metrosexual men and four friends of metrosexual male students. The results showed that: Interpersonal communication of a metrosexual man views the metrosexual lifestyle as a natural thing by maintaining appearance is a must for every individual to look attractive as a support in carrying out daily activities; Metrosexual men's self-concept is a form of self-concern for the importance of the appearance they show to their surroundings as a form of self-satisfaction for a personal pleasure whose effect is to derive public praise from what they wear; Interpersonal communication barriers and concepts of negative tone or negative stigma include being said to be unmanly, not macho, afraid of heat, feminine, female-like, pretty boy, and stereotypes of inevitable sexual disorientation. The self-concept of metrosexual men in Medan has its self-concept, with various physical, psychic, and social aspects. And also, metrosexual men in the city of Medan have motives that cause their right to live a lifestyle as metrosexual men, and they have a positive self-concept about themselves, a good personality, visible from appearance, as well as a positive attitude towards the environment.
Revealing the philosophy of Palang Pintu in Betawi’s wedding ceremony Lambok Hermanto Sihombing
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.25652

Abstract

Nowadays, wedding ceremonies in Indonesia are typically held in a manner distinct from the past. However, modern and traditional elements can be combined to ensure that the essence of preserving Indonesian tradition is always present in wedding ceremonies. Palang Pintu is one of the Betawi cultural traditions, which is typically performed during a wedding ceremony. This study aims to reveal the symbolic meanings and functions of Palang Pintu philosophy. The author utilized a qualitative approach to investigate the wedding traditions of Betawi. The dataset was compiled from academic articles and proceedings. In this study, the author applied Rolland Barthes' Semiotic approach to determine each symbol's connotative and denotative significance in the Palang Pintu tradition. Aside from it, the author also utilized Stuart Hall's Cultural Identity theory to examine how these symbols are viewed as the identity of Betawi. The findings indicate that Palang Pintu has religious, cultural, traditional, and aesthetic values. Those values symbolize the Betawi people's identity that must be preserved.   Prosesi pernikahan di Indonesia saat ini biasanya diadakan dengan cara yang berbeda dari masa lalu. Namun, pada dasarnya, unsur modern dan tradisional dapat dipadukan untuk memastikan esensi tradisi Indonesia selalu hadir dalam acara pernikahan di Indonesia. Palang Pintu merupakan salah satu contoh tradisi budaya Betawi yang biasanya dilakukan pada saat upacara pernikahan. Kajian ini bertujuan mengungkap makna simbolik dan fungsi filosofi Palang Pintu. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis tradisi pernikahan orang Betawi. Data dalam penulisan ini diperoleh melalui sumber artikel akademik dan prosiding. Dalam penelitian ini, penulis menerapkan pendekatan Semiotik Rolland Barthes untuk menentukan makna konotatif dan denotatif setiap simbol dalam tradisi Palang Pintu. Selain itu, penulis juga menggunakan teori Identitas Budaya Stuart Hall untuk mengkaji bagaimana simbol-simbol tersebut dilihat sebagai identitas Betawi. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa Palang Pintu memiliki nilai religi, budaya, tradisi, dan estetika. Nilai-nilai tersebut melambangkan identitas masyarakat Betawi yang harus dilestarikan.
Interaksi sosial catcalling terhadap perempuan berpenampilan syar’i di kota Medan Andhika Nugraha; Zuhriah Zuhriah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.25781

Abstract

Catcalling adalah bentuk pelecehan seksual verbal yang mayoritas dihadapi perempuan di depan umum. Catcalling ini tidak bisa dipisahkan dari perempuan dengan jajanan syar'i. Karena pakaian mereka, keberadaan wanita dengan penampilan syariah terpinggirkan. Oleh karena itu, fokus penelitian ini adalah interaksi sosial catcalling terhadap perempuan yang berpenampilan syar'i. Dalam proses pengumpulan data, penulis menggunakan wawancara mendalam atau teknik wawancara mendalam dengan informan untuk menggali informasi dan mendukung penelitian. Selain itu, penulis menggunakan teknik bola salju untuk menentukan informan penelitian dengan karakteristik yang diinginkan. Penulis menggunakan teori yang dikembangkan oleh Patricia Hill Collins untuk menjelaskan interaksi sosial tentang penindasan yang dialami perempuan sebagai akibat dari penindasan berbasis gender, dan bagaimana perempuan mengalami penindasan secara berbeda sebagai akibat dari berbagai ketidaksetaraan sosial lainnya, berdasarkan hasil analisis data. Selain itu, didukung oleh teori motif Alfred Schutz, yang menyatakan bahwa perilaku seseorang saat ini dipengaruhi oleh motivasi masa lalu mereka. Kondisi yang salah dalam perilaku masa lalu yang kemudian berkembang dengan motif saat ini berdampak pada teori motivasi yang digunakan. Akibatnya, catcalling tetap undervalued dan dianggap sebagai lelucon. Adanya bias gender dalam persepsi laki-laki terhadap perempuan ditunjukkan oleh hal ini. Pada kenyataannya, perempuan tidak melaporkan beratnya perlakuan mereka kepada pihak berwenang karena kerangka hukum seputar catcalling masih belum memadai. Mereka hanya bisa mencoba membela diri dengan menghindari daerah sepi dan bepergian dalam kelompok.   Catcalling is a form of verbal sexual harassment that most women face in public. Catcalling is inseparable from women with syar'i snacks. Because of their clothing, women with a sharia appearance are marginalized. Therefore, the focus of this study is public catcalling of women with a natural syar'i appearance. In the data collection process, authors use in-depth interviews or in-depth interview techniques with informants to explore information and support research. In addition, the authors use the snowball technique to determine research informants with desired characteristics. The authors use a theory developed by Patricia Hill Collins to explain social interactions about the oppression women experience due to gender-based oppression and how women experience oppression differently due to various other social inequalities, based on the results of data analysis. In addition, it is supported by Alfred Schutz's motive theory, which states that a person's current behaviour is influenced by their past motivations. False conditions in past behaviour that then develop with current motives impact the theory of motivation used. As a result, catcalling remains undervalued and is considered a joke. This shows the existence of gender bias in men's perceptions of women. In reality, women do not report the severity of their treatment to authorities because the legal framework around catcalling is still inadequate. They can only try to defend themselves by avoiding deserted areas and travelling in groups.
Front Matter Vol. 7 No. 1 April 2023 Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Revitalisasi Organisasi Seni Pertunjukan Ludruk Karya Budaya Mojokerto Jawa Timur Joko Widodo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v2i2.27898

Abstract

Revitalisasi adalah bentuk upaya untuk menghidupkan atau memvitalkan kembali budaya yang mulai jarang ditemui. Seiring berjalannya waktu dan pesatnya perkembangan jaman akan membuat budaya tradisional mengalami penurunan minat. Bukan hanya pada penonton, tetapi juga penerus atau pelestari budaya tersebut. Berdasarkan hal itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perkembangan Ludruk Karya Budaya Mojokerto dan bentuk revitalisasi manajemen organisasi Ludruk Karya Budaya Mojokerto. Data berupa kata dan kalimat, bersumber dari hasil wawancara dan buku Ludruk Karya Budaya Mbeber Urip sebagai data sekunder. Instrumen penelitian menggunakan tabel indikator, alat tulis, dan alat rekam. Pengumpulan data menggunakanteknik wawancara dan studi pustaka. Teknik analisis data menerapkan beberapa teknik antara lain: reduksi data atau pemilahan data, kesimpulan atau hasil dari analisis data, dan membuat laporan sebagai alur terakhir. Pengecekan data dilakukan degan teknik triangulasi yakni memanfaatkan aspek lain di luar data untuk perbandingan. Kesimpulan pada penelitian ini ditemukan adanya persoalan dan kemunduran grup Ludruk Karya Budaya memerlukan revitalisasi baik secara internal dan eksternal. Pemimpin ludruk harus mengambil kebijakan untuk memperbaiki persoalan yang ada di dalam manajemen organisasi ludruk. Langkah-langkah revitalisasi yang dipaparkan ditujukan pada beberapa aspek yakni (1) bentuk revitalisasi, (2) revitalisasi cerita yang dipentaskan, (3) revitalisasi dalam pemain ludruk, (4) revitalisasi dalam tata panggung, (5) revitalisasi dalam administrasi organisasi. A revitalization is a form of effort to revive or revitalize culture that is rarely found. As time goes by and the rapid development of the times will make traditional culture experience a decrease in interest. Not only in the audience but also in the successors or preservationists of the culture. Based on that, the purpose of this study is to describe the development of Ludruk Karya Budaya Mojokerto and the form of the revitalization of organizational management of Ludruk Karya Budaya Mojokerto. Data in the form of words and sentences, sourced from interviews and the book Ludruk Karya Budaya Mbeber Urip as secondary data. Research instruments use indicator tables, stationery, and recording tools. Data collection using interview techniques and literature study. Data analysis techniques apply several techniques, including data reduction or data sorting, conclusions or results from data analysis, and making reports as the last flow. Data checking is carried out by triangulation techniques, namely utilizing other aspects outside the data for comparison. The conclusion of this study found that there were problems and the decline of the Ludruk Karya Budaya group required revitalization both internally and externally. Ludruk leaders must take policies to improve problems that exist in the management of the ludruk organization. The revitalization steps presented are aimed at several aspects, namely (1) the form of revitalization, (2) revitalization of the staged story, (3) revitalization in ludruk players, (4) revitalization in stage layout, (5) revitalization in organizational administration.
Dimensi Vertikal dan Horisontal Pendidikan Agama dalam Gendrung Sewu di Banyuwangi Joko Widodo; Robby Cahyadi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v3i2.27900

Abstract

Festival Gandrung Sewu merupakan festival rutin yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali. Hal ini merupakan upaya dalam melestarikan dan mengembangkan budaya kearifan lokal di kota Banyuwangi. Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian ilmu antropologi. Penelitian dilakukan di kota Banyuwangi, adapun subjek penelitiannya tokoh atau sesepuh, pawang atau dukun, dinas pariwisata kota Banyuwangi, pelaku penari Gandrung sewu dan masyarakat setempat. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: wawancara dan angket kuesioner. Hasil penelitian ini adalah adanya muatan Pendidikan Bergama dalam dimensi vertical dan horizontal. Dimensi vertical diwujudkan dengan berdoa dan bersyukur. Dimensi horizontal diimplementasikan dalam bentuk nilai kemanusiaan, keagamaan, dan kepribadian. Fungsi nilai pendidikan mencakup sejarah budaya kearifan lokal Banyuwangi. Pada fungsi nilai budaya mencakup pemahaman dan pengembangan budaya Banyuwangi. Pada fungsi nilai sosial mencakup rasa persaudaraan dan rasa solidaritas tinggi. Terakhir, pada fungsi nilai ekonomi mencakup kesejahteraan perekonomian masyarakat Banyuwangi. Gandrung Sewu Festival is a routine festival held once a year. This is an effort to preserve and develop the culture of local wisdom in the city of Banyuwangi. In this study, researchers used qualitative methods with an anthropological study approach. The research was conducted in the city of Banyuwangi, as for the research subjects were figures or elders, handlers or shamans, the tourism office of the city of Banyuwangi, Gandrung sewu dancers and the local community. The data collection techniques used are: interviews and questionnaire questionnaires. The result of this study is the content of Bergama Education in vertical and horizontal dimensions. The vertical dimension is realized by praying and giving thanks. The horizontal dimension is implemented in the form of human, religious, and personality values. The function of educational value includes the cultural history of local wisdom of Banyuwangi. The function of cultural values includes understanding and developing Banyuwangi culture. On the function of social values include a sense of brotherhood and a sense of high solidarity. Finally, the economic value function includes the economic welfare of the people of Banyuwangi.
Resepsi Anggota Ikatan Keluarga Banyuwangi Malang Pada Tari Gandrung sebagai Identitas Masyarakat Banyuwangi Rahadi Rahadi; Widiya Yutanti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v4i2.28007

Abstract

Meskipun Tari Gandrung telah secara resmi menjadi ikon Kabupaten Banyuwangi sejak tahun 2000an, namun keberadaannya masih menuai pro dan kontra. Permasalahan ini muncul akibat adanya stigma negatif yang berkembang selama ini, bahwa tari Gandrung adalah tarian erotis untuk menggoda kaum laki-laki dan para penarinya. Penelitian ini  mengungkapkan bagaimana resepsi ikatan keluarga banyuwangi (IKAWANGI) Malang pada tari gandrung. Sumber data pada penelitian ini adalah mahasiswa banyuwangi yang tergabung dalam IKAWANGI dan sekaligus menjadi penari gandrung, selain itu sumberdata juga didapatkan dari Ketua IKAWANGI. Teknik pengumpulan data menggunakan Observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teori resepsi dari stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan spirit yang terkandung dalam tari gandrung merupakan karakter dan identitas dari masyarakat Using Banyuwangi. Stigma negatif yang melekat dalam diri penari gandrung tak dipungkiri masih ada, namun seiring perubahan jaman stigma tersebut perlahan-lahan mulai menghilang.    Even though the Gandrung Dance has officially become an icon of Banyuwangi Regency since the 2000s, its existence still reaps pros and cons. This problem arises due to the negative stigma that has developed so far, that Gandrung dance is an erotic dance to seduce men and their dancers. This study reveals how the Malang Banyuwangi family bond (IKAWANGI) reception is in the gandrung dance. The data source in this study was Banyuwangi students who were members of IKAWANGI and at the same time became passionate dancers, besides that the data source was also obtained from the Chairperson of IKAWANGI. Data collection techniques using observation, interviews, and documentation. Data were analyzed using reception theory from Stuart Hall. The results of the study show that the spirit contained in the gandrung dance is the character and identity of the Using Banyuwangi people. It is undeniable that the negative stigma attached to the gandrung dancer still exists, but as times change, this stigma slowly begins to disappear. 
Tepung Tawar Perdamaian: Resolusi Konflik Berlandaskan Nilai-Nilai Pancasila di Sumatera Selatan Nurdiansyah, Edwin; Bunyamin Maftuh; Elly Malihah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.26352

Abstract

Provinsi Sumatera Selatan menyandang predikat daerah zero conflict sebab tidak ditemukannya konflik di daerah Sumatera Selatan terutama yang terkait dengan Suku, Agama, Ras dan Antar-golongan (SARA), hal tersebut terjadi disebabkan oleh masih digunakannya tradisi lokal, yaitu berupa tradisi “tepung tawar perdamaian” sebagai resolusi konflik. Hal ini merupakan upaya melakukan perdamaian melalui mediasi dialogis dari tokoh masyarakat terhadap pihak-pihak yang berselisih agar konflik yang lebih besar dan luas dapat dihindari.  Artikel ini bertujuan untuk menganalisa bentuk resolusi konflik tersebut berdasarkan perspektif nilai-nilai Pancasila yang merupakan ideologi bangsa. Metode yang dipakai dalam penelitian ini ialah melalui kajian pustaka terhadap berbagai literatur terkait seperti jurnal ilmiah serta buku terutama yang membahas mengenai resolusi konflik, kearifan lokal serta implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan. Hasil analisis menunjukkan nilai-nilai Pancasila diimplementasikan melalui tradisi tepung tawar perdamaian terutama pada nilai persatuan dan musyawarah mufakat. Melalui tepung tawar perdamaian pihak-pihak yang berkonflik dikondisikan agar setuju untuk melakukan perdamaian. Hal ini biasanya dilakukan oleh tetua pada keluarga didampingi oleh berbagai orang yang dianggap tokoh. Ketika sudah mencapai kesepakatan mengenai waktu kedatangan maka pihak yang ingin berdamai akan mendatangi pihak lainnya dengan membawa ketan kunyit dan ayam panggang. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan jika bentuk resolusi konflik di Sumatera Selatan yang dilakukan melalui tepung tawar perdamaian merupakan perwujudan dari nilai-nilai Pancasila yang merupakan nilai luhur dari kearifan lokal bangsa Indonesia. Hal tersebut dapat menjadi solusi untuk mencegah dan mengatasi konflik yang sangat mungkin muncul dari keberagaman yang ada di Indonesia.    South Sumatra Province holds the title of zero conflict area because there are no conflicts found in the South Sumatra region, especially those related to ethnicity, religion, race, and inter-group. This happens because local traditions are still used, namely the tradition of "tepung tawar perdamaian" as a Conflict resolution is an effort to make peace through dialogical mediation by community leaders towards disputing parties so that larger and more widespread conflicts can be avoided. This article aims to analyze the form of conflict resolution based on the perspective of Pancasila values which is the nation's ideology. The method used in this research is through a literature review of various related literature such as scientific journals and books, especially those that discuss conflict resolution, local wisdom, and the implementation of Pancasila values in life. The results of the analysis show that the values of Pancasila are implemented through the tradition of “Tepung Tawar Perdamaian”, especially the values of unity and consensus deliberation. Through “tepung tawar perdamaian”, the parties in conflict are conditioned to agree to make peace. This is usually done by the elders in the family accompanied by various people who are considered figures. When an agreement has been reached regarding the time of arrival, the party who wants to make peace will come to the other party to make peace, brought turmeric sticky rice and grilled chicken. The conclusion of this research shows that the form of conflict resolution in South Sumatra which is carried out through “tepung tawar perdamaian” is an embodiment of the values of Pancasila which in fact are indeed noble values of the local wisdom of the Indonesian people, and this can be a solution to prevent and resolve serious conflicts, perhaps arises from the diversity that exists in Indonesia.