cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 337 Documents
Citarum plastic exploration for Solusi Sungai Resik's community environmental fundraising action Vita Jasinta Sarjono; Sanabila Fatah; Terbit Setya Pambudi; Hanif Azhar
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40694

Abstract

This study responds to the growing environmental problem of plastic pollution in the Citarum River and to the limited funding available to local environmental organizations. It aims to identify the most suitable material from a blend of recycled plastics—LDPE and HDPE—to serve as the base material for fundraising bracelets for the Solusi Sungai Resik Foundation. The material selection is based on its availability at the foundation's waste management facility and the quality of the processed outcome for bracelet production. The research employs an adapted Material Development Design (MDD) method, which includes material exploration, sample creation, durability testing, and user interviews to assess material experience through aesthetic, tactile, emotional, and functional aspects. The adaptation of MDD in this study focuses on selecting and validating material experience, without fully implementing it in the final product, due to technical constraints. The results show that the LDPE-HDPE blend produces a visually appealing marble pattern resembling river streams, has a comfortable texture, and elicits positive emotional responses from informants. The material also demonstrates resistance to water, sunlight, and skincare products, and is safe for skin contact. These findings indicate that plastic waste from the Citarum River can be transformed into a functional and meaningful material for fundraising bracelets supporting Solusi Sungai Resik's environmental mission. Beyond material innovation, this approach contributes to social change by raising environmental awareness, encouraging public participation, and supporting the financial sustainability of local environmental initiatives.   Penelitian ini merespons permasalahan lingkungan yang semakin meningkat terkait pencemaran plastik di Sungai Citarum serta keterbatasan pendanaan yang dihadapi oleh organisasi lingkungan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi material paling tepat dari campuran plastik daur ulang, yaitu LDPE dan HDPE, yang akan digunakan sebagai bahan dasar gelang penggalangan dana untuk Yayasan Solusi Sungai Resik. Pemilihan material didasarkan pada ketersediaannya di fasilitas pengelolaan limbah yayasan serta kualitas hasil olahan untuk produksi gelang. Penelitian ini menggunakan metode Material Development Design (MDD) yang telah disesuaikan, meliputi eksplorasi material, pembuatan sampel, pengujian daya tahan, dan wawancara pengguna untuk menilai pengalaman material dari aspek estetika, taktil, emosional, dan fungsional. Adaptasi MDD dalam penelitian ini difokuskan pada pemilihan dan validasi pengalaman material tanpa penerapan penuh pada bentuk produk akhir karena keterbatasan teknis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran LDPE-HDPE menghasilkan pola marmer yang menarik secara visual menyerupai aliran sungai, memiliki tekstur yang nyaman, dan memicu respons emosional positif dari para informan. Material ini juga tahan terhadap air, sinar matahari, produk perawatan kulit, serta aman bersentuhan dengan kulit. Temuan ini menunjukkan bahwa limbah plastik dari Sungai Citarum dapat diubah menjadi material fungsional dan bermakna untuk gelang penggalangan dana yang mendukung misi lingkungan Solusi Sungai Resik. Selain inovasi material, pendekatan ini berkontribusi pada perubahan sosial melalui peningkatan kesadaran lingkungan, mendorong partisipasi publik, dan mendukung keberlanjutan pendanaan bagi inisiatif lingkungan lokal.
Symbolic upcycled medals to encourage hiker participation in Indonesia’s Mount Gede Pangrango Cleanup Program Sanabila Fatah; Vita Jasinta Sarjono; Hanif Azhar; Ahmad Riyadi Swandhani
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40696

Abstract

Increased hiking activities in Gunung Gede Pangrango National Park have increased waste accumulation, posing environmental challenges despite ongoing cleanup efforts such as Operasi Bersih (Opsih). One key issue is the lack of recognition systems that validate hikers' contributions, especially those who voluntarily carry trash back from the mountain. This study proposes an appreciation medal made from upcycled plastic waste collected during hikes, designed to serve as both a symbolic reward and a catalyst for social change, promoting environmental responsibility, collective pride, and increased participation in volunteer cleanup programs. Using a Design Thinking approach, data were collected through observations, interviews, and questionnaires with hikers and Opsih volunteers. The 3D-printed prototype was positively received, with users valuing its symbolic significance and environmental message. These findings highlight the potential of symbolic upcycled objects to foster behavioral change and strengthen shared values around sustainability and volunteerism.   Aktivitas pendakian yang meningkat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menyebabkan akumulasi sampah yang semakin bertambah, menimbulkan tantangan lingkungan meskipun sudah ada upaya pembersihan seperti Operasi Bersih (Opsih). Salah satu permasalahan utama adalah kurangnya sistem pengakuan yang memvalidasi kontribusi para pendaki, terutama yang secara sukarela membawa kembali sampah dari gunung. Penelitian ini mengusulkan desain medali apresiasi yang terbuat dari limbah plastik daur ulang hasil pendakian, yang berfungsi sebagai penghargaan simbolis sekaligus katalis perubahan sosial, mendorong tanggung jawab lingkungan, kebanggaan kolektif, dan peningkatan partisipasi dalam program pembersihan sukarela. Dengan menggunakan pendekatan Design Thinking, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada pendaki dan relawan Opsih. Prototipe medali yang dicetak menggunakan teknologi 3D printing mendapat respons positif, dengan pengguna menghargai nilai simbolis dan pesan lingkungan yang terkandung. Temuan ini menyoroti potensi objek simbolis hasil daur ulang untuk mendorong perubahan perilaku dan memperkuat nilai bersama mengenai keberlanjutan dan kegiatan sukarela.
Innovation of the “Tumbas” marketplace: Policy network analysis in the empowerment of small and medium industries in Mojokerto Regency Tsabitah Mariyah Dwiyanti; Kalvin Edo Wahyudi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40812

Abstract

Empowering Small and Medium Enterprises (SMEs) through a policy network approach has rarely been studied in depth, particularly in the context of marketplace innovation. This study examines how policy networks contribute to SME empowerment through the "Tumbas" marketplace innovation in Mojokerto Regency. Using a descriptive qualitative approach and Waarden's (1992) seven-dimensional framework of policy networks, this study involved in-depth interviews, observation, and documentation. The results indicate that the "Tumbas" policy network has actors and functions, a collaborative structure, strong institutionalization, functional rules of action, and complementary actor strategies. The Department of Industry and Trade is central to decision-making, while other actors support an inclusive digital ecosystem. Performance achievements exceed targets, reflecting the policy network's success in supporting technology-based local economic empowerment policies. The novelty of this study lies in its comprehensive policy network analysis of regional marketplace innovation, particularly "Tumbas," and in its practical implications for replicating collaborative policy models in other regions.   Pemberdayaan Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui pendekatan jaringan kebijakan masih jarang dikaji secara mendalam, khususnya dalam konteks inovasi lokapasar. Penelitian ini mengkaji bagaimana jaringan kebijakan berkontribusi dalam pemberdayaan IKM melalui inovasi lokapasar “Tumbas” di Kabupaten Mojokerto. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan kerangka tujuh dimensi jaringan kebijakan dari Waarden (1992), penelitian ini melibatkan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan kebijakan “Tumbas” memiliki aktor dan fungsi, struktur kolaboratif, pelembagaan yang kuat, aturan bertindak yang fungsional, serta strategi aktor yang saling melengkapi. Disperindag berperan sentral dalam pengambilan keputusan, sementara aktor lain mendukung ekosistem digital yang inklusif. Capaian kinerja menunjukkan yang melebihi target, mencerminkan keberhasilan jaringan kebijakan dalam mendukung kebijakan pemberdayaan ekonomi lokal berbasis teknologi. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada analisis jaringan kebijakan secara komprehensif terhadap inovasi lokapasar daerah khususnya “Tumbas”, serta memberikan implikasi praktis bagi replikasi model kebijakan kolaboratif di wilayah lain.
Empowering women through local learning programs: A case study of the PUTARAN initiative in East Java, Indonesia Berlian Fauzia Maylani; Lukman Arif
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40814

Abstract

This study explores the process of women's empowerment through the PUTARAN program (Women's Empowerment Learning Center), initiated by the DP3AK of East Java Provincial Government. The research is motivated by the persistent structural barriers faced by women, including limited access to resources, gender-based violence, and restricted participation in public spaces. The study examines how a state-run, learning-based empowerment program facilitates personal and social transformation among marginalized women. A qualitative interpretive case study design was employed, with data collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The findings reveal a multidimensional transformation process unfolding across three stages: critical awareness, capacity enhancement, and intellectual empowerment. Participants reported increased self-awareness, social agency, economic resilience, and digital literacy. This study contributes to the empowerment literature by offering a novel application of Freire’s conscientization, Kabeer’s theory of resources and agency, and Sen’s capability approach within a localized public-sector initiative in Indonesia. Unlike previous studies focusing on NGO-based interventions, this research highlights the transformative potential of state-led programs when combined with dialogical learning and institutional support. The study concludes that integrating contextual learning, inclusive governance, and digital capacity-building constitutes an effective and sustainable women empowerment strategy. Policy implications include providing access to microfinance, post-training mentoring, advanced digital literacy training, establishing women-led business networks, and replicating the program in other regions through standardized curricula and cross-sectoral support. Thus, PUTARAN represents a state-led model of women’s empowerment that is responsive, participatory, and sustainable.   Penelitian ini mengeksplorasi proses pemberdayaan perempuan melalui program PUTARAN (Pusat Pembelajaran Pemberdayaan Perempuan) yang diselenggarakan oleh DP3AK Provinsi Jawa Timur. Latar belakang penelitian ini adalah masih kuatnya hambatan struktural yang dihadapi perempuan, seperti ketimpangan akses terhadap sumber daya, kekerasan berbasis gender, dan keterbatasan partisipasi dalam ruang publik. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana program pemberdayaan berbasis pembelajaran tersebut memfasilitasi transformasi personal dan sosial peserta perempuan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus interpretatif, dan data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, serta dokumentasi program.Temuan mengungkapkan bahwa program PUTARAN berhasil mendorong transformasi multidimensional melalui tiga tahap: penyadaran kritis, peningkatan kapasitas, dan penguatan intelektual. Peserta mengalami peningkatan signifikan dalam kesadaran diri, agensi sosial, keterampilan ekonomi, serta literasi digital. Penelitian ini berkontribusi terhadap literatur pemberdayaan dengan menawarkan aplikasi lokal dari teori Paulo Freire (conscientization), Naila Kabeer (resources and agency), dan Amartya Sen (capability approach) dalam program berbasis kebijakan publik daerah. Berbeda dari studi sebelumnya yang banyak berfokus pada intervensi NGO, studi ini menunjukkan bahwa model pemberdayaan berbasis negara juga dapat bersifat transformatif jika didukung oleh pendekatan dialogis dan dukungan kelembagaan.Kesimpulan dari studi ini menekankan pentingnya integrasi antara pembelajaran kontekstual, struktur kelembagaan yang inklusif, dan penguatan digital sebagai strategi pemberdayaan perempuan yang berkelanjutan. Implikasi kebijakan mencakup penyediaan akses permodalan mikro, pendampingan pasca pelatihan, pelatihan literasi digital lanjutan, pembentukan jaringan usaha perempuan, serta replikasi program di daerah lain dengan standarisasi kurikulum dan dukungan lintas sektor. Sehingga, PUTARAN menjadi model pemberdayaan perempuan berbasis negara yang responsif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Designing modular camera bags for outdoor photographers: A human-centered response to visual culture and environmental challenges in Indonesia Dewi Pitaloka Sari; Hanif Azhar; Bintang Nugraha
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40843

Abstract

Outdoor photography represents an evolving visual culture practice within Indonesia’s digital society, where mobility, self-expression, and environmental adaptability are increasingly crucial. However, existing photography gear often fails to address the contextual challenges faced by outdoor photographers, particularly in relation to unpredictable tropical weather and the demands of a mobile digital lifestyle. This study responds to this gap by designing a modular camera bag using a Human-Centered Design (HCD) approach. Employing a qualitative case study method with participatory elements, the research integrates interviews, field observations, and questionnaires involving urban outdoor photographers. The design process follows the IDEO Human-Centered Design (HCD) framework, consisting of the stages of Inspiration, Ideation, and Implementation, and is supported by a thematic analysis of field data to derive actionable design insights. The resulting design emphasizes spatial flexibility, weather-resistant materials, and a modular system that promotes sustainability and personalization. Beyond addressing functional requirements, the bag embodies visual identity and reflects how everyday object design can negotiate cultural expressions, environmental adaptation, and digital mobility within Indonesia’s socio-visual landscape.   Fotografi outdoor merupakan praktik yang berkembang dalam masyarakat digital Indonesia, yang ditandai oleh interaksi antara mobilitas, ekspresi diri, dan adaptasi lingkungan. Meskipun mengalami pertumbuhan, perlengkapan fotografi yang ada seringkali mengabaikan tantangan kontekstual yang dihadapi oleh fotografer outdoor, termasuk cuaca tropis yang tidak menentu dan tuntutan gaya hidup digital yang mobile. Penelitian ini mengatasi kesenjangan tersebut dengan merancang tas kamera modular menggunakan pendekatan Human-Centered Design (HCD), dengan metode kualitatif berupa wawancara, observasi lapangan, dan kuesioner yang melibatkan fotografer outdoor urban. Proses desain mengikuti kerangka kerja HCD IDEO, yang terdiri dari tahap inspirasi, ideasi, dan implementasi, serta didukung oleh analisis tematik data lapangan untuk menghasilkan wawasan desain yang aplikatif. Desain akhir menitikberatkan pada fleksibilitas ruang, material tahan cuaca, dan modularitas untuk mendukung keberlanjutan dan personalisasi pengguna. Selain memenuhi aspek fungsional, tas ini berfungsi sebagai artefak budaya yang mewujudkan identitas visual serta merundingkan hubungan antara mobilitas digital, kondisi lingkungan, dan ekspresi budaya. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperluas kerangka desain produk yang responsif secara budaya dengan mengintegrasikan dimensi sosial-budaya dan lingkungan, serta menjadi model inovasi berkelanjutan dalam konteks lanskap sosio-visual Indonesia.  
Responsiveness in the digital governance system for complaint services at the East Java Provincial Education Office Luthfiyyah Nabiilah; Vidya Imanuari Pertiwi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40882

Abstract

This study examines the responsiveness of the digital governance system for complaint services at the East Java Provincial Education Office through the SP4N LAPOR application. The research problem begins with the still-high number of public complaints about education services, despite the availability of a digital complaint system. This study aims to describe how responsive the complaint service is, including the obstacles that arise. This research method uses a qualitative case study approach; data is obtained through in-depth interviews, observation, and documentation, which are analyzed using the interactive model of Miles et al. (data collection, condensation, presentation, and concluding). The results of the study indicate that the six indicators of responsiveness according to Zeithaml — community responsiveness, speed, accuracy, precision, timeliness, and the ability to respond to complaints — have been implemented quite well. However, there are still obstacles, such as delays in re-verifying complaints. In conclusion, the implementation of SP4N LAPOR at the East Java Provincial Education Office is an important innovation in public education services, but still requires improvement in coordination and monitoring to be more optimal.   Penelitian ini mengkaji responsivitas dalam sistem tata kelola digital pelayanan pengaduan di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur melalui aplikasi SP4N LAPOR. Masalah penelitian berangkat dari tingginya jumlah pengaduan masyarakat terkait layanan pendidikan, meskipun sudah tersedia sistem pengaduan digital. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana responsivitas pelayanan pengaduan dijalankan, termasuk hambatan yang muncul. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, yang dianalisis dengan model interaktif Miles et al. (pengumpulan data, kondensasi, penyajian, penarikan kesimpulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keenam indikator responsivitas menurut Zeithaml, yakni kemampuan merespons masyarakat, kecepatan, ketepatan, kecermatan, ketepatan waktu, serta kemampuan merespons keluhan, telah diterapkan cukup baik meski masih terdapat kendala seperti keterlambatan verifikasi ulang aduan. Kesimpulannya, penerapan SP4N LAPOR di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menjadi inovasi penting dalam pelayanan publik pendidikan, namun tetap memerlukan perbaikan pada aspek koordinasi dan monitoring agar lebih optimal. Penelitian ini hanya terbatas pada Provinsi Jawa Timur, sehingga studi lanjutan dapat dilakukan pada wilayah lain untuk memberikan perbandingan yang lebih luas.
Adat Bak Poteu Meureuhom and Hukom Bak Syiah Kuala: Symbolic power and Islamic governance in Aceh history Joko Hariadi; Katimin Katimin; Hasrat Effendi Samosir; Nur Amelia; Tanita Liasna; Indah Fajarini
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40952

Abstract

The philosophies of Adat Bak Poteu Meureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala reflect a unique symbiosis between Islamic political communication and local cultural practices in Aceh’s history. These philosophies articulate a balance between customary authority held by the sultan and the religious legal authority exercised by the eminent scholar Syiah Kuala, while simultaneously shaping collective identity and social control within Acehnese society. This study employs a qualitative hermeneutic-historical approach with discourse analysis of historical literature, archives, and local texts to examine symbolic interactions, political narratives, and cultural practices that reinforce legitimacy of power. Findings indicate that, in contemporary contexts, these philosophies are applied in local officials’ speeches, educational curricula, and community rituals, although their meanings have adapted in response to globalization and the special autonomy of Aceh. The symbiosis between adat and sharia emerges as a form of Hybrid Governance, functioning as social capital to build culturally and religiously grounded political legitimacy. This research underscores the relevance of these philosophies as instruments of symbolic communication for preserving local values while navigating modern challenges, contributing to global studies on symbolic power, cultural legitimacy, and Islamic political governance in postcolonial regions.   Falsafah Adat Bak Poteu Meureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala mencerminkan simbiosis unik antara komunikasi politik Islam dan praktik budaya lokal dalam sejarah Aceh. Falsafah ini menegaskan keseimbangan antara kekuasaan adat yang dipegang oleh raja dan otoritas hukum agama yang dijalankan oleh ulama besar Syiah Kuala, sekaligus membentuk identitas kolektif dan kontrol sosial masyarakat Aceh. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif hermeneutik-historis dengan analisis wacana terhadap literatur sejarah, arsip, dan teks lokal untuk menelaah interaksi simbolik, narasi politik, dan praktik budaya yang memperkuat legitimasi kekuasaan. Temuan menunjukkan bahwa, secara kontemporer, falsafah ini diterapkan dalam pidato pejabat lokal, kurikulum pendidikan, dan ritual komunitas, meskipun maknanya telah mengalami adaptasi terhadap dinamika globalisasi dan otonomi khusus. Simbiosis antara adat dan syariat muncul sebagai bentuk Hybrid Governance, yang berfungsi sebagai modal sosial untuk membangun legitimasi politik berbasis budaya dan agama. Penelitian ini menegaskan relevansi falsafah sebagai instrumen komunikasi simbolik dalam menjaga nilai-nilai lokal sekaligus menghadapi tantangan modernitas, serta memberikan kontribusi pada studi global tentang kekuasaan simbolik, legitimasi budaya, dan politik Islam di kawasan postkolonial.
Impact of cashless payments on the welfare of informal workers in Indonesia: A qualitative study from Yogyakarta Rahma Yesi; Nia Sunatun Saniyah; Irham Dani; Muhammad Ikhsan; Silverius Djuni Prihatin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41109

Abstract

Digital transformation in the financial sector has accelerated the adoption of cashless payments, including among informal workers. However, this group is often marginalized due to limited access to technology and low digital literacy. This study aims to analyze the impact of cashless payments on the welfare of informal workers, particularly in economic, psychological, and behavioral aspects. Using a qualitative approach, data were collected through semi-structured interviews and non-participant observations with 15 informal workers in Srowolan Village, Pakem District, Yogyakarta. Content analysis was used to identify key themes. The findings show improvements in transaction efficiency, a heightened sense of security, and better financial management. Some respondents also reported increased income and greater confidence in managing finances. Nonetheless, challenges persist, including limited access to digital devices, low digital literacy, and the dominance of cash-based habits. This study contributes to the discourse on digital inclusion and highlights the importance of understanding marginalized groups' experiences in adopting technology. The findings are relevant for developing inclusive digital economy policies.   Transformasi digital pada sektor keuangan telah mendorong penggunaan sistem pembayaran non-tunai (cashless), termasuk di kalangan pekerja informal. Namun, kelompok ini sering terpinggirkan karena keterbatasan akses teknologi dan rendahnya literasi digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak penggunaan sistem pembayaran non-tunai terhadap kesejahteraan pekerja informal, khususnya dari aspek ekonomi, psikologis, dan perubahan perilaku transaksi. Pendekatan kualitatif digunakan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi non-partisipatif terhadap 15 pekerja informal di Desa Srowolan, Kecamatan Pakem, Yogyakarta. Analisis konten digunakan untuk menemukan tema-tema utama. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan efisiensi transaksi, rasa aman, serta kemampuan pengelolaan keuangan. Beberapa responden juga mengalami peningkatan pendapatan dan kepercayaan diri dalam mengatur keuangan. Namun, hambatan seperti keterbatasan perangkat digital, rendahnya literasi, dan kuatnya budaya transaksi tunai masih menjadi tantangan. Penelitian ini memperkaya kajian tentang inklusi digital dan menegaskan pentingnya memahami pengalaman kelompok marginal dalam proses adopsi teknologi. Temuan ini relevan sebagai dasar penyusunan kebijakan ekonomi digital yang inklusif.
Negotiation of East–West identities in the German children’s literature Gertrude Grenzenlos Naflah Fakhira Maulida; Lina Meilinawati Rahayu; Ida Farida Sachmadi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41183

Abstract

Since the 1960s, German children’s and young adult literature has placed strong emphasis on political aspects, presenting both historical and contemporary social depictions. A subgenre of problem-oriented children’s literature has even emerged, specifically focusing on more particular political issues such as social identity, ideology, and fascism. Regarding social identity, German children’s literature tends to highlight the history of the Holocaust and post-war trauma. However, there are still few works that address ideology-based social identity issues with a focus on social discrimination. Gertrude grenzenlos (2018) by Judith Burger presents a story of social discrimination experienced by a child protagonist in the East German community due to ideological differences. This study aims to show how this children’s novel portrays social discrimination channelled by the government as institutional discrimination both directly and indirectly, against families inclined toward Western ideology. The study employs identity theory by Tajfel and Turner along with Foucault's theory of power. Using a narratological approach, the narrative reveals the dynamics of power between communities of differing ideologies, which then form new identities and blur social boundaries because power is not absolute, thus creating ideological gaps that allow for the negotiation of power. Consequently, the novel illustrates the negotiation of Western and Eastern ideologies within the authoritarian and exclusive socio-political structure of East German society.   Sejak 1960-an, sastra anak dan remaja Jerman menekankan aspek politik, menyajikan gambaran sosial historis dan kontemporer di dalamnya. Sebuah subgenre sastra anak berorientasi masalah muncul menyoroti isu-isu seperti identitas sosial, konflik ideologi, dan fasisme. Dalam konteks identitas sosial, sastra anak Jerman kerap menyoroti sejarah Holocaust dan trauma pascaperang, namun karya yang membahas identitas berbasis ideologi dengan fokus pada diskriminasi sosial masih relatif sedikit. Kemudian, Gertrude grenzenlos (2018) karya Judith Burger terbit yang menceritakan diskriminasi sosial yang dialami seorang tokoh anak di komunitas Jerman Timur akibat perbedaan ideologis. Penelitian ini memperlihatkan bagaimana novel itu menggambarkan diskriminasi sosial yang disalurkan pemerintah sebagai bentuk diskriminasi institusional, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap keluarga yang condong ke ideologi Barat. Kajian memakai teori identitas Tajfel dan Turner serta teori kekuasaan Foucault. Dengan pendekatan naratologis, narasi mengungkap dinamika kekuasaan antara komunitas berideologi berbeda yang membentuk identitas baru dan mengaburkan batas sosial karena kekuasaan tidak mutlak, sehingga tercipta celah ideologis yang memungkinkan negosiasi kekuasaan. Akibatnya, novel ini menggambarkan negosiasi antara ideologi Barat dan Timur dalam struktur sosial-politik Jerman Timur yang otoriter dan eksklusif. Kajian ini juga menyoroti dampak pengalaman individual terhadap solidaritas komunitas serta bagaimana praktik sehari-hari, kebijakan, dan wacana resmi saling berinteraksi sehingga memperkuat atau melemahkan posisi sosial kelompok yang menjadi korban diskriminasi. dalam konteks perubahan sejarah dan politik.
Innovation in cultural heritage management as a sustainable tourism attraction: A qualitative study of Kota Tua Padang tourism village Callista Teja; Feronika Berutu
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41193

Abstract

This study is titled "Innovation in Cultural Heritage Management as a Sustainable Tourism Attraction in the Kota Tua Padang Heritage Village." The study aims to analyze the innovations applied in the management of cultural heritage in Kota Tua Padang Heritage Village, as well as the challenges and obstacles faced in creating sustainable tourism. This research uses a qualitative descriptive approach with data collection methods including interviews, observations, and documentation. Data were obtained from various sources, including tourism offices, heritage village managers, business owners, and tourists visiting the heritage village. The findings show that the innovations applied in the cultural heritage management in the heritage village include the revitalization of historical buildings, the development of culture-based tourism facilities, and the use of digital technology for promotion and information. However, the study also identifies several management challenges, including limited infrastructure, a lack of a structured management system, and low awareness among visitors of the preservation of culture and the environment. The application of sustainable tourism principles has been carried out by considering economic, social, and environmental aspects, but there is still room for improvement in management and increasing local community involvement. The study's results affirm that innovations in physical revitalization and digitalization can strengthen sustainable cultural tourism management and cultural heritage preservation. This study is expected to contribute to the development of sustainable tourism based on cultural heritage preservation in the area.   Penelitian ini berjudul "Inovasi Pengelolaan Cagar Budaya sebagai Daya Tarik Pariwisata Berkelanjutan di Desa Wisata Kota Tua Padang." Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inovasi dalam pengelolaan cagar budaya yang diterapkan di Desa Wisata Kota Tua Padang, serta tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam menciptakan pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data diperoleh dari berbagai sumber, termasuk dinas pariwisata, pengelola desa wisata, pelaku usaha, dan wisatawan yang mengunjungi desa wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi yang diterapkan dalam pengelolaan cagar budaya di Desa Wisata mencakup revitalisasi bangunan bersejarah, pengembangan fasilitas wisata berbasis budaya, serta pemanfaatan teknologi digital untuk promosi dan informasi. Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan dalam pengelolaan, seperti keterbatasan infrastruktur, kurangnya sistem pengelolaan yang terstruktur, serta kesadaran pengunjung yang masih rendah terhadap pelestarian budaya dan lingkungan. Penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan telah dilakukan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, namun masih terdapat ruang untuk perbaikan dalam pengelolaan dan peningkatan keterlibatan masyarakat lokal. Hasil penelitian menegaskan bahwa inovasi dalam revitalisasi fisik dan digitalisasi mampu memperkuat pengelolaan pariwisata budaya yang berkelanjutan dan pelestarian cagar budaya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan yang berbasis pelestarian cagar budaya di kawasan ini.