cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 337 Documents
Indigenous knowledge of the Lom Tribe on Bangka Island in disaster mitigation Zakia Ayu Lestari; Sinta Desta Rina; Randi Syafutra
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.39985

Abstract

Indigenous knowledge of the Lom Tribe on Bangka Island is crucial for disaster mitigation, particularly in relation to floods, forest fires, landslides, and tornadoes. This study aims to identify, document, and analyse the effectiveness of the Lom Tribe's traditional strategies in disaster risk reduction and explore their potential integration into community-based mitigation policies. Using qualitative methodology, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis. The findings reveal that the belief system in the guardian spirits of sacred forests, land management practices such as behume, and social traditions like Nujuh Jerami contribute to maintaining ecosystem balance and enhancing social resilience. These strategies have proven effective in locally reducing disaster risks, although they require adaptation to environmental and social changes. This study highlights the importance of integrating local wisdom with scientific approaches to develop more sustainable and inclusive disaster mitigation policies, particularly for indigenous communities that rely on natural balance.   Kearifan lokal Suku Lom di Pulau Bangka memiliki peran penting dalam mitigasi bencana, terutama dalam menghadapi banjir, kebakaran hutan, tanah longsor, dan angin puting beliung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan menganalisis efektivitas strategi tradisional Suku Lom dalam pengurangan risiko bencana serta mengeksplorasi potensinya dalam kebijakan mitigasi berbasis komunitas. Menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kepercayaan terhadap roh penjaga hutan larangan, praktik pengelolaan lahan seperti Behume, serta tradisi sosial seperti Nujuh Jerami berkontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan memperkuat ketahanan sosial. Strategi ini terbukti efektif dalam mengurangi risiko bencana secara lokal, meskipun masih memerlukan adaptasi terhadap perubahan lingkungan dan sosial. Studi ini menegaskan pentingnya integrasi kearifan lokal dengan pendekatan ilmiah dalam kebijakan mitigasi bencana yang lebih berkelanjutan dan inklusif, terutama bagi masyarakat adat yang bergantung pada keseimbangan alam.
Social control on the Sandwich Generation in the film “1 Kakak 7 Ponakan” Bimo Aryo Mukti; Muh. Fatoni Rohman
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.40097

Abstract

The phenomenon known as the Sandwich Generation is prevalent in contemporary society, particularly among individuals born into low-income families who bear the responsibility of supporting other family members. This generation is frequently linked to deviant behaviour owing to a lack of social control. The present study seeks to examine the mechanisms of social control within the Sandwich Generation, as depicted in the film "1 Kakak 7 Keponakan." The Sandwich Generation is characterised by individuals burdened with financial and social obligations to both the older generation (parents) and the younger generation (children or nephews). This study employs Travis Hirschi's social control theory to explore the interplay of attachment, involvement, commitment, and belief in shaping the behaviour of individuals in such circumstances. A descriptive qualitative reseaNerch method utilising a literary sociology approach was employed. Data were collected through content analysis of the film "1 Kakak 7 Keponakan”, which portrays the influence of social control on an individual responsible for their extended family. Data collection involved watching, recording, and analysing scenes pertinent to the concept of social control. The findings indicate that social control within the Sandwich Generation is predominantly influenced by internal rather than external factors. Familial attachment compels individuals to remain accountable despite significant pressures. Engagement in social activities serves as a deterrent to deviance, although economic constraints occasionally undermine it. Commitment and belief reinforce social control, yet economic pressures can lead to breaches of social norms, such as child labor exploitation and financial abuse within the family. The study concludes that social control in the Sandwich Generation reflects a complex social reality, wherein individuals must navigate the competing demands of familial and personal obligations.   Salah satu fenomena sosial yang terjadi dewasa ini adalah Generasi Sandwich yang merupakan fenomena yang terjadi pada individu yang lahir di keluarga dengan pendapatan rendah, dan individu tersebut bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang lain. Generasi sandwich kerap dikaitkan dengan adanya perilaku penyimpangan sebagai konsekuensi terhadap kekosongan kontrol sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontrol sosial yang terjadi dalam Sandwich Generation melalui film “1 Kakak 7 Keponakan”. Fenomena Sandwich Generation menggambarkan individu yang terhimpit tanggung jawab finansial dan sosial terhadap dua generasi sekaligus, yaitu generasi yang lebih tua (orang tua) dan yang lebih muda (anak atau ponakan).  Dalam penelitian ini, teori kontrol sosial dari Travis Hirschi digunakan sebagai landasan untuk memahami keterkaitan antara attachment, involvement, commitment, dan belief dalam membentuk perilaku individu yang berada dalam kondisi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologi sastra. Data diperoleh melalui analisis konten pada film “1 Kakak 7 Keponakan” yang mengilustrasikan peran kontrol sosial dalam kehidupan seorang individu yang bertanggung jawab terhadap keluarga besarnya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menonton, mencatat, dan menganalisis adegan-adegan yang relevan dengan konsep kontrol sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol sosial dalam Sandwich Generation lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal dibandingkan eksternal. Attachment dalam keluarga membuat individu tetap bertanggung jawab meskipun mengalami tekanan besar. Involvement dalam kehidupan sosial membantu mencegah penyimpangan, tetapi terkadang gagal akibat faktor ekonomi. Commitment dan belief memperkuat kontrol sosial, meskipun dalam beberapa kasus tekanan ekonomi menyebabkan pelanggaran norma sosial, seperti eksploitasi tenaga kerja anak dan penyalahgunaan keuangan dalam keluarga. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa kontrol sosial dalam Sandwich Generation mencerminkan realitas sosial yang kompleks, di mana individu harus menyeimbangkan tuntutan keluarga dan kehidupan pribadinya.
Hate speech in digital space: A sociolinguistic analysis of the “CIN” domestic violence case on Instagram Putri Ambarwati; Sailal Arimi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40148

Abstract

This study aims to analyze the forms and gender-based differences of hate speech produced by male and female netizens in responding to the domestic violence case involving Cut Intan Nabila on Instagram. Employing a sociolinguistic approach, this research applies Speech Act Theory (Austin, 1962; Searle, 1979) and the concept of hate speech in digital communication. Data were collected from netizens’ comments on related posts and analyzed to identify linguistic forms and gender variations in hate expressions. Unlike previous studies that primarily focused on political or ethnic hate speech, this research situates the phenomenon within Indonesia’s digital culture, reflecting shifts in social values, public morality, and gender relations in online spaces. The findings reveal significant differences in the linguistic forms and strategies used by male and female netizens, illustrating how each gender expresses emotion and moral stance through hate speech. This study contributes to digital sociolinguistic research by highlighting the role of language in shaping social interaction and gender awareness within Indonesia’s digital discourse.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk serta perbedaan ujaran kebencian antara netizen laki-laki dan perempuan dalam merespons kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang melibatkan Cut Intan Nabila di Instagram. Kajian ini menggunakan pendekatan sosiolinguistik dengan memanfaatkan teori tindak tutur (Austin, 1962; Searle, 1979) dan konsep ujaran kebencian dalam komunikasi digital. Data dikumpulkan dari komentar netizen pada unggahan terkait kasus tersebut dan dianalisis untuk mengidentifikasi bentuk ujaran kebencian serta variasinya berdasarkan gender penutur. Berbeda dari penelitian terdahulu yang cenderung menyoroti ujaran kebencian dalam konteks politik atau etnis, penelitian ini menempatkan fenomena ujaran kebencian dalam konteks budaya digital Indonesia yang merefleksikan pergeseran nilai sosial, moralitas publik, dan relasi gender di ruang daring. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam bentuk dan strategi kebahasaan antara ujaran kebencian laki-laki dan perempuan, di mana perbedaan tersebut mencerminkan cara masing-masing gender mengekspresikan emosi dan posisi moralnya. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian sosiolinguistik digital serta menegaskan peran bahasa dalam membentuk dinamika sosial dan kesadaran gender di era media digital.  
Communication ethics of content creators in the new media era based on Bugis Makassar local wisdom Zulkarnain Hamson; Muhammad Akbar; Syamsuddin Aziz
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.40189

Abstract

This study investigates the incorporation of Bugis-Makassar's local wisdom values into content creators’ digital communication ethics. In the contemporary era, where social media serves as a platform for expression and community building, this study sought to develop a communication ethics model grounded in local values. Values such as "sipakatau" (mutual respect), "siri' na pacce" (honor and empathy), "lempu'" (honesty), "sipakalebbi" (mutual respect), and "sipakainge" (mutual reminder) are identified as foundational to local ethics. Using a descriptive qualitative approach, this research integrates literature analysis, interviews, and observations of three prominent content creators in Makassar who are active on TikTok and YouTube. An analysis was conducted on ten pieces of content, with three selected for their strong correlations with customary genres. The study revealed variations in ethics applications among content creators and a positive correlation between local wisdom values and audience engagement. The findings indicate that applying Bugis-Makassar's local wisdom values to digital communication reinforces cultural identity and fosters community solidarity. The resulting ethical model balances individual expression with social responsibility. Content creators face challenges when balancing popularity with traditional values. This study contributes to the understanding of the revitalization of traditional values in modern technology, affirming the relevance of local wisdom in shaping responsible digital communication ethics.   Penelitian ini mengkaji integrasi nilai-nilai kearifan lokal Bugis-Makassar dalam etika komunikasi digital kreator konten. Di era media sosial sebagai sarana ekspresi ide dan membangun komunitas, penelitian bertujuan mengembangkan model etika komunikasi berbasis nilai lokal yang masih relevan untuk komunikasi bermartabat dan inklusif. Nilai-nilai seperti "sipakatau" (saling menghormati), "siri' na pacce" (kehormatan dan empati), "lempu'" (kejujuran), "sipakalebbi" (saling memuliakan), dan "sipakainge" (saling mengingatkan) diidentifikasi sebagai fondasi etika lokal yang masih sangat relevan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, mengintegrasikan analisis literatur, wawancara mendalam, dan observasi terhadap tiga kreator konten terkemuka di Makassar yang aktif di platform TikTok dan YouTube. Analisis dilakukan pada sepuluh konten dan disarikan menjadi 3 terpilih dengan korelasi kuat dengan genre adat dan perilaku sosial. Penelitian mengungkapkan variasi dalam penerapan etika di antara kreator konten dan korelasi positif antara penerapan nilai kearifan lokal dengan keterlibatan audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai kearifan lokal Bugis-Makassar dalam komunikasi digital tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga membangun kepercayaan dan solidaritas komunitas dalam jaringan. Model etika yang dihasilkan menekankan keseimbangan antara ekspresi individual dan tanggung jawab sosial dalam menciptakan konten bermakna dan bernilai budaya. Kreator konten menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan tuntutan popularitas dengan kepatuhan terhadap nilai-nilai tradisional. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman revitalisasi nilai-nilai tradisional dalam konteks teknologi modern, menegaskan relevansi kearifan lokal dalam membentuk etika komunikasi digital yang bertanggung jawab dan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia.
Pengembangan Kamus Umum Bahasa Cirebon (Dwibahasa Cirebon-Indonesia): Sebuah Sarana Belajar Bahasa Daerah Itaristanti Itaristanti; Veni Nurpadillah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.40352

Abstract

Dalam proses pembelajaran bahasa Cirebon, tentunya diperlukan sebuah kamus. Namun, ketersediaan kamus bahasa Cirebon sangat terbatas jumlahnya. Begitu pula dengan akses peminjamannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kamus bahasa Cirebon tersebut. Tahap pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data secara lisan dan secara tertulis. Pengumpulan data secara lisan menggunakan instrumen kosakata dasar swadesh. Sementara itu, pengumpulan data secara tertulis menggunakan data dari korpus tertulis. Data ini diambil menggunakan instrumen AntConc. Tahap analisis data adalah mengentri lema. Lema dientri dengan menentukan kelas kata, memberikan contoh frasa ataupun kalimat, baik dalam bahasa sumber maupun dalam bahasa sasarannya. Pengentrian tersebut menggunakan Microsoft Excel. Data kemudian diolah dan dikonversi ke dalam aplikasi Lexique Pro memakai aplikasi SheetSwiper. Aplikasi ini berfungsi untuk mengonversi lembar kerja (spreadsheet) berisi data linguistik ke dalam format standar. Pada tahap pengembangan, teknik pengumpulan data yang terkait dengan validasi produk awal adalah angket. Instrumen uji kelayakan yang berupa angket yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada Instrumen C: Penilaian Buku Referensi untuk Ensiklopedi, Kamus, dan Atlas yang disusun oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Nasional. Instrumen tersebut meliputi penilaian terhadap materi/isi kamus, penyajian kamus, bahasa yang digunakan dalam kamus, dan unsur grafika dalam kamus. Hasil uji kelayakan materi/isi, penyajian, dan bahasa memperoleh total skor 324, sedangkan kelayakan kegrafikaan memperoleh skor 39. Kamus ini dinyatakan ahli layak digunakan sebagai buku pengayaan pengetahuan. Adapun jenjang penggunanya adalah SD/MI kelas pemula dan kelas lanjut, SMP/MTs, SMA/MA/SMK/MAK, serta umum/perguruan tinggi. In the process of learning the Cirebon language, of course, a dictionary is needed. However, the availability of Cirebon language dictionaries is very limited. Likewise with access to borrowing. This study aims to develop the Cirebon language dictionary. The data was carried out using oral and written data collection techniques. Oral data collection using swadesh basic vocabulary instrument. Meanwhile, the written data collection used data from the written corpus. This data was collected using the AntConc instrument. The data analysis stage was lexeme entry. Lema was entered by determining the word class, giving examples of phrases or sentences, both in the source language and in the target language. The entry was done using Microsoft Excel. The data was then processed and converted into the Lexique Pro application using the SheetSwiper application. This application serves to convert collection stage spreadsheets containing linguistic data into a standard format. At the development stage, the data collection technique related to the validation of the initial product was a questionnaire. The feasibility test instrument in the form of a questionnaire used in this study is based on Instrument C: Assessment of Reference Books for Encyclopedias, Dictionaries, and Atlases prepared by the Center for Curriculum and Bookkeeping, Research and Development Agency, Ministry of National Education. The instrument includes an assessment of the material/content of the dictionary, the presentation of the dictionary, the language used in the dictionary, and the graphical elements in the dictionary. The results of the feasibility test of material/content, presentation, and language obtained a total score of 324, while the feasibilitysuitable for of graphics obtained a score of 39. This is dictionary declared by experts to be use as a knowledge enrichment book. The levels of users are elementary/MI beginner classes and advanced classes, junior high school/MTs, high school/MA/SMK/MAK, and general/college.
The impact of online gambling on the social and economic conditions of the Aek Village Community in Batu City Vera Widya Ningsih Rangkuti; Ilham Mirzaya Putra
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.40369

Abstract

The proliferation of online gambling within society not only contributes to household financial instability but also disrupts social structures. Despite its legal and religious prohibitions, this phenomenon continues to permeate various social groups, including the community in Aek Kota Batu Village. This study examines the social and economic impacts of online gambling and identifies measures undertaken by village authorities to mitigate its prevalence. This study employed a qualitative approach utilizing a phenomenological method. Data were collected through in-depth interviews and direct observations with six informants, including gambling participants, local residents, and village officials. The data analysis was conducted in four stages: data collection, thematic categorization, narrative presentation, and conclusion drawing. Validity was ensured through source and technique triangulations. These findings indicate that online gambling adversely affects individuals' social lives, leading to reduced interaction and increased isolation. Economically, participants experienced diminished savings, debt entrapment, and growing reliance on instant income sources. The village government has sought to address this issue through social and religious counseling aimed at enhancing moral and legal awareness. This study concludes that online gambling poses a significant threat to the socioeconomic resilience of the community and necessitates collaborative, cross-sectoral interventions.   Maraknya praktik judi online di tengah masyarakat tidak hanya menimbulkan gangguan ekonomi rumah tangga, tetapi juga merusak tatanan sosial. Meskipun perjudian telah dilarang secara hukum dan agama, fenomena ini tetap berkembang di berbagai kalangan, termasuk masyarakat Kelurahan Aek Kota Batu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak sosial dan ekonomi dari praktik judi online serta mengidentifikasi upaya yang dilakukan oleh pihak kelurahan dalam mengurangi penyebarannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap enam narasumber yang terdiri dari pelaku, masyarakat sekitar, dan aparat kelurahan. Analisis data dilakukan melalui empat tahap: pengumpulan data, kategorisasi tematik, penyajian naratif, dan penarikan kesimpulan, dengan validitas dijamin melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa judi online berdampak negatif terhadap kehidupan sosial masyarakat, seperti berkurangnya interaksi dan munculnya perubahan perilaku menyendiri. Di sisi ekonomi, pelaku judi online mengalami penurunan tabungan, terjebak pinjaman, dan meningkatnya ketergantungan pada cara instan memperoleh uang. Pihak kelurahan berupaya menanggulangi masalah ini melalui penyuluhan sosial dan keagamaan yang mengangkat isu-isu moral dan hukum. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa judi online merupakan ancaman nyata bagi ketahanan sosial-ekonomi masyarakat dan membutuhkan penanganan lintas sektor secara kolaboratif.
Freedom and responsibility in Jean-Paul Sartre’s existentialism: A philosophical review Milton Thorman Pardosi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.40466

Abstract

Amid growing ethical uncertainty in the digital and globalized era, questions about individual freedom and responsibility have become increasingly relevant. This study explores the concepts of existence and essence in the philosophy of Jean-Paul Sartre, with a focus on the implications of freedom and responsibility in modern human life. Highlighting the relevance of Sartre’s existentialism in today’s social context, the research aims to contribute to a deeper understanding of individual moral and ethical responsibility. Using a literature review and thematic analysis of key works such as Being and Nothingness and Existentialism is a Humanism, the study examines Sartre’s ideas on existence preceding essence, the burden and necessity of freedom, and the ethical challenges it presents. The analysis reveals that Sartre positions freedom as central to human existence, enabling self-determination while demanding responsibility for one’s choices. In contemporary society, especially amid digitalization and globalization, these ideas remain vital in addressing issues of alienation, authenticity, and ethical decision-making. The study concludes that Sartre’s philosophy offers significant insights for moral education and personal development, encouraging individuals to live more consciously, authentically, and responsibly in an increasingly complex world.   Di tengah ketidakpastian etika yang semakin meningkat pada era digital dan globalisasi, pertanyaan tentang kebebasan dan tanggung jawab individu menjadi semakin relevan. Penelitian ini mengkaji konsep eksistensi dan esensi dalam filsafat Jean-Paul Sartre, dengan fokus pada implikasi kebebasan dan tanggung jawab dalam kehidupan manusia modern. Penelitian ini menyoroti relevansi eksistensialisme Sartre dalam konteks sosial masa kini, serta bertujuan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang tanggung jawab moral dan etika individu. Melalui kajian pustaka dan analisis tematik terhadap karya-karya utama seperti Being and Nothingness dan Existentialism is a Humanism, studi ini membahas pemikiran Sartre mengenai eksistensi yang mendahului esensi, kebebasan sebagai beban sekaligus keharusan, serta tantangan etis yang ditimbulkannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa Sartre menempatkan kebebasan sebagai inti dari eksistensi manusia, yang memberi kemampuan untuk menentukan diri, namun juga menuntut tanggung jawab atas setiap pilihan. Dalam masyarakat kontemporer, terutama di tengah digitalisasi dan globalisasi, gagasan-gagasan ini tetap relevan dalam menghadapi isu keterasingan, keaslian diri, dan pengambilan keputusan etis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa filsafat Sartre memberikan wawasan penting bagi pendidikan moral serta pengembangan pribadi, mendorong individu untuk hidup secara lebih sadar, autentik, dan bertanggung jawab di tengah kompleksitas dunia modern.
The integration of Islamic deliberative values in party politics: A case study of PDI Perjuangan Deli Serdang branch Muhammad Fachrurrozy; Hasyimsyah Nasution; Junaidi Junaidi; Nurun Nisa
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40468

Abstract

The limited involvement of local party members in political decision-making processes reflects the persistent weakness of internal democratic practices within political parties. This issue is crucial to examine as it contradicts the values of deliberation (musyawarah) upheld in Indonesia's political system and in Islamic teachings. This study focuses on the implementation of musyawarah in political decision-making within the Branch Leadership Council (DPC) of the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI Perjuangan) in Deli Serdang Regency. It explores its relevance to the Islamic concept of shura. Employing a qualitative approach with a phenomenological design, data were collected through in-depth interviews and direct observations of the party’s decision-making processes. The findings indicate that while musyawarah is formally practiced, it does not fully reflect the principles of shura, which emphasize equality, justice, and active participation of all members. This study offers a concrete contribution by proposing a model of political decision-making grounded in Islamic shura values to strengthen substantive democracy at the local level.   Minimnya keterlibatan kader partai tingkat lokal dalam proses pengambilan keputusan politik menunjukkan masih lemahnya praktik demokrasi internal dalam partai politik. Kondisi ini penting untuk dikaji karena bertentangan dengan nilai-nilai musyawarah yang dijunjung dalam sistem politik Indonesia dan ajaran Islam. Penelitian ini berfokus pada pelaksanaan musyawarah dalam pengambilan keputusan politik di Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Deli Serdang, serta menelusuri relevansinya dengan prinsip syura dalam perspektif Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis, melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap proses pengambilan keputusan di lingkungan partai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan musyawarah telah dilakukan secara formal, namun belum sepenuhnya mencerminkan prinsip syura yang mengedepankan kesetaraan, keadilan, dan partisipasi aktif semua anggota. Penelitian ini berkontribusi secara konkret dalam bentuk rekomendasi model pengambilan keputusan politik berbasis nilai-nilai syura Islam yang dapat memperkuat demokrasi substansial di tingkat lokal.
War takjil for non-muslims: An analysis of social solidarity in Indonesian Ramadan traditions Labibah Sayaka Ilma; M. Ahmad Jamaluddin Zamzami; Iksan Iksan
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40526

Abstract

The war takjil phenomenon during Ramadan in Indonesia is not only a tradition of food-sharing but also a space for social interaction involving people of different faiths, including the active participation of non-Muslims. This study aims to analyze how non-Muslim involvement in war takjil contributes to social harmony and tolerance in a diverse society. Using a qualitative approach and netnographic analysis of TikTok content, along with additional data from literature, this research explores how creators and netizens shape narratives of inclusivity within the Ramadan tradition. The findings indicate that non-Muslim participation in war takjil strengthens social solidarity by fostering a harmonious sense of togetherness. These results align with Émile Durkheim’s theory of social solidarity, where this tradition represents mechanical solidarity through shared values of generosity within the Muslim community and organic solidarity through interfaith interactions that reflect positive social interdependence. Thus, war takjil serves not only as a cultural practice but also as a symbol of tolerance and harmony in Indonesia’s multicultural society.   Fenomena war takjil selama Ramadan di Indonesia tidak hanya menjadi tradisi berbagi makanan tetapi juga ruang interaksi sosial yang melibatkan masyarakat lintas agama, termasuk partisipasi aktif dari non-Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana keterlibatan non-Muslim dalam war takjil berkontribusi terhadap harmoni sosial dan nilai toleransi di tengah keberagaman masyarakat. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan netnografi terhadap konten TikTok, serta data tambahan didapatkan dari studi literatur. Penelitian ini mengeksplorasi interaksi kreator dan netizen dalam membentuk narasi inklusivitas dalam tradisi Ramadan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi non-Muslim dalam war takjil memperkuat solidaritas sosial dengan menciptakan ruang kebersamaan yang harmonis. Temuan ini selaras dengan teori solidaritas sosial Emile Durkheim, di mana tradisi ini mencerminkan solidaritas mekanis melalui nilai berbagi yang mengikat komunitas Muslim, serta solidaritas organik melalui interaksi lintas agama yang menunjukkan ketergantungan sosial yang positif. Dengan demikian, war takjil tidak hanya menjadi praktik budaya, tetapi juga simbol toleransi dan harmoni dalam masyarakat multikultural Indonesia.  
Front Matter Volume 9 No 1 April 2025 Admin Satwika
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract