cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2004)" : 9 Documents clear
ANALISIS SAMPEL PASIR BESI UNTUK STUDI REKONAIS REGIONAL DI KECAMATAN NANGAPANDA DAN ENDE - FLORES Dida Kusnida; Wayan Lugra; Imelda R. Silalahi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.143 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.110

Abstract

Dengan semakin terbatasnya potensi sumberdaya alam di darat, kawasan pesisir dan laut Kabupaten Ende-Flores saat ini sedang menjadi alternatif bagi kegiatan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan investasi, terutama dari sektor pertambangan pasir besi. Dua buah contoh pasir besi yang dianalisis dalam penelitian ini sifatnya sangat regional yang diambil dari wilayah pantai Kecamatan Nangapanda dan Kecamatan Ende untuk tujuan rekonais. Kandungan bahan dalam contoh sedimen berdasarkan hasil analisis volumetrik kualitatif menunjukan bahwa kadar Fe-Total adalah 62,6 % dan 50,3 %, serta FeO adalah 30,5 % dan 27,0 %, masing-masing untuk Kecamatan Nangapanda dan Kecamatan Ende. Sedangkan untuk mengetahui jumlah kandungan Fe2O3 , hasil analisis volumetrik kuantitatif masing-masing menunjukan nilai 55,6 % dan 41,9 % untuk kedua daerah tersebut di atas. Kandungan TiO2 yang diketahui dari hasil analisis Spektofotometri masing-masing adalah 9,57 % dan 7.45 %, sedangkan kandungan Ni dengan menggunakan metoda AAS tidak terdeteksi untuk kedua daerah tersebut. The limited of on-land recourses impacting the coastal areas of Ende Regency-Flores as the alternative of human activities to get more treasures and investment, especially iron sands mining. The analyzed iron sand samples in this study were regionally taken from Nangapanda and Ende Districts for recognizance purposes. The compound of substances within samples based on a qualitative volumetric analysis indicates that the Total-Fe are 62.6 % and 50.3 %, and FeO are 30.5 % and 27.0 % each are for Nangapanda and Ende Districts. In contrast, to indicate the Fe2O3 compound, a quantitative volumetric shows the qualities are 55.6 % and 41.9 % for these two locations. TiO2 compound indicated from Spectrofotometric analysis are 9.57 % and 7.45 % for each location, and Ni compound was not indicated from AAS method for these two locations.
KANDUNGAN GAS BIOGENIK DAN TERMOGENIK GAS SEDIMEN DASAR LAUT DI PERAIRAN SELAT MADURA. (PENGARUHNYA TERHADAP SIFAT FISIK DAN KETEKNIKAN) Faturachman Faturachman; Riza Rahardiawan; Andy Hermanto Sianipar
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1161.364 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.111

Abstract

Sedimen dasar laut di daerah perairan Madura dan sekitarnya umumnya mengandung kandungan gas yang dampaknya terhadap sifat fisik sedimen dasar laut sangatlah signifikan. Hal ini kaitannya dengan rencana peletakan pondasi bangunan infrastruktur di Perairan Selat Madura dan sekitarnya. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pemboran dimulai dari kedalaman 1 hingga 20 m dibawah permukaan dasar laut mengandung gas biogenik.. dengan kandungan metana berkisar 50 hingga 60 ppm sedangkan kandungan propana dan isobutana kurang dari 0,2 ppm. Kedalaman lebih dari 20 m dibawah permukaan dasar laut hingga 60 m adalah gas termogenik. Konsentrasi maksimum gas termogenik berupa propana, isobutana dan etana pada kedalaman 52.85 m berkisar dari 0,1 hingga 8,453 ppm. Dari kedua tipe gas ini tahap pembentukan diagenesanya berbeda akibat pengaruh temperatur yang berbeda, sehingga mempengaruhi stabilitas sifat fisik dan keteknikan sedimennyapun berbeda pula. Untuk itu dalam perencanaan pembangunan infrastruktur kelak perlu diantisipasi dengan keberadaan gas tersebut. Sea bottom sediment in Madura waters and surrounding area in generally contains gas which the impacts to physical and engineering properties of sea bottom sediments are very significant. It is connecting with the place of infrastructure building in Strait Madura waters and surrounding area. Based on core drilling the biogenic gas is already contented starting from surface 1 to 20 m depth. It contents methane around 50-60 ppm, propane and isobutene less than 0,2 ppm. The second is thermogenic gas which place more than 20 m depth until 60 m, the maximum concentrates of thermogenic gas (propane, isobutene and ethane) in 52,85 depth are around 0,1 - 8,453 ppm. From both types, the formation method in diagnoses phase is different, because of different of temperaturet so in influence the stability of physical and engineering properties sediment will be different. For that the plan of infrastructure development should be anticipated by existence of the gas.
KAPER DEPAN Sutisna Sutisna
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.629 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.464

Abstract

INTRUSI VULKANIK DI PERAIRAN SEKOTONG LOMBOK BARAT Lukman Arifin; Dida Kusnida
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.458 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.112

Abstract

Rekaman seismik pantul dangkal menunjukkan adanya terobosan batuan ke permukaan dasar laut. Terobosan batuan tersebut berupa intrusi vulkanik seperti yang terdapat di darat, yaitu di bagian barat dan timur daerah telitian. Disekitar intrusi batuan vulkanik ini dapat diamati adanya sesar sesar yang berkembang. Adanya intrusi vulkanik dan sesar sesar di daerah telitian ini, perlu diwaspadai sebagai bahaya geologi yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan dan pembangunan di sekitar pantai. Shallow seismic reflection record indicate an intrusion body to sea floor surface. This intrusion suggested to be a vulcanic rock that occur in the western and eastern part of study area. Around in this intrusion vulcanic rock, the development of faults can be observed. The occurrence of this vulcanic intrusion should be paid attention as geological hazard that have to be consider for coastal development.
KAPER BELAKANG Sutisna Sutisna
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.856 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.465

Abstract

POLA SEBARAN SEDIMEN MENGANDUNG GAS BERDASARKAN INTERPRETASI SEISMIK PANTUL DANGKAL DI PERAIRAN UJUNG PANGKAH, GRESIK, JAWA TIMUR Wayan Lugra; Abdul Wahib; Nyoman Astawa
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.35 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.108

Abstract

Dari hasil interpretasi seismik di daerah penelitian dapat dikenali 4 runtunan yaitu runtunan A, B C dan Runtunan D serta sedimen mengandung gas (gas charged sediment) dengan konfigurasi rekaman adalah bebas pantul (free reflection). Pola sebaran sedimen mengandung gas menempati 2 zona yaitu zona I di sebelah selatan Tanjung Wedora dan zona II sebelah utara Tanjung Wedora sampai Ujung Pangkah. Sebaran sedimen mengandung gas hanya dapat dikenali secara lateral, sedangkan secara vertikal sangat sulit untuk dikenali. Keterdapatan sedimen mengandung gas diperkirakan menempati runtunan C yang tersebar secara merata di daerah telitian. Shallow seismic interpretation indicate that the stratigraphy of , the study area can be divided into 4 sequences namely sequence A, B, C and D, In the study area, the gas charged sediments also were indicated. The spreading of gas charged sediment occupied at two zones those are zone one in the south off Tanjung Wedora and zone two in the north off Tanjung Wedora extend to Ujung Pangkah. Spreading trends of the gas charged sediment can be recognized laterally, while vertically is quit dificult. While the existing of gas charged sediment is suggested in sequence C which is spreading on the whole of study area.
ANALISIS GEOTEKNIK KELAUTAN PADA SISI KETAPANG (SELAT BALI) UNTUK PENGEMBANGAN PENGHUBUNG JAWA - BALI Ediar Usman; Franto Novico; Kris Budiono; Purnomo Raharjo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.055 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.113

Abstract

Daerah penelitian terletak di Perairan Ketapang, Selat Bali, ke arah timur dari pantai Banyuwangi. Di daerah ini akan dikembangkan jembatan penghubung Jawa dan Bali. Hasil penelitian geologi dan geofisika kelautan menunjukkan kondisi geologi dan geofisika yang komplek. Berdasarkan hasil pemboran inti dan nilai SPT memperlihatkan adanya sedimen tidak terkonsolidasi mencapai tebal 20 meter dari permukaan dasar laut yang tersusun dari fragmen terumbu koral dan cangkang foram. Analisis ini tanpa menggunakan metoda propertis keteknikan karena sedimen tak terkonsolidasi di dominasi oleh fragmen dan cangkang foram hampir 80%. Analisis nilai SPT menunjukkan kapasitas tiang pancang untuk diameter 50 cm mempunyai rata-rata 93.752 ton beban tekan dan 21.532 ton beban tarik. Untuk meningkatkan beban tersebut harus meningkatkan diameter tiang pancang lebih dari 50 cm dan kedalaman tiang pancang lebih dari 20 meter dari permukaan dasar laut. The area investigated is the Ketapang Waters of Bali Strait, easthward of the Banyuwangi Coast. This area will be developed a bredge between Java and Bali. Result of geological dan marine geophysical method shows the geologic and oseanograhic condition very complex. Based on coring data and Standard Penetration Test (SPT) value shows the unconsolidated sediments to reach 20 meters from seabed consist of coral fragments and foram shells. This analysis without engineering properties method because unconsolidated sediment is dominated by fragment and shell almost 80%. Analisys of Standard Penetration Test (SPT) value shows the bearingpile capacity of 50 cm of bearingpile diameters has avarage 93.752 ton of download and 21.532 ton of upload. For more then that value has to increasing the diameters more then 50 cm and ent bearingpile more then 20 meters thicknees in depth from seabed.
TIPE GRANIT SEPANJANG PANTAI TIMUR PULAU BATAM DAN PANTAI BARAT PULAU BINTAN, PERAIRAN SELAT BATAM BINTAN Deny Setiady; Faturachman Faturachman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.865 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.109

Abstract

Granit tipe I dan Tipe S tersebar sepanjang Kepulauan Riau. Di Pulau Batam dan Pulau Bintan, yang menerus dari jalur granit Johor Penensular, Malaysia. Granit-granit tersebut menerus secara alamiah dari Provinsi granit Johor sebelah Timur menerus ke kepulauan Riau sampai Bangka Belitung. Ciri granit tipe I berwarna pink biotit hadir berwarna colat gelap, mempunyai komposisi kimia SiO2 antara 53% -76%, kandungan CaO Na2O yang tinggi, kandungan Sr tinggi dan Rb rendah. Ciri granit tipe S biasanya berwarna abu-abu, hornblenda jarang ditemukan, komposisi kimia SiO2 berkisar antara 66% - 76%, mempunyai kandungan CaO dan Na2O yang rendah, biasanya Sr rendah dan Rb tinggi. (Chappel dan white, 1983) Berdasarkan Analisa data megaskopis granit di pantai Pulau Batam sebelah utara (PBT-14) dan PBT-12, berwarna abu-abu dengan tekstur afanitik, mengandung orthoklase (45%), Quartz (20), Biotite (15), Hornblende (5%) dan Plagioclase (10%). sedangkan di tengah -tengah (PBT-13) berwarna kemerahan, ukuran butir menengah sampai kasar,mengandung Orthoklase, kuarsa, Plagioklas hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tipe granit di Pulau Batam yaitu tipe I dan Tipe S. Sedangkan di Pulau Bintan sama dengan PBT-13 yaitu kemerahan, tekstur fanerik yaitu ciri dari tipe I. Berdasarkan analisa petrografis sampel di 3 lokasi di Pulau Batam terdiri dari plagioklas, orthoklas, kuarsa, biotit dan mineral opak. Demikian juga di Pulau Bintan tidak ditemukan hornblenda, kemungkinan tipe S Hal ini menunjukkan bahwa granit di daerah selidikan mempunyai tipe S, karena hornblenda tidak ditemukan. Kandungan senyawa SiO2 yang tinggi di P. Bintan (> 63,55%), kandungan CaO (< 0,99%), dan Na2O (< 3,02%) yang rendah, Serta unsur tanah jarang Sr (>4 ppm), yang tinggi, maka disimpulkan bahwa tipe granit di daerah Bintan adalah Tipe S. Di P. Batam Kandungan SiO2 yang tinggi ( > 71,39%), Kandungan CaO (0,14%- 3,48%), dan Na2O (< 3,33%) yang rendah, Serta unsur tanah jarang Sr (> 17 ppm), yang tinggi, maka tipe granit di daerah Bintan adalah Tipe S. Granites S and I Type are distributed throughout the archipelago, which lie immediately to the south of Johorein Peninsular Malaysia. These granites seem to form a natural continuation of the eastern province granites in Johor to Riau Archipelago until Bangka and Belitung Island. I Type Granite show pink colour in megascopis speciment, SiO2 composition between 53% - 76%, high content Cao and Na2O, higih content Sr and low content Rb. S type granite shows greeyish, no present hornblende, SiO2 composition between 53% - 76%, Low content CaO and Na2O, Granite in the eastern coast of Batam Island in (PBT-14 and PBT-12) are greeyish, afanitic texture is made up of an orthoclase, Quartz, Biotite, Hornblende and Plagioclase. While granite in the middle (PBT-13), reddish, medium to coarse grained, Orthoclase, quartz, Plagioclase. This description shows that granite in Batam is I type and S type, while in Bintan Island is I Type. Base on petrography's analysis in 3 location in Batam island Granite, greeyish, faneric texture, medium - coarse grained, holocrystalyne, hipidiomorfic - allotriomorfic. Orthoclase, quartz, Plagioclase, Biotite, Opaque Mineral. While granite in Bintan island are gray, faneric texture medium to coarse grain, holocristalyn - alotriomorfic, consists of Plagioclase, Orthoclase, quartz and Biotite. These analysis shows that Granit in Batam and Bintan island are S Type because hornblende is not found. Base on Chemist Analysis Major element in Bintan island consists of high content SiO2 (> 63,55), and CaO (< 0,99%), Na2O (< 3,02%) are low Content. Trace element is high content Strontium (>4 PPM ). These analysis shows that granite in Bintan island are S Type. Major element in Bintan island consists of high content SiO2 (>71,39%), and CaO (<0,14%), Na2O (<0,18% ) are low Content. Trace element is high content Strontium (> 17 PPM ). These analysis shows that granite in Bintan island are S Type.
PENGARUH FREKUENSI GELOMBANG TERHADAP RESOLUSI DAN DELINEASI PERLAPISAN SEDIMEN BAWAH PERMUKAAN DARI DUA INSTRUMEN AKUSTIK YANG BERBEDA DI SUNGAI SAGULIN Subarsyah Subarsyah; Muh. Yusuf
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.446 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.114

Abstract

Implementasi pengukuran kedalaman dasar Sungai Saguling dilakukan dengan menggunakan instrumen akustik dengan keluaran frekuensi yang berbeda. Yang pertama dengan peralatan echosounder Raytheon DE-719 CM berfrekuensi 200 KHz, sedangkan yang kedua dengan menggunakan peralatan StrataboxTM berfrekuensi 10 KHz. Penggunaan kedua instrumen akustik dengan keluaran frekuensi yang berbeda tersebut masing-masing memberikan informasi tersendiri. Peralatan dengan frekuensi tinggi 200 KHz memberikan resolusi dan presisi yang tinggi dalam penentuan kedalaman dasar sungai dengan konsekwensi penetrasi menjadi dangkal, sedangkan peralatan StrataboxTM dengan berfrekuensi 10 KHz memberikan informasi kedalaman, ketebalan sedimen dengan resolusi yang berkurang. Hal ini dipengaruhi faktor lebar beam, seperti munculnya efek difraksi, multiple, dan gelombang yang tidak diinginkan. Bathymetric measurement of Saguling River was using different frequency output of acoustic implemented using acoustic instruments. The first was echosounder Raytheon DE-719 CM with frequency output of 200 KHz, and the second was Stratabox TM with frequency output of 10 KHz. This two acoustic instruments each gives different information. Bathymetric measurement of river with high frequency instrument (200 KHz) improve the resolution and precision of data, but the consequence that penetration become shallow, while measurement using low frequency output (10 KHz) make the penetration become high, but less in resolution, it's influence by width of beam factor, such as the appearance of diffraction, multiple, and others unwanted signal.

Page 1 of 1 | Total Record : 9