cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
FORAMINIFERA BENTONIK SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN TERUMBU KARANG DI PULAU TEGAL, TELUK LAMPUNG, LAMPUNG Sevina Rahmi; Suwarno Hadisusanto; Nazar Nurdin; Mira Yosi; Luli Gustiantini
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.259 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.2.2019.599

Abstract

Foraminifera telah banyak digunakan sebagai indikator kualitas perairan sekitar terumbu karang di Indonesia berdasarkan perbandingan kelompok foraminifera bentonik tertentu. Studi tersebut diterapkan di sekitar Pulau Tegal, Teluk Lampung yang merupakan salah satu destinasi wisata yang secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap ekosistem terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas foraminifera bentonik kaitannya dengan kondisi perairan terumbu karang Pulau Tegal, Teluk Lampung. Penelitian ini dilakukan pada 16 stasiun penelitian di Pulau Tegal yang mewakili semua sisi pulau dengan variasi kedalaman dari 0 meter hingga 28 meter. Hasil dari penelitian ini ditemukan 6.918 spesimen foraminifera bentonik dengan keanekaragaman yang tergolong rendah. Genera Amphistegina dan Elphidium ditemukan sangat melimpah pada hampir seluruh stasiun. Nilai Indeks FORAM (FI) diatas 4 ditemukan pada 11 stasiun penelitian yang mengindikasikan bahwa sebagian besar perairan Pulau Tegal berada dalam kondisi yang sangat baik dan kondusif untuk pertumbuhan serta pemulihan terumbu karang. Hasil ini sejalan dengan melimpahnya kehadiran kelompok foraminifera yang berasosiasi dengan terumbu karang pada perairan Pulau Tegal.Kata Kunci: Bioindikator, Pulau Tegal, Indeks FORAM, Terumbu Karang, Komunitas.Foraminifera has been widely used as an indicator of the quality of the waters around coral reefs in Indonesia based on the comparison of certain groups of benthonic foraminifera. The study was implemented around Tegal Island, Lampung Bay, which is one of the tourist destinations that influence the coral reef ecosystem. This study aims to determine the structure of bentonic foraminifera communities related to the condition of the coral reef waters of Tegal Island, Lampung Bay. This research was conducted at 16 research stations in Tegal Island representing all sides of the island with variations in depth from 0 m to 28 m water depth. The results of this study found 6.918 specimens of bentonic foraminifera with relatively low diversity. The genera Amphistegina and Elphidium were found to be very abundant in almost all stations. The FORAM Index (FI) above 4 was found in 11 research stations which indicated that most of the waters of Tegal Island were in very good conditions and conducive to the growth and recovery of coral reefs. This result is in line with the abundance of the presence of foraminifera groups associated with coral reefs in the waters of Tegal Island. Keywords: Bioindicator, Tegal Island, FORAM Index, Coral Reef, Community
KETEBALAN ENDAPAN SEDIMEN PASIR LAUT BERDASARKAN DATA SEISMIK DANGKAL SALURAN TUNGGAL DI PERAIRAN TAKALAR, SELAT MAKASSAR Purnomo Raharjo; Mario Dwi Saputra; Godwin Latuputty; Nine Yayu Geurhaneu; Delyuzar Ilahude
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4491.71 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.1.2019.593

Abstract

Ketebalan dan jenis sedimen dasar laut di suatu lokasi penelitian dapat diketahui dari pengambilan data geologi permukaan dan bawah permukaan dasar laut. Metoda yang digunakan untuk mendapatkan data tersebut di atas antara lain geofisika laut (batimetri, seismik refleksi), geologi (pengambilan contoh sedimen dasar laut). Kegiatan penelitian ini berada di perairan Selat Makassar, di muara sungai sekitar pantai Takalar sebagai sumber sedimen pasir ke arah lepas pantai. Sumber sedimen pasir tersebut diketahui dari hasil pengamatan di lapangan ternyata dipengaruhi oleh energi gelombang, arus sejajar pantai (longshore current) dan arus pasang surut (tidal current). Data geologi bawah permukaan (sub bottom profiling) didapat dengan menganalisa rekaman seismik pantul dangkal untuk mengetahui ketebalan dan luasan sebaran sedimen pasir. Dari analisis data tersebut dilakukan pendekatan perhitungan secara kualitatif sehingga diketahui deposit endapan pasir dengan luas area kurang lebih 9,764 km², dengan asumsi ketebalan rata-rata 3,84 meter maka deposit kurang lebih 224 juta meter³.Kata Kunci : Seismik refleksi, sedimen pasiran, Takalar, Selat Makasar The thickness and type of seabed sediments at a research location can be known from surface and subsurface geological data collection. The methods used to obtain the above data include marine geophysics (bathymetry, seismic reflection), geology (sampling of sea floor sediments). This research activity was located in the Makassar Strait waters, at the mouth of the river around the Takalar coast as a source of sand sediment towards the offshore. The source of the sand sediment known from observations in the field was influenced by wave energy, longshore currents and tidal currents. Sub-bottom profiling is obtained by analyzing shallow reflected seismic records to determine the thickness and sand deposition distribution. From the analysis of the data the qualitative calculation approach is carried out so that it is known that the deposition of sand deposits with an area of approximately 9,764 km², assuming an average thickness of 3,84 meters, the deposit reserves of approximately 224 million meters³. Keyword : seismic reflection, sandy sediment, Takalar, Makasar strait
PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN EVOLUSI MANGROVE DI PULAU BELITUNG SELAMA HOLOSEN AKHIR BERDASARKAN REKAMAN POLEN Eko Yulianto; Woro Sri Sukapti; Praptisih Praptisih
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1700.37 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.2.2019.578

Abstract

Studi sejarah fluktuasi muka air laut dan perubahan lingkungan di Paparan Sunda masih sedikit dilakukan. Ada dua isu yang saling terkait yang menjadi permasalahan utama terkait dengan perubahan muka air laut di wilayah ini yaitu kurangnya rekaman data fluktuasi muka air laut dan perubahan lingkungan selama kurun waktu mid-late Holosen dengan kualitas yang bagus. Hal itu memiliki konsekwensi terhadap munculnya isu kedua yaitu tidak terdefinisikannya secara jelas dan tepat baik waktu maupun besaran posisi muka air laut pada saat mid-Holosen. Penelitian ini dilakukan untuk merekonstruksi perubahan lingkungan selama Holosen Akhir di wilayah Paparan Sunda menggunakan rekaman polen endapan mangrove. Pemboran tangan dilakukan guna pengamatan stratigrafi dan pengambilan sampel untuk analisis-analisis sedimentologi dan mikropaleontologi di laboratorium. Hasil studi ini menunjukkan bahwa perubahan lingkungan terjadi di Pulau Belitung selama setidaknya 1500 tahun terakhir sebagai akibat dari proses progradasi. Proses ini menyebabkan garis pantai terus maju hingga mencapai posisi saat ini. Endapan mangrove di lokasi penelitian juga merekam kejadian insidentil yang secara hipotetis diduga sebagai peristiwa tsunami akibat letusan Krakatau yang terjadi pada tahun 1883 AD dan sekitar 535-536 AD.Kata Kunci: Belitung, polen, mangrove, Mid-Holosen, Krakatau, muka laut, perubahan lingkungan.There is only minor study on sea-level fluctuation and environmental change in Sunda Shelf. The main isues in this area are lacking good quality of sea-level fluctuation and environmental change record during mid-late Holocene in which accordingly the onset time and sea-level height of the Mid-Holocene Maximum Transgression event have not been well defined. This study aims to reconstruct environmental changes during late Holocene in the Sunda Shelf area based on mangrove pollen record. Hand-auger was applied to make stratigraphic observation and sampling for sedimentological and micropaleontological analyses in the laboratory. Result of this study shows environmental changes occured within the last ca.1500 years due to coastal progradation in Belitung. This progradation shifted the coastal line seaward to attain the present position. The pollen record also reflects rapid and brief changes that may hypothetically be interpreted as the 535-536 AD and 1883 AD Krakatau tsunamis.Keywords: Belitung, pollen, mangroves, Mid-Holocene, Krakatau, sea level, environmental changes.
DISTRIBUSI SPASIAL FORAMINIFERA DI PERAIRAN TELUK CENDERAWASIH, PAPUA BARAT Eko Saputro; Lili Fauzielly; Imelda Rosalia Silalahi; Winatris Winatris
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2471.509 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.2.2019.602

Abstract

Sebanyak 20 sampel sedimen dari perairan Teluk Cenderawasih telah digunakan sebagai bahan studi foraminifera, yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana sebaran spasial dan struktur komunitas foraminifera di perairan Teluk Cenderawasih. Hasil penelitian menunjukkan komposisi foraminifera planktonik yang terdiri dari 7 Genus dan 13 Spesies sedangkan foraminifera bentonik terdiri dari 57 Genus dan 87 Spesies. Foraminifera planktonik yang paling umum ditemukan karena muncul di seluruh sampel adalah genus Globigerinoides, terutama G. trilobus dan G. ruber. Sedangkan foraminifera bentonik didominasi oleh subordo Rotaliina, dan yang paling banyak ditemukan adalah genus Cibicidiodes dan Lenticulina. Keanekaragaman foraminifera planktonik dan bentonik termasuk dalam kategori tinggi dengan kisaran antara 0.82 – 0.90 (planktonik) dan 0.79 – 0.95 (bentonik). Kemerataan foraminifera planktonik dan bentonik juga termasuk dalam kategori tinggi dengan kisaran antara 0.83 – 0.99 (planktonik) dan 0.82–0.99 (bentonik). Sedangkan untuk dominasi foraminifera planktonik dan bentonik berada dalam kategori rendah dengan kisaran 0.10 – 0.18 (planktonik) dan 0.05 – 0.21 (bentonik). Hal ini menunjukkan bahwa Teluk Cendrawasih meskipun merupakan perairan yang semi tertutup, namun kondisinya masih sangat bagus bagi perkembangan foraminiferaKata Kunci : foraminifera, distribusi spasial, struktur komunitas, dan Teluk Cenderawasih A total of 20 marine sediment samples from Cenderawasih Bay waters have been used for foraminiferal study, . The purpose to describe the spatial distribution and structure of the foraminifera community in the waters of Cenderawasih Bay. The results indicate that marine sediments are composed of 7 genera and 13 species of planktonic foraminifera, and 57 genera and 87 species belong to benthic foraminifera. The most common planktonic foraminifera is Globigerinoides which is found in all location, particularly G. trilobus and G. ruber. Furthermore, benthonic foraminifera is dominated by subordo Rotaliina, particularly genera Cibicidoides and Lenticulina as the most common genera. Diversity of both Planktonic and benthonic foraminifera are categorized as high, the values are between 0.82 and 0.90, and between 0.79 and 0.95 respectively. Planktonic and benthonic foraminiferal evenness are also high with range value between 0.83 and 0.99 (planktonic), and between 0.82 and 0.99 (benthonic). In contrast, dominance of both foraminiferal type are low, between 0.10 and 0.18 for planktonic, and between 0.05 and 0.21 (benthonic).This indicates that despite a semi–enclosed bay, Cendrawasih Bay is still considered as a good environment for foraminiferal community. Keywords: foraminifera, spatial distribution, community structure, and Cenderawasih Bay.
BIOFASIES DAN EKOLOGI PERAIRAN JAWA TENGAH BAGIAN UTARA BERDASARKAN KUMPULAN FORAMINIFERA BENTIK KECIL Lia Jurnaliah; Ildrem Syafri; Adjat Sudradjat; Roebyanto Kapid
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1134.491 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.2.2019.614

Abstract

Daerah penelitian merupakan bagian dari Laut Jawa terletak di Perairan Jawa Tengah bagian Utara. Laut Jawa dibatasi oleh tiga pulau besar sehingga kondisi Laut Jawa menjadi tertekan karena memperoleh kontribusi air dan sedimen dari ketiga pulau tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan biofasies dan kondisi ekologi dari daerah penelitian berdasarkan kumpulan foraminifera bentik kecil. Foraminifera bentik kecil adalah hewan laut uniseluler bercangkang yang hidup di atas atau di dalam sedimen dasar laut. Kehidupannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sehingga foraminifera dapat digunakan sebagai indikator lingkungan. Analisis kuantitatif dilakukan pada 32 sampel sedimen dengan cara mengumpulkan data foraminifera bentik kecil berukuran 0,125 mm pada setiap satu gram sampel sedimen kering. Berdasarkan analisis kluster, daerah penelitian terbagi menjadi 4 biofasies yaitu Biofasies I (Zona Litoral-Zona Paparan dalam), Biofasies IIa (Zona Paparan dalam), Biofasies IIb (Zona Litoral-Zona Paparan dalam) dan Biofasies III (Zona Paparan dalam). Selanjutnya, nilai indeks diversitas dari keempat biofasies tersebut berkisar antara 0,7 – 1,1. Keempat biofasies dan nilai indeks diversitas menunjukkan daerah penelitian merupakan lingkungan laut dangkal dengan tekanan ekologis sedang sampai tinggi.Kata Kunci: foraminifera bentik kecil, biofasies, indeks diversitas, laut dangkal, ekologi, Perairan Jawa Tengah bagian Utara. The research area is part of the Java Sea located in the northern part of Central Java. Java Sea is surrounded by three large islands. Therefore, its condition becomes depressed because of the contribution of water and the sediment from the three islands. The purpose of the study is to determine the biofacies and ecological conditions of the research area based on small benthic foraminifera assemblages. The small benthic foraminifera are unicellular sea shell animals that live on or within the sediment of the seabed. Its life is severely influenced by the environment so that the foraminifera can be used as environmental indicators. Quantitative analysis was carried out on 32 sedimentary samples by collecting of 0.125 mm benthic foraminifera on each one gram of dried samples. Based on the cluster analysis, the research area is divided into 4 biofacies i.e. Biofacies I (Littoral Zone-Inner Shelf Zone), Biofasies IIa (Inner Shelf Zone), Biofacies IIb (Littoral Zone-Inner Shelf Zone) and Biofacies III (Inner Shelf Zone). Furthermore, the range diversity index value of all biofacies is 0. 7 – 1.1. It can be concluded that the all biofacies and diversity index value shows the research area is shallow sea with medium stress to highly stress ecology.Key words: small benthic foraminifera, biofacies, diversity index, shallow sea, ecology, northern Central Jawa waters
KAJIAN KARAKTERISTIK SEDIMEN DASAR LAUT UNTUK MENDUKUNG RENCANA PEMBANGUNAN PELABUHAN PATIMBAN Reno Arief Rachman; Mardi Wibowo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1002.411 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.2.2019.592

Abstract

Pembangunan pelabuhan internasional Patimban di Subang sudah sangat mendesak. Pelabuhan ini diharapkan sebagai penyokong pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan bongkar muat dari para pelakuk usaha khususnya di Jawa Barat. Dalam perencanaan pelabuhan salah satu permasalahan utama dari aspek fisik kimia yang harus diketahui adalah permasalahan proses sedimentasi dan erosi. Proses sedimentasi dan erosi sangat terkait dengan karakterisitik sedimen dasar. Selama ini kajian sedimentasi di sekitar lokasi rencana pembangunan Pelabuhan Patimban ini belum banyak dilakukan, oleh karena itu sebagai kajian awal dilakukanlah kajian karakteristik sedimen dasar laut di perairan tersebut. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui pola sebaran karakteristik sedimen dasar laut seperti berat jenis, tekstur sedimen, ukuran d50 butir sedimen dan analisis stastika sedimen dasar khususnya di musim timur. Metode yang dipakai dalam kajian ini adalah pengambilan sampel sedimen di lapangan, analisis laboratorium, analisis statistik butir sedimen dan analisis deskriptif untuk menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Berdasarakan hasil kajian ini diketahui bahwa berat jenis sedimen berkisar antara 2,130-2,227 gr/cm3 (sedimen ringan), sedimennya tergolong pasir sedang (medium sand) dengan campuran kerikil yang cukup banyak dan hanya sedikit yang tercampur dengan lumpur (gravelly sand), gradasinya tergolong baik. Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa ukuran rerata butir sedimen di perairan Pelabuhan Patimban berkisar antara 147,1 - 1730 µm (medium sand) dan pasir sangat kasar (very coarse sand), sedimen terpilah buruk, skewnes-nya kasar dan bernilai negatif, tipe kurtosis leptokurtic – very leptokurtic.Kata Kunci : sedimen dasar, pelabuhan Patimban, tekstur sedimen, analisis statistik sedimen, d50The development of the international port of Patimban in Subang is very urgent. The port is expected to support the Tanjung Priok port in Jakarta which is unable to meet the loading and unloading needs of business operators, especially in West Java. In port development planning one of the main problems of physical chemical aspects is sedimentation and erosion process. The process of sedimentation and erosion is strongly related to the characteristic of the basic sediments. Until now, study of sedimentation around the Patimban Port development plan has not been done, therefore as a preliminary study conducted a study of the characteristics of bottom sea sediments in Patimban’s waters. The purpose of this study was to find out the distribution patterns of bed sediment characteristics such as specific gravity, sediment texture, d50 sediment grain size and basic sediment statistical analysis especially at east season. The methods used in this study are field sediment sampling, laboratory analysis, sediment statistics analysis and descriptive analysis to systematically, factually and accurately describe the facts, properties and relationships between the phenomena under investigation. Based on the results of this study it is known that the density in the range of 2,130-2,227 gr/cm3 (light sediment), the sediment is classified as medium sand and gravelly sand, the gradation is good. Based on the results of statistical analysis it is known that the average size of sediment grains in Patimban Port waters ranged between 147,1 - 1730 µm (medium sand and very coarse sand), poorly sorted sediments, the value of skewnes is rough and negative, the type of kurtosis is leptokurtic - very leptokurtic.Keywords : bed sediment, Patimban port, sediment texture, sediment statisstical analysis, d50
PENGARUH AIR LAUT TERHADAP KARAKTERISTIK SEDIMEN DI DAERAH TAMBAKHARJO, SEMARANG BARAT Faiq Nirmala; Dian Agus Widiarso; Dicky Muslim; Bombom Rachmat Suganda
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3965.305 KB) | DOI: 10.32693/jgk.18.1.2020.647

Abstract

Daerah pesisir utara Kota Semarang merupakan salah satu daerah yang terkena dampak intrusi air laut. Intrusi air laut dapat disebabkan oleh pengambilan air tanah secara berlebihan, dan naiknya muka air laut. Terjadinya intrusi air laut dapat berpengaruh pada kondisi karakteristik sedimen hingga lingkungan. Interaksi antara air laut dan sedimen dapat mempercepat proses kompresibilitas pada sedimen dan dapat mengakibatkan penurunan tanah. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya daerah Semarang yang mengalami intrusi air laut juga mengalami penurunan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh intrusi air laut terhadap karakteristik fisik dan kimia sedimen pada pesisir utara Semarang. Metodologi yang digunakan meliputi pengambilan sampel sedimen pada 4 titik dengan pemboran teknik dan pengambilan sampel air laut di daerah Tambakharjo, Semarang Barat. Sampel sedimen yang telah diambil diuji menggunakan uji XRD, sedangkan sampel air laut diuji menggunakan uji kimia air. Hasil dari pengujian XRD dari sampel sedimen dan uji kimia air laut digunakan untuk melakukan pemodelan interaksi antara air laut dan sedimen. Pemodelan pada penelitian ini adalah pemodelan ekuilibrium menggunakan perangkat lunak Phreeqc 3.4. Hasil pemodelan menunjukkan adanya penurunan volume pada sedimen. Penurunan tersebut disebabkan oleh kecenderungan mineral monmorilonit melepaskan SiO2 saat berada pada air laut. Interaksi sedimen dengan air laut juga menunjukkan perubahan monmorilonit menjadi ilit pada kondisi yang sama.Kata kunci: Intrusi air laut, monmorilonit, ilit, Phreeqc 3.4.North coastal of Semarang city is one of the regions that is affected by seawater intrusion. Seawater intrusion caused by excessive groundwater extraction, both shallow and deep groundwater. Besides being caused by excessive groundwater, seawater intrusion can also occur due to sea-level rise. The appearance of seawater intrusion can affect environmental conditions, such as sediment characteristics. Seawater and sediment interaction can accelerate sediment compressibility and can cause land subsidence. Previous studies in the Semarang area show that seawater intrusion co-occurrence with land subsidence. This study aims to determine the effect of seawater intrusion on physical and chemical characteristics of sediment. The methodology used in this research are included the sediment sampling at 4 points using geotechnical drilling and seawater sampling in Tambakharjo, West Semarang. Sediment samples are analyzed by using the XRD method and seawater samples are analyzed for their chemical compositions. The results of analysis have been used to model the interactions between seawater and sediments. Modeling carried out is an equilibrium model using Phreeqc 3.4 software. Modeling shows a decrease volume in the sediment. The decrease causes by the tendency of montmorillonite to release SiO2 while in seawater. The interaction of sediments with seawater also shows the change of montmorilonite to become illite under the same conditions.Keywords: Seawater intrusion, montmorillonite, illite, Phreeqc 3.4
KARAKTERISTIK PENURUNAN DASAR LAUT PERAIRAN TELUK JAKARTA Yudi Darlan; Ildrem Syafri; Vijaya Isnaniawardhani; Adjat Sudradjat
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7953.612 KB) | DOI: 10.32693/jgk.18.1.2020.645

Abstract

Penurunan permukaan tanah wilayah pesisir Teluk Jakarta diyakini sebagai dampak dari pembangungan. Dari tahun 1974 sampai dengan 2010 telah terjadi penurunan permukaan tanah di sejumlah daerah DKI Jakarta antara -0.25 m dan -4.1 m. Kawasan perairan Teluk Jakarta sebagian besar masih dalam kondisi alamiah, belum mengalami beban pengembangan yang dapat menimbulkan penurunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung penurunan dasar laut Teluk Jakarta melalui pendekatan tektonik, lingkungan, dan kosolidasi  sedimennya sebagai penyebab penuruan. Metode yang digunakan adalah pengembangan data sedimen inti bor dan rekaman sesimik pantul dangkal meliputi analisis besar butir, mikrofauna, pentarihan umur radiokarbon C14 dan analisis srtatigrafi seismik. Hasilnya penurunan lapisan sedimen perairan Teluk Jakarta telah terjadi sejak masa ribuan tahun yang lalu (Late Glacial Maximum, LGM). Penurunan tersebut terjadi akibat adanya gerakan vertikal lapisan sedimen (tektonik) dan konsolidasi sedimen. Penurunan lapisan sedimen di wilayah barat antara 0.1m dan 0.3m pertahun, dan 0.4m dan 0.5m pertahun di wilayah timur Teluk Jakarta. Kecepatan pengendapan sedimennya berkisar antara 0.57cm dan 1,84cm pertahun lebih kecil dari penurunan. Jika terjadi gangguan pada lapisan sedimen pasir maka penuruan dasar laut perairan barat Teluk Jakarta cenderung akan meningkat. Pengembangan perairan Teluk Jakarta untuk pembangunan infrastruktur sebaiknya mengikutsertakan data dan informasi geologi kelautan untuk memperkecil resiko dampak penurunan.Kata kunci: karakteristik, penurunan, dasar laut, perairan, Teluk Jakarta Land subsidence of the Jakarta Bay coastal area has been supposed to be as the impact of coastal development. From 1974 to 2010 land subsidence occurred in a number of DKI Jakarta areas between -0.25 m and -4.1 m. The Jakarta Bay waters is in most natural condition which has no records of subsidence as an impact of the development. This research aims to estimate seabed subsidence rate of the Jakarta Bay waters through approaches such as tectonics, sedimentary environments, and consolidation of sediment as causes of the subsidence. The method used in this research is improvement data of sediment cores and reflection seismic records through particle size analyses of sediment, microfossil analyses, radiometric dating C14, and seismic stratigraphy analyses. Results, the accidents of seabed subsidence of the Jakarta Bay waters has been occurred since last thousands years (Late Glacial Maximum, LGM). The subsidence occurred due to vertical movement of sediment layers and consolidation. The subsidence of sediment layer for west area between 0.1m and 0.3 per a year and between 0.4m and 0.5m per year for eats area of the Jakarta Bay waters. Depositional rates of its sediment between 0.57cm and 1.84cm per a year that are less than subsidence. If there is disruption in the sand sedimentary layer, seabed subsidence for western area of the Jakarta Bay will progressively increase. The development of the Jakarta Bay waters for coastal infrastructures marine geological data and information should be included in order to minimize risks of subsidence impact. Keywords: Characteristic, subsidence, seabed, waters, the Jakarta Bay.
INTERPRETASI ANOMALI GAYABERAT PERAIRAN KEPULAUAN KAI DAN SEKITARNYA, MALUKU Eddy Mirnanda; Agus Subekti; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3001.343 KB) | DOI: 10.32693/jgk.18.1.2020.623

Abstract

Penelitian gayaberat laut telah dilakukan di perairan Kepulauan Kai dan sekitarnya pada tahun 2018 dengan menggunakan kapal survei Geomarin 3. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh data geofisika kelautan dan menentukan keberadaan serta keterdapatan cekungan sedimenter. Penafsiran hasil penelitian gaya berat laut menunjukkan bahwa di bagian barat kepulauan Kai tepatnya di cekungan Weber merupakan jalur tarikan timur-barat yang masih aktif. Nilai anomali gayaberat Bouguer pada umumnya berkisar +180 mGal hingga +340 mGal berpola melingkar dengan arah relatif utara-selatan dengan nilai landaian gayaberat yang sangat curam. Di bagian timur kepulauan Kai yaitu di sekitar P. Kai Kecil dan P. Kai Besar, merupakan gambaran dari kawasan paparan Aru yang mempunyai litologi relatif homogen yaitu batu gamping dan napal berumur Tersier yang dilandasi oleh batuan dasar kerak kontinen yang relatif stabil. Nilai anomali gayaberat pada umum berkisar +90 mGal hingga +179 mGal berpola melingkar dengan arah relatif timurlaut-baratdaya. Di bagian tengah kepulauan Kai yaitu P. Kur, P. Fadol dan kepulauan Tayadu, anomali gayaberat berkisar antara +0 mGal hingga +89 mGal berpola memanjang dengan arah relatif utara-selatan dan timurlaut-baratdaya. Tingginya nilai anomali Bouguer di daerah ini berkaitan dengan batugamping Tersier dan kelompok litologi yang mempunyai rapat massa tinggi yaitu kerak granitik yang relatif lebih dekat ke permukaan di bandingkan dengan tempat lain. Hasil pemodelan penampang gayaberat diperoleh; air laut dengan rapatmassa 1,03 gr/cm3 merupakan lapisan paling atas disusul oleh kelompok batuan sedimen dengan rapatmassa 2,00 gr/cm3, kemudian kerak dengan rapatmassa 2,67 gr/cm3 dan 3,10 gr/cm3 mewakili mantel atas.Kata kunci: Anomali gayaberat, cekungan sedimen, penampang gayaberat, kepulauan Kai Marine gravity research was carried out on the Kai island waters and its surrounding area in 2018 use Geomarin 3 research vessel. The purpose of this research are to obatain marine geophysical data and determine of sedimentary basins. The interpretation results of the marine gravity research show that in the western part of the Kai islands precisely in the Weber basin which is an active east-west pull belt. Gravity anomaly values generally range between +180 mGal to +340 mGal with a circular pattern in a relatively north-south direction with a value of very steep gently sloping. In the eastern part of the Kai islands, that is an imaging of the Aru shelf which has a relatively homogeneous lithology, consist of limestone and marl Tertiary-age, which is based on relatively stable continental crust bedrock. Gravity anomaly values generally between +90 mGal to +179 mGal with elongated pattern in the northeast-southwest direction. In the middle part of the Kai islands, P. Kur, P. Fadol dan Tayadu Islands, gravity anomalies range from +0 mGal to +89 mGal with a circular pattern in a relatively north-south direction and a relatively northeast-southwest direction. The high value of Bouguer anomalies in this area is related to Tertiary limestone and lithology groups that have high density, namely granitic crust which is relatively closer to the surface compared to other places. The cross section modeling gravity is obtained; sea water with a density of 1,03 gr/cm3 is the top layer followed by sedimentary rock groups with a density of 2,00 gr/cm3, then crust with a density of 2,67 gr/cm3 and 3,10 gr/cm3 represents the mantle up.Keyword: Gravity anomaly, sediment basins, gravity cross section, Kai island
KETERKAITAN PERUBAHAN IKLIM PADA GLASIAL AKHIR - HOLOSEN TERHADAP TINGKAT KEANEKARAGAMAN FORAMINIFERA DI LAUT HALMAHERA Fitria Ratna Pratiwi; Suwarno Hadisusanto; Luli Gustiantini; Nazar Nurdin; Mira Yosi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.085 KB) | DOI: 10.32693/jgk.18.1.2020.635

Abstract

Laut Halmahera terletak pada Western Pacific Warm Pool (WPWP), yaitu pusat konveksi panas di Samudera Pasifik Barat tropis. Laut ini merupakan salah satu jalur masuk Arlindo yang menghubungkan massa air Samudera Pasifik dengan Samudera Hindia. Sehingga area ini penting untuk rekonstruksi paleoklimat. Peristiwa perubahan glasial akhir-interglasial (Holosen) merupakan peristiwa di masa lalu yang sangat mempengaruhi kondisi Laut Halmahera. Salah satu proksi yang dapat digunakan untuk mencatat perubahan iklim di masa lalu adalah sisa-sisa makhluk hidup, termasuk foraminifera. Perubahan yang terjadi pada foraminifera dapat diamati dari tingkat  keanekaragaman, kemelimpahan, dominansi, dan keseragaman. Penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel sedimen bor MD10-3339, yang diambil di Laut Halmahera (00o26,67’LS dan 128o50,33’BT) pada kedalaman 1.919 m, dalam survei MONOCIR 2 tahun 2010. Sampel yang digunakan pada rentang 20 cm hingga 1.930 cm dengan interval 60 cm pada tiap sampel, yang dianggap mewakili waktu terjadinya glasial-interglasial. 30 sampel kemudian diamati dan dilakukan analisis secara kuantitatif. Teridentifikasi 52 spesies yang terdiri dari 32 spesies foraminifera bentonik dan 21 spesies foraminifera planktonik. Nilai indeks keanekaragaman, nilai indeks keseragaman, dan indeks dominansi menunjukkan nilai yang fluktuatif sejak glasial-interglasial, dengan nilai rata-rata 1,66; 0,35; dan 0,3. Walaupun tidak menunjukkan pola glasial-interglasial, namun pada sekitar umur 12.519 BP, nilai indeks keanekaragaman dan nilai keseragaman menunjukkan nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai yang lain yaitu 1,102 dan 0,26. Sebaliknya, indeks dominansi mencapai nilai tertinggi yaitu 0,55.  Selain itu, persentase P. obliqueloculata pada umur ini menjadi sangat dominan yaitu 73,05%. Hal tersebut kemungkinan berkaitan dengan peristiwa Younger Dryas.Kata Kunci : Foraminifera, Younger Dryas, Laut Halmahera.Halmahera Sea lies in the centre of Western Pacific Warm Pool (WPWP), the warmest area in Tropical Pacific Ocean that play a role as center of heat convection. It is also one of the Indonesian throughflow pathways connecting water mass from Pacific Ocean to The Indian Ocean, therefore this area is considered important for climatic reconstruction. Glacial-interglacial cycle is one of the major events in the past that strongly influence the Halmahera Sea. Potential proxies for paleoclimatic reconstruction are including living organisms remain, such as foraminifera. Respond of foraminifera can be observed from their diversity, abundance, dominance, and their evenness. This study was conducted by analizing sediment core MD10-3339, collected from the Halmahera Sea (00o26.67” S, 128o50.33” E) in 1,919 m water depth, during the cruise MONOCIR 2 in 2010. Samples were analized from 20 cm to 1,930 cm at 60 cm intervals. A total of 30 samples were observed and analyzed. 52 species of foraminifera are found, composed of 32 species of benthonic foraminifera and 21 species of planktonic foraminifera. The analyses of diversity index, evenness, and dominance indicate fluctuated values between glacial-interglacial, with averages values are 1.66, 0.35, and 0.3 respectively. Although the values do not indicate glacial-interglacial trend, however, in 12,519 BP diversity index and evenness index showed the lowest number compared to the other ages (1.102 and 0.26, respectively),in contrast the highest dominance index (0.55). Furthermore, at this time, the percentage of Pulleniatina obliquiloculataincrease (73.05%) and become dominant. This occurrence might be related to the Younger Dryas event.Keywords: Foraminifera, Younger Dryas, Halmahera Sea.