cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
KANDUNGAN UNSUR TANAH JARANG DI PERAIRAN KAMPAR, RIAU Deny Setiady; Andy Hermanto Sianipar; Riza Rahardiawan; Yusuf Adam Priohandono; Sunartono Sunartono
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 1 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1823.396 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.1.2003.91

Abstract

Makalah ini membahas tentang sebaran dan kandungan unsur tanah jarang, di Perairan dan pantai Kuala Kampar baik dalam sedimen permukaan maupun di bawah permukaan. Untuk mengetahui dan memahami sebaran unsur tanah jarang di daerah selidikan, empat puluh lima contoh sedimen telah dilakukan analisis unsur tanah jarang. Berdasarkan analisis REE, maka unsur tanah jarang di Perairan Kuala Kampar dan sekitarnya terdiri dari Thantalum (Ta), Neobium (Nb), Zirkonium (Zr) Ytrium (Y) Zirkonium ditemukan dalam seluruh contoh yang dilakukan analisa kimia.. Dalam percontoh sedimen permukaan dasar laut sebaran zirkonium mempunyai kandungan antara 2,8 ppm -130 ppm. Sedangkan dibawah permukaan sedimen dasar laut berdasarkan data bor zirkonium ditemukan dengan kandungan antara 20,1 ppm - 75 ppm. Ytrium ditemukan pada seluruh contoh yang dianalisis kimia. Pada sedimen permukaan dasar laut sebaran ytrium mempunyai kandungan antara 4,1 ppm -39,3 ppm. Sedangkan dibawah permukaan sedimen dasar laut dari data bor ytrium ditemukan dengan kandungan antara 8,6 ppm - 17 ppm. Neobium ditemukan pada 33 percontoh yang dianalisa kimia dengan kandungan antara 0,06 ppm - 15,3 ppm dalam sedimen permukaan dasar laut perairan Kuala Kampar.dengan kandungan tertinggi pada MKP-69 (15,3) ppm. Dari contoh bor neobium ditemukan dalam BH-2 kedalaman bor (11-12m) 5,5 ppm dan BH-3 kandungan kisaran antara 2,6 ppm - 6,9 ppm Thantalum ditemukan dalam 23 percontoh yang dianalisa kimia dengan kandungan antara 1,43 ppm dan 19,3 ppm dengan kandungan tertinggi pada MKP-69. Dari contoh bor (BH-1, BH-2 and BH-3) thantalum tidak ditemukan. Unsur tanah jarang kebanyakan terdapat pada sedimen dasar laut pasir, pasir lanauan dan lanau pasiran. The paper describes distribution and rare earth element contents in surface and sub surface sediments of Kuala Kampar waters area. To find out the distribution of rare earth element in the study area, forty-five samples have been analysed. According to REE analysis the sediments in Kuala Kampar area consist of Thantalum (Ta), Neobium (Nb), Zirconium (Zr) and Ytrium (Y). Zirconium found in all samples of surficial sea bottom sediment. Zirconium content ranged between 2,8 ppm and130 ppm. On the other hand subsurface seabottom sediment from core data shows zirconium content between 20,1 ppm and 75 ppm. Ytrium found in all samples analysed and the content range between 4,1 ppm and 39,3 ppm, while from core data ytrium content between 8,6 ppm and 17 ppm. Neobium found in thirtythree samples chemically analysed, the content range between 0,06 ppm and 15,3 ppm, where the highest content occur in MKP-69. From the core neobium found.in BH-2 core data (11 m - 12m) 5,5 ppm and BH-3 the content range between 2,6 ppm and 6,9 ppm. Thantalum found in 23 samples and the content range between 1,43 ppm and 19,30 ppm, where the highest content occur in MKP-69. From the core (BH-1, BH-2 and BH-3) thantalum is not found Most of Rare earth element generally found in sea bottom sediment: sand, silty sand and sandy silt.
DESAIN KAPASITAS TIANG PANCANG BULAT UNTUK LAPISAN SEDIMEN KOHESIF PADA RENCANA AS JETTY MARINE CENTER, CIREBON-JAWA BARAT Franto Novico; Purnomo Raharjo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 10, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.411 KB) | DOI: 10.32693/jgk.10.2.2012.219

Abstract

Pemboran geoteknik pada daerah perairan dengan lapis sedimen yang bersifat kohesif merupakan hal yang cukup menarik, tidak saja dari segi teknis pelaksanaan pemboran namun juga dalam tahapan selanjutnya yaitu analisis hasil pemboran dan aplikasi desain yang dibuat. Lapisan sedimen kohesif pada perairan yang umumnya berada dalam kondisi jenuh perlu mendapatkan pertimbangan khusus untuk menentukan dimensi dari aplikasi struktur bagian bawah pada rencana pengembangan infrastruktur yang sedang dibuat. Berdasarkan alternatif dimensi dan rencana peletakan tiang pancang, dengan rencana pembangunan trestle untuk kapal 7000 DWT maka tiang pancang dengan diameter 40 cm yang dipancangkan pada kedalaman -14 m dan maksimum -20 meter dari dasar laut sudah cukup efisien. Kata Kunci : Cirebon, Kapasitas Tiang Pancang, Marine Center PPPGL A geotechnical drilling, especially within the area where has a cohesive sediment is very fascinating, it is not only in term of the drilling technique but also analyze the drilling result and the application. In general, a cohesive sedimen in waters area is saturated therefore the determination of dimension of a basement structure being a special attention to determine a dimension of basement structure in term of planning an infrastructure development. Based on dimension alternative and the depth of the piling, with trestle planning for 7000 DWT vessel, the pile with 40 cm of diameter could be efficient in depth between -14 m and -20 m from sea floor. Keywords : Cirebon, Pile Capacity, Marine Center PPPGL
PENELITIAN TIMAH PLASER MELALUI ANALISIS SAYATAN OLES DAN GEOKIMIA : STUDI KASUS PERAIRAN TELUK PINANG, PROVINSI RIAU Yudi Darlan; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.793 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.2.2010.187

Abstract

Kebutuhan pasar dunia akan timah meningkat, sehingga pencarian sumberdaya timah banyak dilakukan, termasuk kawasan perairan Riau, Bangka dan Belitung. Bijih timah dalam mineral kasiterit mempunyai Berat Jenis tinggi, sehingga endapan timah alluvium akan tersebar di sekitar sumber asal timah. Analisis geokimia merupakan salah satu metoda yang digunakan untuk menjawab apakah timah dan logam lainnya dalam bentuk unsur berpotensi sebagai sumber daya. Kandungan unsur logam timah yang terdapat pada sedimen permukaan di sekitar aliran dan muara sungai kurang dari 10ppm lebih kecil dibandingkan dengan kandungan unsur logam timah yang ada pada sedimen permukaan dasar laut (20ppm – 80ppm). Kata kunci: timah plaser, analisis sayatan oles dan geokimia, sedimen permukaan, Teluk Pinang, Provinsi Riau The demand of world trades for tin is high, hence explorations for resources of tin in the world, for example Riau, Bangka, and Blitung of Indonesia waters have been carried out. Tin ores of cassiterite has high density, therefore alluvial tin deposits will distributes near their resources. Geochemical analyses is one of the methods which is applied to explain that are tin and heavy metals deposits are prospect at the study area. This is as a main aim of research at Teluk Pinang waters and adjacent areas. The content of tin metal element contained in surface sediments in the river streams and rmouth less than 10ppm is smaller than the content of tin metal element exist on the seafloor surface sediment (20ppm - 80ppm). Key words: placer tin, smear slides and geochemistry analyses, surfacial sediment, The Pinang Bay, Riau Province
FORAMINIFERA BENTONIK KAITANNYA DENGAN KUALITAS PERAIRAN DI WILAYAH BARAT DAYA PULAU MOROTAI, MALUKU UTARA Amir Sidiq; Suwarno Hadisusanto; Kresna Tri Dewi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1119.179 KB) | DOI: 10.32693/jgk.14.1.2016.336

Abstract

Pulau Morotai, Maluku Utara merupakan salah satu pulau yang terletak di kawasan segitiga terumbu karang  sebagai pusat kenakeragaman biota laut global. Kesehatan ekosistem terumbu karang dapat dipantau dengan menggunakan komposisi foraminifera bentonik. Maksud dan tujuan studi ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas foraminifera bentoni terkait dengan kualitas perairan sebelah barat daya Pulau Morotai. Studi ini menggunakan enam sampel sedimen dasar laut dengan tiga kali perulangan yang diambil pada  kedalaman antara 16 dan 36 m. Hasilnya menunjukkan ada 28 spesies foraminifera bentonik, dicirikan oleh kehadiran Amphistegina dan Operculina dalam jumlah sangat melimpah. Amphistegina radiata merupakan spesies dengan densitas tertinggi di stasiun dekat pantai. Nilai indeks keanekaragaman foraminifera antara 1,49 dan 2,31 yang tergolong dalam kondisidengan tingkat keanekaragaman sedang. Indeks keseragaman umumnya lebih besar dari 0,6 yang menunjukkan lingkungan stabil. Nilai indeks FORAM (FI) berkisar dari 6,32 hingga 9,16 yang memperlihatkan  kondisi lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan terumbu karang. Kata kunci: struktur komunitas, foraminifera bentonik, terumbu karang, MorotaiMorotai Island, North Molucca is one of islands that is located in the Coral triangle region as the global centre of marine biodiversity.  The health of this coral ecosystem could be monitored by using benthonic foraminferal composition. The purpose of this study are re recognized community structure of benthic foraminifera related to water quality off southwest Morotai, Island. This study used six marine sediments samples with three times of replication that collected from 16 -36 m water depth. The result shows that there are 28 spesies of benthonic foraminifera characterized by occurences of Amphistegina and Operculina abundantly. Amphistegina radiata is a highest density species that is found in the near shore station. The diversity index is between 1,49 and 2,31 as moderate diversity;  evenness index generally is more than 0,6 that indicates stable environment. FORAM index (FI) is more than 4 (6,32 to 9,16) that shows of  condusif environmental condition for reef growth.Keywords: community structure, benthonic foraminifera, coral reef, Morotai
PENGARUH FREKUENSI GELOMBANG TERHADAP RESOLUSI DAN DELINEASI PERLAPISAN SEDIMEN BAWAH PERMUKAAN DARI DUA INSTRUMEN AKUSTIK YANG BERBEDA DI SUNGAI SAGULIN Subarsyah Subarsyah; Muh. Yusuf
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.446 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.114

Abstract

Implementasi pengukuran kedalaman dasar Sungai Saguling dilakukan dengan menggunakan instrumen akustik dengan keluaran frekuensi yang berbeda. Yang pertama dengan peralatan echosounder Raytheon DE-719 CM berfrekuensi 200 KHz, sedangkan yang kedua dengan menggunakan peralatan StrataboxTM berfrekuensi 10 KHz. Penggunaan kedua instrumen akustik dengan keluaran frekuensi yang berbeda tersebut masing-masing memberikan informasi tersendiri. Peralatan dengan frekuensi tinggi 200 KHz memberikan resolusi dan presisi yang tinggi dalam penentuan kedalaman dasar sungai dengan konsekwensi penetrasi menjadi dangkal, sedangkan peralatan StrataboxTM dengan berfrekuensi 10 KHz memberikan informasi kedalaman, ketebalan sedimen dengan resolusi yang berkurang. Hal ini dipengaruhi faktor lebar beam, seperti munculnya efek difraksi, multiple, dan gelombang yang tidak diinginkan. Bathymetric measurement of Saguling River was using different frequency output of acoustic implemented using acoustic instruments. The first was echosounder Raytheon DE-719 CM with frequency output of 200 KHz, and the second was Stratabox TM with frequency output of 10 KHz. This two acoustic instruments each gives different information. Bathymetric measurement of river with high frequency instrument (200 KHz) improve the resolution and precision of data, but the consequence that penetration become shallow, while measurement using low frequency output (10 KHz) make the penetration become high, but less in resolution, it's influence by width of beam factor, such as the appearance of diffraction, multiple, and others unwanted signal.
INTERPRETASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN ATRIBUT ANOMALI MAGNETIK PERAIRAN WETAR, NUSA TENGGARA TIMUR Subarsyah Subarsyah; Lukman Arifin; Dida Kusnida
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1532.35 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.1.2014.242

Abstract

Struktur geologi yang berkembang di Perairan Wetar berupa Proto-Thrust-Zone, Frontal-Thrust dan Sesar Mendatar. Kelurusan anomali magnetik dikontrol oleh kontras suseptibilitas magnetik dari fenomena geologi. Interpretasi fenomena geologi berdasarkan anomali magnetik memperlihatkan Sesar Naik Wetar yang cukup jelas di bagian selatan, dan berpindah tidak menerus ke bagian timur daerah penelitian akibat Sesar Mendatar. Fenomena geologi lainnya berdasarkan metode horisontal derivatif orde 1 dan analisis sinyal terlihat jelas batas keberadaan tubuh batuan vulkanik. yang teridentifikasi dalam penampang seismik lintasan 5 dan 9. Metode ini cukup baik dalam memetakan struktur bawah permukaan. Di perairan Wetar sebagian anomali magnet tidak bisa diinterpretasikan jika dikorelasikan dengan penampang seismik. Hal ini terkait dengan hipotesis keberadaan paleomagnetik dan kerak Banda bagian selatan yang merupakan lempeng samudera yang terperangkap. Kata Kunci : magnet, horisontal derivatif, anomali, perairan Wetar Geological structures that develop in the Wetar waters are Proto Thrus Zone, Frontal Thrust Zone and Strike Slip Fault. Magnetic lineament controlled by sussceptibility contrast of geological phenomena. Interpretation of geological phenomena based on magnetic anomaly clearly show the strike-slip fault trending in the south, and move discontinuously eastward of the study area due to Strike-Slip Fault. Other geological phenomena clearly identified by horizontal derivative and signal analysis method such as the boundary of volcanic body as seen on seismic section line 5 and 9. These method quite usefull to map subsurface structure. Some part of the magnetic anomaly in the Wetar Waters cannot be interpreted since they are correlated with seismic section. It may be due to the hypothesis of the present of paleomagnetic southern Banda basin assumed as the trapped oceanic crust. Keywords: magnetic, derivative horizontal, anomaly, Wetar waters
STRATIGRAFI PERAIRAN UTARA BALI DARI HASIL INTERPRETASI SEISMIK 2D Deny Setiady; I Nyoman Astawa; Gusti Muhammad Hermansyah; I Wayan Lugra; Tumpal Bernhard Nainggolan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6106.162 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.2.2017.349

Abstract

Secara geografis daerah penelitian terletak pada koordinat 1140 32’ – 1160 01’ Bujur Timur dan 070 15’ - 080 02’ Lintang Selatan. Kondisi geologi dasar laut belum banyak dibahas oleh para peneliti di Perairan Bali Utara, karena kurangnya data seismik dan data sumur bor. Cekungan Jawa Timur di sebelah selatan dibatasi oleh busur vulkanik, sebelah timur dibatasi oleh Cekungan Lombok. Stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda terdiri dari formasi Prupuh, formasi Rancak, formasi Cepu, formasi mundu dan formasi Lidah. Metoda penelitian terdiri dari pengukuran navigasi, pengukuran kedalaman dasar laut, pengukuran seismik 2D serta kesebandingan data seismic dan bor. Tujuan penelitian adalah mengetahui pelamparan Cekungan Jawa Timur utara di Perairan Utara Bali. Dari hasil interpretasi dan korelasi antara data seismik dengan sumur bor, menunjukkan bahwa rekaman seismik 2D daerah telitian dapat dibagi menjadi enam (6) runtunan dengan urutan dari atas ke bawah adalah runtunan A, B, C, D, E, dan F.Kata kunci:Data seismik 2D, interpretasi, Cekungan Jawa Timur, Perairan Utara Bali, Data bor Geographically the research area lies within coordinates of 1140 32’ – 1160 01’ East and 070 15’ - 080 02’ South. The geological condition of the seabed has not been much discussed by researchers in the North Bali Waters, due to the lack of seismic and well data.The East Java Basin to the south is bounded by a volcanic arc, whereas the Lombok Basin on its eastward. Stratigraphy of research area consists of old to young Formation, i.e., Prupuh, Rancak, Cepu, Mundu and Lidah formation. Method consists of positioning, bathymetric, 2D seismic measurement, and compiled by seismic and well data.The purpose of this research is focused to distribution of the northern East Java Basin in North Waters of Bali. From the interpretation and correlation between the seismic and well data, they can divided by six (6) units from top to bottom are: A, B, C, D, E, and F.Keywords: 2D seismic data, interpretation, east java basin, North Bali waters, well data
AKUMULASI TAILING DASAR LAUT DI PERAIRAN TELUK SENUNU DAN SEKITARNYA, SUMBAWA BARAT Yogi Noviadi; Prijantono Astjario
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2096.598 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.3.2011.210

Abstract

Teluk Senunu terletak di pantai selatan Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Daerah ini merupakan kawasan pembuangan tailing dari PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). Hasil pemeruman di lokasi penyelidikan di sekitar alur pipa tailing memperlihatkan kedalaman dasar laut di sekitar Teluk Senunu bervariasi, pada kedalaman 0 sampai dengan 100 meter dijumpai pada jarak sekitar 3 - 3,25 km dari garis pantai. Keberadaan pipa tailing terluar berada pada kedalaman sekitar 120 meter dari permukaan dasar laut, dan posisi penempatan tailing ini terletak di kawasan Ngarai dengan kedalaman lebih dari 125 meter. Berdasarkan hasil penafsiran data Side Scan Sonar dijumpai adanya 3 jalur pipa tailing yang berada di permukaan dasar laut dengan penyebaran tailing secara lateral melebar sepanjang 1,5 km sejajar dengan tebing Ngarai Senunu. Kata kunci : tailing, Teluk Senunu, Rekaman Seismik, Side scan sonar Senunu bay is located on the southern coast of West Sumbawa Regency, West Nusa Tenggara. This area is a tailings disposal area of the ??PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). Results of sounding around the tailing pipe shows the depth of the seafloor around the Senunu bay vary, at a depth of 0 to 100 meters was found at a distance of about 3 to 3.25 km from the coastline. The outer pipe of tailings located at a depth of 120 meters from the sealevel, and tailings placement position is located in the gap with a depth of more than 125 meters. Based on the results of Side Scan Sonar data interpretation, the 3 pipelines of tailings on the sea floor with spread laterally along the 1.5 km wide parallel to the canyon cliffs of Senunu. Key words : tailing, Teluk Senunu, Seismic Record, Side scan sonar
MUD DIAPIR DI PERAIRAN SELATAN PULAU MADURA Lukman Arifin; Dida Kusnida
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 3 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1796.364 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.3.2009.178

Abstract

Shallow seismic reflection study along the southern water of Madura Island indicates the occurrence of diapir and sediment bearing gas. Normally, the occurrence of diapirism is associated with sediment bearing gas. These phenomena can be observed along the southern waters of Madura, from Sampang until Kalianget. Diapir, fault, and gas charged sediment are indicated as the geological hazard. Offshore infrastructures and drillings have to consider the present phenomena because they can destroy those infrastructures. Key word: diapir, fault, gas, geological hazard, Sampang Penelitian seismik pantul dangkal di perairan selatan P. Madura menunjukkan adanya diapir di dalam lapisan sedimen yang mengandung gas. Biasanya keberadaan diapir diikuti oleh adanya lapisan sedimen yang mengandung gas. Gejala ini dapat diamati di sekitar perairan pantai selatan Madura,mulai dari perairan Sampang hingga ke Kalianget. Diapir,sesar, dan gas dalam sedimen diindikasikan sebagai bahaya geologi. Pembangunan atau pemboran di pantai dan lepas pantai harus mewaspadai keberadaan diapir dan gas dalam lapisan sedimen. Di tempat ini struktur tanahnya labil dan dapat menimbulkan kerusakan bangunan di atasnya. Kata kunci: diapir, sesar,gas, bahaya geologi, Sampang
PENELITIAN LINGKUNGAN PANTAI DAN LOGAM BERAT PERAIRAN PARIAMAN– PADANG-BUNGUS TELUK KABUNG SUMATERA BARAT Yudi Darlan; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1289.524 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.1.2008.146

Abstract

Kawasan pesisir Padang merupakan salah satu kawasan andalan yang menjadi prioritas untuk dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Kawasan pesisir Pariaman - Padang merupakan daerah pantai abrasi, disusun oleh endapan alluvial berupa kerikil, pasir, dan lempung membentuk pantai lurus dan landai. Kawasan pesisir Padang – Bungus Teluk Kabung berupa pantai teluk, stabil, disusun oleh batuan volkanik membentuk bentang alam perbukitan dan pantai terjal. Abrasi terjadi di daerah telitian sebagai dampak perubahan iklim global dan aktivitas manusia (anthropogenic) seperti dampak kerusakan terumbu karang terutama terjadi di kawasan pantai Pariaman - Padang. Di Padang – Bungus Teluk Kabung sedimentasi terjadi akibat dampak perubahan rona lingkungan di kawasan hulu sungai (hinterland) yang membawa sedimen ke perairan. Mangrove dengan luasan kecil terdapat di kawasan Padang – Bungus Teluk Kabung,. Terumbu karang masih banyak dijumpai di kawasan Bungus Teluk Kabung dan sekitarnya dalam kondisi 50% rusak akibat pemboman dan perubahan kondisi air laut yang disebabkan oleh pencemaran dari limbah kapal, industri dan rumah tangga. Kandungan Logam berat Hg sebagai zat pencemar yang terdapat pada sedimen perairan Bungus Teluk Kabung mencapai 3500 ppb di atas baku mutu sedimen (410 ppb). Kandungan logam lainnya yang punya nilai ekonomis yang terdapat di daerah telitian yaitu emas, Au (4ppb – 22ppb) dan perak, Ag (1ppm – 2ppm). Kata kunci: lingkungan pantai, pencemaran, logam berat, mineral ekonomis, Pariaman, Padang, Bungus Teluk Kabung The coastal area of Padang is one of the target coastal areas that have been prioritised to be developed by the West Sumatra Government. The coastal area of Pariaman – Padang is an erosion coast of alluvial deposits consisted of gravel, sand, and clay which form straight and gentle slope beaches. The coastal area of Padang – Bungus Kabung Bay is a stable embayment coast consisted of volcanic rocks which form undulated hilly land and cliff. Erosion occurred at the research area as impact of the global climate changes and human activities (anthropogenic) for example impact of coastal reef destruction at the area of Pariaman – Padang. At the coastal area of Padang – Bungus Kabung Bay sedimentation occurred as impact of change environments in the hinterland, which transport sediment loads to the coast. Mangroves of small square areas are distributed at the coastal area of Padang – Bungus Teluk Kabung. While coral reef distributed in large area at the coast of Bungus Kabung Bay and adjacent area in 50% condition impacted from explosion and change of sea water quality due to waste disposal from boats, industries, and houses. Heavy metal content of mercury (Hg) as a toxic element in sediment of Bungus Kabung Bay reach 3500 ppb over the sediment quality standard (410 ppb). Economic native metals found at the research area are gold, Au (4ppb – 22 ppb), and silver, Ag (1ppm – 2ppm). Key words: coastal environments, pollution, heavy metals, valuable minerals, Pariaman, Padang, Bungus Teluk Kabung