cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
HUBUNGAN VERTIKAL ANTARA KELIMPAHAN FORAMINIFERA DAN KARAKTERISTIK SEDIMEN INTI DI SELAT SUMBA, NUSA TENGGARA TIMUR Adrianus Damanik; Purna Sulastya Putra; Septiono Hari Nugroho; Rubiyanto Kapid
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5737.419 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.1.2019.563

Abstract

Data kelimpahan foraminifera dan karakteristik sedimen inti laut dalam digunakan sebagai proksi untuk merekonstruksi iklim, lingkungan, dan oseanografi di masa lalu. Penelitian ini menggunakan sebuah sampel sedimen inti laut dalam (ST-13) sepanjang 173 cm dari Selat Sumba, Nusa Tenggara Timur. Sampel sedimen tersebut diambil dengan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VII pada saat Ekspedisi Widya Nusantara (E-WIN) tahun 2016. Sebanyak 22 subsampel sedimen diambil secara vertikal pada setiap interval delapan cm untuk analisa kelimpahan foraminifera, karakteristik fisik sedimen dan kandungan unsur kimianya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara unsur biogenik (kelimpahan foraminifera) terhadap unsur anorganik (karakteristik fisik sedimen dan kandungan unsur kimia) melalui pengujian korelasi Pearson pada piranti lunak XLSTAT. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai korelasi yang tinggi antara kelimpahan foraminifera dengan nilai rata-rata, kemencengan, persentase pasir, Ca, dan Sr (-0,64, 0,72, 0,66, 0,71, dan 0,75). Sedangkan nilai korelasi yang lemah terjadi antara kelimpahan foraminifera terhadap pemilahan, kurtosis, Fe, Ti, dan K (-0,13, 0,43, -0,18, -0,43, dan -0,42). Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa kelimpahan foraminifera mempengaruhi ukuran butir rata-rata, pergeseran distribusi kearah lebih kasar, persentase pasir, dan juga Ca dan Sr sebagai unsur dari cangkang foraminifera tersebut.Kata kunci: Kelimpahan foraminifera, karakteristik sedimen, korelasi Pearson, laut dalam, Selat SumbaData of foraminiferal abundance and deep sea core sediment characteristics are used as proxies to reconstruct climate, environment and oceanography in the past. A study was conducted on deep sea using a 173 cm length core sediment sample (ST-13) from the Sumba Strait, East Nusa Tenggara. This core was carried out from RV Baruna Jaya VIII during the Widya Nusantara (E-WIN) Expedition in 2016. The abundance of foraminifera, physical properties of sediment and chemical content were analyzed from 22 subsamples sediments at every eight cm intervals. The purpose of this study was to determine the relationship between biogenic elements (abundance of foraminifera) to organic elements (physical properties of sediment and chemical content) by Pearson’s correlation with XLSTAT software. The results showed that a strong correlation between foraminiferal abundance with mean, skewness, sand percentages, Ca, and Sr (-0.64, 0.72, 0.66, 0.71, and 0.75). Meanwhile, the weak correlation values occur between foraminiferal abundance and sorting, kurtosis, Fe, Ti, and K (-0.13, 0.43, -0.18, -0.43, and -0.42). It seems that foraminifera abundance affects the mean grain size, changes the distribution to more coarse, the percentage of sand, and also Ca and Sr as its from shell of the foraminifera.Keywords: Foraminifera abundance, sediment characteristics, Pearson’s correlation, deep sea sediment, Sumba Strait.
LAJU SEDIMENTASI DI PERAIRAN BREBES, JAWA TENGAH MENGGUNAKAN METODE ISOTOP 210Pb Wisnu Arya Gemilang; Gunardi Kusumah; Ulung Jantama Wisha; Ali Arman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1635.121 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.1.2017.328

Abstract

Beberapa upaya mitigasi terhadap bencana erosi yang terjadi di kecamatan Brebes telah dilakukan dengan penanaman mangrove, pemasangan hybrid engineering, alat pemecah ombak, namun dari keseluruhan upaya tersebut masih dianggap belum menjadi solusi terbaik mengurangi dampak bencana erosi pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat rata-rata kecepatan sedimentasi berdasarkan umur absolut sedimen dasar laut yang dianggap mewakili daerah penyelidikan. Penentuan umur absolut sedimen berdasarkan aktifitas kandungan isotop alam 210Pb pada sedimen. Hasil perhitungan laju sedimentasi tersebut dikorelasikan dengan data debit sungai dan kondisi hidro-oseanografi yang berperan dalam sistem sedimentasi. Berdasarkan profil unsupported 210Pb pada lokasi IST-01 (Muara Pemali) dan IST-02 (Muara Nipon) rata-rata laju sedimentasinya berturut-turut 0,224 cm/tahun dan 0,211 cm/tahun, debit Sungai Pemali sebesar 14,4-48,1 m3/s, kecepatan arus pada stasiun IST-01 berkisar antara 0,001-0,1 m/s dan kecepatan arus pada stasiun IST-02 berkisar antara 0,001-0,08 m/s. Kondisi hidro-oseanografi daerah penelitian yang fluktuatif memberikan pengaruh besar terhadap proses sedimentasi. Besarnya debit sungai memiliki korelasi terhadap peningkatan besarnya nilai laju sedimentasi di Muara Pemali dan Muara Nippon. Hasil penelitian tersebut dapat dijadikan bahan rekomendasi upaya mitigasi bencana erosi di kecamatan BrebesKata Kunci: Sedimentasi, Pesisir Brebes, Hidrodinamika arus, Isotop Unsupported 210Pb Several efforts to mitigate the erosion event which occurred in Brebes sub district have been done by mangrove cultivation, hybrid engineering, and breakwater as well. Nevertheless, all those efforts did not work right away to solve the erosion problem and deteriorate its impact. This study has aim to determine the absolute sediment dating, which represents the study area. We decided the absolute sediment dating based on natural isotop activity 210Pb contained on sediment. Sedimentation rate calculation result was correlated with the river discharge and hydro-oceanography conditions in the sediment area systems. Based on unsupported 210Pb profile, at the station IST-01 (Pemali estuary) and IST-2 (Nipon estuary), the averages of sedimentation rate are 0.22 cm/year and 0.211 cm/year respectively. The discharge of Pemali River has ranged 14.4-48.1 m3/s. The current speed at the point IST-01 has ranged 0.001-0.1 m/s and at the station IST-02 has ranged 0.001-0.08 m/s. The hydro-oceanography condition which is volatile has a big impact on the process of sedimentation. The enhancing of river discharge has a correlation with the sedimentation rate enhancement in Pemali and Nippon estuary. The result of this study could be a basis of erosion mitigation effort in Brebes sub district.Keywords: Sedimentation, Brebes, Hydrodunamics of surface current, Isotop Unsupported 210Pb
INTERPRETASI GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN ANALISIS DATA GAYABERAT MENGGUNAKAN FILTER OPTIMUM UPWARD CONTINUATION DAN PEMODELAN 3D INVERSI : (STUDI KASUS: CEKUNGAN AKIMEUGAH SELATAN, LAUT ARAFURA) Imam Setiadi; Catur Purwanto; Dida Kusnida; Yulinar Firdaus
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5585.434 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.1.2019.579

Abstract

Cekungan Akimeugah terletak pada paparan Laut Arafura yang merupakan bagian dari passive margin yang berasosiasi dengan cekungan di kontinen Australia yang sudah memproduksi hidrokarbon seperti cekungan Bonaparte, Carnavon dan cekungan Canning. Secara tektonik cekungan ini berkembang akibat pertemuan lempeng Australia dengan Pasifik sehingga menyebabkan munculnya struktur lipatan, tinggian, rendahan dan patahan. Salah satu metoda geofisika yang dapat digunakan untuk mengetahui struktur geologi bawah permukaan adalah metoda gayaberat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi struktur geologi bawah permukaan, mendelineasi sub-cekungan sedimen serta memperkirakan ketebalan sedimen di Cekungan Akimeugah bagian selatan. Analisis data yang digunakan yaitu analisis spektrum, filter optimum upward continuation serta pemodelan inversi 3D. Hasil analisis spektral menunjukkan bahwa tebal batuan sedimen rata rata di daerah penelitian adalah sekitar 3.6 Km. Ketinggian optimum yang digunakan pada filter optimum upward continuation yaitu pada ketinggian 6000 m dan menghasilkan anomali regional serta residual. Sub-cekungan yang didelineasi dari analisis data gayaberat adalah sebanyak 7 sub-cekungan sedimen, dimana pola struktur yang teridentifikasi yaitu berupa tinggian, graben dan patahan. Hasil pemodelan 3D menunjukkan bahwa batuan dasar cekungan berupa batuan metamorfik dengan nilai rapat massa 2.7 gr/cc. Kemudian secara berurutan dari bawah ke atas diendapkan batuan sedimen dari kelompok Aifam yang berumur Paleozoikum dengan nilai densitas 2.6 gr/cc, kemudian di atasnya lagi adalah batuan sedimen kelompok Kemblengan yang berumur Mesozoikum dengan nilai rapat massa 2.5 gr/cc, dan yang paling atas adalah batuan sedimen tersier kelompok batugamping Nugini dengan nilai rapat massa 2.4 gr/cc dan Formasi Buru dengan nilai rapat massa 2.2 gr/cc.. Hasil analisis model bawah permukaan menunjukkan bahwa berdasarkan pola graben dan tinggian, Cekungan Akimeugah bagian selatan cukup potensial untuk berkembangnya petroleum system seperti cekungan di Australia yang sudah berproduksi hidrokarbon.Kata Kunci : Gayaberat, spektral analisis, filter optimum upward continuation, pemodelan 3D inversi, Cekungan Akimeugah selatan, Papua.The Akimeugah Basin is located on the Arafura Shelf which is part of the passive margin associated with basins of Australian continent that have produced hydrocarbons such as the Bonaparte basin, Carnarvon and the Canning basins. Tectonically this basin develops due to the collision between the Australian and the Pacific plates, resulting folds, highs, lows and faults. One of the geophysical methods that can be used to determine the subsurface geological structure is the gravity method. The purposes of this study are to identify subsurface geological structures, delineating sediment sub-basin and to estimate sediment thickness in the southern Akimeugah basin. Data analysis used are spectrum analysis, optimum upward continuation filters and 3D inversion modeling.. The spectral analysis results show that the average thickness of the sedimentary rock in the study area is about 3.6 Km. Optimum height that used at the optimum upward contiuation filter was at an altitude 6000 m and resulting regional and residual anomaly. The delineated sub-basin obtained from gravity data analysis is as many as 7 sediment sub-basins, where the identified structural pattern is in the form of high, graben and fault. The 3D modeling results show that the basement of the basin is of a metamorphic rock with a mass density value of 2.7 gr/cc. Then sequentially from the lowest, sedimentary rocks from the Aifam group of Paleozoic were deposited with a density value of 2.6 gr/cc, hereafter is sediment group of Kemblengan of Mesozoic with mass density values of 2.5 gr/cc, and at the top is a Tertiary sedimentary rock, limestone Nugini group with a mass density value of 2.4 gr/cc and Buru Formation with density value 2.2 gr/cc. The results of the subsurface model analysis show that based on a graben and high pattern, the southern Akimeugah basin is potential for the development of petroleum systems such as the basins those already produce hydrocarbons in Australia.Keywords: gravity, spectral analysis, optimum upward continuation filter, modeling 3D inversion, southern Akimeugah Basin, Papua.
ATENUASI WATER-BOTTOM MULTIPLE DENGAN METODE TRANSFORMASI PARABOLIC RADON Subarsyah Subarsyah; Tumpal Benhard Nainggolan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1088.164 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.3.2014.254

Abstract

Interferensi water-bottom multipel terhadap reflektor primer menimbulkan efek bersifat destruktif yang menyebabkan penampang seismik menjadi tidak tepat akibat kehadiran reflektor semu. Teknik demultiple perlu diaplikasikan untuk mengatenuasi multipel. Transformasi parabolic radon merupakan teknik atenuasi multipel dengan metode pemisahan dalam domain radon. Multipel sering teridentifikasi pada penampang seismik. Untuk memperbaiki penampang seismik akan dilakukan dengan metode transformasi parabolic radon. Penerapan metode ini mengakibatkan reflektor multipel melemah dan tereduksi setelah dilakukan muting dalam domain radon terhadap zona multipel. Beberapa reflektor primer juga ikut melemah akibat pemisahan dalam domain radon yang kurang optimal, pemisahan akan optimal membutuhkan distribusi offset yang lebar. Kata kunci: Parabolic radon, multipel, atenuasi Water-bottom mutiple interference often destructively interfere with primary reflection that led to incorrect seismic section due to presence apparent reflector. Demultiple techniques need to be applied to attenuate the multiple. Parabolic Radon transform is demultiple attenuation technique that separate multiple and primary in radon domain. Water-bottom mutiple ussualy appear and easly identified on seismic data, parabolic radon transform applied to improve the seismic section. Application of this method to data showing multiple reflectors weakened and reduced after muting multiple zones in the radon domain. Some of the primary reflector also weakened due to bad separation in radon domain, optimal separation will require a wide distribution of offsets. Keywords: Parabolic radon, multiple, attenuation
MODEL PARSIAL HARI TENANG VARIASI MEDAN GEOMAGNET SEBAGAI FUNGSI HARI DALAM SETAHUN, USIA BULAN DAN WAKTU LOKAL DI STASION GEOMAGNET TONDANO John Maspupu; Setyanto C.D. Pranoto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.341 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.1.2014.245

Abstract

Penentuan suatu model parsial hari tenang variasi medan geomagnet di stasion geomagnet Tondano merupakan fungsi Date of Year (DOY), Lunar Age (LA), dan Local Time (LT). Diperoleh tiga model parsial hari tenang variasi medan geomagnet yaitu = g(DOY), = h(LA), dan = m(LT). Kontribusi dari DOY terhadap hari tenang variasi medan geomagnet sangatlah kecil (sebesar 0,784.10-3 %). Kontribusi faktor fisis lainnya diduga berperan terhadap hari tenang variasi medan geomagnet . Informasi hasil analisis model parsial variasi hari tenang terhadap usia bulan menunjukkan adanya anomali di sekitar lokasi pengamatan. Model parsial hari tenang variasi medan geomagnet yang diperoleh akan membentuk model empiris dari hari tenang. Model empiris akan memberikan informasi gangguan geomagnet untuk kegiatan survei geofisika di perairan Sulawesi Utara. Kata kunci : Model parsial, hari tenang, variasi medan geomagnet, DOY, LA, LT, Tondano. Determination of partial model from quiet daily geomagnetic field variation ( ) at geomagnetic station in Tondano is a function of Day of Year (DOY), Lunar Age (LA) and Local Time (LT). It obtains three partial models of quiet daily geomagnetic field variation, those are = g(DOY), = h(LA), dan = m(LT). Contribution from DOY to the quiet daily geomagnetic field variation ( ) is very small (around 0,784.10-3 %). Another contribution of physical factor presumes to play role to quiet daily geomagnetic field ( ). Information of analysis result of quiet daily partial model to lunar age indicates anomaly occurrence around the observation location. Partial model of the obtained quite daily geomagnetic will form empirical model of quite day. This empirical model will provide any information about geomagnetic disturbance for geophysical survey in North Sulawesi Waters. Keywords: Partial model, the quiet daily variation, geomagnetic field variation, DOY, LA, LT, Tondano.
ESTIMASI TRANSPOR SEDIMEN DI PERAIRAN KECAMATAN BREBES, JAWA TENGAH BERDASARKAN LAJU SEDIMENTASI DAN PENDEKATAN MODEL NUMERIK WISNU ARYA GEMILANG; ULUNG JANTAMA WISHA
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4383.065 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.1.2019.552

Abstract

Erosi dan akresi telah menjadi masalah utama di perairan Kecamatan Brebes. Perubahan pesisir yang sangat dinamis dipicu oleh faktor hidro-oseanografi yang mengendalikan mekanisme transpor sedimen yang terjadi baik di muara maupun diwilayah pantai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat rata-rata laju sedimentasi dan transpor sedimen yang terjadi di kawasan pantai Kecamatan Brebes. Pengambilan data laju sedimentasi menggunakan sediment trap yang kemudian dianalisis secara statistik. Perhitungan total transportasi sedimen dan distribusi vertikal suspensi sedimen dilakukan dengan pendekatan model numerik. Nilai laju sedimentasi berkisar antara 0,243 – 22,724 g.m-2.hari-1 dimana laju tertinggi berada di hulu sungai Pemali, Sungai Pemuda dan hilir sungai Pemali. Nilai sortasi sedimen menunjukkan nilai 1,1 – 1,59 (pemilahan buruk). Nilai skewness (Ski) berkisar antara 0,21 – 0,46 (dominan menceng sangat halus). Nilai kurtosis berkisar antara 1,79 – 4,45 (sangat runcing). Total transportasi sedimen sebesar 43,88 x 10-5 m3/s dan distribusi vertikal konsentrasi sedimen tersuspensi berkisar antara 1-176 mg/L (pasang) dan 3-198 mg/L (surut) dimana transpor sedimen sangat dipengaruhi oleh kondisi oseanografi (gelombang, pasang surut, dan arus sepanjang pantai). Pada saat tinggi gelombang pecah meningkat maka transpor sedimen yang terjadi juga semakin intens termasuk mekanisme erosi dan sedimentasi yang terjadi di dasar perairan.Kata kunci: Laju sedimentasi, model numerik, transpor sedimen, perairan BrebesErosion and accretion has become the main issues in Brebes Sub-District waters. Coastal changes which are very dynamic are triggered by hydro-oceanography factors controlling sediment transport mechanism occurred both in the estuary and coastal area. This study aims to determine the average of sedimentation rate and the sediment transport depiction in Brebes Sub-District coast. Sedimentation rate data collection was done using cylinder sediment trap which was then analyzed statistically. Total transport sediment and suspended sediment vertical distribution were calculated employing numerical model approach. The value of sedimentation rate ranged from 0.243 – 22.724 g.m-2.day-1 in which the highest value was observed upstream Pemali River, Pemuda River, and downstream Pemali River. Sediment sortation ranged from 1.1 – 1.59 (poorly sorted). Skewness (Ski) value ranged from 0.21 – 0.46 (very fine skewed). Kurtosis value ranged from 1.79 – 4.45 (very leptokurtic). Total sediment transport reached 43.88 x 10-5 m3/s and vertical distribution of suspended sediment ranged from 1-176 mg/L (flood) and 3-198 mg/L (ebb) respectively wherein the sediment transport is strongly controlled by the oceanography conditions (waves, tidal, and longshore current). When the breaking wave crest enhanced, the sediment transport occurs intensely including erosion and sedimentation in the bottom of water. Keywords: Sedimentation rate, numerical model, sediment transport, Brebes waters
DIVERSITAS DAN DISTRIBUSI FORAMINIFERA DI SELAT BENGGALA DAN SEKITARNYA, ACEH Suhartati M. Natsir; Singgih P.A. Wibowo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.563 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.1.2019.560

Abstract

Penelitian foraminifera di sekitar Selat Benggala belum diketahui namun telah ada penelitian dari sekitar pulau-pulau kecil di laut lepas Aceh. Penelitian mengenai keragaman dan sebaran foraminifera di perairan tersebut penting dilakukan sebagai data awal untuk interpretasi lingkungan pengendapan terkait batimetri, oseanografi, ekologi, klimatologi purba dan lain-lain. Hasil identifikasi foraminifera di sekitar Selat Benggala diperoleh 19 spesies foraminifera plangtonik dan 43 spesies foraminifera bentik. Nilai rasio foraminifera plangtonik dan foraminifera bentik (rasio P/B) relatif bervariasi berkisar antara 0 dan 81,84%. Nilai nol dijumpai di tiga stasiun yang didominasi oleh Amphistegina, Calcarina dan Heterostegina penciri lingkungan terumbu karang. Nilai rasio PB tertinggi tidak dijumpai pada stasiun dengan kedalaman tertinggi (1485 m) namun di stasiun yang berdekatan dengan pantai barat Pulau Weh pada kedalaman 101 m. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan pola arus setempat dan morfologi dasar laut (kemiringan lereng) sehingga terjadi akumulasi spesimen foraminifera plangtonik.Kata kunci: foraminifera, rasio P/B, kedalaman, Selat Benggala, Aceh.Foraminiferal study from Benggala Strait is unknown but it has been studied from surrounding small islands off Aceh. The study of diversity and distribution of foraminifera from the present study area is important as the initial data for the interpretation of the environmental deposition, paleo-bathymetry, paleo-oceanography, ecology, climatology and others. This study has identified 19 planktonic foraminifera and 43 species of benthic from Benggala Strait. The ratio of benthic and planktonic foraminifera (PB ratio) are varied between 0 and 81.84%. The zero value is found in three stations that dominated by Amphistegina, Calcarina, and Heterostegina associated with coral environment. The highest value of PB ratio is not found in the deepest depth (1485 m) but in a station that is close to western coast of Weh island with 101 m water depth. It may related to local current system and seafloor morphology (slope gradient) that accumulated specimens of planktonic foraminifera. Keywords: foraminifera, P/B ratio, water depth, Benggala Strait, Aceh.
STRUKTUR GEOLOGI LAUT FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR Riza Rahardiawan; Catur Purwanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1856.015 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.3.2014.256

Abstract

Tujuan penelitian seismik saluran banyak di Laut Flores, Nusa Tenggara Timur adalah untuk mengetahui kondisi geologi bawah permukaan dasar laut. Daerah penelitian merupakan daerah yang aktif secara tektonik dan diekspresikan dalam bentuk prisma akresi, vulkanik tidak aktif dan sesar-sesar aktif yang membentuk morfologi dasar laut. Berdasarkan penafsiran stratigrafi seismik lapisan bawah permukaan dasar laut terdiri dari empat satuan batuan: Batuan Dasar, Prisma Akresi, Gunungapi Bawah Laut, dan Sedimen Klastika. Sedimen Klastika ini dibagi menjadi lima unit. Kata kunci: seismik, morfologi dasar laut, sesar aktif, Laut Flores The purpose of the study of seismic multi channel in Flores Sea, East Nusa Tenggara is to recognize subsurface geology condition. The study area is an active tectonic that expressed by accretion prisms, inactive vulcanic and active faults form seabed morphology. Based on seismic stratigraphy interpretation, the study area is composed of four rocks units: Basement rocks, Accretionary Wedge, Seamount, and Clastic Sediments. This clactic sediment is divided into five units. Keywords: seismic, seabed morphology, active fault, Flores Sea
KARAKTER MASA AIR DI LAUT SULAWESI BERDASARKAN ANALISIS FORAMINIFERA KUANTITATIF Marfasran Hendrizan; Widiyanti C. A.; R. E. Prabowo; Munasri Munasri; Nazar Nurdin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1359.127 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.1.2019.562

Abstract

Kumpulan foraminifera dari sedimen Sumur STA 3 (0.8897°N, 119.0865°E, kedalaman laut 1294 m) di Laut Sulawesi diteliti untuk memahami ciri lingkungan purba pada lokasi sumur. Situasi modern menunjukkan Laut Sulawesi menjadi jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang mentransport masa air dari Samudra Pasifik hingga Samudra Hindia. Studi ini difokuskan pada indeks ekologi untuk membuat struktur komunitas foraminifera dan mengeavaluasi dinamika komunitas foraminifera yang terekam di inti Sumur STA 3. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah observasi naturalistik meliputi preparasi sampel, kumpulan foraminifera (penjentikan dan identifikasi), dan analisis data. Analisis data kumpulan foraminifera menggunakan Paleontological Statistics (PAST) dari kelimpahan, keanekaragaman spesies Shannon-Winner (H’), indeks dominan (D), dan indeks kemerataan Pileou (J’). Analisis kluster dilakukan untuk menentukan kelompok sampel dikelompokkan berdasarkan kesamaan kumpulan foraminifera. Identifikasi foraminifera pada inti sedimen STA 3 terdiri dari 44 spesies foraminifera plankton dan 100 spesies foraminifera bentik. Indeks ekologi dari kumpulan foraminifera memperlihatkan keanekaragaman spesies berkisar antara 2.57 hingga 3.07, kisaran nilai dominan antara 0.07 hingga 0.13, dan indeks kemerataan berkisar antara 0.72 hingga 0.8. Analisis kluster memperoleh 3 kelompok lingkungan berdasarkan komposisi spesies mengindikasikan perubahan lingkungan yang tidak signifikan di sepanjang inti sedimen. Kumpulan foraminifera pada inti sedimen STA 3 mencerminkan karakteristik masa air hangat, kondisi oksigen rendah, dan asupan organik tinggi.Kata Kunci: Foraminifera, Struktur komunitas, analisis statistik, massa air, Laut Sulawesi. Foraminifera assemblages of marine sediment core STA 3 (0.8897°N, 119.0865°E, depth of 294 m) in Sulawesi Sea was investigated to understand paleoenvironment feature in this core site. Modern situation shows that Sulawesi Sea provides a pathway for Indonesian Throughflow (ITF) which transports watermasses from Pacific to Indian Ocean. This study focused on the ecological indices to establish community structure of foraminifera and to evaluate community dynamic as recorded in core STA 3. Method used in this study was naturalistic observation consisting of sample preparation, foraminiferal assemblage (picking and identification), and data analysis. Data analysis of foraminifera assemblages was applied using Paleontological Statistics (PAST) of relative abundance, species diversity of Shannon-Wiener (H’), dominance indices (D), and Pileou evennes indices (J’). Cluster analysis was performed to determine how samples group based on the similarity of foraminiferal assemblages. Foraminifera identification in core STA 3 contains 44 species of planktonic foraminifera and 100 species of benthic foraminifera. Ecological indices of foraminiferal assemblages show species diversity of foraminiferal assemblages with a range value between 2.57 and 3.07, range of dominance values from 0.07 to 0.13, and evennes values fluctuate from 0.72 to 0.8. Cluster analysis reveals 3 clusters environment based on species composition which indicate no significant environmental changes in the entire core record. Foraminiferal asemblages in core STA 3 reflect watermass characteristics with warm water column, low bottom-water oxygenation, and high organic influx conditions. Keywords: Foraminifera, community structure, statistical analysis, watermass, Sulawesi Sea.
KANDUNGAN EMAS LEBIH TINGGI DALAM SEDIMEN FRAKSI KASAR DARIPADA FRAKSI HALUS DI PERAIRAN BAYAH - PROPINSI BANTEN AKIBAT KONDISI PENGENDAPAN TERBUKA SAMUDERA HINDIA Hananto Kurnio; Catur Purwanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 3 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.776 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.3.2008.161

Abstract

Emas letakan dasar laut maupun pantai Perairan Bayah terdapat dalam pasir, pasir sedikit kerikilan, pasir kerikilan, pasir lumpuran, lumpur pasiran, pasir lumpuran sedikit kerikilan dan lumpur pasiran sedikit kerikilan. Akibat lingkungan pengendapan terbuka Samudera Hindia; sedimen fraksi kasar pasir, pasir sedikit kerikilan dan pasir kerikilan cenderung berkadar Au lebih tinggi daripada sedimen fraksi halus di daerah ini. Berdasarkan pendekatan diagram Total Alkali Silika, batuan beku asal emas sekunder adalah dasit bagian dari Granodiorit Cihara sekitar 10 kilometer sebelah barat Bayah. Kemudian karena densitas emas yang besar (19,3), logam mulia ini cenderung terakumulasi di sedimen bawah permukaan daripada permukaan terutama di daerah pantai. Arus sejajar pantai dari barat yang melalui kompleks batuan beku Granodiorit Cihara kemungkinan membawa emas ke timur serta terjebak oleh morfologi teluk yang dibatasi tanjung Ujung Karangtaraje di sekitar muara Sungai Madur. Emas kadar tinggi banyak terdapat disini. Kata kunci : emas letakan, karakteristik sedimen, dasar laut, pantai Bayah Gold placer of seabottom and coastal zone of Bayah Waters occurred in sand, slightly gravelly sand, gravelly sand, muddy sand, sandy mud, slightly gravelly muddy sand and slightly gravelly sandy mud. Due to open Indian Ocean deposition environment; coarse sediments of sand, slightly gravelly sand and gravelly sand tend to have higher Au contents than fine sediments. Based on Total Alkali Silica diagram, igneous rock as the source of secondary gold is dacite which belongs to Granodiorite Cihara approximately 10 kilometers west of Bayah. Furthermore, due to its high density (19,3) gold tends to accumulate in subsurface sediments than surficial deposits especially in the coastal area. Longshore current from the west passing through igneous rock complex Granodiorite Cihara possibly brought along gold to the east which is trapped by bay morphology formed by Ujung Karangtaraje headland located surround Madur River mouth. High content gold was much accumulated in this area. Key words : gold placer, sediment characteristics, seabottom, Bayah coast