cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
KANDUNGAN MINERAL DI PERAIRAN BINUANGEUN, LEBAK-BANTEN Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1352.775 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.2.2014.248

Abstract

Data dan informasi sumberdaya mineral terkait dengan batuan penyusunnya di daerah pantai dan lepas pantai masih terbatas. Untuk keberadaan sumberdaya mineral ini maka dilakukan identifikasi kandungan mineral dalam sedimen sebagai objek penelitian guna mengetahui jenis, persentase, distribusi dan perkiraan sumber batuannya. Metode penelitan meliputi pengambilan sampel sedimen, pemisahan konsentrat dulang, analisis mineragrafi butir, dan petrografi batuan. Ragam mineral di dalam endapan sedimennya terdiri dari kuarsa, magnetit, amfibol, ilmenit, felspar, glaukonit, apatit, piroksen, limonit, zirkon, fragmen batuan dan pecahan cangkang. Fraksi mineral yang dominan adalah fraksi pasir sangat halus dan lanau kasar. Secara lateral distribusi kuarsa, felspar dan piroksen relatif membesar ke arah endapan sedimen gisik pasir, tanggul gisik dan sedimen sungai dengan persentase tertinggi, masing-masing mencapai 49 %, 21 % dan 13 %. Sedangkan distribusi limonit dan zirkon membesar ke arah endapan sedimen gisik pasir dengan persentase tertinggi, masing-masing mencapai 5 % dan 2 %. Persentase tertinggi magnetit 17 %, ilmenit 23 %, apatit 3 %, fragmen batuan 51% dan pecahan cangkang 90 % umumnya terdapat dalam endapan sedimen permukaan dasar laut. Keterdapatan mineral utama dan tambahan ini diduga bersumber dari Batuan Gunungapi andesiti-basaltik, dan Formasi Batuan Sedimen berbahan volkanik. Sedangkan klastika biogeniknya bersumber dari batugamping terumbu. Hasil analisis petrogafi menunjukan bahwa fragmen batuannya memiliki kesesuaian dengan penyusun litologinya. Kata Kunci : Kandungan mineral, distribusi mineral, sumber batuan, Perairan Binuangeun. Data and information mineral resources related to rock forming mineral on shore and offshore area is still limited. For the existence of mineral resources is then to identify the content of the sediment as the object study in order to determine the type, percentage, distribution and estimation of rocks origin. The method includes sedimentary sampler, pan concentrates separation, grain mineragraphy analysis, and petrography rock. The mineral in the sediment consist of quartz, magnetite, amphibole, ilmenite, feldspar, glauconite, apatite, pyroxene, limonite, zircon, rock fragments and shell fragments. The minerals fractions are dominant in very fine sand and coarse silt. Laterally, the distribution of quartz, feldspar and pyroxene relatively increasing towards sand beach, berm and river sediments with the highest percentage, respectively reach 49 %, 21 % and 13 %. While, distribution of limonite and zircon are increasing toward sand beach with the highest percentage, respectively 5 % and 2 %. The highest percentage of magnetite (17 %), ilmenite (23 %), apatite (3 %), and rock fragments (51 %) and shell fragments of surfacially sediments (90 %). The occurrence of these main and accessory minerals is thought to be originated from andesitic-basaltic volcanic rocks and from volcanoclastic sediments whereas bioclastic sediments are from reefs limestone. The petrography analysis shows that their rock fragments are compatible with their rocks forming minerals. Keywords: The minerals content, mineral distribution, source rocks, and Binuangeun Waters.
KEBERADAAN FOSIL PENUNJUK FORAMINIFERA PLANKTON KUARTER DI PERAIRAN BENGKULU, PANTAI BARAT SUMATERA Imelda Rosalina Silalahi; Mimin Karmini Adisaputra; Eko Saputro; Arif Ali
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1212.069 KB) | DOI: 10.32693/jgk.16.1.2018.544

Abstract

Penelitian ini menggunakan tiga sampel sedimen bor inti dari di sekitar Pulau Siberut, Kepulauan Pagai Selatan dan Pulau Enggano, Perairan Bengkulu, pantai barat Sumatera. Sampel tersebut digunakan untuk mengetahui zonasi biostratigrafi berdasarkan foraminifera plankton. Sebanyak 23 subsampel sedimen diambil dari tiga bor inti dengan interval 1,5 m dan pada lapisan yang memperlihatkan perubahan jenis dan warna sedimen. Analisa foraminifera dilakukan secara kualitatif dan berdasarkan datum pemunculan awal spesies penunjuk untuk menentukan zonasi biostratigrafi. Hasil identifikasi diperoleh 46 spesies foraminifera plankton dalam jumlah sangat melimpah. Ditemukan Bolliella adamsi yang dikenal sebagai spesies penunjuk untuk batas antara kala Plistosen Akhir dan Holosen. Batas ini dijumpai pada kedalaman yang berbeda antara 700 – 950 cm bawah dasar laut (bdl). Berdasarkan penemuan spesies penunjuk tersebut akhirnya ada dua subzona foraminifera plankton, yakni subzona Globigerinella calida dan subzona Bolliella adamsi.Kata kunci: foraminifera plankton, spesies penunjuk, umur, subzona Globigerinella calida dan subzona Bolliella adamsi, pantai Barat Sumatera.This study used three core sediment samples from off Siberut, South Pagai and Enggano islands, Bengkulu waters, Westcoast of Sumatera. The samples were then used to determine biostratigraphic zonation based on planktonic foraminifera. A total of 23 subsample sediments from these three sites within 1.5 m intervals and at layers that showing colour and sediment type changes. Foraminiferal analysis has been carried out qualitatively and based on the initial appearance of the index species in order to determine biostratigraphic zonation. There are 46 identified species of planktonic foraminifera that were found very abundantly. It was also appeared Bolliella adamsi, as an index species for the boundary between Late Pleistocene and Holocene. This boundary was found at different depths between 700 and 950 cm below sea level. Based on the discovery of the index species, finally there are two subzonations of planktonic foraminifera; Globigerinella calida and Bolliella adamsi subzonations.Keywords: planktonic foraminifera, index species, age, Globigerinella calida and Bolliella adamsi subzonations, westcoast Sumatera
KAITAN TIPOLOGI PANTAI DENGAN KEBERADAAN PASIR BESI DI PANTAI MUKOMUKO, BENGKULU Udaya Kamiludin; Yudi Darlan; Deny Setiady
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 10, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1503.884 KB) | DOI: 10.32693/jgk.10.2.2012.216

Abstract

Pasir besi merupakan salah satu potensi di sebagian kawasan pantai Indonesia yang erat kaitannya dengan keberadaan kondisi geologi batuan bersusunan andesitik-basaltik, oleh sebab itu salah satunya dipilih pantai Mukomuko sebagai objek penyelidikan. Pasir besi ini terakumulasi sebagai endapan alokhton dari hasil pelapukan dan erosi tanah yang diangkut oleh sungai dan diendapkan di pantai. Proses marin berupa abrasi dan akrasi terbentuk di sepanjang garis pantai oleh pemusatan gelombang dan arus sejajar pantai. Metode penyelidikan meliputi deskripsi kualitatif karakteristik pantai, penentuan posisi, pemercontohan sedimen, analisis megaskopis, dan pemisahan mineral bersifat magnetik dengan menggunakan magnet tangan disertai foto mikrograf. Tipologi pantai Mukomuko terdiri dari gisik berpasir (Sand beach) yang sebagian di atasnya ada bangunan dinding laut, dan gisik berkerikil (Gravel beach). Endapan pasir besi umumnya menempati gisik berpasir, baik pada muka pantai maupun pada tanggul gisiknya yang sebagian membentuk pematang pantai. Distribusi persentase magnetit (% Fe) sejajar pantai memiliki pola besaran relatif sama dengan kadar frekuensi yang berkisar antara 0 % - 10 %, anomali dijumpai secara setempat pada tanggul gisik dengan kisaran antara 30,07 % - 45,73 %. Berdasarkan klasifikasi cebakan plaser, genesa pasir besi terkonsentrasi oleh media cair yang bergerak sebagai jenis plaser pantai yang dipengaruhi oleh fluviatil. Keterdapatan pasir besi diduga berasal dari Formasi Hulusimpang yang dikorelasikan sebagai Andesit Tua, Batuan Gunungapi Kuarter dan lapisan konglomerat aneka bahan Formasi Bintunan yang bersusunan andesitik-basaltik. Kata Kunci : Karakteristik pantai, magnetit, plaser pantai, sumber batuan, pantai Mukomuko Bengkulu. Iron sand is one of the mineral potential in some coastal areas of Indonesia, which is related to the presence of andesitic-basaltic rocks, therefore Mukomuko coast is then selected as the object of investigation. The iron sand is accumulated as the alochton deposit as the product of the weathering and soil erosion transported by the river and it is accumulated on the beach. The abrasion and accretion processes are formed along the shoreline by waves and currents parallel to the coast. The methods of investigation include coastal characteristics mapping, positioning, sediment sampling, megascopic analysis, and magnetic separation of minerals by using a hand magnet with micrograph photo. The coastal characteristics of Mukomuko consist of gravel beach, and sand beach that some sea walls built on. Iron sand deposits generally occupy a sand beach, either on the beach face or on the berm which partially form the beach ridge. The distribution of magnetite parallel to the coast has the same relative magnitude patterns with the frequency content ranging from 0 % - 10 %, anomaly is found locally on the berm with the frequency content ranging between 30.07 % - 45, 73 %. Based on the classification of placer deposits, iron sand is concentrated in the formation of moving liquid media as placer beach types affected fluvial. The presence of iron sand supposed to be derived from the Hulusimpang Formation is correlated as Old Andesite, Quaternary Volcanic Rocks and conglomerate layers of different materials of andesitic-basaltic composition from Bintunan Formation. Keywords: Coastal Characteristics, magnetite, beach placer, source rocks; shore of Mukomuko, Bengkulu.
VERIFIKASI LITOLOGI TERHADAP NILAI KERENTANAN MAGNETIK DI PERAIRAN BANGKA BELITUNG Tommy Naibaho; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.803 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.1.2010.184

Abstract

Peta anomali magnetik menunjukkan bahwa perairan Bangka Belitung dicirikan oleh pasangan tinggian dan rendahan panjang gelombang anomali dengan amplitudo -200 nT—500nT. Sedangkan dari peta distribusi kerentanan magnetik, tinggian magnetik Belitung dibatasi oleh nilai kerentanan magnetik antara 0,001 cgs unit dan 0,003 cgs unit. Anomali positip rendah dicirikan oleh nilai kerentanan magnetik batuan antara 0,001-0,003 cgs unit merupakan benda intrusif bawah laut yang diduga berupa pluton granitik jenis granit-biotit yang berasosiasi dengan mineral kasiterit. Pluton granitik tersebut sama seperti granit yang berafiliasi dengan endapan timah di daratan Pulau Belitung. Misalnya singkapan granit yang terdapat di sekitar pantai Gembira yang menunjukkan tipe granit biotit porfiritik dengan fenokris ortoklas. Kata Kunci: anomali magnetik, kerentanan magnetik, granit, Bangka Belitung Magnetic anomaly map shows that the Bangka Belitung waters are characterized by a pair of hight and low long-wave amplitude anomalies values of -200 nT—500 nT. While the distribution map of magnetic susceptibility magnetic high of Belitung is limited magnetic susceptibility values of 0.001 cgs units and 0.003 cgs units. Positive anomaly of low magnetic is characterized susceptibility values between 0.001 to 0.003 cgs units suggested as a body of submerged intrusive rock body granitic plutons of granite biotite type associated with casiterite mineral. Granitic plutons are the same as granite affiliated with tin deposits in the mainland island of Belitung. For example there are granite outcrops around the Gembira coast that shows the type of porphyritic biotite granite with phenocrysts ortoclas. Keywords: Magnetic anomaly, magnetic susceptibility, granite, Bangka Belitung
FORAMINIFERA BENTIK TERKAIT DENGAN KONDISI LINGKUNGAN PERAIRAN SEKITAR PULAU DAMAR, KEPULAUAN SERIBU Suhartini M. Natsir; Kresna Tri Dewi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.886 KB) | DOI: 10.32693/jgk.13.3.2015.271

Abstract

Secara umum, kondisi lingkungan perairan di bagian Selatan Kepulauan Seribu cenderung lebih rendah dibandingkan dengan bagian Utara karena pengaruh polusi dari daratan. Salah satu pulau yang terletak di bagian selatan tersebut adalah Pulau Damar Besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran foraminifera bentik di perairan Pulau Damar Besar, Kepulauan Seribu terkait dengan kondisi lingkungan setempat. Dari 12 stasiun pengambilan sampel, teridentifikasi 64 spesies dari 10968 individu foraminifera bentik. Beberapa spesies foraminifera yang dijumpai hidup bersimbiosis dengan terumbu karang, seperti Amphistegina lessonii, Amphistegina radiata, Sorites marginalis, Heterostegina sp., dan Calcarina calcar. Berdasarkan indeks keragaman, keseragaman dan dominansi, struktur komunitas di foraminifera bentik di Pulau Damar Besar cenderung seragam. Namun berdasarkan hierarchical cluster analysis diperoleh empat kelompok sebaran dengan penciri masing-masing yang berbeda. Nilai indeks diversitas sekitar 3,48-3,84 yang menunjukkan lingkungan perairan di sekitar pulau ini dalam kondisi bagus. Kata kunci sebaran, Foraminifera bentik, Pulau Damar Besar dan Kepulauan Seribu In general, the marine environment in the southern part of the Seribu Islands is less good condition than the northern part due to the influence of pollution from the mainland. One of the islands in this southern part is Damar Besar Island. The purpose of this study is to recognize foraminiferal distribution from this island related to its environmental condition. From 12 sampling stations, it can be identified 64 species from 10968 individuals of benthic foraminifera. Several species are associated with coral reef such as Amphistegina lessonii, Amphistegina radiata, Sorites marginalis, Heterostegina sp., dan Calcarina calcar. Based on the diversity, evenness and dominance indexes, it seems that the community structure of benthic foraminifera in the study area tends to be equal. However, based on hierarchical cluster analysis, it is resulted four groups of distribution that characterized by their own shallow waters species. The diversity index is 3,48-3,84 that shows good environmental condition in the study area. Keywords: distribution, benthic foraminifera, Damar Besar Island and Seribu Islands.
KANDUNGAN GAS BIOGENIK DAN TERMOGENIK GAS SEDIMEN DASAR LAUT DI PERAIRAN SELAT MADURA. (PENGARUHNYA TERHADAP SIFAT FISIK DAN KETEKNIKAN) Faturachman Faturachman; Riza Rahardiawan; Andy Hermanto Sianipar
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1161.364 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.111

Abstract

Sedimen dasar laut di daerah perairan Madura dan sekitarnya umumnya mengandung kandungan gas yang dampaknya terhadap sifat fisik sedimen dasar laut sangatlah signifikan. Hal ini kaitannya dengan rencana peletakan pondasi bangunan infrastruktur di Perairan Selat Madura dan sekitarnya. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pemboran dimulai dari kedalaman 1 hingga 20 m dibawah permukaan dasar laut mengandung gas biogenik.. dengan kandungan metana berkisar 50 hingga 60 ppm sedangkan kandungan propana dan isobutana kurang dari 0,2 ppm. Kedalaman lebih dari 20 m dibawah permukaan dasar laut hingga 60 m adalah gas termogenik. Konsentrasi maksimum gas termogenik berupa propana, isobutana dan etana pada kedalaman 52.85 m berkisar dari 0,1 hingga 8,453 ppm. Dari kedua tipe gas ini tahap pembentukan diagenesanya berbeda akibat pengaruh temperatur yang berbeda, sehingga mempengaruhi stabilitas sifat fisik dan keteknikan sedimennyapun berbeda pula. Untuk itu dalam perencanaan pembangunan infrastruktur kelak perlu diantisipasi dengan keberadaan gas tersebut. Sea bottom sediment in Madura waters and surrounding area in generally contains gas which the impacts to physical and engineering properties of sea bottom sediments are very significant. It is connecting with the place of infrastructure building in Strait Madura waters and surrounding area. Based on core drilling the biogenic gas is already contented starting from surface 1 to 20 m depth. It contents methane around 50-60 ppm, propane and isobutene less than 0,2 ppm. The second is thermogenic gas which place more than 20 m depth until 60 m, the maximum concentrates of thermogenic gas (propane, isobutene and ethane) in 52,85 depth are around 0,1 - 8,453 ppm. From both types, the formation method in diagnoses phase is different, because of different of temperaturet so in influence the stability of physical and engineering properties sediment will be different. For that the plan of infrastructure development should be anticipated by existence of the gas.
RONA LINGKUNGAN GEOLOGI KELAUTAN DI PERAIRAN P. ROTE NUSA TENGGARA TIMUR Yudi Darlan; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 3 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1833.864 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.3.2013.239

Abstract

Sejalan dengan perubahan Pulau Rote dari Pemerintahan Kecamatan menjadi Kabupaten, pembangunan infrastruktur pesisir dan sektor lainnya di pulau ini meningkat. Pembangunan tersebut dari tahun ke tahun dapat menimbulkan perubahan kondisi lingkungan pesisir dan perairan Pulau Rote. Perubahan kondisi lingkungan dapat diidentifikasi melalui analisis data rona lingkungan. Data seismik memperlihatkan morfologi teras-teras pantai, dan intrusi diapir serpih di perairan Pulau Rote yang mengiindikasikan pulau ini mengalami proses pengangkatan sejak ribuan tahun yang lalu hingga sekarang. Sedimen permukaan dasar laut Pulau Rote terdiri atas pasir dan pasir lanauan mengandung mineral kuarsa, piroksen, mineral karbonatan dan cangkang moluska menunjukkan kondisi lingkungan sedimentasi rendah. Baku Mutu air dan sedimen permukaan dasar laut di perairan Pulau Rote dalam kondisi baik. Jenis pantainya berupa pantai berenergi tinggi, pantai erosi, pantai teluk, dan pantai kantong pasir masih dalam kondisi baik dan cukup bagus bagi wisata pantai dan laut. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagain besar kondisi lingkungan perairan Pulau Rote masih dalam kondisi baik. Sebagian kecil ada perubahan sebagai dampak aktivitas manusia. Kata kunci: rona lingkungan, geologi kelautan, intrusi, diapir serpih, Nusa Tenggara Timur, Pulau Rote Since the Rote Island government changed from the Kecamatan to Kabupaten Government, the development of coastal infrastructures and other sectors in the island increased. The development from time to time can lead to changes in coastal and marine environmental of the Rote Island. The environmental conditions can be identified through analysis environmental base data. The seismic data shows the morphology of coastal terraces, and intrusion of shale diapir in the Rote Island waters which indicate that this island has uplifted since thousands years ago until now. Surficial sediment of the Rote Island waters consists of sand and silty sand containing quartz and pyroxene minerals, and shells of mollusks which indicate low sedimentation environment. The standard quality of surface water and surficial sediment of the Rote Island is still in good condition. Coastal characteristics of this island consist of high-energy beaches, sand pocket beaches, bays, and erosion coasts which are still in good condition and suitable for tourism. This study shows that in general the environment of the Rote Island waters environment is normal conditions. A few of environmental changes is as an impact of human activities. Keywords: environment features, intrusion, shale diapir, Nusa Tenggara Timur, Rote island.
PENGARUH AKTIFITAS ANTROPOGENIK TERHADAP SEBARAN DAN JUMLAH JENIS POLISIKLIK AROMATIK HIDROKARBON (PAH) DALAM AIR LAUT DAN SEDIMEN DI PERAIRAN TELUK JAKARTA Khozanah Munawir; Deny Yogaswara
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.419 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.2.2017.372

Abstract

Teluk Jakarta adalah perairan yang terletak di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Jawa Barat serta persisnya di pantai utara Propinsi Banten. Di perairan ini bermuara tiga belas sungai yang membawa berbagai macam limbah yang berasal dari daratan menuju ke perairan Teluk Jakarta. Berbagai aktivitas terdapat di perairan ini, antara lain sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan, pariwisata, dan pelayaran. Selain itu, di perairan ini juga terdapat pelabuhan laut internasioal Tanjung Priok. Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) adalah salah satu parameter kualitas lingkungan perairan. Penentuan kadar PAH dalam air dan sedimen di perairan Teluk Jakarta telah dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2015. Ada tiga titik kawasan, yaitu kawasan barat, tengah dan timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran kadar dan jumlah jenis PAH di perairan Teluk Jakarta dan menambah data base inventarisasi PAH Perairan Indonesia. Kadar PAH diukur dengan Gas Chroromatografi – Flame Ionisasi Detector (GC-FID) yang dilengkapi dengan kolom kapiler HP1. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sebaran kadar PAH total dalam air laut di kawasan barat berkisar antara 0,007-0,056 ppb, dengan rerata sebesar 0,019 ppb, di kawasan tengah berkisar antara 0,009-0,081 ppb dengan rerata sebesar 0,033 ppb, di kawasan timur berkisar antara tidak terdeteksi (ttd)-0,03 ppb dengan rerata sebesar 0,011 ppb. Kadar total PAH dalam sedimen di kawasan barat berkisar antara 1,1983-7,9750 ppm, dengan rerata sebesar 2,9127 ppm, dikawasan tengah berkisar antara 1,6229-8,2591 ppm, dengan rerata sebesar 4,7049 ppm, dan dikawasan timur berkisar antara 1,597-2,9661 ppm dengan rerata sebesar 2,1224 ppm. Berdasarkan hasil penelitian ini, kadar PAH dalam perairan Teluk Jakarta (kawasan barat, tengah dan timur) belum melebihi Baku Mutu Kualitas Perairan yang dikeluarkan oleh Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup 2004. Demikian juga untuk kadar PAH dalam sedimen, ditemukan 15 jenis PAH di Teluk Jakarta.Kata kunci: Teluk Jakarta, Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH), lingkunganJakarta Bay is located in northern of Jakarta,West Jawa, and Banten rovince. Jakarta Bayis throughten by 13 rivers which coming out and carry out kind of waste from land runoff. Many activities was happened such as fishing, tourisme, shipping and an international sea port, Tanjung Priok. Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) is one of marine environment quality parameters. Determination of PAHs in seawaters and sediments were conducted in July-August 2015. Sampling site was divided in three region: west (Banten), middle (Jakarta) and east (West Jawa). The aim of the research is to determine the distribution levels and kind number of PAH and inventory data base of PAH in Indonesian seawaters. PAH levels measured by Gas Chromatography - Flame Ionization Detector (GC-FID) equipped with a capillary column HP1. The results showed that the levels of PAH total in sea water in the western region ranged from 0.007 to 0.056 ppb, with an average of 0,019 ppb, in the middle range between 0.009 to 0.081 ppb with an average of 0.033 ppb, and in eastern region ranged undetected to 0.030 ppb with an average of 0.011 ppb. Levels of total PAHs in sediments in July-August in the western region ranged from 1.1983 to 7.9750 ppm, with an average of 2.9127 ppm, the central region ranges from 16.229 to 8.2591 ppm, with an average amounted to 4.7049 ppm, in the eastern region ranged between 1.5972 – 2.9661ppm with an average of 2.1224 ppm. PAH concentration seawaters and sediment in Jakarta Bay (west, middle and east region) is not exceed of the Quality Standard Water Quality which issued by Ministry of Environment 2004. Number of kinds PAH was found 15.Keywords: Jakarta Bay, Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH), environment
SEBARAN DUGAAN GAS BIOGENIK BERDASARKAN HASIL PENAFSIRAN REKAMAN STRATA BOX DI PERAIRAN TANJUNG PONTANG-BANTEN Nyoman Astawa; Hananto Kurnio
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2266.9 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.3.2011.207

Abstract

Penelitian gas biogenik di perairan Tanjung Pontang dan sekitarnya menerapkan metode geofisika menggunakan alat akustik (strata box). Keberadaan gas biogenik dalam rekaman akustik, dicirikan oleh tidak adanya gambaran pantul dalam (free reflector), dan menampakan warna hitam. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan sumber daya energi alternatif, berupa gas biogenik untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar daerah penelitian. Hasil penafsiran rekaman strata box, kemudian runtunan yang diperkirakan mengandung gas biogenik diplot dalam peta lintasan. Hasil penafsiran menunjukkan bahwa akumulasi gas biogenik terdapat di kedalaman 2.5 meter pada lintasan 3 (L-3), di kedalaman 10.0 meter pada lintasan 7 (L-7), dan di kedalaman 5.0 meter pada lintasan 3 (L-3). Kata kunci : rekaman strata box, penafsiran, peta pola sebaran gas biogenik. Biogenic gas research in Tanjung Pontang and its surrounding waters applied geophysic method of acoustic equipment (strata box). Occurrences of biogenic gas in the acoustic records were characterized by no internal reflection patterns (free reflector), and black colour appearance. The research was meant to utilize alternative energy resources, biogenic gas for local community surround the gas deposits. Results on strata box interpretation, then plotted on ship track map of its possible biogenic gas bearing sequences. It indicates that biogenic gas is accumulated in 2.5 meter depth on the 3 (L-3) track, in 10.0 meter depth on the 7 (L-7) track, and in 5.0 meter depth on the 3 (L-3) track. Key words : strata box records, interpretation, biogenic gas distribution pattern map.
PENDEKATAN SECARA EMPIRIK TERHADAP GEJALA PERUBAHAN GARIS PANTAI DAERAH INDRAMAYU DAN SEKITARNYA Delyuzar Ilahude; Ediar Usman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.901 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.2.2009.175

Abstract

Lokasi daerah studi Indramayu secara geografis terletak di pesisir utara Pulau Jawa dan termasuk pantai terbuka terhadap pengaruh energi gelombang dari arah barat laut, utara dan timur laut. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis perubahan garis pantai dari analisis parameter oseanografi yang dibangkitkan oleh komponen angin permukaan. Pendekatan secara empirik terhadap perubahan garis pantai dari parameter oseanografi, menunjukkan telah terjadi proses erosi dan sedimentasi di pantai Indramayu dan sekitarnya. Daerah abrasi meliputi kawasan bagian tenggara dan barat laut pantai Indramayu. Pergerakan arus sepanjang pantainya disertai oleh pengendapan sedimen (Q) berarah barat laut. Nilai Q pada zona Z-3 lebih besar dari pada di zona Z-1 dan Z-2 dengan jumlah nisbi pasokan sedimen cenderung bergerak ke arah barat laut. Daerah pesisir kawasan Delta Cimanuk diperkirakan akan menjadi zona akumulasi sedimen sepanjang tahun. Sementara proses erosi di bagian tenggara Indramayu tetap berkembang dan berlangsung secara musiman. Kata kunci : Erosi , Indramayu, pasokan sedimen The study area Indramayu, is geographically located at the northern coast of Jawa, which is an open beach that influenced by wave action from the northwest, north and northeast directions. The purpose of this study is to analyze the shift of the shore line based on oceanographic parametric analysis made by surface wind component. An empiric approach to the coastal line change conduct oceanographic parameters shows that erosion and sedimentation have occured along the coastal area of Indramayu and its surounding. The eroded area encompasses the northeastern and northwestern coasts of Indramayu. Its longshore current is follow by sediment (Q) supplies that tend to be deposited in the northwest area. The value of Q in the Z-3 zone is larger than Z-1 and Z-2 zones, as relative amount of sediment supplies tend to move northwest. The coastal area of Delta Cimanuk is estimated to be zone of sediment accumulation along the year, while the erosion process in southeast part of Indramayu spreads and occurs seasonally. Keywords : Erosion, Indramayu, sediment supply

Page 7 of 29 | Total Record : 284