cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
SEDIMENTOLOGI DAN STRATIGRAFI HOLOSEN DATARAN PANTAI MEDAN - BELAWAN SEKITARNYA, SUMATERA UTARA Herman Moechtar; Herman Mulyana; Indyo Pratomo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4794.875 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.2.2007.138

Abstract

Studi sedimentologi dan stratigrafi endapan Kuarter di dataran pantai Medan – Belawan dibedakan menjadi enam lingkungan pengendapan. Yaitu endapan-endapan rawa, laut, pantai, rawa bakau, dataran banjir, dan alur sungai. Berdasarkan korelasi perubahan lingkungan pengendapan secara lateral dan vertikal, rangkaian sedimen Kuarter tersebut dapat dibedakan menjadi empat Interval Pengendapan (I – IV). Setiap interval dicirikan oleh berubahnya lingkungan yang dikontrol oleh perubahan iklim dan muka laut Holosenl. Perkembangan dari endapan Kuarter dan pengisisan cekungan cekungan di daerah dataran pantai Medan – Belawan dipengaruhi oleh peristiwa global. Perubahan dari sirkulasi iklim dan turun naiknya muka laut selama proses pengendapan berlangsung adalah berkaitan dengan perisitiwa global tanpa dipengaruhi oleh efek tektonik. Studi yang dilakukan mencakup analisis sedimentologi dan stratigrafi terhadap empat belas pemboran yang dilakukan di sepanjang lintasan yang berarah utara – selatan dari Medan hingga Belawan. Kedalaman pemboran berkisar antara 5,0 hingga 15,0 m.Kata Kunci: Sedimentologi dan stratigrafi, Holosen, dataran pantai Studies of sedimentology and Stratigrafi on Quaternary deposits in the coastal plain of Medan– Belawan surroundings, North Sumatera revealed six depositional environments. These are swamp, marine, beach, marsh, floodplain, and channel deposit environments. Based on the correlation of the lateral and vertical variation of the depositional environment, whereas the successsion of the Quaternary sediments can be divided into four sedimentary intervals (I – IV). Each interval is typically for environment changes which is controlled by sea level and climatic especially during Holosen. The development of the Quaternary sediments and basin fill in the coastal plain of Medan to Belawan area was influenced by global events. Changes in climatological and relative sea level during during depostional processes were included clobal changes without influenced by tectonic. The study was based on analyses of sedimentology and stratigraphy of fourteen borehole information obtained along the North to South traverse from Medan to Belawan. The penentration of the bore head varied from 5.0 to 15.0 m. Keywords: Sedimentology and stratigraphy, Holosen, coastal plain
INDIKASI KETERDAPATAN ENDAPAN PLASER PEMBAWA TIMAH DAN UNSUR TANAH JARANG (REE), DI PERAIRAN TODAK, SINGKEP, KEPULAUAN RIAU Udaya Kamiludin; I Nyoman Astawa; Moch. Akrom Mustafa
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8550.991 KB) | DOI: 10.32693/jgk.13.2.2015.266

Abstract

Penelitian geofisika di Perairan Todak, Singkep, Kepulauan Riau menggunakan seperangkat peralatan seismik pantul dangkal saluran tunggal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjang penelitian keterdapatan endapan plaser pembawa timah dan unsur tanah jarang (REE). Hasil interpretasi rekaman seismik diperoleh terdapatnya lembah/mangkuk yang terbentuk secara alami akibat adanya terobosan batuan granit, di mana lembah/mangkuk-mangkuk ini merupakan tempat terjadinya sedimentasi dari hasil pelapukan batuan di sekitarnya. Hasil interpretasi rekaman seismik pantul saluran tunggal analog di perairan Todak, Singkep, dapat diklasifikasikan menjadi 3 runtunan yaitu runtunan A, B, dan runtunan C.Kata kunci Data seismik, endapan plaser, lembah/mangkuk, Perairan Todak. Geophysical research at Todak, Singkep, Riau Archipelago Province, by using single channel sahllow seismic refletion. The purpose of research is to support placer deposit bearing tin and rare earth element research at this area. From seismic interpretation can be recognized the distribution of valley/bowls which is naturally formed, caused by granite rock intrusion. Those valleys are sedimentation places of wheathered rock from the surrounding area. Beside that, the seismic research also for determining the placer deposit thickness. Interpratation of analog single channel seismic records in the Todak waters, Singkep, result 3 seismic sequences and intrusive feature, A sequences, B, and C. Keywords: Seismic data, placer deposit, valley/basin, Todak Watres.
PEMBENTUKAN UNDAK BATUGAMPING DAN HUBUNGANNYA DENGAN STRUKTUR DIAPIR DI PERAIRAN TANJUNG AWAR-AWAR PACIRAN JAWA TIMUR Lili Sarmili; GM. Hermansyah
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 3 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1243.7 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.3.2010.193

Abstract

Batuan yang mendominasi di daerah penyelidikan adalah batugamping koral Formasi Paciran zona Rembang. Batugamping koral inilah membentuk undak pantai di Tanjung Awar-awar dan di pantai Tuban dan sekitarnya. Terdapatnya undak batugamping ini, menandakan adanya pengangkatan secara vertikal pada satuan batuan ini. Batimetri daerah penyelidikan secara umum merupakan dataran dimana bagian yang dangkal terdapat di bagian baratdaya (ke arah pantai) dengan kedalaman 2 meter dan terdalam ke arah timurlaut dengan kedalaman 9 meter. Sebanyak 7 lintasan seismik berarah timurlaut-baratdaya dan 15 lintasan berarah barat laut – tenggara telah dilakukan dan beberapa titik bor untuk memperkuat penafsiran jenis batuan di setiap lapisan penampang seismik. Struktur geologi yang ditafsirkan dari seismik pantul ini adalah adanya suatu blok batuan yang seperti tersesarkan dan terdorong ke atas sebagai struktur diapir. Struktur diapir ini berkembang sangat baik di penampang seismik ke arah barat daya atau ke arah daratan dimana di sekitar pantainya batugamping ini membentuk undak batugamping. Munculnya struktur diapir ini kemungkinannya dikarenakan bagian selatan dari zona Rembang ini terdapat suatu zona yang mempunyai anomali gaya berat negatif dan karena batugampingnya banyak terpatahkan sehingga sangat mudah diintrusi oleh sedimen yang mempunyai berat jenis kecil. Kata kunci : undak pantai, batugamping koral, struktur diapir, Tanjung Awar-Awar Jawa Timur The study area is dominated by coral reef limestone of Paciran Formation of Rembang Zone. This coral reef limestone is responsible to form the beach terraces along the Tanjung Awar-Awar and Tuban beach and its surrounded. The formation of this coral reef limestone terraces closely related to vertical movement of these rocks units. The study area is bathymetrically flat where the shallow part is on southwest (towards the beach) with 2 meters depth and the deeper part is to northeast part with 9 meters depth. There are 7 seismic reflection lines of NE-SW and 15 lines of NW-SE have been done and some rocks drilling to emphasize the seismic sequences. The interpretation of geological structure from seismic reflection shows a feature of rocks unit was faulted and intruded as diapiric structures. These features are well developed towards the beach where the terrace of coral reef limestone can be found on the beaches. The formation of these diapiric structures are interpreted where on southward of the Rembang Zone there is a gravity negative anomalies and also due to the limestone were faulted and it seems to be easy intruded by a sediment with low density. Keywords : beach terraces, coral reef limestone, diapiric structure, Tanjung Awar- Awar East Java
KEDALAMAN BATUAN KERAS PERAIRAN SELAT LAUT SEBAGAI DATA AWAL UNTUK RENCANA PEMBANGUNAN JEMBATAN PULAU LAUT - KALIMANTAN Noor C.D. Aryanto; Yogi Noviadi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1200.474 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.1.2007.129

Abstract

Kotabaru merupakan ibukota Kabupaten Pulaulaut, Kalimantan Selatan. Guna mempercepat proses pembangunan, diupayakan untuk membangun jembatan yang menghubungkan daratan Pulau Laut dengan daratan Kalimantan. Berdasarkan data seismik hasil survei pendahuluan diperoleh dua lokasi usulan untuk tapak fondasi kaitannya dengan kedalaman batuan kerasnya yang dikenali dari perbedaan reflektor yang demikian ekstrim, baik dari bentuk ataupun warna terhadap reflektor di atasnya. Lokasi-1 memiliki kedalaman batuan keras berkisar antara 4 hingga 20 meter dan 12 hingga 22 meter di bawah dasar laut. Di lokasi ini juga dikenali adanya struktur yang diperkirakan berupa sesar pada kedalaman 14 meter bawah dasar laut. Lokasi-2 di sayap barat dan timur P. Suwangi, memiliki kisaran kedalaman batuan keras antara 2 hingga 18 meter bawah dasar laut dengan kecenderungan makin dalam ke arah tengah perairan Selat Laut. Kata kunci : batuan keras, seismik, Selat Laut dan Pulau Laut, Kalimantan Selatan. Kotabaru is the capital of the Pulaulaut regency, South Kalimantan. The construction of the bridge that will connect Pulaulaut and Kalimantan is aimed to accelerate the development of the areas. Based on the preliminary seismic data, two propose locations for bridge foundation relates to the depth of hard rock that can be recognized by the extremely differences of acoustic impedance. Location-1 has a hard rock’s depth between 4 to 20 meters and 12 to 22 meters beneath sea floor. In this location, it is also recognized a fault structure at 14 meters depth. Location-2 in the west and east wings of Suwangi Island has the acoustic basement depth between 2 to 18 meters from the sea floor and it is deeper toward the centre of Selat Laut waters. Keywords : hard rock, seismic, Laut Strait and Laut Isle, South Kalimantan.
PENGARUH CO2 TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN LIPID BOTRYOCOCCUS BRAUNII PADA MEDIA AIR LAUT Verina J. Wargadalam; Edi Saadudin; Silvy R. Fitri
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.239 KB) | DOI: 10.32693/jgk.13.1.2015.257

Abstract

Mikroalga sebagai salah satu opsi penyedia sumber bahan bakar nabati telah banyak diteliti. Salah satu yang perlu diperhatikan untuk keberlajutannya adalah sangat besarnya kebutuhan air yang harus disediakan dalam proses budidaya. Untuk menghindari kompetisi kebutuhan air tersebut, budidaya mikroalga dalam media air laut/salin dapat dipertimbangkan. Penelitian ini mempelajari pengaruh penambahan CO2 terhadap laju pertumbuhan dan kandungan lipid mikroalga Botryococcus braunii Kützing strain NIES-836 yang dibudidaya dalam media salin dengan sistem terbuka. Penambahan CO2 sebesar 2% hingga 20% meningkatkan laju pertumbuhan spesifik, dengan nilai tertinggi dicapai pada penambahan 2% CO2, yaitu 0,53/hari, dan laju pertumbuhan mulai menurun signifikan pada penambahan 20% CO2. Produksi lipid tertinggi yang dapat dipulihkan juga dicapai pada penambahan 2% CO2, yaitu sebesar 0,34 g/L. Kandungan asam lemak dalam total lipid diketahui hanya mencapai 25% dengan komposisi utamanya Metil Palmitat, Metil Palmitoleat dan Metil Oleat.Kata kunci: Botryococcus braunii, CO2, laju pertumbuhan, lipid, air laut Microalgae as an alternative resource for biofuel have attracted many research works, and one of the concerns is its sustainability due to the need of a huge amount of water in the cultivation process. To avoid such water competition, cultivation of microalgae in media of saline/sea water can be considered. In this works, the effects of CO2 on the growth and lipid accumulation of Botryococcus braunii Kützing strain NIES-836 in sea water/saline media and open system have been studied. The CO2 additions of 2% to 20% were found to increase the specific growth rate. The highest value was reached at 2% CO2 addition, i.e.: 0.53/day, whereas, the specific growth rate started to decrease significantly at 20% CO2 addition. The highest lipid production that could be recovered was 0.34 g/L, and that was observed at 2% CO2 addition. The fatty acid content in the total lipid was 25%, mainly consists of Methyl Palmitate, Methyl Palmitoleate, and Methyl Oleate. Keywords: Botryococcus braunii, CO2, growth rate, lipid, sea water
STRATIGRAFI SEISMIK LAUT DANGKAL PERAIRAN CELUKANBWANG, BALI UTARA Nyoman Astawa; Wayan Lugra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 2 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.337 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.2.2003.97

Abstract

Suvai seismik laut sepanjang pantai dan lepas pantai Celukanbawang Bali Utara dimaksudkan untuk mendapatkan data rekaman seismik guna menerangkan kondisi geologi daerah telitian. Berdasarkan pendekatan stratigrafi seismik, rekaman data seismik menunjukkan bahwa di daerah telitian terdapat 2 (dua) runtunan seismik, yaitu runtunan A dan B. Runtunan A diduga merupakan batuan volkanik sedangkan runtunan B diduga merupakan batuan sedimen yang diendapkan dalam lingkungan energi cukup kuat. Pada daerah slope break banyak dijumpai diapir, dan struktur geologi yang berkembang di daerah telitian adalah sesar normal. The marine seismic survey along the coast and offshore of Celukanbawang, North Bali, was directed to obtained seismic records to explain the geological condition of the study area. On the basis of seismic stratigraphy approach, the seismic records indicate that in the study area presence 2 (two) seismic sequences, those are sequence A and B. Sequence A is suggested as a volcanic rocks while sequence B is suggested as sedimentary rocks deposited within strong energy environment. At the slope break area the diapers were found, and the geological structures develope in the study area are normal faults.
PERENCANAAN PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR PULAU JAWA DITINJAU DARI ASPEK KERENTANAN KAWASAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEMUNGKINAN BENCANA KENAIKAN MUKA LAUT Harkinz Prabowo; Prijantono Astjario
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 10, No 3 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.96 KB) | DOI: 10.32693/jgk.10.3.2012.225

Abstract

Dampak pemanasan global, yaitu berupa kenaikan muka laut dengan kecepatan 2-8 mm/tahun yang tampaknya lambat dan tidak berarti, akan tetapi dalam 100 tahun mendatang kenaikan muka laut tersebut mampu untuk menggenangi kawasan pesisir P. Jawa yang memiliki morfologi pantai yang landai dan bersudut lereng kecil. Kenaikan muka laut merupakan bencana alam yang lambat dan bisa diprediksi, namun dengan sifat yang demikian justru manusia cenderung lupa segera menanganinya. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana, serta mengurangi bahkan memperkecil dampak negatif risiko bencana tersebut, perlu memasukan komponen manajemen risiko bencana alam (risk management of natural disaster) di dalam penyusunan tata ruang wilayah (RTRW). Kata kunci: kenaikan muka laut, manajemen risiko bencana alam, Pulau Jawa, pesisir The impact of global warming, in the form of sea level rise by the rate 2-8 mm/year which seems slow and insignificant, but in the next 100 years sea level rise are can inundate coastal areas of Java which has a low slope beach morphology and small slope angles. Sea-level rise is a natural disaster that slow and predictable, but the nature of such people tend to forget it immediately. Therefore, to anticipate disasters and reduce or even minimize the negative impact of disaster risks, it is need to include components of risk management of natural disaster in the preparation of the spatial planning. Keywords: sealevel rise, risk management of natural disaster, Java, coastal
KARAKTER ENDAPAN KUARTER DI LEPAS PANTAI TEPIAN CEKUNGAN SUMATERA TENGAH - P. KUNDUR Suyatman Hidayat; Indyo Pratomo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.044 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.2.2008.152

Abstract

Studi yang dilakukan pada karakter endapan Kuarter di lepas pantai tepian cekungan Sumatera Tengah-P. Kundur mencakup analisis sedimentologi dan stratigrafi terhadap lima belas hasil pemboran yang dilakukan di sepanjang lintasan yang berarah barat - timur di baratlaut P. Kundur. Kedalaman pemboran berkisar antara 8,00 hingga 27,00 m. Studi ini, menunjukkan terdapatnya enam lingkungan pengendapan. Keenam lingkungan pengendapan itu ialah: endapan-endapan material rombakan (Mr), alur sungai (F), limpah banjir (Fp), cekungan banjir (Fb), pantai (Br), dan dekat pantai sampai lepas pantai. Berdasarkan korelasi perubahan lingkungan pengendapan secara lateral dan vertikal, diketahui pula bahwa runtunan stratigrafi tersebut dicirikan oleh berubahnya lingkungan pengendapan yang dikendalikan oleh perubahan iklim dan muka laut, dan mungkin juga oleh tektonik. Selama proses pengendapan, aktifitas perubahan iklim terekam dalam 4 fasa kejadian ialah: (1) minimum, (2)minimum menuju maksimum, (3)maksimum menuju minimum, dan (4)minimum. Kata kunci: Endapan Kuarter, iklim, muka-laut, tektonik The study of the Quaternary sediment characters on offshore of the Central Sumatera basin margin-Kundur Island was based on the analyses of sedimentology of fiveteen boreholes information obtained along the West to East at the northwest of Kundur Island. The penetration of the bore head varied from 8.00 to 27.00 m. This study revealed six deposition environments. These are: mass flow (Mr), river channel (F), floodplain (Fp), floodbasin (Fb), beach (Br), and nearshore to offshore (M) deposits . Based on the correlation of the lateral and vertical variation of the depositional environments, the stratigraphy successions/characterized by the variation of the depositional environments which is controlled by climatic and sea level changes, and also probably by tectonic. During the deposition processes, the activity of climatic changes were recorded in four stages episodes: (1)minimum, (2)minimum to optimum, (3)optimum to minimum, and (4)minimum. Keywords: Quaternary sediments, climate, sea-level, tectonic
KETERDAPATAN PASIRBESI DI PANTAI BEO DAN SEKITARNYA, KEPULAUAN TALAUD PROVINSI SULAWESI UTARA Mohammad Akrom Mustafa; Deny Setiady; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4209.396 KB) | DOI: 10.32693/jgk.14.2.2016.353

Abstract

Pasirbesi (magnetit) merupakan salah satu hasil pelapukan batuan di daratan dan abrasi pantai oleh pemusatan gelombang dan arus sejajar pantai. Tujuan penelitian menentukan keterdapatan pasirbesi di sekitar Pantai, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Metode penelitian meliputi karakteristik pantai, pemercontohan sedimen, analisis megaskopis dan mineral butir disertai fotomikrograf. Tipologi  Pantai Beo terdiri dari pantai berkantong pasir dan berbatuan. Endapan Magnetit umumnya  menempati pantai berkantong pasir yang sebagian membentuk tanggul gisik. Kadar persentase magnetit (% Fe) antara 0.139 % - 38.11 %.  Anomali magnetit dengan kadar kisaran antara   21,414 %  dan  38,106  %  dijumpai  di Pantai Beo, Maririka dan Pantai Batumbalango. Lingkungan keterdapatan magnetit dipengaruhi oleh aktivitas pergerakan tektonik aktif Resen yaitu terangkatnya terumbu karang. Genesa magnetit  terkonsentrasi  oleh media cair bergerak sebagai endapan plaser pantai yang dipengaruhi oleh fluviatil. Keterdapatan Magnetit  diduga berasal dari Batuan Gunungapi Pampini, batuan campuraduk Bancuh Karakelang dan  Batuan Ultramafik Kabaruang.Kata Kunci : Magnetit, Karaktersitik pantai, aktivitas tektonik, endapan plaser, sumber batuan, Pantai Beo.Ironsand (magnetite) is one of the mineral potential in some coastal areas of Indonesia, which is related to the presence of andesitic-ultramafic rocks. Therefore Beo coast and its vicinity are then selected as the object of investigation. Magnetite is accumulated as the alochton deposit as the product of rocks weathering in land and coastal abrasion processes are formed by waves and currents parallel to the coast. The methods of investigation include coastal characteristics mapping, positioning, sediment sampling, megascopic and grain minerals analysis with photomicrograph. Coastal characteristics of Beo consist of pocket beach and rocks. Magnetite deposits are usually occupies a pocket beach which is partially formed Berm. The percentage of magnetite content ranging from 0.139% - 38.11%.  Anomalies magnetite grading between 21,414 %  dan  38,106 %  found in Beo, Maririka and the Batumbalango Beach. Magnetite environment is impacted by tectonic movements active in Resen vertically namely the lifting of coral reefs. Magnetite is concentrated on the formation of moving liquid media as placer beach types affected fluvial. The presence of magnetite supposed to be derived from Pampini Volcanics,  and mixture of heterogenous rocks Karakelang Melange and Kabaruang Ultramafics. Keywords: Magnetite, coastal characteristics, tectonic activity, placer deposits, source rocks, Beo Beachs
FORAMINIFERA DI PERAIRAN SEKITAR BAKAUHENI, LAMPUNG (SELAT SUNDA BAGIAN UTARA) Luli Gustiantini; Kresna Tri Dewi; Ediar Usman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 3, No 1 (2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.032 KB) | DOI: 10.32693/jgk.3.1.2005.120

Abstract

Penelitian foraminifera bentik dari 15 percontoh sedimen dasar laut di bagian utara Selat Sunda, Perairan Bakauheni, Lampung telah dilakukan secara kuantitatif. Keterdapatan foraminifera bentik di daerah penelitian sangat melimpah dan bervariasi yaitu terdiri dari 142 spesies (65 genera) yang diidentifikasi dari 7.799 spesimen. Berdasarkan penelitian ini diperoleh bahwa kelimpahan dan komposisi spesies foraminifera di bagian timur (sekitar Bakauheni) cenderung lebih tinggi (rata-rata 6,24%) dibandingkan dengan bagian barat (rata-rata 4,7%) daerah penelitian. Hal ini kemungkinan dapat dikaitkan dengan arah pergerakan arus dasar laut yang bekerja di daerah penelitian. Keanekaragaman foraminifera bentik tertinggi terdapat pada titik lokasi BHL-36 yang terletak di bagian barat daerah penelitian dan terdiri dari 104 spesies. Kelimpahan tertinggi (10,07%) terdapat pada titik lokasi BHL-25 yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Bakauheni dan didominasi oleh spesies tertentu yang dapat bertahan hidup. Subordo Rotaliina merupakan kelompok utama di daerah penelitian yang dicirikan oleh genera Asterorotalia, Operculina, dan Elphidium. Benthic foraminifera from fifteen surface sediment samples in the northern part of Sunda Strait, Bakauheni Waters, Lampung have been analysed quantitatively. The occurrences of benthic foraminifera in the study area are very abundance and varied, it comprises of 142 species (65 genera), which is identified from 7,799 specimens. Based on this research, it is resulted that the abundance and diversity of foraminifera in the east (around Bakauheni) are higher (average of 6.24%) than in the west (average of 4,7%) of the study area. It may relate to bottom current pattern that work in the study area. The highest diversity of benthic foraminifera occurs at site BHL-36, which lies in west part of the study area and it comprises of 104 species. The highest number of individu (10.07%) occurs at the site of BHL-25, which is close to Bakauheni Harbour and it is dominated by certain survived species. Subordo Rotaliina is the main group found in the study area that is characterized by genera of Asterorotalia, Operculina, and Elphidium.

Page 6 of 29 | Total Record : 284