cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
KAPER DEPAN Sutisna Sutisna
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.629 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.464

Abstract

KARAKTERISTIK PANTAI DAN RESIKO TSUNAMI DI KAWASAN PANTAI SELATAN YOGYAKARTA Moch. Akrom Mustafa; Yudhicara Yudhicara
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 3 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1037.97 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.3.2007.143

Abstract

Gempa besar yang terjadi di selatan Jawa yang menimbulkan tsunami pada tanggal 17 Juli 2006, telah menimbulkan dampak kerusakan yang dialami oleh kawasan pantai di selatan Jawa, diantaranya pantai Yogyakarta dengan tinggi maksimum sekitar 3,4 meter. Gempa ini mempunyai magnitude M7,7 (USGS, 2006), pada kedalaman 10 km di bawah dasar laut. USGS menyatakan bahwa gempa ini memiliki mekanisme sesar naik dan berasosiasi dengan zona subduksi antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan pada tahun 2002 memperlihatkan bahwa kondisi batimetri di perairan selatan Yogyakarta dari pantai hingga 12 mil ke arah laut lepas berkisar antara 5 hingga 350 meter, yang berangsur makin dalam ke arah laut dengan pola kontur batimetri yang sejajar dengan garis pantai. Berdasarkan karakteristik pantainya, kawasan pantai Yogyakarta dapat dibagi menjadi 2 zona resiko tsunami, yaitu: (1) Zona Resiko Tinggi terdapat pada lokasi dengan bentuk pantai berteluk dan pantai berkantong (pocket beach) di kawasan sepanjang pantai mulai dari Parangendog ke arah timur hingga pantai Sadeng, khususnya pada pantai-pantai yang dimanfaatkan sebagai kawasan wisata atau pemukiman nelayan yang dibangun relatif dekat dengan garis pantai; (2) Zona Resiko Rendah, diperlihatkan di kawasan sepanjang pantai mulai dari Parangtritis ke arah barat hingga pantai Pasir Congot, yang meskipun memiliki morfologi pantai relatif landai dengan garis pantai lurus, namun pemukiman dan bangunan wisat dibangun pada jarak yang relatif jauh dari garis pantai dan berada di belakang gumuk pasir (sand dune) yang berfungsi sebagai pelindung alami dari gelombang tsunami. Kata kunci : tsunami, karakteristik pantai, batimetri, zona resiko tsunami Great earthquake that has generated tsunami occurred offshore south of Java in July 17, 2006. The coast of Yogyakarta was one of the impacted areas by tsunami waves and the maximum tsunami height measured in this area about 3.4 meters. This earthquake has Magnitude M 7.7 (USGS, 2006) with depth of about 10 kms under the seafloor. USGS pointed out that this earthquake was thrust fault mechanism associated with subduction zone between Indo-Australia and Eurasian Plates. Study on marine and coastal geology at the coast of Yogyakarta has been carried out by Marine Geological Institute in 2002. Based on this study, it was known that bathymetry along the coast as far as 12 miles seaward are about 5 meters to 350 meter-depth which are gradually increase contour parallel to the shoreline. Coastal characteristic study along the coast of Yogyakarta indicate that this area can be divided into two zones of tsunami risk; (1) First zone is high tsunami risk, which is represented by coastal area along Parangendog to Sadeng, this area is bay-shape, settlement area generally close to the shoreline without sufficient protection; (2) Flat morphology, with sand dune along Parangtritis to the west, dominated by straight shoreline, and settlement area behind the sand dune, make this area has relatively low in tsunami risk. Keywords: tsunami, coastal characteristic, bathymetry, tsunami risk zone.
KONDISI ARUS PASANG SURUT DAN EROSI-SEDIMENTASI DI SEKITAR GARIS PANTAI DEPAN PLTU TARAHAN LAMPUNG MENGGUNAKAN DELFT 3D VERSI 3.28 Franto Novico; Prijantono Astjario; Huda Bachtiar
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6574.949 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.1.2013.230

Abstract

Model numerik dilakukan dengan menggunakan software Delft 3D versi 3.28, dimana seluruh input data pada simulasi didapatkan dari pengukuran lapangan pada April 2011. Flow model diaplikasikan untuk mensimulasikan arus dan sedimen transport. Garis pantai di depan PLTU dibagi menjadi tujuh bagian yang berlokasi dari bagian selatan hingga utara PLTU sebagai area pantau. Berdasarkan hasil simulasi, maka dapat diketahui bahwa erosi banyak terjadi pada bagian selatan dari pada bagian utara PLTU. Simulasi model 15 hari menunjukkan bahwa bagian ke 6 dimana posisi inlet dan outlet berada menghasilkan sedimentasi yang lebih besar dari bagian yang lain. Mengingat saluran inlet dan outlet berada pada bagian ke 6 maka perhatian besar perlu diberikan pada bagian tersebut mengingat simulasi ini hanya 15 hari. Seperti diketahui bahwa saluran inlet dan outlet digunakan sebagai pendingin, sementara lokasi saluran tersebut berada pada garis pantai di depan PLTU. Untuk itu, gaya arus akibat sirkulasi pasang-surut dan transport sedimen di sepanjang garis pantai tersebut menjadi perhatian penting untuk diselidiki mengingat pentingnya kelangsungan kondisi garis pantai terhadap fenomena erosi dan sedimentasi. Kata kunci : Arus pasang surut, erosi-sedimentasi, garis pantai, PLTU Tarahan, Delft 3D Versi 2.8 A numerical model is conducted by using a Delft 3D version 3.28, that the entire input data used in simulation was resulted by field activities in April 2011. A flow model is applied to simulate current flow and transport sediment. A coastline in front of the plant is divided into seven sections which are located from the south to the north as the monitoring area. Based on the simulation result, it could be identified that the erosion much more occurred in the southern part than in the northern part. The 15 day model simulation indicates that in the section 6, where the inlet and outlet is located, the sedimentations are bigger than that in other sections. Since the inlet-outlet channels are positioned in section 6 therefore the high awareness must be considering as the time simulation is only apllied in 15 days. Inlet and outlet of the water channels are used as cooler, which are located in front of the plant. Therefore, the current flow due to the tidal circulation along the coastline should be paid attention to investigate in managing the sustainability of the coastline against erosion and sedimentation phenomena. Keywords: Tidal currents, erosion-sedimentation, coastline, PLTU Tarahan, Delft 3D Version 2.8
MORFOLOGI DASAR LAUT KAITANNYA DENGAN PROSES ABRASI PANTAI DI PERAIRAN PULAU MARORE, SULAWESI UTARA Beben Rachmat; Catur Purwanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1668.324 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.1.2011.198

Abstract

Pulau Marore adalah salah satu pulau terluar yang mempunyai arti strategis bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia karena pulau ini merupakan salah satu titik pangkal terluar wilayah Indonesia dalam penentuan batas wilayah dan gerbang ekonomi Indonesia dengan Filipina. Oleh karena itu keberadaan Pulau Marore baik secara fisik maupun secara politik harus dipertahankan. Permasalahan yang terjadi di Pulau Marore adalah adanya aktifitas abrasi yang berlangsung secara berkesinambungan. Abrasi ini menjadi salah satu kendala dalam pembangunan sarana infrastruktur untuk kegiatan ekonomi dan pengembangan wilayah di Pulau Marore. Beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya abrasi di lokasi ini, di antaranya adalah adanya perbedaan kemiringan morfologi dasar laut yang cukup besar dari pantai ke arah laut, kondisi hidrodinamika laut yang terkait dengan musim, tipe pantai dan posisi Pulau Marore yang berada di antara dua perairan besar. Perbedaan morfologi dasar laut yang cukup besar (di atas 5º) dari pantai ke arah laut menyebabkan daerah gelombang pecah menjadi lebih dekat dengan pantai dan penetrasi gelombang menjadi lebih jauh ke arah daratan. Hempasan (run up) gelombang di pantai ini menyebabkan terjadinya arus sejajar pantai dan arus tegak lurus pantai yang membawa material dari darat ke arah laut sehingga terjadi pengikisan material darat oleh air laut secara berkesinambungan. Abrasi pantai oleh gelombang paling parah terjadi pada saat musim barat terutama pada tipe pantai berpasir dan tipe pantai berbatu yang tersusun dari batuan lepas. Secara teknis sangat sulit untuk mengatasi masalah abrasi di Pulau Marore. Cara yang paling efektif adalah dengan menjaga dan tidak merubah bentang alam dan garis pantai agar tidak mengalami kehancuran lebih parah. Kata kunci : abrasi, gelombang, morfologi Marore Island is one of the outer islands that have a strategic significance for the Republic of Indonesia since the island a gate of Indonesian economy with the Philippines. Therefore, the existence of the island both physically and politically has to be maintained. The problems are abrasion of beach activities. It has become the obstacles in the development of infrastructure for economic activity and development of the island. The cause is the difference slope of the seabed morphology, marine hydrodynamics conditions associated with season, type and position of Marore Island beach which is localed between two large waters. The difference slope of seabed morphology from the coast to the sea is above 5° causing breakwater closer to the shore and wave penetration become farther toward the mainland. The waves generated longshore current and rip current to the coast transporting material from land to sea. It caused erosion of the terrestrial material by sea water continuously. The most severe abrasion occurs during the dry season, especially on the sandy beaches and rocky types beaches which composed of loose rock. To solve the problem of abrasion on the island of Marore technically is very difficult. The most effective way is by maintaining the landscape and coastline from severe destruction. Key words: abrasion, wave, morphology
ZONA SESAR DI PERAIRAN KALIMANTAN SELATAN (LP 1611) Lukman Arifin; Wayan Lugra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3077.578 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.1.2009.166

Abstract

Penafsiran data rekaman seismik pantul dangkal daerah telitian memperlihatkan adanya struktur dangkal berupa sesar-sesar yang berarah timurlaut-baratdaya. Zona sesar tersebut terletak pada Zona Tektonik Muria-Meratus. Jika zona sesar ini dianggap aktif, maka perlu diperhatikan terutama untuk kontruksi lepas pantai. Kata kunci: struktur dangkal, zona sesar, Muria-Meratus Shallow seismic data interpretation indicate several fault structures in the study area. The direction of these faults is NE-SW and coincide with the Muria-Meratus Tectonic Zone. If this fault zone is assumed to be potentially active, then it need the attention especially for marine construction. Key word: shallow structure, fault zone, Muria-Meratus
PROSPEKSI EMAS LETAKAN DI PERAIRAN BAYAH, KABUPATEN LEBAK, PROPINSI BANTEN Hananto Kurnio; Catur Purwanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1972.853 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.2.2007.134

Abstract

Mineral emas letakan di perairan Bayah dijumpai dalam sedimen dasar laut perairan, pantai dan sungai. Emas letakan Bayah dari hasil analisis mineral butir terakumulasi pada sedimen pasir berukuran sangat halus (0,125 hingga 0,0625 mm). Hasil analisis mineral bijih, kandungan tinggi Au dan Ag berasosiasi dengan kandungan tinggi mineral magnetik. Dari kurva energi fluks gelombang sebagian pantai perairan Bayah memiliki kecenderungan akresi akibat proses sedimentasi aktif yang membawa emas letakan. Hasil penelitian diketahui kadar Au 0,4-1,8 ppm, Ag 6,8-7,8 ppm, Fe 38,54-48,64 % dan Cu 17-18 ppm. Sedangkan data bor dalam prospek emas letakan pada kedalaman bor 9-14 meter, mempunyai kadar antara 0,4-1,8 ppm. Pendulangan yang dilakukan pada 13 lokasi sepanjang pantai Bayah mendapatkan hanya 3 lokasi nihil sehingga persentase keterdapatan emas letakan di daerah ini sementara adalah 76,9 %. Kata kunci: emas letakan, sedimen dasar laut, mineral bijih, mineral magnetit, energi fluks gelombang Gold placer mineral indications in Bayah waters are occurred in the seafloor, coastal and river sediments. Bayah gold placer is accumulated in a very fine sand sediment (0.125 up to 0.0625 mm). Results of ore mineral analyses, the high content of Au and Ag samples are associated with high content of magnetic minerals. The observation of wave flux energy curve, parts of Bayah Coast tends to accretion due to active sedimentation process that carrying gold placer. Research results, it is known that Au 0,4-1,8 ppm, Ag 6,8-7,8 ppm, Fe 38,54-48,64 % and Cu 17-18 ppm . While from deep borehole, gold placer prospects are between depths of 9-14 meters with the range of the contents between 0,4-1,8 ppm. Gold panning carried out in 13 locations along Bayah beach found out only 3 empty gold locations; thus percentage of gold placer existences in this area temporarily 76.9 %. Key words: gold placer, seafloor sediments, ore minerals, magnetite minerals, wave flux energy
PENGARUH PENGANGKATAN DAN PERUBAHAN POLA SEDIMENTASI TERHADAP SEBARAN PASIR BESI DI PESISIR DAN PERAIRAN PANTAI BAGIAN BARAT PULAU TALAUD SULAWESI UTARA Hananto Kurnio; Moch. Akrom Mustafa; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10005.343 KB) | DOI: 10.32693/jgk.13.2.2015.262

Abstract

Hasil penelitian sumber daya pasir besi di pesisir barat Pulau Talaud, menyimpulkan bahwa sebarannya sebagian dikontrol oleh proses tektonik aktif yang berlangsung sekarang berupa pengangkatan yang mengakibatkan perubahan pola sedimentasi. Proses tektonik ini mengakibatkan terangkatnya bagian barat Pulau Talaud, yang ditunjukkan oleh terdapatnya terumbu-terumbu karang yang mati. Peristiwa ini berhubungan dengan gempabumi di laut sebelah barat pulau yang terjadi pada tahun 2009 dengan magnitude 7,2 sekala Richter, kedalaman episenter kurang dari 35 kilometer. Proses pengangkatan ini, sekitar 1 meter berdasarkan informasi penduduk setempat, mengakibatkan terjadinya fenomena re-distribusi endapan pasir besi. Pasir besi di pesisir tersebar ke arah laut membentuk dangkalan-dangkalan (shoals), yang tampak jelas pada saat air laut surut. Kata kunci pengangkatan, perubahan pola sedimentasi, pasir besi, Perairan Pulau Talaud Results of research on iron sand resource in coastal zone of Talaud Island concluded that its distribution is partly controlled by active tectonic process which took the form of uplifting and changing of sedimentation pattern. This tectonic process was causing uplifting of western side of Talaud Island, which is shown by mortality of coral reefs. This event was related to a 2009's earthquake of 7.2 Richter scale which was located at the sea west of the island, epicenter depth less than 35 kilometers. The uplifting process, approximately 1 meter based on local residence information, generates phenomenon of redistribution of iron sand deposit. The iron sand is distributed toward sea forming shoals, which is clearly could be seen during low tide. Keywords: uplift, sedimentation pattern change, iron sand, Talaud Island Waters
KETERDAPATAN MINERAL DAN UNSUR JARANG PADA SEDIMEN PANTAI DAN PERMUKAAN DASAR LAUT DI PERAIRAN SELAT PULAU BATAM DAN PULAU BINTAN Deny Setiady; Faturachman Faturachman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 1 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.754 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.1.2004.102

Abstract

Sedimen dasar laut Selat Batam - Bintan tersusun oleh pasir kerikilan yang terdapat di sepanjang pantai dan lepas pantai P. Batam, dan kerikil pasiran yang dijumpai di sepanjang dekat pantai P. Bintan. Pasir menempati bagian tengah daerah selidikan. Sebaran sedimen tersebut menunjukkan bahwa sumber sedimen berasal dari Pulau Batam dan P. Bintan, dengan ukuran butir menghalus ke arah lepas pantai. Hasil analisa mineral berat menunjukkan bahwa terdapat 12 jenis mineral berat di daerah selidikan Magnetit, Kasiterit, Zirkon, Monasit, Hornblenda, Tourmalin, Pirit, Ilmenit, Hematit, leokosen, augit, diopsid. Mineral magnetit dominan terdapat pada sedimen Pasir lanauan (BT-34), dan pasir (BT-11), sedangkan mineral kasiterit dominan terdapat pada sedimen pasir kerikilan (BT-4) dan pasir lanauan (BT-34). Analisis kandungan unsur jarang sepanjang pantai barat P. Batam menunjukkan bahwa kandungan Barium (561 ppm) lebih tinggi dibandingkan unsur Sn (16 ppm), Sr (42 ppm), Nb (13 ppm) dan Zn (186 ppm). Sedangkan di pantai P. Bintan Timur Kandungan dijumpai tinggi unsur Ba (761 ppm), Nb (480 ppm) Sr (200ppm) dan Zr (300 ppm) pada contoh Pbn-1.
PROSES SEDIMENTASI DAN EROSI PENGARUHNYA TERHADAP PELABUHAN, SEPANJANG PANTAI BAGIAN BARAT DAN BAGIAN TIMUR, SELAT BALI Deny Setiady; Nineu Yayu Gerhanae
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.969 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.2.2010.189

Abstract

Pemetaan karakteristik pantai merupakan kegiatan awal untuk mengetahui daerah potensi erosi dan sedimentasi di pesisir barat dan timur Selat Bali. Faktor-faktor yang berperan dalam menganalisis proses sedimentasi dan erosi pantai, yaitu faktor litologi, gelombang dan arus. Pelabuhan di pesisir barat Selat Bali yaitu Pelabuhan Barang, Pelabuhan Pertamina (Meneng), serta Pelabuhan Fery (Ketapang), merupakan daerah sedimentasi, sedangkan pelabuhan di pesisir timur adalah Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk. (Bali). Kawasan pesisir Selat Bali di sisi barat batuan penyusunnya berupa batuan gunungapi muda, (lava, breksi dan tuf). Kawasan pesisir Selat Bali di sisi timur, Pulau Bali terdiri dari batugamping, konglomerat, batupasir, lava, breksi, tufa dan aluvium Pantai sebelah timur Selat Bali sebagian besar merupakan pantai berpasir (kemiringan 0o - 15o). Pantai di daerah ini merupakan daerah sedimentasi dengan lebar pantai antara 10 sampai 20 meter. Pantai barat Selat Bali dicirikan oleh pantai yang memiliki kemiringan yang landai (kemiringan 0° - 10°) dengan lebar pantai antara 3 meter sampai 15 meter merupakan daerah sedimentasi. Kata Kunci: Selat Bali, karakteristik pantai, sedimentasi, erosi Coastal characteristics mapping is an early step to know erosion and sedimentation potencies in west and east Bali Strait. Analysis factors in erosion and sedimentation potencies are lithology, current, and wave. The harbour western Bali Strait consist of Commodity Harbour, Pertamina Harbour (Meneng), and Ferry Harbour (Ketapang), was is sedimentation area, while eastern Bali Strait is Ferry Harbor (Gilimanuk). The lithology in eastern Bali Strait consists of young volcanic (lava, breccia and tuff). The lithologi in western Bali strait consists of limestone, conglomerate, sandstone, lava, breccia and tuff. In eastern Bali Strait coastal area is dominated by sandy beach (slope 5o - 20o). Coastal in this area has 10 to 20 meters wide. It is a sedimentation process area. Eastern Bali Strait area is characterized by a lower beach (slope 0o - 10o). Coastal in this area has 3 to 15 meters wide, It is a sedimentation process area. Keywords: Bali Strait, coastal characteristic, sedimentation, abration
SEBARAN ENDAPAN KUARSA DI PERAIRAN DELTA KAPUAS, PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT Udaya Kamiludin; Yudi Darlan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 3 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.234 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.3.2008.157

Abstract

Dasar laut Delta Kapuas ditutupi oleh fraksi sedimen lempung sampai pasir yang secara tekstural mempunyai persentase pasir antara kosong sampai 100 %. Fraksi sedimen ini berdasarkan hasil analisis oles tipis yang ditunjang oleh sebagian analisis mineralogi butir umumnya berkomposisi utama kuarsa. Ikutannya dalam jumlah relatif kecil, terdiri atas feldspar, mika, ilmenit, piroksen Fe/Mn oksida, foraminifera, fragmen dan mikrit. Secara lateral, sebaran kuarsa relatif membesar ke arah bagian hulu sungai dengan persentase mencapai 75 %. Berdasarkan tatanan stratigrafi dan cara pembentukannya maka keberadaan kuarsa dalam sedimen permukaan dasar laut, selain dari hasil pengerjaan ulang Aluvium dan arenit kuarsa itu sendiri juga berasal dari erosi batuan primer Granit Sukadana yang berada di sebelah timur daerah penelitian. Kata Kunci : Sedimen permukaan, analisis oles tipis, kuarsa, Granit Sukadana dan perairan Delta Kapuas. Sea floor of Kapuas Delta is covered by sediment fraction from clay to sand in size. Texturally, the percentages of sand fraction is ranging between null to 100 %. Base on smear slide and grain analysis the sediment fraction is composed mainly quartz. Associated mineral accessories are relatively small which is consisted of feldspar, mica, ilmenite, pyroxene, Fe/Mn oxide, foraminifera, calcareous fragment and micrite. Laterally, distribution of quartz relatively increased towards upstream with percentage reaches 75 %. Based on stratigraphy setting and its formation, the existence of quartz in the sea floor surficial sediment, apart resulted from reworking of Alluvium and quartz arenite itself, it also comes from erosion of primary rock Granite Sukadana located eastside of the investigation area. Keywords: Surface sediment, smear slides analysis, quartz, Granite Sukadana and Delta Kapuas water.

Page 8 of 29 | Total Record : 284