Claim Missing Document
Check
Articles

K.H. Muhammad Arbia Karib: Pendidik dan Ulama di Bantaeng 1948-2018 Wardana, Haerul; Bosra, Mustari; Bustan, Bustan
Attoriolong Vol 18, No 1 (2020): Attoriolog Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menceriterakan perjalanan hidup seorang tokoh dari masa kecil hingga wafat, menjadi seorang pendidik dari pertama kali menjadi seorang honorer hingga menjadi kepala sekolah, menjadi seorang ulama di Kabupaten Bantaeng dari 1948-2018. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan menggunakan beberapa tahapan kerja, yaitu  heuristik ( pengumpulan data) kritik eksternal dan kritik internal, interpertasi dan penyajian serta historiografi (penulisan) yang merupakan pengungkapan kisah sejarah secara tertulis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa K.H Muhammad lahir pada tahun 1948 dan wafat pada 2018. Perjalanan K.H Muhammad Arbia Karib dalam dunia pendidikan dimulai dari menjadi tenaga honorer hingga menjadi seorang kepala sekolah. Pergerakan dalam dakwah Islam dimulai dengan bergabung di Muhammadiyah, BAZNAS dan Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bantaeng.
Pemberian Kuis Berbasis Media Android dengan Aplikasi Kahoot! untuk Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah Peserta Didik Kelas X IIS 3 SMAN 9 Gowa Agustina, Agustina; Patahuddin, Patahuddin; Bustan, Bustan
Attoriolong Vol 18, No 1 (2020): Attoriolog Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan teknologi dalam berbagai bidang telah dikembangkan dengan berbagai aplikasi yang mendukung dalam penggunaannya, misalnya pemanfaatannya dalam media pembelajaran maupun media evaluasi atau kuis pembelajaran. Pemberian kuis pembelajaran sejarah di SMAN 9 Gowa masih menggunakan metode yang bersifat konvensional berupa kuis dalam bentuk kertas maupun kuis dalam bentuk tanya jawab langsung, sehingga menyebabkan peserta didik kurang antusias dalam bersemangat dan bersikap jujur dalam pengerjaan kuis dikarenakan media yang digunakan terkesan menonton dan tidak bervariasi. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui peningkatan hasil belajar sejarah peserta didik Kelas X IIS 3 SMAN 9 Gowa sebelum pemberian kuis berbasis media android dengan aplikasi Kahoot! dan setelah pemberian kuis berbasis media android dengan aplikasi Kahoot!. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus masing-masing terdiri dari 3 kali pertemuan yang dilakukan dalam empat tahapan, yaitu: (1) perencanaan tindakan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi tindakan; (4) refleksi tindakan. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X IIS 3 SMAN 9 Gowa pada Semester Genap Tahun Ajaran 2019/2020 dengan jumlah peserta didik 32 orang yang terdiri dari 13 orang laki-laki dan 19 orang perempuan. Hasil penelitian menunjukkan hasil tes peserta didik pada siklus I sebelum pemberian kuis berbasis media android dengan aplikasi Kahoot! dengan skor rata-rata yakni 51,65 berada pada kategori rendah. Sedangkan, hasil tes peserta didik pada siklus II setelah pemberian kuis berbasis media android dengan aplikasi Kahoot! dengan skor rata-rata 76 berada pada kategori tinggi. Beradasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pemberian kuis berbasis media android dengan aplikasi Kahoot! dapat meningkatkan hasil belajar sejarah peserta didik Kelas X IIS 3 SMAN 9 Gowa dengan skor rata-rata peningkatan 24,44.
PENINGKATAN PENGUASAAN KOMPETENSI DASAR TENTANG MENGANALISIS DAMPAK POLITIK, BUDAYA, SOSIAL, DAN PENDIDIKAN PADA MASA PENJAJAHAN BANGSA EROPA (PORTUGIS, SPANYOL, BELANDA, INGGRIS) DALAM KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA PADA MASA KINIBAGI GURU SEJARAH SMA SE-KABUPATEN POLEWALI MANDAR Najamuddin, Najamuddin; Bustan, Bustan
Humanis Vol 18, No 2 (2019): Agustus 2019-Januari 2020
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/humanis.v18i2.11132

Abstract

Hasil observasi yang dilakukan terhadap guru yang mengikuti pendidikan dan latihan sertifikasi guru menunjukkan lemahnya kemampuan memahami kompetensi dasar. Bahkan ada diantaranya dalam menyampaikan materi dalam kompetensi dasar tersebut belum disampaikan secara lengkap dan sistematis sehingga siswa dalam memahami materi tersebut menimbulkan multi tafsir dan bahkan tidak dipahami sama sekali Atas dasar pertimbangan tersebut, maka kami merencanakan untuk melakukan pelatihan atau workshop guna meningkatkan kompetensi professional guru dalam memahami dan menguasai materi-materi kompetensi dasar khususnya komptensi dasar sistem  peradilan di Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Tahun 1945 Kegiatan ini berlangsung di Kabupaten Polewali Mandar dengan sasaran guru-guru SMA se-Kabupaten Polewali MandarKegiatan pelatihan ini bersifat kegiatan pendahuluan. Artinya peserta lebih dahulu diberikan pemahaman materi terus dilanjutkan dengan tanya jawab disertai dengan kegiatan diskusi mengenai kompetensi dasar yang akan di ajarkan kepada peserta didik.  Setelah kegiatan ini berakhir diperoleh hasil berupa 20 orang guru SMA di-Kabupaten Polewali Mandar mengikuti pelaksanaan kegiatan peningkatan penguasaan kompetensi professional khususnya pada kompetensi dasar menganalisis dampak politik, budaya, sosial, dan pendidikan pada masa penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) dalam kehidupan bangsa Indonesia. Diharapkan dengan adanya pelatihan ini dapat meningkatan penguasaan kompetensi dasar menganalisis dampak politik, budaya, sosial, dan pendidikan pada masa penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) dalam kehidupan bangsa Indonesia bagi guru mata pelajaran Sejarah SMA se-Kabupaten Polmas. Diharapkan kepada pihak MGMP dan pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan untuk tingkat SMA sederajat untuk lebih memperhatikan mengenai penguasaan kompetensi bagi para guru khususnya kompetensi profesional maupun kompetensi lainnya.demikian pula kepada guru diharpkan agar memiliki kesadaran untuk selalu belajar dan berusaha meningkatkan kompetensinya sesuai dengan tuntutan peraturan perundang-undanganKata Kunci : Peningkatan Penguasaan Kompetensi DasarThe results of observations conducted on teachers who follow the education and training of teacher certification showed a lack of ability to understand basic competencies. Even some of them in delivering the material in the basic competence has not been submitted in a complete and systematic so that students in understanding the material cause multi interpretation and not even understood at all. On the basis of these considerations, we plan to conduct training or workshops to improve the professional competence of teachers in understanding and mastering basic competence materials, especially the basic competence of the judicial system in Indonesia in accordance with the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia This activity takes place in Pangkep District with the target of SMA / SMK / MA teachers in Pangkep DistrictThis training activity is a preliminary activity. This means that the participants are given the first understanding of the material continues with questions and answers followed by discussion of basic competencies that will be taught to learners. After this activity ended, the result was obtained by 20 teachers of SMA / SMK / MA in Pangkep following the implementation of professional competency control activities especially on the basic competence of the judicial system in Indonesia in accordance with the Constitution of the Republic of Indonesia Year 1945. It is expected that this training can increase the basic competence of the judicial system in Indonesia in accordance with the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia for the subject teachers of Sejarah SMA in Pangkep Regency Thus, it is expected to the MGMP and the Department of Education and Culture of South Sulawesi Province for the equivalent high school level to pay more attention to the competence of teachers for the competence of professionals and other competencies. Similarly, the teacher is expected to have awareness to always learn and try to improve competence in accordance with the demands of legislationKey Word : Improvement Of Basic Competency About Expanding The System Of Justice In Indonesia In Accordance
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah Melalui Model Pembelajaran Probing-Prompting pada Siswa Kelas X IPS 3 SMA Negeri 4 Makassar Sanur, Ilham Samudra; Ridha, M. Rasyid; Bustan, Bustan
Attoriolong Vol 18, No 2 (2020): Attoriolog Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran probing-prompting dan apakah dengan model pembelajaran probing-prompting dapat meningkatkan hasil belajar sejarah siswa kelas X IPS 3 SMA Negeri 4 Makassar. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPS 3 SMA Negeri 4 Makassar Kota Makassar tahun ajaran 2019/2020. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model pembelajaran probing—rompting. Prosedur kerja dalam penelitian tindakan kelas terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran probing-prompting hal ini berdasarkan hasil tes siswa pada siklus 1 menunjukan bahwa persentase hasil belajar siswa yaitu 22,2%. Siklus 2 menunjukan persentase hasil belajar siswa sebesar 77,8%. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran probing-prompting dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X IPS 3 SMA Negeri 4 Makassar.
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teams Games Tournament (TGT) Dalam Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Sejarah Siswa Kelas X MIA 1 SMAN 7 Gowa Dewi, Nurwana; Ridha, M. Rasyid; Bustan, Bustan
Attoriolong Vol 18, No 2 (2020): Attoriolog Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran sejarah sampai saat ini masih banyak menggunakan pembelajaran tradisional, baik ceramah atau eksplanasi. Dalam pembelajaran sejarah yang hanya memaparkan materi dengan ceramah dirasa kurang efektif, karena peserta didik sulit untuk mengerti dan memahami materi. Penelitian Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teams Games Tournament (TGT)  Dalam Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Sejarah Siswa Kelas X MIA 1 SMAN 7 Gowa merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action) yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar sejarah siswa kelas X MIA  1 SMAN 7 Gowa setelah menerapkan model pembelajaraan Kooperatif Teams Games  Tournament (TGT). Subjek dari penelitian ini yaitu siswa kelas X MIA 1 SMAN 7 Gowa yang berjumlah 24 orang dengan 10 orang siswa laki-laki dan 14 perempuan. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus dengan 3 kali pertemuan pada masing-masing siklus melalui 4 tahapan, yaitu: (1) perencanaan tindakan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi tindakan; (4) refleksi tindakan. Pengumpulan data motivasi belajar dilakukan dengan pengisian angket motivasi dan observasi langsung selama penelitian, sedangkan pengumpulan data terkait hasil belajar dilakukan dengan  pembagian lembar pretest diawal pertemuan dan lembar post test di akhir pertemuan. Hasil penelitian terkait motivasi belajar siswa menunjukkan bahwa pada siklus I rata-rata motivasi siswa berada pada kategori sedang yakni 70.17% dan pada siklus II rata-rata motivasi belajar siswa berada pada kategori tinggi yakni 81.00%. Hasil penelitian terkait hasil belajar siswa menunjukkan bahwa sebelum penerapan model pembelajaran TGT rata-rata hasil belajar siswa berada pada kategori sangat rendah dengan skor 43.33%. Pada siklus 1 rata-rata hasil belajar siswa berada pada kategori rendah dengan skor 53.75%. Dan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa berada pada kategori tinggi dengan skor 80.83%. berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Kooperatif Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar sejarah siswa kelas X MIA 1 SMAN 7 Gowa.
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Storytelling Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Sejarah Peserta Didik Kelas X IIS 2 di Madrasah Aliyah Negeri 2 Sinjai Safirah, Elvi; Amirullah, Amirullah; Bustan, Bustan
Attoriolong Vol 18, No 2 (2020): Attoriolog Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan model pembelajaran sangat diperlukan dalam suatu pembelajaran agar peserta didik memiliki gairah dan semangat untuk belajar. Oleh karena itu guru dituntut agar model pembelajaran yang digunakan menarik dan  meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang digunakan oleh guru di Madrasah Aliyah Negeri 2 Sinjai khususnya pelajaran sejarah masih menggunakan model pembelajaran konvensional seperti ceramah atau hanya mencatat pelajaran. Hal ini menyebabkan peran guru lebih dominan dibandingkan peserta didik dalam pembelajaran sehingga peserta didik kurang aktif dalam pembelajaran. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar sejarah melalui model pembelajaran kooperatif tipe storytelling pada kelas X IIS 2 di Madrasah Aliyah Negeri 2 Sinjai. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). dimana tahapan pelaksanaannya meliputi empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X IIS 2 di Madrasah Aliyah Negeri 2 Sinjai tahun pelajaran 2019/2020 dengan jumlah peserta didik sebanyak 17 orang. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil angket motivasi dan lembar observasi yang dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan motivasi belajar peserta didik. Peningkatan ini dilihat dari persentase rata-rata hasil angket motivasi belajar pada siklus I yaitu 73,4% atau kategori sedang sedangkan siklus II yaitu 86,5% atau kategori tinggi dengan persentase peningkatan sebesar 13,1%. peningkatan juga terjadi pada aktivitas belajar peserta didik yang dilihat dari hasil observasi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung dengan persentase rata-rata siklus I sebesar 56,4 % meningkat pada siklus II sebesar 77%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar sejarah siswa kelas X IIS 2 di Madrasah Aliyah Negeri 2 Sinjai melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe storytelling pada pokok bahasan kerajaan-kerajaan islam di Indonesia mengalami peningkatan.
Kecamatan Bontocani, 1960-1979. Isfar, Awaluddin; Asmunandar, Asmunandar; Bustan, Bustan
Attoriolong Vol 19, No 2 (2021): Attoriolog Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum Kecamatan Bontocani sebelum tahun 1960, perkembangan Kecamatan Bontocani dari tahun 1960-1979, serta dampak pembentukan Kecamatan Bontocani pada bidang sosial, ekonomi, pendidikan dan infrastruktur dalam kurun waktu (1960-1979). Penelitian ini adalah penelitian sejarah yang bersifat deskriptif analisis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah dengan beberapa tahapan kerja yaitu heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi dan historiografi (penulisan karya sejarah). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kecamatan Bontocani sebelum tahun 1960 merupakan daerah hutan yang minim akan akses jalan. Sistem pemerintahan pada saat itu adalah pemerintahan Akkarungeng (kerajaan lokal) yang kemudian berubah menjadi pemerintahan distrik. Kehidupan masyarakat yang sangat sederhana dengan memanfaatkan sumber daya alam dengan cara bertani secara tradisional. Setelah menjadi sebuah kecamatan dan dipimpin oleh seorang camat, Bontocani perlahan mulai mengalami perkembangan diberbagai bidang. Camat pertama yang memerintah di Kecamatan Bontocani yaitu Andi Mappanganro (Petta Cani), kemudian dilanjutkan  camat kedua oleh seorang tentara yaitu Letnan Saguni Dewa. Pada pemerintahan camat kedua ini, perkembangan Kecamatan Bontocani jauh lebih baik ditandai dengan pembangunan yang dilakukan di berbagai bidang meliputi bidang sosial, ekonomi, pendidikan dan infrastruktur. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa setelah terbentuk menjadi sebuah kecamatan, peningkatan kualitas sumber daya manusia serta infrastruktur penunjang memberikan dampak pada peningkatan perekonomian masyarakat. Akhir penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan pembentukan Kecamatan Bontocani memberikan perkembangan yang lebih baik di berbagai bidang serta memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat.
Perubahan Nilai dan Tata Cara Pelaksanaan Tradisi Songkabala pada Masyarakat di Kelurahan Tamallaeng, Kabupaten Gowa, 2000-2016. Ashari Hamdan, Ari; Bustan, Bustan; Asmunandar, Asmunandar
Attoriolong Vol 19, No 2 (2021): Attoriolog Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara rinci apa sebenarnya tradisi songkabala, dimana tradisi ini merupakan tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat yang ada di Kabupaten Gowa, Kelurahan Tamalleng.Penelitian ini menggunakan metode penelitian Heuristik,Interpretasi dengan pendekatan historis. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Dari penelitian ini diketahui bahwa suku yang ada di Gowa terkhusus masyarakat yang ada di Tamallaeng mengembangkan satu tradisi yang di beri nama tradisi songkabala. Tradisi songkabala merupakan tradisi yang dilakukan sejak dulu dan tetap dilakukan hingga sekarang. Dalam proses awal perkembangan tradisi disebabkan oleh dua faktor dimana faktor pertama dibawa oleh para pedagang Hindu,dikarenakan pada saat itu Gowa merupakan daerah perdagangan yang cukup besar yang memancing banyaknya pedagang yang berkunjung di Kabupaten Gowa. Tetapi meskipun tradisi songkabala mengalami pemudaran dan tidak semeriah dulu, sehingga berdampak kepada berubahnya tempat pelaksanaan yang dimana dulunya dilakukan di lapangan atau tanah kosong kini dilakukan di rumah penduduk yang cukup luas. Namun tradisi songkabala tetap dilaksanakan hingga sekarang. Dalam tradisi songkabala ini menimbulkan pro dan kontra yang dihasilkan oleh masyarakat asli dan juga pendatang yang tinggal dan menetap di Kelurahan Tamallaeng serta banyaknya pendapat tokoh Agama yang memberikan penjelasan terkait tradisi songkabal.
Ilegal Fishing: Penggunaan Alat Tangkap Ikan di Kepulauan Kabupaten Pangkep 1975-2015 Akbar Akbar; Najamuddin Najamuddin; Bustan Bustan
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 1, April 2020
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v7i1.13283

Abstract

Karya ini menjelaskan tentang penangkapan ikan secara ilegal di Kepulauan Kabupaten Pangkep pada masa pemerintahan Presiden ke-2 sampai tahun 2015. Alat tangkap tersebut mulai ada sejak tahun 1975 seperti Dodoro’ (Bom ikan), dan Racun potassium yang digunakan oleh sebagian nelayan yang ada di Kepuluan Kabupaten Pangkep. Masuknya orang Jawa ke perairan Selam Makassar Pada tahun 1989 memperkenalkan alat tangkap baru kepada nelayan dan melakukan aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap Catrang atau yang biasa disebut Trawl (Trol). Dari sinilah awal nelayan mengenal yang namanya Cantrang/trawl. Sebagai akibatnya, sebagian nelayan di Kecamatan Liukang Tupabiring khusunya Pulau Podang-podang Lompo terdorong melakukan praktek penangkapan ikan secara ilegal karena permintaan pasar semakin meningkat serta, cara prakteknya pun mudah dilakukan dan bisa mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Semasa penggunaan alat illegal (Bom ikan, Potasium, dan Trawl) terus beroperasi sampai mengalami perkembangan dari tahun 2000-2015 dan berdampak pada rusaknya terumbu karang dan memiliki potensi besar mengancam kepunahan ikan dan biota laut lainnya selain itu membahayakan nyawa orang lain..Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian historis (Historical Research), yang terdiri atas beberapa tahapan yakni: (1) Heuristik, dengan melakukan wawancara terhadap para nelayan Kecamatan Liukang Tupabiring seperti Dg. Mudo, Dg. Ilyas, Dg. Harrang, Haerul, dll. Mengumpulkan sumber di Perpustakaan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin Makassar, Perpustakaan Wilayah Provinsi Sulawesi-selatan, data-data Kecamatan Liukang Tupabiring, sera artikel-artikel yang ada dikoran Fajar. (2) Kritik atau proses verifikasi keaslian sumber sejarah. (3) Interpretasi atau penafsiran sumber sejarah, dan (4) Historiografi, yakni tahap penulisan sejarah. Kata Kunci: Illegal fishing, alat tangkap, Kecamatan Liukang Tupabiring.  AbstractThis work describes illegal fishing in the Pangkep Regency Islands during the 2nd President's administration until 2015. The fishing gear began to exist since 1975 such as Dodoro (Fish Bomb), and Potassium Poisons used by some fishermen in Head of Pangkep Regency. The entry of Javanese into the waters of Makassar Submarine In 1989 introduced new fishing gear to fishermen and carried out fishing activities using Catrang fishing gear or commonly called Trawl. From here the fishermen knew the name Cantrang / trawl. As a result, some fishermen in the Liukang District of Tupabiring, especially Podang-podang Island, Lompo, are encouraged to practice illegal fishing because market demand is increasing and the practice is easy and can get very satisfying results. During the use of illegal tools (Fish bombs, Potassium and Trawlers) continued to operate until they developed from 2000-2015 and had an impact on the destruction of coral reefs and had great potential to threaten the extinction of fish and other marine biota in addition to endangering the lives of others ... This study is a qualitative research with historical research approach (Historical Research), which consists of several stages, namely: (1) Heuristics, by conducting interviews with fishermen in the Liukang Tupabiring District such as Dg. Mudo, Dg. Ilyas, Dg. Harrang, Haerul, etc. Gathering resources in the Library of the Faculty of Fisheries and Maritime Affairs, University of Hasanuddin Makassar, Regional Library of South Sulawesi Province, data from the Liukang Tupabiring District, as well as articles in the newspaper Fajar. (2) Criticism or the process of verifying the authenticity of historical sources. (3) Interpretation or interpretation of historical sources, and (4) Historiography, namely the stage of historical writing. Keywords: Illegal fishing, fishing gear, Liukang Tupabiring District.
Sosialisasi Sekolah Ramah Anak Pada MAN Malakaji di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan Najamuddin Najamuddin; Bustan Bustan; Hasni Hasni
DEDIKASI Vol 22, No 2 (2020): Jurnal Dedikasi
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/dedikasi.v22i2.16136

Abstract

This Community Partnership Program (PKM) partner is the Socialization of Child Friendly Schools in MAN Malakaji, Gowa Regency, South Sulawesi. The problems are:  (1)  The stakeholders' lack of awareness to work together to create child-friendly schools. (2) Teachers still do not understand in detail the concepts  and programs of Child-Friendly Schools, so their implementation is still not effective. The methods used are: lectures, demonstrations, discussions, questions and answers with colleagues through the Zoom Meeting application. The results achieved were (1) partners were very enthusiastic about the socialization, marked by the number of participants and questions asked, (3) partners really needed socialization and understanding of Child Friendly Schools which was shown by the spirit of participation and curiosity, (4) Quality improvement understanding and mastery is ensured. contrary to the concept of the Child-Friendly School Program (SRA).