cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Metalurgi
ISSN : 01263188     EISSN : 24433926     DOI : -
Core Subject : Science,
METALURGI published by Research Center for Metallurgy and Materials LIPI. The objective of this journal is the online media for disseminating of RCMM results in Research and Development and also as a media for a scientist and researcher in the field of Metallurgy and Materials.
Arjuna Subject : -
Articles 240 Documents
SIFAT MEKANIS DAN PENGERASAN PRESIPITASI PADUAN Al-Zn-Mg DENGAN VARIASI KANDUNGAN Cu SELAMA AGEING PADA TEMPERATUR 120 °C [Mechanical Properties and Precipitation Hardening of Al-Zn-Mg Alloys With Variation in Cu Content] Syakuura, Abdan; Sofyan, Bondan T; Ringer, Simon P
Metalurgi Vol 27, No 2 (2012): Metalurgi Vol. 27 No. 2 Agustus 2012
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.989 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v27i2.143

Abstract

SIFAT MEKANIS DAN PENGERASAN PRESIPITASI PADUAN Al-Zn-Mg DENGAN VARIASIKANDUNGAN Cu SELAMA AGEING PADA TEMPERATUR 120 °C. Paduan aluminium-sengmagnesium-tembaga memiliki aplikasi penting dalam industri penerbangan. Pengaruh Cu terhadap sifat mekanisdan presipitasi dilakukan melalui investigasi sistematis terhadap paduan Al-Zn-Mg-Cu dengan 20 variasikomposisi (kisaran konsentrasi Cu 0,4-1,6 at. % dan Zn (= konsentrasi Mg 1,7-3,0 at. %) selama ageing padatemperatur 120 °C. Unit dapur induksi vakum VTC 200 digunakan untuk mempersiapkan semua paduan.Mikrostruktur hasil pengecoran diamati dengan mikroskop optik. Pengukuran kekerasan dilakukan pada sampeldengan beberapa variasi waktu ageing untuk mendapatkan kurva age hardening dan mengungkap pengaruh Cudalam paduan Al-Zn-Mg. Karakterisasi dengan SEM dan EDS dilakukan untuk mengungkap evolusimikrostruktur presipitat. Perbandingan kurva kekerasan menunjukkan bahwa penambahan Cu memberikan efekpeningkatan kekerasan cukup signifikan hingga komposisi Zn dan Mg mencapai 2,5 at. %. Pada kadar Zn danMg yang tinggi (2,9 at. %) pengaruh Cu tidak lagi signifikan di dalam paduan. Fasa berwarna putih yaituCuMgAl2, atau CuAl2, atau Al7Cu2Fe (bila mengandung Fe). Fasa ini semakin meningkat dengan penambahankadar Cu dalam paduan. AbstractMECHANICAL PROPERTIES AND PRECIPITATION HARDENING OF Al-Zn-Mg ALLOYS WITHVARIATION IN Cu CONTENT DURING AGEING AT 120 °C. Aluminium-zinc-magnesium-copper alloyshave an important role in aerospace industry. A systematic investigation has been done to exploremicrostructural evolution in Al-Zn-Mg-Cu alloys with the variation in composition (range of concentration of Zn(= Mg concentration) is 1.7-3.0 at. % and Cu in the range of 0.4-1.6 at. %) during ageing at temperature of 120oC. An induction vacuum casting unit VTC200 was employed to prepare all Al alloys. Casting microstructureswas evaluated by using optical microscopy. Hardness test was performed on the aged samples to obtain thehardness curve and to reveal the influence of Cu addition on Al-Zn-Mg alloys. SEM and EDS characterizationwas performed to understand the precipitation microstructure evolution. Copper addition gives a significanteffect on the increasing of the hardness up to 2.5 at. % of Mg and Zn (Fig. 1). In high levels of Zn and Mgcontent (2.9 at. %), Cu effect was no longer significant in the alloys. The white phase precipitate indicated thepresence of CuMgAl2, or CuAl2, or Al7Cu2Fe if it contains Fe (Fig 2). These phases tend to increase with the Cuaddition in the alloys.
PREPARASI, SINTESIS Dan KARAKTERISASI MATERIAL CaMnO3 [Preparation, Synthesis and Characterization of CaMnO3 Material] Yudanto, Sigit Dwi
Metalurgi Vol 30, No 2 (2015): Metalurgi Vol.30 No.2 Agustus 2015
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.605 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v30i2.32

Abstract

CaMnO3 merupakan senyawa oksida dengan potensi aplikasi yang cukup luas, salah satunya yaitu thermoelectric. Sintesis CaMnO3 menggunakan bahan baku gugus karbonat berhasil dilakukan melalui metode reaksi padatan. Sintesis diawali dengan pencampuran kedua bahan baku secara stoikiometri dan dilanjutkan dengan penggerusan, kalsinasi, peletisasi dan penyinteran pada variasi suhu 1100, 1200 dan 1250oC. Pengamatan XRD menunjukkan kecenderungan pola difraksi yang sama pada tiap temperatur serta menunjukkan terbentuknya fasa tunggal CaMnO3. Nilai parameter kisi kristal CaMnO3 hasil penghalusan menggunakan metode Rietvield dengan sistem kristal orthorombic dan space group Pnma adalah a = ~5,26 Å; b = ~7,44 Å; dan c = ~5,27 Å. Mikrostruktur yang ditampilkan oleh mikroskop elektron menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu, ukuran butir akan semakin kecil dan kerapatan butir semakin meningkat. AbstractCaMnO3 is metal oxide compound with wide potential applications i.e thermoelectric. Synthesis of CaMnO3using carbonat groups material has been succesfully carried out through solid state reaction method. It isstarted by mixing of both CaCO3 and MnCo3 raw materials at a stoichimometri composition and followed bygrinding, calcinating, pelletizing and sintering at various temperatures of 1100 oC, 1200 oC and 1250 oC. XRaydiffraction results for all specimens show similar pattern at each temperature condition, namely theformation of single phase CaMnO3. Crystal lattice from refinement with Rietviled method that has beenidentified in orthorombic crystal system and Pnma space group was a = ~5,26 Å; b = ~7,44 Å; dan c = ~5,27Å. Microstructure of CaMnO3 phase shows that increasing temperature will increase grain density and reducegrain space.
Kerusakan Fatik Pada Baut Dan Mur Roda Kendaraan Ringan Untuk Operasi Tambang Batubara [Fatigue Failure Of Wheel Studs And Nuts Of Light Vehicles Used In Coal Mine Operation] Adnyana, D.N.
Metalurgi Vol 32, No 2 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 2 Agustus 2017
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1434.591 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v32i2.319

Abstract

Kendaraan ringan merupakan moda transportasi yang potensial dan efisien digunakan dalam mendukung operasi tambang batubara. Akan tetapi, karena kondisi jalan yang sangat buruk pada lokasi pertambangan, banyak kendaraan ringan yang saat ini digunakan sering mengalami kecelakaan akibat terjadi kelonggaran pada roda. Terjadinya kelonggaran pada roda tersebut sangat terkait dengan patahnya atau rusaknya baut dan/atau mur roda kendaraan tersebut. Dalam makalah ini dibahas jenis kerusakan dan faktor-faktor yang kemungkinan telah menyebabkan terjadinya kerusakan pada baut dan/atau mur roda kendaraan. Penelitian/pengujian metalurgi telah dilakukan dengan menggunakan sejumlah benda uji yang diambil dari baut dan mur roda kendaraan, baik yang telah rusak maupun yang tidak rusak. Berbagai pengujian laboratorium telah dilakukan meliputi: uji makro, analisa komposisi kimia, uji metalografi, uji kekerasan dan uji SEM (scanning electron microscopy) yang dilengkapi dengan analisis EDS (energy dispersive spectroscopy). Disamping itu, uji torsi juga telah dilakukan pada beberapa baut dan mur yang baru untuk mengukur hubungan antara momen torsi dan sudut torsi. Hasil dari penelitian/pengujian metalurgi yang diperoleh menunjukkan bahwa kerusakan pada baut roda disebabkan oleh retak atau patah lelah atau fatik akibat beban siklus yang bersifat tekukan searah dan pada tegangan nominal yang rendah.AbstractLight vehicle is a potentially useful and efficient mode of transportation to be utilized in supporting the coal mine operation. However, due to the harsh road condition at the mine site, many light vehicles presently used are frequently experiencing a number of incidents caused by loose wheel. The occurrence of this loose wheel is very much related with some broken or damaged wheel studs and/or nuts of the vehicle. Type of failure and factors that may have caused the damage of the wheel studs and/or nuts of the vehicles are discussed in this paper. The metallurgical assessment was conducted by preparing a number of specimens from the damaged and undamaged wheel studs and nuts of the vehicles. Various laboratory examinations were performed including macroscopic examination, chemical composition analysis, metallographic examination, hardness test and SEM (scanning electron microscopy) examination equipped with EDS (energy dispersive spectroscopy) analysis. In addition, torsion test was also conducted on several new studs and nuts to measure the relationship between the torque and angular displacement. Results of the metallurgical assessment obtained show that the damaged wheel studs have experienced fatigue crack or fracture that was caused by load cycling under unidirectional bending at a low nominal stress.
ANALISA KERUSAKAN PADA ATAP ZINCOATING DI LINGKUNGAN ATMOSFER INDUSTRI[Damage Analysis of Zincoted Roof in the Industrial Atmospheric] Anwar, Moch Syaiful; Sutowo, Cahya; Pramono, Andika Widya; Priyono, Budi; Nasoetion, Ronald
Metalurgi Vol 27, No 3 (2012): Metalurgi Vol.27 No.3 Desember 2012
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.095 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v27i3.232

Abstract

ANALISA KERUSAKAN PADA ATAP ZINCOATING DI LINGKUNGAN ATMOSFER INDUSTRI.Telah terjadi kerusakan pada atap salah satu pabrik di Kawasan Industri di Bekasi. Atap tersebut telahdilindungi oleh lapisan zinccoating. Namun, setelah pemakaian selama 16 bulan, atap tersebut telahmengalami kerusakan. Bentuk kerusakannya adalah deposit berwarna kecoklatan tebal dan tipis yangmenempel pada atap tersebut. Pada tulisan ini, analisa kerusakan yang dilakukan antara lain pemeriksaanvisual, SEM-EDAX, metalografi, uji kerapatan deposit, dan analisa laju korosi. Hasil menunjukkan bahwawarna kecoklatan yang menempel pada atap tersebut disebabkan karena adanya deposit besi oksida dariudara. Adanya deposit tersebut mengakibatkan terjadi korosi galvanik antara deposit besi oksida denganzinccoating. Laju korosi terbesar ditemukan pada atap dengan deposit warna kecoklatan tebal. AbstractThere has been damage to the roof of a factory in Industrial Area in Bekasi. The roof has been coated by azincoating. However, after 16 months of usage, the roof has been damaged. The form of damage is thick andthin brownish deposits that stick on the roof. In this paper, the analysis of the damage include visualinspection, SEM-EDAX, metallography, test of deposit density, and analysis of the corrosion rate. Theresults showed that the color brown that sticks to the roof caused by the deposit of iron oxide from the air.The existence of deposits resulted in galvanic corrosion between iron oxide deposit and zincoating layers.Greatest corrosion rate was found in the roof with a thick brownish deposits.
Karakteristik Sifat Mekanik dan Struktur Mikro Baja Laterit Paduan Ni-Cr-Mn Hasil Tempa Panas Dengan Variasi Beban Tempa Herbirowo, Satrio; Adjiantoro, Bintang; Citrawati, Fatayalkadri
Metalurgi Vol 33, No 1 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 1 April 2018
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.037 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v33i1.338

Abstract

Baja laterit merupakan baja berbahan dasar bijih nikel laterit. Bijih nikel laterit biasa diabaikan penambang karena faktor ekonomis dan lebih mencari nikel yang berada dibawah lapisan limonit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik baja laterit yaitu sifat kekerasan, ketangguhan, struktur mikro, dan struktur patahan baja laterit dengan variasi beban pada proses penempaan panas (hot forging). Penempaan panas menggunakan 3 variasi beban tempa yaitu 50, 75, dan 100 ton serta bahan awal (As Cast) dengan 1 kali penempaan pada temperatur pemanasan 1200°C. Penempaan panas menghasilkan reduksi As Cast (0%), 50 ton (18.06%), 75 ton (31.02%), dan 100 ton (31.72%). Hasil pengujian karakterisasi material menunjukkan bahwa nilai kekerasan tertinggi dan nilai impak tertinggi pada reduksi 31.02% sebesar 61.21 HRC dan 0.21 Joule/mm2. Struktur mikro yang terbentuk pada As Cast adalah ferit dan perlit sedangkan pada hasil penempaan panas adalah bainit. Hasil struktur patahan menggunakan Scanning Electron Microscope menunjukkan bahwa ukuran butir semakin halus dan pipih seiring bertambahnya beban tempa panas.
PEMBUATAN MATERIAL KOMPOSIT MATRIKS PADUAN Al–6,2%Mg/Al2O3(p) DENGAN PROSES STIRR-CASTING Adjiantoro, Bintang; Sriyono, Bambang
Metalurgi Vol 29, No 1 (2014): Metalurgi Vol.29 No.1 April 2014
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.863 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v29i1.272

Abstract

PEMBUATAN MATERIAL KOMPOSIT MATRIKS PADUAN Al–6,2%Mg/Al2O3(p) DENGAN PROSESSTIRR-CASTING. Penelitian pembuatan material komposit matriks logam telah dilakukan denganmenggunakan metoda stirr-casting pada matriks paduan Al–6,2%Mg dengan penguat partikel Al2O3. Percobaandilakukan dengan memvariasikan persen fraksi volume partikel (2,5 ; 5,0 dan 7,5%) dan ukuran partikel (100;200 dan 270 mesh). Dari hasil percobaan menunjukkan bahwa persen fraksi volume partikel sangat berpengaruhterhadap sifat mekanik dan struktur mikro dari material komposit matriks paduan Al–6,2%Mg/Al2O3(p).Semakin besar fraksi volume dan semakin halus ukuran partikel Al2O3, ukuran besar butir relatif semakin haluspula dan distribusi partikel Al2O3 semakin merata
PENGARUH PROSES IN-SERVICE WELDING PADA NILAI KEKERASAN SAMBUNGAN [Influence Of In – Service Welding Process On Joining Metal Hardness Value ] Martides, Erie
Metalurgi Vol 30, No 1 (2015): Metalurgi Vol.30 No.1 APRIL 2015
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.402 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v30i1.106

Abstract

Pengelasan merupakan metode penyambungan dua buah material atau lebih yang handal yang sering digunakan untuk proses instalasi, perawatan dan perbaikan. In-service welding yaitu penyambungan material pipa dalam kondisi operasi berjalan yang dialiri fluida. Penyambungan dilakukan antara 2 buah pipa API 5L X60, dengan jenis sambungan fillet, proses SMAW dan posisi 5F. Hasil sambungan dilakukan pengujian dan pemeriksaan secara merusak di laboratorium, yang meliputi pengujian bengkok, kekerasan dan pemeriksaan struktur makro. Peranan pemanasan awal sangat penting untuk menghindari perbedaan signifikan antara temperatur di logam dasar, logam cair dan fluida kerja serta untuk menghindari retakan. Terjadi fenomena pendinginan cepat pada in-service welding yaitu pada daerah pengelasan yang mendekati pipa berfluida, sehingga menghasilkan nilai kekerasan pada daerah terpengaruh panas (HAZ) lebih tinggi dari logam dasar maupun logam cair. AbstractWelding is a reliabel method to joints two material or more, and its use in instalation process, maintenance and repairingprocess. In-services welding is joining the pipe material, where the pipe in working condition which still flowed by fluids.Joining process conduct between 2 API 5L X60 pipes using fillet joints type, SMAW process and 5F position. Specimenof welded materials tested and inspected in laboratory, the tests encompass bending, hardness, and macro structure. Theroles of preheating is very important to avoid significant differentiation between temperature at the base metal, weld metal,and working fluids, also its to avoid craks. Rapid cooling phenomena occurs in in-services welding at welded area whichnear to the fluided pipe, as a result the area of heat affected zone (HAZ) has a higher hardness value than the base metal andweld metal.
Pengaruh Suhu dan Waktu Tempering Terhadap Kekerasan, Struktur Mikro, dan Laju Korosi Baja Tahan Karat Martensitik 13Cr3Mo3Ni [The Influence of Time and Temperature Tempering on Hardness, Microstructure and Corrosion Rate of 13Cr3Mo3Ni Stainless Steel] Perdana, Hadi; Anwar, Moch Syaiful; Juniarsih, Andinnie; Mabruri, Efendi
Metalurgi Vol 32, No 1 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 1 April 2017
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.588 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v32i1.222

Abstract

The 13Cr3Mo3Ni martensitic stainless steel is the modified 410 type steel for steam turbine blade application. This paper reports the effect of tempering temperature and time on hardness, microstructure and corrosion rate of the modified steel. Microstructure observation was performed using optical microscopy and SEM-EDS, hardness testing using Rockwell C hardness tester and the corrosion test in 3.5% NaCl solution using Gamry G750 instrument. In general, the hardness of the steel decreased with increasing of tempering temperature. However, the hardness increased at the tempering temperature 500-650 °C showing secondary hardening, and the metal carbides with sub-micron in sizes were observed in the microstructure. Longer tempering time of 6 h resulted in decreased hardness without secondary hardening It can be reported also that the tempering temperature changed the potential, current and rate of corrosion of the13Cr3Mo3Ni steel. AbstrakBaja tahan karat 13Cr3Mo3Ni merupakan modifikasi dari baja tahan karat martensitik 410 untuk digunakan sebagai material sudu pada turbin uap. Tulisan ini memaparkan pengaruh suhu dan waktu  tempering terhadap kekerasan, struktur mikro dan laju korosi baja tahan karat martensitik 13Cr3Mo3Ni. Pengujian yang dilakukan adalah pengamatan struktur mikro menggunakan mikroskop optik dan SEM-EDS, uji kekerasan dengan Rockwell C dan uji korosi di dalam larutan 3,5% NaCl dengan alat Gamry G750. Secara umum kekerasan baja menurun dengan naiknya suhu tempering, kecuali pada suhu 500-650 °C terjadi peningkatan kekerasan akibat adanya secondary hardening dan karbida logam berukuran sub-mikron teramati sebagai penyebabnya. Peningkatan waktu tempering menjadi 6 jam mengakibatkan penurunan kekerasan dan penghilangan efek secondary hardening. Perbedaan suhu tempering juga menghasilkan perbedaan potensial, arus serta laju korosi baja 13Cr3Mo3Ni.
KARAKTERISASI NANOSTRUKTUR KARBON DARI GRAFIT HASIL MILLING[Characterization of Nanostructured Carbon from Graphite as Milling Product] Yunasfi, Yunasfi
Metalurgi Vol 27, No 3 (2012): Metalurgi Vol.27 No.3 Desember 2012
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.5 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v27i3.238

Abstract

KARAKTERISASI NANOSTRUKTUR KARBON DARI GRAFIT HASIL MILLING. Telah dilakukankarakterisasi nanostruktur karbon dari grafit hasil milling. Nanostruktur karbon dibuat melalui proses millingdengan teknik high energy milling (HEM) terhadap serbuk grafit dengan variasi waktu milling antara 25 jamsampai 100 jam. Serbuk grafit hasil milling kemudian diidentifikasi fasanya dengan metoda difraktometer sinarx(XRD), ukuran partikel yang terbentuk dengan metoda particle size analyzer (PSA) dan diamati secara detiltopologinya dengan metoda transmission electron microscopy (TEM). Hasil identifikasi fasa terhadap serbukgrafit hasil milling menunjukkan bahwa hanya muncul puncak difraksi C(002) dan C(004). Hal ini menunjukkanbahwa struktur grafit masih didominasi oleh fasa heksagonal. Intensitas puncak difraksi ini semakin rendahseiring dengan bertambahnya waktu milling. Hasil analisa dengan PSA menunjukkan terbentuknya karbonnanostruktur hasil milling, dimana ditunjukkan bahwa ukuran partikel karbon semakin kecil seiring denganpeningkatan waktu milling, yaitu dari 540 nm (25 jam) menjadi 190 nm (75 jam). Hasil analisa TEMmenunjukkan adanya serat-serat pipih panjang berukuran diameter 10 - 75 nm dan panjang 20 - 200 nm.Kuantitas serat karbon ini semakin banyak seiring dengan peningkatan waktu milling. Hal ini menunjukkanbahwa akibat adanya tumbukan antara partikel karbon dengan bola-bola milling selama proses millingmengakibatkan penghancuran partikel-partikel karbon sampai ke ukuran nano serta pembentukan serat karbon. AbstractCharacterization of nanostructured carbon from graphite as milling product of High Energy Milling (HEM)technique was carried out. Nanostructured Carbon was prepared by milling process against the graphitepowder with various of milling time between 25 hours up to 100 hours. A milled graphite powder was thenidentified their phase by using phase identification with X-Ray Diffractometer methods, formed particle sizewas measured by Particle Size Analyzer (PSA) and the detail phase including the tophology andmeasurement of particle size were observed with Transmission Electron Scanning (TEM) methods. Theresult of identification phase of the graphite powder milling results showed that the intensity of diffractionpeaks which appear only diffraction peaks for carbon C(002) C(004) and C(110), while for other atoms donot identified. This indicates that the graphite structure is still dominated by the hexagonal phase. Theintensity of diffraction peaks is lower along with increasing milling time. PSA analysis result shows theformation of carbon nanostructure as the result of milling process, which the carbon particle size decreaseswith the increasing of milling time; from 540 nm (25 hours) to 190 nm (75 hours). TEM analysis resultshows the existence of long small fiber with the size of 10 – 75 nm and the length of 20 – 200 nm. Thisshows that the result of collisions between particles of graphite powder with milling balls during millingprocess, resulting in the destruction of the graphite particles until nano size and also in the forming of carbonfiber.
PELUANG PENELITIAN UNTUK MEMPERBAIKI TEKNOLOGI PROSES UNTUK MENGOLAH BIJIH NIKEL LATERIT KADAR RENDAH INDONESIA[ Prasetiyo, Puguh
Metalurgi Vol 26, No 2 (2011): Metalurgi Vol.26 No.2 Agustus 2011
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.181 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v26i2.12

Abstract

Indonesia kaya dengan SDA (Sumber Daya alam) bijih  nikel oksida yang  lazim disebut  laterit. Laterit berkadar nikel tinggi saprolit (Ni>1,8%) sudah diolah dengan jalur proses pirometalurgi di Sulawesi Tenggara untuk memproduksi ferro nikel (FeNi) oleh PT Aneka Tambang di Pomalaa, atau untuk memproduksi Ni-matte oleh Vale INCO di Soroako. Laterit berkadar nikel rendah yang terdiri dari limonit dan saprolit dengan Ni<1,8 %, belum diolah di tanah air. Untuk  mengolahnya digunakan proses Caron atau proses HPAL/PAL (HighPressure Acid Leaching). Dimana kedua proses tersebut termasuk jalur proses hidrometalurgi. Pemerintah telah memberi ijin kepada pihak asing untuk mengolah laterit kadar rendah pulau Gag Papua dengan proses Caron pada PT Pasific Nickel USA pada tahun 1967 (menjelang awal Orde Baru). Akibat harga minyak dunia yang naik secara dramatis setelah 1973, maka PT Pasific Nickel membatalkan rencananya dan mengembalikan ijin ke pemerintah. Ijin juga diberikan pada dua PMA (Penanaman Modal Asing) pada Januari 1998 (menjelang akhir Orde Baru) untuk mengolah laterit kadar rendah dengan proses HPAL/PAL, yaitu PT BHP Australia untuk mengo lah laterit pulau Gag Papua, dan PT Weda Bay Nickel (WBN) Canada untuk mengo lah laterit teluk Weda Halmahera.  Dalam perjalanan waktu PT WBN Canada dimiliki Eramet Perancis sejak Mei 2006, dan sampai saat ini (2011) tidak ada kepastian kapan PT WBN Eramet Perancis merealisasikan proyeknya. Sedangkan PT BHP Australia mengembalikan ijin pulau Gag ke pemerintah pada awal tahun 2009. Kenyataan mundurnya tiga (3) PMA dari Indonesia untuk mengo lah laterit kadar rendah dengan jalur proses hidrometalurgi. Bisa menjadi peluang bagi pemerintah untuk menguasai sebagian teknologi yang akan digunakan oleh pihak asing untuk mengolah  laterit  kadar  rendah.  Penguasaan  teknologi tersebut  diperoleh  dari aktifitas  penelitian,  dan  hasil penelitian dipatenkan. Dengan demikian diharapkan pemerintah bisa punya posisi tawar untuk meningkatkan kepemilikan saham dengan pihak asing. Apabila di kemudian hari ada pihak asing yang berminat mengolah laterit pulau Gag Papua dan wilayah lain di Kawasan Timur Indonesia. Atas dasar penjelasan diatas maka dibuat tulisan ini AbstractThe low grade laterite (limonite and saprolite with Ni < 1.8 %) has not yet processed in Indonesia. It uses process hydrometallurgy. The government of Indonesia has been give permission to foreign company to process the low grade laterite with hydrometallurgy (Caron process and HPAL process). Process Caron is used to process laterite Gag island Papua for PT Pasific Nickel USA on 1967. The dramatical increase price of fuel oil after 1973, it become PT Pasific Nickel give up plan and it give back the permission to the government. Process HPAL (High Pressure Acid Leaching) are used to process laterite teluk Weda (Weda Bay) Halmahera for PT Weda Bay Nickel (WBN) Canada and Gag island Papua for BHP Australia. Two companies got the permission on last new era on January 1998. The permission of Gag island Papua is returned by BHP Australia on first year 2009 and the uncertainity when PT WBN Eramet France (PT WBN Canada takes over by Eramet on May 2006) to build HPAL plant. It becomes opportunity to control the part of technology to process the low laterite via research. So the government has bargaining position to increase share at foreign company.

Filter by Year

2011 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 34, No 3 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 3 Desember 2019 Vol 34, No 2 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 2 Agustus 2019 Vol 34, No 1 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 1 April 2019 Vol 34, No 1 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 1 April 2019 Vol 33, No 3 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 3 Desember 2018 Vol 33, No 2 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 2 Agustus 2018 Vol 33, No 1 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 1 April 2018 Vol 32, No 3 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 3 Desember 2017 Vol 32, No 3 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 3 Desember 2017 Vol 32, No 2 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 2 Agustus 2017 Vol 32, No 2 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 2 Agustus 2017 Vol 32, No 1 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 1 April 2017 Vol 31, No 3 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 3 Desember 2016 Vol 31, No 2 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 2 Agustus 2016 Vol 31, No 1 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 1 April 2016 Vol 30, No 3 (2015): Metalurgi Vol. 30 No. 3 Desember 2015 Vol 30, No 2 (2015): Metalurgi Vol.30 No.2 Agustus 2015 Vol 30, No 1 (2015): Metalurgi Vol.30 No.1 APRIL 2015 Vol 29, No 3 (2014): Metalurgi Vol.29 NO.3 Desember 2014 Vol 29, No 2 (2014): Metalurgi Vol.29 No.2 Agustus 2014 Vol 29, No 1 (2014): Metalurgi Vol.29 No.1 April 2014 Vol 29, No 1 (2014): Metalurgi Vol.29 No.1 April 2014 Vol 28, No 3 (2013): Metalurgi Vol.28 No.3 Desember 2013 Vol 28, No 2 (2013): Metalurgi Vol.28 No.2 Agustus 2013 Vol 28, No 1 (2013): Metalurgi Vol.28 No.1 April 2013 Vol 27, No 3 (2012): Metalurgi Vol.27 No.3 Desember 2012 Vol 27, No 2 (2012): Metalurgi Vol. 27 No. 2 Agustus 2012 Vol 27, No 1 (2012): Metalurgi Vol. 27 No. 1 April 2012 Vol 26, No 3 (2011): Metalurgi Vol. 26 No. 3 Desember 2011 Vol 26, No 2 (2011): Metalurgi Vol.26 No.2 Agustus 2011 Vol 26, No 1 (2011): Metalurgi Vol. 26 No. 1 April 2011 More Issue