cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
MUWAZAH: Jurnal Kajian Gender
ISSN : 20858353     EISSN : 25025368     DOI : -
Core Subject :
Muwazah adalah jurnal kajian gender dengan ISSN Print: 2085-8353; Online: 2502-5368 yang diterbitkan oleh Pusat Studi Gender (PSG) IAIN Pekalongan. Kata Muwazah berasal dari bahasa Arab yaitu (??????) yang memiliki arti kesetaraan. Jurnal ini fokus pada isu-isu aktual dan kontemporer yang berkaitan dengan kajian gender lokalitas dalam berbagai perspektif. Redaksi mengundang para ilmuwan, sarjana, professional, praktisi dan peneliti dalam berbagai disiplin ilmu yang konsern terhadap kajian gender berupa analisis, aplikasi teori, hasil penelitian, terjemahan, resensi buku, literature review untuk mempublikasikan hasil karya ilmiahnya setelah melalui mekanisme seleksi naskah, telaah mitra bebestari, dan proses penyuntingan. Jurnal ini terbit setahun dua kali setiap bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 415 Documents
CITRA KAUM PEREMPUAN DI HINDIA BELANDA Hidayani, Fika; Hardini, Isriani
MUWAZAH Vol 8 No 1: Juni 2016
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.544 KB)

Abstract

This article illustrates the position of Indonesian women in the Dutch colonial era, where women were treated arbitrarily, and they did not have the rights as human beings which equal to men. In fact, due to economic conditions and necessity, these women were willing to become a mistress and housekeeper in the Dutch household in Indonesia. This article is an interesting to discuss because the condition of women in Dutch colonial are rarely exposed to the media. A condition that was very dramatic that never happened again to women in Indonesia.Artikel ini menggambarkan mengenai kedudukan perempuan Indonesia ketika zaman penjajahan Belanda, di mana perempuan diperlakukan semena-mena, dan tidak diberikan haknya sebagai manusia yang sederajat dengan kaum pria. Bahkan dikarenakan kondisi ekonomi dan keterpaksaan, para perempuan ini rela menjadi gundik dan nyai bagi rumah tangga orang Belanda yang tinggal di Indonesia. Artikel ini menarik dibahas karena kondisi perempuan seperti ini jarang terekspos media. Suatu kondisi yang sangat miris yang diharapkan tidak akan terjadi lagi pada perempuan di Indonesia.
PERAN AKTIF PEREMPUAN MUSLIM Munir, Taufik
MUWAZAH Vol 6 No 1: Juni 2014
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1452.82 KB)

Abstract

Abstract :  Issues on the Status of Women in Islam will always be a discourse which is always inviting pros and cons. Although in terms of women's rights has been codified in revelation and tradition of the Prophet (Hadith), but it turns out after him after the death, the condition of Muslim women considered to be undergoing drastic changes. The amendment relates to the concept of women's liberation, along with changes in the interpretation of the validity of the scholars of fiqh sources-formal legal about women's rights in Islam. The emergence of stigmatization in our society, that women do not need to play outside the home also play a role worsen climate of freedom for women. Abstrak : Isu tentang Status Perempuan dalam Islam akan selalu menjadi wacana yang selalu mengundang pro dan kontra. Meskipun dalam hal hak-hak perempuan telah dikodifikasi dalam wahyu dan tradisi Nabi (Hadis), tetapi ternyata setelah dia setelah kematian, kondisi perempuan Muslim dianggap mengalami perubahan drastis. Perubahan tersebut berkaitan dengan konsep pembebasan perempuan, bersama dengan perubahan dalam interpretasi validitas ulama sumber formal hukum tentang hak-hak perempuan dalam Islam fiqh. Munculnya stigmatisasi di masyarakat kita, bahwa wanita tidak perlu bermain di luar rumah juga berperan memperburuk iklim kebebasan bagi perempuan
PEREMPUAN DALAM SYARIAT ISLAM DAN HAK ASASI MANUSIA Suyatno, Suyatno
MUWAZAH Vol 5 No 2: Desember 2013
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2043.546 KB)

Abstract

Abstract : Islam since the beginning of the whole ummah's mandated to protect and put women in a safe position. So that embraces syar'i, women are actually safe and respectable position. But in reality, many obstacles and hurdles that actually invented by the Muslims themselves. The majority of Islamic legal interpretation and the results are written by scholars and men often bring bias in their views. Patriarchal culture has marginalized women, denying women as caliph fil ard, and deny justice teachings promoted by the Qur'an. Ideal-normative Islam does not differentiate between men and women, let alone discriminate against women. As carrier safety and kerahmatan entire universe (rahmatan li al-'aalamiin), Islam puts women's position as evidence of primacy. Women are not appreciated at the time of ignorance, with the arrival of Islam he earned a place of honor, getting an education, open a wider kesempatann for actualization and selfdevelopment. Abstrak : Islam sejak awal seluruh umat yang diamanatkan untuk melindungi dan menempatkan perempuan dalam posisi yang aman. Jadi yang mencakup syar'i, wanita sebenarnya posisi aman dan terhormat. Namun pada kenyataannya, banyak kendala dan rintangan yang sebenarnya diciptakan oleh Muslim sendiri. Mayoritas penafsiran hukum Islam dan hasilnya ditulis oleh ulama dan orang-orang sering membawa bias dalam pandangan mereka. Budaya patriarki telah meminggirkan perempuan, menyangkal perempuan sebagai khalifah fil ard, dan menolak ajaran keadilan dipromosikan oleh AlQur'an. Islam Ideal-normatif tidak membedakan antara pria dan wanita, apalagi mendiskriminasikan perempuan. Sebagai pembawa keselamatan dan kerahmatan seluruh alam semesta (rahmatan li al-'aalamiin), Islam menempatkan posisi perempuan sebagai bukti keutamaan. Wanita tidak dihargai pada saat kebodohan, dengan kedatangan Islam ia mendapatkan tempat terhormat, mendapatkan pendidikan, membuka kesempatann yang lebih luas untuk aktualisasi dan pengembangan diri.
Pengembangan Spiritualitas dalam Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Gender dalam Perspektif Islam masfifah, masfifah
MUWAZAH Vol 10 No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.256 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v10i1.1289

Abstract

paper ini membahas tentang pengembangan spritualitas  dalam pendidikan dan pelatihan berbasis gender dalam perspektif Islam. Pembahasan meliputi pemahaman terhadap wacana kesetaraan gender dalam perspektif Islam, dan  pengembangan spiritualitas dalam pendidikan dan pelatihan berbasis gender dalam Islam.  Kesimpulan dalam  kajian ini  menunjukan bahwa  eksistensi kaum perempuan dalam perspektif Islam adalah sejajar dan setara dengan kaum laki-laki dalam hal persaudaraan, kasih sayang, tolong menolong dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan kegiatan politik. Namun karena struktur dan sifat fisik serta biologis antara laki-laki dan perempuan adalah berbeda maka fungsinyapun tentu juga berbeda secara kodrati. Oleh karena itu sangat tidak adil apabila dalam semua bidang kehidupan, perempuan harus dipersamakan dengan laki-laki dan atau sebaliknya.  Dalam pendidikan dan pelatihan, sikap spiritual dapat diintegrasikan dalam setiap tema atau konsep yang akan dipelajari bersama peserta pendidikan dan pelatihan. Materi pendidikan dan pelatihan yang berupa teori, konsep, fakta, dan temuan penelitian dikaitkan dengan kitab suci (al-Qur’an) dan al-Hadist agar dapat menimbulkan kesadaran bahwa ada zat yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu sehingga pada akhirnya akan menumbuhkan  keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
Peningkatan Peran Masyarakat dalam Pencegahan KDRT Melalui Penyuluhan Anti Kekerasan Berbasis Gender Farmawati, Cintami
MUWAZAH Vol 10 No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1071.376 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v10i2.1779

Abstract

Riset partisipatoris ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pencegahan KdRT, melalui penyuluhan anti kekerasan berbasis gender. Lokasi penelitian di Semarang. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi langsung, wawancara dengan peserta penyuluhan, pre test dan post test. Hasil analisis menunjukkan bahwa, ada peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang Undang-undang Penghapusan KDRT, situasi kekerasan berbasis gender dan problematika pendampingan serta program-program pemerintah dalam penghapusan kekerasan berbasis gender. Selain itu, adanya perubahan sikap yang ditunjukan melalui partisipasi peserta dalam kegiatan, kemampuan menjelaskan dan menguraikan tentang materi yang telah disampaikan oleh narasumber, menyampaikan ide dan pemikiran mengenai langkah dan solusi yang dapat dilakukan dalam menghapus kekerasan berbasis gender, dus KDRT. Oleh karena itu,seharusnya dikembangkan pendekatan keagamaan untuk mengurangi fundamentalisme agama yang merugikan kaum perempuan dalam berbagai kegiatan penyuluhan, sosialisasi, kampanye dan lain-lain.
Perempuan dalam Pusaran Prostitusi: Kajian Yuridis Normatif dalam Fenomena Prostitusi Online di Indonesia Khasanah, Uswatun
MUWAZAH Vol 11 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1067.27 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v11i1.1890

Abstract

This paper examines prostitution which in practice has always been identified with women. Prostitution is a social problem that is passed down from time to time with various modes that always develop along with the development of lifestyle and technology. The focus of this study is how is the normative juridical review of the issue of women and prostitution? The method used in this article is the library study method. Through a normative juridical approach, the author will examine the issue of prostitution based on the main legal material, namely to see the arguments originating from the Qur'an and hadith, as well as legislation in force in Indonesia. In the final section the author tries to present a solution to stem the practice of prostitution. In this study it was found that prostitution in Indonesia has existed since the kingdom era, continued during the Dutch and Japanese colonies. Prostitution is a crime that is contrary to Islamic law and legislation in Indonesia. Surat an-Nur (24): 30-33 strictly prohibits the practice of prostitution. This ban applies to anyone not only to women who are prostitutes. Juridically normative legislation in Indonesia concerning prostitution is article 296, 506 of the KUHP, UU No. 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions, UU No. 44 of 2008 concerning Pornography, UU No. 21 of 2007 concerning Eradication of Criminal Acts on Trafficking in Persons and UU No. 23 of 2003 concerning Child Protection. Efforts to stem the main prostitution began with the family. Optimizing the role of parents -both father, mother and teacher as an extension of their parents' hand- can be a solution in an effort to improve children's moral resilience, which in turn can stem a variety of negative behaviors that conflict with norms and religion, including prostitution.
Perempuan dan Komunikasi Politik: Strategi Meraih Suara Perempuan di Pemilihan Umum Melalui Metode Gender Trends Utomo, Endhar Priyo
MUWAZAH Vol 11 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.508 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v11i1.1884

Abstract

Kajian ini memiliki tujuan utama untuk merumuskan strategi komunikasi politik meraih suara pihak perempuan dalam pemilihan umum dengan memanfaatkan metode Gender Trends yang dikenalkan oleh Barletta. Pemilihan umum (Pemilu) merupakan salah satu konstelasi politik yang lazim dilakukan di sebuah negara demokrasi. Partisipasi perempuan dalam ranah publik seperti halnya pengambilan keputusan melalui metode pemilihan umum (Pemilu) ini memiliki peranan yang sangat penting untuk menaikkan jumlah suara yang akan diperoleh para kandidat peserta pemilihan, baik itu kandidat presiden dan wakil presiden maupun para kandidat calon legislatif yang menjadi wakil dari beberapa partai peserta Pemilu. Melihat begitu pentingnya suara perempuan ini, menjadikan para kandidat harus memiliki suatu strategi untuk dapat menarik simpati dari para pemilih perempuan. Kajian dengan pemanfaatan metode Gender Trends ini akan sedikit banyak membantu para kandidat untuk memahami atas apa yang diinginkan oleh para pemilih perempuan. Metode ini sebenarnya adalah metode yang diterapkan dalam strategi pemasaran untuk menarik minat dari para pelanggan perempuan. Namun, setelah dilakukan riset sederhana, tampaknya sangat tepat apabila diterapkan dalam kajian ini. Kajian ini merupakan kajian dengan pendekatan kualitatif dan memanfaatkan studi kepustakaan. Berdasarkan hasil kajian, rumusan hipotesis yang mampu meningkatkan jumlah suara pemilih dari pihak perempuan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a) identifikasi faktor peningkat suara perempuan dalam Pemilu, b) menemukan dimensi peningkat suara perempuan dalam Pemilu, dan c) menemukan strategi meraih suara perempuan dalam Pemilu.
Poligami dalam Perspektif Gender: Studi Terhadap Kiai di Kabupaten Cirebon Maliki, Noval; Fitriah, Fitriah; Khoiri, Imam Ali
MUWAZAH Vol 11 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.004 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v11i1.1976

Abstract

This article discusses the concept of gender in polygamy kiai in Cirebon Regency. There are four polygamy kiais who are the resource persons in this study who use qualitative-descriptive methods as this method, with religious education backgrounds that are relatively different each other. Kiai is an important figure for the gender mainstreaming campaign in view of his position which is still considered important in the community. Moreover, gender-biased constructions very often, if not always, hide behind the cloak of religious truth. Their status as polygamy kiai are interesting to study the conception of gender behind them. The results of this study indicate that the views of all polygamy kiai who become the resource persons still have a gender biased construction with religion as the main justification for such views. This indicates that the socialization related to gender equality discourse is still not optimal or at least has obstacles precisely in an environment that has wider religious knowledge.
Perempuan dalam Jaringan Radikalisme vis a vis Terorisme Global Rosyid, Moh.
MUWAZAH Vol 10 No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1196.936 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v10i2.1782

Abstract

Abstrak: Paper ini mengekplorasi tentang perempuan dalam kerangka  jaringan radikal global yang mengatasnamakan Islam sebagai basis perjuangannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan sumber data dari media massa maupun media elektronik ( Koran, Televisi, Media Sosial, dan lain-lain). Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumen. Teknik analisis menggunakan analisis konten. Hasil penelitian menunjukan bahwa, Keterlibatan perempuan dalam gerakan teroris teridentifikasi sejak tahun 1970-an , dimana perempuan menjadi pelaku pengeboman setelah dicuci otaknya oleh teroris lelaki. Faktor yang menyebabkan keterlibatan kaum perempuan, yaitu: 1) sebagai pelarian akibat perlakuan diskriminatif yang menimpanya; 2) alasan  kepedulian terhadap ketimpangan yang diderita masyarakat muslim global; 3)  kesadaran beragama yang sempit sehingga dengan menjadi pelaku teroris mereka merasa mendapatkan posisi sosial yang setara dengan teroris lelaki dalam berjihad; 4) psikologis yang sedang labil karena ada masalah, dan mereka berselancar di media social, sehingga rentan terjebak menjadi pelaku terror dan; 5) perempuan yang suaminya menjadi teroris dilibatkan pula sebagai teroris. Strategi yang dilakukan kelompok teroris dalam menaklukkan perempuan adalah dengan menikahi mereka, bahkan menikahi mereka melalui Media Sosial yang dihalalkan dan/atau disahkan, agar menurut kehendak suami.
Waris Kesetaraan Gender: Komparasi Perspektif Wahbah Az-Zuhaily dan Muhammad Syahrur Yudha, Alda Kartika
MUWAZAH Vol 11 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (939.588 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v11i1.1892

Abstract

Permasalahan dalam ilmu waris bukanlah permasalahan yang ringan. Kewarisan Islam selalu bersinggungan dengan banyak hal yang harus diperhatikan. Oleh karenanya, studi yang hanya terfokus pada hukum waris Islam tanpa memperhatikan aspek-aspek yang lainnya menjadi satu-kesatuan justru akan menimbulkan masalah yang lebih banyak. Asumsi dasar yang digunakan oleh beberapa golongan kadang juga bersifat ekstrem. Dalam konteks pewarisan, pandangan Zuhaily dan Syahrur tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan menarik untuk diungkap. Semangat keduanya sama-sama memperjuangkan keadilan dan kesetaraan waris antara laki-laki dan perempuan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dua pemikir muslim ternama kaitannya dengan hukum kewarisan dalam Islam. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan penelusuran data pustaka. Analisis yang digunakan adalah analisis isi disandingkan dengan analisis sosial budaya untuk menyuguhkan alasan perbedaan pendapat kedua tokoh. Penelitian ini menemukan bahwa meskipun terdapat banyak persamaan di antara Syahrur dan Zuhaily, namun terdapat banyak perbedaan di antara keduanya. Perbedaan yang paling tampak terlihat pada cara keduanya menafsirkan kesetaraan dan keadilan waris antara laki-laki dan perempuan. Jika Zuhaily lebih banyak menggunakan nash, Syahrur lebih mengaitkan nash tersebut dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Jika dilihat dari aspek istinbatul ahkam, pendapat Zuhaily lebih kuat. Akan tetapi, jika melihat praktik kehidupan masyarakat, penafsiran Syahrur tentang kesetaraan waris terlihat lebih relevan.