cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
MUWAZAH: Jurnal Kajian Gender
ISSN : 20858353     EISSN : 25025368     DOI : -
Core Subject :
Muwazah adalah jurnal kajian gender dengan ISSN Print: 2085-8353; Online: 2502-5368 yang diterbitkan oleh Pusat Studi Gender (PSG) IAIN Pekalongan. Kata Muwazah berasal dari bahasa Arab yaitu (??????) yang memiliki arti kesetaraan. Jurnal ini fokus pada isu-isu aktual dan kontemporer yang berkaitan dengan kajian gender lokalitas dalam berbagai perspektif. Redaksi mengundang para ilmuwan, sarjana, professional, praktisi dan peneliti dalam berbagai disiplin ilmu yang konsern terhadap kajian gender berupa analisis, aplikasi teori, hasil penelitian, terjemahan, resensi buku, literature review untuk mempublikasikan hasil karya ilmiahnya setelah melalui mekanisme seleksi naskah, telaah mitra bebestari, dan proses penyuntingan. Jurnal ini terbit setahun dua kali setiap bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 415 Documents
Perempuan Difabel Berhadapan Hukum Julijanto, Muhammad
MUWAZAH Vol 10 No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1113.589 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v10i2.1785

Abstract

Paper ini memaparkan tentang perempuan difabel yang berhadapan dengan hokum yang sebagian besar terkait kasus kekerasan seksual. Penanganan kasus perempuan  difabel, mengalami kendala, antara lain: para penegak hokum belum mempunyai pemahaman yang maksimal terhadap difabel; 2) akses terbatas; 3) bukti terbatas: 4) kesulitan berkomunikasi ; 5) masyarakat tidak mau menjadi saksi; 6) lamanya proses hukum ; 7) minimnya pengetahuan tentang hukum; 8) di kepolisian tidak ada pendampingan saat pemeriksaan, ruang pemeriksaan tidak mudah diakses, dan minimnya informasi untuk korban; 9) jaksa tidak memberi informasi jika berkas sudah dilimpahkan dan; 10) hakim kesulitan berkomunikasi.Oleh karena itu, para penegak hukum harus memiliki persepsi yang sama terhadap difabel, sehingga mereka mendapatkan  keadilan hukum
Partisipasi Perempuan Dalam Penyusunan Reusam Perlindungan Anak Di Tingkat Gampong Di Aceh Besar Mansari, Mansari
MUWAZAH Vol 10 No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1155.083 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v10i2.1780

Abstract

Partisipasi perempuan dalam penyusunan reusam gampong (aturan desa) yang mengatur tentang perlindungan anak relatif sedikit dibandingkan laki-laki. Padahal keikutsertaan perempuan memiliki peran penting supaya aturan yang dihasilkan dapat mewakili perannya.Tanpa keterlibatan perempuan berimplikasi pada reusam yang tidak berperspektif gender. Penelitian bertujuan menjawab permasalahan tentang, mekanisme dan partisipasi perempuan dalam perumusan reusam gampong di Kabupaten Aceh Besar, dan proses pelibatan perempuan dalam penyusunan reusam gampong. Penelitian empiris ini dilakukan di Kabupaten Aceh Besar di tiga gampong, yaitu Gampong Lambirah Kecamata Suka Makmur, Gampong Neusok Kecamatan Darul Kamal dan Gampong Neuheun Kecamatan Mesjid Raya. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan keuchik gampong (kepala desa), tokoh perempuan dan Tuha Peut Gampong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme penyusunan reusam dilakukan dengan cara bermusyawarah di meunasah dan balee (balai) pengajian dengan melibatkan berbagai unsur dalam masyarakat, terutama tokoh-tokoh gampong, perempuan bahkan anak-anak turut dilibatkan. Pelibatan perempuan biasanya dilakukan dengan cara diundang dengan pengeras suara di meunasah dan juga disampaikan secara lisan oleh Keuchik. Kehadiran perempuan belum maksimal dalam proses penyusunan reusam gampong dikarenakan penyusunannya dilakukan pada malam hari, waktunya istirahat, menjaga anak-anak di rumah, cuaca yang tidak mendukung karena hujan. Peran perempuan dalam reusam gampong telah tewakili dalam konteks penanganan anak berhadapan dengan hukum.
Islam Progresif dan Kesetaraan Gender Menurut Pemikiran Abdullah Saeed Khulaisie, Rusdiana Navlia
MUWAZAH Vol 11 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.377 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v11i1.1886

Abstract

Makalah ini mendeskripsikan tentang Islam Progresif, bahwa Islam Progresif adalah Islam yang menawarkan sebuah kontekstualisasi penafsiran Islam yang terbuka, ramah, segar, dan responsif terhadap setiap  persoalan kemanusian. Menurut Omid Safi, Islam Progresif merupakan kelanjutan dan kepanjangan dari gerakan Islam Liberal yang muncul sejak kurang lebih seratus lima puluh tahun yang lalu. Disisi lain,  tren ini juga muncul sebagai bentuk ungkapan ketidakpuasan mereka terhadap gerakan Islam Liberal yang lebih menekankan pada kritik internal terhadap pandangan dan perilaku umat Islam yang tidak atau kurang sesuai dengan nilai humanis. Sementara aspek modernitas, kolonialisme, dan imperialisme tidak mendapat perhatian yang cukup dari gerakan Islam Liberal. Abdullah Saeed dalam kesempatan ini menawarkan konsep pemahaman Islam yang dapat menjawab kebutuhan Masyarakat Muslim Kontemporer sehingga dapat diaplikasikan sebagai ajaran yang ??lih li kulli zam?n wa mak?n. 
Pembacaan Tafsir Feminis Nasarudin Umar Sebagai Tranformasi Sosial Islam Maulana, Luthfi
MUWAZAH Vol 9 No 1: Juni 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.777 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v9i1.1117

Abstract

This paper will reveal a feminist interpretation as a reading that can transform Islamic social, because social understanding of society has long been eroded by the reading of classical interpretation, which tends to be biased and discriminative against women, so through reading the feminist interpretation of Nasarudin Umar, Opening a just horizon of reading (equality), peace for both men and women. Due to his tafsir exposure which tends to be more concerned with social conditions, Nasaruddin Umar tries to give a new color in interpreting the Qur'an with etymological analysis, hermeneutics and using history to examine many words in the Qur'an. So the pattern of interpreter is more to consider the macro-social aspects than the micro in each verse, in order to produce a reading of tafsir that can transform the social state of Islamic society.
Diskriminasi Gender Dalam Pendidikan Handayani, Wuri
MUWAZAH Vol 10 No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.302 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v10i2.1784

Abstract

Artikel ini adalah analisis wacana diskriminasi gender dalam pendidikan. Dengan menggunakan metode kualitatif, studi telaah pustaka ini bertujuan menghasilkan formasi teoritis secara substantif berdasarkan konseptualisasi wacana gender dan pendidikan. Permasalahan yang diulas adalah apa, bagaimana terjadinya  dan  apa dampak diskriminasi gender di dalam pendidikan. Studi ini mengaji literatur mengenai tema terkait, dokumen-dokumen formal tentang pengarusutamaan gender serta data kualitatif lainnya dan data sekunder tentang wacana gender. Studi ini menggunakan pendekatan mikro yaitu ?wilayah? proses atau interaksi sosial antara individu-individu dalam proses pembelajaran yaitu siswa dan guru. Hasil kajian adalah diskriminasi gender dalam pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran sebagai kurikulum tersembunyi.Diskriminasi gender dalam pendidikan terjadi karena adanya proses sosialisasi (internalisasi, eksternalisasi dan objektivasi) nilai-nilai gender dalam proses pembelajaran sehingga menguatkan identitas peran  gender siswa, yang selanjutnya dapat berdampak pada pencapaian pendidikan yang tidak optimal (shortchanged).
Perempuan dalam Kungkungan Budaya Politik Patriarkhis Yuwono, Nurbaity Prastyananda
MUWAZAH Vol 10 No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1089.454 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v10i2.1781

Abstract

Partisipasi politik perempuan di Indonesia tergolong masih rendah, meskipun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan khusus bagi perempuan. Budaya politik patriarkhis menjadi hambatan utama dalam peningkatan partisipasi politik perempuan, karena membangun presepsi bahwa perempuan tidak pantas, tidak cocok dan tidak layak masuk ke ranah politik.  Anggapan bahwa perempuan lebih pantas berada di wilayah domestic, politik identik dengan hal yang bersifat maskulin, sehingga perempuan tidak cocok masuk ke wilayah politik dan, perempuan lemah akalnya dan tidak memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin, adalah hasil konstruksi budaya politik patriarkhi. Upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan partisipasi perempuan, antara lain: penyadaran politik perempuan; pendidikan politik berwawasan gender;  membangun dan memperkuat hubungan antar jaringan dan organisasi perempuan; menjaring kader partai politik perempuan yang berkualitas; rekonstruksi budaya dan reinterprestasi pemahaman agama yang bias gender; gerakan merubah struktur organisasi partai politik dan; mengefektifkan peraturan perundang-undangan.
Locus of Control Remaja dalam Perspektif Gender di Lembaga Pendidikan Islam Sugeng, Sugeng
MUWAZAH Vol 11 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.123 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v11i1.1888

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tentang: 1) locus of control secara umum 2) Perbedaan locus of control antara remaja laki-laki dan perempuan pada remaja MTs Al-Hikmah Proto Kedungwuni Pekalongan; dan 3) Analisis locus of control remaja dalam perspektif gender. Hasil penelitian menunjukkan locus of control adalah salah satu variabel kepribadian individu mengenai keyakinan akan kontrol diri terhadap peristiwa yang dialami dalam kehidupan yang ditentukan oleh diri sendiri (internal locus of control) atau dikontrol oleh lingkungan eksternal (external locus of control). Data lapangan pada remaja MTs al-Hikmah Proto Kedungwuni Pekalongan menunjukkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan diperoleh hasil bahwa Locus of Control Internal mereka lebih tinggi dibandingkan Locus of Control eksternal. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, bahwa tidak ada perbedaan skor yang bermakna antara  locus of control antara siswa laki-laki dan perempuan di MTs Al-Hikmah Proto Pekalongan. Oleh karenanya kesejajaran antara laki-laki dan perempuan sudah selayaknya dipertimbangkan dalam segala hal tugas dan tanggung jawab, baik dalam pendidikan maupun kehidupan sehari-hari dan masyarakat.
Dari Sakral Ke Profan: Pergeseran Budaya Perceraian di Kabupaten Cilacap Khotimah, Khusnul; Ahmad, Maghfur
MUWAZAH Vol 11 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.305 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v11i1.1893

Abstract

Penelitian ini membahas tentang adakah perubahan makna dan hakikat perkawinan, bagimana dampak perubahan sosial budaya masyarakat Cilacap sehingga perceraian terus meningkat, faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya perceraian. Konsep yang digunakan dengan menggunakan teori-teori konstruksi sosial merupakan kelanjutan dari teori fenomenologi Emile Durkheim. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interdisipliner di 8 kecamatan Kabupaten Cilacap. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi studi etnografi dan wawancana kepada 36 informan. Temuannya, perubahan sosial budaya mengakibatkan makna perkawinan mengalami perubahan yang mulanya dipahami memiliki makna sakral dan suci untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah, berubah sebagai akad biasa yang sudah hilang kesakralannya. Akibatnya  perceraian merupakan tindakan yang lumrah dan alamiah tanpa mempertimbangkan akibat dan dampak yang ditimbulkan. Faktor yang mempengaruhi adalah kondisi ekonomi keluarga, perilaku hedonis, alat komunikasi, tayangan televisi, usia perkawinan, pergaulan, perselingkuhan, kawin paksa, pengetahuan agama yang kurang dan pendidikan yang rendah. Sebab perceraian secara umum adalah faktor ekonomi yaitu ketidakmampuan suami dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.
PENDIDIKAN ISLAM DAN KESETARAAN GENDER Mujib, Siti Marhamah
MUWAZAH Vol 2 No 1: Juni 2010
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1242.998 KB)

Abstract

Abstract: Science can only get someone through a process called education. In other words, to get the science, every servant of God must take the education process. studying obligation is an obligation that applies to both Muslim men and Muslim women, meaning they have the same rights to study in this context is to obtain education. The right to obtain knowledge is a fundamental right directly guaranteed by Allah and His Messenger. Lots of history of hadith which records the process of discussion of women at the time of the Prophet, including the process of their struggle for equal education rights with men.
PERAN PEREMPUAN MESIR DALAM KONSTRUK SOSIAL PASCAKOLONIAL Mooduto, Dzulkifli M.
MUWAZAH: Jurnal Kajian Gender Vol 10 No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.221 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v10i2.2227

Abstract

This study discusses about the resistance of Egyptian women against social inequality that occurred in two different places with different problems, as depicted in the novel Ar-Rihlah Ayyamu Talibah Misriyyah fi Amrika Radwa 'Asyur?s work. The study reveals the forms of social inequality and also explains clearly the forms of resistance by using the post-colonial theory of Spivak and Homi K. Bhabha which is presented descriptively by deconstructing every fact in this fiction work of Ar-Rihlah Ayyamu Talibah Misriyyah fi Amrika. The result of this study indicated that the resistance to social inequality in terms of gender could be done by frontal. In addition, it also could be done by distorting the common view of women in the social construct of patriarchal society by demonstrating the self capacity and capability. As for the resistance to social inequality in terms of racism also be done in two ways: the first is frontal; and the second is in a way of imitation or mimicry about the West. The forms of imitation are displayed innovel Ar-Rihlah Ayyamu Talibah Misriyyah fi Amrika namely: the first is mimicry about the way of dressing; the second is mimicry to taste the food; and the third is mimicry towards a language. The mimicry toward the West that is done by a leader; Radwa apart as a form of equalization himself with the West to be "objectionable", and also becomes a form of banter (Mockery) against the West for being "inappropriate". Thus, the mimicry efforts undertaken Radwa into a form of resistance because impersonation he did not mimic entirely because he was different from the West.