cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology
ISSN : 20884230     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Psikologi Ulayat (JPU) [Indonesian Journal of Indigenous Psychology] is a peer-reviewed scientific journal in Psychology that publishes empirical based research articles of various topics related to psychology, particularly topics that emphasize indigenous values and cultures of Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 113 Documents
KEPUASAN KERJA TINGGI PADA MENTAL WORKLOAD YANG TINGGI: STUDI KORELASI DI HOTEL “X” Nainggolan, Ellen Violetta; Hartika, Listiyani Dewi
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Psikologi Ulayat
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.915 KB) | DOI: 10.24854/jpu12016-58

Abstract

Abstract — The increasing amount of hotels in Bali may cause tougher competition among existing hotels. Human resources as organization activator will have an extra workload, such as increasing customer service quality and being an informal marketer. This situation can cause high mental workload felt by the staff. High mental workload is not always balanced by low job satisfaction, as with high mental workload can urge the staff to achieve higher performance and feel work satisfaction. Therefore, researcher wanted to intensively find out the relationship between mental workload and job satisfaction measured with scales designed by the researcher, interview and observation with 52 staff as samples. The result shows that there is a positive relationship between mental workload and job satisfaction (r = .688; p = 0.000). In other words, whenever mental workload is high, job satisfaction will also be high. Abstrak — Pertambahan jumlah hotel di Bali menyebabkan persaingan antar hotel yang ada semakin berat. SDM (sumber daya manusia) sebagai penggerak perusahaan pun tidak jarang akan menerima beban kerja tambahan, seperti meningkatkan kualitas layanan kepada para konsumen dan menjadi pemasar informal. Hal tersebut dapat memicu tingginya beban kerja mental (mental workload) yang dirasakan oleh karyawan. Mental workload yang tinggi tidak selalu diimbangi dengan rendahnya kepuasan kerja, karena dengan mental workload yang tinggi dapat memacu karyawan untuk bekerja lebih baik dan merasakan kepuasan kerja. Oleh karena itu peneliti ingin meneliti lebih intensif tentang hubungan mental workload dengan kepuasan kerja karyawan di hotel “X” Kerobokan, Bali. Mental workload dan kepuasan kerja diukur dengan skala yang disusun sendiri oleh peneliti, wawancara dan observasi dengan total sampel penelitian 52 orang karyawan. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang positif antara mental workload dengan kepuasan kerja (r = .688; p = 0.000). Artinya, saat mental workload karyawan tinggi, kepuasan kerja yang dirasakan juga tinggi.
UPAYA PENINGKATAN SELF-ESTEEM PADA DEWASA MUDA PENYITAS KEKERASAN DALAM PACARAN DENGAN COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY Pratiwi, Pradipta Christy
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Psikologi Ulayat
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.922 KB) | DOI: 10.24854/jpu22017-101

Abstract

Abstract — Dating violence, which frequently occurs among early adults, can manifest itself in many forms, including physical, psychological, and sexual abuse. A significant impact of dating violence is the decrease of self-esteem of the victims. It is also the cause of difficulties for the victims to break out of the cycle of violence. The present study intends to employ cognitive behaviour therapy (CBT) to enhance the self-esteem of early adults who suffers from dating violence. The research design used in the present study was quasi-experimental one-group pre-test post-test design. Three subjects were acquired through purposive sampling for the present study. The effectivity of the therapy was inferred from qualitative evaluation (improvement of self-esteem score, observation, and interview). Instruments used in the present study were Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) to assess self-esteem and Revised Conflict Tactics Scale (CTS-2) to assess the characteristics of violence. The results indicated a higher score in RSES. Further evaluation also demonstrated considerable changes of subjects’ cognitive, affective, and behavioural aspects. Given all the results, CBT is considered to be an effective intervention to enhance the self-esteem among victims of dating violence.  Abstrak — Kekerasan dalam pacaran, sering dijumpai pada dewasa muda, dapat terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan psikologis, dan kekerasan seksual. Dampak signifikan dari kekerasan dalam pacaran adalah rendahnya self-esteem penyitas. Hal ini juga yang menyebabkan penyitas sulit keluar dari siklus kekerasan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan intervensi Cognitive Behavior Therapy (CBT) pada dewasa muda penyitas kekerasan dalam pacaran untuk meningkatkan self-esteem mereka. Desain penelitian ini adalah one-group pre-test-post-test design (kuasi eksperimen). Jumlah sampel ialah tiga orang, diperoleh dengan teknik purposive sampling. Efektivitas terapi dilihat dari evaluasi kualitatif (penambahan skor RSES, observasi, dan wawancara). Alat ukur yang digunakan adalah Rosenberg Self-esteem Scale (RSES) untuk mengukur self-esteem dan Revised Conflict Tactics Scale (CTS2) untuk mengetahui karakteristik kekerasan yang dialami penyitas. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor pada RSES. Selain itu, evaluasi kualitatif juga menunjukkan peningkatan positif aspek kognitif, afektif, dan perilaku subjek penelitian. Oleh karena itu, CBT dapat dikatakan efektif meningkatkan self-esteem pada penyitas kekerasan dalam pacaran. 
PERAN CONSCIENTIOUSNESS PERSONALITY TRAIT DAN IKLIM SEKOLAH DALAM PENCEGAHAN PERUNDUNGAN Rahmawati, Sri W
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 5, No 2 (2018): Jurnal Psikologi Ulayat
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.448 KB) | DOI: 10.24854/jpu02018-130

Abstract

Abstract –The aim of this study was to examine the role of conscientiousness personaity trait and school climate toward bullying. A sample of 616 senior high school students from five regions in Jakarta were acquired for this study using cluster random sampling technique. The NEO PI-R Scale, The School Climate Scale, and The Scale of Bullying were used in this study. The research hypothesized that there would be a significant negative correlation between the personality trait and school goals and norms on bullying. The study found that conscientiousness personality trait and school goals and norms in school settings have significant negative correlations to bullying. Regression test results indicated that conscientiousness trait and school goals and norms contributed 4.2% and 3.8% on bullying.  It was concluded that to obtain the optimal results, bullying prevention programs in schools should consider improving students’ personality trait and the school climate.Abstrak — Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap peran trait kepribadian dan iklim sekolah terhadap perundungan. Riset terhadap 616 siswa yang berasal dari lima wilayah provinsi DKI Jakarta dilakukan dengan menggunakan teknik sampling kluster acak. Skala NEO PI-R, Skala Iklim Sekolah, serta Skala Perundungan digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian ini. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif yang signifikan antara aspek (trait) kepribadian conscientiousness dan tujuan dan norma sekolah terhadap perundungan. Hasil riset  membuktikan hipotesis yang telah ditegakkan, yaitu aspek kepribadian conscientiousness serta tujuan dan norma sekolah memiliki korelasi negatif yang signifikan terhadap perundungan. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa sifat kepribadian conscientiousness memberikan kontribusi sebesar 4.2 % terhadap perilaku perundungan pada siswa; sementara peran tujuan dan norma sekolah terhadap perundungan adalah sebesar 3.8 %. Dapat disimpulkan bila pencegahan perundungan di sekolah perlu memperhatikan pengembangan kepribadian siswa, maupun pembenahan iklim sekolah agar memeroleh hasil optimal.
STRATEGI COPING PEREMPUAN KORBAN PELECEHAN SEKSUAL DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN “EYSENCK” Jatmika, Devi
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Psikologi Ulayat
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.508 KB) | DOI: 10.24854/jpu12012-13

Abstract

Pelecehan seksual dapat terjadi dimana saja, setiap waktu dan terutama terhadap perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan strategi coping perempuan korban pelecehan seksual ditinjau dari tipe kepribadian “Eysenck” (ekstrovertintrovert). Strategi coping meliputi dua jenis yaitu: a) problem focused coping dan b) emotion focused coping. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner yang diperuntukkan bagi perempuan dewasa muda (20-40 tahun). Subyek penelitian sebanyak 192 orang. Perempuan bertipe kepribadian introvert memiliki nilai rata-rata pada dimensi problem focused coping 42.14 (SD=7.64), sementara dimensi emotion focused coping memiliki nilai rata-rata 37.02 (SD=4.19). Perempuan bertipe kepribadian ekstrovert memiliki nilai rata-rata pada dimensi problem focused coping 48.60 (SD=6.69) sementara dimensi emotion focused coping memiliki nilai rata-rata 38.02 (SD=4.02). Hipotesis penelitian tidak terbukti, χ2(1)= 0.537, sig/p 0.449> 0.05 yang berarti tidak ada perbedaan strategi coping pada perempuan korban pelecehan seksual bertipe kepribadian ekstrovert dan tipe kepribadian introvert.
PERBEDAAN TINGKAT PRASANGKA ANTARA MAHASISWA YANG MENGIKUTI PERKUMPULAN AGAMA DENGAN YANG TIDAK Anissa, Pirda; Sidabutar, Fransisca M
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 2, No 1 (2015): Jurnal Psikologi Ulayat
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.111 KB) | DOI: 10.24854/jpu12015-29

Abstract

Abstract — Many research regarding prejudice and religiosity show correlation between these two variables. The present research aims to view the difference in prejudice levels of the minority Muslim students who participate in the religious organizations and those who do not participate in the religious organizations, especially prejudice towards majority religious groups in UPH. This research involved 102 participants aged between 17-24 years old which were selected by using purposive sampling. This research used quantitative approach and survey method. The questionnaire is composed by the researcher based on Myers’ theory of prejudice to measure the level of prejudice and use the intrinsic and extrinsic scales as supporting questionnaire to measure the orientation of the religion. The data were analysed by using the independent sampel t-test. The results shows that there is no significant difference regarding the level of prejudice on Muslim students who participate in the religious organization and those who are not  (t(102) = .603, p>0,05). Abstrak — Beberapa penelitian mengenai prasangka dan religiusitas menunjukkan korelasi antara kedua variabel tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan tingkat prasangka pada mahasiswa minoritas beragama Islam yang mengikuti perkumpulan agama dengan yang tidak mengikuti perkumpulan agama, khususnya dalam prasangka terhadap kelompok agama lain yang merupakan mayoritas di UPH. Penelitian ini melibatkan 102 partisipan berusia 17-24 tahun yang dipilih dengan menggunakan purposive sampling. Metode dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan kuesioner yang disusun oleh peneliti berdasarkan teori prasangka dari Myers untuk mengukur tingkat prasangka dan menggunakan alat ukur pendamping yaitu skala intrinsik dan ekstrinsik untuk mengukur orientasi agama. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan Independent-sampel t-test. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dari tingkat prasangka pada mahasiswa Islam di UPH yang mengikuti perkumpulan agama dan tidak (t(102) = .603, p > 0,05).
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN KECENDERUNGAN BURNOUT PADA KARYAWAN BAGIAN PEMASARAN Widjaja, Madeline S.; Sitorus, Kartika S.; Himawan, Karel K.
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Psikologi Ulayat
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.65 KB) | DOI: 10.24854/jpu12016-53

Abstract

Abstract — Working is a stage in the path of life each human will pass. However, during employment, a person may experience pressure and if the pressure persists, the situation may tend to lead to burnout. Burnout is a syndrome of emotional fatigue due to excessive working demands. The effect of burnout is not only experienced physically, but also psychologically. Burnout is caused by numerous factors, both external and internal. Internal factor includes emotional intelligence. The purpose of this study was to observe and identify the correlation between emotional intelligence and burnout tendency of employees in the marketing department. This study adopted 104 samples and data are collected through questionnaires. Based on the statistical tests conducted, significant correlation exists between emotional intelligence and burnout tendency of employees in the marketing department. The correlation was negative, implying that the higher the emotional intelligence employees have, the lower the burnout tendency they may have, and vice versa. Abstrak — Bekerja merupakan sebuah tahap yang pasti akan dilalui oleh setiap manusia. Namun, dalam bekerja seseorang dapat mengalami tekanan dan apabila berkelanjutan maka dapat berkembang menjadi kecenderungan burnout. Burnout merupakan suatu sindrom kelelahan emosional akibat adanya tekanan karena tuntutan pekerjaan yang terlalu banyak. Burnout dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor eksternal maupun internal. Faktor internal yang dimaksud dalam hal ini adalah kecerdasan emosional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara kecerdasan emosional dengan burnout pada karyawan bagian pemasaran. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 104, dan menggunakan instrumen kuesioner. Berdasarkan uji statistik, didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan kecenderungan burnout pada karyawan bagian pemasaran. Hubungan yang ada bersifat negatif, artinya semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional seseorang, maka tingkat kecenderungan burnout semakin rendah, dan begitu pula sebaliknya.
PERSAHABATAN: MAKNA DAN KONTRIBUSINYA BAGI KEBAHAGIAAN DAN KESEHATAN LANSIA Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Psikologi Ulayat
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1872.678 KB) | DOI: 10.24854/jpu12017-80

Abstract

Abstract — Activity theory has given an enormous perspective on ageing with the concept of successful ageing. The theory views older people as an active, productive, and sociable group. Social contact or participation is one of the indicators of an ageing-friendly community which has been declared by World Health Organization. Maintaining friendship is an example of social contact in older people. The pattern of friendship changes according to the abilities and needs in every stages of human development. The aim of the study is to find the pattern of friendship, the meaning of friendship, and friendship impact on physical and psychological healthiness in older people. The participants were 14 older people from 64 to 70 years old. The present study is a qualitative research using photovoice method. According to participatory and coding analysis, the study has found several themes which contributed to the pattern of friendship, namely the definition of who friends are and the duration of companionship. For the participants, friend is appreciated as someone who become part of their memory, someone who always serve openness, and someone who gets them away from loneliness. Friendship was seen as a type of relationship which is built by pure interest. Friendship activities that benefit the older people are getting together with friends, sharing experiences, finding solutions to the problems encountered, visiting friends, attending important events of friends, running hobby, and doing physical activity. The critical findings of the present study can be used for planning the management model of healthcare for the older people.  Abstrak— Activity theory telah memberikan perspektif yang baru dalam bidang gerontologi dengan konsep successful ageing. Teori ini menilai lanjut usia (lansia) sebagai kelompok yang aktif, produktif, dan masih mampu berkiprah dalam situasi sosial. Partisipasi sosial adalah salah satu indikator dari komunitas ramah lansia yang dideklarasikan oleh World Health Organization. Mampu menjaga persahabatan adalah salah satu dari bentuk kontak sosial dan partisipasi sosial bagi lansia. Pola-pola persahabatan berubah seiring dengan perkembangan usia seseorang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pola persahabatan, makna persahabatan, dan dampak persahabatan bagi kondisi fisik dan psikologis lansia. Responden penelitian ini adalah 14 orang lansia yang berusia 64 hingga 70 tahun dan aktif mengikuti kegiatan bersama teman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan photovoice. Melalui analisis partisipatori dan koding, studi mendapatkan tema-tema yang berkontribusi pada pola persahabatan lansia, seperti siapa yang dianggap sebagai teman, durasi persahabatan dan pertemanan. Bagi responden, teman adalah sosok yang merupakan bagian dari memori masa lalu, seseorang yang menghadirkan keterbukaan, dan mampu menjauhkan mereka dari rasa kesepian. Persahabatan dinilai sebagai bentuk hubungan yang dibangun dari intensi yang murni tanpa tendensi apa pun. Aktivitas bersama sahabat yang mampu memberikan dampak positif bagi responden adalah berbagai pengalaman, mengunjungi teman, menghadiri acara-acara penting sahabat, menjalankan hobby bersama, dan berolahraga. Hasil dari penelitian ini mampu menjadi dasar bagi penatalaksanaan kesehatan bagi lansia.
PERAN TRAIT MINDFULNESS TERHADAP KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA LANSIA Dyah, Ayu Suci Purnamaning; Fourianalistyawati, Endang
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 5, No 1 (2018): Jurnal Psikologi Ulayat
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.037 KB) | DOI: 10.24854/jpu12018-115

Abstract

Abstract ─ As individuals enter the elderly stage of development, they undergo many physical, social, spiritual, and psychological changes. Older adults who are not ready for the certain changes may be more susceptible to stress. Stressful conditions may reduce psychological well-being in the elderly. To deal with such issues, older adults need to have the ability to be aware of present experience, or is also called the trait mindfulness. This study attempted to see if the trait mindfulness has a significant role in psychological well-being. The sample of this research was retired older adults living in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi (n = 120). This study used an adapted scale of the Five Facet of Mindfulness Questionnaire (FFMQ) to measure trait mindfulness and an adapted version of the Psychological Well-Being Scale to measure psychological well-being. Regression results indicate that four of the five dimensions of trait mindfulness have significant roles on some dimensions psychological well-being. Those dimensions of trait mindfulness are acting with awareness, describing, non reactivity, and non-judging. Observing is found not to have any significant role in psychological well-being.Abstrak ─ Memasuki masa lansia, individu mengalami banyak perubahan pada kondisi fisik, sosial, spiritual dan psikologisnya. Lansia yang tidak siap dengan perubahan tersebut akan rentan terhadap stres. Kondisi yang demikian dapat menurunkan kesejahteraan psikologis (psychological well-being) pada lansia.  Untuk  menangani  permasalahan  tersebut, lansia perlu mengembangkan sifat mindfulness  (kemampuan untuk berfokus pada apa yang terjadi saat ini) didalam dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah trait mindfulness berperan secara signifikan terhadap kesejahteraan psikologis pada lansia. Sampel penelitian  ialah orang-orang yang sudah tidak bekerja dan berdomisili di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (n = 120). Penelitian  ini  menggunakan  adaptasi  skala  Five  Facet  Mindfulness Questionnaire untuk  mengukur  trait  mindfulness  dan  Scale  of Psychological Well Being untuk mengukur kesejahteraan psikologis. Hasil analisis regresi ganda menunjukkan empat dari lima dimensi trait mindfulness berperan   signifikan   terhadap   beberapa   dimensi kesejahteraan psikologis. Dimensi-dimensi dari trait mindfulness tersebut yaitu acting with awareness, describing, non-reactivity, dan non-judging. Sementara itu, dimensi lainnya yang tidak berperan adalah observing.
RESILIENSI DAN ALTRUISME PADA RELAWAN BENCANA ALAM Melina, Gloria Gabriella; Grashinta, Aully; Vinaya, Vinaya
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Psikologi Ulayat
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.03 KB) | DOI: 10.24854/jpu12012-7

Abstract

Indonesia adalah termasuk negara yang rentan akan bencana alam. Relawan adalah seseorang yang mempunyai hasrat untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan atau dikenal dengan istilah altruisme (Myers, 1999). Jika melihat relawan, yang diharapkan adalah individu yang mempunyai kapasitas untuk bertahan meskipun berada dalam keadaan yang sulit dalam keadaan bencana. Kapasitas tersebut disebut dengan resiliensi (Maddi & Khoshaba, 2005). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dengan altruisme. Responden dalam penelitian ini adalah relawan bencana alam yang tergabung dalam Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) sebanyak 100 orang. Metode pengumpulan data menggunakan skala resiliensi dan altruisme. Dengan menggunakan menggunakan pendekatan kuantitatif dan konsep penelitian deskriptif korelasional Pearson product moment didapatkan hasil bahwa koefi sien korelasi anatara variabel tersebut adalah sebesar .448 dan signifi kan pada level .01 (p=.000). Hal ini berarti terdapat hubungan yang positif dan signifi kan antara variabel resiliensi dengan altruisme pada relawan bencana alam, maka, semakin tinggi tingkat resiliensi, semakin tinggi pula tingkat altruismenya. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah tingkat resiliensi, semakin rendah pula altruisme yang dimiliki relawan bencana alam.
PROSES RESILIENSI JURNALIS RADIO 68H PASCA BOM BUKU 15 MARET 2011 Soerjoatmodjo, Gita Widya Laksmini
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Psikologi Ulayat
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.516 KB) | DOI: 10.24854/jpu22013-24

Abstract

Pada tanggal 15 Maret 2011, sebuah bom yang direkatkan dalam sebuah buku diterima oleh Kantor Berita 68H kemudian meledak, menyebabkan cedera parah pada petugas kepolisian yang sedang bertugas. Meskipun demikian, para jurnalis terus bekerja dan menyuarakan dukungan mereka atas kebebasan berekspresi. Resiliensi yakni adaptasi yang berhasil dalam mengatasi tantangan, tampak pada bagaimana jurnalis 68H berhasil “melenting kembali.” Bagi jurnalis yang bekerja di Indonesia, yakni satu dari lima negara yang paling mematikan di tahun 2010 menurut Committee to Protect Journalists, resiliensi menjadi penting untuk dipelajari. Menggunakan wawancara semi-terstruktur dan perspektif ‘resiliensi sebagai proses’, penelitian ini menggambarkan bagaimana jurnalis 68H menjalankan proses tersebut, sumber daya yang mereka gunakan serta konsekuensi pada kemampuan mereka untuk mempertahankan resiliensi di masa mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan kelompok dan peningkatan kapasitas penting dalam tahap-tahap proses resiliensi mereka. Disimpulkan bahwa identitas kolektif dan kepemimpinan dalam mempresepsikan ‘kita’ versus ‘mereka’ dan dalam mempromosikan nilai-nilai yang penting bagi mereka juga dukungan sosial serta pengalaman keberhasilan bersama di masa lalu, merupakan sumber-sumber daya utama resiliensi. Hikmah ajar dari kekeliruan menimbang ancaman berkontribusi pada perubahan sikap dan peningkatan keamanan demi mempertahankan resiliensi di masa mendatang

Page 8 of 12 | Total Record : 113