cover
Contact Name
Abdul Rasyad
Contact Email
rasyad.iis@hamzanwadi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
fajar.historia@hamzanwadi.ac.id
Editorial Address
Jalan TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid No. 132 Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Kode Pos 83612
Location
Kab. lombok timur,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan
  • http://garuda.ristekdikti.go.id/journal/view/15057
  • Website
Published by Universitas Hamzanwadi
ISSN : -     EISSN : 25495585     DOI : -
Fajar Historia (e-ISSN 2549-5585)adalah jurnal di bidang Ilmu Sejarah dan Pendidikan yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Hamzanwadi. Berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan analisis kritis. Bertujuan untuk memfasilitasi interaksi, diskusi, advokasi, dan pemutakhiran gagasan dari para ilmuwan sosial khususnya sejarah dan pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia. Menyuguhkan kekayaan wawasan dan interpretasi atas berbagai peristiwa sejarah dan pendidikan terutama di Indonesia, maupun meluas di negara lain namun dapat memberikan inspirasi dan pembelajaran bagi studi sejarah dan pendidikan di Indonesia, serta dapat menambah khazanah wawasan sejarah dan pendidikan dalam konteks lokal masyarakat Lombok. Fajar Historia terbit dua kali dalam setahun yaitu, bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 2 (2022): Desember" : 9 Documents clear
Jejak Historis Haenyeo sebagai Simbol Kebudayaan Jeju: Gerakan Resistensi terhadap Imperialisme Jepang, 1931-1932 Farhan, Amelia Isti; Rostineu, Rostineu
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 2 (2022): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i2.6480

Abstract

Haenyeo or 'female divers' have been the livelihood of most women in Jeju since 1700 years ago. When Japan launched its capitalist action in Korea in the 1930s, the participation of the haenyeo was considered beneficial to the colonial economy because of their skills in collecting Jeju Island seafood. By using history method, this study tries to look at the track record of the haenyeo who had become symbols of Jeju's history and culture, as one of the agents who fought for the rights of the Jeju people during the Japanese imperialism period 1931-1932, when Japan exploitation on Jeju fishing sector had grown massive. This study also sees the important influence of enlightenment education in growing awareness and fighting spirit of the haenyeo, so that they were able to overcome their limitations as a subordinated group within the social and economic structure, to appear as agents capable of driving colonial resistance actions.Haenyeo atau ‘penyelam perempuan’ telah menjadi suatu mata pencaharian sebagian besar perempuan di Jeju sejak 1700 tahun yang lalu. Ketika Jepang melancarkan aksi kapitalismenya di Korea pada tahun 1930-an, partisipasi haenyeo dinilai menguntungkan perekonomian kolonial karena keterampilan mereka dalam mengumpulkan hasil laut Pulau Jeju. Dengan menggunakan metode sejarah dan studi literatur, penelitian ini mencoba melihat rekam jejak para haenyeo yang telah menjadi simbol sejarah dan kebudayaan Jeju, sebagai salah satu agen yang memperjuangkan hak rakyat Jeju pada masa imperialisme Jepang 1931-1932, ketika eksploitasi Jepang di sektor perikanan Jeju semakin masif. Penelitian ini juga melihat adanya pengaruh penting pendidikan pencerahan dalam menumbuhkan kesadaran dan semangat juang para haenyeo, sehingga mereka mampu meretas keterbatasan mereka sebagai golongan yang tersubordinasi dalam struktur sosial dan ekonomi, untuk tampil sebagai agen yang mampu memotori aksi resistensi kolonial.
Gerakan Reformasi 1998 dan Keterlibatan Mahasiswa di Tingkat Lokal: Kasus Sumatera Barat Naldi, Hendra; Lionar, Uun; Yefterson, Ridho Bayu; Syafrina, Yelda
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 2 (2022): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i2.5454

Abstract

The 1998 Reformation Movement, which was led by students, was a social movement that had an impact on social and political changes in Indonesia in the following period. In the midst of the dryness of the study and writing of the history of the 1998 Reformation Movement, this paper will look at how the dynamics of students at the local level welcomed this movement through the eyes of local history. This study aims to describe the roots of the 1998 Reform Movement in Indonesia and then highlight the dynamics of students at the local level in West Sumatra in the 1998 Reform Movement. This study uses a historical research method consisting of four stages of activity in the form of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results showed that West Sumatran students were highly sensitive to the socio-political problems that engulfed the Indonesian nation at that time. As intellectuals, students respond to this issue by holding meetings, free pulpits, and holding demonstrations to criticize the government's policies and attitudes which are considered slow in solving the nation's problems. To facilitate coordination and consolidation of the movement, students formed the West Sumatera Student Communication Forum (FKMSB), which later became an important forum in gathering the strength of the students movement in West Sumatra during the transition period.Gerakan Reformasi 1998 yang dimotori oleh kalangan mahasiswa merupakan sebuah gerakan sosial yang berdampak terhadap perubahan sosial dan politik Indonesia pada periode berikutnya. Di tengah keringnya kajian dan penulisan sejarah Gerakan Reformasi 1998, maka tulisan ini akan melihat bagaimana dinamika mahasiswa di tingkat lokal menyambut gerakan ini melalui kacamata sejarah lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan akar Gerakan Reformasi 1998 di Indonesia, dan kemudian menyoroti dinamika mahasiswa pada tingkat lokal di Sumatera Barat dalam Gerakan Reformasi 1998 tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahapan kegiatan berupa heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Sumatera Barat memiliki sensitivitas yang tinggi atas permasalah sosial politik yang sedang melanda bangsa Indonesia ketika itu. Sebagai kalangan intelektual mahasiswa merespon isu tersebut dengan mengadakan pertemuan, mimbar bebas, hingga melakukan demonstrasi dalam rangka mengkritis kebijakan dan sikap pemerintah yang dinilai lamban dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Untuk memudahkan koordinasi dan konsolidasi gerakan, mahasiswa membentuk Forum Komunikasi Mahasiswa Sumatera Barat (FKMSB) yang kemudian menjadi wadah penting dalam menghimpun kekuatan gerakan Mahasiswa di Sumatera Barat selama masa transisi tersebut.
Sejarah Islam dan Politik Afghanistan Musta'id, Ahmad
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 2 (2022): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i2.6605

Abstract

This research is motivated by several media that present news of conflicts that often occur and are prolonged to various in the country of Afghanistan which is predominantly inhabited by Muslims. Departing from this, the author is very interested in exploring the existence of these events. This study aims to determine the history of the development of Islam and the dynamics of Islamic politics in Afghanistan. This research uses historical approach analysis. The analysis is more directed to the history of the development of Islam and political dynamics in Afghanistan. The sources in this study were obtained through several works such as articles, books, and journals. After that the data obtained is then verified, analyzed, and a conclusion is drawn. The findings of this study are that Islam has developed in Afghanistan for a long time and the turmoil of the emergence of several events such as the civil war to the emergence of the Taliban group whose movement is very massive, the emergence of several political parties that adorn democracy in Afghanistan makes political dynamics in Afghanistan very diverse.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh beberapa media yang menyajikan  berita konflik yang sering terjadi dan berkepanjangan hingga beragam di negara Afghanistan yang mayoritas dihuni oleh orang muslim. Berangkat dari hal itu, penulis sangat tertarik untuk menelusuri adanya peristiwa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah perkembangan Islam dan dinamika politik Islam di Afghanistan. Penelitian ini menggunakan analisis pendekatan sejarah. Analisis tersebut lebih mengarah kepada sejarah perkembangan Islam dan dinamika politik di Afghanistan. Sumber dalam penelitian ini diperoleh melalui beberapa karya seperti artikel, buku, dan jurnal. Setelah itu data yang diperoleh kemudian diverifikasi, dianalisis, dan diambil sebuah kesimpulan. Temuan dari penelitian ini adalah bahwasanya Islam telah berkembang lama di wilayah Afganistan dan gejolak munculnya beberapa peristiwa seperti perang saudara hingga munculnya kelompok Taliban yang pergerakannya sangat massif, munculnya beberapa partai politik yang menghiasi demokrasi di Afghanistan membuat  dinamika politik di Afghanistan sangat beragam.
Eksistensi Meme Sejarah dalam Wacana Membangun Kesadaran Sejarah: Studi Kasus Facebook Fanpage ‘Neo Historia Indonesia’ Suswandari, Suswandari; Soleh, Mohammad Badrus; Absor, Nur Fajar
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 2 (2022): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i2.5242

Abstract

Currently, memes are often used to convey various information in various dimensions, ranging from conveying aspirations, criticism, ideology, and even history. One that consistently produces historical memes is Neo Historia Indonesia, a Facebook fan page containing memes with a vision to introduce history in a fun approach. The objectives of this research are 1) to examine the phenomenon of Historical Memes as popular culture in Indonesia; 2) to examine the role of Neo Historia Indonesia in the discourse of building historical awareness; 3) to compile criteria for Historical Memes that have the potential to build historical awareness, and 4) explore the benefits of historical Memes as digital content. This study uses a qualitative method with a case study approach. In collecting data, this research uses interviews, observation, and documentation techniques. This study finds that Historical Memes in Neo Historia Indonesia, as a popular culture, have the potential to build historical awareness. This is because the Historical Memes in Neo Historia Indonesia interestingly convey historical content. Thus, Historical Memes can be an effective medium for conveying messages about historical content, especially for young people.Saat ini, Meme kerap kali digunakan dalam penyampaian berbagai informasi dalam berbagai dimensi mulai dari penyampaian aspirasi, kritik, ideologi, bahkan sejarah. Salah satu yang memproduksi Meme sejarah secara konsisten ialah Neo Historia Indonesia, yakni sebuah Facebook fanpage yang berisi Meme dengan visi untuk mengenalkan sejarah dengan pendekatan yang menyenangkan. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah: 1) menelaah fenomena Meme sejarah sebagai budaya populer di Indonesia; 2) menelaah peran Neo Historia Indonesia dalam wacana  membangun kesadaran sejarah; 3) menyusun kriteria Meme sejarah yang berpotensi membangun kesadaran sejarah; dan 4) menelusuri manfaat Meme sejarah sebagai sebuah konten digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Dalam pengumpulan datanya penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini menemukan bahwa Meme sejarah di Neo Historia Indonesia sebagai budaya populer memiliki potensi untuk membangun kesadaran sejarah. Hal ini dikarenakan Meme sejarah yang ada di Neo Historia Indonesia menyampaikan konten sejarah secara menarik. Dengan demikian, Meme sejarah dapat menjadi media penyampai pesan mengenai konten sejarah yang efektif, khususnya bagi masyarakat muda.
Analisis Pola Narasi Sejarah dalam Buku Teks Lintas Kurikulum di Indonesia Susanto, Heri; Fatmawati, Sri; Fathurrahman, Fathurrahman
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 2 (2022): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i2.6632

Abstract

The national history textbook is one of the most controversial textbooks. In books, historical events are presented in the form of narratives that can be used as lessons for the present and future challenges. Narratives can be studied from the point of view of critical discourse analysis that provides awareness. A literature study method with a close reading technique is used to understand the narrative pattern in the textbook. The textbooks in this analysis are textbooks published between 1975-2003. These books represent textbooks from the 1975 curriculum to the 1994 curriculum, supplement to GBPP 1999. The results of the analysis show that this textbook shows a role narrative pattern using a concentric chronological approach, using the principles of accommodative history writing, highlighting aspects of heroism, and using an event approach in the flow of food. The weakness of this textbook is that there are attempts to build an unbalanced role narrative. The narrative of the role of the regime in power at that time was presented with an exaggerated cult tendency.Buku teks sejarah nasional adalah salah satu buku teks yang paling sering mengundang kontroversi. Pada buku teks, setiap kejadian sejarah disajikan sebagai narasi sejarah yang menjadi materi pembelajaran untuk kehidupan masa sekarang dan menghadapi tantangan di masa depan. Sajian narasi dalam analisis buku dapat ditelaah menggunakan pespektif model analisis wacana kritis dengan mengedepankan aspek kesadaran sejarah. Untuk memahami pola narasi dalam buku teks digunakan metode studi literatur dengan teknik close reading. Buku teks dalam analisis ini merupakan buku teks yang diterbitkan antara tahun 1975-2003. Buku-buku tersebut mewakili buku teks dari kurikulum 1975 sampai dengan kurikulum 1994, suplemen GBPP 1999. Hasil analisis menunjukkan bahwa buku teks ini menunjukkan pola narasi peran dengan menggunakan pendekatan kronologis konsentris, menggunakan prinsip penulisan sejarah akomodatif, menonjolkan aspek heroism, dan menggunakan pendekatan peristiwa dalam alur sajiannya. Kelemahan buku teks ini adalah terdapat upaya membangun narasi peran yang tidak seimbang. Narasi peran bagi rezim yang sedang berkuasa pada saat itu ditampilkan dengan tendensi pengkultusan yang berlebihan.
Adat Sedulang Setudung di Desa Gelebak Dalam Banyuasin, 1999-2019 Gani, Arif Rahman; Wahyudi, Diki; Husna, Farida; Syarifuddin, Syarifuddin; Supriyanto, Supriyanto
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 2 (2022): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i2.5479

Abstract

This article discuss the existence of the Sedulang Setudung tradition in the last 20 years. The development of customs in culture over a long period cannot be seen from the perspective of other cultures; to survive, businesses must have their value system. This study examined the development of the Sedulang Setudung custom in Gelebak Dalam Village, Rambutan District, Banyuasin Regency, from 1999-2019. The method used in this study is the historical method. The Sedulang Setudung custom is one of the successful implementations of the existing value system until now. The philosophical values in every activity and element of this custom become a strong binding and meaning requirement so that the local community always respects it. The development of the Sedulang Setudung custom can be very consistent; since its inception, this custom has existed until today, and its existence is still a pride as a unifying village. The role of the village government and traditional institutions that are the driving force of this custom always ensures that this custom is carried out by its philosophy. Then the community is always enthusiastic about welcoming this custom on every big day of Islam. This harmonization forms a high sense of solidarity in preserving the Sedulang Setudung tradition as the legacy of its predecessors.Artikel ini membahas tentang keberadaan tradisi Sedulang Setudung dalam 20 tahun terakhir. Perkembangan adat dalam budaya dalam jangka waktu yang lama tidak dapat dilihat dari perspektif budaya lain; untuk bertahan hidup, bisnis harus memiliki sistem nilai mereka. Penelitian ini mengkaji tentang sejarah perkembangan adat Sedulang Setudung di Desa Gelebak Dalam, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, dari tahun 1999-2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Adat Sedulang Setudung merupakan salah satu implementasi yang berhasil dari sistem nilai yang ada sampai sekarang. Nilai-nilai filosofis dalam setiap kegiatan dan unsur adat ini menjadi syarat pengikat dan makna yang kuat agar masyarakat setempat selalu menghormatinya. Perkembangan adat Sedulang Setudung bisa sangat konsisten; Sejak awal, adat ini telah ada hingga saat ini, dan keberadaannya masih menjadi kebanggaan sebagai pemersatu desa. Peran pemerintah desa dan lembaga adat yang menjadi penggerak adat ini selalu memastikan bahwa adat ini dijalankan sesuai dengan filosofinya. Kemudian masyarakat selalu antusias menyambut adat ini pada setiap hari besar Islam. Harmonisasi ini membentuk rasa solidaritas yang tinggi dalam melestarikan tradisi Sedulang Setudung sebagai warisan para pendahulunya.
Egaliter Masa Majapahit: Studi Kasus Penguasa Perempuan Majapahit Tribhuwanottuṅgadewī Jayawiṣṇuwarddhanī, 1329-1350 Mu'aafi, Gilang Harits; Yuliati, Yuliati; Khakim, Moch. Nurfahrul Lukmanul
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 2 (2022): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i2.6593

Abstract

In ancient Java, women and men had an equal position in politics. This equality can be seen from the mention of men and women who have positions in high positions in royal politics. These positions include crown son/princess, regional ruler to the supreme ruler as the king/empress of the kingdom. This research uses historiographic methods that go through five stages, including topic selection, heuristics, source verification, source interpretation and historiography. This research found that during the Majapahit period, in addition to women having an equal position, women during the Majapahit era had also received legal protection as stated in Kutaramanawa. In addition to obtaining legal protection, women during the Majapahit period also had the same opportunity to obtain education or political training. Tribhuwanottuṅgadewī and Rājadewī had been given the opportunity to occupy the territories of vassal kingdoms as regional rulers in Kahuripan and Daha. After Tribhuwanottuṅgadewī ascended the throne to become empress in 1329, Gayatrī guided and played a behind the scenes role in the reign of Tribhuwanottuṅgadewī. During the Majapahit era, women had an important position in royal politics, ranging from rulers (central and regional) to playing a role behind the scenes of government.Pada masa Jawa Kuno perempuan dan laki-laki mempunyai kedudukan yang setara dalam bidang politik. Kesetaraan tersebut terlihat dari disebutkannya laki-laki dan perempuan yang mempunyai kedudukan dalam jabatan tinggi politik kerajaan. Jabatan tersebut antara lain putra/putri mahkota, penguasa daerah hingga penguasa tertinggi kerajaan. Penelitian ini menggunakan metode historiografi yang melalui lima tahapan, diantaranya pemilihan topik, heuristik, verifikasi sumber, interpretasi sumber dan historiography. Penelitian ini menemukan bahwa pada masa Majapahit selain perempuan telah mempunyai kedudukan yang setara, perempuan pada masa Majapahit juga telah memperoleh perlindungan hukum seperti yang telah tertera dalam Kutaramanawa. Selain memperoleh perlindungan hukum, perempuan pada masa Majapahit juga telah mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan ataupun pelatihan politik. Tribhuwanottuṅgadewī dan Rājadewī telah diberikan kesempatan untuk menduduki wilayah kerajaan bawahan sebagai penguasa daerah di Kahuripan dan Daha. Setelah Tribhuwanottuṅgadewī naik tahta menjadi ratu tahun 1329, Gayatrī membimbing serta berperan dari balik layar pemerintahan selama pemerintahan Tribhuwanottuṅgadewī. Pada masa Majapahit perempuan telah mempunyai kedudukan penting dalam politik kerajaan, mulai dari penguasa (pusat dan daerah) hingga berperan dari balik layar pemerintahan.
Penggunaan Gedung Papak Sebagai Ianjo di Desa Geyer Grobogan, 1942-1945 Khaliya, Meutia; Kanumoyoso, Bondan
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 2 (2022): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i2.6388

Abstract

During the Japanese occupation of Indonesia from 1942 to 1945, Japan mobilized women as jugun ianfu and placed them in various ianjo, which had been prepared by the Japanese army. The women who were made jugun ianfu also included those still underage. Sri Sukanti is one of the survivors of jugun ianfu who used to be employed at the Gedung Papak. Therefore, the problem in this research is how Gedung Papak was used as an ianjo. This study uses the historical method with four stages, namely heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The purpose of this research is to reconstruct Gedung Papak as an ianjo during the Japanese colonial period, reveal more deeply the suffering of jugun ianfu in Gedung Papak, and find out the views of the people during the Japanese period towards the jugun ianfu in Gedung Papak by using a political history approach. The results showed that Gedung Papak as an ianjo was not too different from other ianjo in its operation but had the characteristics of a turn shuffling system, a round trip system, and a child victim.Dalam masa penjajahan Jepang di Indonesia sejak tahun 1942 sampai 1945, Jepang menjalankan mobilisasi perempuan sebagai jugun ianfu dan menempatkan mereka di berbagai ianjo yang telah disiapkan oleh tentara Jepang. Perempuan-perempuan yang dijadikan jugun ianfu juga meliputi mereka yang masih di bawah umur. Sri Sukanti merupakan salah satu penyintas jugun ianfu yang dulu dipekerjakan di Gedung Papak. Oleh karena itu, permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana Gedung Papak digunakan sebagai ianjo. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan empat tahapan, yakni heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merekonstruksi Gedung Papak sebagai ianjo pada masa penjajahan Jepang, mengungkap lebih dalam penderitaan para jugun ianfu di Gedung Papak, dan mengetahui pandangan masyarakat di masa Jepang terhadap jugun ianfu di Gedung Papak dengan menggunakan pendekatan sejarah politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gedung Papak sebagai ianjo tidak terlalu berbeda dengan ianjo lain dalam pengoperasiannya, tapi memiliki ciri khas berupa sistem pengocokan giliran, sistem pulang pergi, dan korban anak-anak.
Peran Hikayat dalam Perang Kolonial di Aceh 1873-1912: Studi Analisis Wacana Kritis Terhadap Hikayat Perang Sabil Rahmawati, Melinda; Suswandari, Suswandari
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 2 (2022): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i2.5827

Abstract

The purpose of this study is to find, assess, and analyze the correlation of the role of the Hikayat War Sabil by Teungku Chik Pante Kulu and the spirit of the Acehnese people in the Colonial War of 1873-1912 in Aceh. The method used is descriptive qualitative with critical discourse analysis in a historical approach (discourse-historical-approach). The result of this research is to know the role of context in the content of the Hikayat War Sabil by Teungku Chik Pante Kulu and the spirit of the Acehnese people in the Colonial War of 1873-1912 in Aceh. The conclusion of this research is The presence of the Hikayat Perang Sabil as one of the literary works encourages the fanaticism of the Acehnese people regarding imaginary views on war and teaches about the spirit of nationalism, patriotism, and obedience to religious orders.Tujuan penelitian ini untuk menemukan, menilai, dan menganalisis korelasi peran Hikayat Perang Sabil karya Teungku Chik Pante Kulu dan semangat rakyat Aceh dalam Perang Kolonial tahun 1873-1912 di Aceh. Metode digunakan deskriptif kualitatif dengan analisis wacana kritis dalam pendekatan sejarah (discourse-historical-approach). Hasil dari penelitian ini diketahuinya peran Hikayat Perang Sabil karya Teungku Chik Pante Kulu dan semangat rakyat Aceh dalam Perang Kolonial tahun 1873-1912 di Aceh. Kesimpulan penelitian ini hadirnya Hikayat Perang Sabil sebagai salah satu karya sastra mendorong fanatisme masyarakat Aceh mengenai pandangan imajiner terhadap perang dan mengajarkan tentang semangat nasionalisme, patriotisme, dan ketaatan pada perintah agama.

Page 1 of 1 | Total Record : 9