cover
Contact Name
Sinta Paramita
Contact Email
sintap@fikom.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
Koneksi@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Koneksi
ISSN : -     EISSN : 25980785     DOI : -
Koneksi (E-ISSN : 2598 - 0785) is a national journal, which all articles contain student's writing, are published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Koneksi are result from research and scientific studies conduct by Faculty of Communication students in communication field. Koneksi published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 670 Documents
Resepsi Remaja terhadap Konten @BotakTikTok di Media Sosial TikTok Steven Kesuma; Daniel Tamburian
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10228

Abstract

TikTok is an application that gives users access to create short videos with their creations and creativity. In the TikTok application, there are lots of content creators who create content - content ranging from positive content to negative content. The author focuses more on @BotakTikTok creator content because this creator's content is unique, namely having 3 TikTok accounts. The purpose of this study is to describe the reception of adolescents to the content of @BotakTikTok on social media. The research method used in this research is a qualitative approach with phenomenological research. Phenomenological research is used by the author because it allows to find out and understand about the meaning of content in social media (TikTok). The results of the data were obtained through direct interviews with 3 sources, direct observation and literature study. Observation is used by the author by making direct observations so that the author can find out how the subject sees the object under study. The result of this research is that the meaning received by adolescents in positive content is denotative meaning and the meaning that is received by adolescents in negative content is the connotative meaning and the reception of adolescents is included in the hegemonic - dominant position.TikTok merupakan aplikasi yang memberikan akses kepada penggunanya untuk membuat video berdurasi pendek dengan kreasi dan kreativitas yang dimiliki. Dalam aplikasi TikTok terdapat banyak sekali konten kreator yang membuat konten mulai dari konten positif hingga konten negatif. Penulis lebih memfokuskan kepada konten kreator @BotakTikTok karena konten kreator ini memiliki keunikan yaitu memiliki tiga akun TikTok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan resepsi remaja terhadap konten @BotakTikTok dalam media sosial. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan kualitatif dengan penelitian fenomenologi. Penelitian fenomenologi digunakan oleh penulis karena memungkinkan untuk mencari tahu dan memahami mengenai pemaknaan konten dalam media sosial (TikTok). Hasil data diperoleh melalui wawancara langsung dengan tiga narasumber, observasi langsung serta studi kepustakaan. Observasi digunakan oleh penulis dengan cara melakukan pengamatan langsung agar penulis bisa mengetahui cara pandang subjek terhadap objek yang diteliti. Hasil dari penelitian ini adalah makna yang diterima remaja dalam konten positif merupakan makna denotatif dan makna yang diterima remaja dalam konten negatif merupakan makna konotatif serta resepsi remaja termasuk kedalam posisi hegemonik-dominan.
Cover Vol 5 No 1 Lydia Irena
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover Vol 5 No 1
Representasi Konsep Diri Remaja Perempuan Pembaca Buku “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat” dari Mark Manson Canesya Adzani; Gregorius Genep Sukendro
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8090

Abstract

Adolescence is a time of self-identification and self-development. The view of oneself that had developed in childhood strengthened in adolescence. This is in line with increasing age and life experience based on the facts experienced. All that makes teenagers can judge themselves good, and also vice versa, less good. Teenagers tend to look at the social media profiles of other teenagers and make comparisons with themselves. This comparison will unconsciously form an ideal self-concept whose standards are getting higher and further away from the self-concept possessed by adolescents today. Teenagers who get negative feedback from social media will find it difficult to accept themselves. There is always an assumption that other people around him will look negatively towards him. The question in this study is "What is the representation of the self-concept of young women readers of the book The Subtle Art of Not Giving a F*ck?". The results based on this study explain that self-concept in adolescent girls after reading The Subtle Art of Not Giving a F*ckis represented as a person who needs to direct himself towards self-help and self-love by realizing how good or bad the situation is owned and how obliged to behave against the situation. The representation of self-help and self-love in the self-concept of the reader is depicted using trying not to think about the affairs of others and focus more on oneself, controlling oneself, accepting and trying to solve cases of life in a cruel global world, and knowing what important are priorities.Usia remaja merupakan tahap pengembangan diri. Pengetahuan tentang diri sendiri yang telah berkembang pada masa anak-anak makin menguat pada masa remaja. Hal ini berbarengan dengan bertambahnya usia dan pengalaman atas dasar kehidupan yang dialami. Semua itu menciptakan remaja yang mampu menilai dirinya sendiri baik, dan juga sebaliknya, kurang baik. Remaja cenderung akan melihat profil remaja lain dan melakukan perbandingan menggunakan dirinya. Perbandingan ini secara tidak sadar akan membangun konsep diri ideal yang standarnya semakin tinggi dan semakin jauh menurut konsep diri yang dimiliki oleh remaja saat ini. Remaja yang mendapatkan reaksi negatif akan sulit mendapat dirinya sendiri. Muncul anggapan bahwa orang lain disekitarnya akan memandang negatif terhadap dirinya. Pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana representasi konsep diri remaja perempuan pembaca buku perbaikan diri “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat”? Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep diri pada remaja perempuan setelah membaca buku “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat” direpresentasikan menjadi suatu pribadi yang perlu mengarahkan dirinya menuju self-help dan self-lovedengan mengetahui seberapa baik atau tidak baik keadaan yang dimiliki dan bagaimana wajib bersikap terhadap keadaan tersebut. Representasi self-help danself-lovepada konsep diri pembacanya digambarkan dengan berusaha untuk tidak memikirkan urusan orang lain dan lebih fokus pada diri sendiri, mengontrol diri, menerima dan berusaha memecahkan kasus hidup di dunia yang kejam, dan mengetahui apa yang penting sebagai prioritas.
Konvergensi Media Baru dalam Penyampaian Pesan Melalui Podcast Sucin Sucin; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8113

Abstract

Technology that is increasingly developing in favor of new media, podcast. Malamkliwon is a podcast with a mystical theme based on the experience of the broadcastsand podcasts listeners. In its distribution the Malamkliwon podcast announcer tells a story that has been packaged as interestingas possible througha mediaplatform that is appropriateand close to the dailylife of the community, besidesthe steps of collaborating with third parties to become another effort in reaching listeners. With the development of Malamkliwon podcast technology also uses the concept of new media convergence in thedelivery of messages throughpodcasts.  This research uses a descriptivequalitative method, while the theoretical basis used is mass communication and media convergence. The results showed three things related to media convergence according to Jenskin which was implemented by the Malamkliwon podcast inthe form of audio and visual take and then making the process of adding certain effects, then building good communication with listeners throughsocial media Instagram nd the last direct message that is the content that will be raised to be brought in the podcast which can then the attract the listener’s interest to listen until it’s over. Media platforms that are utilized in message disguising are Spotify, YouTube and Instagram.Teknologi semakin berkembang mendukungadanya media baru yaitu podcast.  Malamkliwon merupakanpodcastyang mengangkat tema mistis berdasarkan pengalaman dari penyiar serta pendengar podcast. Dalam pendistribusiannya penyiarpodcastMalamkliwon menyampaikan cerita yang telah dikemas dengan semenarik mungkin melalui platformmedia yang sesuai dan dekat dengan keseharian masyarakat.Selain itu langkah melakukan kolaborasi dengan pihak ketiga menjadi upaya lain dalam menjangkau pendengar. Dengan berkembangnya teknologi podcast,Malamkliwon juga menggunakan konsep konvergensi dalam penyampaian pesan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konvergensi media baru dalam penyampaian pesan melalui podcast. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.Landasan teori yang digunakanadalah komunikasi massa dan konvergensi media.Hasil penelitian menunjukkan tiga hal yang berkaitan dengan konvergensi media menurut Jenkins yang diterapkan oleh podcastMalamkliwon dalam upaya penyampaian pesan yaitu dengan pengolahan konten oleh penyiar berupa take audio maupun visual kemudian melakukan proses penambahan efek tertentu,selanjutnya membangun komunikasi yang baik dengan pendengar melalui sosial media Instagram dengan memberikan balasan terhadap komentar maupun direct message, terakhir yaitu isi konten yang akan diangkat untuk dibawakan dalam podcastdapat menarik minat pendengar untuk menyimak hingga usai. Platformmedia yang dimanfaatkan dalam penyampaian pesan adalah Spotify, YouTube dan Instagram.
Persepsi Khalayak pada Tayangan Konten Gaya Hidup Sehat oleh Influencer Sekar Mayang Setyo Riani; Septia Winduwati
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8136

Abstract

Communication is a way of communicate a message or information so it would change or create a new perception. Nowadays the internet has grown so rapidly that Youtube has become one of the new media channels to do to change and create perception. One perception that can be created through Youtube is about healthy lifestyle. The purpose of this study was to determine the perceptions that arose after watching Yulia Baltschun's healthy lifestyle content based on theories about the process of perception formation. The author uses a qualitative approach and is  descriptive qualitative. The results of this study are changes in perception of a healthy lifestyle before and after watching content. So that proves that Yulia Baltschun's Youtube content is able to change the perception previously owned by the audience.Komunikasi merupakan cara dalam menyampaikan pesan atau informasi sehingga mampu mengubah atau menciptakan persepsi. Saat ini internet telah berkembang dengan pesat sehingga Youtube menjadi salah satu media baru yang menjadi saluran untuk melakukan untuk mengubah dan menciptakan persepsi. Persepsi yang mampu diciptakan melalui Youtube salah satunya tentang gaya hidup sehat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi yang timbul setelah menonton konten gaya hidup sehat Yulia Baltschun berdasarkan teori tentang proses terbentuknya persepsi. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dan bersifat deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah terjadi perubahan persepsi gaya hidup sehat ketika sebelum dan setelah menonton konten. Sehingga membuktikan bahwa konten Youtube Yulia Baltschun mampu mengubah persepsi yang dimiliki sebelumnya oleh penonton.
Studi Komunikasi Budaya Buruh Pemetik Teh di Desa Cikendung, Slawi Rocki Prasetya Suharso; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8148

Abstract

Culture is an accumulative store of knowledge, experience, beliefs, values, attitudes, meanings, hierarchies, religions, time choices, roles, spatial relations, broad concepts and material objects or possessions that are needed and supported by people or generations. Tea pickers in Cikendung Village, Slawi have their own culture which made their identity. The research wanted to find out how the communication culture of the tea pickers and how their social institutions. Social institutions, which means a system of behavior and relationships that are centered on specific activities in the lives of community groups, in this study are even more specific to tea pickers in Cikendung Village. The institutions that were researched are kinship, economic, religious, and somatic. This research uses a phenomenological research method by using descriptive qualitative. The research data were obtained from successful interviews with three sources, direct observations, document studies and literature studies. One of the conclusions obtained from this research is tea picker use Jawa Ngoko language to show intimacy between them, while with the foreman and guests they use Jawa Krama language to show respect.Budaya merupakan simpanan akumulatif dari pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pilihan waktu, peranan, relasi ruang, konsep yang luas dan objek material atau kepemilikan yang dimiliki dan dipertahankan oleh sekelompok orang atau suatu generasi. Buruh pemetik teh di Desa Cikendung, Slawi memiliki budaya sendiri yang menjadikan hal itu sebagai identitas mereka. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimanakah komunikasi budaya buruh pemetik teh dan pranata sosial mereka. Pranata yang diteliti antara lain adalah kinship, economic institutions, religious institutions, dan somatic institutions. Penelitian ini menggunakan metode penelitian fenomenologi dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh dari wawancara mendalam pada tiga narasumber, pengamatan langsung, studi dokumen dan studi kepustakaan. Salah satu kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah buruh pemetik teh untuk menunjukan keakraban diantara mereka maka mereka pake jawa ngoko, sementara dengan mandor dan tamu menggunakan bahasa jawa krama untuk menunjukan rasa hormat.
Pengaruh Tayangan Rosi "Ganja: Mitos Dan Fakta" terhadap Persepsi Mahasiswa Jakarta Barat Ricardo Kurniadi; Farid Rusdi
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8175

Abstract

 One of the most viral talk show and a lot of people in Indonesian talk about it is Rosi “Cannabis: Myth and Fact”. The topic raised was cannabis, a plant that was highly negatively by Indonesians and entered into narcotics law group number 1, but turned out have a positive side for medical as discussed in the broadcast. This is evidenced by data collected from outside Indonesia such as USA, Netherlands and other countries that have legalized cannabis that this plant is very effective for medical. While cannabis in Indonesia is strictly forbidden for any reason. This study aims to determine the effect of Rosi show “Cannabis “myth and fact” can change negative perception about cannabis to be positive among west Jakarta students. This research method uses quantitative with 150 respondents from West Jakarta students who watched the show. In this research, the data analysis used is Validity Test, Reliability Test, Correlation Coefficient Test, Determination Coefficient Test, Simple Linear Regression Test. From the result of this study, it was found that there was an influence of the Rosi show “Cannabis: Myth or Fact” on the perception of West Jakarta students, which amounted to 21,3% perception (Y) imfluence impressions and the remaining 78,7% influenced by other factors such as book Cannabis Tree Story, internet articles and other factors.Salah satu tayangan talk show yang viral dan ramai dibicarakan di Indonesia adalah Rosi “Ganja: Mitos dan Fakta”. Didalam talk show ini, topik yang diangkat adalah Ganja, tanaman yang sangat dipandang negatif oleh masyakat Indonesia dan masuk ke dalam undang-undang narkotika golongan 1 ternyata memiliki sisi positif untuk kebutuhan medis seperti yang dibahas ditayangan tersebut. Hal ini dibuktikan oleh data yang telah dikumpulkan dari luar Indonesia seperti Amerika, Belanda dan negara lainnya yang telah melegalkan ganja bahwa tanaman ini sangat berkhasiat untuk medis. Sedangkan ganja di Indonesia sangat dilarang penggunaanya dengan alasan apapun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tayangan Rosi “Ganja: Mitos dan Fakta” dapat mengubah persepsi negatif tentang ganja menjadi positif dikalangan mahasiswa Jakarta Barat. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan jumlah responden 150 mahasiswa Jakarta Barat yang menonton tayangan tersebut. Dalam penelitian ini, analisis data yang digunakan adalah Uji Validitas, Uji Realibilitas, Uji Koefisien Korelasi, Uji Koefisien Determinasi, Uji Regresi Linear Sederhana. Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa terdapat pengaruh dari tayangan Rosi “Ganja: Mitos dan Fakta” terhadap persepsi mahasiswa Jakarta Barat, yaitu sebesar 21,3% persepsi (Y) dipengaruhi oleh tayangan dan sisanya 78,7% dipengaruhi oleh faktor lain seperti buku Hikayat Pohon Ganja, artikel internet dan faktor lainnya.
Karakteristik Populisme Gubernur Jawa Barat (Ridwan Kamil) dalam Postingan Instagram 27 Mei 2018 – 27 Juni 2018 Moses Stephen Pandu; Diah Ayu Candraningrum
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8230

Abstract

Populism is a phenomenon of political communication that can be a political strategy for politicians who want to represent themselves. In the campaign period for the Election of West Java Governor Ridwan Kamil as a candidate for governor used a populist strategy to gain political support from the people of West Java. Populism strategy is very important in democracy, the characteristics of Ridwan Kamil's populism can be found in the form of Instagram posts, starting from May 27, 2018 - June 27, 2018 during the campaign period of the West Java Governor General Ridwan Kamil giving Instagram posts that match 9 characteristics of polulism. To find out the characteristics of Ridwan Kamil's populism on Instagram using data collection methods by taking interview data from Mr. Khalid Zabidi, a Golkar Party cadre, Ridwan Kamil's Instagram direct observation, literature study to support research and document studies.Populisme merupakan fenomena komunikasi politik yang dapat menjadi strategi politik bagi politikus yang ingin merepresentasikan dirinya. Dalam masa kampanye Pemilihan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil sebagai calon gubernur menggunakan strategi populis untuk mendapatkan dukungan politik dari masyarakat Jawa Barat. Strategi populisme sangat penting dalam demokrasi, karakteristik populisme Ridwan Kamil bisa di temui dalam bentuk postingan Instagram,Terhitung dari 27 Mei 2018 – 27 Juni 2018 saat masa kampanye Pemilihan Gubenur Jawa Barat Ridwan Kamil memberikan postingan Instagram yang sesuai dengan 9 karakteristik polulisme. Untuk mengetahui karakteristik populisme Ridwan Kamil di Instagram menggunakan cara pengumpulan data dengan mengambil data wawancara Bapak Khalid Zabidi Kader Partai Golkar, observasi langsung Instagram Ridwan Kamil, studi pustaka untuk mendukung penelitian dan studi dokumen.
Perilaku Imitasi Pekerja Non Tuli pada Pekerja Tuli (Studi Komunikasi Kelompok di Media KamiBijak) Elvina Marcella Wijaya; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10119

Abstract

Human will always communicate throughout their lives and one of the examples is in the work environment. In a work group, a good communication between the employees is essential to finish the work optimally. It could be difficult to achieve the desired output when the communication is between employees with hearing loss and employees without hearing loss. The goal of this research is to determine the imitation behavior that conducted by employees without hearing loss toward employees with hearing loss in KamiBijak media, and also the difficulties they experienced while imitating. This research is done because there are no other researches about this topic before. Theories used in this research are group communication theory, nonverbal communication, and imitation. A qualitative approach and case study method are also used for this research. The data of this research are obtained from passive observation and interviews with five informants. The result shows that the imitation done by employees without hearing loss is copying behavior because of interest and matched-dependent behavior because of motivation. Forms of nonverbal communication that imitated by employees without hearing loss in terms of kinesics are sign gestures, facial expression, eye contact, and physical contact such as touching. Other than that, there are also vocal examples such as lips movement adjusting their speech speed, and proxemics in form of personal space in communication. The difficulties that employees without hearing loss are experiencing is that the sign language that is done by the employees with hearing loss are too fast and using only one hand.Manusia dalam melaksanakan kehidupannya tidak dapat terlepas dari komunikasi, salah satunya dalam hal bekerja. Dalam suatu kelompok kerja, dibutuhkan komunikasi yang baik antara pekerja agar dapat menyelesaikan pekerjaan bersama dengan maksimal. Hal ini menjadi sulit jika komunikasi yang dilakukan melibatkan pekerja tuli dan pekerja non tuli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku imitasi yang dilakukan pekerja non tuli pada pekerja tuli dalam kelompok kerja di media KamiBijak serta hambatan yang dialami dalam melakukan imitasi. Penelitian ini dilakukan karena belum pernah ada yang meneliti. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi kelompok, komunikasi nonverbal, dan imitasi. Penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan metode studi kasus. Data hasil penelitian diperoleh melalui observasi pasif dan wawancara mendalam dengan lima informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk imitasi yang dilakukan pekerja non tuli adalah copying behavior karena ketertarikan dan matched-dependent behavior karena adanya motivasi. Bentuk komunikasi nonverbal yang diimitasi oleh pekerja non tuli meliputi kinesik yang terdiri dari gerakan isyarat, ekspresi wajah, kontak mata, serta sentuhan. Lalu, vokalik yaitu menggunakan gerak bibir dengan mengatur kecepatan berbicara, dan proksemik dalam bentuk penggunaan jarak pribadi dalam berkomunikasi. Hambatan yang dialami pekerja non tuli dalam melakukan imitasi adalah gerakan isyarat yang dilakukan pekerja tuli terlalu cepat dan hanya menggunakan satu tangan.
Komunikasi Ekspresi dalam Permainan Teater oleh Aktor Teater Agustino Agustino; Sinta Paramita; Nigar Pandrianto
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10139

Abstract

Theatre is one of the art performances that people from various circles are interested in. Theatre has become an extra-curricular activity or curriculum in various schools and campuses. This theatre game is played by actors who play characters according to the script given by the director. Communication becomes a factor in playing theatre, one of which is expression. Actors not only use expressions only to complement dialogue but also as a form of dialogue itself. Then a problem formulation appears, namely how to communicate expressions in theatre plays by theatre actors. This study aims to determine how theatre actors communicate expression in theatre plays. The theory used in this research is the cumulative structure theory. The approach used in this research is qualitative research. The research method used in this research is a case study using data collection methods in the form of interviews and observations. Data processing and analysis techniques used in this study are data reduction, data presentation, drawing conclusions and verification. The result of this research is the communication of expression is carried out by theatre actors by conveying a meaning and honesty from within. The delivery of this meaning is carried out with facial expressions and body movements. Forms of communication expression are facial expressions, gestures, and voices.Teater merupakan salah satu pertunjukan seni yang diminati oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Teaterpun menjadi kegiatan extra kulikuler atau kurikulum diberbagai sekolah dan kampus. Permainan teater ini dimainkan oleh para aktor yang memerankan karakter sesuai dengan naskah yang diberikan oleh sutradara. Komunikasi menjadi salah satu faktor dalam bermain teater salah satunya adalah ekspresi. Para aktor tidak hanya menggunakan ekspresi hanya untuk pelengkap dialog tapi juga sebagai bentuk dari dialog itu sendiri. Maka muncul suatu rumusan masalah yakni bagaimana komunikasi ekspresi dalam permainan teater oleh aktor teater. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana aktor teater melakukan komunikasi ekspresi dalam permainan teater. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori struktur Kumulatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan metode pengumpulan data berupa wawancara dan observasi. Teknik pengolahan dan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, mengambil kesimpulan dan Verifikasi. Hasil dari penelitian ini adalah komunikasi ekspresi dilakukan oleh aktor teater dengan menyampaikan sebuah makna dan jujur dari dalam diri. Penyampaian makna ini dilakukan dengan ekspresi wajah dan gerakan tubuh. bentuk dari komunikasi ekspresi merupakan ekspresi wajah, gerak tubuh, dan suara.