ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya
The ETNORELIKA journal is dedicated as a scientific periodical publication which is expected to be an arena for exchanging ideas and thoughts in the field of Anthropology in particular and the social sciences in general. Etnoreflika comes with a mission to build tradition and academic climate for the advancement of civilization and human dignity. In addition, the ETNOREFLIKA Journal deliberately took the generic word "ethnos" which aims to expand the mission of promoting and developing a spirit of multiculturalism in the life of a pluralistic Indonesian society.
Articles
411 Documents
PEREMPUAN PEMBUAT BATU MERAH DI DESA LANGGEA KECAMATAN RANOMEETO KABUPATEN KONAWE SELATAN
Winda Herlianty;
La Ode Topo Jers;
Hasniah Hasniah
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 2 (2019): Volume 8 Nomor 2, Juni 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (265.994 KB)
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i2.588
This study aims to find out and describe the involvement of women in the process of making bricks and the strategies of women who make brick in maintaining their business and work. This study uses the theory of feminism by Naomi Wolf (1997) and Bennet's (2005) adaptation strategy theory, using the Ethnographic method. The results showed that the involvement of women in the process of making red stone in Langgea Village was at almost every stage of the process of making red stone, which starts from extracting raw materials, making dough, printing bricks, drying, making bricks, burning until selection or selection red stone (burying). There are various strategies applied by female workers in maintaining their businesses and jobs, both business owners and workers. The business owner's strategy is to choose the right location, pay attention to the quality of the red stone, and be able to market the red stone well. While the strategy of workers is to establish trust with business owners and can discipline them in work.
KOALISI PETANI MERICA DI DESA SAMBAHULE KECAMATAN BAITO KABUPATEN KONAWE SELATAN
Cici Hartiani;
Syamsumarlin Syamsumarlin;
Ashmarita Ashmarita
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 2 (2019): Volume 8 Nomor 2, Juni 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (199.955 KB)
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i2.589
The purpose of this study is to find out and describe the horizontal coalition and vertical coalition built by pepper farmers in Sambahule Village, Baito District, South Konawe Regency. The informants in this study are 8 pepper farmers in the village of Sambahule. Data collection is done by using field research. Data collection of this study used the techniques of direct observation and in-depth interviews. Data analysis is qualitative descriptive. The results show that (1) Horizontal coalitions built by pepper farmers in Sambahule Village, namely cooperation between farmers and fellow farmers (2) Vertical coalitions built by pepper farmers in Sambahule Village, namely coalition with government, means traders production, collecting traders, and NGOs with farmers in Sambahule Village.
PERSEPSI MASYARAKAT TANGKENO TERHADAP DESA WISATA
Hardiansyah Hardiansyah;
Syamsumarlin Syamsumarlin;
Akhmad Marhadi
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 2 (2019): Volume 8 Nomor 2, Juni 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (178.065 KB)
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i2.590
The purpose of this study is to find out the perceptions of local people about the existence of tourist destinations and the impact that people have on the existence of tourist villages. The theory used is the theory of phenomenology Eddmund Husserl. This research is qualitative descriptive research and data collection is done through observation (observation) and interviews. The results of the study show that the existence of the Tangkeno tourist village raises various perceptions and from various community groups. Such a phenomenon can be seen in the perceptions of the government, traditional leaders, community leaders, religious leaders, youth leaders, and students. Some positive impacts experienced by local communities, among others: improving the economy of the community and the region, improving the values of local culture, gaining new knowledge and experience. Nevertheless, negative impacts also arise such as creating new cultures and employment competition.
DINAMIKA KEPEMILIKAN LAHAN OLEH KELOMPOK MASYARAKAT DI KAWASAN HUTAN KONTU
Muin Mustawa;
La Ode Topo Jers;
Hartini hartini
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 2 (2019): Volume 8 Nomor 2, Juni 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (174.958 KB)
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i2.591
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika kepemilikan lahan di kawasan Hutan Kontu oleh masyarakat, serta mendeskripsikan aktivitas masyarakat dalam mengelola lahan di kawasan Hutan Kontu. Data diperoleh melalui penelitian lapangan dengan menggunakan Teknik wawancara teknik pengamatan (observation) dan wawancara (interview). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) dinamika status kepemilikan lahan di kawasan hutan Kontu terjadi karena adanya perlawanan masyarakat dengan saling klaim antara masyarakat dengan Pemerintah Daerah Muna. Masyarakat Kontu mengklaim Kawasan Kontu sebagai warisan leluhur nenek moyang mereka dengan luas 401,59 Hektar, dengan bukti adanya makam tua La Kundofani. Disisi lain Pemerintah Daerah Muna mengklaim lahan itu merupakan bagian dari Kawasan hutan Jompi dan Kawasan Hutan Kontu berdasarkan SK Menhutbun Nomor 454 Tahun 1999 dengan luas 1.927 Hektar sebagai hutan lindung; (b) Masyarakat melakukan aktivitas Bertani dan berkebun di kawasan hutan Kontu. Aktivitas tersebut dilakukanuntuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta membangun sarana dan prasarana, serta untuk menunjang peningkatan taraf hidup masyarakat setempat.
MEROKOK PADA SISWA SMP DI DESA WAWESA KECAMATAN BATALAIWORU KABUPATEN MUNA
Raswan Raswan
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 1 (2019): Volume 8 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (222.413 KB)
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i1.592
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab, dampak, dan cara mencegah perilaku merokok dikalangan siswa SMP di Desa Wawesa Kecamatan Batalaiworu Kabupaten Muna. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian lapangan (field research) yang dilakukan dengan menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu: pengamatan terlibat dan wawancara/interview. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan (observation), dokumentasi dan wawancara (interview), kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku merokok pada anak di Desa Wawesa terbentuk karena adanya kebiasaan merokok yang ditampilkan oleh kalangan masyarakat (usia dewasa) di sekitar anak. Perilaku tersebut secara tidak langsung memberikan ruang bagi anak dan remaja untuk mengikuti kebiasaan merokok. Perilaku merokok pada anak dipandang sebagai wujud dari sosialisasi anak dengan keluarga, teman, masyarakat, dan lingkungan. Dampak yang ditimbul dari perilaku anak merokok cenderung negatif. Salah satunya adalah rendahnya konsentrasi anak dalam belajar, sehingga prestasi anak di sekolah juga turut menurun. Selain itu, perilaku merokok pada anak juga secara mutlak mengganggu kesehatan mereka.
KEARIFAN LOKAL KAOMBO HAMOTA (KAOMBO) DI DESA BURANGASI KECAMATAN LAPANDEWA KABUPATEN BUTON SELATAN
Risnawati Risnawati;
Wa Ode Sifatu;
La Janu
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 1 (2019): Volume 8 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (389.419 KB)
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i1.593
This study aims to reveal the community's compliance with the local wisdom of Kaombo Hamota in the Burangasi community in South Buton Regency. The underlying theory is Geertz's thought of "From the Native 's Point of View" with ethnographic methods. The results of the study show that there is still public compliance with the hamota group because of the impact felt directly by both groups and outside groups, and all types of ages. The impact is in the form of signs both visible and invisible to the eye. However, there are also a handful of groups of juvenile delinquents who take several actions to avoid the effects of the Kaombo Hamota such as urinating on the roots of the tree, throwing animal droppings into the tree they wish to steal, and making a bonfire below. As a result of these actions, they feel pain like swollen swelling, itching, growing a number of boils that festering reddish color on both legs and both hands. Such a condition are enriched by the community due to stealing in the garden that has a hamota kaombo and is a byword in the community. Local people also believed that the illness could be treated by asking for help from the Bhisa who installed the hamota kaombo.
PENGETAHUAN ORANG MUNA DALAM BERTANI NENAS DI DESA KATAPI KECAMATAN PARIGI KABUPATEN MUNA
Wa Nuuna
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 1 (2019): Volume 8 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (180.907 KB)
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i1.594
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan konstruksi pengetahuan orang Muna dalam bertani nenas di Desa Katapi Kecamatan Parigi Kabupaten Muna. Penelitian ini menggunakan teori budaya sebagai sistem kognitif oleh Ward Goodenough. Metode penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan terlibat (participant observation) dan wawancara mendalam (indepth interview). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa konstruksi pengetahuan orang Muna dalam bertani nenas di Desa Katapi Kecamatan Parigi Kabupaten Muna, di mulai dari mempersiapkan tempat/lahan penanaman nenas, baik dipekarangan rumah, perbatasan kebun dan bekas tempat pembakaran. Selanjutnya, cara pengadaan bibit, dilakukan dengan saling memberi dan meminta kepada petani yang telah bertani nenas. Cara menyuburkan tanaman dilakukan dengan cara di sinala, menggunakan limbah rumah tangga seperti abu dapur, sisa cuci piring maupun air ikan. Panen dilakukan ketika nenas telah menguning. Pengetahuan orang Muna dalam bertani nenas saat ini telah mengalami perubahan menjadi lebih modern. Kendati demikian, masih ada pula kalangan masyarakat setempat yang bertani nenas secara.
PERUBAHAN BERTANI DARI TANAMAN JAMBU METE KETANAMAN CENGKEH
La Ode Dwi Apriadi;
Syamsumarlin Syamsumarlin;
La Janu
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 1 (2019): Volume 8 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (194.257 KB)
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i1.595
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses perubahan bertani dikalangan masyarakat desa Welala dari tanaman jambu mete ke bertani tanaman cengkeh, serta alasannya yang mendasari perubahan tersebut. Teori yang digunakan untuk membaca data adalah perubahan social dengan metode etnografi. Teknik penarikan informan yang digunakan adalah porposive sampling atau diambil secara sengaja. Data dijaring melalui teknik wawancara mendalam dan observasi partisipasi. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan ekonomi petani yang merupakan imbas positif dari perubahan pola bertani masyarakat setempat. Perubahan pola bertani disebabkan oleh rendahnya harga jambu mete di pasaran. Selain itu, tanaman cengkeh masuk ke Desa Welala umumnya mendapat respon yang baik dari petani, karena selain harga jualnya yang jauh lebih tingi, tanah di daerah ini juga memang sangat cocok untuk tanaman cengkeh karena berada di dataran tinggi. Kendati menunjukkan perubahan pola bertani, masyarakat setempat tidak serta merta meninggalkan aktivitas bertani jambu mete meski hanya dalam jumlah yang relatif sedikit.
MESOKO: SOLIDARITAS PADA MASYARAKAT TOLAKI DI DESA PALOWEWU KECAMATAN BENUA KABUPATEN KONAWE SELATAN
Rikarni Rikarni;
Akhmad Marhadi;
Hartini Hartini
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 1 (2019): Volume 8 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (225.273 KB)
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i1.596
Mesoko merupakan tradisi etnik Tolaki yang mencerminkan bentuk solidaritas masyarakat. Tradisi ini dilakukan untuk memberikan bantuan kepada keluarga atau orang lain yang membutuhkan bantuan secara materil. Seiring perkembangan jaman, mesoko juga terus mengalami perubahan sehingga sedikit ada perbedaan dengan beberapa tempat lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan serta fungsi tradisi mesoko di Desa Palowewu. Data kualitatif dikumpulkan melalui teknik wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa pelaksanaan tradisi mesoko di masyarakat Palowewu, sering dijumpai pada tiga jenis hajatan, yakni mesoko pernikahan, mesoko orang sakit dan mesoko pendidikan. Proses pelaksanaan mesoko terbagi dalam tiga tahapan atau proses yakni (1) menyampaikan maksud atau niat; (2) menyampaikan undangan atau menyebar informasi dan (3) pelaksanaan mesoko. Tradisi ini memiliki beberapa fungsi, mulai dari fungsi kekerabatan, fungsi solidaritas, fungsi pengontrol sosial, fungsi ekonomi, hingga fungsi pemertahanan budaya.
TARI DEWA AYU PADA ORANG BALI
Fitriani Fitriani;
Syamsumarlin Syamsumarlin;
La Ode Aris
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 1 (2019): Volume 8 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (204.624 KB)
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i1.597
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan serta fungsi tari dewa ayu dalam kehidupan social budaya orang Bali di Desa Roko-Roko, Kecamatan Tirawuta, Kabupaten Kolaka Timur. Selain itu, juga untuk mengetahui makna simbol yang terkandung dalam tari dewa ayu. Penelitian ini menggunakan teori fungsionalisme Bronislaw Malinowski dan teori simbol Victor Turner. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik pengamatan dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual tari dewa ayu merupakan tari sakral, yang ditarikan oleh wanita yang sudah mendapat restu dari dewa yang disebut sumbuan. Ritual ini sangat penting bagi kehidupan orang Bali sehingga memiliki banyak fungsi diantaranya fungsi religi, fungsi psikologi, fungsi seni, fungsi sosial, fungsi pendidikan, dan fungsi integrasi sosial. Ada beberapa makna simbol yang terkandung baik dalam perlengkapan yang digunakan maupun dalam perilaku yang ditampilkan oleh para penari dan masyarakat setempat. Ritual ini dilaksanakan dalam empat tahapan, yakni: nyari/makan, mesapa, ngelengong/menari, dan nunas tirta/minum air suci.