cover
Contact Name
Tri Widayanti
Contact Email
triwida.oku@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
triwida.oku@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Health Sciences and Pharmacy Journal
ISSN : 26221268     EISSN : 25992015     DOI : -
Core Subject : Health,
Health Sciences and Pharmacy is journal which is published by Institute of Health Science Surya Global Yogyakarta. This journal is focus on health sciences and pharmacy. It is published three times in year, that is on April, August, and December.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 2 (2024)" : 11 Documents clear
Keluhan Computer Vision Syndrom (CVS) pada karyawan BBTKLPP Yogyakarta Mumtaz, Muhammad Azriel; Tursilowati, Sri Yuni
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i2.698

Abstract

Menurut Kementrian Kesehatan RI 2019, computer vision syndrom (CVS) yaitu kumpulan gejala pada mata dan juga leher akibat penggunaan komputer atau layar monitor yang berlebihan. Layar monitor atau VDT (Visual Display Terminal) merupakan sekumpulan alat, termasuk komputer, laptop, smartphone, tablet dan konsol. Adanya keluhan subyektif yang mengarah pada kelelahan mata setelah penggunaan komputer seperti mata gatal, mata panas, mata kemerahan, penglihatan kabur, hingga sakit kepala dengan lama penggunaan komputer 2-6 jam serta jarak pandang sulit dikontrol sesuai standar OSHA (46-61) cm untuk bekerja dan yang menjadi titik berat adalah faktor individu dan komputer. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan komputer dan jarak pandang mata terhadap komputer dengan keluhan Computer Vision Syndrome (CVS) pada karyawan BBTKLPP Yogyakarta tahun 2023. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional, dengan menggunakan pendekatan survei analitik. Total populasi sebanyak 106 aparatur sipil negara BBTKLPP Yogyakarta dan diambil 84 sampel dengan pengambilan metode purposive sampling. Data diambil menggunakan kuesioner CVS-Q kemudian dianalisis dengan uji statistik Chi-Square. Nilai signifikan durasi dengan timbulnya keluhan computer vision syndrom (CVS) 0.013 < 0.05 dan jarak pandang dengan dengan timbulnya keluhan computer vision syndrom (CVS) sebesar 0.026 < 0.05. Secara simultan mempunyai hubungan dengan timbulnya keluhan computer vision syndrom (CVS) pada karyawan BBTKLPP Yogyakarta. Hal tersebut dapat dibuktikkan nilai signifikan < 0.05. Kesimpulan dari penelitian ini ada hubungan durasi dengan timbulnya keluhan computer vision syndrom (CVS) dan ada hubungan jarak pandang dengan timbulnya keluhan computer vision syndrom (CVS).
Penerapan Family Centered Care terhadap kecemasan pasien hospitalisasi pada anak Khotimah, Khusnul; Wijayanti, Fiki; Devi O, Natalia
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i2.1126

Abstract

Anak yang dirawat di Rumah sakit akan mengalami stres karena lingkungan yang asing bagi anak Sakit dan merupakan krisis utama yang tampak pada anak. Jika seorang anak dirawat di rumah sakit, maka anak tersebut akan mudah mengalami krisis karena anak mengalami stres akibat perubahan yang dialaminya. Upaya dari pihak kesehatan yang bisa dikembangkan untuk meminimalkan adanya dampak negatif dari perawatan pada anak, baik anak maupun kedua orang tua adalah dengan penerapan family centered care. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penerapan family centered care terhadap kecemasan pasien hospitalisasi pada anak di RSUD Gondo Suwarno Ungaran. Provinsi Jawa Tengah. Penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental. Desain penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah pretest-posttest with control group design. Teknik pengambilan data purposive sampling, sampel penelitian 60 yang dibagi menjadi 30 kelompok intervensi dan 30 kelompok kontrol. Istrumen penelitian menggunakan kuesioner untuk mengukur kecemasan anak. Analisis data bivariat menggunakan uji independent T-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh penerapan family centered care terhadap kecemasan pasien hospitalisasi pada anak di RSUD Gondo Suwarno Ungaran dengan p value 0,12, sehingga disimpulkan terdapat pengaruh penerapan pengaruh penerapan Family Centered Care terhadap kecemasan pasien pada anak di RSUD Gondo Suwarno Ungaran
Pelaksanaan discharge planning dengan komunikasi local language berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien Aprilici, Tia Irenia; Wijaksono, M Arief; Basit, Mohammad; Irawan, Angga
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i2.1157

Abstract

Kepuasan pasien rawat inap adalah indikator penilaian mutu pelayanan keperawatan di Rumah Sakit. Indeks kepuasan masyarakat Indonesia terhadap pelayanan kesehatan di Rumah Sakit saat ini berada di kategori baik dengan nilai mutu pelayanan B, hal ini harus terus ditingkatkan karena berhubungan dan dapat berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien. Pelayanan keperawatan berbasis komunikasi seringkali terhambat karena adanya perbedaan bahasa antara perawat dengan pasien sehingga diperlukan pendekatan budaya dengan bahasa lokal. Pelayanan keperawatan yang dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa lokal adalah pelaksanaan discharge planning untuk mempersiapkan pasien sebelum pulang ke rumah. Penelitian ini menganalisis hubungan pelaksanaan discharge planning dengan komunikasi local language bahasa Banjar terhadap tingkat kepuasan pasien rawat inap RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain survey analitik, yang dilakukan pada 62 pasien rawat inap menggunakan lembar penilaian discharge planning dan kuesioner kepuasan Servqual. Data dianalisis menggunakan uji rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar mendapat pelaksanaan discharge planning (90,3%) dan sebagian besar pasien merasa puas (91,9%). Nilai p = 0,000 < 0,05 dan nilai correlation coefficient sebesar 0,704, sehingga disimpulkan ada hubungan pelaksanaan discharge planning dengan komunikasi local language bahasa Banjar terhadap tingkat kepuasan pasien rawat inap RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh dengan tingkat korelasi kuat.
Edukasi pencegahan rabies pada siswa SMA Swasta Mulia Pratama Medan Ginting, Kalvin; Zega, Silvia Ningsi; Arlis, Arlis
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i2.1175

Abstract

Rabies merupakan salah satu penyakit yang ditularkan melalui hewan atau zoonosis, dan sering dikenal dengan sebutan penyakit "anjing gila". Tingginya angka kematian akibat penyakit yang disebabkan oleh virus rabies terutama disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang penyakit rabies serta kurangnya tindakan preventif yang diambil setelah digigit oleh hewan penular rabies. populasi yang paling rentan menjadi korban rabies adalah anak-anak. Alasan mengapa yang paling terkena dampaknya adalah anak-anak kemungkinan besar karena kedekatan alami mereka dengan hewan, khususnya kucing dan anjing. Apalagi, anak-anak umumnya tidak mengetahui kapan dirinya berisiko terkena rabies. Kadang-kadang anak-anak memprovokasi hewan untuk menggigit mereka sebagai akibat dari pelemparan batu, pemukulan, pengejaran, atau lari saat melihat hewan tersebut. Oleh karena itu, kesadaran dan pendidikan adalah kuncinya.. Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode quasi-eksperimental onegroup pretest-postest design. Dengan populasi 150 siswa dan sampel 34 siswa dengan pemberian edukasi tentang pencegahan rabies. Dengan menggunakan uji statistik wilcoxon test. Hasil penelitian menunjukkan nilai P = 0.000 (< 0.05), artinya ada perbedaan rata-rata antara pengetahuan siswa sebelum dan sesudah intervensi. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah adanya perubahan pengetahuan dalam pemberian edukasi pencegahan rabies terhadap peningkatan pengetahuan siswa SMA Swasta Mulia Pratama Medan.
Perforasi gaster: case report Rima Oktavia, Anissya; Arifin, Mohammad; Kosasih, Bay Hepi
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i2.981

Abstract

Perforasi gaster merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan destruksi pada dinding gaster yang mengakibatkan adanya hubungan antara lumen gaster dan kavum peritoneum. Dua faktor utama yang terlibat dalam etiologi adalah obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDS) dan Helicobacter pylori (H. pylori). Diagnosis dan tatalaksana yang tepat diperlukan dalam menangani kasus ini. Jenis studi ini adalah laporan kasus yang bertujuan untuk menggambarkan kasus perforasi gaster pada seorang pasien berusia 82 tahun. Studi ini dilakukan di RSUD R.A.A Soewondo Pati dan subjek dalam studi ini yaitu seorang perempuan berusia 82 tahun yang datang ke IGD dengan keluhan nyeri seluruh lapang abdomen. Nyeri perut dirasakan seperti ditusuk-tusuk, memberat bila bergerak atau batuk. Laporan kasus ini cenderung memperhatikan permasalahan dan gambaran penatalaksanaanya terutama di RSUD R.A.A Soewondo Pati terhadap kasus yang ditemukan. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang, pasien didiagnosis dengan peritonitis et causa perforasi organ berongga. Gejala paling umum yang dapat muncul adalah distensi dan nyeri pada abdomen. Alat pemeriksaan berupa pemeriksaan fisik, pemeriksaan tanda vital, pemeriksaan rectal touche, pemerikaan penunjang laboratorium dan radiologi pada pasien. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil laporan kasus menunjukkan kasus peritonitis gaster pada perempuan berusia 82 tahun dengan diagnosis akhir pasien adalah peritonitis et causa perforasi gaster dan dilakukan tatalaksana laparotomi dan didapatkan adanya perforasi corpus gaster berukuran ±2x1 cm dan dilakukan penutupan pada bagian yang mengalami perforasi. Tindakan pembedahan yang dilakukan memberikan perbaikan pada gejala.
Tatalaksana terkini krisis tiroid: case report Irawan, Budi; Mulyono, Eddy; Suprabowo, Salomo Hizkia; Mulyadi, Ezra Michael; Ghufira, Nanda
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i2.983

Abstract

Krisis tiroid merupakan kegawatdaruratan dalam bidang endokrin yang paling sering dijumpai dengan angka morbiditas dan mortalitas yang sangat tinggi. Tercatat kurang dari 10% insiden krisis tiroid dari total pasien tirotoksitosis yang dirawat di rumah sakit, namun krisis tiroid ini angka mortalitasnya sebesar 20-30%. Penanganan pada kasus ini dengan tujuan membatasi produksi hormon tiroid yang berlebihan dengan cara menekan produksi atau merusak jaringan tiroid. Jenis penelitian ini adalah laporan kasus yang cenderung memperhatikan permasalahan dan gambaran penatalaksanaanya terutama di RSUD R.A.A Soewondo Pati terhadap kasus yang ingin ditemukan. Subjek dalam laporan kasus ini yaitu seorang perempuan berusia 53 tahun datang ke IGD RSUD RAA Soewondo Pati dengan keluhan demam. Alat pemeriksaan berupa pemeriksaan fisik dan alat pemeriksaan laboratorium. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dengan menggunakan kriteria Burch dan Wartofsky. Hasil analisis diperoleh skor kriteria Burch dan Wartofsky thermoregulatory dysfunction 37,9C skor +10, cardivascular HR 112x/mnt skor +10, atrial fibrilation skor +10, congestive heart failure Absent skor 0, gastrointestinal-hepatic dysfunction moderate skor +10, central nervous system disturbance skor +10, precipitating event skor 0, didapatkan total skor >45. Pada pemeriksaan EKG didapatkan gambaran atrial fibrilasi. Pada pemeriksaan penunjang darah lengkap didapatkan trombositopenia, leukositosis, hiponatremi, hipokloremia, CKMB 45 (<25), TSH <0,10 (0,25-0,50), total T3 3,51 (0,9-2.33), total T4 195,9 (57,9-150,6), eosinofil 0,10 (2-4%), neutrofil 74,90 (50-70%), limfosit 14,2 (25-40%), monosit 10,70 (2-8%). Pengelolaan secara agresif dilakukan secara intensif dengan pemantauan ketat di intensive care unit (ICU).
Manajemen krisis Myasthenia: case report Mulyadi, Ezra Michael; Sari, Naomi Ditya; Dewi, Hapsari Kartika; Mufadhdhal, Raihan Adham; Suprabowo, Salomo Hizkia
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i2.984

Abstract

Miastenia gravis (MG) merupakan sebuah kondisi autoimun yang diakibatkan oleh antibodi pada asetilkolin (ACh) dimana mempengaruhi kerja dari otot skelet pada tautan otot saraf. Hal ini dapat mengakibatkan kelemahan kerja otot, termasuk kerja dari otot pernafasan. Komplikasi yang dapat terjadi dari MG salah satunya yakni krisis myasthenia yang mengarah terjadinya kegagalan pernafasan. Prevalensi kasus ialah 2-7 kasus tiap 10.000 orang dengan kejadian lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan kasus myasthenia gravis (MG) pada seorang pasien berusia 38 tahun. Penelitian ini merupakan laporan kasus yang berfokus pada gambaran penatalaksanaan dan permasalahan di RSUD R.A.A. Soewondo Pati terhadap kasus yang diteliti. Subjek dalam laporan ini adalah seorang perempuan berusia 38 tahun yang datang ke instalasi gawat darurat (IGD) dengan riwayat perawatan rutin untuk myasthenia gravis (MG). Pasien mengeluhkan sesak napas, kesulitan menelan, serta kelemahan pada seluruh tubuh. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik, tes Wartenberg, dan tes menghitung (counting test). Analisis data dilakukan menggunakan teknik deskriptif. Hasil laporan menunjukkan bahwa dari pemeriksaan fisik, kondisi umum pasien tampak lemah dengan Glasgow Coma Scale (GCS) E4M6V5. Tanda-tanda vital mencatat tekanan darah 154/90 mmHg, denyut jantung 95 kali/menit, laju pernapasan 26 kali/menit, suhu tubuh 36,6°C, dan saturasi oksigen 95%. Pada Wartenberg test dan counting test, hasil pemeriksaan menunjukkan hasil positif. Pemeriksaan status neurologis mengungkapkan adanya gangguan pada saraf okulomotorius berupa ptosis yang disertai diplopia. Adapun perawatan yang telah dijalani oleh pasien meliputi pemberian Mestinon dan Metilprednisolon.
Embolisme paru pada gagal jantung: case report Yakin, Moh Niko Fajrul; Mulyono, Eddy; Wicaksono, Haryo Nindito; Mufadhdhal, Raihan Adham; Akbar, Alpin Maulana
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i2.986

Abstract

Emboli paru merupakan peristiwa infark jaringan paru akibat tersumbatnya pembuluh darah arteri pulmonalis akibat peristiwa emboli. Emboli Paru dan gagal jantung akut tidak hanya memiliki gambaran klinis yang mirip namun juga memiliki banyak faktor risiko dan mekanisme patofisiologi yang sama. Evaluasi pasien gagal jantung dengan dugaan emboli paru akut adalah tantangan karena adanya tumpang tindih gejala dan tanda dari kedua gangguan tersebut. Peningkatan risiko VTE pada gagal jantung disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu penurunan aliran darah yang disebabkan oleh rendahnya curah jantung dan kelainan hemostasis. Jenis penelitian ini adalah laporan kasus yang dilaksanakan berdasarkan Surat Uji Etik yang dikeluarkan oleh UPT RSUD R.A.A Soewondo Pati No. 800/4192/0110 pada tanggal 21 Desember 2023. Laporan ini dilakukan di RSUD R.A.A Soewondo Pati dengan subjek seorang laki-laki berusia 60 tahun yang telah menjalani terapi farmakologis. Alat pemeriksaan yang digunakan meliputi pemeriksaan fisik, EKG, dan CT-Scan Thoraks. Teknik analisis data yang diterapkan adalah analisis deskriptif untuk menggambarkan temuan dari laporan kasus ini. Hasil laporan satu kasus menunjukkan bahwa pasien didiagnosis sebagai emboli paru dengan gagal jantung. Penanganan pada kasus ini dengan memberikan terapi tatalaksana ceftriaxone 1x2gr, Forixstra 1x 2,5mg, Digoxin 2x 0,25mg, Aspilet 1x80mg, Miniaspi 1x80 mg, Nitrocaf 1x2,5 mg, Lansoprazole 1x30mg. Pasien emboli paru dengan gagal jantung mungkin memerlukan agen dengan campuran vasopresor dan sifat inotropik seperti norepinefrin, epinefrin, atau dopamin.
Ensefalitis dengan status epileptikus: case report Permana, Muhammad Rizal; Sunaryo, Sunaryo; Yakin, Moh Niko Fajrul; Aditya, Klinandhi Jason; Kosasih, Bay Hepi
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i2.988

Abstract

Ensefalitis adalah suatu proses inflamasi pada parenkim otak yang biasanya merupakan suatu proses akut. Ensefalitis merupakan hasil dari inflamasi parenkim otak yang dapat menyebabkan disfungsi serebral. Status Epilepticus (SE) pada keadaan ensefalitis memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan SE karena etiologilain. Jenis penelitian ini adalah laporan kasus. Laporan kasus ini cenderung memperhatikan permasalahan dan gambaran penatalaksanaanya, terhadap kasus yang ingin. Studi ini dilaksanakan berdasarkan surat uji etik yang dikeluarkan oleh UPT RSUD R.A.A Soewondo Pati No. 800/4192/013 pada tanggal 21 Desember 2023. Subjek dalam laporan kasus ini yaitu seorang seorang laki-laki usia 23 tahun dibawa keluarganya datang ke IGD dengan keluhan penurunan kesadaran. Alat pemeriksaan yang dilakukan yakni pemeriksaan fisik, pemeriksaan neurologis, dan pemerikaan penunjang laboratorium dan radiologi pada pasien. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil laporan kasus menunjukkan diagnosa status epilepticus. Pasien kemudian diberikan antikonvulsan fenitoin untuk kontrol kejang. Selain pengobatan SE itu sendiri, perlu juga dilakukan pengobatan terhadap penyebabnya, dalam hal ini mencakup antimicrobial. Idealnya, punksi lumbal harus dilakukan segera pada pasien yang diduga mengalami infeksi otak, dan pengobatan empiris segera dimulai setelahnya.
Tiga besar prioritas penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) Apriliyan, Afandi Setia; Wahyono, Tri Yunis Miko; Kusnadi, Bai
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i2.1197

Abstract

Berdasarkan data pada Oktober 2023, Kota Bogor mengidentifikasi 7 kasus penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin (PD3I): 260 kasus campak, 3 kasus rubella, 1 kasus tetanus neonatorum, 3 kasus pertusis, 1 kasus klinis difteri, dan 94 kasus hepatitis B. Studi epidemiologi, termasuk analisis situasi, diperlukan untuk memahami masalah PD3I, termasuk penyebab dan faktor yang mempengaruhi, serta menentukan prioritas masalah kesehatan. Analisis situasi dilakukan di Kota Bogor, menggunakan studi assessment dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, penilaian menggunakan PAHO-adoapted Hanlon yang melibatkan 14 responden dari Dinas Kesehatan Kota Bogor dan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kota Bogor. Data kuantitatif dikumpulkan menggunakan kuesioner, regulasi, dan laporan melalui sumber primer dan sekunder. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara dengan responden. Hasil penilaian mengidentifikasi tiga masalah prioritas utama untuk PD3I di Kota Bogor: Campak, Hepatitis B, dan Tetanus Neonatorum. Campak dipilih sebagai masalah prioritas untuk PD3I. Terdapat 340 kasus campak terkonfirmasi pada bulan November dengan angka insidensi sebesar 32,3 per 100.000 penduduk, 9 kali lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Tantangan termasuk keterlibatan kader kesehatan yang tidak memadai dalam deteksi, pelatihan PD3I yang tidak mencukupi untuk staf Puskesmas karena keterbatasan anggaran dan tingginya pergantian, penolakan masyarakat terhadap imunisasi karena keyakinan tertentu, dan kurangnya studi tentang masalah tersebut. Campak memerlukan perhatian segera. Rekomendasi untuk meningkatkan deteksi dini dan pengendalian risiko, memastikan rasio tenaga kesehatan dan pelatihan, mengalokasikan anggaran untuk pelatihan surveilans PD3I dan surveilans berbasis masyarakat, serta melakukan studi di daerah berisiko tinggi.

Page 1 of 2 | Total Record : 11