cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Kesehatan Pharmamedika
Published by Universitas Yarsi
ISSN : 20855648     EISSN : 26552396     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Majalah Kesehatan Pharmamedika / Pharmamedika Health Magazine is a source of scientific information about medicine, pharmacy and sciences related to health aspects. This magazine is published every 6 months (2 times in a year) and each publication can contain the results of research, literature reviews, actual case reports.
Arjuna Subject : -
Articles 83 Documents
Pengaruh Pemberian Infusa Tumbuhan Sarang Semut (Hydnophytum formicarum) Terhadap Gambaran Histologi Pankreas Pada Tikus (Rattus norvegicus) Diabetes Terinduksi Aloksan Muspita Jeli, Mutiana; Nurul Makiyah, SN.
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 3, No 1 (2011): JANUARI - JUNI 2011
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.102 KB) | DOI: 10.33476/mkp.v3i1.436

Abstract

Oxidative stress has been implicated in pathogenesis of diabetes mellitus. In addition to increased production of free radicals, antioxidant defense systems are disturbed in diabetes mellitus. As a result, oxidative stress may cause oxidative damage of B-cell pancreas. Hydnophytum formicarum consists of flavonoid which function as an antioxidant. So that, it necessary do research to know influences of H. formicarum infusion to pancreas histology image of alloxan-induced-diabetic. This research is an experimental with in vivo design. Research subjects were 30 male rats Sprague Dawley strain, in 3-4 months, weight ± 200 gram were divided into 6 groups : normal control, negative control, glibenklamid dosage 0,5 mg/kgBW, H. formicarum dosage 1,26 g/kgBW, H. formicarum dosage 2,52 g/kgBW, and H. formicarum dosage 5,04 g/kgBW. Rats were inducted by alloxan dosage 130 mg/kgBW. Glibenklamid and infusion of H. formicarum were given once per day for 14 days orally. On the 15th day all the rats were then killed to carry out the pancreas. The analysis data using oneway anova test and post hoc test (Tukey).The result revealed that giving of glibenclamide, infusion of H. formicarum dosage 1,26 g/kgBW, dosage 2,52 g/kgBW, and dosage 5,04 g/kgBW was able to increase the size of Langerhans islet and amount of β-cells. Based on that, the conlusion is infusion of H. formicarum could minimize the damage of pacreas of alloxan-induced diabetic image.
Defisiensi antibodi primer dan hubungannya dengan kelainan kulit Magdalena, Maria; Mappiasse, Alwi
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 3, No 1 (2011): JANUARI - JUNI 2011
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/mkp.v3i1.441

Abstract

Primary antibody deficiency is the most abnormality found in primary immunodeficiency. It is caused by function defect and cell B development which antibody production. it is commonly found on baby and children, except common variable immunodeficiency (CVID) which mostly on adult. Cutaneous manifestaion caused by primary antibody deficiency, not specific, and not as many as other defeciency like cell T deficiency. Cutaneous abnormality caused by bacterial infection is the main problem beside atopy and autoimmune disease. Immunoglobulin replacement therapy has a important role in primer antibody deficiency management.
Efek Penghambatan Gingerol Terhadap 8- Hidroksideoksiguanosin (8-OHdG) Penginduksi Sel Kanker, HepG2 Harliansyah, Harliansyah
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 3, No 2 (2011): JULI - DESEMBER 2011
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.467 KB) | DOI: 10.33476/mkp.v3i2.447

Abstract

Oxidative stress can damage the function of normal cells and cause pathological conditions. One of the products of oxidative stress is the formation of compounds 8-hydroxy-2'deoksiguanosine (8-OHdG), which is the result of oxidation of the structure of DNA and a risk factor for cancer, atherosclerosis and diabetes on the body's tissues. In this research note that the administration of 1000 ug / ml gingerol reduces the formation of 8-OHdG hepatoma cells (HepG2) is 81.62 ± 5.59 ng / ml versus control significantly (p 0.05; r = 0.76). This result ensures that the antioxidant properties contained in the gingerol can inhibit the activity of free radical markers (8-OHdG) so likely as a preventative against degenerative diseases such as cancer cells.
Hubungan Menarche Dengan Tinggi Badan Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2013 dan 2014 Luvianti, Luvianti; Qomariyah, Qomariyah
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 9, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/mkp.v9i1.670

Abstract

Menarche adalah perdarahan pertama dari uterus yang terjadi pada seorang wanita. Usiamenarche dapat bervariasi pada setiap individu dan wilayah. Beberapa penelitian menunjukan perempuan yang mengalami menarche lebih awal mempunyai tinggi badan yang rendah dibandingkan dengan perempuan yang mengalami menarche lambat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan menarche dengan tinggi badan pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI angkatan 2013-2014. Jumlah sampel penelitian sebanyak 83 mahasiswi. Rentang usia responden yaitu 20-23 tahun. Data akan dianalisa menggunakan metoda Chi Square. Dari hasil penelitian didapatkan rata-rata usia menarche yaitu 12.24±1.16 tahun dan rata-rata tinggi badan yaitu 157,76±5.44 cm. Pada uji statistic menggunakan metoda Chi Square didapatkan P = 0.426 (p0.05) maka secara statistic tidak terdapat hubungan yang signifikan antara menarche dengan tinggi badan.
Efek Hipoxia Mimetic Cobalt Chloride (CoC12 )terhadap Ekspresi mRNA dan Aktivitas Spesifik Manganese Superoksida Dismutase (Mn SOD ) Ginjal Tikus Sandra, Yurika; Retno Prijanti, Ani; Inawati Wanandi, Septelia
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 9, No 2 (2017): DESEMBER 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/mkp.v9i2.676

Abstract

MnSOD is a primary antioxidant that protects cells from oxidative stress due to H2O2 inmitochondrial membranes. This study aims to determine the effect of CoCl2 as hypoxic mimetic agent on mRNA expression of MnSOD and MnSOD-specific activity in rat kidney. Male Sprague dawley rat are induced with 30mg/Kg body weight CoCl2 intraperitoneally. After that, the experiment was divided into 3 groups: 2, 8, and 24 hours incubation after injection. All groups are compared with control group without injection. All of rat were terminated and the kidneys were removed. mRNA expression and specific activity of the kidney MnSOD are measured. After 2 hours, mRNA expression increased up to 42 times, after 8 and 24 hours return to normal. Specific activity of MnSOD in 2 hours after injection has not changed yet, and after 8 and 24 hours increased 1.5 times. This study shows that induction of Hipoxic mimetic CoCl2 enhances mRNA expression and MnSOD-specific activity.
Jenis Kelamin dan Pengaruhnya terhadap Pemendekan Telomer Mustofa, M Samsul
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 9, No 2 (2017): DESEMBER 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1885.182 KB) | DOI: 10.33476/mkp.v9i2.681

Abstract

Berbagai studi tentang telomer mengindikasikan pemendekan telomer terkait denganpenuaan, dan usia laki-laki lebih pendek dibanding perempuan. Kajian pustaka ini bertujuan mengkaji hubungan jenis kelamin, hormon estrogen dan tingkat stres oksidatif terhadap pemendekan telomer.Telomer adalah struktur DNA non-coding untai tunggal tersusun oleh urutan pasangan basa TTAGGG yang berulang. Fungsi telomer adalah menjaga stabilitas dan integritas kromosom agar tidak terjadi penggabungan dengan kromosom lain atau terdegradasi oleh enzim nuklease. DNA telomer disintesis, dan dipelihara oleh telomerase dengan menyalin urutan RNA template. Telomerase terdiri dari Telomerase Reverse Transcriptase (TERT), Telomerase RNA Componen (TERC), dan dyskerin. Setiap terjadi pembelahan sel, telomer menjadi pendek dan memicu penuaan. Panjang telomer pada bayi normal laki-laki dan perempuan tidak berbeda bermakna. Pada usia tertentu, panjang telomer pada laki-laki lebih cepat memendek yang dipengaruhi faktor mutasi dyskerin, hormon estrogen dan peningkatan stres oksidatif. Hormon estrogen berperan sebagai antioksidan, yang berpengaruh terhadap aktivitas telomerase dan pemendekan telomer pada perempuan.
Gambaran Radiologis Foto Polos pada Pasien Sinusitis di Rumah Sakit Sekarwangi Periode Juni 2015 – Juni 2016 Shabrina Amalia, Putri; Wardhana, Arroyan
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 10, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/mkp.v10i1.686

Abstract

Sinusitis adalah inflamasi mukosa sinus paranasal yang dapat disebabkan infeksi bakteri,virus, kelainan struktur anatomi, atau infeksi pada gigi. Penegakkan diagnosis sinusitis juga ditunjang dengan pemeriksaan radiologis foto polos. Foto polos memiliki spesifitas 96-100% dan sensitivitas 70%. Jenis foto polos yang sering digunakan adalah foto Waters. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran foto polos radiologis pada pasien sinusitis di RS Sekarwangi pada periode Juni 2015-Juni 2016. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel dengan cara total sampling. Total responden penelitian adalah 50 responden dengan kriteria terdiagnosis sinusitis di RS Sekarwangi pada periode Juni 2015-Juni 2016. Pengambilan data menggunakan observasi pada rekam medik dan hasil interpretasi ahli radiologi pada foto polos Waters untuk menunjang diagnosis sinusitisnya. Analisis penelitian menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukan sebagian besar kasus adalah laki-laki, 52% menderita sinusitis, dengan umur terbanyak adalah 46-60 tahun, dan lokasi infeksi terbanyak pada sinusitis maksilaris bilateral. Gambaran khas foto polos terbanyak adalah perselubungan dan tidak ditemukan gambaran air fluid level.
Pengaruh Partisipasi Tenaga Teknis Kefarmasian dalam Menurunkan Angka Kejadian Medication Error di Bangsal Penyakit Dalam RS RK Charitas Palembang S, Sarmalina; Paryanti, Paryanti; M, Sonlimar
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 3, No 1 (2011): JANUARI - JUNI 2011
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/mkp.v3i1.437

Abstract

Medication error adalah kejadian yang  merugikan pasien akibat penanganan yang dilakukan  oleh tenaga kesehatan (human error) yang sebetulnya dapat dicegah. Medication error dapat diklasifikasi menjadi: dispensing errors, prescribing errors and administration errors. Penyebab medication error antara lain komunikasi yang kurang baik, beban kerja, sistem distribusi dan peran tenaga farmasi belum maksimal. Telah dilakukan penelitian  disalah satu bangsal di RS RK.Charitas Palembang  melalui kehadiran dan  partisipasi aktif dari tenaga teknis kefarmasian (TTK) di bangsal perawatan, dengan pendekatan pre dan post. Bentuk partisipasinya adalah  dengan melakukan pengecekan kesesuaian antara Catatan Medik (CM),  Resep (R/), Catatan Pemberian Obat Perawat (CPO) meliputi data identitas pasien, nomor Rekam Medis (RM), nama, jumlah, bentuk sediaan, kekuatan sediaan, dosis, serta aturan pakai obat pasien. Penelitian menunjukkan ada perbedaan kejadian medication error pada tiap tahapan pengambilan data, dan keberadaan TTK yang berpartisipasi aktif terbukti menurunkan angka kejadian medication error dengan nilai odds ratio 4,055. Medication error yang paling sering terjadi adalah pada fase  administrasi 81,32%, sedangkan pada fase prescribing masih terdapat error 15,88 % dan fase transcribing 2,8%.
Mekanisme Apoptosis Pada Regresi Sel Luteal Syamsul Hadi, Restu
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 3, No 1 (2011): JANUARI - JUNI 2011
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/mkp.v3i1.442

Abstract

Corpus luteum is a transient endocrine gland and its presence plays pivotal role in ovulation process, implantation, and luteinization. The regression of corpus luteum or luteolysis is actually needed for next cycle survival and playing a role in providing new follicles.  Luteal regression represents a broad definition of the process of demise of the corpus luteum that is capable of accommodating all new knowledge evolved on the molecular mechanisms activated or inhibited during the process of regression of the corpus luteum. Apoptosis is controlled by a number of regulator genes such as bcl-2 family. The ratio of Bax expression to Bcl-2 is a pivotal factor for a cell to survive or apoptosis. The increasing Bcl-2 expression will lengthen cell life, whereas increasing of Bax expression promotes cell death.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Ruptur Perineum pada Ibu Bersalin Nurulicha, Nurulicha
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 11, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/mkp.v11i1.948

Abstract

Perdarahan post partum menjadi penyebab utama 40% kematian ibu di Indonesia. Robekan Jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan pasca persalinan setelah atonia uteri. Ruptur perineum merupakan perlukaan jalan lahir yang terjadi pada saat kelahiran bayi baik menggunakan alat maupun tidak menggunakan alat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ruptur perineum pada ibu bersalin di Bidan Praktek Swasta Desa Mekarsari Kabupaten Bogor tahun 2017. Metode penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional, analisis data dengan uji Chi-square. Data berupa data sekunder dari rekam medik pasien. Sampel berjumlah 86 orang, dengan teknik total sampling. Analisis data  univariat dan bivariat. Hasil penelitian diperoleh tidak ada hubungan  signifikan (p 0.058) antara faktor paritas dengan kejadian rupur perineum, sebanyak 67% ibu dengan multipara/ grande multipara dengan, namunter dapat hubungan signifikan (p 0.038, OR 1.023) antara jarak kehamilan dengan ruptur perinem, dari 58% ibu  pada jarak kehamilan ? 2 tahun. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan (p 0.028, OR 1.144) antara berat badan bayi dengan ruptur perineum dari 80% ibu bersalin dengan berat badan bayi 2500-4000,, hubungan yang signifikan (p 0.046, OR 0.046) antara umur ibu dengan ruptur perineum, dari 85% ibu melahirkan pada kelompok umur 20-35 tahun dengan dan hubungan yang signifikan (p 0.034, OR 1.141) antara episiotomi dengan ruptur perineum dari 81%ibu yang tidak episiotomi.