cover
Contact Name
Nasrul Wathoni
Contact Email
majalah@farmasetika.com
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
majalah@farmasetika.com
Editorial Address
Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran Jl. Bandung-Sumedang KM.21, 45363 Sumedang
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Farmasetika
ISSN : -     EISSN : 26862506     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmasetika Edisi Khusus merupakan majalah online farmasi di Indonesia berbentuk artikel ilmiah populer, artikel review, laporan kasus, komentar, dan komunikasi penelitian singkat di bidang farmasi. Edisi khusus ini dibuat untuk kepentingan informasi, edukasi dan penelitian kefarmasian. Majalah Farmasetika Edisi Khusus terbit 5 kali dalam setahun.
Articles 355 Documents
Formulasi Nanosuspensi Ekstrak Etanol Kulit Batang Kayu Manis dengan Metode Bottom-Up Sani Ega Priani; Sri Peni Fitrianingsih; Livia Syafnir; Faqih Radina
Majalah Farmasetika Vol 8, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v8i4.46592

Abstract

Kayu manis memiliki berbagai aktivitas farmakologi salah satunya adalah aktivitas sitotoksik. Beberapa penelitian menunjukkan nanosuspensi dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan aktivitas sitotoksik bahan aktif.  Nanosuspensi adalah sistem dispersi koloidal mengandung partikel obat dengan ukuran <1µm yang distabilkan oleh molekul surfaktan dan atau polimer. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimasi formula nanosuspensi ekstrak etanol kulit batang kayu manis menggunakan metode bottom up dengan variasi jenis surfaktan/polimer sebagai bahan penstabil. Kulit batang kayu manis diekstraksi menggunakan etanol 96% dengan metode maserasi. Ekstrak dikembangkan menjadi sediaan nanosuspensi dengan teknik antisolvent precipitation menggunakan variasi bahan penstabil yakni tween 80, natrium lauril sulfat, polivinil alkohol (PVA), dan polivinil pirolidon (PVP). Berdasarkan hasil optimasi formula, diketahui bahwa sediaan nanosuspensi mengandung ekstrak kulit batang kayu manis 0,5% menggunakan bahan penstabil PVA 2% memiliki karakteristik fisik paling sesuai,  yang ditandai dengan penampilan  yang jernih, tanpa endapan, nilai persen transmitan 79,57±0,13 %, ukuran partikel 589±17 nm serta nilai PDI 0,50 ± 0,01. Nanosuspensi kayu manis menggunakan PVA 2% sebagai penstabil memiliki karakteristik yang paling optimum.
Pemetaan Suhu Chiller Penyimpanan Produk Rantai Dingin Pada Salah Satu PBF (Pedagang Besar Farmasi) di Jakarta Putri Pamungkas; Ida Musfiroh
Majalah Farmasetika Vol 8, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v8i4.46676

Abstract

Suhu penyimpanan merupakan salah satu parameter kritis pada penyimpanan sediaan CCP (Cold Chain Product), hal ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada kestabilan obat untuk mempertahankan atau menjaga khasiat, mutu dan efikasi. Penyimpanan obat dipengaruhi oleh beberapa faktor: cahaya, suhu, dan kelembapan yang sangat mempengaruhi kestabilan dan kualitas obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penyimpanan yang dilakukan sesuai dengan persyaratan sehingga diharapkan kualitas Cold Chain Product (CCP) dapat dijaga dan mengetahui kondisi stabil pada penyimpanan dalam chiller. Metode penelitian ini meliputi pengukuran suhu di area penyimpanan dengan menggunakan thermo data logger dan interval waktu 5 menit pada dua titik yaitu di sebelah sensor suhu dan tutup chiller. Hasil penelitian menunjukkan titik tertinggi atau titik maksimum yang diperoleh mencapai 8,2℃ yang yang terjadi sekitar pukul 10.00 – 11.00 WIB. Hal ini kemungkinan terjadi akibat adanya faktor aktivitas PBF yang telah memulai untuk menyiapkan barang dengan membuka tutup chiller dengan lama mengakibatkan kenaikan suhu pada chiller. Titik terrendah yang berhasil terekam mencapai titik 2.0℃ yang dicapai pada waktu bervariasi antara pukul 22.00 hingga di pagi hari sekitar pukul 04.00-05.00 WIB sebelum PBF beroperasi. Suhu rata-rata yang didapatkan adalah 5,15℃ yang menunjukkan bahwa suhu didalam cold room benar termasuk dalam rentang suhu penyimpanan produk rantai dingin yakni 2-8℃. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan nilai suhu pada chiller 1, 2 dan 3 telah sesuai dengan persyaratan yaitu stabil pada rentang suhu 2-8 ⁰C.
Studi Kapabilitas Proses Ampul Asam Traneksamat 100 mg pada Suatu Industri Farmasi di Jawa Barat Rizky Indah Febrianingsih Suddin Putri; Holis Abdul Holik
Majalah Farmasetika Vol 8, No 5 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v8i5.47193

Abstract

Industri farmasi memegang penuh tanggung jawab terhadap mutu dari produk yang dihasilkannya. Mutu produk harus dijaga sejak awal hingga akhir proses produksi sehingga konsumen mendapatkan produk yang aman, efektif, dan sesuai khasiatnya. Untuk meninjau suatu proses produksi dapat konsisten menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi, dilakukan Product Quality Review (PQR) dengan melihat indeks kapabilitas (Cpk). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengendalian mutu dari sediaan ampul asam traneksamat 100 mg pada industri farmasi di Jawa Barat dengan menganalisis kapabilitas proses serta menggali upaya peningkatan kualitas dengan metode six sigma melalui 5 tahapan analisa DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control). Hasil penelitian menunjukkan nilai Cpk < 1,33. Hal ini menandakan bahwa indeks kapabilitas proses masih belum memadai, dan didapatkan variasi mutu pada proses masih lebar. Rekomendasi yang dapat dilakukan dalam meningkatkan mutu proses diantaranya meningkatkan kemampuan personil dengan pelatihan, serta meninjau kembali metode yang digunakan pada tahap analisis kadar dan produksi.
Sediaan Sampo Dari Ekstrak Etanol Daun Sintrong (Crassocephalum Crepidioides): Formulasi, Karakterisasi Fisik Dan Uji Aktivitas Anti Jamur Benni Iskandar; Leny Leny; Akhmad Fajri Widodo
Majalah Farmasetika Vol 8, No 5 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v8i5.47390

Abstract

Kebersihan kulit kepala merupakan salah satu bagian pada tubuh yang harus selalu diperhatikan, terutama dari jamur yang menyebabkan ketombe yang mudah bersarang dikulit kepala. Kulit kepala akan mudah mengalami ketombe yang disebabkan oleh jamur Candida albicans jika tidak terjaga kebersihannya. Tanaman herbal yang dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans adalah daun sintrong (Crassocephalum crepidioides) yang mengandung senyawa saponin, tanin, flavonoid, dan alkaloid yang dapat digunakan untuk mencegah serta menghilangkan ketombe pada kulit kepala. Untuk itu diformulasikan sampo anti ketombe menggunakan ekstrak daun sintrong dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans serta melakukan pengujian stabilitas fisik dengan menggunakan 4 formula sampo dengan variasi konsentrasi sebesar 5% (formula I), 10% (formula II), dan 20% (formula III), dan 0% (kontrol negatif). Peneliti menggunakan jenis penelitian eksperimental dengan pengujian anti jamur menggunakan metode difusi sumuran untuk memperoleh daya hambat sediaan sampo anti ketombe ekstrak etanol daun sintrong terhadap jamur Candida albicans dengan menggunakan media PDA (Potato Dextrose Agar) serta melakukan evaluasi sediaan yaitu organoleptis, homogenitas, pH, tinggi busa, viskositas, dan iritasi. Hasil pengujian sediaan sampo dengan menggunakan 4 formula menunjukan stabilitas yang baik dilihat dari karakterisasi fisik seperti uji pH dan uji organoleptis. Hal ini ditunjukan dari parameter organoleptis dan pH dimana bentuk yang didapat stabil, sedangkan pada warna juga tidak terdapat perubahan dengan aroma sampo berbau greentea. Berdasarkan SNI hasil pH yang didapat berada pada rentang pH yang baik yaitu antara 5,0-9,0 dan memenuhi standar pH sampo yang baik. Pada uji tinggi busa yang didapat yaitu terjadinya perubahan tinggi busa selama proses pengamatan delapan minggu. Dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi sediaan sampo maka semakin sedikit busa yang dihasilkan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak daun sintrong dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan sampo anti ketombe dan memiliki aktivitas anti jamur Candida albicans serta stabil dalam uji stabilitas fisik yang dilakukaan selama 8 minggu.
Senyawa Peningkat Penetrasi pada Sistem Penghantaran Obat Topikal Berdasarkan Lipofilisitas Senyawa Obat Nikita Christinne; Eri Amalia
Majalah Farmasetika Vol 8, No 5 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v8i5.47418

Abstract

Formulasi obat merupakan faktor penting yang menentukan penghantaran obat secara optimal ke target terapi pada semua bentuk sediaan dan rute pemberiannya. Terutama pada sediaan dengan rute pemberian topikal, tidak hanya bahan aktif farmasi namun peran bahan tambahan dalam formulasi juga sangat penting. Hal ini karena obat topikal harus melewati beberapa lapisan kulit untuk mencapai aliran darah dan memberikan efek obat sehingga efikasinya bergantung pada tingkat penetrasi ke kulit. Kemajuan teknologi telah berhasil menemukan cara meningkatkan penetrasi obat baik secara kimia maupun fisika yang dapat dipilih berdasarkan tujuan terapi. Penelitian ini bertujuan memberikan informasi mengenai senyawa peningkat penetrasi, termasuk sifat dan mekanismenya yang saat ini telah digunakan untuk senyawa obat dengan lipofilisitas berbeda. Data berasal dari 56 literatur yang diperoleh melalui pencarian pada database NCBI, ScienceDirect, Google Scholar, dan PubMed dengan kata kunci “penetration enhancer AND mechanism”, “penetration enhancer AND polar OR non polar”, “lipophilicity AND topical drug”, dan “penetration enhancer mechanism”. Hasil penelusuran informasi menunjukkan bahwa senyawa peningkat penetrasi polar seperti alkohol dapat digunakan untuk meningkatkan penetrasi senyawa obat yang bersifat hidrofilik dengan cara mengganggu struktur lipid bilayer antar sel, yaitu dengan berinteraksi dengan gugus kepala polar dari lipid bilayer atau interkalasi. Sedangkan, senyawa peningkat penetrasi non polar seperti asam lemak, terpen, glikol, atau sulfoksida dapat digunakan untuk meningkatkan penetrasi senyawa obat hidrofobik dengan cara berinteraksi dengan rantai hidrokarbon pada lipid bilayer yang mengakibatkan fluidisasi. Surfaktan dapat digunakan untuk meningkatkan penetrasi senyawa obat hidrofilik dan hidrofobik dengan cara dengan mengganggu susunan keratin intraseluler.
Peningkatan Disolusi dan Stabilitas Efavirenz Menggunakan Beberapa Metode Dispersi Padat Meylani Sutoro; Yoga Windhu Wardhana; Camellia Panatarani
Majalah Farmasetika Vol 8, No 5 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v8i5.40510

Abstract

Efavirenz merupakan obat terapi AIDS yang memiliki beberapa bentuk polimorf. Beberapa bentuk polimorf akan memiliki perbedaan dalam disolusi dan stabiltasnya. Dispersi padat merupakan dispersi bahan aktif farmasi kedalam pembawa yang hidrofilik, yang bertujuan untuk meningkatkan disolusi dan stabilitasnya. Beberapa metode dispersi padat efavirenz pada penelitian sebelumnya yang berpotensi dalam meningkatkan kelarutan, disolusi, dan stabilitas efavirenz diantaranya hot melt extrusion, penguapan pelarut, pengeringan semprot, pengeringan beku, dan pengadukan (kneading). Diantara kelima metode dispersi padat yang dapat dirujuk diantara metode lainnya dalam meningkatkan kelarutan, disolusi, dan stabilitas adalah hot melt extrusion karena telah dilakukan uji kelarutan dan disolusi dengan peningkatan kelarutan rentang hingga 5,45 kali dan peningkatan disolusi hingga 9 kali dibandingkan efavirenz murni, serta pengujian stabilitas tetap stabil setelah dilakukan selama 1-6 bulan. Namun metode lainnya terkecuali penguapan pelarut (karena tidak meningkatkan profil disolusi meskipun stabil dalam penyimpanan 1 bulan), seperti pengeringan semprot, pengeringan beku, dan pengadukan (kneading) dapat dijadikan rujukan untuk pengembangan dispersi padat untuk meningkatkan kelarutan, disolusi, dan stabilitas efavirenz. Peningkatan stabilitas setelah penyimpanan salah satunya ditandai dengan stabil dalam bentuk amorf, stabil atau serupa dalam kelarutan, profil pelepasan dan kandungannya. Perbaikan stabilitas penyimpanan dispersi padat perlu disesuaikan antara parameter metode dispersi padat (terutama suhu dan perilaku mekanis) dengan sifat pembawa dan atau eksipien lain yang akan digunakan (seperti pelarut, plastizer dsb.).
Penilaian Risiko Kontaminasi Silang pada Area Produksi pada Salah Satu Industri Farmasi di DKI Jakarta Christina Damayanti; Aliya Nur Hasanah
Majalah Farmasetika Vol 8, No 5 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v8i5.46906

Abstract

Kontaminasi silang dapat mempengaruhi mutu dan keamanan produk yang diproduksi oleh industri farmasi. Metode FMEA (Failure Modes and Effects Analysis) merupakan metode yang dapat digunakan untuk menilai risiko terjadinya kontaminasi silang. Penilaian risiko ini dilakukan dengan tahapan identifikasi risiko, analisis risiko, dan evaluasi risiko yang menggunakan pengkategorian berdasarkan Risk Priority Number (RPN). Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian berupa penilaian risiko kontaminasi silang pada area produksi pada salah satu industri farmasi di DKI Jakarta. Penelitian ini menunjukkan 38 risiko dengan kategori berdasarkan RPN yaitu rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi dari keseluruhan proses produksi. Nilai RPN terendah sebesar ≤30 dan tertinggi sebesar ≥150. Berdasarkan nilai tersebut, didapatkan risiko dengan nilai RPN 30-60 (sedang), 75-100 (tinggi), dan lebih dari 150 (sangat tinggi) yang menjadi prioritas untuk menentukan tindakan pengendalian terhadap risiko yang telah teridentifikasi. Oleh karena itu, industri farmasi tersebut dapat segera menentukan dan melaksanakan tindakan pengendalian untuk mengurangi risiko keberulangan kontaminasi silang, seperti teknik pembersihan yang dimodifikasi serta pembungkusan peralatan kotor dan peralatan bersih yang tidak dilakukan. Tindakan pengendalian dapat dilakukan dengan pelatihan personil, perbaikan SOP, serta peningkatan fasilitas pembersihan sehingga mutu produk yang diproduksi tetap terjaga.
Uji Sifat Fisik Sediaan Lulur Ekstrak Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) Serta Uji Efektivitas Kelembaban (Moisture) dan Kehalusan (Evenness) pada Kulit Iskandar, Benni; Tarigan, Jacub; Leny, Leny; Hanum, Widia
Majalah Farmasetika Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i1.49230

Abstract

Sediaan lulur atau“body scrub” merupakan salah satu dari banyaknya sediaan kosmetik, lulur tersendiri berfungsi membuang ataupun mengangkat sel mati. Bayam merah (Amaranthus tricolor L.) adalah tanaman ataupun lebih tepatnya jenis sayuran yang biasa dikonsumsi sehari-hari yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku dari sediaan lulur karena tingginya kandungan antosianin. Antosianin pada bayam merah bermanfaat sebagai antioksidan yang mampu menghambat radikal bebas. Bayam merah juga kaya akan kandungan vitamin A, Vitamin C, protein, kalsium, dan lainnya. Adapun tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui bayam merah yang dapat diformulasikan menjadi sediaan lulur atau body scrub yang memiliki karakteristik yang stabil dan mampu memperbaiki, meningkatkan kadar air pada kulit serta kehalusan pada kulit. Proses dan metode studi ini dengan mengekstraksi daun bayam merah (Amaranthus tricolor L.) dengan maserasi, kemudian formulasi sediaan lulur dibuat dengan beberapa variasi konsentrasi yaitu 0,5%, 1% dan 1,5%. Pengujian sediaan meliputi organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, iritasi, uji stabilitas, uji efektivitas kelembaban dan kehalusan dengan menggunakan instrumen skin analyzer pada kulit sukarelawan. Hasil studi yang dibuktikan dengan membandingkan hasil sebelum dan setelah cycling test menunjukan bahwa sedian lulur dari masing-masing formula memenuhi persyaratan organoleptis, homogenitas, pH lulur 5,7-5,9 (persyaratan pH sediaan ke kulit yaitu 4,5-6,5), daya sebar 5,3-5,6 (persyaratan 5-7 cm), tidak mengiritasi kulit, serta uji efektivitas kelembaban (moisture) dan kehalusan (evenness) pada kulit sukarelawan menunjukkan hasil analisis studi yang signifikan (p ≤ 0,05) pada F1, F2, F3 dan tidak menunjukkan hasil analisis yang signifikan (p ≥ 0,05) pada F0. Kesimpulan yang dapat diambil dari studi ini bahwa ekstrak daun bayam merah (Amaranthus tricolor L.) dapat diformulasikan serta memenuhi persyaratan uji sifat fisik sediaan lulur atau body scrub, tidak menyebabkan iritasi pada kulit, serta dapat memberikan kenaikan nilai persentase efek yang melembabkan kulit dan menghaluskan kulit dengan menggunakan skin analyzer.
Aktivitas Antioksidan dan Penentuan Nilai SPF Ekstrak Etanol Tanaman Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) Dalam Sediaan Krim Tabir Surya Yuriga Salsya Sahertia; Selly Harnesa Putri; Anis Yohana Chaerunnisaa
Majalah Farmasetika Vol 8, No 5 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v8i5.48442

Abstract

Patikan kebo (Euphorbia hirta L.) merupakan tanaman gulma yang biasa tumbuh disekitar pekarangan rumah atau pinggir jalan. Patikan kebo mengandung senyawametabolit sekunder golongan alkaloid, flavonoid, fenolik, dan tannin. Golongan senyawaflavonoid dan fenolik berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan dapat mencegahdampak negatif yang ditimbulkan oleh radiasi sinar UV dan memberikan perlindunganterhadap sinar UV karena memiliki ikatan rangkap terkonjugasi yang dapat beresonansiketika terkena sinar UV sehingga bersifat fotoprotektif. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui aktivitas antioksidan dan nilai SPF ekstrak etanol tanaman patikan kebodalam menghambat radikal bebas serta mengetahui pengaruh penambahankonsentrasi ekstrak tanaman patikan kebo terhadap karakteristik fisikokimia dan nilaiSPF dalam sediaan krim tabir surya. Pengambilan senyawa metabolit dilakukan denganekstraksi maserasi. Pengujian aktivitas antioksidan ekstrak tanaman patikan kebomenggunakan metode DPPH dengan kontrol positif vitamin C. Analisis data dilakukandengan metode deskriptif dan statistik menggunakan regresi linear. Berdasarkan hasilpenelitian, ekstrak etanol tanaman patikan kebo dapat menghambat radikal bebasdengan nilai IC50 sebesar 19,53 ppm yang termasuk kategori antioksidan sangat kuat.Nilai SPF ekstrak etanol patikan kebo sebesar 19,30 pada konsentrasi 300 ppm yangtermasuk kategori proteksi ultra. Formula sediaan krim tipe minyak dalam airmenghasilkan karakteristik fisikokimia yang baik dengan nilai pH sebesar 4,8, viskositas20273 cPs, daya lekat 5,4 detik, daya sebar 2,8 cm, dan nilai SPF tertinggi sebesar5,46 yang termasuk kategori proteksi sedang.
Karakteristik Face Scrub dari Sediaan Simplisia Rumput Laut Sargassum sp Nusaibah, Nusaibah; Cempaka, Cika Issabela; Abrian, Satriya; Susanti, Oktora; Andayani, Tri Rahayu
Majalah Farmasetika Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i1.49265

Abstract

Penggunaan antioksidan sintetik seperti BHA, BHT dan TBHQ dalam pembuatan kosmetik memiliki efek memicu pertumbuhan kanker. Oleh karena itu, diperlukan agen antioksidan alami yang aman digunakan untuk kulit. Sargassum sp. adalah alga coklat yang memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai agen antioksidan alami untuk pembuatan face scrub. Face scrub adalah salah satu jenis kosmetik yang memiliki fungsi mengangkat sel-sel mati sehingga kulit tidak terlihat kusam. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi terbaik dan pengaruh penambahan Sargassum sp. terhadap aktivitas antioksidan dan karakteristik face scrub. Formula yang digunakan yaitu F0 sebagai kontrol, F1 penambahan Sargassum sp. sebanyak 1%, F2 3% dan F3 5%. Pengujian yang dilakukan meliputi uji hedonik, antioksidan dengan metode FRAP, pH dan uji kelembapan. Analisis data hedonik dan kelembapan menggunakan uji Kruskal wallis dengan uji lanjut Mann Whitney-U dan pH menggunakan One way ANOVA dengan uji lanjut beda nyata terkecil (BNT). Hasil uji penelitian menunjukkan F2 merupakan formulasi terbaik dengan Nilai IC50 sebesar 652,99 ppm, pH sebesar 6,42, kelembapan 64,66% dan uji hedonik disukai terutama parameter ketampakan dan tekstur. Penambahan Sargassum sp. terbukti dapat memengaruhi nilai antioksidan, hedonik, pH dan kelembapan produk face scrub.

Filter by Year

2016 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 6 (2025) Vol 10, No 5 (2025) Vol 10, No 4 (2025) Vol 10, No 3 (2025) Vol 10, No 2 (2025) Vol 10, No 1 (2025) Vol 9, No 6 (2024) Vol 9, No 5 (2024) Vol 9, No 4 (2024) Vol 9, No 3 (2024) Vol 9, No 2 (2024) Vol 9, No 1 (2024) Supl. 9 No. 1, Tahun 2024 Vol 8, No 5 (2023) Vol 8, No 4 (2023) Vol 8, No 3 (2023) Vol 8, No 2 (2023) Vol 8, No 1 (2023) Vol 7, No 5 (2022): Vol. 7, No. 5, Tahun 2022 Vol 7, No 4 (2022): Vol. 7, No. 4, Tahun 2022 Vol 7, No 3 (2022): Vol. 7, No. 3, Tahun 2022 Vol 7, No 2 (2022): Vol. 7, No. 2, Tahun 2022 Vol 7, No 1 (2022): Vol. 7, No. 1, Tahun 2022 Vol 6, No 5 (2021): Vol. 6, No. 5, Tahun 2021 Vol 6, No 4 (2021): Vol. 6, No. 4, Tahun 2021 Vol 6, No 3 (2021): Vol. 6, No. 3, Tahun 2021 Vol 6, No 2 (2021): Vol. 6, No. 2, Tahun 2021 Vol 6, No 1 (2021): Vol. 6, No. 1, Tahun 2021 Vol. 6, Supl. 1, Tahun 2021 Vol 5, No 5 (2020): Vol. 5, No. 5, Tahun 2020 Vol 5, No 4 (2020): Vol. 5, No. 4, Tahun 2020 Vol 5, No 3 (2020): Vol. 5, No. 3, Tahun 2020 Vol 5, No 2 (2020): Vol. 5, No. 2, Tahun 2020 Vol 5, No 1 (2020): Vol. 5, No. 1, Tahun 2020 Vol 4, No 5 (2019): Vol. 4, No. 5, Tahun 2019 Vol 4, No 4 (2019): Vol. 4, No. 4, Tahun 2019 Vol 4, No 3 (2019): Vol. 4, No. 3, Tahun 2019 Vol 4, No 2 (2019): Vol. 4, No. 2, Tahun 2019 Vol 4, No 1 (2019): Vol. 4, No. 1, Tahun 2019 Vol. 4, Supl. 1, Tahun 2019 Vol 3, No 5 (2018): Vol. 3, No. 5, Tahun 2018 Vol 3, No 4 (2018): Vol. 3, No. 4, Tahun 2018 Vol 3, No 3 (2018): Vol. 3, No. 3, Tahun 2018 Vol 3, No 2 (2018): Vol. 3, No. 2, Tahun 2018 Vol 3, No 1 (2018): Vol. 3, No. 1, Tahun 2018 Vol 2, No 5 (2017): Vol. 2, No. 5, Tahun 2017 Vol 2, No 4 (2017): Vol. 2, No. 4, Tahun 2017 Vol 2, No 3 (2017): Vol. 2, No. 3, Tahun 2017 Vol 2, No 2 (2017): Vol. 2, No. 2, Tahun 2017 Vol 2, No 1 (2017): Vol. 2, No. 1, Tahun 2017 Vol 1, No 5 (2016): Vol. 1, No. 5, Tahun 2016 Vol 1, No 4 (2016): Vol. 1, No. 4, Tahun 2016 Vol 1, No 3 (2016): Vol. 1, No. 3, Tahun 2016 Vol 1, No 2 (2016): Vol. 1, No. 2, Tahun 2016 Vol 1, No 1 (2016): Vol. 1, No. 1, Tahun 2016 More Issue