cover
Contact Name
Nasrul Wathoni
Contact Email
majalah@farmasetika.com
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
majalah@farmasetika.com
Editorial Address
Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran Jl. Bandung-Sumedang KM.21, 45363 Sumedang
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Farmasetika
ISSN : -     EISSN : 26862506     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmasetika Edisi Khusus merupakan majalah online farmasi di Indonesia berbentuk artikel ilmiah populer, artikel review, laporan kasus, komentar, dan komunikasi penelitian singkat di bidang farmasi. Edisi khusus ini dibuat untuk kepentingan informasi, edukasi dan penelitian kefarmasian. Majalah Farmasetika Edisi Khusus terbit 5 kali dalam setahun.
Articles 355 Documents
Review: Formulasi dan Evaluasi Tablet Pelepasan Tertunda dan Pelepasan Terkontrol Fatma, Ira Dwi; Kartika, Yuni; Maryana Ulfah, Raden Roro; Rinaldi, Muhammad Dodit; Pratama, Reza; Pahlevi, Muhamad Reza
Majalah Farmasetika Vol 9, No 5 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i5.56260

Abstract

Tablet merupakan suatu bentuk sediaan padat yang mengandung zat aktif dan zat tambahan yang meliputi bahan pengikat, pengisi, penghancur, dan pelicin. Modified Release ini terbagi menjadi dua sistem pelepasan obat yaitu pelepasan tertunda (Delayed Release) dan pelepasan terkontrol (Controlled Release). Tablet lepas terkendali (Controlled Release tablet) adalah pelepasan senyawa yang dapat disesuaikan pada tingkat yang efektif sebagai respon terhadap waktu dan rangsangan. Tablet lepas tertunda (Delayed release tablet) adalah obat yang dilepaskan pada waktu yang lebih lambat setelah pemberian. Metode yang digunakan dalam review ini adalah dengan melakukan penelusuran studi pustaka secara elektronik dengan cara mengakses situs pencarian jurnal internasional dan nasional yang berkaitan  dengan  kata  kunci “Modified Release, Delayed Release, Controlled Release”. Untuk menjamin suatu mutu sediaan obat perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi tablet meliputi uji keseragaman bobot, kerapuhan tablet, kekerasan tablet dan disolusi tablet.
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Oral Thin Film Ekstrak Daun Saga Rambat (Abrus Precatorius L.) dengan Variasi Konsentrasi Peg 400 Ambarwati, Rini; Andini, Septia; Solihat, Silvya Nurul
Majalah Farmasetika Vol 9, No 4 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i4.55045

Abstract

Daun saga rambat (Abrus precatorius L.) dapat menjadi alternatif pada pengobatan sariawan yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat secara turun – temurun dengan cara ditumbuk sampai lumat dan kemudian ditambah air matang untuk dikumur atau bahkan diminum. Daun saga rambat memiliki aktivitas sebagai antijamur, karena tanaman ini mengandung senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, saponin, alkaloid dan steroid yang dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan variasi polimer HPMC dan PEG 400 yang menghasilkan mutu fisik terbaik dari sediaan oral thin film ekstrak daun saga (Abrus precatorius L.) yang memenuhi syarat mutu. Sediaan dibuat sebanyak 4 formula dengan perbedaan konsentrasi pada PEG 400 yaitu F1 dengan konsentrasi 5%, F2 dengan konsentrasi 10%. F3 dengan konsentrasi 15%. Dan F4 dengan konsentrasi 20%. Hasil penelitian menunjukkan variasi konsentrasi berpengaruh terhadap mutu sediaan oral thin film, formula 3 merupakan formula formula terbaik berdasarkan uji waktu hancur (48 detik), uji ketahanan lipat (201,2) dan persen pemanjangan (85,71%).
Karakteristik Nanoemulsi Isolat Brazilin dari Tanaman Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) Asli Indonesia   Lestario, Jonathan Rizky; Sari, Intan Permata; Andareza, Arie; Fadillah, Sehan; Rachmaniar, Revika
Majalah Farmasetika Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i2.50495

Abstract

Brazilin merupakan isolat yang berasal dari tanaman kayu secang (Caesalpinia sappan L.) dan termasuk golongan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan. Kelarutan brazilin dalam air kurang baik sehingga menghambat penetrasi ke dalam membran. Oleh sebab itu, kelarutan brazilin dalam air perlu ditingkatkan dengan cara membentuk brazilin dalam ukuran nanometer. Tujuan penelitian ini adalah memformulasi dan mengkarakterisasi nanoemulsi brazilin. Metode penelitian yang dilakukan untuk membentuk nanoemulsi brazilin adalah metode self-nanoemulsifying. Nanoemulsi brazilin mengandung 0,005% isolat brazilin, 27,5% Tween 80, 24,5% PEG 400, dan isopropil miristat dengan berbagai variasi konsentrasi. Isopropil miristat pada formula 1 sebanyak 6%, formula 2 sebanyak 10%, dan formula 3 sebanyak 20%. Karakterisasi nanoemulsi brazilin meliputi uji organoleptis, pH, viskositas, tipe nanoemulsi, sentrifugasi, transmitan, ukuran partikel, indeks polidispersitas, dan zeta potensial. Dari ketiga formula nanoemulsi brazilin, formula 1 memenuhi persyaratan nanoemulsi. Nanoemulsi brazilin formula 1 menunjukkan tidak ada pemisahan fase, viskositas dalam rentang 10-100 cP, nilai pH yang baik untuk kulit, transmitan yang jernih, ukuran partikel 49,1 ± 32,2 nm, indeks polidispersitas 0,324, dan zeta potensial -8,9 mV. Berdasarkan penelitian ini, kesimpulan yang diperoleh adalah brazilin berhasil diformulasi menjadi nanoemulsi menggunakan 27,5% Tween 80, 24,5% PEG 400, dan 6% isopropil miristat. Karakteristik nanoemulsi brazilin telah memenuhi persyaratan nanoemulsi dengan ukuran partikel sebesar 49,1 ± 32,2 nm.
Potensi Rumput Laut Guso (Eucheuma spinosum) Hasil Budidaya Lokal Sebagai Bahan Kosmetik: Sebuah Studi Literatur Putri, Ramadhania Ariza; Anggraeni, Santi Rukminita; Mita, Soraya Ratnawulan
Majalah Farmasetika Vol 9, No 4 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i4.56043

Abstract

Produk kosmetik yang mengandung bahan alami memberi lebih banyak khasiat, sehingga membuat konsumen lebih memilih produk dengan kandungan bahan alami. Industri kecantikan akan menjadi salah satu penggerak ekonomi paling utama karena Indonesia merupakan negara dengan populasi terbanyak ke-4 di dunia. Selain itu, potensi dan kekayaan alam di Indonesia juga mendukung perusahaan kosmetik luar dan dalam negeri untuk mengembangkan produk kosmetik dan skin care yang natural yang berkualitas. Senyawa alami digunakan sebagai bahan kosmetik memiliki keuntungan yang lebih banyak dibanding komposisi yang ada pada produk kosmetik pada umumnya, karena biasanya lebih ramah lingkungan, tidak beracun, tidak bersifat karsinogenik, lebih mudah didapatkan, dan lebih menguntungkan perekonomian Salah satu spesies alga merah (Rhodophyta) yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah Eucheuma spinosum. Spesies ini dapat dibudidayakan di banyak daerah perairan Indonesia, seperti Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, hingga Riau. Contoh senyawa yang dapat dihasilkan E. spinosum adalah iota carrageenan, pigmen alga (karotenoid), flavonoid, senyawa fenolik, alkaloid, triterpenoid, steroid, tanin, dan saponin. Senyawa tersebut memiliki berbagai potensi di bidang kosmetik, misalnya sebagai senyawa antioksidan, antibakteri, senyawa fotoprotektif, bahan pelembab kulit, senyawa anti-tyrosinase, anti-aging dan agen pembentuk gel atau stabilisator pada produk kosmetik.
Implementasi Manajemen Risiko pada Cold Room Penyimpanan Bahan Baku Produk Biologi Farmasi Sebagai Langkah Penjaminan Kualitas Sulaeman, Luthfi Ihsan; Roestan, Mas Rahman; Nurrasjid, Evi Sylvia; Kustiyawan, Iwa
Majalah Farmasetika Vol 9, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i3.53415

Abstract

Sebagai langkah awal penjaminan kualitas produk biologi farmasi, salah satu fokusutama adalah menjaga stabilitas bahan baku sejak proses penyimpanan. Suhu menjadiparameter lingkungan kritis yang berpotensi memengaruhi kualitas, sehingga kondisipenyimpanan dari mulai bahan baku harus dipastikan sesuai spesifikasi. Sebagai upayamitigasi risiko, sangat esensial untuk menilai dan mengevaluasi kesesuaian suhupenyimpanan bahan baku produk. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan memastikankeberlanjutan kualitas bahan baku dan menilai risiko selama periode penyimpananbahan baku pada cold room. Penelitian ini dilakukan dengan menempatkan sensorsuhu secara representatif di berbagai area cold room I (CR I) penyimpanan bahan bakusuhu beku -20°C dengan toleransi (-10°C sampai -25°C) dan cold room II (CR II)penyimpanan suhu dingin (2°C sampai 8°C). Pengukuran suhu dilakukan sepanjang hariselama satu bulan, dan data hasil pengukuran dicatat menggunakan sistem pencatatanterintegrasi untuk melihat tren perubahan suhu pada cold room sebagai pertimbanganevaluasi penilaian risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren suhu pada CR Iterkesan fluktuatif di antara -24,9°C sampai dengan -13,3°C dikarenakan adanyakegiatan defrost. Sedangkan pada CR II terjadi penurunan suhu dari 4,2°C menuju 2,1°Cdikarenakan terjadi penumpukan embun beku. Meskipun demikian berdasarkanpenelitian yang telah dilakukan kondisi suhu penyimpanan pada CR I dan CR II masihsesuai dengan rentang spesifikasi. Akan tetapi, diperlukan kajian mengenai carapengendalian kestabilan suhu yang optimal seperti optimasi metode defrost kombinasikipas dan kompresor, penerapan sistem dual fan, dan Pemantauan suhu real timedengan sistem sensor terintegrasi Internet of Things (IoT) untuk mencegah risiko.
Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Ekstrak Etanol Kulit Jeruk Siam (Citrus nobilis var. microcarpa) terhadap Uji Stabilitas Fisik dan Kelembaban Kulit pada Sediaan Lotion Arantika, Jane; Hidayati, Hidayati
Majalah Farmasetika Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i2.50967

Abstract

Kulit jeruk memiliki kandungan vitamin C dan antioksidan kuat lebih banyak daripada buahnya yang dapat berfungsi sebagai pelembab alami kulit sehingga dapat mengatasi kulit kering. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ekstrak 5%, 7,5%, dan 15% terhadap uji stabilitas fisik dan uji kelembaban kulit pada sediaan lotion ekstrak etanol kulit jeruk Siam. Metode penelitian adalah penelitian eksperimental. Prosedur kerja terdiri dari identifikasi tanaman, pembuatan ekstrak, pembuatan sediaan, uji stabilitas fisik sediaan (uji organoleptik, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat dan uji homogenitas), uji iritasi dan uji kelembaban kulit. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan uji ANOVA menggunakan SPSS. Hasil stabilitas fisik sediaan pada uji organoleptis dari ketiga formulasi tersebut menunjukkan warna kuning muda sampai cokelat, bau black opium essense, bentuk semi solid, homogen, memiliki nilai pH kisaran 7,5-8,0, nilai daya sebar 5,5-7cm, dan daya lekat ≥4 detik. Hasil dari pengujian stabilitas fisik sediaan semua telah memenuhi persyaratan/standar yang telah ditentukan dengan nilai signifikan (P<0,05). Hasil uji iritasi tidak menunjukkan adanya iritasi dan hasil uji kelembaban adanya peningkatan kelembaban kulit setiap minggu pada setiap formula dengan nilai signifikan (P<0,05). Formulasi terbaik yang dapat memberikan efek melembabkan yang paling tinggi adalah pada konsentrasi 15% (F3). Semakin tinggi kosentrasi ekstrak maka semakin tinggi nilai kelembabannya. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa variasi konsentrasi ekstrak etanol kulit jeruk Siam berpengaruh pada uji stabilitas fisik sediaan dan uji kelembaban kulit.
Uji Aktivitas Antioksidan Nano Spray Gel Ekstrak Daun Singkong (Manihot esculenta) Mardiyah, Mahirah; Khairunisa, Lubna; Nurjanah, Vina Oktaviany; Maulud, Dessylva; Putri, Syifa Aulia; Ambardhani, Nurul; Syaputri, Fauzia Ningrum
Majalah Farmasetika Vol 9, No 5 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i5.57607

Abstract

Daun singkong (Manihot esculenta) mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan dapat dimanfaatkan sebagai sediaan kosmetika yang dapat mencegah penuaan pada kulit. Nano spray gel merupakan inovasi bentuk penghantaran dari sediaan gel dengan teknologi nano yang terbentuk dengan adanya penggabungan gel dan nanoemulsi. Nanoemulsi yang terdiri dari campuran minyak dan air yang ditambahkan surfaktan.  Riset ini bertujuan untuk menentukan formulasi, evaluasi, dan aktivitas antioksidan dari sediaan nano spray gel yang mengandung ekstrak daun singkong. Metode pembuatan nano spray gel dilakukan dengan menggabungkan sediaan nanoemulsi  berisi ekstrak daun singkong bervariasi konsentrasi ekstrak F1 0,5%; F2 0,75%; dan F3 1% pada nano gel dengan bantuan homogenizer. Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak daun singkong positif terhadap golongan flavonoid, alkaloid, saponin, triterpenoid, steroid, fenolik, dan tanin. Nano spray gel menghasilkan nilai IC50 F1 sebesar 46,341 μg/mL, F2 sebesar 65,984 μg/mL dan F3 sebesar 71,984 μg/mL. Disimpulkan bahwa, F1 memiliki kategori antioksidan sangat kuat karena kurang dari 50.
Gap Analysis Kualifikasi Kinerja HVAC dan Mesin Sterilisator Berdasarkan CPOB dan EU GMP Terhadap Protokol di Salah Satu Industri Farmasi Farkhani, Meigita Indah; Musfiroh, Ida
Majalah Farmasetika Vol 9, No 4 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i4.56399

Abstract

Dalam memenuhi mutu suatu produk di industri farmassi, perlu dilakukan pengawasan salah satunya pada sistem tata udara dan mesin sterilisator untuk memastikan produk yang dihasilkan memiliki mutu yang konsisten baik dengan proses kualifikasi yang mengacu pada CPOB dan EU GMP sebagai pedoman produk yang dipasarkan di dalam negeri dan wilayah Eropa. Dengan adanya perkembangan pada pedoman yang digunakan, selanjutnya dilakukan analisa gap antara pedoman terbaru dengan protokol kerja yang digunakan. Protokol kualifikasi kinerja HVAC dan mesin sterilisator dibandingkan dengan pedoman, lalu dilakukan analisa gap, selanjutnya hasil dari analisis ini disajikan secara deskriptif. Hasil dari analisis gap ini ditemukan adanya gap antara pedoman dengan protokol, yang mana penyesuaian batas penerimaan recovery test, dilakukan penentuan CCS, pembuatan risk assessment untuk pemetaan titik pemantauan kualitas udara dan lingkungan, melakukan penyusunan protokol kerja kualifikasi tunnel sesuai parameter kritis yang diatur pada pedoman, dan melakukan risk assessment untuk proses kualifikasi autoclave. Maka dari itu, berdasarkan berdasarkan gap yang ditemukan ini, perlu dilakukan perbaikan/perubahan pada protokol kerja sehingga protokol yang digunakan pada proses kualifikasi selanjutnya lebih relevan terhadap pedoman yang digunakan dan dapat memberikan tingkat kepercayaan hasil yang lebih baik.
Formulasi Sediaan Lip cream dari Ekstrak Bunga Kembang Sepatu ( Hibiscus rosa sinensis L.) Sebagai Zat Warna Alami Soyata, Amelia; Hodijah, Siti; Suhendri, Martin
Majalah Farmasetika Vol 9, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i3.51674

Abstract

Lip Cream ialah pewarna bibir yang dibuat dengan bentuk semi padat dengan warna menarik. Bahan alam dapat digunakan sebagai pewarna alami pada sediaan lipcream, salah satunya bunga kembang sepatu. Tujuan penelitian ini untuk memformulasikan ekstrak bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L) menjadi sediaan lip cream. Jenis penelitian digunakan ialah penelitian kuantitatif dimana dilaksanakan dengan eksperimental menggunakan ekstrak, formulasi sediaan, dan pemeriksaan fisik sediaan. Dari hasil penelitian dimana sudah dilaksanakan pembuatan Formulasi Lip Cream dari Ekstrak Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosasinensis L.) bisa dimanfaatkan sebagai pewarna alami dengan konsentrasi 10% berwarna ungu muda, konsentrasi 15% berwarna ungu tua dan lip cream dengan konsentrasi 20% menghasilkan warna merah maron keunguan. Dapat disimpulkan bahwa Ekstrak Bunga Kembang Sepatu menghasilkan warna merah maron keunguan. Selanjutnya, pengujian organoleptik sediaan Lip Cream bermaksud menggambarkan warna, aroma serta tekstur melalui panca indera. Dari tabel, hasil pemeriksaan organoleptik 4 sediaan. Lip Cream dengan Ekstrak Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.) memperlihatkan sediaan Lip Cream mempunyai aroma Vanilla. Dimana warna dihasilkan dari F0 ialah putih, F1 ialah ungu muda dengan tekstur yang halus, F2 ialah ungu tua serta warna untuk F3 ialah merah maron keunguan bertekstur halus. Dimana hasil diperoleh sama dengan ekstrak Hibiscus rosa sinensis L pada F3, yaitu merah maron keunguan. Pada tes uji iritasi sediaan lip cream menggunakan kelinci albino mengakibatkan iritasi eritema yang hampir tidak terlihat. Dan untuk uji hedonik sediaan lip cream yang paling disukai penelis adalah formulasi (F3) dengan persentase 76,67%. 
Uji Performa Pengaruh Gliserin dalam Formulasi Sabun Cair Cuci Piring M Aras, Neny Rasnyanti; Fia Lestari, Mega
Majalah Farmasetika Vol 9, No 5 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i5.56837

Abstract

Sabun merupakan produk yang wajib ada di rumah yang berpotensi untuk dikembangkan guna kenyamanan konsumen. Pembuatan sabun cuci cair menggunakan surfaktan sebagai bahan utama dengan berbagai bahan tambahan berguna meningkatkan kinerjanya. Dalam penelitian ini enam formulasi dibuat untuk menguji kinerja sabun cair cuci piring dengan menambahkan gliserin pada berbagai konsentrasi dengan bahan utama SLES (Sodium Lauryl Ether Sulphate) menggunakan metode dingin. Dengan memasukkan gliserin, SLES, dan bahan ramah lingkungan lainnya dalam formulasi sabun, dimungkinkan untuk menciptakan sabun berkualitas tinggi yang tidak hanya membersihkan secara efektif tetapi juga memberikan nutrisi dan hidrasi pada kulit, memenuhi permintaan yang terus meningkat akan produk yang berkelanjutan dan ramah kulit di industri kosmetik. Keenam variasi yang dihasilkan diukur sifat organoleptik fisik dan kimianya. Kinerja deterjen terbaik dalam hal kelembaban dan tinggi busa ditunjukkan pada formulasi F3 dengan bau yang tidak menyengat berwarna transparan, nilai FFA sebesar 0,09+0,00 dan pH 5,77+0,01 dengan kecenderungan viskositas dan kelembaban yang proporsional satu sama lain dengan campuran gliserin seiring dengan bertambahnya gliserin pada batas tertentu. Secara umum kinerja sabun yang dibuat pada enam formulasi untuk semua parameter tidak terpengaruh dengan penambahan gliserin. Dimana warna  sabun yang dihasilkan transparan, bau yang agak menyengat, kesat, pH diantara 5,85 – 5,91 dan Free Fatty Acid (FFA) sebesar 0.09 %.

Filter by Year

2016 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 6 (2025) Vol 10, No 5 (2025) Vol 10, No 4 (2025) Vol 10, No 3 (2025) Vol 10, No 2 (2025) Vol 10, No 1 (2025) Vol 9, No 6 (2024) Vol 9, No 5 (2024) Vol 9, No 4 (2024) Vol 9, No 3 (2024) Vol 9, No 2 (2024) Vol 9, No 1 (2024) Supl. 9 No. 1, Tahun 2024 Vol 8, No 5 (2023) Vol 8, No 4 (2023) Vol 8, No 3 (2023) Vol 8, No 2 (2023) Vol 8, No 1 (2023) Vol 7, No 5 (2022): Vol. 7, No. 5, Tahun 2022 Vol 7, No 4 (2022): Vol. 7, No. 4, Tahun 2022 Vol 7, No 3 (2022): Vol. 7, No. 3, Tahun 2022 Vol 7, No 2 (2022): Vol. 7, No. 2, Tahun 2022 Vol 7, No 1 (2022): Vol. 7, No. 1, Tahun 2022 Vol 6, No 5 (2021): Vol. 6, No. 5, Tahun 2021 Vol 6, No 4 (2021): Vol. 6, No. 4, Tahun 2021 Vol 6, No 3 (2021): Vol. 6, No. 3, Tahun 2021 Vol 6, No 2 (2021): Vol. 6, No. 2, Tahun 2021 Vol 6, No 1 (2021): Vol. 6, No. 1, Tahun 2021 Vol. 6, Supl. 1, Tahun 2021 Vol 5, No 5 (2020): Vol. 5, No. 5, Tahun 2020 Vol 5, No 4 (2020): Vol. 5, No. 4, Tahun 2020 Vol 5, No 3 (2020): Vol. 5, No. 3, Tahun 2020 Vol 5, No 2 (2020): Vol. 5, No. 2, Tahun 2020 Vol 5, No 1 (2020): Vol. 5, No. 1, Tahun 2020 Vol 4, No 5 (2019): Vol. 4, No. 5, Tahun 2019 Vol 4, No 4 (2019): Vol. 4, No. 4, Tahun 2019 Vol 4, No 3 (2019): Vol. 4, No. 3, Tahun 2019 Vol 4, No 2 (2019): Vol. 4, No. 2, Tahun 2019 Vol 4, No 1 (2019): Vol. 4, No. 1, Tahun 2019 Vol. 4, Supl. 1, Tahun 2019 Vol 3, No 5 (2018): Vol. 3, No. 5, Tahun 2018 Vol 3, No 4 (2018): Vol. 3, No. 4, Tahun 2018 Vol 3, No 3 (2018): Vol. 3, No. 3, Tahun 2018 Vol 3, No 2 (2018): Vol. 3, No. 2, Tahun 2018 Vol 3, No 1 (2018): Vol. 3, No. 1, Tahun 2018 Vol 2, No 5 (2017): Vol. 2, No. 5, Tahun 2017 Vol 2, No 4 (2017): Vol. 2, No. 4, Tahun 2017 Vol 2, No 3 (2017): Vol. 2, No. 3, Tahun 2017 Vol 2, No 2 (2017): Vol. 2, No. 2, Tahun 2017 Vol 2, No 1 (2017): Vol. 2, No. 1, Tahun 2017 Vol 1, No 5 (2016): Vol. 1, No. 5, Tahun 2016 Vol 1, No 4 (2016): Vol. 1, No. 4, Tahun 2016 Vol 1, No 3 (2016): Vol. 1, No. 3, Tahun 2016 Vol 1, No 2 (2016): Vol. 1, No. 2, Tahun 2016 Vol 1, No 1 (2016): Vol. 1, No. 1, Tahun 2016 More Issue