cover
Contact Name
Dody Candra Harwanto
Contact Email
dcharwanto@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dcharwanto@gmail.com
Editorial Address
Jalan Diponegoro 233 Ungaran, Jawa Tengah
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja
ISSN : 25797565     EISSN : 26851253     DOI : 10.37368
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Abdiel merupakan kumpulan artikel ilmiah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang Teologi, Pendidikan Agama Kristen, dan Musik Gereja. Jurnal ini sangat terbuka untuk menjadi wadah bagi para dosen, peneliti, dan mahasiswa dalam melatih dan mengembangkan budaya akademik sesuai dengan bidang Teologi, Pendidikan Agama Kristen, dan Musik Gereja.
Arjuna Subject : -
Articles 158 Documents
Penafsiran Mazmur Ratapan Darto Sachius
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 5 No 2 (2021): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v5i2.314

Abstract

Pembahasan dalam penelitian ini akan mencari konsep-konsep dan ciri-ciri Mazmur Ratapan individu dan menemukan bagaimana ciri-ciri Mazmur Ratapan ini bila dibandingkan dengan berbagai ragam Mazmur yang lain dalam Kitab Mazmur. Untuk menemukan konsep-konsep dan ciri-ciri Mazmur Ratapan menggunakan penafsiran mengenai tujuan penulisan Kitab Mazmur Ratapan, meneliti latar belakang historis, meneliti secara kontektual pasal dan ayat, menafsirkan secara gramatikal dan secara literal sehingga akan ditemukan kesamaan struktur pasal, tujuan penulisan, pola sastra, motif penulisan, sehingga dapat ditemukan dan dirumuskan konsep-konsep dan ciri-ciri dari Mazmur Ratapan secara umum dibanyak pasal dalam Kitab Mazmur. Ciri-ciri umum penafsiran Mazmur Ratapan ini adalah seorang pemazmur secara langsung melakukan permohonan dalam doa kepada Allah, pada saat pemazmur dalam tekanan yang berat. Pemazmur berada dalam situasi yang sangat pahit lalu pemazmur menaikan permohonan dalam sejuta keluhan; pemazmur berhak mengatakan semua isi hati dengan keterbukaan dan kejujuran. Tingkat Kepercayaan pemazmur kepada Allah biasanya mulai hancur dan pudar, kemudian secara pelan-pelan dipulihkan, sehingga pergumulan mulai dilepaskan oleh Allah secara total. Mazmur Ratapan ini biasanya diakhiri dengan sebuah pujian yang dinyanyikan kalau keselamatan atau nazar dikabulkan oleh Allah. Mazmur ratapan ini memiliki ciri-ciri utama mengenai sastra, motif pemazmur, tujuan pemazmur, formula-formula bahasa yang dipakai oleh pemazmur memiliki kesamaan dalam struktur penulisan dan pengungkapan bahasa puisi yang hiperbolik, lugas, sederhana tetapi memiliki arti yang dalam yang tidak bisa diungkapkan dengan bahasa literal biasa. Bahkan dari ramuan itu dapat menggerakkan Allah untuk bertindak kepada setiap individu pemohonnya.
Mengenang Sejarah, Merefleksikan Penyertaan Allah: Sebuah Rancangan Ibadah Peringatan Terbebasnya Gereja Toraja dari Kekuasaan DI/TII Nugraheni Setiawati Yusuf
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 6 No 1 (2022): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v6i1.297

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menawarkan sebuah konsep pengenangan sejarah Gereja Toraja pada masa kekuasaan DI/TII dalam bentuk ibadah peringatan. Ibadah peringatan ini menjadi ruang bagi para saksi yang masih hidup untuk menyatakan kesaksian imannya yang merasakan penyertaan Allah dalam melalui berbagai penderitaan pada masa kekuasaan DI/TII—mengingat selama ini mereka belum pernah diberi ruang atau kesempatan untuk menyatakan kesaksian imannya itu. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan historis-teologis. Pendekatan historis-teologis yang dipakai dalam tulisan ini memperlihatkan aspek-aspek penting dari ibadah peringatan. Ibadah tidak hanya menjadi simbol perayaan karya keselamatan Allah bagi umat manusia, namun di dalamnya umat juga menampakkan kehadiran gereja serta ajarannya bagi dunia. Demikian halnya melalui ibadah peringatan terbebasnya Gereja Toraja dari kekuasaan DI/TII dapat terselenggara koinonia (persekutuan), martyria (kesaksian), kerygma (pemberitaan Injil), serta didache (pengajaran). Melalui ibadah peringatan terbebas dari kekuasaan DI/TII, Gereja Toraja maupun umat Kristen lainnya dapat mengenang sejarah penderitaan pada masa DI/TII dan merefleksikan penyertaan Allah.
Cyberspace sebagai Ruang Pemulihan Trauma Masyarakat yang mengalami Cyberbullying berbasis Rasial Aurora Maharani; Russal Reindy Neonufa
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 6 No 1 (2022): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v6i1.307

Abstract

Cyberbullying berbasis rasial merupakan salah satu bentuk kejahatan berbasis ras yang terjadi dalam ruang siber. Kejahatan ini menyebabkan trauma dan degradasi relasi antarmanusia. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bagi masyarakat digital bahwa pemulihan trauma pasca cyberbullying berbasis rasial dapat dilakukan dalam cyberspace. Kehadiran dan peran masyarakat digital secara bertanggungjawab dalam cyberspace merupakan aspek penting dalam mendukung terciptanya ruang yang aman dan nyaman bagi proses pemulihan (healing) trauma. Kemudian, peran gereja (komunitas virtual Kristen) sebagai representasi umat beragama juga sangat berpengaruh dalam mendukung terwujudnya cyberspace sebagai ruang pemulihan trauma. Bertolak dari pemahaman bahwa warga gereja merupakan bagian dari warga masyarakat, maka kehadiran komunitas virtual Kristen dalam cyberspace perlu mendapatkan perhatian lebih dari gereja sehingga dapat memberikan dampak positif bagi proses pemulihan trauma pasca cyberbullying berbasis rasial. Melalui pemaparan data dan analisis terhadap realitas kehidupan masyarakat, tulisan ini berusaha membuktikan bahwa cyberspace menjadi ruang yang dapat diupayakan untuk pemulihan trauma pasca cyberbullying berbasis rasial.
Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Kristen dalam Khotbah di Bukit pada Matius 5-7 Vicky Taniady
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 6 No 1 (2022): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v6i1.317

Abstract

Artikel ini membahas mengenai konstruksi nilai-nilai yang bermuatan pendidikan karakter Kristen yang dapat ditemukan dalam pengajaran besar pertama Yesus di Bukit dan tercantum dalam Matius 5-7 yang dijelaskan dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif melalui studi teks naratif. Karakter Kristus merupakan karakter yang ideal bagi kekristenan yang berkaitan dengan kualitas diri, hubungannya dengan orang lain, dan kaitannya dengan penderitaan yang mungkin saja dialami karena mengikut Yesus. Nilai-nilai yang diajarkan oleh Yesus kemudian digambarkan sebagai bentuk pendidikan karakter yang diabsorpsi oleh para murid dan pengikut-Nya dan akan membentuk karakter diri yang dapat dibedakan dari karakter individu lain. Melalui artikel ini, diperoleh simpulan bahwa karakter Kristen yang didapat dari Khotbah Yesus di Bukit antara lain karakter dalam memandang makna kebahagiaan dalam penderitaan (kini dan nanti) dan karakter untuk membangun integritas dalam kesempurnaan kehidupan moral dan ritual keagamaan yang harus berdasarkan kebenaran Allah. Karakter inilah yang kemudian harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk kesaksian hidup orang Kristen yang telah menerima pengajaran dari Yesus, Sang Guru Agung. Melalui artikel ini, pembaca diharapkan dapat mengkap nilai-nilai pendidikan karakter Kristen dalam Khotbah di Bukit Pada Matius 5-7.
Signifikansi Teori Horace Bushnell bagi Pendidikan Keluarga Kristiani di Era Revolusi Industri 4.0 Tjendanawangi Saputra
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 6 No 1 (2022): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v6i1.349

Abstract

Artikel ini membahas mengenai peran pentingnya pendidikan nilai-nilai Kristen di keluarga dalam menghadapi pengaruh pesatnya perkembangan teknologi digital di era revolusi industri 4.0. Kemajuan teknologi telah berdampak besar dalam kehidupan manusia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Aspek positif dari perkembangan ini adalah masyarakat semakin dekat dengan teknologi yang dapat membantu kerja lebih efisien. Namun di sisi lain juga banyak dijumpai berbagai penyimpangan atau pelanggaran etika dalam penggunaan teknologi digital dan internet seperti pornografi, cyberbullying, judi, dan kecanduan internet, yang dapat menyebabkan degradasi moral. Untuk itulah diperlukan penanaman nilai-nilai kristiani yang dimulai sejak dini. Melalui kajian deskriptif dengan metode studi kepustakaan, akan digambarkan kondisi dan tantangan yang dihadapi oleh generasi saat ini serta bagaimana peran penting pendidikan Kristen yang dimulai dari keluarga berdasarkan pemikiran Horache Bushnell. Bushnell memfokuskan pendidikan pada penanaman nilai-nilai kebaikan berdasarkan iman Kristen melalui kurikulum pendidikan kristiani dalam keluarga seperti pengendalian tubuh, perkembangan kesalehan/kesalehan hidup, dan keanggotaan dalam jemaat, yang berguna untuk membekali generasi sekarang ini menjadi generasi yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan zaman dengan tidak meninggalkan atau menyimpang dari nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan.
Vaksinasi Melawan Pagebluk Covid-19: Tinjauan Teologi, Ilmu Pengetahuan Medis, dan Keutamaan Moral Minggus Minarto Pranoto
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 6 No 1 (2022): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v6i1.369

Abstract

Tujuan dari tulisan ini adalah membicarakan dasar-dasar pemikiran teologi Kristen, khususnya pneumatologi yang dapat mendukung penemuan ilmu pengetahuan medis dan sikap keutamaan moral dalam konteks berhadapan dengan pandemi COVID-19. Bagaimana argumentasi fundamental pneumatologi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan medis yang terkait penemuan vaksin? Dan sikap keutamaan moral yang bagaimanakah yang semestinya dinyatakan dalam melawan pagebluk sekarang ini? Pernyataan tesisnya menekankan pentingnya pneumatologi yang mendasari pandangan tentang relasinya dengan ilmu pengetahuan medis serta perlunya sikap keutamaan moral seperti perbuatan baik, kearifan, dan keadilan agar dapat mendukung program vaksinasi melawan penyebaran COVID-19. Metode yang dipakai dalam tulisan ini adalah mengkaji relasi antara teologi dan ilmu pengetahuan medis dari sebuah perspektif teologi yang melihat Allah, diri, dan dunia dari pengalaman bersama Roh Kudus serta meletakkan keutamaan moral yang relevan terkait konteks pandemi COVID-19. Tujuannya berfokus pada pentingnya pneumatologi yang mendukung kemajuan ilmu pengetahuan medis sebagai hasil pemberian hikmat dari Roh Kudus dan kemudian berjuang dengan sikap keutamaan moral tertentu untuk mendukung vaksinasi.
Perempuan dalam Corpus Paulinum Eby Say
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 6 No 1 (2022): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v6i1.374

Abstract

Penggunaan Terminologi Kosmos Berdasarkan Yohanes 3:16: Suatu Kajian Teologi Biblika Atas Ekoteologi Tomson Saut Parulian Lumbantobing; Jhon Leonardo Presley Purba
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 6 No 2 (2022): Volume 6 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v6i2.338

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui tepat tidaknya terminologi kosmos dalam teks Yohanes 3:16 digunakan sebagai dasar acuan untuk menjadikan Yohanes 3:16 sebagai salah satu teks Alkitab dalam kajian tentang ekoteologi. Disajikan dalam bentuk kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur, penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun terminologi kosmos juga dipakai untuk menyebutkan “dunia sejagat” atau “langit dan bumi”, namun dalam teks Yohanes 3:16 terminologi kosmos bukan merujuk kepada alam atau lingkungan melainkan kepada “manusia”. Makna ini sesuai dengan konteks Yohanes 3:16 sebagai tempat terminologi atau kata tersebut berada. Penafsiran yang memaksakan interpretasi kosmos sebagai alam atau lingkungan lalu dikaitkan dengan doktrin penebusan Yesus Kristus yang mencakup seluruh ciptaan akan menghasilkan penafsiran yang tidak sesuai konteks teks tempat terminologi itu berada. Makna sebenarnya teks Yohanes 3:16 menjadi kabur oleh subjektifitas penafsir dalam menafsirkan teks. Maka, mengacu kepada makna terminologi kosmos sebagai manusia, penelitian menyimpulkan bahwa teks Yohanes 3:16 tidak tepat dijadikan sebagai dasar bagi kajian ekoteologi.
Ibadah Minggu Rumah sebagai Model Ibadah Multikontekstual pada Masa Pandemi Covid-19 Yamowa'a Bate'e; Delvi Embun Savitri; Bella Vista
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 6 No 2 (2022): Volume 6 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v6i2.346

Abstract

Penutupan kegiatan ibadah di gedung gereja pada masa Covid-19 telah mendorong gereja untuk mentransformasi model ibadahnya. Ibadah minggu tradisional yang bertempat di gedung gereja telah beralih menjadi ibadah digital. Pada hakikatnya, transformasi model ibadah minggu tradisional menjadi digital tidak selalu cocok digunakan, apabila melihat konteks dan teks di mana sebuah gereja itu berada. Salah satu gereja di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yaitu jemaat GKE Sei Gohong justru menerapkan model ibadah minggu rumah seperti gereja mula-mula dan bukan ibadah digital. Tulisan ini adalah hasil penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif dan data yang dihasilkan dianalisis melalui teologi kontekstual dengan pendekatan multitekstual. Saya berpendapat bahwa model ibadah minggu yang kontekstual tidak selalu mengikuti tren ibadah digital tetapi ibadah kontekstual adalah sebuah ibadah multikontekstual yang selalu mengadaptasi multiteks yang ada sebagai multikonteks yang secara dinamis bergerak di sekitarnya sebagai konteks dari sebuah gereja lokal.
Persekutuan (Koinonia) sebagai Budaya Tandingan di Tengah Merebaknya Fenomena Individualisme menurut Perspektif Gereja Katolik Mathias Jebaru Adon; Hyronimus Ario Dominggus
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 6 No 2 (2022): Volume 6 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v6i2.347

Abstract

Fokus studi ini menggali konsep persekutuan dalam Gereja Katolik sebagai budaya tandingan di tengah merebaknya fenomena individualisme. Hal ini disebabkan karena modernitas tidak hanya melahirkan sisi positif tetapi juga membawa dampak negatif dalam hidup manusia. Perkembangan teknologi yang serba canggih seperti handphone, komputer dan berbagai macam media elektronik lain telah menjerumuskan manusia ke dalam sikap individualisme. Akibatnya mengaburkan aspek persekutuan dalam hidup bersama termasuk persekutuan hidup dalam Gereja Katolik. Saat ini, orang Katolik lebih banyak menyibukan diri dengan urusannya sendiri sehingga mengabaikan nilai-nilai kebersamaan. Padahal, kebersamaan atau persekutuan adalah perekat yang menghubungkan semua anggota Gereja. Karena itu di tengah zaman modern yang syarat dengan invidualisme ini aspek koinonia dari panca tugas Gereja menjadi budaya tandingan. Dengan kata lain, ersekutuan menjadi sarana untuk meretas kecenderungan individualisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan fenomenologis. Penelitian ini menemukan bahwa nilai-nilai persekutuan menjadi hal yang mutlak di tengah modernitas yang cenderung menampilkan sikap individualisme. Sebab dengan persekutuan, semangat iman, kebersamaan, solidaritas dan kesetiakawanan tetap terpelihara.

Page 9 of 16 | Total Record : 158