cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
PERAN REGULASI EMOSI TERHADAP KUALITAS HIDUP DENGAN WORK LIFE BALANCE SEBAGAI MEDIATOR PADA PEREMPUAN PERAN GANDA Siregar, Gardenia Junissa; Rostiana, Rostiana; Satyadi, Heryanti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.5551

Abstract

Kualitas hidup merupakan aspek yang penting dalam kehidupan, terlebih lagi untuk perempuan yang telah menjadi ibu. Regulasi emosi merupakan strategi yang dilakukan untuk merespon emosi yang terjadi. Secara teoritis regulasi emosi dapat dikatakan berperan untuk menentukan kualitas hidup, namun penelitian menemukan hasil berbeda, dimana hubungan kedua variabel tersebut dinyatakan cukup lemah. Work life balance merupakan keadaan ketika seseorang dapat menyeimbangkan perannya sebagai pekerja dan di dalam keluarga. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat peran regulasi emosi terhadap kualitas hidup dengan work life balance sebagai mediator. Populasi dalam penelitian ini adalah para perempuan peran ganda, yang memiliki aktivitas keseharian, selain menjadi ibu dan istri di dalam keluarga. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 400 orang perempuan peran ganda. Penelitian ini menggunakan tiga alat ukur, yaitu World Health Organizational Quality of Life (WHOQOL-BREF), Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) dan Work Life Balance Scale (WLBS). Pengujian model penelitian dilakukan dengan menggunakan Path Analysis Structural Model menggunakan LISREL 8.80. Hasil pengujian model menunjukan bahwa work life balance dapat berperan sebagai mediator dengan nilai (p-value>0.05) yaitu p-value 1.000 sehingga model dapat dikatakan berada pada kategori good fit. Hasil nilai standardized solution untuk peran regulasi emosi terhadap kualitas hidup yang awalnya sebesar 0.10 juga mengalami peningkatan menjadi 0.1224. Sehingga dapat mengindikasikan bahwa peranan regulasi emosi terhadap kualitas hidup akan lebih besar, ketika para perempuan peran ganda memiliki work life balance. Quality of life is an important aspect of life, especially for women who have become mothers. Emotion regulation is a strategy undertaken to respond to emotions that arise. Theoretically, emotional regulation can be said to play a role in determining the quality of life, however, studies found different results, where the relationship between the two variables was stated to be quite weak. Work-life balance is a condition when a person can balance their role as a worker and in the family. Therefore, this study aims to look at the role of emotion regulation on quality of life with work-life balance as a mediator. The population in this study are dual role women, who have daily activities, besides being mothers and wives in the family. The sampling technique used was purposive sampling with a total sample of 400 dual role women. This research uses three measuring instruments, namely World Health Organizational Quality of Life (WHOQOL-BREF), Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) and Work Life Balance Scale (WLBS). Research model testing was done using the Path Analysis Structural Model using LISREL 8.80. The model testing result shows that work life balance can act as a mediator with (p-value> 0.05), which is p-value 1,000, that the model can be said to be in the good fit category. The results of the standardized solution for the role of emotion regulation on the quality of life which was originally at 0.10 also increased to 0.1224. It indicates that the role of emotion regulation on quality of life will be greater, when dual role women have work-life balance.
THE UNHEALTHY DELIGHTS: ONLINE GAMES – DOES PERSONALITY TRAITS AND NEEDS SATISFACTION PLAYS A ROLE? Liesera, Novita; Tiatri, Sri; Widiastuti, Niken
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3368

Abstract

Playing too many online games could harm the player both physically and mentally. Online game engagement is a generic indicator of one’s involvement in online game playing (Brockmyer, Fox, Curtiss, McBroom, Burkhart, & Pidruzny, 2009). The previous study found that three out of five traits from the Five Factor Model correlates with psychological needs fulfillment (Teng, 2009). Online games serve as a mean to fulfill these psychological needs (Przybylski, Rigby, & Ryan, 2010). This study attempts to understand the correlation between personality traits and the online game engagement of adolescents in Jakarta with basic psychological needs satisfaction as a mediator. The participants of this study are adolescent gamers age between 15 to 18 years (n = 333). Quantitative methods and questionnaires are used to gather information from participants. Regression result shows that basic psychological needs satisfaction mediates personality traits and online game engagement. Out of five traits, basic psychological needs satisfaction only mediates for conscientiousness (r2 = 0.050, p < 0.01) and neuroticism (r2 = 0.051, p < 0.01).
REFLEKSI KRITIS PEMBANGUNAN BUDAYA PADA ERA ORDE BARU DAN REFORMASI Ignatius Roni Setyawan
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3452

Abstract

Berkaca pengalaman Orde Baru dan Reformasi yang terjadi disequilibrium antara aspek perkembangan dan konflik;  maka tulisan ini bermaksud menawarkan model empiris manajemen multibudaya. Intinya model ini akan mengarahkan proses refleksi kritis budaya menuju pada upaya peningkatan semangat multikulturalisme secara optimal. Pertimbangan sifat empiris dalam model ini adalah karena melalui tulisan ini diharapkan akan muncul banyak riset tentang manajemen multibudaya di Indonesia. Antara sub budaya di negara kita tidak perlu dipertentangkan; tetapi perlu dibangun komitmen mengoptimumkan multibudaya menjadi kekuatan besar untuk mencapai Bangunan Indonesia Baru. Komitmen bukan hanya sebatas semangat tetapi hendaknya menjadi gerakan nasional efektif. Seperti pada  era pemimpin saat kini yang makin menuntut tindakan nyata bukan hanya slogan. Kunci sukses dari model ini yang merupakan pemikiran Soerjanto Poespowardojo ternyata terletak pada keseimbangan (equilibrium) antara maksimisasi aspek perkembangan (kemajuan) dan minimisasi  aspek konflik. Reflecting on the situation during New Order and the Era of Reformation where disequilibrium between aspects of development and conflict occurred, this paper offers an empirical model of multicultural management. In short, this model directs the process of cultural critical reflection towards an effort to optimally encourage the spirit of multiculturalism. The decision regarding the empirical nature of this model was made because through this paper, it is hoped that this will lead to further research about multicultural management in Indonesia. There is no need for any conflict between the many subcultures of Indonesia; however, there is a need for a commitment to optimize multiculturalism as a major force to achieve the Bangunan Indonesia Baru. Commitment is not mere enthusiasm, but it can serve as an effective national movement as seen in modern leadership today that demand concrete action. The key to success of this model, which is Soerjanto Poespowardojo's idea, lies in the equilibrium between the maximization of developmental aspect (progress) and the minimization of conflict aspect.
PENGGUNAAN DRONE PADA PELIPUTAN BERITA TELEVISI (Perspektif Wartawan Televisi Terhadap Etika Peliputan Menggunakan Drone) Moehammad Gafar Yoedtadi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3531

Abstract

Saat ini pesawat drone telah menjadi perlengkapan wajib dalam peliputan berita. Pesawat drone memberikan kemudahan dan penghematan bagi media pemberitaan untuk mengambil gambar dengan sudut pengambilan dari angkasa. Dengan drone media massa, terutama televisi dapat memperkaya visual dalam beritanya. Namun dengan segala kelebihannya, penggunaan pesawat drone tetap harus mempertimbangkan etika jurnalistik. Antara lain persoalan privasi dan izin peliputan. Penelitian ini hendak menggali perspektif wartawan terhadap etika jurnalistik ketika melakukan peliputan dengan memanfaatkan pesawat drone. Penelitian ini menggunakan perspektif kualitatif dengan metode fenomenologi. Penelitian ini melibatkan empat orang wartawan drone (drone journalist) dari dua stasiun televisi. Wartawan yang dapat mengemudikan drone belum banyak. Masing-masing televisi hanya memiliki empat orang wartawan. Dari empat wartawan drone, peneliti mengambil partisipan dua orang wartawan drone yang telah bersertifikat dan berpengalaman pada masing-masing televisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua wartawan drone memahami dengan benar etika peliputan menggunakan drone. Tututan tugas untuk mendapatkan gambar yang bagus menyebabkan para wartawan drone terkadang mengabaikan etika peliputan drone. Currently, drones have become a mandatory equipment in news coverage. Drones provide convenience and cost savings for the media to take bird eye pictures. With drones, mass media, especially television can enrich the visual aspect of their news. However, with all its advantages, the use of drones must still consider journalistic ethics such as privacy issues and permission to report among other things. This research is aimed to explore the perspective of journalists toward the journalism ethics on television news coverage using drone technology. This research used qualitative approach with phenomenology method.  This research involved four drone journalists from two television stations. Not many reporters can control a drone, each television station has four journalists who can do so. From the four drone reporters, the researchers took two certified and experienced drone reporters from each television station as participants. The result shows that not all drone reporters are aware about the ethics of drone usage on news coverage.  The demand to obtain good footage causes drone reporters to ignore journalism ethics on drone use.
STUDI KASUS: TERAPI BERMAIN MEMFASILITASI PERUBAHAN PERILAKU MENOLAK SEKOLAH Monica Sri Sunaringsih; Linda Wati
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3765

Abstract

Perilaku menolak sekolah, adalah perilaku yang umum dialami anak-anak dalam masa sekolah, dengan berbagai alasan. Perilaku ini tidak selalu menjadi diagnosa patologis, tapi pada praktisnya kerap menyebabkan stres dalam keluarga. Saat anak memiliki keinginan untuk tidak hadir di sekolah, mereka cenderung berperilaku maladaptif. Child-Centered Play Therapy (CCPT) dipandang sebagai bentuk intervensi terapetik yang tidak berfokus pada permasalahan anak secara langsung, tetapi memberikan ruang dan kesempatan pada anak untuk memproses masalahnya. CCPT terbukti dapat mengatasi berbagai masalah perilaku dalam perkembangan anak hingga remaja. Namun, belum banyak ulasan mengenai bagaimana CCPT memfasilitasi perubahan perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan memberikan informasi baru mengenai efektivitas CCPT dalam mengubah perilaku anak terhadap sekolah. Subjek penelitian ini adalah anak perempuan berusia 6 tahun. Penelitian qualitative, single case study ini memberikan penjelasan proses perubahan/ transformasi perilaku partisipan secara intensif dan deskriptif dalam 18 sesi terapi individual. Play Therapy Dimensional Model (PTDM) dalam level consiousness-unconsiousness dan directive-nondirectiveness akan mendeskripsikan arah pergerakan dan perubahan perilaku partisipan dalam proses terapi. Hasil penelitian berbentuk laporan observasi peneliti, dokumentasi sesi, dan laporan orangtua menunjukkan keselarasan terhadap perubahan perilaku partisipan. Perubahan perilaku sesuai dengan tujuan CCPT dan sesuai dengan harapan orangtua. Partisipan hadir di sekolah, berani menampilkan dirinya di depan kelas, dan perilaku somatis sirna.  School refusal is a behavior commonly found in school age children, with various reasons. This behavior is not always a pathological diagnosis, however, in practice it often causes stress in the family. When children refuse to attend school, they tend to behave maladaptively. Child-Centered Play Therapy (CCPT) is seen as a form of therapeutic intervention that does not focus on children's problems directly, but it gives children space and opportunity to process their problem. CCPT is proven to be able to treat various behavioral problems in the development of children to adolescents. However, there are not many reviews about how CCPT facilitates this behavioral change. This study aims to provide new information about the effectiveness of CCPT in changing children's behavior towards school. The sole subject of this study was a 6-year-old girl. This qualitative, single case study provides an explanation of the process of change / transformation of participant's intensive and descriptive behavior in 18 individual therapy sessions. Play Therapy Dimensional Model (PTDM) at the level of consciousness-unconsiousness and directive-nondirectiveness will describe the direction of movement and changes in participant behavior during the therapy process. The result of the study was in the form of researchers' observation reports, session documentation, and parental reports show conformity with changes in participant behavior. Changes in behavior was in accordance with the goals of the CCPT and with expectations of the parents. Participant attended school, dared to present herself in front of the classroom, and somatic behavior disappeared.
PERANAN REAKSI STRES KERJA TERHADAP KUALITAS HIDUP PADA PEKERJA LEVEL OPERATOR Wijaya, Kresna Surya; Koesma, Rismiyati; Zamralita, Zamralita
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3510

Abstract

Stres kerja merupakan permasalahan global yang banyak dialami oleh karyawan, selain berdampak kepada organisasi stres kerja juga dapat berdampak kepada kualitas hidup karyawan. Kualitas hidup merupakan aspek penting dalam hidup karyawan, diketahui bahwa karyawan dengan kualitas hidup yang baik akan cenderung lebih produktif. Secara personal, karyawan dengan kualitas hidup yang baik cenderung memiliki kesehatan mental yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari reaksi stres kerja terhadap kualitas hidup pada karyawan. Penelitian dilakukan terhadap 227 karyawan level operator di PT.X yang berlokasi di Tangerang. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji regresi linear dengan bantuan program SPSS versi 23. Hasil penelitian menunjukan bahwa stres kerja memiliki pengaruh terhadap kualitas hidup dengan nilai beta negatif. Dimensi reaksi stres kerja, seperti reaksi fisik stres kerja, reaksi psikologis stres kerja  dan reaksi prilaku stres kerjamemiliki pengaruh signifikan dengan kualitas hidup karyawan dengan nilai beta negatif. Berdasarkan hasil tersebut peneliti menyarankan terapi brief mindfulness sebagai cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi stres kerja. Job stress is a global issue commonly experienced by employees, affecting their quality of life in addition to the organization. Being an important aspect in employees’ lives, those with good quality of life tend to be more productive and mentally healthy. This study aims to look at the effect of work stress reactions on quality of life of employees. The study was conducted on 227 operator level employees at PT. X, located in Tangerang. Statistical analysis was performed using linear regression test with the help of SPSS version 23. The result shows that work stress affects quality of life with negative beta value . Dimensions of work stress reactions, such as work stress physical reaction , work stress psychological reaction and work stress behavioral reaction have significant influence on the quality of life of employees with negative beta scores. Based on these results researchers suggest brief mindfulness therapy as a mean to reduce work stress.
DESAIN LOGO KERUPUK MIE “KEMBANG MATAHARI” SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN CITRA Purnengsih, Iis; Rukiah, Yayah; Pratama, Dendi; Dawami, Angga Kusuma
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3461

Abstract

Kerupuk Mie merek “Kembang Matahari” adalah salah satu produk unggulan daerah di Kabupaten Bogor yang berdiri sejak tahun 1977. Pemasaran yang kurang maksimal membuat Kerupuk Mie “Kembang Matahari” banyak ditiru, dan akhirnya menurunkan penjualannya. Perusahaan Kerupuk Mie “Kembang Matahari” harus bekerja keras untuk meningkatkan omzet penjualan. Dalam hal ini, salah satu upaya untuk meningkatkan omzet penjualan adalah dengan membuat desain logo yang menarik. Dan perusahaan Kerupuk Mie “Kembang Matahari” harus semaksimal mungkin untuk membentuk sebuah identitas yang kuat pada desain kemasan. Dengan adanya identitas yang kuat tersebut, sebuah perusahaan akan menjadi lebih dikenal oleh konsumen. Tujuan dari perancangan desain kemasan Kerupuk Mie”Kembang Matahari” adalah untuk menghasilkan desain kemasan dan logo Kerupuk Mie “Kembang Matahari”. Perancangan akan dilaksanakan dengan metode penelitian kualitatif secara deskriptif dengan melakukan observasi, wawancara, dokumentasi, studi literature dan studi kompetitor untuk mendapatkan data sebagai konsep perancangan desain kemasan Kerupuk Mie “Kembang Matahari”. Analisis data dengan menggunakan beberapa tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi kesimpulan. Setelah menganalisis data, ditemukan sebuah kata kunci “Asli” untuk perancangan desain logo . Konsep “Asli” dalam perancangan desain logo ini bermakna sesuatu yang bisa dipercaya. Hasil dari perancangan desain logo ini adalah upaya untuk meningkatkan citra dari logo Kerupuk Mie “Kembang Matahari”. The "Kembang Matahari" brand of Noodle Crackers is one of many flagship regional products in Bogor Regency which was established in 1977. Inadequate marketing of "Kembang Matahari" Noodle Crackers opened doors for imitation products, and ultimately reduced sales. "Kembang Matahari" Noodle Crackers Company must work hard to increase sales turnover. In this case, one of the efforts to increase sales turnover is by coming up with an attractive logo design and "Kembang Matahari" Noodle Crackers company must do its best to form a strong identity on packaging design. With this strong identity, the company will become better known by consumers. The purpose of designing "Kembang Matahari" Noodle Crackers packaging design is to produce both the "Kembang Matahari" Noodle Crackers packaging and logo design. The design will be carried out using descriptive qualitative research method by conducting observations, interviews, documentation, literature studies and competitor studies to obtain data as a design concept for the "Kembang Matahari" Noodle Crackers packaging design. Data analysis was conducted through several stages, from data reduction, data presentation, to verification of conclusions. After analyzing the data, the keyword "Original" was used for designing the logo. The concept of "Original" in the design of this logo means that it can be trusted. The result of this logo design is an effort to improve the image of the "Kembang Matahari" Noodle Cracker logo.
PENERAPAN ART THERAPY DENGAN PENDEKATAN KELOMPOK UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN PADA ANAK BINAAN DI LPKA TANGERANG Bella Persada, Ikhsan; Agustina, Agustina
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3508

Abstract

Dalam sistem peradilan, remaja yang berhadapan hukum akan ditempatkan di Lembaga Khusus Pembinaan Anak (LPKA). Hidup di LPKA merupakan pengalaman kehidupan yang penuh dengan tekanan. Tekanan yang dialami karena mereka tidak lagi memiliki kebebasan akibat jauh dari orangtua, teman sebaya, dan harus menjalani pembinaan di Lapas menimbulkan perasaan negatif seperti timbulnya kecemasan. Kecemasan tersebut merupakan rasa khawatir tentang masa depan yang menimbulkan perasaan tidak jelas, tidak pasti dan kegelisahan. Hal tersebut timbul karena ketidakmampuan individu menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi. Art therapy diketahui dapat menurunkan kecemasan pada individu. Dengan ini, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan art therapy dengan pendekatan kelompok dapat menurunkan kecemasan pada Anak didik LPKA.  Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi-eksperimen. Teknik pengambilan sampel purposive sampling dilakukan dengan memberikan alat ukur State Trate Anxiety for Children-Trait (STAIC-T) yang telah dimodifikasi untuk melihat tingkat kecemasan partisipan. 5 dari 50 partisipan terpilih dan peneliti mengambil data individual menggunakan wawancara, tes grafis (Draw a Person, BAUM. & Wartegg Test). Setelah 8 sesi intervensi, diketahui bahwa terdapat penurunan tingkat kecemasan pada partisipan dengan adanya perubahan kualitas gambar dan penurunan skor pada alat ukur STAIC-T. Hal tersebut menunjukkan bahwa art therapy dengan pendekatan kelompok ternyata efektif dalam membantu menurunkan kecemasan. In the justice system, adolescents who break the law will be placed in the Special Child Development Institute (LPKA). Life in LPKA is a stressful experience. Being away from their parents, peers, and being forced to undergo coaching in correctional facility creates anxiety. Anxiety is a sense of worry about the future that causes feelings of disorientation, uncertainty and uneasiness. It arises from the inability of individuals to adjust to the changes that occur. Art therapy is known to reduce anxiety in individuals. Considering this fact, this study aims to determine whether the application of art therapy with a group approach can reduce anxiety in LPKA students. The research design used was quasi-experimental. The purposive sampling technique was carried out by providing a modified State Trate Anxiety for Children-Trait (STAIC-T) measuring tool to measure participants' anxiety levels. 5 out of 50 participants were selected and researchers took individual data using interviews, graphic tests (Draw a Person, BAUM. & Wartegg Test). After 8 intervention sessions, a decrease in the level of anxiety of participants was found, with a change in image quality and a decrease in scores of STAIC-T. This indicates that art therapy with a group approach was effective in reducing anxiety.
Kata Pengantar JMISHS Vol 3 No 1 UNTAR, DPPM
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kata Pengantar JMISHS Vol 3 No 1
PERAN KEPEMIMPINAN TRAN SFORMASIONAL TERHADAP KETERIKATAN KERJA PADA KARYAWAN MILENIAL DENGAN VARIABEL KOMUNIKASI SEBAGAI MEDIATOR Wailulu, Kintan Nurcahya; Dewi, Fransisca I.R; Idulfilastri, Rita Markus
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.5881

Abstract

Keterikatan kerja merupakan isu yang penting dalam suatu organisasi karena hal tersebut berdampak pada produktivitas individu maupun organisasi saat ini. Keterikatan kerja (work engagement) merupakan hubungan relasi individu ataupun kelompok terhadap suatu pekerjaan. Fenomena dalam dunia kerja saat ini masuknya generasi kerja milenial yang cenderung memiliki keterikatan kerja rendah yakni mudah merasakan adanya tekanan dalam pekerjaan hal tersebut berdampak pada penyelesaian tugas. Dalam penelitian ini, keterikatan kerja ditinjau dari segi gaya kepemimpinan transformasional (transformational leadership) dengan komunikasi sebagai mediator. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling sebanyak 371 partisipan karyawan milenial telah mengikuti survey yang dilakukan. Berdasarkan hasil analisa Structural Equation Model (SEM) dan ditemukan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki peran yang signifikan terhadap keterikatan kerja dan komunikasi terbukti berperan sebagai mediator.  Work engagement is important issue in organization due to it has an impact on the productivity of individuals or organization performance. Work engagement is relationship of individuals or groups to a job. The phenomenon right now is entry of millennial work generation which tends to have a low work engagement, and easy to feel the pressure in the work and it has an impact on task completion. In this study, work engagement is viewed in terms of transformational leadership style with communication as a mediator. This study used a purposive sampling method with 371 millennial employees who already participated. Based on the analysis of the Structural Equation Model (SEM) found that transformational leadership has a significant role in work engagement and communication is proven to act as a mediator.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue