cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
STUDI KASUS PADA ANAK DENGAN REGULATORY SENSORY PROCESSING DISORDER DI KLINIK TUMBUH KEMBANG X Paramita, Sila; Soetikno, Naomi; Irena, Florencia
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3873

Abstract

Perkembangan sensori merupakan perkembangan penting bagi individu. Sejak lahir, individu mulai memproses informasi sensori yang diperoleh dari lingkungan. Setiap informasi yang diterima sensori individu akan diintegrasikan dan diolah di otak sehingga menampilkan respons perilaku adaptif. Integrasi sensori dapat membantu individu untuk menguasai kemampuan dasar, seperti bahasa, pengendalian emosi, dan kemampuan berhitung. Masalah dalam integrasi sensori berkaitan dengan masalah dalam pemrosesan informasi sensori yang dikenal sebagai Regulatory Sensory Processing Disorder (RSPD). Ketika individu mengalami masalah dalam pemrosesan informasi sensori, maka individu akan mengalami hambatan baik dalam keberfungsiannya sehari-hari maupun perkembangannya. Masalah sensori dapat dikenali sejak dini melalui karakteristik perilaku yang ditampilkan anak. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku anak dengan Regulatory Sensory Processing Disorder. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah satu orang yang merupakan pasien anak pada Klinik Tumbuh Kembang X. Metode pengambilan data menggunakan observasi, wawancara, dan asesmen psikologi. Ada pun sumber informasi diperoleh langsung melalui partisipan, orangtua, dan terapis. Untuk mengetahui gambaran fungsi sensori pada partisipan, peneliti menggunakan daftar observasi wawancara yang tertera pada ICDL-DMIC (2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan yang terlibat dalam penelitian ini mengalami gangguan pemrosesan sensori dengan tipe sensory-seeking. Partisipan penelitian menampilkan perilaku yang sangat aktif bergerak dan kesulitan memberikan atensi pada tugas yang diberikan. Hal tersebut berdampak pada performa akademis dan interaksi sosial yang dimiliki. Sensory development is an important development for individuals. From birth, individuals begin to process sensory information obtained from the environment. Every information received by an individual sensory receptor will be integrated and processed in the brain so that it displays an adaptive behavioral response. Sensory integration can help individuals to master basic abilities, such as language, emotional control, and numeracy skills. Problems in sensory integration are related to problems in processing sensory information known as Regulatory Sensory Processing Disorder (RSPD). When individuals experience problems in processing sensory information, individuals will experience obstacles both in their daily functioning and development. Sensory problems can be recognized early on through the behavioral characteristics displayed by children. Therefore, this study aims to describe the behaviour of children with Regulatory Sensory Processing Disorder. This research is a qualitative research with case study method. The sole participant in this study is a pediatric patient in the Growth and Development Clinic X. Data collection used observation, interviews, and psychological assessment. Information was also obtained directly through participants, parents, and therapists. To find out the description of sensory functions in participants, researchers used the interview observation list listed in ICDL-DMIC (2005). The results showed that the participants involved in this study experienced sensory-seeking type sensory processing disorders. Participant displayed very active behavior and difficulty in attending to the tasks assigned. This has an impact on academic performance and social interactions.
PERAN DUKUNGAN SOSIAL DAN STRATEGI COPING TERHADAP SELF EFFICACY PADA KORBAN CYBERBULLYING Rasyidi, Ahmad Wahyu; Sahrani, Riana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.6007

Abstract

Perkembangan teknologi internet yang sangat pesat mendorong munculnya berbagai macam media sosial yang di gunakan oleh remaja. Berbagai dampak yang negatif yang nyata dan marak terjadi di media sosial adalah perundungan dengan memakai media internet dan media sosial, yang disebut dengan istilah cyberbullying. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran dukungan sosial dan strategi coping terhadap self-efficacy pada korban cyberbullying. Responden dalam penelitian ini sebanyak 204 orang dengan dengan pengambilan data secara convenience sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat peran negatif dan signifikan dari dukungan sosial terhadap self-efficacy (t = -3.15 > -1.96). Selain itu hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat keterkaitan antara problem focus coping dengan self-efficacy. Namun, hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat peran positif dan signifikan emotional focus coping terhadap self-efficacy (t = 2.16 > 1.96).   The development of internet technology is very fast to encourage the emergence of various kinds of social media consumed by teenagers. Various negative impacts that are real and widespread on social media is bullying on the internet or media social, called cyberbullying. The purpose of this study was to study the role of social support and coping strategy toward self-efficacy among cyberbullying victims. This study obtained 204 respondents by convenience sampling. The results showed a negative and significant role social support toward self-efficacy (t = -3.15> -1.96). In addition, the results of the study showed there is no connection between problem focus coping and self-efficacy. However, the research showed the positive and significant role emotional focus coping toward self- efficacy (t = 2.16> 1.96).
DAftar Isi JMISHS Vol 3 No 1 UNTAR, DPPM
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.6108

Abstract

DAftar Isi JMISHS Vol 3 No 1
FENOMENA ANAK SEBAGAI PELAKU PERSEKUSI DI MEDIA SOSIAL Gusnita, Chazizah
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3455

Abstract

Kasus persekusi mencuat ke publik mulai tahun 2017. Data dari SAFEnet mencatat pada Juni 2017 ada 66 pengaduan aksi persekusi di seluruh Indonesia. Bahkan tercatat ada 100 kasus persekusi yang terjadi sejak awal tahun 2017 sampai November 2017. Sementara data KontraS menyebutkan, sedikitnya ada 48 kasus atau peristiwa persekusi berbasis agama dan keyakinan terjadi sepanjang Januari hingga Oktober 2017. Hingga kemudian persekusi dinilai menjadi sebuah fenomena di Indonesia yang terjadi pada akhir 2016 hingga awal 2017. Masalah persekusi ini dapat terjadi akibat kebebasan berpendapat yang berlebihan di media sosial, orang dapat dengan bebas dan seenaknya melakukan penghinaan terhadap ulama atau tokoh lain, sedangkan disisi lain pihak yang merasa menjadi korban penghinaan tidak lagi percaya kepada penegak hukum sehingga muncul tindakan persekusi. Dalam kasus persekusi ini pun tidak jarang anak-anak terlibat di dalamnya. Anak-anak tersebut bahkan menjadi pelaku persekusi di media sosial. Maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana anak melakukan persekusi dan model rehabilitasi anak sebagai pelaku persekusi. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis studi literatur pemberitaan anak di media massa dan metode terapi anak sebagai pelaku. Hasil penelitian ini melihat fenomena persekusi sebenarnya sudah ada sejak tahun 1965 karena melihat karakteristik persekusi yang tidak hanya sekedar ancaman. Persekusi masuk dalam kategori kejahatan pelanggaran HAM. Memberikan rasa takut pada orang lain dalam bentuk kekerasan baik verbal, fisik, maupun psikologis merupakan kejahatan HAM. Namun jika melihat dari pelaku yang masih usia anak-anak, maka tetap mempertimbangkan undang-undang perlindungan anak dimana anak tersebut harus diberikan rehabilitasi. Metode terapi anak diberikan oleh lembaga yang berwenang yaitu Balai Rehabilitasi Sosial Anak Membutuhkan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Kemensos. Cases of persecution started to surface in 2017. According to data from SAFEnet, in June 2017 there were 66 complaints of persecution throughout Indonesia. Meanwhile, there were 100 cases of persecution that occurred from the beginning of 2017 to November 2017. Data from KontraS stated that there were at least 48 cases or events of religion and belief-based persecution occurring from January to October 2017. Until then, persecution was considered to be a phenomenon in Indonesia that occurred at the end of 2016 until early 2017. Issues of persecution may occur due to excessive freedom of expression on social media, where people can freely and arbitrarily insult religious or other figures, while on the other hand, those who feel victimized no longer trust law enforcement which leads to persecution. It is not uncommon for children to be involved in cases of persecution. Children may even become the perpetrators of persecution on social media. The purpose of this study is to find out how children carry out persecution and the rehabilitation models for children as perpetrators of persecution. The method used in this study is descriptive qualitative, with literature analysis study of news involving children in the media and therapy methods for children as perpetrators. The result of this study indicates that the persecution phenomenon has been around since 1965, referring to characteristics of persecution as more than mere threats. Persecution is included in the category of crimes against human rights. Instilling fear in other people in the form of verbal, physical and psychological violence is crime against human rights. However, if the perpetrators are children, then we must consider the child protection law, indicating that the child must be given rehabilitation. Child therapy method is administered by authorized institutions such as the Balai Rehabilitasi Sosial Anak Membutuhkan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) of Ministry of Social Affairs.
HUBUNGAN ANTARA HUKUM ISLAM DAN HUKUM ADAT DALAM PEMBAGIAN WARISAN DI DALAM MASYARAKAT MINANGKABAU Eric, Eric
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3532

Abstract

Sistem hukum waris di Indonesia terbagi atas 3 yaitu hukum waris barat, adat, dan Islam. Hukum Waris di Indonesia belum ada keseragaman hukum karena masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, dan adat istiadat tunduk kepada hukum warisnya masing-masing. Sebelum mempelajari hukum waris, sebaiknya mempelajari sistem perkawinan dan sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat adat yang bersangkutan karena hukum waris adat selalu dipengaruhi oleh sistem perkawinan dan sistem kekerabatan. Sama halnya dengan hukum waris adat masyarakat Minangkabau dipengaruhi oleh sistem perkawinan exogamie semenda dan sistem kekerabatan Matrilineal. Hukum waris adat minangkabau mengandung 2 sistem kewarisan yaitu kewarisan kolektif untuk harta pusaka tinggi dan kewarisan individual untuk harta pusaka rendah. Aturan pembagian kewarisan tersebut berdasarkan rapat dan seminar yang diadakan pada tahun 1952 dan 1968. Tentunya pembagian warisan tersebut harus berdasarkan asas, prinsip, dan ketentuan hukum yang telah ada untuk menjamin kepastian hukum, kemanfaatan, dan keadilan bagi para ahli waris. Metode penulisan jurnal ini menggunakan jenis penulisan yuridis normatif. Penelitian normatif merupakan penelitian hukum doktrinal atau penelitian hukum teoritis. Hal ini disebut demikian karena pada penelitian ini, penulis menggunakan bahan hukum primer seperti peraturan perundang-undangan dan bahan hukum sekunder seperti buku-buku para ahli hukum (doktrin). Dari bahan-bahan hukum yang penulis gunakan maka penelitian ini disebut penelitian yuridis normatif. The inheritance legal system in Indonesia is divided into 3 types, namely western, customary and Islamic inheritance law. There is no uniformity of Inheritance Law in Indonesia due to the diversity of Indonesian people consisting of various ethnicities, religions, and customs, whom are subject to their respective inheritance laws. Before studying the inheritance law, it is best to study the marriage system and the kinship system adopted by the cultural community concerned because customary inheritance law is always influenced by the marriage system and the kinship system. Similarly, the customary inheritance law of the Minangkabau people is influenced by the exogamie semenda marriage system and the Matrilineal kinship system. Minangkabau customary inheritance law contains 2 inheritance systems, namely collective inheritance for high inheritance and individual inheritance for low inheritance. The rules for the distribution of inheritance are based on meetings and seminars held in 1952 and 1968. Certainly, the distribution of inheritance must be based on existing principles and legal provisions to ensure legal certainty, usefulness and justice for heirs. This paper was written using normative juridical writing type. Normative research is a doctrinal law research or theoretical law research. This is called so because in this study, the author used primary legal materials such as statutory regulations and secondary legal materials such as books of jurists (doctrines). From the legal materials that the author uses, this research is classified as normative juridical research.
PERAN PENDEKTAN KONSELING BERBASIS DIALECTICAL BEHAVIOR THERAPY (DBT) DALAM MENDUKUNG PEMULIHAN TRAUMA PADA PEREMPUAN YANG MENGALAMI KDRT Christina, Diana; Irwanto, Irwanto
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.4043

Abstract

Kekerasan dalam rumah tangga mengacu pada segala bentuk perilaku semena-mena yang tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan verbal dan seksual. Kekerasan dalam rumah tangga adalah sebuah fenomena yang telah menarik perhatian dunia karena perilaku kasar yang diterima perempuan dari pasangannya dalam jangka panjang, yang mengarah pada konsekuensi buruk kesehatan mental seperti PTSD dalam bentuk pikiran yang mengganggu, mimpi buruk, kilas balik, hypervigilances, dan emosi-emosi negatif berlebih (kesedihan, kemarahan, kekecewaan, keputusasaan) yang dapat menyebabkan pikiran untuk bunuh diri. Dua wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan saat ini tinggal di tempat penampungan berpartisipasi dalam penelitian ini. Mereka diberikan teknik konseling berbasis Dialectical Behavior Therapy (DBT) untuk membantu mereka menerima pengalaman mereka tanpa dihakimi dan untuk meningkatkan kapasitas mereka untuk mengendalikan pikiran dan emosi mereka. Konseling berbasis DBT diberikan dalam tiga sesi; toleransi terhadap tekanan, mindfulness, dan regulasi emosi. Kami melibatkan dua peserta perempuan yang diberi tempat tinggal sementara. Screening menggunakan Beck Depression Index (BDI-II) yang menunjukkan setidaknya tingkat depresi menengah atas, dan checklist tentang jenis kekerasan, dampak fisik dan psikologis yang disebabkan oleh perilaku pasangannya yang kasar. Setelah tiga sesi konseling berbasis DBT, peserta mulai mendapatkan kendali atas hidup mereka, menunjukkan peningkatan dalam kepercayaan diri dan menjunjung tinggi keyakinan bahwa mereka dapat maju. Domestic violence refers to any kind of abusive behavior that is not only physical, but also verbal and sexual violence. Domestic violence is a phenomenon that has garnered the worldwide attention due to the long term abusive behaviors that women have received from their partners, which leads to serious mental health consequences such as PTSD in the forms of intrusive thought, nightmares, flashback, hypervigilances, and overwhelming  negative emotions (sadness, anger, disappointment, hopelessness) that may lead to suicidal thoughts. Two women who experienced domestic abuse and currently living in a shelter particiated in this study. They were provided with a counseling technique based on (DBT) to help them accept their experiences without any judgement and to enhance their capacity to controlling their thoughts and emotion. Counseling based on DBT was given in three sessions; distress tolerance, mindfulness, and emotion regulation. We involved two female participants who were provided with a temporary shelter. Screening using a Beck Depression Index (BDI-II) showed at least moderate depression level and above, and a checklist form about the type of violence, physical and psychological impact caused by their abusive partner’s behavior. After three sessions of counseling based on DBT, participants started to gain control of their lives, show improvements in self-confidence and uphold a belief that they can move forward.
INTERVENSI ORIGAMI BERBASIS EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN SPASIAL ANAK USIA DINI Lukman, Agnes Victoria; Sahrani, Riana; Patmonodewo, Soemiarti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.2981

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas intervensi origami berbasis experiential learning dalam meningkatkan kemampuan spasial anak usia dini. Kemampuan spasial merupakan salah satu kemampuan yang diperlukan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan spasial merupakan aspek dari kognisi yang berkembang sejalan dengan perkembangan kognitif. Kemampuan spasial pada anak berhubungan dengan relasi topologi atau spasial dua arah, seperti atas-bawah, kanan-kiri, depan-belakang. Banyak media yang terbukti dapat meningkatkan kemampuan spasial pada anak, salah satunya adalah origami. Dalam kegiatan origami, anak diajak untuk berpartisipasi aktif agar dapat membuat figur origami. Hal ini juga dibutuhkan dalam metode experiential learning. Experiential learning merupakan proses belajar melalui pengalaman (learning by doing). Dalam metode ini, siswa berpartisipasi aktif dalam sebuah kegiatan, sehingga menghasilkan pengetahuan atau kemampuan yang baru. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen. Partisipan penelitian berjumlah 3 orang yang merupakan siswa/i kelas K2 TK X dengan karakteristik: (a) usia partiipan antara 5-6 tahun; (b) partisipan sedang menjalani pendidikan di kelas K2 TK X tahun ajaran 2017-2018. Penelitian ini menggunakan desain dalam-kelompok, one-group pretest posttest. Peneliti memberikan intervensi origami berbasis experiential learning kepada partisipan penelitian setelah melakukan pre-test dan melakukan post-test terhadap partisipan setelah 8 sesi intervensi diberikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kemampuan spasial partisipan mengalami peningkatan meskipun pada dimensi yang berbeda. Hasil post-test pada partisipan penelitian menunjukkan intervensi origami berbasis experiential learning meningkatkan kemampuan spasial anak anak usia dini. This study aims to determine the effectiveness of experiential learning-based origami intervention in improving young children’s spatial ability. Spatial ability is a fundamental aspect of cognition that develops in line with cognitive development. Spatial ability in children is associated with topological or two-way spatial relations, such as top-bottom, right-left, front-back. Many media are proven to improve spatial abilities in children, one of which is origami. In origami, children are invited to actively participate in order to make origami figures. This is also needed in experiential learning methods. Experiential learning is a process of learning through experience (learning by doing). In this method, students actively participate in an activity, so as to produce new knowledge or abilities. This research is a quasi-experimental research. There were 3 participants who were students of K2 Grade of Kindergarten X with the following characteristics: (a) the age of participants between 5-6 years; (b) participants are undergoing education in K2 grade kindergarten X during 2017-2018 school year. This study uses within-group design, one-group pretest posttest. The researcher gave origami intervention based on experiential learning to the study participants after pre-test, and administered post-test on the participants after 8 sessions of intervention were conducted. The result of this study indicates that the spatial ability of participants had increased, although in different dimensions. The results of post-test on participants showed that origami interventions based on experiential learning improve the spatial abilities of young children.
GAMBARAN KECEMASAN DAN DEPRESI WANITA DENGAN KANKER PAYUDARA Tania, Michelle; Soetikno, Naomi; Suparman, Meiske Yunithree
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3469

Abstract

Kanker merupakan penyakit kronis yang banyak diderita oleh individu di seluruh dunia. Hal ini menjadikan kanker dianggap sebagai penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan akan menyebabkan kematian bagi penderitanya. Salah satu jenis kanker yang paling banyak diderita oleh wanita yaitu kanker payudara. Kanker payudara merupakan keganasan yang berasal dari kelenjar payudara. Diagnosis kanker payudara akan berdampak kepada keadaan psikologis individu, termasuk kecemasan dan depresi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kecemasan dan depresi pada pasien wanita dengan kanker payudara. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan alat ukur Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS). Pada penelitian ini, pengambilan sampling dilakukan dengan menggunakan teknik accidental sampling. Partisipan penelitian ini berjumlah 34 orang dengan rata-rata usia 53 tahun dan rata-rata partisipan sudah didiagnosis kanker payudara selama 2 tahun. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa partisipan memiliki tingkat kecemasan hingga mild yaitu sebanyak 7 (20,6%) orang dan 27 (79,4%) lainnya memiliki tingkat kecemasan yang normal. Selain itu, partisipan memiliki tingkat depresi hingga mild yaitu sebanyak 3 (8,8%) orang dan 31 (91,2%) partisipan lainnya memiliki tingkat depresi yang normal. Selain melihat kecemasan dan depresi pada wanita dengan kanker payudara, penelitian ini juga melihat adanya faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan dan depresi pada wanita dengan kanker payudara, yaitu faktor religiusitas dan faktor dukungan sosial. Cancer is a chronic disease affection many individuals throughout the world, leading us to consider it an incurable disease and will certainly cause death for those afflicted with it. One of the most common types of cancer in women is breast cancer. Breast cancer is a malignancy originating from the mammary gland. The diagnosis of breast cancer will affect an individual's psychological state in the form of anxiety and depression. This study aims to describe anxiety and depression in female patients with breast cancer. The design of this study is a descriptive study using the Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) measurement tool. In this study, sampling was conducted using accidental sampling technique. Participants in this study were 34 people with mean age of 53 years and on average, participants had been diagnosed with breast cancer for 2 years. The result of the study showed that participants who had up to mild anxiety levels were as many as 7 (20.6%) people, with 27 (79.4%) others had normal anxiety levels. In addition, as many as 3 participants had up to mild level of depression (8.8%) and 31 (91.2%) other participants had normal depression level. In addition to looking at anxiety and depression in women with breast cancer, this study also looked at other factors that could affect the level of anxiety and depression in women with breast cancer, namely religiosity and social support factors.
PERANAN FEAR OF MISSING OUT TERHADAP PROBLEMATIC SOCIAL MEDIA USE Risdyanti, Keyda Sara; Faradiba, Andi Tenri; Syihab, Aisyah
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3527

Abstract

Sampel dalam penelitian ini berjumlah 254 remaja dalam rentang usia 12-22 tahun, dengan metode pengambilan Media sosial menjadi alat komunikasi sehari-hari bagi remaja masa kini. Kemudahan mengakses media sosial membentuk remaja memiliki keterikatan dengan akun media sosialnya. Perilaku ini memunculkan adanya dampak negatif bagi remaja, baik itu bagi dirinya sendiri maupun diluar dirinya, seperti merusak hubungan sosial dengan orang lain maupun mengganggu pendidikan remaja secara tidak langsung. Hanya saja, pemicu penggunaan media sosial yang tidak sehat ini, diakibatkan karena adanya kekhawatiran memiliki hubungan yang terputus dengan orang-orang disekitarnya. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar peranan yang dimiliki oleh fear of missing out (FOMO) terhadap problematic social media use (PSMU). sampel berbasis internet melalui volunteer (opt in) panel. Fear of Missing Out scale sebagai alat pengukuran untuk FOMO, sedangkan Social Media Use Questionnaire digunakan untuk mengukur PSMU. Hasil penelitian memiliki signifikansi secara positif (0,00>0,05), yang artinya semakin tinggi seseorang dalam memiliki perasaan takut, cemas, gelisah maupun khawatir bila tidak ikut terlibat dalam kegiatan sosial bersama orang disekitarnya, ia akan cenderung semakin memiliki keterikatan dengan media sosialnya hingga menimbulkan konsekuensi negatif bagi dirinya. Hasil juga menunjukan adanya sejumlah peranan yang diberikan oleh fear of missing out kepada problematic social media use sebesar 35,8%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Social media has become the regular communication tool for today's youth. Ease of access media forms attachment of adolescents to their social media accounts. This behavior gives rise to negative impacts for adolescents, both for themselves and their surroundings, such as damaging social relationships with others and indirectly disrupting their education. Unhealthy use of social media is caused by fears of ruining relationships with people around them. Therefore, this study aims to see the extent to which the role of the fear of missing out (FOMO) affects problematic social media use (PSMU). The sample in this study amounted to 254 adolescents between 12-22 years age range, with internet-based sampling methods through volunteer (opt in) panels. The Fear of Missing Out scale is a measurement tool for FOMO, while the Social Media Use Questionnaire was used to measure PSMU. The result of the study indicated positive significance (0.00> 0.05), which means that the more a person is having feelings of fear, anxiety, or worry when not involved in social activities with people around them, they tend to have more attachment to the media social which in turn, causes negative consequences for them. The result also showed a number of influence by the fear of missing out to the problematic social media use as much as 35.8%, while the rest were influenced by other factors. 
Cover JMISHS vol 3 no 1 UNTAR, DPPM
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover JMISHS vol 3 no 1

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue