cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
Cover Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni V0l 2 N0 1 UNTAR, DPPM
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni  V0l 2 N0 1
Redaksi Vol 3 No 1 UNTAR, DPPM
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Redaksi Vol 3 No 1
PENERAPAN ASSERTIVE BEHAVIOR THERAPY UNTUK MENURUNKAN PERILAKU AGRESI PADA REMAJA DI LEMBAGA X Mulyahardja, Yosephine; Natalia, Titi P.
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3874

Abstract

Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa di mana terjadi perubahan biologis, kognitif dan sosioemosional yang berupa perubahan psikososial atau kematangan mental yang akan membentuk sikap, nilai dan minat baru untuk mempersiapkan diri memasuki usia dewasa. Masa remaja juga ditandai dengan sifat negatif misalnya berkaitan dengan sikap sosial berupa menarik diri dari masyarakat dan agresif terhadap masyarakat. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya tindak kekerasan yang terjadi yang dilakukan oleh remaja. Ketidakmampuan remaja dalam mengantisipasi konflik akan menyebabkan perasaan gagal yang mengarah pada frustrasi. Bentuk reaksi yang terjadi akibat frustrasi yakni perilaku kekerasan untuk menyakiti diri atau orang lain, yang disebut agresi.Perilaku agresi ini dapat diintervensi dengan assertive behavior therapy (ABT). ABT akan mengajarkan kepada remaja mengenai cara menyampaikan pikiran dan emosi negatif secara lebih tepat. Kelima partisipan merupakan remaja laki-laki dan anak didik pemasyarakatan di Lembaga X. Selain itu, kelima partisipan memiliki riwayat tawuran dan kesulitan untuk mengontrol emosi saat dihadapkan dengan situasi yang tidak menyenangkan. Penelitian ini menggunakan quantitative one group pre-test post-test design. Alat ukur yang digunakan adalah Buss-Perry Aggression Question, untuk mengetahui perbandingan hasil sebelum dan sesuadah pemberian intervensi. ABT yang akan dijalankan berjumlah 7 sesi, yang berlangsung selama -/+ 90 menit pada masing-masing sesi. Total skor dari keseluruhan partisipan tidak banyak menunjukkan penurunan agresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ABT kurang efektif menurunkan perilaku agresi dari partisipan di Lembaga X. Hal ini bisa dikarenakan faktor inteligensi partisipan dan lingkungan sekitar partisipan. Adolescence is a period of transition from childhood to adulthood where biological, cognitive and socioemotional changes occur in the form of psychosocial changes or mental maturity that will form new attitudes, values and interests to prepare for entering adulthood. Adolescence is also characterized by negative traits, for example, in relation to social attitudes in the form of withdrawing from society and being aggressive towards society. This is indicated by the increase in violence committed by adolescents. The inability of adolescents to anticipate conflicts will cause feelings of failure that lead to frustration. Forms of reaction that occur due to frustration include violent behavior to hurt themselves or others is called aggression. Aggressive behavior can be intervened with assertive behavior therapy (ABT). ABT will teach adolescents how to convey negative thoughts and emotions more precisely. The participants were five teenage boys who were correctional students at Institution X. In addition, the five participants had a history of brawls and difficulty in controlling emotions when confronted with unpleasant situations. This study uses quantitative one group pre-test post-test design. The measuring instrument used was the Buss-Perry Aggression Question, to find out the comparison of results before and after intervention. ABT was administered across 7 sessions, which lasted for - / + 90 minutes for each session. The total score of all participants did not show significant decrease in aggression. The results showed that ABT was less effective in reducing aggressive behavior of participants in Institution X. This could be due to the intelligence level of participants and the environment around the participants.
PERAN SELF-REGULATED LEARNING TERHADAP EMOTIONAL EXHAUSTION YANG DIMEDIASI OLEH STUDENT ENGAGEMENT PADA SANTRI Sholihah, Dinda Nabila; Sahrani, Riana; Hastuti, Rahmah
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.5949

Abstract

Santri merupakan seseorang yang belajar agama Islam dan mendalami agama Islam dalam sebuah pesantrian atau pesantren. Dalam menjalankan kegiatannya sehari-hari, santri terikat dengan berbagai macam peraturan dan kegiatan yang menyebabkan kecenderungan dari munculnya emotional exhaustion pada santri. Dalam penilitian ini, akan dibahas mengenai peranan self-regulated learning terhadap emotional exhaustion yang dimediasi oleh student engagement pada santri. Metode yang digunakan adalah kuantitatif non-eksperimental dengan teknik pengambilan data purposive sampling dan criterion sampling. Adapun alat ukur yang digunakan terdiri dari alat ukur self-regulated learning yang diadaptasi dari alat ukur self-regulated learning dari Pintrich dan Groot (1990), alat ukur emotional exhaustion yang diadaptasi dari alat ukur yang dikembangkan oleh Schaufeli, Martίnez, Marqués-Pinto, Salanova, dan Bakker (2002), serta alat ukur student engagement yang diadaptasi dari alat ukur student engagement dari Schaufeli dan Bakker (2003). Pengambilan data dilakukan di lima pondok pesantren yang terdapat di wilayah Bogor dan Bekasi pada bulan Oktober – November 2018 dengan melibatkan 424 partisipan penelitian berusia 11 – 20 tahun. Berdasarkan hasil yang diperoleh, self-regulated learning secara negatif signifikan memengaruhi emotional exhaustion (tc’ = -6,336; p= 0,000 < 0,05) dan student engagement tidak memediasi peran self-regulated learning terhadap emotional exhaustion (tb’= 1,153; p = 0,250 > 0,05). A santri is a person who studies Islam in a pesantren or Islamic boarding school. In carrying out their daily activities, students are bound by a variety of regulations and activities that tend to cause emotional exhaustion in students. In this research, the role of self-regulated learning on emotional exhaustion mediated by student engagement on santri will be discussed. The research method used is quantitative non-experimental technique with purposive sampling and criterion sampling. The measuring device used consists of a self-regulated learning measuring instrument adapted from a self-regulated learning measuring instrument from Pintrich and Groot (1990), an emotional exhaustion measuring instrument adapted from a measuring instrument developed by Schaufeli, Martίnez, Marqués-Pinto, Salanova, and Bakker (2002), as well as student engagement measurement instrument adapted from the student engagement measurement instrument from Schaufeli and Bakker (2003). Data were collected at five Islamic boarding schools in Bogor and Bekasi over October - November 2018 involving 424 research participants aged 11-20 years. Based on the results obtained, self-regulated learning negatively and significantly affects emotional exhaustion (tc '= -6.336; p = 0.000 <0.05) and student engagement does not mediate the role of self-regulated learning on emotional exhaustion (tb' = 1.153; p = 0,250> 0,05).
PERAN FEAR OF MISSING OUT (FOMO) SEBAGAI MEDIATOR ANTARA KEPRIBADIAN DAN PENGGUNAAN INTERNET BERMASALAH Angesti, Ristia; Oriza, Imelda Dian Ika
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i2.2317

Abstract

Increasing internet users trigger problems in internet usage. In recent years, the phenomenon of the fear of missing out (FOMO) that has only emerged in recent years is thought to be a mediator between personality and problematic internet use. The purpose of this study is to see the influence of FOMO which acts as a mediator between personality and problematic internet use. The participants of this study are male (N = 39) and female (N = 143) participants with age range of 18-29 years (M = 23.05, SD = 2.7), namely in emerging adulthood with a total number of 182 participants. There are three measuring instruments used in this study, namely the scale of problematic internet use, personality scale, and the scale of fear of missing out. The data analysis used in this study is mediation analysis. The results obtained in this study is that neuroticism trait significantly affects FOMO, a = 0.268, p <0.001. Then, FOMO affects problematic internet usage significantly, b = 0.941, p <0.001. Furthermore, neuroticism trait significantly affects problematic internet use through mediators, namely FOMO c '= 0.615, p <0.001. The indirect effect obtained is 0.247, the direct effect is 0.615, and the total effect is 0.863. The indirect effect of 0.247 on 10,000 sample bootstraps obtained true indirect effects ranging from 0.102 to 0.415 at 95% Confidence Interval (CI). Partial mediation between neuroticism trait and problematic internet use mediated by FOMO can be found. Then, there is perfect mediation between conscientiousness trait and problematic internet use mediated by FOMO. Through this research, it is proven that FOMO plays an important role as a mediator between personality and problematic internet use.  Pengguna internet yang semakin meningkat memicu permasalahan dalam penggunaan internet. Beberapa tahun terakhir, fenomena fear of missing out (FOMO) yang baru muncul beberapa tahun terakhir diduga dapat menjadi mediator antara kepribadian dan penggunaan internet bermasalah. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh FOMO yang berperan sebagai mediator antara kepribadian dan penggunaan internet bermasalah. Partisipan penelitian adalah partisipan berjenis kelamin laki- laki (N = 39) dan perempuan (N = 143) dengan rentang usia 18-29 tahun (M = 23.05, SD = 2.7) yaitu pada emerging adulthood dengan jumlah total partisipan 182 orang. Terdapat tiga alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala penggunaan internet bermasalah, skala kepribadian, dan skala fear of missing out. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis mediasi.  Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah trait neuroticism mempengaruhi FOMO secara signifikan, a = 0,268, p <0,001. Kemudian, FOMO mempengaruhi penggunaan internet bermasalah secara signifikan, b = 0,941, p<0,001. Selanjutnya, trait neuroticism mempengaruhi penggunaan internet bermasalah melalui mediator yaitu FOMO secara signifikan, c’= 0,615, p<0,001. Maka diperoleh indirect effect sebesar 0,247,  direct effect sebesar 0,615, dan total effect sebesar 0,863. Indirect effect sebesar 0,247 pada 10.000 bootstrap sampel dan diperoleh true indirect effect yang berkisar antara 0,102 hingga 0,415 pada 95% Confidence Interval (CI). Dapat dilihat bahwa terdapat mediasi parsial antara trait neuroticism dengan penggunaan internet bermasalah yang dimediasi oleh FOMO. Kemudian, terdapat mediasi yang sempurna antara trait conscientiousness dengan penggunaan internet bermasalah yang dimediasi oleh FOMO. Melalui penelitian ini, membuktikan bahwa FOMO memiliki peran yang penting sebagai mediator antara kepribadian dan penggunaan internet bermasalah
URGENSI PERUBAHAN UU NOMOR 5 TAHUN 1999 DALAM RANGKA HARMONISASI HUKUM PERSAINGAN USAHA DI ASEAN Wahjuni, Marta Sri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3457

Abstract

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (“UU Nomor 5 Tahun 1999”) pada prinsipnya diundangkan dengan tujuan untuk menjamin kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi setiap pelaku usaha di Indonesia serta dalam rangka mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat. Namun demikian UU Nomor 5 Tahun 1999 tampaknya sudah tidak dapat mengakomodir perkembangan dunia persaingan usaha yang semakin mengglobal khususnya di kawasan regional ASEAN dengan lahirnya Asean Economic Community (AEC) pada akhir tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab 2 permasalahan: (1) mengapa perubahan terhadap UU Nomor 5 Tahun 1999 perlu segera dilakukan? dan (2) apakah Rancangan Undang-Undang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (“RUU”) perlu disesuaikan dengan The ASEAN Regional Guidelines on Competition Policy 2010? Untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian hukum normatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa perubahan terhadap UU Nomor 5 Tahun 1999 perlu segera dilakukan. Selain itu, RUU perlu disesuaikan dengan The ASEAN Regional Guidelines on Competition Policy 2010 karena meskipun saat ini masih berbentuk soft law dan belum mempunyai kekuatan mengikat bagi negara-negara anggota ASEAN tetapi Regional Guidelines merupakan langkah awal atau titik tolak menuju harmonisasi hukum persaingan usaha di wilayah regional ASEAN dan roadmap menuju harmonisasi  kebijakan persaingan  usaha  dan undang-undang persaingan usaha di wilayah regional ASEAN telah ditetapkan dengan jelas dalam The ASEAN Competition Action Plan 2025. Constitution of 1999 No. 5 concerning Prohibition of Monopolistic Practices and Unfair Business Competition in principle was enacted with the goal of ensuring the certainty of equal business opportunities for every business actor in Indonesia and to create a conducive business climate through the regulation of fair business competition. However, Constitution of 1999 No. 5 seems unable to accommodate the development of an increasingly globalized business competition, especially in the ASEAN region with the appearance of the Asean Economic Community (AEC) at the end of 2015. This study aims to address 2 issues: (1) the reason why Constitution of 1999 No. 5 needs to be revised and (2) whether or not the Bill of Prohibition of Monopolistic Practices and Unfair Business Competition ("Draft Law") be adjusted to the 2010 ASEAN Regional Guidelines on Competition Policy. To answer the questions in this study, the researcher used normative legal research method. Based on the result of the study, changes to Constitution of 1999 No. 5 needs to be done immediately. In addition, the aforementioned Bill needs to be adjusted to the 2010 ASEAN Regional Guidelines on Competition Policy because although being in the form of soft law and without any binding power for countries that are ASEAN members, the Regional Guidelines is the first step, a starting point towards harmonizing business competition law in the ASEAN region, and the roadmap towards harmonizing business competition policies and business competition laws in the ASEAN region are clearly defined in the 2025 ASEAN Competition Action Plan.
PERAN SELF-ESTEEM DAN SELF-FORGIVENESS SEBAGAI PREDIKTOR SUBJECTIVE WELL-BEING PADA PEREMPUAN DEWASA MUDA Ekawardhani, Nadya Puspita; Mar’at, Samsunuwiyati; Sahrani, Riana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3538

Abstract

Subjective well-being (SWB) merupakan gambaran kebahagiaan, kepuasaan hidup, dan gambaran afek positif-negatif individu. Self-esteem (penghargaan diri) dan self-forgiveness (penerimaan diri) merupakan dasar penilaian positif individu terhadap dirinya. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan guna memperoleh peran self-esteem dan self-forgiveness sebagai prediktor SWB pada perempuan dewasa muda. Penelitian ini menggunakan tiga alat ukur, yakni Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), Heartland Forgiveness Scale (HFS), dan Oxford Happiness Questionnaire (OHQ). Penelitian ini juga hendak melihat seberapa besar peranan self-esteem dan self-forgiveness terhadap SWB. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan teknik non-probabilitysampling. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 500 perempuan yang berusia 20 – 28 tahun, memiliki minimal pendidikan SMA/ sederajat, dan berdomisili di Jabodetabek. Seluruh data diolah dengan teknik explore (descriptive statistic) dan analyze (regression) menggunakan SPSS Statistic versi 24. Penelitian ini memperoleh hasil bahwa self-esteem dan self-forgiveness berperan secara signifikan sebagai prediktor SWB pada perempuan dewasa muda, yakni sebasar 53,8%. Berdasarkan besaran peran, self-esteem memiliki peran sebagai prediktor yang lebih besar dari self-forgiveness, yakni sebesar 52,5%. Sedangkan, self-forgiveness memiliki peran sebesar 17,9%. Bagi penelitian selanjutnya, jumlah partisipan dapat dikontrol secara merata agar memperoleh hasil yang lebih baik. Selain itu, dapat pula dilakukan intervensi pada partisipan yang memiliki self-esteem, self-forgiveness dan SWB yang cenderung rendah, sehingga peneliti dapat mengontrol dan melakukan follow-up. Penelitian selanjutnya juga dapat menguji forgiveness of others dan forgiveness of the situation, untuk melihat seberapa besar peran keduanya terhadap SWB.Meneliti pada rentang usia dewasa dewasa muda tengah (28 – 33 tahun)dan dewasa muda akhir (33 – 40 tahun) juga dapat diaplikasikan pada penelitian selanjutnya.Subjective well-being (SWB) is an image of happiness, life satisfaction, and an image of the individual’s positive and negative affects. Self-esteem and self-forgiveness are the basis for an individual's positive assessment of him/herself. Therefore, this study was conducted to obtain the role of self-esteem and self-forgiveness as predictors of SWB in young adult women. This study used three measuring instruments, namely Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), Heartland Forgiveness Scale (HFS), and Oxford Happiness Questionnaire (OHQ). This study also aims to discover the role of self-esteem and self-forgiveness towards SWB. This research is a quantitative study with non-probability sampling technique. Subjects in this study were 500 women aged 20-28 years, with minimum of high school / equivalent education level, and lived in Jabodetabek area. The data was processed by exploring (descriptive statistics) and analyzing (regression) techniques using SPSS Statistics version 24. This study shows that self-esteem and self-forgiveness play a significant role as predictors of SWB in young adult women, which is 53.8%. Based on the magnitude of the role, self-esteem is a greater predictor of SWB than self-forgiveness, equal to 52.5% with self-forgiveness equal to 17.9%. For further research, the number of participants can be made more even in order to obtain better results. In addition, intervention can also be conducted on participants with low self-esteem, self-forgiveness and SWB, so that researchers can conduct control and follow-up. Future studies may also examine forgiveness of others and forgiveness of the situation, in order to find out their contribution towards SWB. Research on middle young adults(28-33 years old) and late young adults (33-40 years) can also be applied in subsequent studies.
PENERAPAN GRATITUDE JOURNAL UNTUK MENURUNKAN GEJALA DEPRESIF PADA PENDERITA KANKER: STUDI DENGAN ECOLOGICAL MOMENTARY ASSESSMENT Sucitra, Eric; Mar’at, Samsunuwijati; Tiatri, Sri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3466

Abstract

Kanker adalah sebuah masalah medis serius yang memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup penderita secara holistik, termasuk masalah kejiwaan yang mengarah pada gejala depresif. Negative inferential style, yakni sebuah gaya pikir yang cenderung memproses peristiwa hidup secara lebih negatif dari biasanya, diduga sebagai salah satu faktor yang memicu penderita kanker untuk mengembangkan gejala depresif. Studi ini bertujuan untuk memeriksa penerapan intervensi yang berfokus pada aspek kognitif individu dalam bentuk aktivitas gratitude journal untuk mengurangi gejala depresif partisipan. Penelitian ini juga menggunakan ecological momentary assessment untuk memeriksa fluktuasi mood depresif dalam partisipan. Enam partisipan wanita dengan berusia antara 35 sampai 56 tahun (x̅ = 44.83) dengan diagnosis kanker dan gejala depresif (skor BDI-II > 0) direkrut dan menyelesaikan aktivitas gratitude journal selama dua minggu. Uji statistik non-parametrik Wilcoxon Signed Rank Test dan Kruskall-Wallis Test dilakukan untuk menganalisis data. Studi ini juga melakukan analisis tematik dalam bentuk coding untuk menemukan protective factors terhadap depresi yang terkandung dalam gratitude journal. Studi ini tidak menemukan perbedaan bermakna pada skor pretest-posttest trait gratitude, namun menemukan penurunan skor yang signifikan pada gejala depresif. Terakhir, peneliti tidak menemukan adanya perbedaan bermakna dalam gejala depresif pada tiga kondisi waktu yang berbeda. Studi ini menunjukkan bahwa gratitude journal dapat digunakan sebagai jenis intervensi yang dapat mendampingi intervensi lain karena karakteristik aktivitasnya yang sederhana. Akan tetapi, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut yang memeriksa penerapan gratitude journal terhadap penderita depresi klinis sebelum konklusi mengenai efektivitas dari aktivitas gratitude journal dapat ditegakkan. Cancer is a group of medical diseases that has detrimental impacts on the sufferers’ quality of life holistically, which includes psychological issues that may lead them to heightened depressive symptoms. Negative inferential style, defined as the tendency to interpret or attribute negative life events in maladaptive ways, has been suggested to be a risk factor contributing to the development of depressive symptoms. The current study aimed to investigate the application of cognitive-based intervention in the form of gratitude journal to reduce depressive symptoms. In addition, the study was designed to explore the fluctuative depressive mood among cancer sufferers by utilizing ecological momentary assessment. Six partisipants with age range from 35 to 56 years old (x̅ = 44.83), with cancer diagnosis and depressive symptoms (BDI-II > 0) were recruited and completed gratitude journal activity for two weeks. Non-parametric statistical analyses in the form of Wilcoxon Signed Rank Test and Kruskall-Wallis Test were conducted to analyse the data. Findings showed no significant differences between gratitude trait pretest-posttest scores. In contrast, there were significant differences among depressive scores, indicating that the intervention helps to reduce depressive symptoms among cancer sufferers. It was further revealed that the analyses failed to find significant depressive symptoms’ differences among three different time points. The findings suggest that gratitude journal can be used as an effective side-intervention that complements other type of intervention to reduce depressive symptoms due to its “easy-to-do” nature. However, future research is necessary to establish its efficacy to treat individuals with more serious depressive symptoms. 
PERAN MODAL PSIKOLOGIS DAN DUKUNGAN ORGANISASI TERHADAP KESIAPAN KERJA MAHASISWA INTERNSHIP Jessica Chandhika; Kiky D.H. Saraswati
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3406

Abstract

Penambahan peluang kerja tidak sebanding dengan peningkatan jumlah tenaga kerja dari waktu ke waktu. Untuk mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas, perusahaan biasanya menggunakan sistem seleksi yang ketat, sehingga dapat membedakan kesiapan para kandidat, utamanya yang baru saja menyelesaikan pendidikannya untuk bekerja secara formal. Kesiapan Kerja adalah dimilikinya keahlian, pengetahuan, dan sikap dasar, serta pemahaman praktis yang memungkinkan lulusan memberikan kontribusi produktif bagi tujuan organisasi. Kesiapan Kerja dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor internal yang berperan adalah Modal Psikologis. Modal Psikologis adalah keadaan psikologis yang positif pada diri individu yang ditandai dengan self- efficacy, optimisme, harapan, dan resiliensi. Sedangkan salah satu faktor eksternal yang berperan adalah Dukungan Organisasi, yaitu persepsi karyawan terhadap sejauh mana organisasi memberi nilai positif terhadap kontribusi mereka serta peduli terhadap kesejahteraan mereka. Dukungan Organisasi telah ditemukan memiliki konsekuensi penting terhadap kinerja dan kesejahteraan karyawan. Suatu organisasi yang siap dalam memberikan imbalan terhadap usaha kerja karyawan dan memenuhi kebutuhan sosio-emosional akan meningkatkan komitmen karyawan dalam bekerja. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Data diambil dengan menyebarkan kuesioner Work Readiness, Survey of Perceived Organizational Support, dan Psychological Capital pada mahasiswa peserta program internship di Perguruan Tinggi X, Jakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Modal Psikologis dan Dukungan Organisasi memiliki kontribusi yang signifikan terhadap Kesiapan Kerja (F= 14.349, p< 0,000). The increase in employment opportunities is not proportional to the increase in the number of workers over time. To acquire high quality workforce, companies use a strict selection system in order to distinguish the readiness of candidates, especially those who have just completed their education to work formally. Work Readiness is the possession of basic skills, knowledge and attitudes, as well as practical understanding that enable graduates to productively contribute to organizational goals. Work Readiness can be influenced by two factors, namely internal and external factors. One such internal factor is Psychological Capital. Psychological Capital is a positive psychological state within an individual that is characterized by self-efficacy, optimism, hope, and resilience. Meanwhile, one of the external factors is Organizational Support that is employee perception of the extent to which the organization gives a positive value to their contribution and care for their well-being. Organizational support has been found to possess important consequences on employee performance and welfare. An organization that is ready to reward employees' work effort and meet their socio-emotional needs will increase employees’ work commitment. This research is a quantitative research. Data were taken by distributing the Work Readiness, Survey of Perceived Organizational Support, and Psychological Capital questionnaires to students participating in the internship program at X University, Jakarta. The result of this study indicates that Psychological Capital and Organizational Support significantly contribute to Work Readiness (F = 14,349, p <0,000).
PENGARUH ART THERAPY TERHADAP PREGNANCY-SPECIFIC DISTRESS PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL YANG MENGALAMI KEHAMILAN PERTAMA Anastasia Nadya Caestara; Monty P. Satiadarma; Widya Risnawaty
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3485

Abstract

Pregnancy-specific distress (PSD) yang merupakan perasaan khawatir atau terganggu terkait gejala fisik, perubahan bentuk tubuh, perubahan hubungan interpersonal dengan orang lain, proses persalinan, kesehatan bayi, cara merawat bayi, dan risiko dari perawatan medis yang dilakukan pada masa kehamilan. PSD dapat diatasi dengan art therapy dalam bentuk menggambar dan melukis agar partisipan dapat mengekspresikan perasaan negatif yang menyebabkan PSD. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan apakah art therapy dengan menggambar dan melukis berpengaruh dalam menurunkan PSD. Karakteristik partisipan penelitian adalah perempuan dewasa awal yang sedang hamil pertama kali, memiliki usia kehamilan trimester pertama, dan mengalami PSD yang diukur dengan alat ukur Revised Prenatal Distress Questionnaire (NuPDQ). Penelitian ini menggunakan pendekatan mix method dengan desain one-group pretest posttest design. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 6 orang partisipan. Hasil penelitian menunjukkan art therapy efektif untuk menurunkan PSD pada seluruh partisipan. Art therapy dapat membantu partisipan mengekspresikan emosi dengan menggambar dan melukis. Pregnancy-specific distress (PSD) is a feeling of worry or disturbance related to physical symptoms, changes in body shape, changes in interpersonal relationships with others, labor, baby's health, how to care for babies, and the risk of medical care during pregnancy. PSD can be overcome with art therapy in the form of drawing and painting so that participants can express negative feelings that cause PSD. The purpose of this study is to prove whether art therapy by drawing and painting has an effect in reducing PSD. Characteristics of study participants were early adult women who were expecting for the first time, had gone through first trimester gestational age, and experienced PSD as measured by the Revised Prenatal Distress Questionnaire (NuPDQ). This research utilized mix method approach with one-group pretest posttest design. The sampling technique used was purposive sampling. The number of samples in this study were 6 participants. The result showed that art therapy was effective in reducing PSD in all participants. Art therapy can help participants express emotions by drawing and painting. 

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue