cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
EFEKTIVITAS PELATIHAN BUNYI HURUF DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AWAL SISWA SEKOLAH DASAR Beatrix Carnatia Sanoe; Sri Tiatri; Soemiarti Patmonodewo
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.6022

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah pelatihan bunyi huruf efektif dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada Siswa kelas 1 Sekolah Dasar. Pelatihan Bunyi Huruf ini mengacu pada teori Phonological Awareness dari Torgessen dan Wagner (1998) Phonological Awarenes adalah sensitivitas atau kesadaran eksplisit seseorang yang meliputi kemampuan mendengar, melihat, memikirkan atau memanipulasi struktur bunyi dari kata-kata dalam bahasanya. Subyek dalam penelitian ini sebanyak 12 siswa kelas 1 SD yang belum lancar membaca. Siswa tersebut dibagi mejadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Alat pengumpulan data yang digunakan sebagai test yang pada pretest dan postest adalah EGRA (Early Grade Reading Assessment). Pelatihan Bunyi Huruf dilakukan sebanyak 8 kali pertemuan, dan hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan skor kemampuan membaca yang sangat signifikan pada kelompok eksperimen setelah diberikan pelatihan bunyi huruf. Disimpulkan bahwa pelatihan bunyi huruf terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa sekolah dasar. This study aims to find out whether effective letter sound training can improve initial reading skills in Grade 1 Elementary School students. This Letter Sound Training refers to the Phonological Awareness theory of Torgessen and Wagner (1998) Phonological Awareness is the sensitivity or explicit awareness of a person which includes the ability to hear, see, think or manipulate the sound structure of words in the language. The subjects in this study were 12 grade 1 elementary school students who had not read fluently. The students were divided into 2 groups, namely the control group and the experimental group. The data collection tool used as a test at the pre-test and post-test was EGRA (Early Grade Reading Assessment). Letter Sounding Training was conducted in 8 meetings, and the results of the study showed a very significant increase in the reading ability score in the experimental group after being given letter sound training. It was concluded that letter sound training proved effective in improving the ability of elementary school students
ANALISA KONSEPTUAL MODEL SPIRITUAL WELL-BEING MENURUT ELLISON DAN FISHER Raja Oloan Tumanggor
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3521

Abstract

Studi ini menganalisa lebih dekat dua model spiritual well-being (SWB) yang dikembangkan oleh Craig W. Ellison dan John W. Fisher. Dengan menggunakan metode kualitatif kepustakaan dilakukan perbandingan (komparasi) secara deskriptif antara pendekatan Ellison dan Fisher. Ellison memperkenalan model spritual well-being dengan dua dimensi, yakni religious well-being (RWB) dan existential well-being (EWB). Berdasarkan kedua dimensi itu Ellison kemudian mengembangkan alat ukur Spiritual Well-being Scale (SWBS). Sementara Fisher menampilkan model SWB dengan empat dimensi, yaitu personal, komunal, mondial dan transendental. Berangkat dari empat dimensi ini Fisher mengembangkan juga alat ukur Spiritual Well-being Questionaire (SWBQ). Ellison dan Fisher mendalami spiritual well-being bertolak dari pengalaman mereka mendampingi kehidupan spiritual jemaat yang mereka layani. Ellison memahami spiritual well-being sebagai kesejahteraan rohani yang merupakan perwujudan konkrit dari kesehatan rohani, sedangkan Fisher melihat spiritual well-being sebagai afirmasi hidup manusia dalam hubungannya dengan diri sendiri, sesama, lingkungan dan Tuhan. Fisher memiliki dimensi spiritual well-being lebih terperinci dari pada Ellison. Jadi perbedaan konsep dan dimensi spiritual well-being model Ellison dan Fisher berdampak kepada pembentukan alat ukur yang berbeda juga atas kedua model Ellison dan Fisher. Kendati ada perbedaan konsep dan dimensi spiritual well-being model Ellison dan Fisher, namun keduanya diperlukan untuk memperoleh pemahaman lebih mendalam atas model spiritual well-being. This study analyzes more closely the two models of spiritual well-being (SWB) developed by Craig W. Ellison and John W. Fisher. By using qualitative literature method a descriptive comparison was made between the Ellison and Fisher approaches. Ellison introduced the spiritual well-being model with two dimensions, namely religious well-being (RWB) and existential well-being (EWB). Based on these two dimensions Ellison then developed the Spiritual Well-being Scale (SWBS) measurement tool. Meanwhile, Fisher explained SWB model with four dimensions, namely personal, communal, mondial and transcendental. From these four dimensions, Fisher developed the Spiritual Well-being Questionnaire (SWBQ) measurement tool. Ellison and Fisher examined spiritual well-being based on their respective experience accompanying the spiritual lives of the congregations they served. Ellison understood spiritual well-being as a concrete manifestation of spiritual health, while Fisher sees spiritual well-being as an affirmation of human life in relation to oneself, others, the environment and God. Fisher explains spiritual dimension of well-being in more detail than Ellison. Therefore, the different concepts and spiritual well-being dimensions of Ellison and Fisher's models have an impact on the formation of different measurement tools than both Ellison and Fisher's models. Despite the differences in the concepts and dimensions of the spiritual well-being models of Ellison and Fisher, both are needed to gain a deeper understanding of the spiritual well-being model.
GAMBARAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN INKLUSI SEKOLAH DASAR NEGERI DI JAKARTA BARAT Heni Mularsih
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3600

Abstract

Pelaksanaan pendidikan inklusif merupakan bentuk pelayanan pendidikan yang setara antara  anak yang memiliki kebutuhan khusus dengan anak normal yang pelaksanaan pendidikan di sekolah umum. Penekanan dalam penyelenggaraan Pendidikan inklusi yaitu adanya penerimaan  semua siswa, baik yang normal maupun yang berkebutuhan khusus tanpa ada deskriminasi. Namun, dalam perlakuan siswa yang memiliki kebutuhan khusus harus memperoleh pelayanan Pendidikan sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, dalam praktik di lapangan, penyelenggaraan pendidikan inklusif hendaknya dilaksanakan dengan  baik pada setiap komponen-komponen penyelenggaraan pendidikan yang seharusnya dipenuhi, yang meliputi peserta didik, pendidik, kurikulum, serta sarana dan prasarana. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah dasar negeri  di Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Partisipan dalam penelitian ini, yaitu guru atau kepala sekolah. Teknik pengumpulan data dengan purposive sampling, dengan kriteria  sekolah dasar negeri yang sudah menyelenggarakan Pendidikan inklusi selama minimal  tiga tahun. Instrumen berupa kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka untuk memperoleh jawaban bebas dari partisipan. Materi kuesioner dikembangkan dari komponen-komponen dalam penyelenggraraan pendidikan inklusif melalui validasi isi dari pakar. Teknik analisis data dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum Sekolah dasar Negeri Inklusi di Jakarta Barat belum  memenuhi persyaratan penyelenggaraan sekolah inklusi sesuai dengan Undang_Undang tentang Sekolah Inklusi, terutama terkait dengan belum dilakukannya identifikasi siswa ABK, belum tersedianya guru pendamping khusus, serta belum terpenuhinya sarana dan prasarana yang memadai.The implementation of inclusive education is a form of equal educational service between children with special needs and regular children in public schools. Therefore, in practice, the implementation of inclusive education should be carried out properly in every component of the administration of education which includes students, educators, curriculum, facilities and infrastructure. This study aims to find an image of the implementation of inclusive education in public elementary schools in Jakarta. The research used survey method with teachers or principals as participants. Data were collected by purposive sampling, while the instrument used was in the form of both closed and open questionnaires to obtain open-ended answers from participants. Data analysis technique was descriptive statistical analysis. The result shows that in general, the Inclusive Public Primary School in West Jakarta had not yet fulfilled the requirements for the implementation of inclusive schools in accordance with the Constitution on Inclusive Schools, especially related to the identification of special needs students, the unavailability of special assistant teachers, and the lack of adequate facilities and infrastructure. 
REPRESENTASI INTERAKSI MANUSIA DALAM GENRE FOTOGRAFI “STORY” SITUS MEGALITIKUM GUNUNG PADANG Winny Gunarti Widya Wardani; Wulandari Wulandari; Rezha Destiadi; Syahid Syahid
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3451

Abstract

Situs Megalitikum Gunung Padang terletak di Desa Karyamukti, Kabupaten Cianjur. Situs yang berasal dari zaman prasejarah ini memiliki banyak serakan batu berpola dan tersusun dalam lima teras berundak. Situs ini bernilai penting sebagai warisan sejarah dan budaya bangsa Indonesia. Studi ini bertujuan untuk ikut berpastisipasi mengabadikan benda-benda peninggalan prassejarah tersebut dalam karya seni fotografi bergenre “story”. Genre fotografi story adalah genre yang memfokuskan pada visualisasi sisi humanis untuk menghadirkan interaksi manusia dengan lingkungan alam  sekitarnya. Dengan menggunakan metode kombinasi, studi ini menggunakan pendekatan semiotika komunikasi visual yang menekankan pada pembacaan dan pemahaman terhadap tanda-tanda visual di dalam teknik fotografi, khususnya pada unsur fokus dan ruang tajam di dalam teknik pengambilan gambar. Hasil survey secara kuantitatif dalam studi ini menunjukkan masih rendahnya pandangan tentang daya tarik kehidupan manusia di area situs prasejarah yang dapat dijadikan objek fotografi. Sedangkan analisis hasil data secara kualitatif dari karya foto dalam studi ini mampu merepresentasikan adanya interaksi manusia dengan alam dan lingkungannya, sehingga membangun persepsi visual tentang manusia sebagai makhluk sosial budaya. Keberadaan situs prasejarah dalam karya fotografi ini juga menghasilkan visualisasi perilaku menusia yang mencoba merasakan kedekatannya dengan peradaban di masa lalu.  Studi tentang genre fotografi story dalam latar prasejarah ini menunjukkan bahwa karya fotografi dapat membawa pesan budaya. Penelitian ini juga dapat dimanfaatkan sebagai referensi dalam memenuhi tuntutan perkembangan teknologi yang semakin kompetitif di bidang  fotografi maupun desain komunikasi visual. The Gunung Padang Megalithic Site is located in Karyamukti Village, Cianjur Regency. Patterned stones arranged on five terraces have been discovered at the site, dating back to prehistoric times. This site is a valuable historical and cultural heritage of the Indonesian people. This study aims to participate in preserving historical relics through “story” genre photography. Story photography genre focuses on visualizing the humanistic side to present human interaction with surrounding natural environment. Through combination method, this study uses semiotic approach to visual communication that emphasizes reading and understanding of visual signs in photographic techniques, especially on the elements of focus and depth of field in photography techniques. Quantitative survey result in this study shows a shallow understanding of the appeal of human life in prehistoric sites as photographic objects. Meanwhile, the qualitative analysis of the data from the photographs in this study can represent the existence of human interaction with nature and the environment, thus building a visual perception of humans as social and cultural beings. The existence of prehistoric sites in this photographic work also results in visualization of human behavior that attempts to feel its closeness to ancient civilization. The study of the story genre photography in prehistoric setting shows that photography can carry cultural messages. This research can also be used as a reference in meeting the demands of increasingly competitive technological developments in the field of photography and visual communication design.
IMPLEMENTASI CYBER PUBLIC RELATIONS UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG PADA PERSAINGAN ERA DIGITAL Tri Susanto; Wahyu Utamidewi; Reka Prakarsa Nur Muhamad; Satria Ali Syamsuri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3454

Abstract

Penggunaan teknologi dalam kegiatan public relations sangat dibutuhkan dalam membangun network kepada baik konsumen ataupun relations yang dibutuhkan dalam sebuah institusi/perusahaan, dalam hal ini dikenal dengan istilah cyber Public Relations, yaitu suatu usaha seorang public relations yang menggunakan media internet sebagai sarana publikasinya dalam meningkatkan reputasi baik tingkat nasional maupun internasional. Persaingan yang ketat pada era digital menuntut perguruan tinggi terus bersaing dalam pemenuhan informasi pada khalayak, dalam proses ini Humas Unsika merupakan bagian terpenting dalam kegiatan cyber public relations. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif dengan sifat deskriptif. Dengan tujuan penelitian untuk mengetahui dan menganalisis serta mengevaluasi kegiatan cyber public relations yang telah dilakukan oleh Universitas Singaperbangsa Karawang selama ini semenjak beralih status dari swasta menjadi Negeri. Dalam hal ini kegiatan cyber public relations terkait dengan publikasi online berupa press release, kerjasama, jurnal online, siakad, video maupun penyedia informasi pada situs resmi Universitas Singaperbangsa Karawang. Selain itu faktor pendukung lainnya adalah penggunaan media sosial karena kekuatan media sosial dalam menggalang opini di dunia maya mulai diperhitungkan banyak pihak, tidak mengherankan jika suatu merek institusi dapat dicitrakan secara baik tetapi juga dihancurkan melalui penggalangan opini melalui media sosial. Tetapi, kurang maksimalnya aktifitas cyber PR Unsika membuat Institusi ini cukup sulit bersaing di media internet. Peneliti berharap dengan adanya penelitian ini menjadi tinjauan serta masukan agar humas dapat meningkatkan aktivitas cyber public relations di Universitas Singaperbangsa Karawang dengan baik ke depannya sehingga dapat bersaing dalam tingkat nasional maupun internasional.  The use of technology in public relations is needed for building networks toward consumers or important relations in an institution / company, in this case known as cyber Public Relations, an effort by public relations to utilize internet media as a mean of publicity in improving good reputation both nationally and internationally. Intense competition in the digital era requires universities to compete in sharing information to the public. In this process the Unsika Public Relations is the most important part in cyber public relations. This research was conducted using qualitative research method with descriptive nature. The aim of this research is to find out, analyze, and evaluate cyber public relations activities carried out by the University of Singaperbangsa Karawang so far after having its status changed from a private university to public university. In this case, cyber public relations activities related to online publications are in the form of press releases, cooperation, online journals, news, videos, and information provision on the official site of the University of Singaperbangsa Karawang. Meanwhile, another supporting factor is the use of social media for its capability to rally a certain opinion has begun to be taken into account by many parties. It is not surprising that an institutional brand can either be well-perceived, or ill-perceived through the gathering of opinions on social media. However, the lack of Unsika cyber PR activities hinders this university from competing on the internet media. The researchers hope that this research serves as a review and a suggestion for public relations to increase cyber public relations activities at the University of Singaperbangsa Karawang in the future to allow it to compete on national and international levels.
MOTIVASI BELAJAR BAHASA MANDARIN REMAJA AWAL: PERAN SELF-EFFICACY, PARENTAL INVOLVEMENT, DAN TEACHER STUDENT RELATIONSHIP Deasy Suparman; Riana Sahrani; Soemiarti Patmonodewo
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3560

Abstract

Untuk dapat bersaing dalam era globalisasi diperlukan penguasaan second language, seperti bahasa Mandarin. Bahasa Mandarin merupakan bekal kompetensi untuk berkomunikasi dengan mitra dagang dari Negara Tiongkok di abad ke-21 ini. Pada era globalisasi saat ini, Negara Tiongkok memiliki kekuatan di bidang ekonomi dan telah menguasai pasar, baik dalam skala kecil maupun skala besar (Yudono, 2012). Penelitian menunjukkan adanya peningkatan Bahasa mandarin sebagai kurikulum di beberapa sekolah di Amerika Serikat (Dillon, 2010). Demikian pula di Indonesia, baik sekolah nasional maupun internasional telah mengujicobakan Bahasa mandarin (Yudono, 2012). Beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar Bahasa mandarin adalah self-efficacy, parental involvelment, dan teacher-student relationship. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran self-efficacy, parental involvement, dan teacher-student relationship dalam motivasi belajar Bahasa mandarin pada siswa SMP X. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif non-experimental dengan menggunakan teknik analisis regresi linier ganda. Partisipan penelitian adalah siswa SMP X sebanyak 174 orang. Teknik pengambilan sampel adalah convenience sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner self-efficacy, parental involvement, teacher-student relationship, dan motivation dengan skala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy, parental involvement, dan teacher-student relationship berperan dalam motivasi belajar Bahasa mandarin remaja awal (R=0,76; R2=0,577; F=67,33; p < 0,05). Peran seluruh variabel Self Efficacy, Parental Involvement, dan Teacher Student Relationship ke Motivation adalah sebesar 57,7%. Peranan terbesar diberikan oleh variabel Self Efficacy (55,02%), berikutnya Parental Involvement (1,95%), dan terakhir Teacher Student Relationship (0,74%). To be able to compete in the globalization era, mastery of second languages is needed, such as Mandarin. Mandarin is a provision of competence to communicate with trading partners from China in the 21st century. In the current era of globalization, the State of China has power in the economic field and has controlled the market, both on a small scale and large scale (Yudono, 2012). Research shows an increase in Mandarin as a curriculum in several schools in the United States (Dillon, 2010). Likewise in Indonesia, both national and international schools have tried Mandarin Language (Yudono, 2012). Some factors that influence motivation to learn Mandarin are self-efficacy, parental involvelment, and teacher-student relationship. The purpose of this study was to determine the role of self-efficacy, parental involvement, and teacher-student relationship in motivation to learn Mandarin in X students of junior high school. This study uses a non-experimental quantitative design using multiple linear regression analysis techniques. The research participants were 174 students of SMP X. The sampling technique is convenience sampling. Research instruments in the form of self-efficacy questionnaires, parental involvement, teacher-student relationships, and motivation with a Likert scale. The results showed that self-efficacy, parental involvement, and teacher-student relationship play a role in motivation to learn early Mandarin Mandarin language (R = 0.76; R2 = 0.577; F = 67.33; p <0.05). The role of all variables of Self Efficacy, Parental Involvement, and Teacher Student Relationship to Motivation is 57.7%. The biggest role was given by the variable Self Efficacy (55.02%), followed by Parental Involvement (1.95%), and finally Teacher Student Relationship (0.74%).
PENERAPAN ART THERAPY UNTUK MENINGKATKAN SELF-COMPASSION PADA ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA) Sylvia Angelika; Monty P. Satiadarma; Rismiyati E. Koesma
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3462

Abstract

HIV telah menjadi masalah kesehatan yang utama. HIV akan berdampak pada fisik, finansial, sosial, dan psikologis. Dampak tersebut mengakibatkan individu memiliki self-compassion yang rendah. Self-compassion rendah tercermin dalam sikap dan perilaku negatif yang merugikan dirinya sendiri. Art therapy sebagai salah satu terapi yang dinyatakan efektif untuk mengatasi permasalahan psikologis dan meningkatkan kualitas diri individu, juga memiliki potensi dalam meningkatkan self-compassion. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah art therapy efektif untuk meningkatkan self-compassion pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Self compassion akan diukur menggunakan Self Compassion Scale (SCS). Partisipan pada penelitian ini adalah ODHA berusia 20-40 tahun dan tidak mengikuti sesi intervensi psikologis secara individual ataupun kelompok. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Desain penelitian dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan within subject design, dan dengan pendekatan mixed method. Data akan dianalisis menggunakan teknik analisis non-parametrik, yaitu The Wilcoxon Signed-Rank Test. Sesi art therapy yang dilakukan terdiri dari 8 sesi. Berdasarkan hasil uji didapatkan hasil bahwa art therapy efektif meningkatkan self-compassion pada ODHA dengan Z = -1,992, p = 0.046. Lima dari enam partisipan yang ada menunjukkan adanya peningkatan self-compassion. Penelitian selanjutnya diharapkan meneliti keterkaitan antar faktor demografis dengan self-compassion, menambah keragaman karakteristik partisipan dan sesi art therapy. HIV has become a major health problem with physical, financial, social, and psychological impact. It causes individuals to have low self-compassion. Low self-compassion is reflected in negative attitudes and behaviors that are detrimental to oneself. Art therapy as an effective method in overcoming psychological problems and improving the quality of individual self also has the potential to improve self-compassion. This study aims to discover whether art therapy is effective in increasing self-compassion in people with HIV / AIDS (PWHA). Self compassion will be measured using the Self Compassion Scale (SCS). Participants in this study were PWHA aged 20-40 years and did not attend psychological intervention sessions individually or in groups. The sampling technique used was purposive sampling. This is a within subject quasi-experiment research with a mixed method approach. Data were analyzed using non-parametric analysis technique, namely The Wilcoxon Signed-Rank Test. The art therapy session consisted of 8 sessions. Based on the test results obtained, art therapy was effective in increasing self-compassion of PWHA with Z = -1,992, p = 0.046. Five of the six participants showed an increase in self-compassion. Future studies are expected to examine the relationship between demographic factors and self-compassion, increasing the diversity of participants' characteristics and art therapy sessions.
PERAN MEMBACA AWAL TERHADAP PEMAHAMAN BACAAN PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR Amalia Novita Retaminingrum; Sri Tiatri; Soemiarti Patmonodewo
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.6017

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji peran kelancaran membaca awal terhadap pemahaman bacaan. Partisipan adalah 150 siswa kelas empat. Partisipan diberi satu set asesmen yang mencakup beberapa komponen kelancaran membaca awal dan pengukuran atas pemahaman bacaan  fiksi dan non fiksi. Kelancaran membaca awal diukur dengan Early Grade Reading Assessment yang mengukur letter name identification, segmentation (phoneme or syllables), non word reading, oral reading fluency, reading comprehension, listening comprehension, vocabulary, dan dictation.  Pemahaman bacaan fiksi dan non fiksi diukur melalui tes yang dikembangkan berdasarkan Curriculum Based Assessment dari Kurikulum 2013 Indonesia. Analisis regresi dilakukan pada penelitian ini, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua komponen kelancaran membaca awal yang berhubungan dengan pemahaman bacaan. The goal of this study was to examine the role of early reading fluency in reading comprehension. Participants were 150 fourth-grade children. They were given an assessment that included multiple components of early reading fluency, and a fiction and non fiction text to measure their reading comprehension. For early reading fluency, this study used Early Grade Reading Assessment which measures of letter name identification, segmentation (phoneme or syllables), non word reading, oral reading fluency, reading comprehension, listening comprehension, vocabulary, and dictation. For fiction and non-fiction reading comprehension, this study use Curriculum Based Assessment from 2013 Indonesian Curriculum. Regression analyses were undertaken, the results showed that there are two component of early reading fluency which related to reading comprehension. 
HUBUNGAN ANTARA HARAPAN DAN STRES ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK DENGAN AUTISME Kurniadi, Grace; Atmodiwirjo, Ediasri Toto; Soetikno, Naomi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3860

Abstract

Autisme merupakan gangguan perkembangan yang ditandai dengan gangguan sosial perilaku dan minat yang terbatas. Setiap orang tua yang mempunyai anak, memiliki harapan yang indah dan baik untuk anaknya. Diagnosis autisme akan kondisi anak menyebabkan stres pada orang tua. Stres ini menyebabkan harapan orang tua berubah. Penelitian ini bertujuan untuk mencari korelasi antara harapan dan stres orang tua yang memiliki anak dengan autisme. Karakteristik partisipan ini adalah orang tua yang memiliki anak berusia 3-16 tahun. Anak sudah didiagnosa autisme oleh dokter atau psikolog ataupun psikiater. Partisipan yang mengisi alat ukur penelitian ini sebanyak 69 orang. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur harapan adalah adult dispotitional hope scale (ADHS), sementara alat ukur yang digunakan untuk mengukur stres orang tua adalah parental stress scale (PSS). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif korelasional dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi dengan perangkat lunak SPSS versi ke 23. Uji korelasi yang dilakukan menunjukkan korelasi negatif yang lemah antara harapan dan stres orang tua (r = -.244, n = 69, p = .043). Hal ini menunjukkan jika stres orang tua tinggi, maka harapan itu rendah. Sebaliknya jika harapan tinggi, stres orang tua rendah. Orang tua diharapkan untuk membuat harapan yang realistis serta mengelola stres yang dapat memengaruhi kondisi psikologisnya. Autism is a developmental disorder characterized by impaired social behavior and limited interests. Every parent with children, hopes for the best for their children. If their children are diagnosed with autism, this will cause stress in parents. This stress causes the hope of parents to change. This study aims to find a correlation between hope and stress of parents who have children with autism. The characteristics of the participants are parents who have children aged 3-16 years. The child has been diagnosed with autism by a doctor, or psychologist, or psychiatrist. Participants who filled out the measurement tools of this study were 69 people. The measuring instrument used to measure expectations is the adult dispotitional hope scale (ADHS), while the measuring instrument used to measure parental stress is the parental stress scale (PSS). The research method used is quantitative correlational research method with purposive sampling technique. Data analysis was a correlation test using SPSS software version 23. The correlation test conducted showed a weak negative correlation between expectations and stress of parents (r = -.244, n = 69, p = .043). This shows that if parental stress is high, then hope is low. Conversely, if hope is high, parental stress is low. Parents are expected to have realistic hope and manage stress that can affect their psychological condition.
GAMBARAN KINERJA DAN KETERIKATAN KERJA PADA PEGAWAI PENGELOLA BARANG/JASA PEMERINTAH Umi Nurnaeni
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.1474

Abstract

Lembaga X bertanggung jawab sebagai instansi pembina pegawai pengelola Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah di seluruh Indonesia. Layanan pengadaan di setiap kementerian, lembaga dan pemerintah daerah belum banyak yang merupakan organisasi permanen, sehingga pegawai pengelola pengadaan memiliki pekerjaan ganda. Pekerjaan dalam pengadaan merupakan pekerjaan tambahan selain mereka mengejakan tugas utamanya. Maka penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran keterikatan kerja dan kinerja pegawai pengelola pengadaan barang/jasa pemerintah untuk memberikan masukan bagi Lembaga X dalam menentukan pola pembinaan yang tepat. Kinerja diartikan sebagai perilaku yang dilakukan secara sadar oleh para karyawan yang merupakan bentuk usaha untuk mencapai hasil sebagaimana yang sesuai dengan tujuan organisasi. Kinerja yang diteliti adalah kinerja individu berdasarkan teori dari Koopmans (2014) terdiri dari empat dimensi yaitu task performance, contextual performance, adaptive performance, dan contraproductive work behavior. Keterikatan kerja adalah keadaan dimana pegawai dapat berkomitmen penuh dengan pekerjaannya. Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan alat ukur yaitu kinerja dan keterikatan kerja. Partisipan yang mengikuti penelitian ini sejumlah 179 orang, yang diambil dengan metode insidental sampling sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pegawai pengelola PBJ memiliki kinerja yang tinggi, mereka berupaya untuk berperilaku dan bertindak untuk kesuksesan organisasinya. Tiap dimensi dalam variabel keterikatan kerja memiliki rata-rata skor diatas nilai tengah alat ukur sehingga dapat diartikan bahwa keterikatan kerja partisipan tinggi, tertinggi pada dimensi dedication.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue