cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
GAMBARAN NILAI BUDAYA ANTARA GENERASI TUA DAN GENERASI MUDA PADA MASYARAKAT TIONGHOA BERAGAMA KONGHUCU Hambalie, Hertha Christabelle; Dewi, Fransisca Iriani R
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1828

Abstract

Nilai budaya mengalami perubahan dengan adanya modernisasi dan nilai-nilai baru, tidak terkecuali nilai budaya pada masyarakat Tionghoa di Indonesia. Nilai budaya didefinisikan sebagai ide abstrak yang menjadi pedoman tingkah laku individu dalam masyarakat tertentu. Penelitian ini menggambarkan bagaimana nilai budaya pada masyarakat Tionghoa dengan menggunakan menggunakan mix method, sequential explanatory design. Pertama, peneliti menggunakan metode kuantitatif untuk mendapatkan gambaran umum apakah terdapat perbedaan nilai budaya antara generasi tua dan generasi muda, yang kemudian diperdalam dengan metode kualitatif untuk mendapatkan gambaran lebih rinci bagaimana penerapan nilai budaya. Penelitian ini menggunakan alat ukur Chinese Culture Value (CVS) yang dibuat oleh Bond, dengan jumlah partisipan 62 orang, terdiri dari 31 orang tua yang mewakili generasi tua dan 31 orang anak yang mewakili generasi muda. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif dipilih 3 orang tua dan 3 orang anak dengan kategori nilai budaya (1) orang tua rendah dan anak tinggi, (2) orang tua tinggi dan anak tinggi, dan (3) orang tua tinggi dan anak sedang. 6 orang subjek diwawancara dengan wawancara semi-terstuktur. Berdasarkan analisis kuantitatif, diketahui tidak ada perbedaan nilai budaya Tionghoa antara generasi tua dan generasi muda, namun berdasarkan analisis kualitatif, ada perbedaan dalam cara penerapan nilai budaya pada kehidupan sehari-hari.
PERAN KONFLIK PEKERJAAN-KELUARGA TERHADAP KUALITAS HIDUP DENGAN STRES SEBAGAI MEDIATOR PADA WANITA PERAN GANDA Agita Presilia; Rismiyati E Koesma; Zamralita Zamralita
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3552

Abstract

Konflik pekerjaan-keluarga banyak dialami pada wanita peran ganda karena mengalami ketidakseimbangan dalam menjalankan tuntutan dalam pekerjaan maupun dalam keluarga. Hal ini akan mempengaruhi kepuasan wanita peran ganda dan mengalami dampak negatif dalam kehidupan sehingga akan menurunkan kualitas hidupnya. Namun, didapatkan hasil yang berbeda, di mana hubungan konflik pekerjaan-keluarga terhadap kualitas hidup dinyatakan tidak cukup kuat, sehingga dalam penelitian ini menggunakan variabel mediator yaitu stres. Konflik pekerjaan-keluarga dapat menyebabkan stres pada wanita peran ganda, sehingga akan mempengaruhi kualitas hidupnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat peran konflik pekerjaan-keluarga terhadap kualitas hidup dengan stres sebagai mediator. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan wanita di Kementerian X yang sudah menikah dan juga sudah memiliki anak. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dan juga dilanjutkan melalui teknik convenience sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 183 karyawan wanita peran ganda. Penelitian ini menggunakan tiga alat ukur, yaitu Multdimensional Scale of Work-Family Conflict, World Health Organizational Quality of Life (WHOQOL-BREF), dan juga skala stres umum. Pengujian model dilakukan dengan menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) menggunakan LISREL 8.70. Hasil pengujian model menunjukkan bahwa stres dapat berperan sebagai mediator dengan nilai p-value < 0.05, dan RMSEA <0.08, dan dapat memediasi secara parsial pada konflik pekerjaan-keluarga terhadap kualitas hidup. Hasil nilai standardized solution untuk peran konflik pekerjaan-keluarga terhadap kualitas hidup yang awalnya hanya -0.66 menjadi -0.83. Dengan kata lain, hasil ini mengindikasikan bahwa individu yang mengalami konflik pekerjaan-keluarga, ketika mengalami stres, akan memiliki kualitas hidup yang lebih rendah. Work-family conflicts are mostly experienced by multiple roles women because they experience an imbalance in carrying out demands at work and in the family. This will affect the satisfaction of multiple roles women who experience negative impacts that will lower their quality of life. However, different results were obtained, where the relationship between work-family conflict and quality of life was declared not strong enough, therefore, this study used stress as a mediator variable. Work-family conflict can cause stress in multiple roles women, so it will affect the quality of life. Therefore, this study aims to look at the role of work-family conflict on the quality of life with stress as a mediator. The population in this study were female employees in Ministry X who were married and had children. The sampling technique used was purposive sampling and also continued through convenience sampling technique. The number of samples in this study were 183b employees who were multiple roles women. This study used three measuring instruments, namely the Multdimensional Scale of Work-Family Conflict, World Health Organizational Quality of Life (WHOQOL-BREF), and also the general stress scale. Model testing was carried out using Structural Equation Modeling (SEM) using LISREL 8.70. The results of the model testing show that stress can act as a mediator with p-value of <0.05, and RMSEA of <0.08, and can partially mediate work-family conflicts with quality of life. The result of the standardized solution value for the role of work-family conflict on quality of life decreased from -0.66, to -0.83. In other words, these results indicate that individuals who experience work-family conflict, when experiencing stress, will have lower quality of life.
PERAN REGULASI DIRI DALAM BELAJAR DAN KETERLIBATAN AKADEMIK TERHADAP INTENSI MENGUNDURKAN DIRI DENGAN RESILIENSI SEBAGAI MEDIATOR Pricilia Claudia Pattynama; Riana Sahrani; Pamela Hendra Heng
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.5629

Abstract

Pengunduran diri dari perkuliahan merupakan salah satu fenomena yang banyak terjadi pada mahasiswa, terutama mahasiswa strata 1 (S1) di institusi swasta. Penyebab utama fenomena ini adalah adanya intensi mengundurkan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran regulasi diri dalam belajar dan keterlibatan akademik terhadap intensi mengundurkan diri dari perkuliahan. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menguji resiliensi sebagai variabel mediator. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan 348 mahasiswa yang terdaftar di sebuah Universitas di Jakarta, Indonesia sebagai partisipan penelitian. Partisipan penelitian berusia 18 hingga 25 tahun. Pengambilan data dilakukan menggunakan empat alat ukur yang diadaptasi dari instrumen sebelumnya. Alat ukur tersebut mengukur regulasi diri dalam belajar, keterlibatan akademik, resiliensi dan intensi mengundurkan diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi merupakan variabel mediator antara regulasi diri dalam belajar dan keterlibatan akademik terhadap intensi mengundurkan diri dari perkuliahan. Intensi tinggi untuk mengundurkan diri ditemukan pada mahasiswa di fakultas kedokteran serta mahasiswa tahun kedua. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa keterlibatan akademik paling berkontribusi terhadap intensi mengundurkan diri dibandingkan regulasi diri dalam belajar dan resiliensi. Berdasarkan hasil penelitian, mahasiswa perlu meregulasi diri dalam perkuliahan, membangun rasa terlibat dengan proses studi, serta perlu memiliki resiliensi agar semakin memiliki intensi rendah untuk mengundurkan diri. Drop out of college students is a rising phenomenon, especially in private institution. The main cause of this phenomenon is drop out intention. The goal of this research was to investigate the role of self-regulated learning and academic engagement to predict college student drop out intention. Specifically, this research aim to test resilience as a mediator variable between self-regulated learning and academic engagement in drop out intention. This study conducted quantitative approach with 348 student enrolled in a University in Jakarta, Indonesia as participant. Participants’ age range from 18 to 25 years. Data collected from four instruments adapted from previous instrument measured self regulated learning, academic engagement, resilience and drop out intention. Result showed that resilience mediated self regulated learning and academic engagement to drop out intention. High level of drop out intention found in medical student and second year student. Academic engagement has the most contribution to drop out intention. Result showed that college student need to develop self-regulated learning, feel engage with their learning process in institution, and have resilience in order to reduce drop out intention.
APAKAH BEKERJA SECARA FLEXTIME MENDUKUNG CONTEXTUAL PERFORMANCE KARYAWAN? Lilies Nuraini; P. Tommy Y.S. Suyasa
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3520

Abstract

Semakin majunya teknologi telekomunikasi dan digital memungkinkan karyawan untuk dapat bekerja secara flextime. Pilihan ini disikapi secara pro dan kontra di banyak perusahaan karena studi tentang dampak dari bekerja secara flextime masih jarang ditemukan dan menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuan untuk melanjutkan penelitian sebelumnya tentang benefit penggunaan flextime terhadap affective well-being dan untuk melihat peran lebih lanjut pada contextual performance (CP) karyawan di PT A. Penggunaan flextime didefinisikan sebagai sejauh mana karyawan memiliki kontrol untuk mengatur jam kedatangan, kepulangan, frekuensi istirahat dan durasi waktu istirahat dalam 1 (satu) hari kerja. Contextual performance adalah frekuensi karyawan melakukan perilaku yang mendukung organisasi secara sosial dan psikologis dalam pelaksanaan fungsi utama perusahaan. Affective well-being mengacu pada frekuensi dan intensitas emosi positif/ negatif dan mood partisipan dalam 1 (satu) bulan terakhir. Work-nonwork boundaries mengacu pada perilaku yang selama ini dilakukan untuk memisahkan mental (psikologis) karyawan antara peran di pekerjaan dan di rumah. Partisipan pada studi ini sebanyak 323 orang karyawan. Hasil pengujian dengan path analysis menggunakan SPSS menyatakan bahwa penggunaan flextime memiliki peran terhadap CP karyawan. Hal ini berarti semakin sering karyawan bekerja dalam mekanisme flextime, CP karyawan akan lebih baik, dan begitu pula sebaliknya. Beberapa temuan penting dan perbedaan dengan penelitian sebelumnya dijelaskan dalam kesimpulan, termasuk menyoroti perbedaan budaya responden. Untuk penelitian lebih lanjut, dapat menggunakan sampel dengan unit kerja yang lebih spesifik, dan/ atau menganalisa berdasar bentuk lain fleksibilitas kerja (flexplace dan temporal flexibility). The advancement of telecommunication and digital technology allows employees to work flextime. This option is still perceived differently by many companies because studies of the effects of working flextime are scarce and still being debated. This study aims to continue previous research on the benefits of using flextime for affective well-being and to further see its role in the contextual performance (CP) of employees of PT A. The use of flextime is defined as the extent to which employees can alter their starting and finish times, break frequency and break time duration in 1 (one) working day. Contextual performance is the frequency of employees performing behaviors that support the organization socially and psychologically in the implementation of the company's main functions. Affective well-being refers to the frequency and intensity of positive / negative emotions and moods of participants in the past 1 (one) month. Work-nonwork boundaries refer to behaviors done to separate employees' mental (psychological) state between roles at work and at home. Participants in this study were 323 employees. Path analysis test results using SPSS states that the implementation of flextime plays a role in employee CP. This means that the more often employees work flextime, the better their CP will be, and vice versa. Some important findings and differences with previous research are explained in the conclusions, including a highlight on the cultural differences of respondents. Further research can utilize samples with more specific work units, and / or analyze based on other forms of work flexibility (flexplace and temporal flexibility).
PENERAPAN COGNITIVE BEHAVIORAL ART THERAPY (CBAT) UNTUK MENURUNKAN AGRESIVITAS PADA REMAJA LPKA X Reza Fahlevi; Debora Basaria; Santy Yanuar Pranawati
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3875

Abstract

Remaja merupakan periode transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa yang melibatkan perubahan-perubahan pada aspek biologis, kognitif maupun psikososial. Remaja yang tidak dapat mengelola emosinya secara efektif dapat menyebabkan perasaan tertekan, kemarahan, kurang mampu meregulasi emosi yang selanjutnya menimbulkan berbagai masalah dalam akademik, kenakalan remaja seperti tawuran dan penyalahgunaan obat. Cognitive Behavioral Art Therapy (CBAT) adalah bentuk terapi di mana partisipan terlibat dalam cara berpikir tentang masalah mereka. Partisipan dapat mempersepsikan masalah mereka dari perspektif baru melalui gambar dan sadar terhadap perasaan dan pikirannya. CBAT biasa digunakan dalam praktik untuk memberikan penanganan pada kasus untuk mengatasi masalah emosi dan perasaan seperti marah, cemas, pasca trauma, dan berbagai kelompok depresi dan penyakit kronis. Untuk saat ini, CBAT belum banyak diterapkan dalam penanganan kasus klinis terutama di Indonesia pada kasus agresi pada remaja. Tujuan dari penelitian ini adalah partisipan dapat mengendalikan rasa marah sehingga dapat menurunkan perilaku agresi yang seringkali ditampilkan dalam bentuk perilaku negatif seperti marah, kasar, mengejek, atau memukul. Desain dalam penelitian ini adalah kuasi-eksperimen. CBAT dilakukan sebanyak 10 sesi untuk menurunkan agresivitas. Terdapat 6 partisipan dalam penelitian yang merupakan hasil screening awal dengan menggunakan alat ukur agresivitas buss dan perry, skala moral Kohlberg, Edward Personal Personality Scale (EPPS), serta tes draw a person yang menunjukkan adanya karakteristik agresi yang tinggi pada partisipan. Evaluasi dilakukan dengan mengukur kembali tingkat agresivitas dengan alat ukur agresivitas buss dan perry, dan tes draw a person. Hasil intervensi menunjukkan adanya penurunan pada skala agresivitas keenam partisipan setelah diberikan intervensi CBAT. Adolescence is a transition period between childhood and adulthood which involves changes in biological, cognitive and psychosocial aspects. Adolescents who cannot manage their emotions effectively can cause feelings of depression, anger, lack of ability to regulate emotions which in turn causes various problems in academics and juvenile delinquency such as brawl and drug abuse. Cognitive Behavioral Art Therapy (CBAT) is a form of therapy in which participants engage in ways of thinking about their problems. Participants can perceive their problems from a new perspective through pictures and be aware of their feelings and thoughts. CBAT is commonly used in cases to overcome emotional and feelings problems such as anger, anxiety, post-trauma, and various groups of depression and chronic illness. At present, CBAT has not been widely applied in the handling of clinical cases, especially in Indonesia in cases of aggression in adolescents. The purpose of this study is to help participants control their anger to reduce aggressive behavior that is often displayed in the form of negative behavior such as anger, abusive, bullying, or hitting. The design of this study is quasi-experimental. CBAT was carried out over as many as 10 sessions to reduce aggression. There were 6 participants in the study which were the results of initial screening using measuring tools of buss and perry aggression, Kohlberg's moral scale, Edward Personal Personality Scale (EPPS), and draw a person test that showed high aggression characteristics in the participants. Evaluation is done by measuring the level of aggression using the buss and perry aggression questionnaire, and draw a person test. The results of the intervention showed a decrease in the scale of the aggression of the six participants after being given the CBAT intervention.
PENGEMBANGAN DESAIN UKIR KAYU PADA INDUSTRI FURNITURE DI JEPARA Eddy Supriyatna; Agustinus Purna Irawan; Maitri Widya Mutiara
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.6036

Abstract

Industri furniture di Jepara sedang mengalami proses perubahan dalam mengatisipasi pasar ekspor. Desain-desain fuirniture yang diproduksi cenderung mengikuti keinginan dan kebutuhan pasar global yang nyaris tidak menampilkan ukiran kayu dalam desain furniturenya. Padahal, ukir kayu Jepara merupakan keunggulan Jepara yang telah berkembangn secara turun-temurun, beratus tahun lamanya. Tampaknya potensi ukir kayu tersebut tidak diberdayakan sebagai alat daya saing ekspor. Oleh sebab itu, diperlukan pengembangan desain furniture ukir kayu yang disesuaikan dengan tuntutan keinginan dan kebutuhan konsumennya di pasar ekspor. Di dalam konteks penelitian ini, pengembangan desain dilakukan setelah melakukan identifikasi pasar ekspor di pasar global dan mengidentifikasi potensi produksi yang dimiliki oleh kalangan industri Jepara. Identifikasi pasar menghasilkan karakteristik desain furniture yang sesuai dengan tuntutan ekspor, adapun identifikasi potensi produksi sebagai pertimbangan di dalam pengembangan desain. Luaran yang dicapai adalah desain furniture ukir kayu, prototype furniture knockdown dan beragam jenis desain ukiran, baik diproses manual maupun masinal. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan multidisiplin bidang desain, teknologi, dan manajemen pemasaran. ABSTRACTThe furniture industry in Jepara is undergoing a process of change in anticipating the export market. Furniture designs produced tend to follow the desires and needs of the global market which barely displays wood carvings in their furniture designs. In fact, Jepara wood carving is an advantage of Jepara which has been developed for generations, hundreds of years. It seems that the potential for carving wood is not empowered as a means of export competitiveness. Therefore, it is necessary to develop wooden carved furniture designs that are tailored to the demands and desires of consumers in the export market. In the context of this research, design development is carried out after identifying the export market in the global market and identifying the production potential of the Jepara industry. Market identification produces furniture design characteristics that are in line with export demands, while the identification of production potential as a consideration in design development. The achieved output is wood carved furniture design, prototype knockdown furniture and various types of carving designs, both processed manually and masinal. This qualitative research uses a multidisciplinary approach in the fields of design, technology, and marketing management. 
PERILAKU KERJA INOVATIF DITINJAU DARI MODAL PSIKOLOGIS, TUNTUTAN KERJA, DAN SUMBER DAYA PEKERJAAN Suci Fadhla Hasanah; P. Tommy Y.S Suyasa; Fransisca Iriani Dewi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3353.2019

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai hubungan modal psikologis, tuntutan kerja, sumber daya pekerjaan dan perilaku kerja inovatif pada widyaiswara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat variabel mana antara modal psikologis, tuntutan kerja, sumber daya pekerjaan, yang menjelaskan perilaku kerja inovatif. Partisipan pada penelitian ini adalah Widyaiswara pada Kementerian Kesehatan. Berdasarkan path analysis, hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku kerja inovatif paling dijelaskan oleh sumber daya dalam pekerjaan (job resource) sebesar (r= 0.241, p < 0.01).  This study discusses the relationship between psychological capital, job demands, job resources and innovative work behavior in widyaiswara. The purpose of this study is to see which variables between psychological capital, job demands, job resources in explaining innovative work behavior. Participants in this study were Widyaiswara at the Ministry of Health. Based on the path analysis, the results of the study show that the most innovative work behavior is explained by job resource of (r = 0.241, p <0.01).
PENTINGNYA PERAN GURU TERHADAP KETERLIBATAN SISWA SD X KELAS 5 PADA PELAJARAN BAHASA MANDARIN DI JAKARTA BARAT Grace Anafree Randa; Sri Tiatri; Heni Mularsih
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3601.2019

Abstract

Fenomena yang terjadi pada siswa kelas 5 SD X bahwa hasil akademik siswa, khususnya pada Pelajaran Bahasa Mandarin, tidak memuaskan. Salah satu penyumbang utama dalam kesuksesan akademik di lintas tingkat pendidikan adalah keterlibatan. Keterlibatan sangat menarik diteliti karena terbukti bahwa hal itu mudah dibentuk dan responsif terhadap perubahan praktik sekolah dan guru. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa keterlibatan guru berperan terhadap keterlibatan siswa. Penelitian lain juga menyatakan bahwa kompetensi budaya guru juga berperan terhadap keterlibatan siswa. Namun, belum ada penelitian yang menyatakan bahwa keterlibatan dan kompetensi budaya guru secara bersama-sama berperan terhadap keterlibatan siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat peran keterlibatan dan kompetensi budaya guru bahasa mandarin terhadap keterlibatan siswa pada Pelajaran Bahasa Mandarin kelas 5 SD X di Jakarta Barat. Penelitian ini melibatkan 97 siswa kelas 5 sekolah dasar. Uji asumsi sebagai persyaratan analisis regresi untuk membuktikan hipotesis dilakukan terlebih dahulu. Hasil uji regresi keterlibatan guru terhadap keterlibatan siswa adalah R2= .344 (p < .05) atau sebesar 34%. Hasil uji regresi kompetensi budaya guru terhadap keterlibatan siswa adalah R2= .139 (p > .05) atau tidak berperan. Hasil uji regresi berganda keterlibatan guru dan kompetensi budaya guru terhadap keterlibatan siswa adalah R2= .344 (p < .05) atau sebesar 34%. The phenomenon happening among 5th grade students of X elementary school is that the academic results of students, especially in Mandarin Language, are not satisfactory. One of the main contributors to academic success across educational levels is involvement. Involvement is a very interesting study because it is proven to be easily formed and is responsive to changes in school and teacher practices. Previous research shows that teacher involvement plays a role in student involvement. Other research also states that the teacher's cultural competence also plays a role in student involvement. However, there is no research stating that the involvement and cultural competence of teachers together contribute to student involvement. The purpose of this study is to examine the role of the involvement and cultural competence of mandarin language teachers in student involvement in 5th grade Mandarin Language Lesson at X elementary school in West Jakarta. This research involved 97 5th grade elementary school students. Assumption test as a requirement of regression analysis to prove the hypothesis was conducted before anything else. The result of regression test, the role of teacher involvement toward student involvement was R2 = .344 (p <.05) or 34%. The result of the regression test, the role of teacher cultural competence toward student involvement was R2 = .139 (p> .05) or no role. The result of the multiple regression test, the role of teacher involvement and teacher cultural competence toward student involvement was R2 = .344 (p <. 05) or 34%.
Cover JMISHS vol 3 no 2 DPPM UNTAR
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover JMISHS vol 3 no 2
PENERAPAN GROUP ANGER MANAGEMENT DAN PROBLEM SOLVING TRAINING DALAM MENURUNKAN AGRESI PADA REMAJA DI LPKA Gracia Ivonika; Roslina Verauli
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.3870.2020

Abstract

Aggression is a behavior that includes intention to hurt others both physically and psychologically. Some risk factors that play an important role in aggression are lack of anger control and problem solving. Anger management training and problem solving training can improve the ability to manage and express anger in a socially competent behavior, and solve problems with the right considerations without involving aggressive behavior. Problem solving skills are important for adolescents. This study aims to determine whether the application of group anger management and problem solving training can reduce aggressive behavior among male adolescents in LPKA. The five study participants had records of aggressive behavior from young age to adolescence and often resolved problems through aggressive behavior. The anger management and problem solving training group lasted for 8 sessions. This study uses mixed method one group pre-test post-test design. Evaluations were conducted using Draw-A-Person Test, BAUM, and Aggressive Behavior Scale before and after the intervention. The results of this study indicate that the five participants showed a decrease in aggressive behavior scores. Changes between pre-test and post-test of Draw-A-Person Test and BAUM can be seen from changes in drawing of person made by participants based on the size, location of the drawing, shape, lines, and attributes of the drawing. Perilaku agresi adalah suatu kategori perilaku yang ditunjukkan dengan niat untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun secara psikologis. Beberapa faktor risiko yang memainkan peran penting dalam perilaku agresi adalah kurangnya kemampuan pengendalian kemarahan dan pemecahan masalah. Pelatihan anger management dan problem solving training dapat meningkatkan kemampuan mengelola dan mengekspresikan kemarahan dalam bentuk perilaku yang kompeten secara sosial, serta memecahkan masalah dengan pertimbangan yang tepat tanpa melibatkan perilaku agresi. Kemampuan pemecahan masalah juga merupakan komponen dalam keterampilan hidup yang penting bagi remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seperti apakah penerapan group anger management dan problem solving training dapat menurunkan perilaku agresi pada remaja pria di LPKA. Kelima partisipan penelitian ini memiliki latar belakang perilaku agresi sejak usia sekolah hingga remaja dan seringkali menyelesaikan masalah dengan melibatkan perilaku agresi. Group anger management dan problem solving training yang dijalankan oleh partisipan berlangsung selama 8 sesi. Penelitian ini menggunakan mixed method one group pre-test post-test design. Evaluasi dilakukan menggunakan Draw-A-Person Test, BAUM, dan Skala Perilaku Agresi sebelum dan sesudah intervensi dilaksanakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelima partisipan mengalami penurunan skor perilaku agresi. Perubahan dalam evaluasi pre-test dan post-test Draw-A-Person Test dan BAUM dapat dilihat dari perubahan gambar orang yang dibuat oleh partisipan berdasarkan aspek ukuran, letak gambar, bentuk, coretan garis, dan atribut pada gambar.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue