cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 713 Documents
Paradigm Shift of Beauty In Landscape Design: Strategies Towards 'Big Foot’ Aesthetic Pramanti, Lucia Indah
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.353

Abstract

Human perception about beauty always mirrors civilization, and is embodied in their built environment. In other words, what people sees as beautiful plays a crucial role towards how nature/landscape is developed. This paper intentions are to rethink on contemporary aesthetic value in landscape design, to evaluate current aesthetic paradigm, and to find landscape design strategies that can promote sustainable goals.  Using qualitative method, this paper first shows historical review on how landscape form through many centuries in both western and eastern civilization. Later, it examines on how contemporary landscapes are built. In the discussion, it is found that -using Chinese foot binding tradition as a metaphor– our contemporary landscape is designed to be unusable, unhealthy, unproductive ‘small feet’. Landscape is designed with beautification – merely for visual properties, not for human activity, destructing the natural properties of landscape, and too difficult to maintain. Human should be able to interact with the nature in landscape in order to create a behavioral changes towards the nature. As a conclusion, we need to shift our paradigm of beauty towards healthy ‘big foot’ aesthetic to be a direction on how to achieve the sustainable beauty. This ‘big foot’ aesthetic can be relevant not only in landscape design, but also in other fields related to the built environment. Keywords: landscape design, sustainability, green design, aesthetic value
Kata Pengantar Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2 No 2 DPPM UNTAR
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i2.4088

Abstract

Kata Pengantar Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2 No 2
MUSIC THERAPY PRACTICE TO REDUCE ANGER FOR ELDERLY IN A GOVERNMENT NURSING HOME Monica Unsri; Monty P. Satiadarma; Untung Subroto
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.943

Abstract

This research is aimed to the practice of music group therapy to reduce anger for elderly in a government nursing home. Anger can be defined as a psychobiological emotional state or condition that consists of feelings that vary in intensity from mild irritation or annoyance to intense fury and rage, accompanied by activation and of neuroendocrine processes and arousal of the autonomic nervous system. While music therapy is the clinical and evidence-based use of music interventions to accomplish individualized goals within a therapeutic relationship. The research use pre-test post-test one group design. Beside using the interview method, pre-test and post-test also been involved to measure the anger intensity of the participants against anger before and after the intervention. There are three participants. The result showed that music group therapy could reduce the anger of the elderly living in government nursing home.
PENGUJIAN CONFIRMATORY FACTOR ANAYSIS ALAT UKUR UWESSS VERSI INDONESIA Yudhistira, Santi Yudhistira; Tiatri, Sri; Mularsih, Heni
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.970

Abstract

Penelitian ini merupakan pengujian confirmatory factor analysis alat ukur academic engagement yaitu Utrecht Work Engagement Scale Student Survey (UWES-SS) 17 ke dalam versi Indonesia. Academic engagement merupakan sikap positif dan fulfilling dalam pekerjaan yang kaitan dengan pikiran mahasiswa yang dikarakteristikan oleh vigor, dedication, dan absorption. Data diambil pada 164 orang mahasiswa Fakultas Psikologi disalah satu universitas negeri di Tangerang Selatan dengan sampel acak. Academic engagement merupakan materi pengembangan dari work engagement yang telah diadaptasi ke dalam berbagai bahasa dari berbagai negara dan diukur dengan grup sample yang berbeda pula. Proses adaptasi dan pengembangan alat ukur UWES-SS 17 terdiri dari tahapan: 1) translation, 2) back translation, 3) adaptasi bahasa sesuai dengan kesesuaian bahasa Indonesia yang baik dan benar, 4) face validity, 5) content validity, 6) pengumpulan data, 7) pengolahan data berupa Uji Model CFA dengan menggunakan software M-Plus 7, dan 8) melakukan analisis data. Berdasarkan uji CFA model I (first order) didapatkan hasil vigor (P.value 0.2728, CFI 0.993, TLI 0.985, RMSEA 0.039), dedication (P.value 0.7781, CFI 1.000, TLI 1.014 RMSEA 0.000), absorption (P.value 0.9216, CFI 1.000, TLI 1.057, RMSEA 0.000) dan hasil uji model 2 (second order) terhadap alat ukur UWES-SS 17. Kedua model dan ketiga dimensi dikatakan fit dan bekerja sesuai dengan teori academic engagement. maka didapatkan hasil P.value 0.0737, CFI 0.982, TLI 0.977, RMSEA 0.035. Berdasarkan hasil uji CFA tersebut dapat disimpulkan bahwa dari 17 butir pernyataan yang diajukan kepada partisipan, maka 16 butir dinyatakan signifikan, dan satu butir yang tidak signifikan. Dengan demikian, UWES-SS merupakan alat ukur yang representatif dan efisien untuk mengukur academic engagement pada kalangan mahasiswa.
PENERAPAN GROUP ART THERAPY DALAM MENURUNKAN AGRESI REAKTIF PADA ANAK-ANAK PRASEJAHTERA Witjaksono, Agnes Melati Amelia Listyarini; Tirta, Stella
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1564

Abstract

Perilaku agresif adalah suatu kategori perilaku yang dapat mengancam orang lain secara fisik maupun secara verbal. Art therapy merupakan intervensi yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku agresif. Art therapy dapat menurunkan perilaku agresif karena art therapy merupakan sarana yang dapat dijalankan oleh anak untuk mengekspresikan kemarahannya secara aman. Anak juga dapat belajar bagaimana mengatur dan mengendalikan perasaan marahnya, sehingga tidak ditujukkan dalam bentuk perilaku agresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seperti apakah penerapan group art therapy dengan tema anger management dalam menurunkan perilaku agresif pada anak-anak prasejahtera. Terdapat lima partisipan yang mengikuti intervensi ini. Pemeriksaan mengenai perilaku agresif setiap partisipan dilakukan melalui proses wawancara dan observasi. Jenis agresi yang ditunjukkan oleh para partisipan adalah agresi reaktif, yaitu perilaku agresif yang merupakan respons untuk melindungi diri dari suatu provokasi atau kesulitan tertentu yang disertai dengan perasaan marah. Group art therapy yang dijalankan oleh partisipan berlangsung selama 8 sesi. Evaluasi dilakukan menggunakan post-test dan pre-test Draw-A-Person Test dan Skala Perilaku Agresif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelima partisipan mengalami penurunan skor perilaku agresif, meskipun tetap berada pada kategori perilaku agresif sedang, namun ada satu partisipan yang skornya menurun hingga masuk ke dalam kategori perilaku agresif yang rendah. Perubahan dalam tes grafis yang terjadi dapat dilihat dari perubahan gambar orang yang dibuat oleh para peserta berdasarkan ukuran, letak, bentuk, arah, dan coretan garis yang dilakukan oleh para peserta.
PERBEDAAN REGULASI DIRI BELAJAR PADA SISWA SEKOLAH DASAR KELAS VI DITINJAU DARI JENIS KELAMIN Ruminta Ruminta; Sri Tiatri; Heni Mularsih
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.1463

Abstract

Keberhasilan seorang dalam menjalani proses pendidikannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain selfregulation (regulasi diri belajar). Regulasi diri belajar adalah kemampuan untuk memunculkan dan memonitor sendiri baik pikiran, perasaan, dan perilaku untuk mencapai tujuan belajar. Regulasi diri belajar penting agar siswa memiliki kemandirian dalam belajar. Terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai regulasi diri belajar ditinjau dari jenis kelamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih lanjut, apakah terdapat perbedaan regulasi diri belajar pada siswa Sekolah Dasar kelas VI ditinjau dari jenis kelamin. Subyek penelitian adalah 188 siswa kelas VI pada salah satu sekolah swasta di Bekasi. Siswa laki-laki berjumlah 94 dan 91 siswa perempuan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Pengumpulan data menggunakan kuesioner regulasi diri belajar yang telah diadaptasi sebelumnya dari teks aslinya, yaitu Motivated Strategies for Learning Questionnaire, yang dikembangkan oleh Pintrich dan De Groot (1990). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal regulasi diri belajar antara siswa laki-laki dan perempuan (p=0,072, >0,05). Pada empat dimensi yang diukur terdapat tingkat regulasi diri belajar yang sama antara siswa laki-laki dan perempuan. Hanya pada dimensi kecemasan terdapat perbedaan (p=0,003, < 0,05).
PELATIHAN EMPATI DAN PERILAKU PROSOSIAL PADA ANAK USIA 6-12 TAHUN DI RPTRA ANGGREK BINTARO Arniansyah Arniansyah; Nurin Nadhilla; Ratih Eminiar Permatasari; Thalia Milani; Yuzi Wira Ayu Putri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.2064

Abstract

Empati merupakan kemampuan seseorang untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Sedangkan Perilaku prososial merupakan suatu tindakan yang menguntungkan orang lain tetapi tidak memberikan keuntungan yang nyata bagi yang melakukan tindakan tersebut. Hasil penelitian sebelumnya mengatakan bahwa anak-anak di Indonesia masih memiliki empati yang rendah. Begitu pula dengan perilaku prososial. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pelatihan empati dan perilaku prososial dirasa penting untuk diberikan kepada anak-anak. Pelatihan empati dan perilaku prososial ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman akan pentingnya empati dan perilaku prososial pada anak-anak. Pelatihan ini diadakan di kawasan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Villa Anggrek. Pelatihan empati dan perilaku prososial yang dilakukan menggunakan beberapa metode, yaitu metode ceramah, diskusi, question-answer panel, role playing, story telling, games, dan video. Hasil dari pelatihan empati menunjukkan bahwa anak-anak telah mengetahui dan memahami mengenai pentingnya tiga aspek empati yaitu, bersikap hangat, peduli, dan kasihan terhadap teman-temannya. Namun pada aspek kelembutan, hasil pelatihan tidak menunjukkan bahwa anak sudah mengerti mengenai pentingnya bersikap lembut terhadap temantemannya. Hasil dari pelatihan perilaku prososial menunjukkan bahwa anak-anak telah mengetahui dan memahami mengenai pentingnya lima aspek perilaku prososial,yaitu berbagi, bekerja sama, menolong, jujur, dan berderma.
Redaksi Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1 No 2 UNTAR, DPPM
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Redaksi Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan SeniVolume 1 No 2Oktober 2017
PENERAPAN FORWARD CHAINING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MANDI SECARA MANDIRI PADA REMAJA DENGAN MILD INTELLECTUAL DISABILITY Mustikawati, Adisa; Kurnianingrum, Woro
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1623

Abstract

Hambatan dalam fungsi adaptif merupakan salah satu karakteristik individu dengan intellectual disability. Hal yang termasuk ke dalam fungsi adaptif, yaitu kemampuan bina diri atau perawatan diri. Individu dengan mild intellectual disability merupakan individu yang mampu didik, yaitu mampu untuk mempelajari keterampilan hidup sehari-hari. Salah satu kemampuan adaptif yang dapat ditingkatkan pada individu dengan mild intellectual disability adalah mandi secara mandiri. Kemampuan mandi secara mandiri merupakan salah satu kemampuan yang perlu dikuasai karena berkaitan dengan kebersihan diri sendiri dan kesehatan kulit. Dengan menggunakan teknik forward chaining, satu orang remaja dengan mild intellectual disability mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuannya dalam mandi secara mandiri, terutama dalam mempertahankan kemampuan yang sudah dikuasai dan melatih kemampuan yang sebelumnya belum ada atau ditunjukkan. Pemberian prompting dan social reinforcers juga digunakan dalam penelitian ini. Prompt yang diberikan meliputi instruksi atau arahan. Intervensi dilakukan selama 9 sesi. Hasil dari penelitian ini adalah telah terbentuk perilaku mandi sebagai bagian dari kemampuan bina diri pada remaja dengan mild intellectual disability. Peneliti menyimpulkan bahwa program modifikasi perilaku dengan menggunakan teknik forward chaining disertai dengan pemberian prompt dan social reinforcers menampilkan efektivitas jangka panjang, di mana perilaku mandi secara mandiri dengan langkah-langkah yang tepat dapat dipertahankan oleh subyek apabila terus dilakukan penguatan dengan berulang dan jangka waktu yang panjang atau sesi lebih banyak.
Kecerdasan Emosi sebagai Prediktor Kecenderungan Delinkuensi pada Remaja Garvin Garvin
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.344

Abstract

Delinkuensi remaja merupakan perilaku remaja yang melanggar peraturan maupun norma yang berlaku. Delinkuensi tidak hanya bersifat merugikan diri sendiri, namun juga bisa merugikan orang lain atau keduanya. Ada dua faktor yang memengaruhi delinkuensi remaja, yakni faktor lingkungan dan faktor dari dalam diri remaja itu sendiri. Proses tumbuh kembang fisik maupun psikologis yang terjadi secara drastis pada remaja membuat remaja seringkali mengalami emosi-emosi negatif. Bila emosi-emosi negatif tersebut tidak disadari, hal ini membuat remaja lebih mudah terlibat dalam tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Kemampuan seseorang dalam menyadari emosi diri sendiri maupun orang lain serta mengelola emosi diri sendiri disebut sebagai kecerdasan emosi. Individu dengan kecerdasan emosi yang tinggi akan lebih mampu dalam mengelola emosi negatif serta mengekspresikannya dengan cara yang tidak merugikan pihak lain. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis bahwa kecerdasan emosi dapat memprediksi kecenderungan delinkuensi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental, dengan partisipan penelitian berjumlah 149 orang yang merupakan siswa sekolah X dan berada pada rentang usia remaja. Variabel bebas dalam penelitian ini merupakan kecerdasan emosi, sedangkan variabel terikat dalam penelitian adalah kecenderungan delinkuensi. Hasil uji regresi menunjukkan skor signifikansi p = 0,000 < 0,05 yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosi dapat memprediksi kecenderungan delinkuensi pada remaja secara signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meningkatnya kecerdasan emosi memprediksi penurunan kecenderungan delinkuensi, dan sebaliknya. Kata kunci: kecerdasan emosi, delinkuensi, remaja

Page 7 of 72 | Total Record : 713


Filter by Year

2017 2025