cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmstkik@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
ISSN : 25796402     EISSN : 25796410     DOI : -
Jurnal ini memuat artikel ilmiah dalam bidang Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Setiap artikel yang dimuat telah melalui proses review. Jurnal Muara diterbitkan dalam rangka mendukung upaya pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah di tingkat Nasional. Jurnal Muara ini juga dapat menjadi wadah publikasi bagi para mahasiswa (S1, S2 maupun S3) dan dosen di lingkungan perguruan tinggi. Jurnal ini dikelola oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - Universitas Tarumanagara (DPPM - UNTAR).
Arjuna Subject : -
Articles 373 Documents
KAJIAN KEKUATAN BALOK KERATON DENGAN ANALISIS METODE ELEMEN HINGGA Leman, Sunarjo; Itang, Fanniwati; Wijaya, Jemy
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.3357

Abstract

Penelitian numerik sebelumnya mengenai segmen Bata Keraton telah diperoleh kekuatan pikul segmen Bata Keraton adalah lebih kurang 1 ton/m2. Pada penelitian lain uji laboratorium dengan merangkai segmen Bata Keraton menjadi Balok Keraton diperoleh kekuatan pikul untuk bentang 2.0 meter berkisar antara 105-200 Kg dan bentang 3.0 meter berkisar antara 60-170 Kg. Penelitian menggunakan cara uji laboratorium membutuhkan material uji, struktur yang diuji dengan ukuran sebenarnya, sumber daya manusia untuk merakit dari bentuk segmen Bata Keraton tersebut menjadi bentuk Balok Keraton dengan besi tulangan serta membuat adukan spesi untuk merangkai Balok Keraton. Alternatif lain untuk mengetahui kapasitas pikul pada Balok Keraton adalah dengan melakukan analisa numerik menggunakan metode elemen hingga menggunakan perangkat lunak Autodesk Inventor Professional 2017. Pemodelan Balok Keraton untuk analisis numerik dibuat sama dengan kondisi Balok Keraton pada saat diuji di laboratorium dengan bentang 2 meter dan 3 meter. Pola pembebanan pada analisis numerik  dilakukan sama seperti pada uji laboratorium. Tujuan analisis numerik dengan metode elemen hingga ini adalah untuk mengetahui kapasitas pikul Balok Keraton dan membandingkan hasilnya dengan uji laboratorium. Hasil analisis pada penelitian ini diperoleh kapasitas pikul untuk Balok Keraton dengan bentang 2 meter menggunakan tulangan 8 mm dan 10 mm berkisar 80-110 Kg untuk 1 beban di tengah bentang dan untuk 2 beban berkisar 55-80 Kg/ perbeban, sedangkan untuk bentang 3 meter menggunakan tulangan 8 mm dan 10 mm diperoleh untuk 1 beban berkisar 65-85 Kg dan 2 beban berkisar 45-65 Kg/ perbeban. Hasil analisis numerik memberikan hasil kapasitas pikul beban lebih kecil 51-81 % dari pengujian di laboratorium. Previous numerical research on the Keraton Brick segment has obtained the strength of the Keraton Brick segment bearing weight is approximately 1 ton / m2. In another study the laboratory test by stringing the Bata Keraton segment into the Keraton Beam obtained the strength of the pikul for a span of 2.0 meters ranging from 105-200 kg and span of 3.0 meters ranging from 60-170 kg. Research using laboratory testing methods requires test materials, structures that are tested with actual size, human resources to assemble from the shape of the Keraton Bata segment into a Keraton Beam with reinforcing iron and make a specific mixture to assemble the Keraton Beams. Another alternative to determine the bearing capacity of the Keraton Beams is by conducting numerical analysis using the finite element method using Autodesk Inventor Professional 2017. The Keraton Beam Modeling for numerical analysis is made the same as the condition of the Keraton Beams when tested in a laboratory with a span of 2 meters and 3 meters . The pattern of loading in numerical analysis is done the same as in laboratory tests. The purpose of numerical analysis with finite element method is to determine the bearing capacity of the Keraton Beams and compare the results with laboratory tests. The results of the analysis in this study obtained bearing capacity for the KeratonBeams with a span of 2 meters using reinforcement 8 mm and 10 mm ranging from 80-110 kg for 1 load in the middle span and for 2 loads ranging from 55 to 80 kg / load, while for a span of 3 meters using 8 mm and 10 mm reinforcement obtained for 1 load ranging from 65 to 85 kg and 2 loads ranging from 45 to 65 kg / load. The results of numerical analysis give the result of a smaller load bearing capacity of 51-81% than in laboratory testing.
PENGARUH UKURAN BUTIRAN MAKSIMUM TERHADAP KUAT TEKAN REACTIVE POWDER CONCRETE Sutandi, Arianti; Kushartomo, Widodo
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.5193

Abstract

Kuat tekan beton merupakan faktor yang paling dominan untuk menentukan kualitas beton dibandingkan faktor lainnya. Kuat tekan beton atau mutu beton dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah perbandingan semen terhadap air (fa/s), kualitas material, perbandingan komposisi material dan sebagainya. Gradasi butiran agregat  juga merupakan salah satu faktor yang berperan penting untuk menentukan mutu beton. Agregat dengan ukuran butiran yang lebih halus dan bervariasi dapat memperkecil volume pori yang terbentuk, sehingga susunan butiran yang baik akan menghasilkan kepadatan tinggi dan porositas minimum. Pada penelitian ini dipelajarai pengaruh ukuran butiran maksimum agregat halus terhadap  kuat tekan reactive powder concrete. Benda uji dibuat dalam bentuk silinder dengan diameter 100,0 mm dan tinggi 200,0 mm. Ukuran diameter maksimum agergat halus dibuat dalam tiga jenis yaitu 300 µm. 425 µm, dan 600 µm. Seluruh benda uji dirawat dengan teknik perendaman selama 3 hari, dilanjutkan dengan steam curing pada temperature 90 oC – 95 oC selama 4 jam. Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 7 hari. Hasil pengujian menunjukkan terjadinya peningkatan kuat tekan recative powder concrete dengan bertambah kecilnya ukuran butiran maksimum agregat halus. The compressive strength of concrete is the most dominant factor to determine concrete quality compared to other factors. Concrete compressive strength and grade are influenced by several factors, including water cement ratio (fa/s), material quality, material composition, and others. Aggregate gradation is also one of the dominant factors that play an important role in determining the quality of concrete. Finer and varied aggregate size can reduce void volume, so that a good granular structure will produce high density and minimum porosity. In this research, the effect of maximum size of fine aggregate on the compressive strength of reactive powder concrete was studied. The specimens were made in cylindrical shapes with a diameter of 100.0 mm and a height of 200.0 mm. The maximum diameter size of fine agergate was varied in three types, 300 µm. 425 µm, and 600 µm. All specimens were treated with immersion technique for 3 days, followed by steam curing at 90 oC - 95 oC for 4 hours. Compressive strength testing was done at the age of 7 days. The test results showed that the increase of maximum fine aggregate size increase the compressive strength of reactive powder concrete.
Redaksi Volume 3, Nomor 1, April 2019 UNTAR, DPPM
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Redaksi Volume 3, Nomor 1, April 2019
PENGARUH KARAKTERISTIK DAN PERSEPSI INDIVIDU TENTANG PERINGATAN BAHAYA MEROKOK PADA BUNGKUS ROKOK TERHADAP PERUBAHAN SIKAP PEROKOK AKTIF DI LINGKUNGAN XXVII KELURAHAN PEKAN LABUHAN KECAMATAN MEDAN LABUHAN Hutabarat, Eva Nirwana Natalia; Rochadi, R. Kintoko; Aulia, Destanul
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.1539

Abstract

Prevalensi merokok pada orang Indonesia sangat tinggi, terutama pada pria; mereka terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Peraturan Pemerintah tentang Peringatan Kesehatan Bergambar (PHW) pada bungkus rokok berakhir untuk melindungi orang dan mengubah sikap mereka terhadap kebiasaan merokok dengan berhenti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh karakteristik individu dan persepsi tentang peringatan bahaya merokok pada bungkus rokok pada perubahan sikap perokok aktif. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan desain cross sectional dilakukan di Lingkungan XXVII, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Labuhan Medan. Populasi adalah 324 orang, dan 248 dari mereka digunakan sebagai sampel. Data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi square, dan analisis multivariat dengan analisis regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan, pengetahuan, dan persepsi tentang peringatan bahaya merokok di iklan memiliki pengaruh. tentang perubahan sikap perokok aktif (p <0,05) di Lingkungan XXVII, Kelurahan Pekan Labuhan, sedangkan usia, pekerjaan, dan kebiasaan merokok tidak (p> 0,05). variabel yang memiliki pengaruh paling dominan adalah variabel pendidikan. Perokok aktif yang memiliki pendidikan tinggi, pengetahuan yang baik, dan memiliki persepsi yang baik tentang peringatan akan bahaya merokok pada bungkus rokok dalam iklan memiliki peluang 57% untuk mengubah sikap mereka yang mengindikasikan bahwa sangat sulit untuk mengubah sikap perokok terhadap merokok karena sudah menjadi kebiasaan. Disarankan agar pemerintah, melalui Dinas Kesehatan, mengevaluasi iklan tentang peringatan bahaya merokok pada bungkus rokok karena banyak perokok tidak mengubah sikap mereka walaupun peringatan itu jelas terlihat dan dapat dimengerti. The prevalence of smoking in Indonesian people is very high, especially in males; they consist of children, adolescents, and adults. Government Regulation on Pictorial Health Warning (PHW) on cigarette packs is it ended to protect people and change their attitude toward smoking habit by quitting it. The purpose of this study was to analyze the influence of individual characteristics and perceptions about the warning of smoking hazard on cigarette packs on changing the attitude of active smokers. The research used analytic survey method with cross sectional design. It was conducted at Lingkungan XXVII, Kelurahan Pekan Labuhan, Medan Labuhan Subdistrict. The population was 324 people, and 248 of them were used as the samples. The data were analyzed by using univariate analysis, bivariate analysis with chi square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression analysis.The result of the research showed that education, knowledge, and perception on warning for the danger of smoking in advertisements had the influence on the change in active smokers’ attitude (p<0.05) at Lingkungan XXVII, Kelurahan Pekan Labuhan, while age, occupation, and smoking habit did not (p>0.05). the variable which had the most dominant influence was the variable of education. Active smokers who had high education, good knowledge, and had good perception on the warning for the danger of smoking on cigarette packs in the advertisements had the oppurtunity of 57% to change their attitude which indicated it was very difficult  to change smokers’ attitude toward smoking since it has become a habit.It is recommended that the government, through the Health Agency, evaluate advertisements about warning for the danger of smoking on cigarette packs since many smokers do not change their attitude although the warning is clearly visible and understandable.
STUDI PERBANDINGAN PERENCANAAN BANGUNAN BAJA SISTEM SPECIAL MOMENT FRAMES DAN SPECIAL PLATE SHEAR WALLS Sitorus, Deny Anarista; Dewobroto, Wiryanto
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.2565

Abstract

Indonesia merupakan wilayah rawan gempa, sehingga konstruksi bangunan memakai sistem penahan gaya seismik dianggap penting. Umumnya, struktur bangunan adalah beton bertulang, adapun baja penggunaan sistem special moment frames (SMF) lebih banyak dijumpai sebagai sistem penahan gaya seismik. Padahal menurut peraturan ASCE/SEI 7-10 terdapat pilihan sistem penahan gaya seismik untuk bangunan baja seperti special plate shear walls (SPSW), special truss moment frames (STMF) dan sistem khususnya lainnya. Studi ini akan memperlihatkan perbandingan perencanaan bangunan sistem SMF dan SPSW dalam mempelajari potensi penggunaan kedua sistem ini di Indonesia. Konfigurasi bentang antar kolom dipilih agar menghasilkan variasi desain bangunan sistem SMF sehingga menghasilkan struktur yang ekonomis. Dari hasil studi perbandingan perencanaan, diketahui jika konfigurasi struktur bangunan dengan panjang bentang antar kolom yang pendek, maka sistem SMF lebih ekonomis bila dibandingkan terhadap sistem SPSW. Akan tetapi, untuk panjang bentang antar kolom yang besar penggunaan sistem SPSW dapat menjadi alternatif. Indonesia is located in earthquake risk area, thus the construction of seismic resisting structures is important. In general, reinforcement concrete is used for the structural of buildings, while the use of steel material, special moment frames (SMF) is more commonly used as a seismic force-resistant frame system. According to the standard provision of ASCE/SEI 7-10, the seismic resisting systems for steel buildings are special plate shear walls (SPSW), special truss moment frames (STMF) and other specialized systems. This paper will present analytical models of SMF and SPSW, which is studied further to determine the potential use in Indonesia. To overcome this, parametric study is used to develop design variations with the SMF system cases on different column distance designed to find the most economical structure. The results of comparative design study shown that the SMF system is suitable to be applied for the columns distance with short span and verified to be more economical. However, for long span of columns distance the use of SPSW system can be an alternative.
KARAKTERISTIK MARSHALL LAPISAN AUS ASPAL BETON MENGGUNAKAN AGREGAT TERSELIMUT LIMBAH PLASTIK LDPE (LOW DENSITY POLYETHYLENE) Setyarini, Ni Luh Putu Shinta Eka; Tajudin, Anissa Noor; Pratama, Joseph
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.1697

Abstract

Jalan merupakan infrastruktur penting untuk pergerakan manusia, barang  dan meningkatkan perekonomian nasional, namun sebagian besar jalan berperkerasan lentur mengalami kerusakan akibat kualitas dari materialnya yaitu aspal dan agregat. Aspal adalah bahan yang tidak terbarukan sehingga akan habis akibat dari penggunaan secara terus menerus. Sehingga diperlukan bahan alternatif sebagai pengganti aspal untuk melapisi agregat yang berfungsi untuk mengurangi erosi. Salah satu bahan alternatif yang bisa digunakan untuk menutupi permukaan agregat adalah limbah plastik Low Density Polyethylene (LDPE). Limbah plastik LDPE  yang digunakan sebanyak 1% - 6% dari berat keseluruhan agregat di dalam campuran. Limbah plastik LDPE dibuat dalam bentuk potongan kecil plastik dengan ukuran  benda uji dibuat  berdiameter 4 " dan tinggi 2,7" dalam bentuk silinder. Pengujian Marshall dilakukan pada semua benda uji. Penambahan limbah plastik LDPE dapat meningkatkan stabilitas hingga 66,70% dan menurunkan kadar aspal hingga 2,5% dibandingkan campuran aspal beton tanpa campuran limbah plastik. Roads are important infrastructure for the movement of people, goods and improving the national economy, but most flexible pavement roads suffer damage due to the quality of their material, namely asphalt and aggregate. Asphalt is a non-renewable material that will run out as a result of continuous use. So we need an alternative material as a substitute for asphalt to coat the aggregate which serves to reduce erosion. One alternative material that can be used to cover aggregate surfaces is Low Density Polyethylene (LDPE) plastic waste. The LDPE plastic waste used is 1% - 6% of the total weight of the aggregate in the mixture. LDPE plastic waste is made in the form of small pieces of plastic with the size of the test specimen made in diameter 4 "and height 2.7" in cylindrical form. Marshall testing is carried out on all test specimens. The addition of LDPE plastic waste can increase stability up to 66.70% and reduce asphalt content up to 2.5% compared to concrete asphalt mixture without plastic waste mixture.
POLA - POLA PEMANFAATAN TROTOAR OLEH PEDAGANG KAKI LIMA DI JALAN MANGGA BESAR – JAKARTA Kurniawan, Freddy
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.2842

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola-pola pedagang kaki lima di Jalan Mangga Besar. Jalan Mangga Besar yang identik dengan hiburan malam dan wisata kulinernya membuat pedagang kaki lima betah untuk berdagang di lokasi tersebut. Pedagang kaki lima tersebut memiliki pola-pola dalam berdagang. Terdapat pedagang yang berdagang secara menetap dan juga setengah menetap. Secara legalitas, terdapat pedagang kaki lima yang non binaan dan juga binaan. Keberadaan pedagang kaki lima binaan ini diatur waktu dan lokasi berdagangnya oleh pemerintah. Pedagang kaki lima non binaan biasanya hanya ijin atau sewa secara tidak sah kepada juru parkir sekitar. Peneliti langsung datang ke lapangan untuk melihat situasi lapangan dan melakukan sesi wawancara kepada beberapa pedagang kaki lima di Jalan Mangga Besar dan pihak kelurahan setempat. Pedagang kaki lima non binaan ini memanfaatkan trotoar dan bahu jalan untuk lokasi berdagang mereka, dan juga menimbulkan kemacetan. Sehingga dibutuhkan desain penempatan pedagang kaki lima non binaan. Sehingga keberadaan pedagang kaki lima non binaan di Jalan Mangga Besar tidak mengganggu akses pejalan kaki yang ingin menggunakan trotoar. This study aims to determine the patterns of street vendors on Jalan Mangga Besar. Jalan Mangga Besar, which is synonymous with nightlife and culinary tourism, makes street vendors feel comfortable to trade at this location. These street vendors have patterns in trading. There are traders who trade permanently and also half settled. Legally, there are non-fostered and non-assisted street vendors. The existence of these fostered street vendors is regulated by the government at the time and location of trading. Non-trained street vendors are usually only licensed or illegally rented to the parking attendants around. Researchers immediately came to the field to see the field situation and conducted interview sessions with several street vendors on Jalan Mangga Besar and the local kelurahans. These non-assisted street vendors utilize sidewalks and shoulders for their trading locations, and also cause congestion. So it takes the design of placement of non-fostered street vendors. So that the presence of non-fostered street vendors on Jalan Mangga Besar does not interfere with access of pedestrians who want to use the sidewalk.
Daftar Isi Volume 3, Nomor 1, April 2019 UNTAR, DPPM
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daftar Isi Volume 3, Nomor 1, April 2019
ELECTRONIC PROPERTIES MODELLING UNTUK BOTOL AIR MINUM KEMASAN Calvinus, Yohanes
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.1690

Abstract

Air minum kemasan telah menjadi kebutuhan untuk manusia. Banyak orang beranggapan bahwa air minum dalam kemasan menjadi sebuah jaminan kualitas kesehatan. Padahal tidak sedikit beberapa orang beranggapan juga berdasarkan ukuran Standar Nasional Indonesia dan BPOM yang tercantum pada kemasannya membuat orang meragukan kualitas dan kesehatannya. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari media online cnn Indonesia pada hari kamis tanggal 27 Juli 2017, ada 3 syarat yang menjadikan standard air minum berkualitas. 3 syarat tersebut adalah syarat fisik, syarat mikrobiologi, dan syarat kimia. Belum ada termasuk dalam standard air minum kemasan tersebut memiliki syarat secara elektronis. Untuk membangun suatu standard air minum kemasan dengan syarat elektronis maka dibutuhkan suatu pemodelan dalam bentuk rangkaian elektronik yang menggambarkan suatu nilai pengganti yang mewakili ketiga standard air minum yang berkualitas. Melakukan pemodelan dalam bentuk rangkaian listrik terdiri dari ketiga komponen elektronika yaitu resistansi, induktansi dan kapasitansi. Bentuk rangkaian model yang dikemukakan yaitu rangkaian RC yang dihubungkan seri dan L yang terhubung seri meskipun keluaran dari rangkaian ada pada sifat induktansi nya. Diharapkan dari pemodelan ini dapat menjadi suatu nilai ukuran atau standard nilai baru dalam menentukan kadar air minum yang lebih berkualitas. Dari nilai standard ukur elektronis ini tentunya akan sangat membantu menciptakan alat ukur elektronik yang lebih baik agar alat ukur ini dapat dipergunakan menjadi standard air minum berkualitas yang bisa dimiliki setiap manusia yang ingin meminum air minum kemasan. Bottled water has become a human need. Many people think bottled drinking water is a guarantee of health quality. Meanwhile, some people think that they are also drafting Indonesian national standards and BPOM that approves packaging makes people doubt their quality and health. Based on information obtained from online media in Indonesia on Thursday 27 July 2017, there are 3 conditions that make quality drinking water standards. These 3 requirements are physical requirements, microbiological requirements, and chemical requirements. Not yet in the standard of bottled water that has electronic requirements. To make standard drinking water with electronic requirements, we need a modeling in the form of plastic in accordance with an assessment that represents quality drinking water. Modeling in the form of an electrical circuit consists of three electronic components, namely resistance, inductance and capacitance. The form of the series of models proposed is that the RC circuit releases the series and the L connected series removed from the circuit is in its inductance. It is expected that this modeling can become a new standard or standard value in determining higher quality drinking water content. From the value of this electronic measuring standard will greatly help create a better electronic measuring device so that this measuring instrument can be used to be a standard of drinking water quality that can be provided by every human who wants to drink bottled water.
EVALUASI PENGUJIAN VIBRASI STRUKTUR (STUDI KASUS : DERMAGA DONGGALA) Tedy, Devlin; Dewobroto, Wiryanto
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.2730

Abstract

Setiap struktur memiliki perilaku dinamik berupa frekuensi alami yang dapat dicari dengan uji vibrasi di lapangan secara empiris dan analisis numerik. Frekuensi alami terdiri dari massa, kekakuan, dan arah (mode shape). Parameter-parameter tersebut menghasilkan banyak variasi model struktur. Model yang paling tepat dengan kondisi lapangan dapat dicari dengan bantuan hasil uji vibrasi yang berfungsi sebagai kalibrator. Dalam mencari frekuensi alami melalui uji vibrasi sangat tergantung pada teknologi seperti tipe sensor dan cara penempatannya yang digunakan untuk merekam getaran yang diberikan. Tipe sensor terdiri dari berbagai macam seperti uniaxial, biaxial, dan triaxial. Pada kasus uji vibrasi struktur dermaga Donggala menggunakan 6 buah sensor accelerometer uniaxial. Sensor dipasang dalam 3 tempat berbeda masing-masing tempat dalam arah lateral dan vertikal. Hasil pengujian dari pihak surveyor didalam mengevaluasi hasilnya hanya rata-rata tanpa memperhitungkan pengaruh arah. Hal ini yang akan dievaluasi pada penelitian ini. Evaluasi yang akan dilakukan adalah membandingkan hasil pengujian vibrasi dengan analisis numerik. Dari berbagai model analisis numerik dapat diketahui bahwa meskipun nilai frekuensi alaminya bervariasi tetapi masih didalam batas nilai tertentu. Dengan melihat apakah arah penempatan sensor dan arah tumbukan kapal, maka dapat diprediksi perilaku dinamik dermaga apakah translasi atau rotasi yang terjadi. Dengan demikian evaluasi yang digunakan oleh surveyor dengan melakukan rata-rata  tanpa melihat arah adalah tidak tepat. Oleh sebab itu akan dilakukan evaluasi ulang mempelajari arah pemberian gaya, arah pemasangan dan penempatan sensor accelerometer serta perlu melakukan pengelompokan hasil pengujian vibrasi berdasarkan arah sensor. Setelah mempelajari model numerik dari dermaga dapat diketahui bahwa model numerik yang bertranslasi mempunyai kesesuaian dengan data tumbukan pada salah satu titik sensor yang dipasang. Pemodelan numerik yang mendekati nilai ini adalah sesuai dengan data perencanaan sebelumnya. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa pemahaman pengujian vibrasi perlu dilakukan pengelompokan sesuai arah penempatan sensor dan tidak dapat dilakukan rata-rata. Each structure has dynamic behavior in the form of natural frequencies that can be searched by vibration testing in the field empirically and numerical analysis. Natural frequency consists of mass, stiffness, and direction (shape mode). These parameters produce many variations of the structural model. The most appropriate model with field conditions can be sought with the help of vibration test results that function as a calibrator. In searching for natural frequencies through vibration testing it is very dependent on technology such as the type of sensor and the way it is used to record the vibrations given. Sensor types consist of various types such as uniaxial, biaxial, and triaxial. In the case of vibration test the Donggala pier structure uses 6 uniaxial accelerometer sensors. Sensors are installed in 3 different places each in lateral and vertical directions. Test results from the surveyor in evaluating the results are only average without taking into account the influence of direction. This will be evaluated in this study. The evaluation will be done is to compare the results of vibration testing with numerical analysis. From various numerical analysis models, it can be seen that although the natural frequency values vary, they are still within certain limits. By looking at the direction of the placement of the sensor and the direction of the collision of the ship, it can be predicted the dynamic behavior of the pier whether translation or rotation is happening. Thus the evaluation used by the surveyors by averaging without looking at directions is incorrect. Therefore a re-evaluation will be conducted to study the direction of the force, the direction of the placement and placement of the accelerometer sensor and the need to group the results of vibration testing based on the sensor direction. After studying the numerical model from the dock, it can be seen that the numerical model that translates has conformity to the collision data at one of the installed sensor points. Numerical modeling which is close to this value is in accordance with previous planning data. From this research it can be seen that the understanding of vibration testing needs to be grouped according to the direction of the sensor placement and cannot be carried out on average.