cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ijocs@unissula.ac.id
Editorial Address
Gang Mlati 8 Ds. Mlaten Mijen Demak 59583
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Community Services
ISSN : -     EISSN : 26848619     DOI : 10.30659/ijocs
Core Subject : Humanities, Social,
Indonesian Journal of Community Services (e-ISSN: 2684-8619) is a biannual scientific multidisciplinary journal published by UNISSULA Press, Department of Research and Community Services Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Indonesia. It is in the national level that covers a lot of common problems or issues related to community services. The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the area of community services.
Articles 175 Documents
Pengadaan Brosur Dwibahasa bagi Obyek Wisata Desa Menari, Ngrawan, Getasan Kabupaten Semarang Idha Nurhamidah; Hartono Hartono; Sugeng Purwanto
Indonesian Journal of Community Services Vol 2, No 1 (2020): May 2020
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.2.1.27-37

Abstract

AbstrakTujuan PKM ini yaitu pengadaan Brosur Dwibahasa Obyek Wisata Desa Menari, yang terletak di Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah dalam rangka peningkatan layanan wisata pada tingkat international. Hal tersebut dilakukan mengingat semakin meningkatnya animo pengujung obyek wisata tersebut baik dalam maupun manca negara. Metode yang digunakan dalam PKM ini adalah menggali informasi sebanyak-banyanknya melalui wawancara mendalam dengan Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Ki Tanu Wijaya, yaitu Bapak Trisno, yang akrab dipanggil Kang Tris. Wawancara meliputi informasi terkait dengan paket-paket yang tersedia dan bisa dinikmati oleh wisatawan baik domestic maupun manca negara. Hasil wawanara dikemas menjadi Brosur Dwibahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Brosur tersebut telah dicetak edisi mewah dan sudah dapat dipakai sebagai sarana penyebaran informasi oleh bagian marketing Obyek Wisata Desa Menari, Getasan Kabupaten Semarang untuk para calon wisatawan.  Kata kunci: brosur dwibahasa; desa menari; layanan wisata,  Abstract This community service on issuing Bilingual Brochure on “Desa Menari” Tourist Destination, located at Ngrawan Village, Getasan District, Semarang Regency, Central Java aims at promoting tourism services at international level. This was done in response to the increasing numbers of  both domestic and foreign visitors. The method employed was to explore as much as possible any information through in-depth interview with the Chair of Ki Tanu Wijaya Pokdarwis (Tourism Awareness Club), namely Mr. Trisno, best-known as Kang Tris. The interview focused on any information related to tourism packages available for enjoyment by both domestic and foreign visitors. The results of the interview were then presented in a bilingual brochure of Indonesian and English languages. The brochure has been printed and is ready for marketing use to attract potential visitors to enjoy Desa Menari Ngrawan Village, Getasan District, Semarang Regency.   Keywords: bilingual brochure; desa menari; tourism services
Pelatihan penulisan karya tulis ilmiah bagi guru-guru SD di desa Geneng kabupaten Jepara Oktarina Puspita Wardani; Turahmat Turahmat; Evi Chamalah; Aida Azizah; Leli Nisfi Setiana; Meilan Arsanti; Hevy Riski Maharani; M. Abdul Basir; Dyana Wijayanti
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 1 (2019): May 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.1.116-125

Abstract

AbstrakPendidikan dasar merupakan sekolah yang memiliki peran yang strategis dan fundamental bagi pembangunan bangsa. Sehingga penyelenggaraan pendidikan di sekolah dasar harus diarahkan dan menunjang secara optimal demi mencapai tuuan pendidikan nasional. Peraturan baru yang mengharuskan syarat pernah melakukan Penelitian Tindakan Kelas bagi guru sebagai syarat naik golongan menjadi sebuah kendala yang cukup berat. Hal tersebut dikarenakan guru SD tidak terbiasa menulis atau melakukan Penelitian Tindakan Kelas. Guru harus membuat dalam memenuhi kewajibannya jika ingin naik golongan dan pangkat khususnya dari IV a ke IV b atau dari pangkat Pembina ke Pembina tingkat 1 ke atas. Tujuan dari kegiatan ini ialah menjadikan guru mampu membuat karya tulis ilmiah antara lain PTK agar mampu dimanfaatkan untuk pengembangan profesi. Permasalahan yang dihadapi oleh guru ialah bagaimana mengoptimalkan pembuatan penelitian tindakan kelas guru-guru SD di desa Geneng. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan menggunakan pendekatan workshop. Kegiatan menggunakan metode ceramah, diskusi dan latihan. Hasil dari kegiatan ini mencapai target. Capaian tersebut ialah guru mampu menghasilkan penelitian tindakan kelas yang baik. Pelaksanaan pengabdian masyarakat diikuti oleh 25 guru. Ketercapaian target pelaksanaan pengabdian masyarakat diikuti oleh 25 guru dari target 30 guru. Sehingga, ketercapaian peserta 83% atau dapat dinilai baik. Simpulan dalam kegiatan ini ialah ketercapaian target materi yang telah direncanakan pada kegiatan pengabdian ini dapat dinilai baik. Kata kunci: PTK; guru SD; karya tulis ilmiah. AbstractBasic education is a school that has a strategic and fundamental role for nation building. Related to the implementation of education in elementary schools must be aimed at optimally supporting and achieving national education. The new regulation which requires the requirement to carry out Classroom Action Research for teachers as a condition for boarding a class is a considerable obstacle. This is because elementary school teachers are not used to writing or conducting Classroom Action Research. The teacher must make it in fulfilling his obligations if he wants to rise in class and rank especially from IV a to IV b or from the rank of coach to coach level 1 and above. The purpose of this activity is to make teachers able to make scientific papers including PTK so that they can be utilized for professional development. The problem faced by the teacher is how to optimize the making of classroom action research for elementary school teachers in Geneng Village. Service activities are carried out using a Workshop approach. The activity uses lecture, discussion and practice methods. The results of this activity reach the target. The achievement is that the teacher is able to produce good classroom action research. The implementation of community service was followed by 25 teachers. The achievement of the target of implementing community service was followed by 25 teachers from the target of 30 teachers. So, the participants' achievement is 83% or can be considered good. The conclusions in this activity are the achievement of material targets planned for this service activity can be considered good. Keywords: PTK; elementary school teacher; scientific writing
Pembentukan Kader Kesehatan Jiwa Sekolah dan Pelatihan Penanganan Masalah Psikososial di SD N Krapyak Semarang (Establishment of School Health Care and Training of Psychosial Problem Services in SDN Krapyak Semarang) Mariyati Mariyati; Khusnul Aini; Nana Rohana
Indonesian Journal of Community Services Vol 2, No 1 (2020): May 2020
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.2.1.46-54

Abstract

AbstrakMasalah psikososial pada anak di sekolah mengalami peningkatan. Salah satunya adalah Sekolah Dasar Negeri (SD N) Krapyak Kota Semarang. Penyebab munculnya masalah psikososial di sekolah tersebut diantaranya kecanduan teknologi seperti gadget, kekerasan seperti bullying, tantangan pembelajaran, dan gangguan perilaku (membolos, mencontek dan tidak disiplin). Sesuai permasalahan yang dihadapi SD N Krapyak Kota Semarang maka pentingnya pembentukan kader kesehatan jiwa di sekolah. Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) pembentukan kader kesehatan jiwa bertujuan untuk mendeteksi masalah psikososial siswa secara dini, mengatasi masalah psikososial yang terjadi pada siswa, dan merujuk masalah psikososial siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Kegiatan dalam program PKM bekerjasama dengan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kegiatan dalam Program PKM ini antara lain: 1) membentuk kader kesehatan jiwa di Sekolah, 2) menjelaskan masalah- masalah psikososial yang sering terjadi pada siswa, 3) mengajarkan cara mengatasi masalah psikososial yang terjadi pada siswa, dan 4) melatih cara merujuk siswa yang memiliki masalah psikososial yang kompleks 5) monitoring dan evaluasi program. Hasil dalam kegiatan- kegiatan tersebut adalah terdapat 15 siswa dan 10 guru sebagai kader kesehatan jiwa di sekolah, hasil deteksi dini didapatkan beberapa masalah psikososial di sekolah yaitu kecemasan, gangguan citra tubuh, harga diri rendah situasional, keputusasaan, dan koping tidak efektif. Selanjutnya, kader kesehatan sekolah melakukan penanganan dengan pendampingan. Kegiatan monitoring dan evaluasi juga dilakukan untuk memastikan kader kesehatan jiwa di sekolah berjalan dengan baik.  Kata Kunci: kesehatan jiwa; psikososial; sekolah  AbstractPsychosocial problems in children at school have increased. One of them is Krapyak State Elementary School (SD N) Semarang City. The causes of the emergence of psychosocial problems in the school include technological addictions such as gadgets, violence such as bullying, learning challenges, and behavioral disorders (ditching, cheating and undisciplined). The Community Service Program (PKM) for forming mental health cadres aims to detect students 'psychosocial problems early, overcome psychosocial problems that occur in students, and refer to students' psychosocial problems that require further treatment. Activities in the PKM program in collaboration with the School Health Efforts (UKS). Activities in the PKM Program include: 1) forming mental health cadres in schools, 2) explaining psychosocial problems that often occur to students, 3) teaching how to overcome psychosocial problems that occur in students, and 4) training how to refer students who have complex psychosocial problems 5) program monitoring and evaluation. The results of these activities are that there are 15 students and 10 teachers as mental health cadres in schools, the results of early detection found several psychosocial problems in schools namely anxiety, body image disturbances, low situational self-esteem, hopelessness, and ineffective coping. Furthermore, school health cadres handle with assistance. Monitoring and evaluation activities are also carried out to ensure mental health cadres in schools run well. Keywords: mental health; psychosocial; school
Pelatihan Penyusunan Soal-Soal Berbasis HOTS dan Aplikasinya dalam Pembelajaran Daring di Sekolah Dasar Andarini Permata Cahyaningtyas; Yunita Sari; Sari Yustiana; Jupriyanto Jupriyanto
Indonesian Journal of Community Services Vol 2, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.2.2.162-171

Abstract

Mitra dalam pengabdian masyarakat ini adalah SD Negeri Bangetayu Wetan 01, Genuk, Kota Semarang. Permasalahan yang dialami SD mitra adalah bahwa guru-guru kelas di SD Negeri Bangetayu Wetan 01 masih mengalami kesulitan dalam menyusun soal-soal berbasis HOTS dan bagaimana mengaplikasikannya dalam penilaian daring selama pandemi ini. Target luaran dalam PKM ini adalah bahwa: (1) terselenggaranya pelatihan penyusunan soal-soal berbasis HOTS dan aplikasinya dalam pembelajaran daring bagi guru SDN Bangetayu Wetan 01 Semarang; (2) mengembangkan kemampuan guru-guru di SDN Bangetayu Wetan 01 dalam menyusun soal-soal berbasis HOTS; dan (3) mengembangkan kemampuan guru-guru di SD Bangetayu Wetan 01 dalam membuat kuis daring sebagai sarana penilaian hasil belajar kognitif siswa. Metode yang digunakan dalam PKM ini adalah dengan metode ceramah, tanya jawab, dan praktik. Kemudian, setelah selesai mempraktikkan, guru dievaluasi apakah penilaian daring yang telah dibuat dapat berfungsi secara optimal. Hasil menunjukkan bahwa semua guru telah mampu menyusun soal-soal berbasis HOTS dan mengaplikasikannya dalam kuis daring menggunakan Quizizz.The partner in this community service is SDN Bangetayu Wetan 01, Genuk, Semarang. The problems are that the teachers still experience difficulties to arrange HOTS-based questions and how they should implement it by using online assignment in this pandemic season. The output of this community service are: (1) the implementation of HOTS-based question arrangement training for teachers of SDN Bangetayu Wetan 01 ; (2) teachers of SDN Bangetayu Wetan 01 can compile HOTS-based questions; and (3) teachers of SDN Bangetayu Wetan 01 can create an online assessment to get result from student work. The methods used in this activity were lecturing, question and answer, and practice method. After practicing, the online assessment created by the teacher was evaluated whether it can be used optimally or not. The result showed that all teachers have been able to compile HOTS-based question and applied it in an online assessment by using Quizziz.
Meningkatkan kemampuan menyusun soal IPA berorientasi HOTS bagi guru Sekolah Dasar Gugus Pandanaran Dabin IV UPTD Semarang Tengah Yunita Sari; Andarini Permata Cahyaningtyas; Mega Mulianing Maharani; Sari Yustiana; Rida Fironika Kusumadewi
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.2.175-183

Abstract

AbstrakKemampuan berpikir tingkat tinggi mengajarkan siswa untuk mampu mengaplikasikan kemampuan yang mereka miliki dalam menghadapi permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Higher Order Thinking Skills (HOTS) merupakan suatu kemampuan yang erat kaitannya dengan penalaran yang bukan hanya sekedar mengingat kembali, ataupun menyatakan kembali, kemampuan ini menitik beratkan pada kemampuan untuk menganalisis, membuat keputusan yang tepat dan memecahkan suatu masalah. Berdasarkan observasi yang dilakukan ditemukan permasalahan guru belum terlatih mengembangkan soal-soal yang berorientasi HOTS pada muatan IPA, guru masih kesulitan memahai soal soal berdasarkan kategori tingkatan kognitif siswa sesuai dengan taksonomi bloom terbaru. Untuk mengembangkan kemampuan guru dalam menyususn soal-soal berbasis HOTS maka diperlukan pelatihan yang dapat mengaktifkan guru dalam membuat soal-soal yang berorientasi HOTS. Pelaksanaan pengabdian masyarakat, dalam bentuk kegiatan pelatihan, diskusi,praktik dan monitoring serta evalusi. Pelaksanaan pengabdian dilakukan dengan mitra kelompok guru gugus Pandanaran Dabin IV UPTD Semarang Tengah yang bertempat di SDN Pekunden jalan Pandanaran 1 No.28 Pekunden Peserta terdiri dari guru-guru se-gugus Pandanaran sejumlah 50 peserta. Tingkat antusiasme dalam mengikuti kegiatan pengabdian sangatlah tinggi. Adapun materi yang diberikan saat pelatihan meliputi Pengertian HOTS, Karakteristik HOTS, Penyusunan soal-soal muatan IPA berbasis HOTS dan praktik membuat soal-soal berbasis HOTS. Kegiatan pengabdian berlangsung selama 2 bulan pada bulan Juli sampai Agustus 2019 dimulai dari observasi ke lokasi pengabdian, identifikasi masalah sampai dengan pelatihan. Dari kegiatan pengabdian yang sudah dilaksanakan ada harapan dari pihak mitra untuk menindaklanjuti kegiatan ini dengan kegiatan pelatihan penyusunan soal yang tidak hanya terfokus pada muatan IPA saja tetapi pada  muatan pelajaran yang lain.Kata kunci: Higher Order Thinking Skills; IPA; kelompok kerja guru AbstractHigher-order thinking skills teach students to be able to apply the abilities they have in dealing with problems that exist in everyday life. Higher Order Thinking Skills (HOTS) is an ability that is closely related to reasoning that is not merely recalling, or restating, this ability focuses on the ability to analyze, make the right decision and solve a problem. Based on observations made, it is found that teachers have not been trained in developing HOTS-oriented questions on science content, teachers are still having trouble understanding questions based on students' cognitive level according to the latest bloom taxonomy. To develop the teacher's ability to prepare HOTS-based questions, training is needed to enable the teacher to create HOTS-oriented questions. Implementation of community service, in the form of training, discussion, practice and monitoring and evaluation activities. Community service is carried out with teacher groups of Pandanaran Dabin IV UPTD Semarang Tengan group located at SDN Pekunden, Pandanaran 1 street No.28 Pekunden -Pandanaran group of 50 participants. The level of enthusiasm in participating in community service activities is very high. The material provided during the training included Understanding HOTS, HOTS Characteristics, Compilation of HOTS-based science content questions and the practice of making HOTS-based questions. Community service activities last for 2 months in July to August 2019 starting from observation to the location of service, problem identification to training. From the service activities that have been carried out there is an expectation from the partners to follow up on this activity with the training activities of the preparation of questions not only focused on the content of science but in the grasp of other lessons.Keywords: Higher Order Thinking Skills; natural sciences; teacher working groups
Pembelajaran Literasi Digital PAUD melalui Pelatihan Tutor Paud di Pos PAUD Dahlia Kelurahan Palebon Kecamatan Pedurungan Tarcisia Sri Suwarti; Siti Lestari; Muhammad Wahyu Widiyanto
Indonesian Journal of Community Services Vol 2, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.2.2.118-125

Abstract

Perkembangan teknologi mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia secara signifikan. Bentuk paling sederhana dari teknologi yang sering digunakan secara digital adalah emoticon. Anak-anak usia dini pada era sekarang telah mengenal teknologi modern yang mendukung mereka untuk mengenal dunia sekitar. Sebagai contoh adalah handphone yang memiliki fitur emoticon sebagai sarana komunikasi. Oleh karena itu, para tutor Pos PAUD Dahlia Semarang perlu dibekali pembelajaran literasi digital PAUD dengan media Box Bas yang mengandung unsur emoticon untuk mengimbangi pengetahuan siswanya, sehingga meningkatkan pengetahuan pemanfaatan literasi digital bagi pembelajaran PAUD.The development of technology supports education in Indonesia significantly. The simplest form of technologies which is often used digitally is emoticon. Early young learners are recently very familiar with technology in order to know the world surround. For example, handphone which has emoticon features to show expressions. Therefore, tutors of Pos PAUD Dahlia Semarang need to be equipped with digital literacy learning through Box Bas media that contains emoticons to correspond with their students knowledge. This activity can upgrade the tutors’ knowledge in teaching early young learner students by using digital literacy learning.
Penerapan PHBS dengan peningkatan pengetahuan dan sikap melalui pendekatan keluarga di Desa Gaji Kabupaten Demak Siti Thomas Zulaikhah; Ratnawati Ratnawati; Joko Wahyu Wibowo; Muhammad Ulil Fuad; Elly Noerhidayati; Erwin Budi Cahyono; Muhammad Saugi Abduh; Lusito Lusito
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.2.126-133

Abstract

AbstrakDerajat kesehatan merupakan salah satu unsur penting dalam upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bangsa Indonesia. Sementara itu, derajat kesehatan tidak hanya ditentukan oleh pelayanan kesehatan, tetapi yang lebih dominan justru adalah kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat. Upaya untuk meningkatkan perilaku masyarakat agar mendukung peningkatan derajat kesehatan dilakukan melalui program pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan upaya untuk memberdayakan anggota keluarga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan PHBS serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. Kesadaran masyarakat akan kesehatan dan pola hidup bersih sehat, khususnya masyarakat desa masih sangat rendah.  Peningkatan pengetahuan dan sikap terkait Perilaku Hidup bersih sehat  diharapkan dapat menjadi upaya menyadarkan masyarakat akan pentingnya melakukan upaya perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari sekaligus memberikan gambaran bagaimana cara merealisasikannya sehingga bisa terwujud masyarakat yang peduli terhadap kesehatan.Target yang ingin dicapai adalah terwujudnya peningkatan pengetahuan dan sikap terhadap PHBS sehingga masyarakat  mempunyai kemampuan  mempraktekkan pola hidup bersih dan sehat secara mandiri. Metode yang digunakan adalah dengan memberikan penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, praktek cuci tangan yang benar dan talkshow. Peserta adalah  masyarakat di desa Gaji yang diwakili oleh ibu/istri dari setiap KK yang merupakan Pasangan Usia Subur (PUS),  berjumlah 60 orang yang diambil secara cluster random sampling. Peserta diberikan pretes pada awal kegiatan dan postes pada akhir kegiatan sebagai evaluasi terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Hasil kegiatan terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap  tentang PHBS, terlihat skor sesudah kegiatan lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya (perbedaan rerata skor pengetahun sebelum dan sesudah kegiatan 24,16; sedang perbedaan rerata skor sikap sebelum dan sesudah kegiatan 23, 9. Peserta juga mampu mempraktekkan cuci tangan  dengan 6 langkah secara benar. Kata kunci: PHBS; pengetahuan; sikap; keluargaAbstractHealth degree is one of the important elements in efforts to increase the Indonesian Human Development Index (HDI). Meanwhile, the degree of health is not only determined by health services, but what is more dominant is the environmental conditions and people's behavior. Efforts to improve community behavior to support the improvement of health status are carried out through the Clean and Healthy Behavior (PHBS) development program. Clean and Healthy Behavior (PHBS) is an effort to empower family members to know, be willing and able to carry out PHBS and play an active role in the health movement in the community. Public awareness of health and a healthy clean lifestyle, especially rural communities, is still very low. Increased knowledge and attitudes related to healthy hygiene behavior is expected to be an effort to make the public aware of the importance of making clean and healthy life behavior efforts in daily life while providing an overview of how to realize it so that people who care about health can be realized. The target to be achieved is the realization increasing knowledge and attitudes towards PHBS so that the community has the ability to practice clean and healthy lifestyles independently. The method used is to provide counseling, health checks, proper hand washing practices and talk shows. Participants are people in the village of Salary, represented by mothers / wives of each KK who are Fertile Age Couples (PUS), totaling 60 people taken by cluster random sampling. Participants are given a pretest at the beginning of the activity and posttest at the end of the activity as an evaluation of the activities carried out. The results of the activity increased knowledge and attitudes about PHBS, seen after the activity score was higher compared to before (the difference in the average score of knowledge before and after the activity 24,16; while the difference in the average attitude score before and after the activity 23, 9. Participants were also able to practice washing hands with 6 steps correctly. Keywords: PHBS; knowledge; attitude; family
Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS) dan Tekanan Darah kepada Masyarakat Maria Karolina Selano; Veronica Ririn Marwaningsih; Niken Setyaningrum
Indonesian Journal of Community Services Vol 2, No 1 (2020): May 2020
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.2.1.38-45

Abstract

AbstrakDiabetes mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis yang paling banyak dialami oleh penduduk di dunia. Penyakit DM menempati urutan ke-4 penyebab kematian dinegara berkembang. Salah satu jenis penyakit DM yang paling banyak dialami oleh pendudukan di dunia adalah DM tipe 2 (85-95%), yaitu penyakit DM yang disebabkan oleh terganggunya sekresi insulin dan resistensi insulin. Peningkatan jumlah kasus DM tipe 2 tersebut berdampak pada peningkatan komplikasi yang dialami pasien DM tipe 2. Komplikasi tersering yang dialami pasien DM tipe 2 adalah neoropati perifer (10-60%) yang akan menyebabkan ulkus diabetic. Menurut American Diabetes Association (ADA) bahwa  salah satu faktor risiko terjadinya diabetes mellitus adalah faktor risiko yang dapat diubah meliputi obesitas berdasarkan IMT ≥25 kg/m2 atau lingkar perut ≥ 80 cm pada wanita dan ≥ 90 cm pada laki – laki, kurang aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemi dan diet tidak sehat. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah melakukan skrining awal penderita hipertensi dan penderita diabetes mellitus serta sebagai upaya peningkatan kesadaran masyarakat terkait deteksi dini penyakit hipertensi dan diabetes mellitus. Metode yang dilakukan dengan melakukan pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS) dan tekanan darah kepada masyarakat. Hasil evaluasi telah teridentifikasi 18 orang (13,84 %) memiliki gula darah sewaktu (GDS) > 180 mg/dl, sedangkan hasil pemeriksaan tekanan darah didapatkan 20 orang (15,38 %) memiliki tekanan darah > 120/80 MmHg. Kata kunci : Diabetes Mellitus; Hipertensi; Pemeriksaan GDS; Pemeriksaan Tekanan Darah AbstractDiabetes mellitus (DM) is one of the most common chronic diseases experienced by people in the world. DM disease ranks 4th place in the cause of death in developing countries. One of the most common types of DM disease experienced by occupation in the world is DM type 2 (85-95%), which is DM disease caused by disruption of insulin secretion and insulin resistance. The increase in the number of cases of type 2 DM has an impact on the increased complications experienced by patients with type 2 DM. The most common complication experienced by type 2 DM patients is peripheral neoropathy (10-60%) which will cause diabetic ulcers. According to the American Diabetes Association (ADA) that one of the risk factors for diabetes mellitus is a risk factor that can be changed include obesity based on BMI ≥25 kg/m2 or abdominal circumference ≥ 80 cm in women and ≥ 90 cm in men, lack of physical activity , hypertension, dyslipidemia and unhealthy diet. The purpose of this community service activity is to conduct initial screening of hypertension sufferers and people with diabetes mellitus and as an effort to increase public awareness related to early detection of hypertension and diabetes mellitus. The method is carried out by checking blood sugar (GDS) and blood pressure to the public. The evaluation results have identified 18 people (13.84%) have blood sugar when (GDS)> 180 mg / dl, while the results of blood pressure examination found 20 people (15.38%) have blood pressure> 120/80 MmHg. 
Sosialisasi DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) obat dengan benar pada guru dan karyawan SMA Theresiana I Semarang Anasthasia Pujiastuti; Monica Kristiani
Indonesian Journal of Community Services Vol 1, No 1 (2019): May 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.1.1.62-72

Abstract

AbstrakBerbagai masalah kesehatan, khususnya terkait obat masih ditemui di masyarakat. Berbagai permasalahan terkait obat dapat dikarenakan masyarakat kurang paham tentang penggunaan dan penanganan obat dengan benar. Salah satu cara pengelolaan obat yang baik dan benar adalah dengan menerapkan program DAGUSIBU (DApatkan, GUnakan, SImpan, BUang). Berdasarkan informasi yang diperoleh, guru dan karyawan SMA Theresiana I Semarang belum pernah mendapatkan informasi tentang DAGUSIBU sehingga perlu dilakukan sosialisasi tentang DAGUSIBU. Adanya kegiatan ini diharapkan para guru dan karyawan SMA Theresiana I Semarang dapat membagikan informasi tentang penggunaan dan penanganan obat yang benar kepada anggota keluarganya serta siswa siswi SMA Theresiana I Semarang. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pengenalan masalah, pelaksanaan sosialisasi DAGUSIBU dengan cara penyuluhan, diskusi interaktif, dan pambagian buku saku DAGUSIBU. Kegiatan sosialisasi tentang DAGUSIBU berjalan dengan lancar. Tingkat kehadiran peserta sebanyak 89,3%. Para peserta yang hadir sangat antusias dalam mendengarkan penjelasan dan aktif bertanya terkait penggunaan obat dan penanganannya. Hal ini dapat menunjang terwujudnya program pemerintah dalam peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Sosialisasi ini meningkatkan pemahaman peserta tentang pengelolaan obat dengan benar, diharapkan peserta dapat menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Kata Kunci: DAGUSIBU; obat; sosialisasi. AbstractSome parts of our society are having problems with handling drugs properly. One of the causes is not all people understand how to heal their sickness with many kinds of drugs. Various drugs-society related problems can be caused by people's lack of understanding about the use and handling of drugs correctly. One way to inform society how to manage drugs properly is to implement the DAGUSIBU (DApatkan, GUnakan, SImpan, BUang). Based on the information obtained, the teachers and employees of SMA Theresiana I Semarang have never received information about DAGUSIBU. That’s why it is necessary to socialize DAGUSIBU in their community. The purpose of this activity is to make them understand and share information about the correct way to receive, apply, install and waste the medicines among their family members and students. The method used in this dissemination is ellucidation by socializing problems of handling drugs improperly as introduction and then the implementation of DAGUSIBU by means of counseling, interactive discussions, and the distribution of DAGUSIBU pocket books. The dissemination about DAGUSIBU went smoothly. The attendance rate was 89.3%. The participants were very enthusiastic in listening to the explanation and actively asked about drugs-society related problems. This can support the realization of government programs in improving health services for the community. This socialization increases participants' understanding of drug management correctly, it is expected that participants can apply the knowledge gained in the family and community environment. Keywords: DAGUSIBU; drug; socialization.
Meneguhkan Nilai Keindonesiaan melalui Program Deradikalisasi Anak Usia Dini di Kampung Karanggading Kota Magelang Joko Tri Nugraha; Retno Dewi Pramodia Ahsani; Nike Mutiara Fauziah
Indonesian Journal of Community Services Vol 2, No 1 (2020): May 2020
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ijocs.2.1.80-91

Abstract

AbstrakKegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilatarbelakangi oleh keterlibatan kaum muda dan terlebih anak-anak dalam pusaran ideologi radikalisme. Anak muda yang menganut ideologi radikalisme merupakan isu yang harus dicermati di tengah bonus demografi yang tengah berlangsung di negeri ini tidak terkecuali pada salah satu daerah di Kota Magelang yaitu di Kampung Karanggading. Adapun tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk meneguhkan nilai keindonesiaan melalui kegiatan bermain sambil belajar dan kegiatan cinta lingkungan sebagai upaya meningkatkan rasa cinta tanah air, budaya,  keagamaan dan lingkungan. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini diantaranya dengan beberapa tahapan program dongeng nusantara bagi anak, program outbond, belajar dan bermain bagi anak dan program bersih lingkungan bagi anak. Hasil kegiatan pengabidan kepada masyarakat ini diantaranya kegiatan dongeng nusantara, outbond dan kerjabakti menumbuhkan budaya anti kekerasan dan radikalisme dan masyarakat Kampung Karanggading, khususnya anak-anak mendapatkan pemahaman nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kata kunci: nasionalisme; deradikalisai; anak usia dini.  Abstract This Community Service Activity is motivated by the involvement of young people and especially children in the impact of radical ideology. Young people who adhere to the ideology of radicalism are an issue that must be observed in the midst of the demographic bonus that is taking place in this country, not least in one area in the Magelang City, in Kampung Karanggading. The purpose of this community service is to strengthen the value of Indonesianism through play activities while learning and loving activities in an effort to increase the patriotism, culture, religion and environment. The methods used several stages of the Indonesian fairytale program for children, outbound programs, learning and playing for children and a clean environment program for children. The results of community service activities include the folklore activities of the archipelago, outbound and collaborative work fostering a culture of anti-violence and radicalism and the people of Kampung Karanggading, especially children get an understanding of the values of nationalism in their daily lives. Keywords: nationalism; deradicalization; early childhood.

Page 3 of 18 | Total Record : 175