cover
Contact Name
laelatus Syifa Sari Agustina
Contact Email
laelatussyifa.sa@staff.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
wacana@mail.uns.ac.id
Editorial Address
Gedung D Fakultas Kedokteran UNS Jl. Ir. Sutami no. 36A, Kota surakarta (solo), Jebres, Jawa Tengah, 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
WACANA
ISSN : 20850514     EISSN : 27161625     DOI : https://doi.org/10.13057/wacana.v12i1
Wacana adalah wadah pengembangan psikologi di indonesia khususnya dibidang indegenous yang memuat naskah-naskah ilmiah penelitian empiris. Psikologi dalam ranah indegenous mengkhususkan diri pada studi yang mengangkat seni, etnis, budaya, nilai-nilai kepercayaan, spiritualitas, agama dan kearifan lokal yang saling mempengaruhi proses sosial dan proses individual serta hubungan intra dan/atau inter kelompok dan lingkungan. Kajian dalam bidang-bidang psikologi lainnya dapat dimuat dalam Wacana sepanjang memiliki relevansi dengan psikologi khusunya bidang indegenous.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2017)" : 8 Documents clear
Hubungan antara Adversity Quotient dan Dukungan Keluarga dengan Kematangan Karir Remaja Yatim di SMA di Surakarta Naila Khusna; Nugraha Arif Karyanta; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.068 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.101

Abstract

Hubungan antara Adversity Quotient dan Dukungan Keluarga dengan Kematangan Karir Remaja Yatim di SMA di Surakarta The Relationship between Adversity Quotient and Family Support with Career Maturity on Fatherless Adolescent In Senior High School of Surakarta Naila Khusna, Nugraha Arif Karyanta, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret ABSTRAK Salah satu tugas perkembangan remaja adalah memilih dan mempersiapkan karir. Kematangan karir merupakan keberhasilan seseorang dalam mencapai tugas perkembangan karir sesuai tahapan perkembangannya. Dalam mencapai kematangan karir, remaja seringkali mengalami hambatan, seperti hambatan ekonomi dan kurangnya dukungan keluarga. Hambatan tersebut juga banyak dialami oleh remaja yatim. Adversity Quotient dan dukungan keluarga merupakan hal-hal yang diduga terkait dengan kematangan karir remaja yatim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) hubungan antara adversity quotient dan dukungan keluarga dengan kematangan karir remaja yatim (2) hubungan antara adversity quotient dengan kematangan karir remaja yatim (3) hubungan antara dukungan keluarga dengan kematangan karir remaja yatim. Populasi dalam penelitian ini remaja yatim di SMA di Surakarta yang terdiri dari 37 sekolah. Pemilihan tempat penelitian menggunakan cluster random samplig, sehingga dari 37 sekolah didapatkan 12 sekolah untuk tempat  penelitian (5 SMA Negeri dan 7 SMA swasta). Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dan diperoleh subjek sebanyak 98 dari 120 remaja yatim yang lolos kriteria tertentu.Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan tiga skala psikologis, yaitu skala kematangan karir (α=0,877, r=0,349), skala adversity quotient (α=0,910, r=0,349), dan skala dukungan keluarga (α=0,905, r=0,349). Hipotesis pertama diuji menggunakan analisis regresi ganda, dan untuk menguji hipotesis kedua serta ketiga menggunakan analisis korelasi parsial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara adversity quotient dan dukungan keluarga dengan kematangan karir remaja yatim di SMA di Surakarta. Nilai F-test=6,390; p<0,05, dan nilai R=0,344. Secara parsial, terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara adversity quotient dengan kematangan karir (rx1-y=0,219, p<0,05), dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kematangan karir (rx2-y=0,120, p>0,05). Nilai R2 dalam penelitian ini sebesar 0,119 atau 11,9%, terdiri atas sumbangan efektif adversity quotient terhadap kematangan karir pada remaja yatim sebesar 8,17% dan sumbangan efektif dukungan keluarga terhadap kematangan karir pada remaja yatim sebesar 3,69%.   Kata kunci: kematangan karir, adversity quotient, dukungan keluarga, remaja yatim.
Perbedaan Psychological Well Being pada Waria Pekerja Seks Komersial (PSK) dan Waria Bukan Pekerja Seks Komersial Ditinjau dari Harga Diri Andini Dwi Yudhanti; Rin Widya Agustin; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.178 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.106

Abstract

Perbedaan Psychological Well Being pada Waria Pekerja Seks Komersial (PSK) dan Waria Bukan Pekerja Seks Komersial Ditinjau dari Harga Diri     Psychological Well Being Comparison between Transsexual Prostitute and Transsexual Non Prostitute Based on Self Esteem     Andini Dwi Yudhanti, Rin Widya Agustin, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebelasMaret       ABSTRAK   Psychological well being merupakan kondisi psikologis dimana individu mampu menjalani peran-peran dalam kehidupannya berdasarkan pengalaman-pengalaman sehingga melahirkan sikap positif dalam hidupnya. Perbedaan perlakuan masyarakat terhadap status pekerjaan waria (waria PSK dan waria Non PSK) menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan penghargaan diri waria kemudian mengarahkan pada kondisi psychological well being yang berbeda pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan psychological well being pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) ditinjau dari harga diri, perbedaan psychological well being pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK), dan perbedaan harga diri pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK). Populasi dalam penelitian ini adalah waria (waria PSK dan waria Non PSK) yang terdapat pada komunitas waria lokal Kota Surabaya yang bernama PERWAKOS dengan rentang usia 18-40 tahun. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 60 orang yang terdiri dari 30 orang waria pekerja seks komersial (PSK) dan 30 orang waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psychological well being (r=0,883) dan skala harga diri (r=0,902). Hasil analisa data menggunakan uji two way anova menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada psychological well being waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) ditinjau dari harga diri (Fhitung = 19,291, p < 0,05). Analisis data selanjutnya menggunakan uji t. Hasil analisia data tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan psychological well being pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) (thitung =-0,597, p > 0,05); serta tidak terdapat perbedaan harga diri waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) (thitung = 0,521, p > 0,05).   Kata kunci:psychological well being, harga diri, waria
Hubungan antara Kecerdasan Emosi dan Dukungan Sosial Orangtua dengan Self-Regulated Learning Siswa Kelas XII di SMA Batik 1 Surakarta Astika Permata Sari; Machmuroch .; Selly Astriana
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.055 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.102

Abstract

Hubungan antara Kecerdasan Emosi dan Dukungan Sosial Orangtua dengan Self-Regulated Learning Siswa Kelas XII di SMA Batik 1 Surakarta   The Relationship Between Emotional Intelligence and Parental Social Support with Self-Regulated Learning the Students of XII Grade in SMA Batik 1 Surakarta     Astika Permata Sari, Machmuroch, Selly Astriana Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret ABSTRAK Self-regulated learning dapat diartikan sebagai suatu proses di dalam  kegiatan belajar yang membantu siswa untuk mengelola kemampuan yang ada di dalam diri, dalam mengatur waktu belajar, mencapai tujuan belajar dengan mengembangkan pikiran serta perilaku untuk mencapai kesuksesan dalam belajar. Variabel yang berpengaruh terhadap self-regulated learning antara lain adalah kecerdasan emosi dan dukungan sosial orangtua. Tujuan penelitian ini adalah; (1) Mengetahui hubungan antara kecerdasan emosidan dukungan sosial orangtua dengan self-regulated learning, (2) mengetahui hubungan antara kecerdasan emosidan self-regulated learning, dan (3) mengetahui hubungan antara dukungan sosial orangtua dan self-regulated learning siswa kelas XII di SMA Batik 1 Surakarta. Penelitian ini menggunakan teknik cluster random sampling dengan sampel sebanyak 100 siswa kelas XII program IPA dan IPS. Instrumen yang digunakan adalah skala self-regulated learning, skala kecerdasan emosi, dan skala dukungan sosial orangtua. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan nilai Fhitung sebesar 20,810 (p < 0,05) dan nilai R = 0,548. Nilai R2 yang diperoleh adalah 0,425 atau 42,5% dengan sumbangan efektif kecerdasan emosi sebesar 31,40 % dan sumbangan efektif dukungan sosial orangtuasebesar 11,19%. Secara parsial, terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan self-regulated learning (p < 0,05 ; rx1y = 0,515) dan terdapat hubungan signifikan pula antara dukungan sosialorangtuadengan self-regulated learning (p< 0,05; rx2y = 0,445). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosidan dukungan sosial orangtua dengan self-regulated learning siswa kelas XII di SMA Batik 1 Surakarta. Semakin tinggi kecerdasan emosi dan dukungan sosial orangtua yang dimiliki individu, maka self-regulated learning yang dimiliki akan semakin tinggi, begitu pula sebaliknya.   Kata kunci: Kecerdasan emosi, dukungan sosial orangtua, self-regulated learning, siswa SMA.
Perbedaan Kepercayaan Diri dan Ketahanan Stres antara Mahasiswa yang Aktif dengan Mahasiswa yang Tidak Aktif dalam Organisasi Internal Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Sheilla Fajrien; Hardjono .; Istar Yuliadi
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.081 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.103

Abstract

Perbedaan Kepercayaan Diri dan Ketahanan Stres antara Mahasiswa yang Aktif dengan Mahasiswa yang Tidak Aktif dalam Organisasi Internal Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret     The Differences of Self-Confidence and Stress Tolerance between Students Who Active andInactive in Internal Organization ofMedicalFacultyofSebelasMaret University     Sheilla Fajrien, Hardjono, Istar Yuliadi Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebalasMaret       ABSTRAK   Mahasiswa kedokteran membutuhkan kepercayaan diri dan ketahanan stres agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik, seperti untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan untuk menghadapi tekanan-tekanan yang ada.Berdasarkan aktifitasnya, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) terbagi menjadi dua kategori, yaitu mahasiswa yang aktif dan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi. Beberapa teori mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri dan ketahanan stres adalah keikutsertaan dalam organisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan kepercayaan diri dan ketahanan stres antara mahasiswa yang aktif dan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi internal FK UNS. Sampel pada penelitian ini terdiri dari 36 mahasiswa yang aktif dan 36 mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi internal FK UNS dari Program Studi Kedokteran, Psikologi, K3, dan Hiperkes FK UNS yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala kepercayaan diri (r = 0,271 – 0,630, α = 0,805), dan skala ketahanan stress (r = 0,270 – 0.658, α = 0,870). Data yang didapatkan diolah dengan Uji-t Sampel Independen untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara keduanya. Hasil perhitungan Uji-t Sampel Independenskor kepercayaan diri menunjukkan thitung = 2,183 dengan p = 0,032. Adapun hasil perhitungan Uji-t Sampel Independenskor ketahanan stres menunjukkan thitung = 3,890 dengan p = 0,000.  Kedua perhitungan tersebut menunjukkan p < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa, terdapat perbedaan yang signifikan kepercayaan diri dan ketahanan stres antara mahasiswa yang aktif dan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi.   Kata kunci:kepercayaan diri, ketahanan stres, mahasiswa yang aktif dalam organisasi, mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi
Hubungan antara Keadilan Distributif dan Keterlibatan Kerja dengan Kepuasan Kerja pada Pegawai Honorer Puskesmas di Kabupaten Sukoharjo Stya Wati Ningrum; Bagus Wicaksono; Aditya Nanda Priyatama
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.671 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.104

Abstract

Hubungan antara Keadilan Distributif dan Keterlibatan Kerja dengan Kepuasan Kerja pada Pegawai Honorer Puskesmas di Kabupaten Sukoharjo THE RELATIONSHIP BETWEEN DISTRIBUTIVE JUSTICE AND JOB INVOLVEMENT WITH JOB SATISFACTION ON TEMPORARY EMPLOYEE`S PUBLIC HEALTH CENTRE IN SUKOHARJO REGENCY   Oleh: Stya Wati Ningrum, Bagus Wicaksono, Aditya Nanda Priyatama Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret styawatiningrum@gmail.com   ABSTRAK Kepuasan kerja atau kepuasan karyawan merupakan salah satu variabel yang sering digunakan dalam perilaku organisasi. Kepuasan kerja merupakan respon sikap karyawan terhadap organisasinya mengenai kesejahteraan  karyawan di tempat kerja. Kepuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan terhadap organisasi dipengaruhi oleh keadilan distributif dan keterlibatan karyawan di tempat kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui hubungan antara keadilan distributif dan keterlibatan kerja dengan kepuasan kerja pada pegawai honorer puskesmas di kabupaten sukoharjo, (2) mengetahui hubungan antara keadilan distributif dengan kepuasan kerja, dan (3) mengetahui hubungan antara keterlibatan kerja dengan kepuasan kerja pada karyawan honorer puskesmas di kabupaten sukoharjo.   Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 60 karyawan yang berstatus sebagai honorer. Pengambilan sampel menggunakan studi populasi atau sensus dengan menggunakan keseluruhan  jumlah populasi. Penelitian ini menggunakan tiga skala psikologis, yaitu skala kepuasan kerja, skala keadilan distributif dan skala keterlibatan kerja. Hipotesis pertama diuji dengen menggunakan analisis regresi linier berganda, sedangkan hipotesis kedua dan ketiga diuji dengan menggunakan uji korelasi parsial.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara keadilan distributifdan keterlibatan kerja dengan kepuasan kerja pada karyawan honorer puskesmas di kabupaten sukoharjo. (Nilai Fhitung 28,464 > Ftabel 3,05; p < 0,05; R = 0,707). Secara parsial, penelitian ini juga menunjukkan ada hubungan yang positif dan signifikan antara keadilan distributif dengan kepuasan kerja (r = 0,429; p < 0,05). Terdapat pula hubungan yang positif dan signifikan antara keterlibatan kerja dengan kepuasan kerja (r = 0,437; p < 0,05). Nilai R2 dalam penelitian ini sebesar 0,5 atau 50% yang terdiri atas sumbangan efektif keadilan distributifterhadap kepuasan kerja sebesar 24,529% dan sumbangan efektif keterlibatan kerja terhadap kepuasan kerja sebesar 25,407%. Kata Kunci: kepuasan kerja, keadilan distributif, keteribatan kerja
Hubungan antara Kepemimpinan yang Melayani dan Internal Locus of Control dengan Komitmen Organisasi pada Guru di SMK Ganesha Tama Boyolali Dwi Puspa, Mita; Nanda Priyatama, Aditya; Arya Satwika, Pratista
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.97 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.100

Abstract

Hubungan antara Kepemimpinan yang Melayani dan Internal Locus of Control dengan Komitmen Organisasi pada Guru di SMK Ganesha Tama Boyolali The Correlation Between Servant Leadership and Internal Locus of Control with Organizational Commitment on Teachers at SMK Ganesha Tama Boyolali Mita Dwi Puspa, Aditya Nanda Priyatama, Pratista Arya Satwika Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret   ABSTRAK Guru memiliki peranan penting dalam proses belajar anak didiknya.  Dalam proses belajar tersebut dibutuhkan komitmen organisasi pada guru. Komitmen organisasi pada guru diduga terkait dengan kepemimpinan yang melayani dan internal locus of control. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui: (1) Hubungan antara kepemimpinan yang melayani dan internal locus of control dengan komitmen organisasi pada guru di SMK Ganesha Tama Boyolali; (2) Hubungan antara kepemimpinan yang melayani dengan komitmen organisasi pada guru di SMK Ganesha Tama Boyolali; (3) Hubungan antara internal locus of control dengan komitmen organisasi pada guru di SMK Ganesha Tama Boyolali. Penelitian ini menggunakan studi populasi yaitu guru swasta SMK Ganesha Tama Boyolali yaitu sebanyak 60 responden. Instrumen penelitian menggunakan skala komitmen organisasi dengan koefisien validitas 0,328 hingga 0,774 dan reliabilitas 0,859, skala kepemimpinan yang melayani koefisien validitas 0,458  hingga 0,791 dan reliabilitas 0,960, dan skala internal locus of control dengan koefisien validitas 0,273 hingga 0,679 dan reliabilitas 0,904. Teknik analisis data yangdigunakan untuk menguji hipotesis pertama adalah analisis regresi linear berganda dan untuk menguji hipotesis kedua dan ketiga adalah korelasi parsial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara kepemimpinan yang melayani dan internal locus of control dengan komitmen organisasi secara bersama-sama dengan kematangan karir yang ditunjukkan koefisien korelasi (R) regresi ganda sebesar 0,583, p<0,05 dan Fhitung 14,711 > Ftabel 3,15; ada hubungan positif antara kepemimpinan yang melayani dengan komitmen organisasi yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi parsial sebesar 0,487, p<0,05; serta tidak terdapat hubungan internal locus of control dengan komitmen organisasi dengan koefisien korelasi parsial sebesar 0,148, p>0,05. Nilai R2 sebesar 0,340 artinya dalam penelitian ini kepemimpinan yang melayani dan internal locus of control secara bersama-sama memberi sumbangan efektif sebesar 34% terhadap komitmen organisasi. Kata kunci : komitmen organisasi, kepemimpinan yang melayani, internal locus of control, guru
Penerapan Social Support untuk meningkatkan Kemandirian pada penderita Skizofrenia. Tri Setyanto, Arif; Hartini, Nurul; Nur Alfian, Ilham
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.67 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.114

Abstract

Penerapan Social Support untuk meningkatkan Kemandirian pada penderita Skizofrenia.   Social Support Intervention To Increase Self-Reliance of Patients With Schizophrenia   Arif Tri Setyanto, Nurul Hartini, Ilham Nur Alfian Program Magister Profesi Psikologi UniversitasAirlangga     ABSTRAK Skizofrenia adalah gangguan jiwa yang tergolong berat. Skizofrenia merupakan suatu gangguan psikotik terutama ditandai oleh adanya gangguan pikiran, emosi, dan perilaku antara lain kekacauan pikiran, dimana ide-idenya tidak memiliki hubungan yang logis. Kekacauan persepsi dan perhatian, aktifitas motorik yang ganjil,serta emosi yang dangkal dan tidak wajar. Gejala karakteristik skizofrenia meliputi tidak berfungsinya kemampuan kognitif emosional yang meliputi persepsi, pikiran yang cenderung menarik diri, bahasa dan komunikasi, perilaku yang termonitor oleh kesadaran, kelancaran bahasa, kapasitas hedonis, kemauan dan drive, serta perhatian. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa dalam proses penyembuhannya para penderita skizofrenia hampir tidak bisa lepas dengan terapi medikasi (obat-obatan). Sementara perlakuan terhadap penderita skizofrenia dalam dekade ini terlalu menitikberatkan pada medikasi antipsikotik yang seringkali kurang dapat menawarkan pemulihan sosial (Carson,2000 dalam Schwarzer dan Schulz,2002), sehingga pemberian terapi medis saja tidaklah cukup bagi penderita skizofrenia. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, maka diperlukan adanya suatu penanganan yang holistik untuk membantu penderitanya. Dalam kajian ini, intervensi ditujukan pada penderita skizofrenia dengan menggunakan suatu bentuk social support. Subyek dalam penelitian ini adalah laki-laki berusia 54 tahun, sudah berkeluarga, dan posisi sebagai kepala keluarga. Ia telah menjalani perawatan medis kurang lebih dua puluh tahun, adapun kondisinya saat ini sudah mengalami kemajuan setelah mendapatkan perawatan medis dibanding kondisi sebelumnya. Namun, masih ada permasalahan dalam kemandiriannya khususnya dalam Activity daily living (Adl). Intervensi dengan  bentuk social support bertujuan untuk meningkatkan kemandirian penderita. Pelaksanaan kegiatan intervensi social support dilaksanakan dalam tiga tahap kegiatan, yaitu: (1) Membangun rapport & kepercayaan antara peneliti, anak subyek dan subyek.(2) Melatih kemandirian subyek dengan memberikan tugas-tugasnya secara mandiri.(3) Meningkatkan rasa kemandirian subyek dalam bentuk pemberian social support, diantaranya berupa pemberian (informasi, nasehat, motivasi,dan sebagainya). Hampir keseluruhan serangkaian kegiatan program intervensi social support berjalan dengan cukup berhasil. Hal ini ditandai dengan subyek semakin termotivasi untuk melakukan aktifitasnya dibanding sebelum pelaksanaan intervensi. Subyek mengutarakan perasaannya ketika ia mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya ia merasa lebih dihargai serta diperhatikan dan kemudian muncul motivasi dalam mengerjakan tugas-tugasnya.   Kata Kunci: social support, kemandirian, skizofrenia
Kompetensi Emosi dan Kompetensi Sosial pada Anak Kembar Identik Laki-Laki dengan Gangguan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) Sebuah Studi Kasus Akwila Adwin Falenttino; Suci Murti Karini; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.322 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.105

Abstract

Kompetensi Emosi dan Kompetensi Sosial pada Anak Kembar Identik Laki-Laki dengan Gangguan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) Sebuah Studi Kasus   Emotional Competence and Social Competence in Identical Tiwn Boys with Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) A Case Study   Akwila Adwin Falenttino, Suci Murti Karini, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret   ABSTRAK Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah sebuah gangguan yang secara konsisten memperlihatkan beberapa dari sejumlah karakteristik selama periode waktu tertentu: gangguan pemusatan perhatian, hiperaktif dan impulsif. Pada akhir masa kanak-kanak, anak pada umumnya mengalami periode meningginya emosi, keadaan yang demikian membuat anak harus menyesuaikan diri, sehingga anak cenderung cepat marah dan sulit untuk dihadapi. Hal ini menjadi suatu permasalahan tersendiri bagi anak dengan gangguan ADHD, karena fase memuncaknya emosi ini akan diperparah dengan sikap anak yang impulsif yang disertai dengan hiperaktivitas. Aspek emosi tersebut tidak dapat terlepas dari aspek sosialnya, dimana perkembangan emosi anak akan berdampak langsung pada kehidupan sosialnya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai kompetensi emosi dan kompetensi sosial yang dimiliki oleh anak kembar identik dengan gangguan ADHD. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan desain studi kasusyang diharapkan dapat menggali fokus penelitian secara mendalam. Subjek dalam penelitian ini adalah sepasang anak kembar identik laki-laki yang keduanya mengalami gangguan ADHD. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan riwayat hidup. Hasil penelitian ini menggambarkan kompetensi emosi dan kompetensi sosial yang dimiliki oleh anak kembar identik dengan gangguan ADHD. Kondisi keluarga menjadi faktor utama yang berpengaruh terhadap kompetensi emosi dan sosial pada anak kembar identik dengan gangguan ADHD. Sikap yang diberikan oleh ibu subjek yang cenderung terlalu melindungi ketika berurusan dengan kehidupan sosial anak dan juga sikap yang cenderung membiarkan anak berperilaku sesuka mereka di dalam rumah, berakibat pada pembentukan sikap agresif pada anak kembar identik tersebut. Sikap agresif tersebut dimunculkan oleh kedua subjek ketika mereka berada dalam kondisi emosi marah atau sedih, dan kondisi ini memerlukan waktu yang cukup lama agar kembali ke keadaan yang stabil. Keadaan emosi yang demikian berdampak pada kompetensi sosial kedua subjek, terutama kompetensi yang berhubungan dengan interaksi subjek dengan kelompok tertentu. Kedua subjek masih belum dapat bekerja sama dalam sebuah kelompok tertentu dan cenderung belum dapat memahami isyarat sosial dari orang lain.   Kata kunci: anak kembar identik, ADHD, kompetensi emosi, kompetensi sosial

Page 1 of 1 | Total Record : 8