cover
Contact Name
Aziz Alfarisy
Contact Email
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 584 Documents
Kurang Pendengaran Pada Anak Sindrom Down: Hearing Loss in Down Syndrome Damayanti, Maya; Muyassaroh, Muyassaroh
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.09 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.780

Abstract

Latar belakang: Sindrom down merupakan kelainan kromosomal genetik yang disebut trisomi dimana terdapat tambahan kromosom pada kromosom 21. Pertumbuhan anak dengan sindrom down cenderung mengalami perlambatan diberbagai sektor, salah satunya adalah gangguan pendengaran ( 65 - 75%) . Tujuan penulisan laporan kasus ini untuk mengetahui kurang pendengaran pada anak dengan sindrom down serta tatalaksana yang seharusnya diberikan. Laporan kasus: Dilaporkan anak usia 11 bulan dengan sindrom down disertai kecurigaan kurang dengar. Hasil pemeriksaan brain evoked response auditory (BERA) didapatkan gangguan pendengaran sensory neural hearing loss (SNHL) derajat sangat berat pada telinga kanan dan derajat ringan pada telinga kiri. Pasien disarankan menggunakan alat bantu dengar, terapi wicara dan evaluasi perkembangan bahasa dan bicara tiap 6 bulan oleh TS tumbuh kembang anak. Pembahasan: Kurang pendengaran menyebabkan berbagai gangguan pada aspek mental emosional, perkembangan bahasa maupun perkembangan sosial bermasyarakat. Intervensi awal dengan fisioterapi, terapi wicara dan terapi okupasi. Rehabilitasi pendengaran dengan alat bantu dengar (ABD), Bone Anchored hearing Aid (BAHA), dan implant koklea. Kurang dengar pada kasus ini dilakukan habilitasi dengan ABD, terapi wicara dan evaluasi perkembangan bahasa dan bicara. Kesimpulan : Habilitasi pendengaran pada kasus ini dengan penggunaan ABD, terapi wicara dan evaluasi perkembangan bahasa dan bicara.
Satu Kasus Diagnostik Disfagia pada Bayi dengan Pemeriksaan FEES (Flexible Endoscopy Evaluation of Swallowing: A case of dysphagia diagnostic in baby with FEES (Flexible endoscopy evaluation of swallowing) Dewi, Nila Santia; Budiarti, Rery; Muyassaroh, Muyassaroh
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.855 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.781

Abstract

Latar belakang : Disfagia adalah gangguan proses menelan yang dapat mengganggu keselamatan dan kecukupan nutrisi. Disfagia pada bayi terjadi 85% pada anak-anak penyandang cacat dan 5% anak-anak perkembangan biasa. Tujuan penulisan laporan kasus ini untuk mengetahui sejak dini penyebab disfagia pada bayi sehingga dapat dilakukan tatalaksana segera agar tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan bayi. Laporan kasus : Dilaporkan satu kasus anak laki-laki usia 2 bulan dengan disfagia fase orofaringeal e.c curiga komplikasi iatrogenik dan perilaku. Hasil pemeriksaan Fiberoptic Endoscopic Evaluation of Swallow (FEES) didapatkan kesan kelemahan otot daerah sinus piriformis sisi kiri. Pembahasan : Disfagia pada bayi dapat merugikan dan berpengaruh terhadap asupan nutrisi makanan sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Penyebab disfagia pada bayi yaitu prematur, kelainan neurologi, masalah maternal & perinatal, abnormalitas kongenital, gangguan pernafasan & jantung, gangguang saluran cerna, dan komplikasi iatrogenik. Diagnosis disfagia pada bayi ditegakkan dengan evaluasi klinis, instrumental alat dengan pemeriksaan Videofluoroscopic Swallowing Study (VFSS) sebagai standar emas dan Fiberoptic Endoscopic Evaluation of Swallow (FEES) sebagai alternatif. Simpulan : Disfagia pada kasus ini termasuk disfagia fase orofaringeal dicurigai terjadi karena komplikasi iatrogenik (pemakain NGT) dengan FEES sebagai pemeriksaan penunjang.
Seorang Anak 17 tahun dengan Hipokalemia Periodik Paralisis : A 17-years-old child with hypocalemic periodic paralysis Anantyo, Dimas Tri; Muki Putra, Renanda
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.016 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.782

Abstract

Latar Belakang : Paralisis periodik hipokalemik merupakan suatu kelainan yang ditandai dengan serangan episodik berupa kelemahan otot atau paralisis yang diakibatkan hipokalemia. Tirotoksikosis, aktivitas fisik berat, diet tinggi karbohidrat, stress emosional, dan beberapa obat dapat mencetuskan terjadinya serangan. Tujuan dari penyajian kasus ini adalah untuk mendeferensiasi penyebab periodic paralisis dari penyebab lain kelemahan dan kelumpuhan sehingga perawatan yang tepat dapat dimulai sesegera mungkin. Kasus : Pasien seorang anak laki-laki usia 16 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat dengan keluhan kelemahan yang progresif pada badan dan keempat ekstremitas. Diskusi : Kelemahan berawal dari kedua tungkai, lalu menjalar ke empat ekstremitas. Pasien menunjukan kelemahan pada keempat ekstremitas (2/5 kekuatan otot). Pemeriksaan elektrolit awal menunjukan kadar kalium plasma yang rendah (1,8 mmol/L). Pemerikaan penunjang fungsi ginjal, fungsi hepar, dan darah rutin, elektrokardiogram menunjukan hasil normal. Pasien diterapi dengan administrasi kalium oral dan intravena di ruang rawat inap, dan kondisi pasien membaik. Kesimpulan : Pasien didiagnosis paralisis periodik hipokalemik dan dipulangkan dari rumah sakit dengan pengobatan tablet kalium.
Full Text Volume 9 Nomor 2 Juli 2022: Full Text Volume 9 Nomor 2 Juli 2022 General Hospital, Kariadi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8909.694 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.792

Abstract

Full Text Volume 9 Nomor 2 Juli 2022
Knee Pain due to Loose body in the Knee Joint: A Case Report in Dr. Kariadi General Hospital Semarang: Knee Pain due to Loose body in the Knee Joint: A Case Report in Dr. Kariadi General Hospital Semarang Novriansyah, Robin; Kusuma, Faizurrahman Andi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 3 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i3.528

Abstract

BACKGROUND: Loose Bodies are fragments consisting of cartilage or bone that move freely in the joint space. The occurrence of Loose Bodies associated with OCD is considered a rare case in Indonesia. The presence of Loose Bodies can cause several symptoms such as pain and resistance to extension and flexion of the knee joint. The presence of an impinging osteophyte in the lateral condyle of the femur, and a pedunculated osteophyte, can provide a clinical feature similar to Loose Bodies. Good anamnesis, physical examination, and diagnosis for correct management can provide a good outcome. OBJECTIVE: To provide an overview regarding diagnosis in loose body cases and arthroscopy debridement therapy in loose body cases in the knee joint. CASE: A 42-year-old man was presented with chronic pain in the left knee and limited left knee flexion since 3 years prior. Initially, the patient was diagnosed with grade 2 genu joint osteoarthritis with osteophytes in the lateral condylus. Anamnesis and physical examination were performed at dr. Kariadi General Hospital Semarang. X-photo showed a picture of the Loose Bodies. A debridement arthroscopy was performed. 8 weeks of follow-up no pain, no resistance in flexion and extension, KOOS Score from 18.6 to 92.3. CONCLUSION: It is advised to remove loose body in knee joint through arthroscopy debridement. Loose bodies should always undergo thorough workup to determine the diagnosis and treat the patient accordingly. KEYWORDS: Knee pain, loose body, osteochondritis dissecans, arthroscopy debridement
The Outcome of Surgical and Radiotherapy in Central Neurocytoma: A Case Report: The Outcome of Surgical and Radiotherapy in Central Neurocytoma: A Case Report Ardhini, Rahmi; Tsaniadi Prihastomo, Krisna; Firli Bramantyo, Dion; Tugasworo, Dodik; Retnaningsih, Retnaningsih; Andhitara, Yovita Andhitara; Kurnianto, Aditya Kurnianto; Budiman, Jethro
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 3 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i3.554

Abstract

BACKGROUND: Central neurocytoma (CN) is an infrequent and non-malignant neuro-epithelial tumor. CN is mostly found in lateral ventricle and may generate obstructive hydrocephalus. Surgical-radiation can increase patient survival and prognosis. This case report presented a rare case about 30-year-old female with CN. CASE PRESENTATION: 30-year-old female came to the hospital with severe headache and vomiting. Brain MRI showed a heterogeneous mass in right lateral ventricle causing obstructive hydrocephalus. The patient undergone partial resection. CN confirmed from histopathological analysis. Afterward, patient received 54 Gy conventional radiotherapy. 3 months after radiation, patient remain asymptomatic and no neurological deficit. Brain MRI evaluation showed slightly reduction of tumor mass (from 4,09 x 3,01 x 4,13 cm before radiation to 4,00 x 3,86 x 3,63 cm after radiation). DISCUSSION: This case report was consistent clinically, radiologically, and histopathologically with intraventricular CN. Headache and vomiting in patient due to the raised intracranial pressure from tumor mass and obstructive hydrocephalus. Headache is a significant and most frequent symptom in intraventricular tumors, may be caused by traction or compression of the pain-sensitive structures such as meningen and intracranial vasculature. Optimal management of CN still remains controversial due to their rarity. However, surgical management with gross total resection is the gold standard of treatment modality, associated with good prognosis and longer progression-free survival. CONCLUSION: Based on clinical characteristic, radiographic finding and histopathological features; this case was consistent with CN of the lateral ventricle. Surgical as the treatment option followed by radiation has led to good clinical outcome in this patient. KEYWORDS: central neurocytoma, hydrocephalus, neuro-epethelial tumor, radiotherapy
Peran Fisioterapi pada Myastenia Gravis Paska Thymectomy: Role of Physiotherapy in Patient with Myasthenia Gravis post Thymectomy Jaya, I Gede Egy Saputra; Anatasia Kosasih, Kartika; Karang, Anak Agung Ayu Srikandhyawati
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 3 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i3.599

Abstract

LATAR BELAKANG : Myastenia gravis (MG) merupakan penyakit autoimun yang disebabkan akibat timbulnya antibody terhadap reseptor asetilkolin esterase (AChR) pada neuromuscular junction yang menimbulkan kelemahan otot okular, bulbar, respirasi, aksial dan ekstremitas. Berdasarkan rekomendasi, rehabilitasi memiliki peran penting dalam pencegahan dari komplikasi MG seperti kontraktur dan kegagalan pernapasan. Namun, pada MG akan terjadi kelemahan otot dengan latihan fisis dan penggunaan otot secara repetitive yang menyebabkan dokter menjadi ragu untuk merekomendasikan rehabilitasi medik pada pasien MG. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk mengetahui peran rehabilitasi medik pada pasien MG. PRESENTASI KASUS : Pasien laki-laki 20 tahun dengan MG paska operasi video-assisted thoracoscopic surgery (VATS) thymectomy. Operasi berjalan lancar dan program rehabilitasi dilakukan pada hari kedua perawatan dengan supervisi dokter rehabilitasi medik dengan program: latihan pernapasan, latihan peregangan anggota gerak, dan relaksasi selama 30 menit pagi hari. Pada hari ke-3 pasien mengalami perburukan klinis sehingga terpasang ventilator mekanik. Pada hari berikutnya kondisi pasien membaik dan program rehabilitasi dilanjutkan setelah kesadaran pasien membaik sebanyak  2x dalam sehari dengan durasi 30-60 menit. Kondisi pasien berangsur membaik  dan pada hari ke-10 pasien dipulangkan dengan bantuan oksigenasi ResMed. PEMBAHASAN: Pada pasien dengan MG generalisata dan gangguan sistem respirasi, pelatihan otot respirasi terbukti efektif untuk menangani kelemahan otot akibat fatigue atau kegagalan pernasasan. Manfaat dari latihan pernapasan tidak hanya berupa peningkatan kekuatan otot respirasi, ketahanan pernapasan dan performa fisis, namun juga penurunan dari beberapa komplikasi MG dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Pada pasien MG paska operasi, latihan dapat dengan aman dilakukan segera setelah terekstubasi dengan supervisi dokter rehabilitasi medik. SIMPULAN: Fisioterapi bermanfaat pada pasien MG paska thymectomy. Program rehabilitasi medik sebaiknya dirancang sesuai dengan kondisi pasien MG dan dilakukan dalam supervisi dokter rehabilitasi medik. KATA KUNCI: fisioterapi, myastenia gravis, thymectomy, kelemahan otot
Stenting of Ductus Arteriosus for Duct-Dependent Pulmonary Circulation: An Emergency and Life Saving Procedure: Stenting of Ductus Arteriosus for Duct-Dependent Pulmonary Circulation: An Emergency and Life Saving Procedure Permitasari, Desy Ayu; Andini, Aulia Rizki; Ayukusuma, Anggita Rahma; Susilawati, Martvera; Priyatno, Agus
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 3 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i3.637

Abstract

BACKGROUND: Critical congenital heart defect with ductal-dependent pulmonary flow presents as a life-threatening condition. The patency of ductus arteriosus is required to supply blood flow into the lung. Stent implantation into ductus arteriosus has been proposed as non-surgical management for critical congenital heart disease with duct-dependent. CASE DESCRIPTION: We present full-term newborns who had critical congenital heart disease with ductal-dependent pulmonary blood blow and successfully managed with ductal stenting. Patient A, a 13-days-old male newborn had Tetralogy of Fallot-Pulmonary Atresia, restrictive Ventricular Septal Defect (VSD) and patent ductus arteriosus (PDA). Patient B, a 5-days-old female newborn had Tricuspid Atresia, restrictive VSD, PDA, and multiple congenital anomaly. Patient C, a 2-days-old female newborn had PA-IVS, PDA with stretched Patent Foramen Ovale (PFO). Prostaglandin-E1 infusion was started at first and stopped 6 hours prior to the procedure. All patients underwent ductus arteriosus stenting via femoral artery approach with drug-eluting stent. Pulmonary vascular markings were increased and oxygen saturations were improved in all of the patient. 5-month follow up, patients were in stable condition and prepared for surgical correction.   DISCUSSION: Ductal stenting in patient with duct-dependent pulmonary circulation appears to be an alternative to surgery. It provides bridging palliation until the time of definitive surgery. The effectiveness of the procedure was highlighted by the fact that all the patients showed a significant improvement in arterial saturation and pulmonary vascular marking. CONCLUSION: Stenting of ductus arteriosus is feasible and safe with great result. Early detection and timely management are imperative to save the life. KEYWORDS: critical congenital heart defect, ductus arteriosus, ductal stenting, ductal-dependent pulmonary blood flow
Efek Penambahan Latihan Penguatan dengan Resistance Band terhadap Keseimbangan Fungsional Lansia yang Mendapat Latihan Keseimbangan: The Additional Effect of Strengthening Exercise with Resistance Band on Functional Balance in Elderly Olivia Gunawan, Debora; Indriastuti, Lanny; Isma, Rahmi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 3 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i3.670

Abstract

LATAR BELAKANG : Proses penuaan akan menyebabkan perubahan anatomik maupun penurunan fungsi dari berbagai sistem organ. Pada penuaan terjadi gangguan keseimbangan yang dapat menyebabkan jatuh yang diakibatkan oleh adanya penurunan fungsi pada sistem sensorik maupun motorik. Latihan keseimbangan direkomendasikan untuk meningkatkan keseimbangan lansia dan mencegah timbulnya jatuh. Penelitian ini dilakukan di Paguyuban Lansia Melati 7 Karangasem, Laweyan, Surakarta. TUJUAN : Mengetahui apakah penambahan latihan penguatan dengan Resistance Band dapat meningkatkan keseimbangan fungsional lansia yang mendapat latihan keseimbangan. METODE : Metode penelitian ini adalah quasi eksperimental Populasi adalah lansia sehat. 24 subjek lansia yang memenuhi kriteria penelitian dibagi secara acak dengan undian menjadi kelompok Latihan keseimbangan (n=12) dan kelompok Latihan keseimbangan + Resistance Band (n=12). Kedua kelompok mendapatkan latihan tiga kali seminggu selama lima minggu. Keseimbangan diukur sebelum dan setelah intervensi dengan menggunakan Berg Balance Scale (BBS). Inform konsen diberikan pada tanggal 11 September 2020. HASIL: Terdapat penambahan skor BBS sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok Latihan keseimbangan (p=0,047), dan pada kelompok Latihan keseimbangan + Resistance Band (p=0,016). Perbandingan antar kelompok tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada rerata peningkatan skor BBS (p=0,882), namun terdapat peningkatan skor BBS yang lebih tinggi pada kelompok Latihan keseimbangan + Resistance Band. KESIMPULAN : Penambahan latihan penguatan dengan Resistance Band pada latihan keseimbangan tidak berpengaruh secara statistik terhadap peningkatan keseimbangan fungsional lansia. KATA KUNCI : Keseimbangan fungsional, lansia, latihan keseimbangan, latihan penguatan, resistance band
Hubungan Jenis Kelamin dengan Waktu Kematian Pada Kematian Akibat Infark Miokard Akut : Correlation Between Sex with Time of Death In Death From Acute Myocardial Infarction Iswara, Raja Al Fath Widya
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 3 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i3.763

Abstract

LATAR BELAKANG : Salah satu penyebab kematian mendadak terbanyak pada sistem kardiovaskular adalah infark miokard akut. Pada pemeriksaan jenazah kasus kematian mendadak sangat penting untuk mengetahui kemungkinan penyebab kematiannya berdasarkan jenis kelamin, usia, status gizi dan pola waktu kematiannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis kelamin dengan waktu kematian pada kematian akibat infark miokard akut. METODE : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional desain cross sectional, dengan menggunakan total sampling. Data diambil dari semua kasus kematian akibat infark miokard akut di Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2016-2019. Variabel bebas penelitian ini yaitu jenis kelamin yang terdiri atas laki-laki dan perempuan. Variabel tergantung penelitian ini yaitu waktu kematian yang dinilai berdasarkan jam kematian dan musim. Analisa data dengan menggunakan uji Chi Square. HASIL : Terdapat 90 kasus kematian akibat infark miokard akut yang terdiri atas 52 orang laki-laki (57.8%) dan 38 Perempuan (42.2%). Jam kematian paling banyak di malam hari sebanyak 28 orang (31.1%) dan paling banyak pada musim hujan sebanyak 50 orang (55.6%). Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan jam kematian (p= 0.042) dan musim (p= 0.035) pada kematian akibat infark miokard akut.  SIMPULAN : Terdapat hubungan jenis kelamin dengan waktu kematian pada kematian akibat infark miokard akut. KATA KUNCI: infark miokard akut, jenis kelamin, waktu kematian