cover
Contact Name
Aziz Alfarisy
Contact Email
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 584 Documents
Apolipoprotein E Polymorphism and Carotid Intima Medial Thickness Progression in Post Ischemic Stroke Patient: Apolipoprotein E Polymorphism and Carotid Intima Medial Thickness Progression in Post Ischemic Stroke Patient Kurnianto, Aditya; Retnaningsih, Retnaningsih; Tugasworo, Dodik; Andhitara, Yovita; Ardhini, Rahmi; Budiman, Jethro
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.471 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.750

Abstract

Background : Apolipoprotein E (APOE) gene is believed to associate with cholesterol level, a risk factor of ischemic stroke. CIMT (carotid intima-media thickness) can be used to determine the degree of atherosclerosis. Increased CIMT may predict ischemic stroke recurrence. This study aimed to determine association between increased CIMT in post ischemic stroke patients and APOE genotype. Methods : This was an epidemiological prospective study involving 71 post ischemic stroke patients (1 month from onset), admitted from 2012 to 2013. CIMT was examined with carotid duplex ultrasound at 1st, 6th, and 12nd month after stroke onset. APOE gene polymorphism was examined using HRM (high-resolution melting) which is a simple method, accurate, and sensitive for genotyping. Results : We found 5 APOE gene variation categories, i.e. E2E3, E2E4, E3E3, E3E4, and E4E4. The most common allele was E3 and genotype groups E3E3 was the majority of the population. E2E4 allele had the highest CIMT level among others, in the 1st month, 6th month, and 12nd month after stroke, with no association with hypertension, diabetes, and hypercholesterolemia. E3E3 allele was most often associated with hypertension, diabetes mellitus, dyslipidemia, and hyperhomocysteinemia. Conclusion : The results showed that APOE genotype E2E4 may independently constitute risk factor for atherosclerosis progression (CIMT) in post ischemic stroke patients. While the E3E3 genotype was often associated with hypertension, diabetes mellitus, dyslipidemia, and hyperhomocysteinemia. Our results suggest that APOE E4 was not an important risk factor for carotid atherosclerosis in post ischemic stroke patient.
Analisis Aspek Komorbid dan Demografis dengan Waktu Kematian dan Tingkat Severitas pada Pasien COVID-19 yang Meninggal di Rumah Sakit Saiful Anwar: Analysis of Comorbidity and Demographic Aspects with the Time of Death and Severity of COVID-19 Patients in Saiful Anwar Hospital Munthe, Indra; Astuti, Triwahju; Sartono, Teguh Rahayu
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.954 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.752

Abstract

Latar belakang : Pandemi COVID-19 pada tahun 2020 menyebabkan kematian di seluruh dunia. Hingga bulan Februari 2022, didapatkan 5,84 juta kematian akibat infeksi COVID-19. Sejumlah 1,1% kematian didapatkan pada kasus ringan-sedang, dan 32,5% pada kasus berat-kritikal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara usia, merokok, pendidikan, pekerjaan, dan komorbid dengan tingkat severitas (ringan, sedang, berat dan kritis) dan waktu kematian (<48 jam dan >48 jam ) pada infeksi COVID-19, serta hubungan antara tingkat severitas penyakit dengan waktu kematian (<48 jam dan >48 jam) pada infeksi COVID-19. Metode : Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan 300 sampel di RSSA pada bulan April 2020 hingga bulan September 2021, dengan subjek pasien berusia 18 tahun ke atas yang dirawat karena COVID-19. Data mengenai epidemiologis, klinis, dan komorbid diambil dari rekam medis. Data kategorik dua variabel dianalisis dengan menggunakan Chi Square dan uji Fischer untuk data yang tidak memenuhi kriteria Chi Square. Batas kemaknaan dinyatakan pada p<0,05 dengan interval kepercayaan 95%. Statistik dikerjakan dengan SPSS versi 26. Hasil : Analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara: usia, merokok, komorbid, tingkat severitas COVID-19 dengan waktu kematian (p<0,001). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dan pekerjaan dengan derajat awal dari COVID-19 dengan waktu kematian (p>0,001). Pembahasan : Pasien dengan usia tua berisiko mengalami mortalitas lebih tinggi diduga terkait dengan fungsi sel T dan sel B, produksi sitokin tipe 2 berlebihan yang menyebabkan terjadinya respon proinflamasi yang berkepanjangan. Penelitian lain menyebutkan bahwa usia, pasien laki-laki, dan perokok aktif merupakan faktor prognosis mortalitas. Gejala berat-kritikal COVID-19 merupakan prediktor independen terjadinya mortalitas. Gejala berat seperti sesak napas dan distres pernapasan berat terkait dengan mortalitas yang lebih tinggi. Simpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara usia, merokok, komorbid dan tingkat severitas dengan waktu kematian. Didapatkan juga tidak adanya hubungan signifikan antara pekerjaan dan pendidikan dengan waktu kematian
Besar Risiko Status Nutrisi terhadap Morbiditas dan Mortalitas Pasien Hemodialisis Reguler: Risk of Nutritional Status with Morbidity and Mortality of Regular Hemodialysis Patients Sri Wardani, Ni Wayan
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.318 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.753

Abstract

Latar belakang : Protein energi wasting (PEW) merupakan salah satu komplikasi pasien yang menjalani hemodialisis (HD) reguler akibat malnutrisi dan inflamasi dan menjadi indikator mutu layanan HD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besar risiko status nutrisi terhadap morbiditas dan mortalitas pasien HD reguler. Metode : Penelitian kohort prospektif selama 6 bulan (5 Mei sampai 4 November 2021), pada pasien HD reguler, berusia lebih dari 18 tahun di unit HD RSUD Sanjiwani Gianyar. Status nutrisi dinilai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT), kadar albumin serum, Subjective Global Assesement (SGA), Malnutrition inflammation score (MIS), dan International Society of Renal Nutrition and Malnutrition (ISRNM). Hasil : Subyek penelitian adalah 111 orang terdiri dari 61.3% laki-laki, rerata umur 53,67 tahun, rerata lama menjalani HD 44,56 bulan dengan etiologi utama yaitu hipertensi dan DKD 54%. Rerata IMT 23,41 kg/m2 dan albumin 4,05 g/dL. Analisis risiko relatif (RR) menunjukkan albumin <3,8 g/dL meningkatkan risiko morbiditas 3,25 kali (CI 95% 1,29- 8,13) p=0,01, dibandingkan albumin >/= 3,8 g/dL. Demikian juga SGA B dan C meningkatkan morbiditas 3,2 (CI 95% 1,36–7,52) kali dibandingkan SGA A dengan p=0,007, tetapi IMT, MIS dan ISRNM tidak bermakna. Analisis Kaplan Meier, menunjukkan subyek dengan status nutrisi baik mempunyai ketahanan hidup lebih lama dibandingkan dengan status nutrisi kurang, tetapi tidak bermakna secara statistik. Simpulan : Status nutrisi kurang berdasarkan albumin dan SGA signifikan meningkatkan risiko morbiditas namun tidak meningkatkan risiko mortalitas. Parameter status nutrisi lain seperti IMT, MIS, dan ISRNM bukan faktor risiko morbiditas dan mortalitas pasien HD.
Factors Influencing the Delay in Negative Conversion of PCR Swab Test Results in Patients with COVID-19: Factors Influencing the Delay in Negative Conversion of PCR Swab Test Results in Patients with COVID-19 Nurkholis, Fathur; Hanang Wibisono, Banteng; Suryanto, Agus; Handoyo, Thomas; Farida, Farida; Tanamas, Jimmy
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.755 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.755

Abstract

Background : The negative conversion duration of SARS-CoV-2 RNA was related to disease progression, and a prolonged negative conversion could provide early warning signal for poor prognosis in patients with COVID-19. The objectives of this study was to identify the factors influencing the delay in negative conversion of PCR swab test results in patients with COVID-19 as a consideration in determining the COVID-19 prevention policy in the community Methods : A retrospective cross-sectional study involving 68 patients diagnosed with COVID-19 that was treated in Dr. Kariadi General Hospital Medical Center Semarang from June 1st to December 30th 2020. Negative conversion was evaluated based on the results of the RT-PCR swab test on day 7, 14 and 21. Results : Mean negative conversion time for all patients was 11.63±5.08 days. Thirty-one factors were evaluated in the initial univariate Cox and Kaplan-Meier analysis. Older age (>59 years), overweight (>25 kg/m2), fever (>38°C), shortness of breath, diabetes mellitus, neutrophilia, hypoalbuminemia, CRP and antiviral treatment showed significant association with negative conversion time. These factors were then included in a multivariate regression analysis. Hypoalbuminemia or albumin level of <3.0 g/dL was found as an independent factor associated with negative conversion time of viral RNA (HR:1.986; 95%CI:1.098–3.594), and hypoalbuminemia was presumed to cause prolonged viral clearance time in patients with COVID-19. Conclusion : The factors influencing the prolong in negative conversion of viral RNA in patients with COVID-19 were older age, overweight, fever, shortness of breath, diabetes mellitus, neutrophilia, hypoalbuminemia, CRP and antiviral treatment. Hypoalbuminemia was an independent predictor for prolonged negative conversion of viral RNA in patients with COVID-19.
Predictor Factors of Tuberculosis Treatment Success in Sleman Regency of Indonesia: Predictor Factors of Tuberculosis Treatment Success in Sleman Regency of Indonesia Andriyanto, Eko; Wijayanti Subronto, Yanri; Ida Safitri Laksanawati
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.462 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.756

Abstract

Background : Tuberculosis (TB) is the leading cause of mortality worldwide. Several studies have created risk scores to predict treatment success in TB patients. However, cohort study did not consider other clinical forms of TB, such as negative AFB smears and extrapulmonary TB. The objectives of this study was to knowing the predictor factors for the success of TB treatment in Sleman Regency by taking into account other  clinical forms of TB such as negative smear and extrapulmonary TB. Methods : The type and design of this study was an analytical study using a cross- sectional design conducted on TB patients in Sleman Regency from 2015 – 2018. Data were collected from TB 01 or TB 03 register of the Sleman District Health Office, including age, sex, BMI at the beginning of treatment, OAT (Antituberculosis Drugs) guideline, anatomic location, initial AFB status, AFB conversion status in intensive phase, type of TB patient, and treatment outcome. Chi-Square analysis and logistic regression were used to  determine the predictors of TB treatment success. Results : The research sample was 2308 people: 2158 successful treatments and 150 patients whofailed. AFB conversion in the intensive phase was the only variable to have a role in the TB treatment success (OR = 6.655, 95% CI: 3.354–13,207, p = 0.000). Conclusion : Conversion of AFB status in the intensive phase is a variable that contributes to the success of TB treatment. Age, sex, BMI at the beginning of treatment, OAT guidelines, anatomic location, initial AFB status, and type of TB patient are not predictors of TB success.
Curcumin for Quality of Life of Multiple Myeloma Patients: a Randomized, Placebo-Controlled Trial: Curcumin for Quality of Life of Multiple Myeloma Patients: a Randomized, Placebo-Controlled Trial Hendrawati, Anindita Rosenda Eka; Santosa, Damai; Dharminto, Dharminto; Suharti, Catharina
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.578 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.757

Abstract

Background : The main goal of multiple myeloma (MM) therapy is to control the disease, prolong the survival, and improve the life quality. Curcumin affects pro-inflammatory cytokines. There is no research yet that has been conducted to evaluate the effects of curcumin on increasing MM patient's life quality. Objective of this study is to evaluate the effect of curcumin on increasing MM patients' life quality. Methods : Of 24 MM patients were enrolled and were divided randomly into treatment groups (n=12) and controls (n=12). Patients in treatment group received melphalan 4 mg/m2, prednisone 40 mg/m2 (MP) for 7 days and curcumin 8 grams/day for 28 days. The control group received MP and placebo. Quality of life (QoL) scores were measured in early diagnosis and after 4 cycles of treatment. The difference between two groups was analyzed using Mann-Whitney U-Test or Independent T Test. Results : The role function score of the treatment group was better than control. There is a significant difference function score of patients between the treatment and control group, at baseline and 4 cycles treatment (41.66 ± 3.85 vs. 23.61 ± 3.36; 95.83 ± 1.03 vs 76.39 ± 2.51; p=0.022). There was significantly different of insomnia score between treatment and control goup at baseline and the end 4 cycles (41.67 ± 3.79 vs 58.33 ± 3.51; 9.72 ± 1.5 vs 25 ± 1.32; p=0.02). Conclusion : The addition of curcumin in myeloma patients enhances the QoL score, role function score and lowered symptom insomnia.
Gambaran Elongasi Aorta pada Pemeriksaan Rontgen Toraks Pasien Hipertensi di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang: Aortic Elongation on Chest X-ray Examination of Hypertension Patients in RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Citta Aliyah, Sania; Marsinta Uli, Hanna; Septadina, Indri Seta
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.282 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.758

Abstract

Latar belakang : Hipertensi adalah suatu peningkatan tekanan darah di luar batas normal. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan termasuk perubahan pada struktur pembuluh darah. Perubahan struktural pada aorta berupa pemanjangan aorta disebut elongasi aorta yang terlihat melalui pemeriksaan foto toraks. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan kejadian elongasi aorta melalui gambaran foto toraks dengan hipertensi. Metode : Studi penelitian menggunakan pendekatan cross sectional pada 104 pasien untuk mengidentifikasi usia, jenis kelamin, dan nilai tekanan darah dari rekam medis pasien. Identifikasi gambaran elongasi aorta didapatkan melalui foto toraks. Hasil : Hasil analisis data didapatkan nilai P-value sebesar 0,000 dimana P-value ≤ 0,05 menandakan bahwa terdapat hubungan signifikan antara hipertensi dan elongasi aorta dengan nilai Prevalence rate 9,792 yang artinya terdapat peningkatan kejadian elongasi aorta sebanyak 9,792 kali pada pasien hipertensi dibandingkan pasien tidak hipertensi Simpulan : Risiko terjadinya elongasi aorta yang terlihat pada pemeriksaan foto toraks meningkat pada pasien hipertensi.
Faktor Risiko Disfagia pada Pasien Diabetes Mellitus: Risk Factors of Dysphagia in Patients with Diabetes Mellitus Mudha Pratomo, Santo; Mailasari Kusuma Dewi, Anna; Iman Santosa, Yanuar; Antono, Dwi; Tedjo Minuljo, Tania; Budiarti, Rery
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.02 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.759

Abstract

Latar belakang : Disfagia dapat terjadi akibat komplikasi dari diabetes mellitus terutama pada fase orofaringeal. Disfagia pada diabetes mellitus terjadi karena adanya neuropati autonom akibat hiperglikemia yang lama. Komplikasi ini mempengaruhi berbagai bagian sistem saraf dan mempunyai manifestasi klinis yang beragam, salah satunya adalah kerusakan metabolik pada struktur saraf dan mikrovaskuler dari vasa vasorum. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa usia, jenis kelamin, merokok, BMI dan kadar HbA1c merupakan faktor risiko disfagia pada penderita Diabetes mellitus (DM). Metode : Penelitian observasional analitik dengan desain belah lintang melibatkan subjek sebanyak 95 penderita DM dewasa di klinik Penyakit Dalam RSUP Dr. Kariadi Semarang pada bulan Desember 2021 – Februari 2022. Disfagia dinilai dari kuisioner dan pemeriksaan penelanan. Data DM dan HbA1c diambil dari rekam medik. Analisis data menggunakan Chi-Square dan regresi logistic. Hasil : Rerata usia 51,61 + 8,706 dengan usia termuda 18 tahun dan usia tertua 60 tahun. jenis kelamin laki laki : perempuan = 6 : 13. Usia (p= 0,523), jenis kelamin (p= 0,043, RP -2,76 CI 95% 0,883 – 8,686) riwayat merokok (p= 0,602), status BMI (p= 0,660), dan kadar HbA1c (p= 0,679), Simpulan : Usia, jenis kelamin riwayat merokok, status BMI dan kadar HbA1c tidak merupakan faktor risiko terjadinya disfagia pada penderita diabetes mellitus.
Kesesuaian Hasil Pemeriksaan Computed Tomography (CT) Scan Abdomen Kontras dengan Hasil Pemeriksaan Histopatologi (Studi pada Pasien dengan Keganasan Kolorektal): Suitability Computed Tomography (CT) Scan Abdomen Contrast Results with Histopathological Examination Results (Studies in patients with colorectal malignancies) Beni, Muhammad; Nuriya Widyasari, Maya; Eka Listiana, Devia; Yuliastuti, Titik
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.026 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.760

Abstract

Latar belakang : CT Scan abdomen kontras adalah modalitas pencitraan yang sering digunakan pada pasien dengan kecurigaan keganasan kolorektal seperti adenokarsinoma, neuroendocrine tumor (NET), gastrointestinal stromal tumor (GIST) dan limfoma karena mampu menskrining, mendiagnosis sekaligus menilai staging. Ketepatan diagnosis dan staging akan berpengaruh terhadap tatalaksana selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian hasil pemeriksaan CT Scan abdomen kontras dengan hasil pemeriksaan histopatologi mengenai karakteristik, jenis dan staging lokal pada pasien dengan keganasan kolorektal. Metode : Penelitian ini merupakan studi observasional dengan pendekatan cross- sectional. Terdapat 61 subyek penelitian yang dilakukan penilaian karakteristik, jenis dan stagingnya menggunakan CT Scan oleh dua ahli radiologi konsultan abdomen sedangkan pemeriksaan histopatologi dilakukan oleh ahli patologi anatomi konsultan abdomen. Uji diagnostik dan uji kesesuaian dilakukan untuk menganalisis kesesuaian hasil pemeriksan CT Scan dan histopatologi. Hasil : Berdasarkan karakteristik pada CT Scan, 100% sampel termasuk keganasan yang mengarah pada jenis karsinoma, sehingga kesesuaian karakteristik dan jenis tidak dapat dilakukan. Adapun untuk staging (CT Scan) didapatkan T3 57,4% dan T4 42,6%. Pada pemeriksaan histopatologi didapatkan 95,1% adenokarsinoma, 3,3% GIST dan 1,6% limfoma dengan staging pT3 65,6% dan pT4 34,4%. Didapatkan konsistensi dalam penilaian staging lokal antara pemeriksaan CT Scan abdomen kontras dan pemeriksaan histopatologi dengan nilai sensitivitas 82,5%, spesifisitas 90%, nilai prediksi positif 94%, nilai prediksi negatif 73%, tingkat akurasi 85% serta nilai kappa 0,691. Simpulan : CT Scan abdomen kontras dapat digunakan sebagai modalitas pencitraan untuk staging pada pasien keganasan kolorektal dengan konsistensi cukup baik.
Pemberian Aromaterapi Lavender sebagai Intervensi Mandiri Keperawatan dalam Meningkatkan Kualitas Tidur Pasien Congestive Heart Failure Pasca Operasi Bedah Jantung di Ruang Elang I RSUP Dr. Kariadi Semarang: Lavender aromatherapy as nursing intervention for enhance sleep quality in congestive heart failure patient after cardiac surgery in Elang ward Kariadi Hospital Semarang Wardiyana, Wayan; Sumarni, Sumarni
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.793 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.779

Abstract

Latar belakang : Masalah gangguan pola tidur adalah simptom yang paling sering dilaporkan pada pasien CHF dan dirasakan oleh 75% penderitanya. Sedangkan pada pasien pasca bedah jantung diketahui terdapat hubungan yang erat antara stres emosional dan kualitas tidur pasien setelah menjalani operasi bedah jantung. Perawat mempunyai peran yang penting untuk meningkatkan kualitas tidur pasien melalui intervensi nonfarmakologi salah satunyadengan pemberian aromaterapi lavender. Laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemberian aromaterapi lavender terhadap peningkatan kualitas tidur pada pasien Ny. S dengan CHF pasca operasi bedah jantung. Laporan kasus : Saat pengkajian pasien Ny. S pasca operasi bedah jantung hari ke–4 setelah pindah dari ruang ICCU. Pasien mengeluh sulit tidur saat malam hari dan kualitas tidurnya sangat kurang, sehingga diagnosa keperawatan prioritas pada pasien Ny. S yaitu gangguan pola tidur. Perencanaan keperawatan yang disusun bertujuan untuk meningkatkan kualitas tidur Ny. S dengan intervensi sesuai NIC Sleep Enhancement. Salah satu intervensi yaitu dengan mambantu pasien untuk rileks dengan memberikan aromaterapi lavender. Pembahasan : Setelah pemberian aromaterapi lavender kualitas tidur Ny. S menjadi lebih baik, dari aspek lama tidur, latensi tidur, efisiensi tidur, tidak banyak gangguan yang dirasakan saat malam hari, serta pada saat siang hari Ny. S merasa lebih segar dan semangat. Secara umum Ny. S menilai kualitas tidurnya baik setelah diberikan aromaterapi lavender. Simpulan : Pemberian aromaterapi lavender sebagai intervensi mandiri keperawatan efektif dalam meningkatkan kualitas tidur pasien CHF pasca operasi bedah jantung.