cover
Contact Name
Khotibul Umam
Contact Email
umam.my@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
iks@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial
ISSN : 23033759     EISSN : 26858517     DOI : -
Welfare: Journal Ilmu Kesejahteraan Sosial is designed as a media publication in the form of scientific papers related to social work. The focus of this study discusses the addressing of Persons with Social Welfare Problems.
Arjuna Subject : -
Articles 94 Documents
Aligning Social and Environmental Responsibility Policies Based on Creating Shared Value Concept: A Case Study at PT Petrokimia Gresik Premananto, Gancar Candra; Prayodhia Sanwasi, Dimas
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 12 No. 2 (2023): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2023.122-01

Abstract

This study investigates how companies can achieve a balance between economic profit and social/environmental responsibility through the Creating Shared Value (CSV) approach. PT Petrokimia Gresik serves as the subject of the research, analyzing its Social and Environmental Responsibility programs within the context of CSV. The research method employed an exploratory case study with a qualitative approach. Data were obtained through in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), and a review of documents related to the implementation of Social and Environmental Responsibility programs in the company. Respondents, including internal company stakeholders, participated in interviews and FGDs. The findings revealed deficiencies in the formulation of Social and Environmental Responsibility programs, hindering alignment with the CSV concept. However, six existing programs have moved toward the CSV concept by providing economic and social/environmental benefits, aligning with the company's short- and long-term strategies. These findings underscore the importance of adjusting company policies to be more integrated with CSV principles to achieve more optimal success in fulfilling social and environmental responsibilities while obtaining economic gains. Keywords: Creating Shared Value, Social and Environmental Responsibility, PT Petrokimia Gresik Studi ini menyelidiki bagaimana perusahaan dapat mencapai keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan tanggung jawab sosial/lingkungan melalui pendekatan Creating Shared Value (CSV). PT Petrokimia Gresik menjadi subjek penelitian yang menganalisis program-program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan dalam konteks CSV. Metode penelitian menggunakan studi kasus eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan tinjauan dokumen terkait pelaksanaan program-program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan di perusahaan. Responden, termasuk pihak internal perusahaan, terlibat dalam wawancara dan FGD. Temuan menunjukkan kekurangan dalam penyusunan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, yang menghambat keselarasan dengan konsep CSV. Namun, enam program yang ada telah menuju konsep CSV dengan memberikan manfaat ekonomi dan sosial/lingkungan, sejalan dengan strategi jangka pendek dan panjang perusahaan. Temuan ini menegaskan pentingnya penyesuaian kebijakan perusahaan agar lebih terintegrasi dengan prinsip-prinsip CSV guna mencapai kesuksesan yang lebih optimal dalam memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan sambil memperoleh keuntungan ekonomi. Kata kunci: Creating Shared Value, Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, PT Petrokimia Gresik
Unlocking Green Initiatives: A Comprehensive Study on Factors Influencing Employee Environmental Behavior at PT Petrokimia Gresik Harmianto Purbawinasta, Liliek; Premananto, Gancar Candra
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 12 No. 2 (2023): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2023.122-03

Abstract

Growing concerns about the company's environmental impact and the subsequent efforts to intervene with employees have proven ineffective at PT. Petrokimia Gresik. The lack of active participation among employees serves as evidence of the company's inability to foster environmentally conscious behavior. This research aims to assess the impact of company policies related to community social responsibility (CSR), the work environment's influence on employee well-being, individual employees' environmental knowledge, and leadership's role in ethical leadership on the development of environmental behavior among PT. Petrokimia Gresik employees. Employing qualitative methods and utilizing partial least square (PLS) for data analysis, this study reveals that corporate social responsibility programs, environmental knowledge, and employee well-being directly influence employees' environmental behavior. Additionally, the results indicate that employee well-being is shaped by environmental knowledge and ethical leadership. Through indirect testing, the study identifies employee well-being as a mediating variable between environmental knowledge and ethical leadership, influencing employees' environmental behavior. The dominant direct relationship of employee environmental knowledge in shaping green behavior, along with its indirect influence through the employee welfare variable, underscores the significance of fostering employee initiatives. Therefore, enhancing employee awareness at PT. Petrokimia Gresik necessitates an increase in environmental knowledge among employees to promote environmental conservation. Keyword: Employee green behaviour, PT. Petrokimia Gresik, employee well-being Peningkatan kepedulian terhadap dampak perusahaan terhadap lingkungan yang meningkatkan beragam upaya intervensi terhadap karyawan tidak berjalan efektif di PT. Petrokimia Gresik. Tingkat partisipasi karyawan yang rendah menjadi bukti dari ketidak efektivan perusahaan dalam membangun perilaku hijau karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebijakan perusahaan melalui community social responsibility (CSR), lingkungan kerja melalui employee well-being, personal karyawan melalui environmental knowledge, dan pimpinan yang ditinjau dari ethical leadership terhadap employee green behaviour di PT. Petrokimia Gresik. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan partial least square (PLS) sebagai teknik analisis data. Penelitian ini menemukan bahwa program tanggung jawab sosial perusahaan, pengetahuan tentang lingkungan, dan kesejahteraan karyawan memiliki pengaruh langsung terhadap tindakan hijau karyawan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kesejahteraan karyawan dipengaruhi oleh pengetauan terhadap lingkungan dan kepemimpinan etik. Dalam proses pengujian secara tidak langsung, penelitian ini menemukan kesejahteraan karyawan menjadi variabel yang memediasi pengetahuan tentang lingkungan dan kepemimpinan etik terhadap tindakan hijau karyawan. Hubungan dominan secara langusng pengetahuan lingkungan karyawan terhadap pembentukan perilaku hijau yang juga berpengaruh secara tidak langsung melalui variabel kesejahteraan karyawan menunjukkan pembentukan inisiatif karyawan menjadi elemen penting, sehingga untuk meningkatkan kepedulian karyawan PT. Petrokimia Gresik dibutuhkan peningkatan pengetahuan karyawan tentang konservasi lingkungan. Kata Kunci: Tindakan Hijau Karyawan, PT. Petrokimia Gresik, Kesejahteraan Karyawan
Religious Organizations' Advocacy Strategies for Disability Rights: A Case Study of the Jaya Music Group of the Visually Impaired in Malioboro, Yogyakarta Farid, Muhammad Rifa'at Adiakarti; Fawais, Moh; Amanda, Dhania Nurrizki; Azzahra, Annisya
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 13 No. 1 (2024): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2024.131-04

Abstract

This study aims to analyze the advocacy strategies implemented by the Social Service Council of the Regional Leadership of Muhammadiyah in the Special Region of Yogyakarta (MPS PWM DIY) in addressing the case of Grup Jaya Musik, a group of blind musicians who faced obstacles in performing in the Malioboro area due to urban redevelopment policies. MPS PWM DIY, which has evolved into an organization with a broader scope of social services, plays a crucial role in advocating for the rights of people with disabilities. This research adopts a qualitative approach with a case study design. Data collection methods include observation, interviews, and documentation. The findings reveal that the advocacy strategy employed by MPS PWM DIY involves a multisectoral collaborative approach, realized through dialogues with stakeholders and cross-sector collaboration with local government and private sector entities. Additionally, MPS PWM DIY proactively advocates for legal certainty for the disabled community, emphasizing the urgency of inclusive and clear policy reforms. The study highlights the critical role of religious organizations in broader social advocacy and underscores the importance of a multisectoral collaborative approach in strengthening advocacy efforts. The findings from this study offer an advocacy model that can be adapted by other organizations in similar contexts and have significant implications for the development of disability rights advocacy strategies at the national level. Keywords: Advocacy Strategies, Disability Rights, Social Services, Multisectoral Collaboration   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi advokasi yang diterapkan oleh Majelis Pelayanan Sosial Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (MPS PWM DIY) dalam menangani kasus Grup Jaya Musik, sebuah kelompok musisi tunanetra yang mengalami hambatan untuk tampil di kawasan Malioboro akibat kebijakan penataan ulang. MPS PWM DIY, yang telah berkembang menjadi organisasi dengan cakupan pelayanan sosial yang lebih luas, memainkan peran krusial dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi advokasi yang diterapkan oleh MPS PWM DIY melibatkan pendekatan kolaboratif multisektor, yang diwujudkan melalui audiensi dengan pemangku kepentingan serta kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah daerah dan sektor swasta. Selain itu, MPS PWM DIY secara proaktif memperjuangkan kepastian hukum bagi kelompok difabel, dengan menekankan pada urgensi reformasi kebijakan yang inklusif dan jelas. Penelitian ini menyoroti pentingnya peran organisasi keagamaan dalam advokasi sosial yang lebih luas serta pentingnya pendekatan kolaboratif multisektor dalam memperkuat upaya advokasi. Temuan dari penelitian ini menawarkan model advokasi yang dapat diadaptasi oleh organisasi lain dalam konteks serupa dan memiliki implikasi yang signifikan bagi pengembangan strategi advokasi hak-hak penyandang disabilitas di tingkat nasional. Kata kunci: Strategi Advokasi, Hak Disabilitas, Layanan Sosial, Kolaborasi Multisektoral
Empowerment and Livestock Farming: A Holistic Approach to Local Communities Ramdani, Idan
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 12 No. 2 (2023): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2023.122-05

Abstract

The study aims to investigate the impact of livestock farming on community empowerment, focusing on the integration of economic, social, and environmental dimensions. The research encompasses a case study of a sheep farming empowerment program in Karanglayung, Indramayu, West Java, which serves as a model for similar initiatives in rural areas. The methodology includes a mixed-methods approach, combining quantitative surveys and qualitative interviews with local farmers, community leaders, and stakeholders involved in the program. Data collection involved assessing income levels, food security, animal health, and social cohesion within the community. The findings reveal that the program has significantly increased farmers' income by an average of 30%, improved access to nutritious food, and enhanced animal health through targeted education and training. Additionally, the program has fostered social cohesion, with participants reporting stronger community ties and collaboration. The main conclusion drawn from the study is that a holistic approach to livestock farming can effectively empower local communities, providing economic benefits while promoting sustainable practices and social unity. This model demonstrates the potential for replication in other regions facing similar challenges. Keywords: Community Empowerment, Livestock Farming, Holistic Approach, Economic Development, Social Cohesion, Environmental SustainabilitPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki dampak peternakan terhadap pemberdayaan komunitas, dengan fokus pada integrasi dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penelitian ini mencakup studi kasus program pemberdayaan peternakan domba di Karanglayung, Indramayu, Jawa Barat, yang berfungsi sebagai model untuk inisiatif serupa di daerah pedesaan. Metode yang digunakan mencakup pendekatan campuran, menggabungkan survei kuantitatif dan wawancara kualitatif dengan petani lokal, pemimpin komunitas, dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam program tersebut. Pengumpulan data melibatkan penilaian tingkat pendapatan, ketahanan pangan, kesehatan hewan, dan kohesi sosial di dalam komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini telah secara signifikan meningkatkan pendapatan petani rata-rata sebesar 30%, memperbaiki akses terhadap pangan bergizi, dan meningkatkan kesehatan hewan melalui pendidikan dan pelatihan yang terarah. Selain itu, program ini telah memperkuat kohesi sosial, dengan peserta melaporkan ikatan komunitas dan kolaborasi yang lebih kuat. Kesimpulan utama yang diambil dari studi ini adalah bahwa pendekatan holistik terhadap peternakan dapat secara efektif memberdayakan komunitas lokal, memberikan manfaat ekonomi sambil mempromosikan praktik berkelanjutan dan persatuan sosial. Model ini menunjukkan potensi untuk direplikasi di daerah lain yang menghadapi tantangan serupa. Kata Kunci: Pemberdayaan Masyarakat, Peternakan, Pendekatan Holistik, Pembangunan Ekonomi, Kohesi Sosial, Kelestarian Lingkungan
Can Behavioral Health Improve Without Social Workers? Insights from a Systematic Literature Review on Integrated Health Promotion Dewi, Chandra Kartika; Rahmah, Mahadna Aulia; Nurrochayati, Berlinda Putri
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 14 No. 1 (2025): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2025.141-01

Abstract

Various studies highlight health problems influenced by social factors, underscoring the need for integrated health promotion involving interprofessional roles. This study aims to identify the role of social workers in health promotion by reviewing behavioral health issues that significantly impact physical health. A systematic literature review was conducted, collecting 518 articles, with 27 selected based on inclusion criteria. These articles, published between 2015 and 2025 in PubMed and Scopus, underwent peer review. The articles were analyzed using the PICO framework, with searches based on the keywords “health-promoting universities,” “social work,” and “behavioral health.” The findings indicate that self-promotion, expert-led health promotion, and the contributions of health workers are key actors in addressing health issues tied to social determinants. These actors play critical roles in tackling mental health challenges, lifestyle risks, and social health concerns. This identification highlights opportunities for social workers to provide counseling, offer psychosocial support, enhance quality of life through empowerment, and foster community development. These roles represent the primary domain for social workers to actively contribute to integrated health promotion through interprofessional collaboration. Keywords: Health promotion, Social work, Behavioral health Problem kesehatan yang di determinasi oleh faktor sosial yang ditemukan dalam beragam penelitian mengindikasikan kebutuhan terhadap promosi kesehatan terpadu yang melibatkan peran antar profesi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan domain dari pekerja sosial dalam kontribusinya pada aspek promosi kesehatan dengan meninjau problem kesehatan perilaku yang banyakdiidentifikasi sebagai faktor yang mempengaruhi kesehatan fisik. Penelitian ini menggunakan systematis literature review dengan mengumpulkan 518 artikel dengan 27 artikel terpilih yang memenuhi kriteria. Artikel yang dipilih dalam penelitian ini telah dilakukan tinjauan sejawat dan diterbitkan antara tahun 2015 hingga 2025 dalam PubMed dan Scopus. Artikel diproses melalui kerangka PICO dengan menggunakan model penelusuran berdasarkan kata kunci health-promoting universities,” “social work,” and “behavioural health”. Penelitian ini menemukan bahwa self-promotion, promosi kesehatan melalui tenaga ahli, dan peran tenaga kesehatan merupakan aktor yang melakukan promosi kesehatan untuk mengatasi problem kesehatan yang berhubungan dengan dimensi sosial. Peran para aktor ini dianggap sebagai petugas yang memberikan solusi untuk menyelesaikan problem kesehatan mental, risiko gaya hidup, dan kesehatan sosial. Identifikasi ini memberikan ruang bagi para pekerja sosial dalam upaya memberikan konseling dan dukungan psiko-sosial, peningkatan kualitas hidup melalui pemberdayaan, dan pengembangan komunitas. Peran ini merupakan domain utama pekerja sosial untuk terlibat aktif dalam promosi kesehatan terpadu dengan melibatkan peran antar profesi.Kata Kunci: Promosi kesehatan, Pekerja sosial, Kesehatan perilaku
Community-Driven Development in Waste Management: Lessons from Palasari, Bandung Pratama, Yudhistira Anugerah
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 13 No. 2 (2024): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2024.132-01

Abstract

Population growth has increased waste production, overwhelming sanitation workers and necessitating active community participation to address environmental challenges. Community involvement is often viewed through the lens of external interventions led by governments or NGOs. In contrast, the Palasari community in Bandung independently established the Wargi Manglayang Waste Bank, managed without external involvement. This study aims to demonstrate that independent, bottom-up community-driven development (CDD) effectively addresses environmental issues while meeting community needs. Using a qualitative approach, the study identifies evidence of the success of the CDD model in the Wargi Manglayang Waste Bank. Findings reveal that this model emphasizes community autonomy in managing resources to tackle environmental challenges with economic benefits. Creative, voluntary initiatives by community members foster a participatory and inclusive management model. This approach enhances residents’ sense of ownership through direct involvement based on their potential and capabilities. Transparent and communicative management ensures that information is accessible to all, strengthening collective awareness. These findings confirm that the bottom-up CDD model, as exemplified by the Wargi Manglayang Waste Bank, is an effective approach to community developmentKeywords: Community-driven development, Bottom-up approach, Waste bankPertumbuhan penduduk telah berdampak pada peningkatan produksi sampah yang membebani petugas kebersihan, dan mengharuskan partisipasi aktif masyarakat untuk mengatasi tantangan lingkungan. Keterlibatan masyarakat sering kali ditinjau dari perspektif intervensi eksternal yang diinisiasi oleh pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat (LSM). Berbeda dengan itu, komunitas Palasari di Bandung secara mandiri mendirikan Bank Sampah Wargi Manglayang, yang dikelola tanpa keterlibatan pihak eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa Community-Driven Development (CDD) yang bersifat independen dan bottom-up (arus bawah) merupakan metode yang efektif dalam mengatasi permasalahan lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini mengidentifikasi bukti keberhasilan model CDD di Bank Sampah Wargi Manglayang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa model ini menekankan kemandirian masyarakat dalam mengelola sumber daya untuk menanggulangi tantangan lingkungan yang disertai dengan manfaat ekonomi. Inisiatif kreatif dan sukarela dari anggota masyarakat mendorong terciptanya model tata kelola yang partisipatif dan inklusif. Pendekatan ini meningkatkan rasa kepemilikan warga melalui keterlibatan langsung yang disesuaikan dengan potensi dan kapabilitas mereka. Tata kelola yang transparan dan komunikatif menjamin aksesibilitas informasi bagi semua pihak, yang pada akhirnya memperkuat kesadaran kolektif. Temuan ini menegaskan bahwa model CDD bottom-up, sebagaimana diterapkan di Bank Sampah Wargi Manglayang, merupakan pendekatan yang efektif dalam pengembangan masyarakat.Kata Kunci: Pembangunan berbasis masyarakat, pendekatan bottom-up, Bank sampah
Beyond Resilience in Capacity Building: Harnessing Ordinary Magic to Empower Farmworkers in Babakan Village, Pacet District, Bandung Regency Pratama, Yudhistira Anugerah; Isnajati, Louisiani Mansoni; Resnawaty, Risna; Darwis, Rudi Saprudin
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 14 No. 2 (2025): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2025.142-02

Abstract

This study examines the impact of capacity building on the resilience of farmworkers in Babakan Village, Pacet District, Bandung Regency, using a quantitative associative approach. The sample comprised 74 farmworkers from Babakan Village. Data were collected through observations, interviews, literature reviews, documentation, observation guidelines, and questionnaires. The findings reveal a positive and significant relationship between capacity building and farmworkers’ resilience, with capacity building accounting for 74.0% of the variance in resilience. However, both capacity building and resilience remain at moderate levels, indicating a need for improvement. Current capacity-building efforts focus on maximizing resilience but overlook development needs and cultural factors, which undermines the inherent resilience of farmers in facing challenges. The concept of ‘ordinary magic,’ derived from farmers’ long-term experiences and adaptability to change, cannot be fully realized through training-based capacity building alone. A cultural humility model that incorporates cultural aspects into the assessment process is needed to shift capacity building from solely enhancing resilience to fostering broader development. Keywords: capacity strengthen, resilience, farmworkers   Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penguatan kapasitas terhadap resiliensi buruh tani di Desa Babakan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif. Sampel penelitian terdiri atas 74 buruh tani yang berdomisili di Desa Babakan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dokumentasi, pedoman observasi, serta penyebaran kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara penguatan kapasitas dan resiliensi buruh tani, di mana penguatan kapasitas berkontribusi sebesar 74,0% terhadap variasi tingkat resiliensi. Meskipun demikian, tingkat penguatan kapasitas dan resiliensi buruh tani secara umum masih berada pada kategori sedang, sehingga memerlukan upaya peningkatan yang lebih berkelanjutan. Praktik penguatan kapasitas yang berjalan saat ini cenderung berfokus pada optimalisasi resiliensi, namun belum secara memadai memperhatikan kebutuhan pengembangan dan faktor-faktor kultural yang melekat dalam kehidupan buruh tani. Kondisi ini berpotensi melemahkan resiliensi yang secara inheren telah dimiliki buruh tani dalam menghadapi berbagai tantangan struktural dan lingkungan. Lebih lanjut, konsep ‘ordinary magic’ yang bersumber dari pengalaman jangka panjang buruh tani serta kemampuan mereka untuk beradaptasi terhadap perubahan tidak sepenuhnya dapat diwujudkan melalui pendekatan penguatan kapasitas yang semata-mata berbasis pelatihan. Oleh karena itu, diperlukan model cultural humility yang mengintegrasikan aspek budaya dalam proses asesmen dan intervensi, sehingga penguatan kapasitas tidak hanya berorientasi pada peningkatan resiliensi, tetapi juga mendorong pengembangan yang lebih komprehensif dan kontekstual. Kata kunci: penguatan kapasitas; resiliensi; buruh tani
Navigating Social Work Field Placements: Barriers and Adaptive Strategies Among Students with Disabilities in Higher Education Ngestiti, Kisy Anif
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 14 No. 1 (2025): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2025.141-02

Abstract

Inclusive higher education has become a central agenda in advancing social justice; however, its implementation in professional education-particularly in social work field placements-remains inconsistent. This study examines the barriers faced by students with disabilities undertaking Social Work Field Placement (Praktikum Pekerjaan Sosial, PPS) within the Social Welfare Program at UIN Sunan Kalijaga, Indonesia, as well as the adaptive strategies they employ. Using a qualitative case study design, data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis involving three students with disabilities and two field supervisors. Thematic analysis reveals that students encounter multiple barriers, including limited mobility, insufficient institutional support from placement agencies, social stigma, and psychosocial stressors. The findings further identify four predominant coping strategies: seeking social support, self-regulation, acceptance and adjustment, and task simplification facilitated through supervisory mediation. Drawing on the Social Model of Disability, this study demonstrates that students’ challenges are primarily produced by non-inclusive field environments rather than individual impairments. Coping Strategy Theory is employed to explain the diversity of students’ adaptive responses to field-based stress and uncertainty. The study highlights that successful field placements for students with disabilities depend on systemic support, responsive supervision, and inclusive field placement design. These findings contribute to international debates on inclusive professional education and offer practical insights for developing disability-responsive field education policies within social work programs, particularly in Global South contexts. Keywords: students with disabilities, social work field placement, adaptive strategies, social model of disability, coping theory Pendidikan tinggi inklusif merupakan agenda penting dalam mendorong keadilan sosial, namun implementasinya dalam pendidikan profesional, khususnya praktikum pekerjaan sosial masih menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan mengkaji hambatan serta strategi adaptasi mahasiswa disabilitas dalam menjalani Praktikum Pekerjaan Sosial (PPS) di Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen terhadap tiga mahasiswa disabilitas dan dua supervisor praktikum. Hasil Analisis menunjukkan bahwa mahasiswa disabilitas menghadapi hambatan berlapis yang bersifat struktural, sosial, dan psikososial, meliputi keterbatasan mobilitas, lemahnya dukungan lembaga mitra, stigma sosial, serta tekanan mental personal. Temuan juga mengidentifikasi empat strategi adaptasi utama, yaitu pencarian dukungan sosial, pengaturan diri, penerimaan dan penyesuaian, serta penyederhanaan tugas yang dimediasi oleh supervisor. Dengan menggunakan Social Model of Disability, penelitian ini menunjukkan bahwa kesulitan mahasiswa lebih banyak diproduksi oleh lingkungan praktik yang belum inklusif daripada oleh disabilitas itu sendiri. Sementara itu, Coping Strategy Theory membantu menjelaskan variasi respons adaptif mahasiswa dalam menghadapi tekanan praktik. Studi ini menegaskan bahwa keberhasilan PPS mahasiswa disabilitas sangat ditentukan oleh dukungan sistemik, supervisi yang responsif, dan desain praktik lapangan yang inklusif. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan kebijakan dan pedoman PPS berbasis keadilan sosial di pendidikan pekerjaan sosial. Kata Kunci: mahasiswa disabilitas, praktik pekerjaan sosial, strategi adaptasi, social model of disability, coping theory
CSR as a Social Investment Chain: Building Digital Capabilities and Employability through School-Based Institutional Practice Soulthoni, Hannin Pradita Nur; Wijayanti, Dewi Yosepin
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 14 No. 2 (2025): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2025.142-01

Abstract

This study examines how Corporate Social Responsibility (CSR) functions as a social investment chain to develop digital capabilities and enhance employability through institutional practices within secondary schools. Building on the evolving perspective of CSR-from a moral obligation to a strategy for creating shared value-this research employs a qualitative case study approach at SMK Forward Nusantara Depok, Indonesia. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis involving company representatives, school leaders, teachers, and students. The findings reveal that CSR extends beyond merely providing resources; it operates as a multi-tiered process encompassing investment in digital access, institutional capacity building, and the cultivation of student employability. Digital facilities are transformed into sustainable learning practices through teacher training, curriculum integration, and school governance, enabling students to produce digital projects, build portfolios, and foster independent learning. These practices exemplify social investment mechanisms at the micro level that cultivate future-oriented capabilities. This study contributes to the CSR and welfare literature by conceptualizing CSR as a social investment chain grounded in institutional practices and offers practical implications for designing CSR programs focused on educational capacity building. Keywords: Corporate Social Responsibility, Vocational Education Quality, Industry-Education Collaboration   Penelitian ini mengkaji bagaimana Corporate Social Responsibility (CSR) berfungsi sebagai rantai investasi sosial dalam pengembangan kapabilitas digital dan peningkatan daya kerja (employability) melalui praktik-praktik institusional di tingkat sekolah menengah kejuruan. Berangkat dari perkembangan perspektif CSR, dari kewajiban moral menuju strategi penciptaan nilai bersama (creating shared value), penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang berlokasi di SMK Forward Nusantara Depok, Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, serta analisis dokumen yang melibatkan perwakilan perusahaan, pimpinan sekolah, guru, dan peserta didik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa CSR tidak hanya berperan sebagai mekanisme penyediaan sumber daya, tetapi juga beroperasi sebagai proses berlapis yang mencakup investasi pada akses digital, penguatan kapasitas institusional sekolah, serta pembentukan daya kerja peserta didik. Fasilitas digital yang disediakan melalui program CSR ditransformasikan menjadi praktik pembelajaran berkelanjutan melalui pelatihan guru, integrasi kurikulum, dan penguatan tata kelola sekolah. Proses ini memungkinkan peserta didik untuk menghasilkan proyek digital, membangun portofolio keterampilan, serta mengembangkan pembelajaran mandiri yang berorientasi pada masa depan. Praktik-praktik tersebut mencerminkan mekanisme investasi sosial pada level mikro yang berkontribusi pada penguatan kapabilitas generasi muda. Studi ini memberikan kontribusi pada literatur CSR dan kesejahteraan dengan mengonseptualisasikan CSR sebagai rantai investasi sosial yang berakar pada praktik institusional, sekaligus menawarkan implikasi praktis bagi perancangan program CSR yang berfokus pada penguatan kapasitas pendidikan.  Kata kunci: Corporate Social Responsibility; kualitas pendidikan kejuruan; kolaborasi industry-pendidikan
Normalization of Student Cohabitation and Its Implications for Social Functioning: An Ecological Social Work Perspective from Jember, Indonesia Mubarok, Akhmad Munif; Pamungkas, Aura; Umam, Khotibul; Wulandari, Kusuma
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 14 No. 1 (2025): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2025.141-03

Abstract

Student cohabitation has become an increasingly visible phenomenon in university towns; however, it is often normatively framed as moral deviation or individual misconduct. Limited attention has been given to understanding cohabitation as a social–ecological process that shapes students’ social functioning, particularly from a social work perspective in non-Western contexts. This study aims to analyze the normalization of student cohabitation and its implications for social functioning through an ecological social work lens. Employing a qualitative approach with a phenomenological design, data were collected through in-depth interviews, non-participant observation, and document analysis involving students engaged in cohabitation, boarding house managers, and community actors in Sumbersari Village, Jember Regency, Indonesia. The data were analyzed thematically to capture the interactions among individual experiences, relational dynamics, and environmental structures. The findings indicate that student cohabitation is normalized through emotional closeness, practical considerations, and permissive housing environments. Students develop adaptive attitudes such as indifference to social judgment, personal rationalization, and selective disclosure of their relationships. Regarding social functioning, cohabitation produces ambivalent outcomes. On one hand, it strengthens emotional support and academic motivation; on the other, it may limit broader social engagement and increase emotional dependency, particularly when relational disruptions occur. This study demonstrates that student cohabitation should be understood as a social–ecological phenomenon rather than a purely individual choice. Its main contribution lies in advancing social work scholarship by positioning cohabitation as an issue of social functioning within a person-in-environment framework. The findings highlight the importance of preventive, community-based social work interventions in higher education settings, particularly those aimed at promoting healthy relationship literacy, emotional autonomy, and sustainable social support systems for students. Keywords: student cohabitation, social functioning, ecological systems theory, normalization, social work Kohabitasi mahasiswa merupakan fenomena yang semakin terlihat di kawasan pendidikan tinggi, namun masih kerap dipahami secara normatif sebagai penyimpangan moral atau persoalan individual. Kajian yang menempatkan kohabitasi sebagai proses sosial-ekologis yang memengaruhi keberfungsian sosial mahasiswa, khususnya dari perspektif pekerjaan sosial di konteks non-Barat, masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses normalisasi kohabitasi mahasiswa serta implikasinya terhadap keberfungsian sosial melalui perspektif pekerjaan sosial berbasis ekologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan studi dokumentasi terhadap mahasiswa pelaku kohabitasi, pengelola kos, serta aktor lingkungan di Kelurahan Sumbersari, Kabupaten Jember. Analisis data dilakukan secara tematik untuk menangkap interaksi antara pengalaman individual, dinamika relasional, dan struktur lingkungan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kohabitasi mahasiswa dinormalisasi melalui kedekatan emosional, pertimbangan praktis, serta lingkungan hunian yang permisif. Mahasiswa mengembangkan sikap adaptif berupa ketidakpedulian terhadap penilaian sosial, rasionalisasi personal, dan keterbukaan selektif dalam mengelola relasi. Dari sisi keberfungsian sosial, kohabitasi menghasilkan dampak yang ambivalen. Di satu sisi, kohabitasi memperkuat dukungan emosional dan motivasi akademik; di sisi lain, praktik ini berpotensi membatasi partisipasi sosial yang lebih luas dan meningkatkan ketergantungan emosional, terutama ketika relasi mengalami gangguan. Penelitian ini menegaskan bahwa kohabitasi mahasiswa perlu dipahami sebagai fenomena sosial-ekologis, bukan sekadar pilihan individual. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada penguatan perspektif pekerjaan sosial dengan memposisikan kohabitasi sebagai isu keberfungsian sosial dalam kerangka person-in-environment. Temuan penelitian ini menekankan pentingnya intervensi pekerjaan sosial yang bersifat preventif dan berbasis komunitas di lingkungan perguruan tinggi, khususnya dalam penguatan literasi relasi sehat, kemandirian emosional, dan sistem dukungan sosial mahasiswa yang berkelanjutan. Kata kunci: kohabitasi mahasiswa, keberfungsian sosial, teori sistem ekologi, normalisasi sosial, pekerjaan sosial.

Page 9 of 10 | Total Record : 94