cover
Contact Name
Khotibul Umam
Contact Email
umam.my@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
iks@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial
ISSN : 23033759     EISSN : 26858517     DOI : -
Welfare: Journal Ilmu Kesejahteraan Sosial is designed as a media publication in the form of scientific papers related to social work. The focus of this study discusses the addressing of Persons with Social Welfare Problems.
Arjuna Subject : -
Articles 93 Documents
The Role of Social Workers in Supporting Children with Autism Spectrum Disorder through Activity Daily Living in East Java: Modeling and Behavior Modification Techniques Kristiana, Novi; Cipta Utama, Yudi Harianto; Poerwanti, Sari Dewi
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 11 No. 2 (2022): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2022.112-04

Abstract

This article examines the role of social workers in the development of children with Autism Spectrum Disorder (ASD) through Activity Daily Living (ADL), which are essential activities needed to achieve independence and build social functioning. The study employs a qualitative approach with a case study method, focusing on children with ASD at the UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Balita Sidoarjo. The approaches used include Bandura's Modelling technique, which emphasizes learning through observation, and Skinner's behavior modification, which relies on positive and negative reinforcement. The findings indicate that consistent implementation of ADL helps children with ASD understand and adhere to daily routines while also enhancing their interest in social interactions with peers. However, using Modelling and reinforcement techniques also carries risks, such as the emergence of negative behaviors due to uncontrolled emotional reactions when routines are disrupted. On the positive side, ADL training has increased children's independence, such as making beds and drinking independently. However, continued support from social workers remains necessary. The combination of Modelling and behavior modification techniques, applied sequentially or alternately, has proven effective in maximizing the outcomes of ADL training for children with ASD. However, individual adjustments are required based on each child's responses and needs throughout the training process. This study highlights the importance of a comprehensive and adaptive approach in supporting the development of greater independence in children with ASD. Keywords: Autism Spectrum Disorder, Activity Daily Living, Social Workers   Artikel ini mengkaji peran pekerja sosial dalam perkembangan anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) melalui Activity Daily Living (ADL), yang merupakan aktivitas penting yang dibutuhkan untuk mencapai kemandirian dan membangun keberfungsian sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, yang berfokus pada anak dengan ASD di UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Balita Sidoarjo. Pendekatan yang digunakan termasuk teknik Modelling Bandura, yang menekankan pembelajaran melalui observasi, dan modifikasi perilaku Skinner, yang mengandalkan penguatan positif dan negatif. Temuan menunjukkan bahwa penerapan ADL yang konsisten membantu anak-anak dengan ASD memahami dan mematuhi rutinitas sehari-hari sekaligus meningkatkan minat mereka dalam interaksi sosial dengan teman sebaya. Namun, menggunakan teknik pemodelan dan penguatan juga memiliki risiko, seperti munculnya perilaku negatif karena reaksi emosional yang tidak terkendali ketika rutinitas terganggu. Sisi positifnya, pelatihan ADL telah meningkatkan kemandirian anak, seperti kemampuan merapikan tempat tidur dan minum secara mandiri. Namun, dukungan berkelanjutan dari pekerja sosial tetap diperlukan. Kombinasi teknik pemodelan dan modifikasi perilaku, yang diterapkan secara berurutan atau bergantian, telah terbukti efektif dalam memaksimalkan hasil pelatihan ADL untuk anak-anak dengan ASD. Namun, penyesuaian individu diperlukan berdasarkan respons dan kebutuhan masing-masing anak selama proses pelatihan. Penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan yang komprehensif dan adaptif dalam mendukung pengembangan kemandirian yang lebih besar pada anak-anak dengan ASD. Kata kunci: Autism Spectrum Disorder, Activity Daily Living, Pekerja sosial
Sustainable Development and Green Social Work in Indonesia: A Systematic Review Putri, Risya Ananda; Raharjo, Santoso Tri; Resnawaty, Risna
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 13 No. 1 (2024): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2024.131-02

Abstract

Sustainable development and the role of social workers have emerged as interconnected concepts and essential components for enhancing societal welfare. Nevertheless, the comprehensive approach necessary to mitigate the adverse effects of development is frequently neglected, as the emphasis tends to be placed on profit-driven outcomes rather than on sustainable livelihoods. To address this gap, the current research aims to explore the intersection of green social work in Indonesia, which adopts a holistic perspective, and sustainable development, which is viewed as a long-term objective. A systematic literature review was conducted, resulting in the identification of approximately 17 relevant articles utilizing the PRISMA 2020 methodology. Through content analysis, the study revealed that the disparity in the sustainable development framework from the perspective of social work ethics arises from a predominant focus on economic activities at the expense of socio-environmental considerations. This finding indicates that political ecology influences the formulation of regulations by the state, which reflects neoliberal ideologies and contributes to challenges such as forest fires, environmental pollution, deterioration of freshwater quality, and the degradation of forest ecosystems. Despite the emergence of these negative consequences, several critical factors must be addressed to advance the principles of green social work. These include strengthening the foundational principles and roles of social workers and fostering stakeholder networks as a primary agenda for future development initiatives. This study advocates for the integration of the values and principles of green social work into all activities related to development and welfare by social workers. Keywords: Sustainable Development, Green Social Work, A Systematic Review, Social Workers, Indonesia   Sustainable development and the role of social worker telah menjadi konsep integratif and sumber utama untuk peningkatan kesejahteraan. Namun, pendekatan holistik dalam implikasi negatif dari pembangunan cenderung terabaikan, karena lebih berorientasi kepada profit-oriented daripada kesejahteraan berbasis sustainable livelihoods. Untuk memetakan kesenjangan ini, riset ini hadir untuk mencari titik temu antara green social work sebagai pendekatan holistic dengan sustainable advancement sebagai konsep jangka panjang di Indonesia. Sistematika literatur review digunakan, dan berhasil menemukan topik sekitar 17 articles yang berhasil diekstraksi dengan metode PRISMA 2020. Berdasarkan konten analisis, studi menemukan bahwa kesenjangan konsep pembangunan berkelanjutan dari etika pekerja sosial muncul karena skema tersebut lebih condong pada aktivitas ekonomi daripada socio-environmental approaches. Hal ini mengindikasikan bahwa politik ekologi merupakan penyusunan regulasi negara sebagai ejawantah dari pengusung neoliberalisme, sehingga memicu kebarakan hutan, pencemaran lingkungan, kualitas air segar, dan keterbatasn fungsi hutan. Meskipun implikasi negatif tersebut telah berkembang, ada beberapa aspek penting yang perlu diubah dalam mempromosikan konsep green social work, yaitu prinsip dan peran pekerja sosial harus ditingkatkan dan membangun jaringan stakeholder menjadi agenda utama dalam mempromosikan pembangunan di masa depan. Studi ini merekomendasikan bahwa peran pekerja sosial harus menginternalisasikan nilai dan prinsip green social work dalam segala aktivitas yang berhubungan dengan pembangunan dan kesejahteraan.   Kata kunci: Pembangunan Berkelanjutan, Tinjauan Sistematis, Pekerjaan Sosial, Indonesia
Unraveling Crime Dynamics in Indonesia: Exploring the Impact of Population Density, Poverty, Average Years of Schooling (RLS), and Open Unemployment Rate (TPT) in Java in 2020 Anggaresa, Fathanya Puja; Suryana
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 12 No. 1 (2023): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2023.121-03

Abstract

Abstract: The fluctuating crime rate in Indonesia, particularly in the moderate category, highlights the intricate interplay of various factors influencing criminal activities. This research endeavors to uncover the correlations among different variables contributing to crime by utilizing a cross-sectional approach based on secondary data sourced from the 2021 BPS data. The study discerns a positive correlation between population density and the open unemployment rate (TPT) in relation to crime. Conversely, poverty and the average years of schooling (RLS) exhibit a relatively minor impact. During the examination of these relationships, it became evident that the population density variable exerts both direct and indirect influences on crime. The indirect connection is established through the impact of population density on the poverty rate, which subsequently exerts a positive and direct influence on crime. Consequently, it is apparent that population density stands out as the predominant factor influencing the crime rate on Java Island. To address this, interventions targeting the decomposition of population density are essential, particularly through initiatives aimed at fostering increased solidarity. This is imperative because the correlation between population density and poverty, contributing to an escalation in crime, results in a decline in individual trust levels, fostering competition for resource access. This heightened competition, in turn, precipitates struggles that contribute to the emergence of criminal activities. Keyword; socio-economy factors, path analysis, direct effect, indirect effect Abstrak: Penurunan tingkat kriminalitas di Indonesia yang fluktuatif dengan jumlah kriminalitas dalam kategori sedang mencerminkan keragaman faktor yang mendeterminasi tindakan kejahatan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan antar varibel yang mempengaruhi tindakan kriminalitas dengan menggunakan cross sectional terhadap sumber data sekunder yang diperoleh dari data BPS 2021. Penelitian ini menemukan hubungan positif antara kepadatan penduduk dan tingkat pengangguran terbuka (TPT) terhadap kriminalitas. Sedangkan kemiskinan dan rata-rata lama sekolah (RLS) berpengaruh kecil. Dalam proses pengujian hubungan ditemukan variabel kepadatan penduduk memiliki pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap kriminalitas. Hubungan tidak langsung ditemukan melalui pengaruh kepadatan penduduk terhadap tingkat kemiskinan yang berpengaruh positif dan langsung terhadap kriminalitas, sehingga varibel dominan yang mempengaruhi tingkat kejahatan di Pulau Jawa bersumber dari kepadatan penduduk. Intervensi yang dibutuhkan dalam penguraian kepadatan penduduk diperlukan melalui peningkatan solidaritas. Hal ini disebabkan hubungan kepadatan penduduk terhadap kemiskinan yang menyebabkan peningkatan kejahatan berdampak pada pengurangan tingkat kepercayaan individu yang menjadi pendorong persaingan terhadap akses sumber daya. Persaingan ini pada akhirnya memunculkan perebutan yang memunculkan beragama tindakan kriminalitas. Kata Kunci: faktor sosial ekonomi, analisis jalur, pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung
Empowering the Community or Corporate Image Building?: Analysis of Rengganis Agro Tourism (WAR) in Gunung Gambir Area by PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) XII Febriyanti, Maya Putri; Hendrijanto, Kris; Poerwanti, Sari Dewi
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 12 No. 2 (2023): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2023.122-04

Abstract

PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) XII, as part of its corporate social responsibility, aims to enhance economic activity in the Mount Gambir area through Agro Rengganis Tourism (WAR), with the primary goal of fostering image development through empowerment. This qualitative study seeks to identify the various motives underlying empowerment initiatives in the Mount Gambir region, employing the theory of legitimacy as its perspective. The research reveals that PTPN XII employs an independence model in its empowerment process, focusing on improving community welfare via Rengganis Agro Tourism. This model involves providing the community with the autonomy to identify and harness the potential of their natural surroundings. PTPN serves as a facilitator, offering necessary developmental support such as training and education. This approach proves effective in elevating the standard of living for the local population. However, the study highlights a notable gap in the sustainability aspect of the empowerment process. The current program tends to prioritize image-building and maintaining positive relations between PTPN XII and the community, potentially overlooking long-term sustainability efforts. Keywords: Community empowerment, agrotourism, social welfare   Peningkatan aktivitas perekonomian di kawasan Gunung Gambir melalui Wisata Agro Rengganis (WAR) yang difasilitasi PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) XII sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan mengindikasikan motif pembangunan citra dalam bentuk pemberdayaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi beragam motif yang muncul dari kegiatan pemberdayaan di kawasan Gunung Gambir dengan menggunakan metode kualitatif. Perspektif yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori legitimasi. Penelitian ini menemukan bahwa proses pemberdayaan yang dilakukan PTPN XII untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui Wisata Agro Rengganis ditempuh dengan model kemandirian. Masyarakat diberikan ruang terbuka untuk menentukan dan mengembangkan potensi alam. PTPN berperan sebagai fasilitator yang menyediakan kebutuhan pengembangan, seperti pelatihan dan pendidikan. Mekanisme ini merupakan langkah efektif yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar. Meskipun demikian, upaya keberlanjutan tidak menjadi bagian dari proses pemberdayaan, sehingga program yang dijalankan bertendensi pada pembangunan citra yang tujuannya hanya untuk menjaga hubungan baik antara PTPN XII dengan masyarakat demi keberlanjutan perusahaan. Kata Kunci: Community empowerment, agrotourism, social welfare
A Strength-Based Assessment for Optimizing Local Potential: A Study of Lingga Village, Muara Enim Regency, Indonesia Nastia, Gina Indah Permata; Pratama, Yudhistira Anugerah
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 12 No. 1 (2023): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2023.121-04

Abstract

This study highlights the compelling need for a strength-based assessment model in Corporate Social Responsibility (CSR) initiatives, with a specific focus on Lingga Village. The data identify four integral forms of capital–physical, human, financial, and social–signifying the diverse potential within the community for sustainable development. This research was conducted using a qualitative descriptive analysis method with a total of 619 respondents. The results indicate that Lingga Village has a number of potential strengths and boasts robust Physical Capital, evident in its educational, health, religious, and sports facilities, providing a solid groundwork for a strength-based CSR approach. The concentration in elementary schools offers opportunities for targeted educational initiatives. Human Capital is characterized by a productive population engaged in diverse livelihoods, providing a foundation for skill-building programs and livelihood support. Financial Capital, manifested through asset ownership and participation in assistance programmes, underscores the importance of supporting and expanding existing businesses, enhancing financial literacy and exploring economic empowerment opportunities. Social Capital, reflected in family resilience and community cohesion, highlights the community's strong social network, emphasizing the need for collaborative problem solving and reinforcing familial bonds. Moreover, Lingga Village exhibits rich religious and cultural capital that can be leveraged to support activities that enhance religious knowledge, cultural practices, and community cohesion. A strength-based CSR approach, encompassing education, skills development, economic empowerment, and cultural preservation, holds the potential to empower the Lingga Village community. This model aligns with the principles of social work, emphasizing empowerment, collaboration, positive change in community dynamics, and encouraging long-term sustainability and resilience. Keywords: Corporate Social Responsibility, Strength-based assessment, Lingga Village, Physical human financial and social capital, Sustainable development   Studi ini menyoroti kebutuhan mendesak akan model penilaian berbasis kekuatan untuk inisiatif Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR), dengan fokus khusus pada Desa Lingga. Data yang diperoleh mengidentifikasi empat bentuk modal yang tidak terpisahkan-fisik, manusia, keuangan, dan sosial, yang menandakan beragamnya potensi masyarakat untuk pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan jumlah responden sebanyak 619 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Lingga memiliki sejumlah potensi kekuatan dan memiliki modal fisik yang kuat, terlihat dari fasilitas pendidikan, kesehatan, keagamaan, dan olahraga, yang memberikan dasar yang kuat untuk pendekatan CSR berbasis kekuatan. Konsentrasi pada sekolah dasar menawarkan peluang untuk inisiatif pendidikan yang ditargetkan. Sumber Daya Manusia dicirikan oleh populasi produktif yang terlibat dalam berbagai mata pencaharian, memberikan landasan bagi program-program pengembangan keterampilan dan dukungan mata pencaharian. Modal Finansial, yang diwujudkan melalui kepemilikan aset dan partisipasi dalam program bantuan, menggarisbawahi pentingnya mendukung dan mengembangkan bisnis yang sudah ada, meningkatkan literasi keuangan dan menjajaki peluang pemberdayaan ekonomi. Modal Sosial, yang tercermin dalam ketahanan keluarga dan kohesi masyarakat, menyoroti jaringan sosial masyarakat yang kuat, menekankan perlunya pemecahan masalah secara kolaboratif dan memperkuat ikatan kekeluargaan. Selain itu, Desa Lingga memiliki modal agama dan budaya yang kaya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan yang meningkatkan pengetahuan agama, praktik budaya, dan kohesi masyarakat. Pendekatan CSR berbasis kekuatan, yang mencakup pendidikan, pengembangan keterampilan, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian budaya, memiliki potensi untuk memberdayakan masyarakat Desa Lingga. Model ini selaras dengan prinsip-prinsip pekerjaan sosial, yaitu menekankan pada pemberdayaan, kolaborasi, dan perubahan positif dalam dinamika masyarakat serta mendorong keberlanjutan dan ketahanan jangka panjang. Kata kunci: Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, Assesmen berbasis kekuatan, Desa Lingga, Modal Fisik manusia finansial dan sosial, Pembangunan berkelanjutan
Application of Social Worker Values and Ethics in Handling Neglected Children in Yogyakarta City Muflihati, Abidah; Fiki, Rima Lea; Zakaria, Febiansyah; Rochmasani, Inafisah Luthfiah
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 11 No. 2 (2022): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2022.112-05

Abstract

This research aims to analyze the role of values and ethics in the practice of social workers in handling abandoned children in Yogyakarta City using a  case study method. The research was conducted at the Social Service Office of Yogyakarta City, specifically in the Social Rehabilitation section that employs social workers, and at LKSA Wiloso Projo Yogyakarta. The research subjects include three social workers and three abandoned children under the care of LKSA Wiloso Projo. Data was collected through interviews, observations, and documentation. The study results indicate that social workers have implemented ethical values such as acceptance, confidentiality, accountability, non-judgmental attitude, objectivity, and self-determination. Acceptance helps create a more personal and comfortable relationship with the clients, while confidentiality protects the clients' privacy and maintains trust in interactions. Accountability and transparency are demonstrated at every intervention stage, ensuring that services adhere to applicable ethical standards. A non-judgmental attitude helps foster client openness, which is crucial in social rehabilitation. Objectivity ensures that interventions are carried out professionally without being influenced by personal biases. Meanwhile, self-determination respects the client's right to decide about their future. This research underscores the importance of applying values and ethics in social work practice, which enhances the quality of interventions and builds trust between social workers and clients. Thus, using these values significantly contributes to the success of social interventions and the well-being of abandoned children in Yogyakarta. Application of Social Worker Values and Ethics in Handling Neglected Children in Yogyakarta City Keywords: Values and Ethics in Social Work, Abandoned Children in Yogyakarta, Social Rehabilitation Practices   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran nilai dan etika dalam praktik pekerja sosial dalam menangani anak terlantar di Kota Yogyakarta, dengan menggunakan metode kualitatif jenis studi kasus. Lokasi penelitian dilakukan di Dinas Sosial Kota Yogyakarta, khususnya di bagian Rehabilitasi Sosial yang memiliki pekerja sosial, serta di LKSA Wiloso Projo Yogyakarta. Subjek penelitian mencakup 3 pekerja sosial dan 3 anak terlantar di bawah perawatan LKSA Wiloso Projo. Data diperoleh melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai etika seperti penerimaan, kerahasiaan, akuntabilitas, sikap tidak menghakimi, objektivitas, dan self-determination telah dijalankan dengan baik oleh pekerja sosial. Nilai penerimaan membantu menciptakan hubungan yang lebih personal dan nyaman dengan klien, sementara kerahasiaan melindungi privasi klien dan menjaga kepercayaan dalam interaksi. Akuntabilitas dan transparansi ditunjukkan dalam setiap tahap intervensi, memastikan bahwa layanan yang diberikan sesuai dengan standar etika yang berlaku. Sikap tidak menghakimi membantu membangun keterbukaan dari klien, yang sangat penting dalam proses rehabilitasi sosial. Objektivitas memastikan bahwa intervensi dilakukan secara profesional tanpa terpengaruh oleh prasangka pribadi. Sedangkan self-determination menghormati hak klien untuk mengambil keputusan terkait masa depan mereka. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan nilai dan etika dalam praktik pekerjaan sosial, yang tidak hanya meningkatkan kualitas intervensi, tetapi juga membangun kepercayaan antara pekerja sosial dan klien. Dengan demikian, penerapan nilai-nilai ini berkontribusi signifikan dalam keberhasilan intervensi sosial dan kesejahteraan anak terlantar di Yogyakarta. Kata kunci: Nilai dan Etika Pekerjaan Sosial, Anak Terlantar di Yogyakarta, Praktik Rehabilitasi Sosial
Indigenousity in the empowerment of construction laborers: A case study of the Indonesian Construction Labour Union (SBKI) Gunung Kidul Maulana, Muhammad Husain
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 13 No. 1 (2024): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2023.131-05

Abstract

This study aims to explore the role of local wisdom in the empowerment of construction laborers, focusing on the Indonesian Construction Labour Union (SBKI) in Gunung Kidul, using a qualitative approach. The findings show that these labor communities organically empower themselves through local traditions such as guys rukun and gotong royong, which not only build social solidarity but also strengthen labor organizations. Initiatives that emerge from within the community, both through labor rights advocacy and other empowerment activities, show that construction workers are able to utilize their local resources and potential to achieve welfare. This strong indigenousity within the community serves as important social capital in building organizational foundations, supporting advocacy processes, and empowering the community. The success of this empowerment initiative emphasizes the importance of respecting indigenousity in community development and demonstrates that communities can develop their own potential without the need for excessive external intervention. This indigenousity can ultimately serve as a model for other communities facing similar challenges. Keywords: Local wisdom, Labour union, Community empowerment   Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran indigenousitas dalam pemberdayaan buruh kuli bangunan, dengan fokus pada Serikat Buruh Konstruksi Indonesia (SBKI) di Gunung Kidul. dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Temuan menunjukkan bahwa komunitas buruh ini secara organik memberdayakan diri melalui tradisi lokal seperti guyub rukun dan gotong royong, yang tidak hanya membangun solidaritas sosial tetapi juga memperkuat organisasi buruh. Inisiatif yang muncul dari dalam komunitas, baik melalui advokasi hak-hak buruh maupun aktivitas pemberdayaan lainnya, menunjukkan bahwa buruh kuli bangunan mampu memanfaatkan sumber daya dan potensi lokal mereka untuk mencapai kesejahteraan. Indigenousitas yang kokoh dalam komunitas ini berfungsi sebagai modal sosial yang penting dalam membangun fondasi organisasi, mendukung proses advokasi, dan memberdayakan komunitas. Keberhasilan inisiatif pemberdayaan ini menegaskan pentingnya penghargaan terhadap indigenousitas dalam pengembangan masyarakat dan menunjukkan bahwa komunitas dapat mengembangkan potensi mereka sendiri tanpa perlu intervensi eksternal yang berlebihan. Indigenousitas ini akhirnya dapat menjadi model bagi komunitas lain yang menghadapi tantangan serupa. Kata Kunci: Kearifan lokal, Serikat buruh, Pemberdayaan komunitas
Addressing Street Children, Vagrants, and Beggars through the Role of Community Social Workers in Yogyakarta A Practical and Theoretical Approach Niswatun Hasanah; Karimah, Fatha
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 13 No. 1 (2024): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2024.131-01

Abstract

This paper aims to address the increasing phenomenon of social problems in society, such as street children, homeless individuals, and beggars, which require serious attention. This phenomenon is of particular interest to be studied in depth in order to find appropriate solutions for these social issues. One of the key players in addressing these problems is social volunteers, also known as Community Social Workers. This research focuses on the role of Community Social Workers in handling street children, the homeless, and beggars in Yogyakarta. Using a descriptive qualitative approach, this paper analyzes the role of Community Social Workers based on Ministerial Regulation No. 10 of 2019. The study highlights the importance of collaboration between Community Social Workers and government social institutions in Yogyakarta. The findings indicate that the role of Community Social Workers in addressing these social issues reflects their empathy, care, and dedication to serving the community of Yogyakarta. Keywords: Community Social Workers, Street Children, Homeless, Beggars, Social   Tulisan ini bertujuan untuk menjawab fenomena meningkatnya permasalahan sosial di masyarakat, seperti anak jalanan, gelandangan, dan pengemis, yang membutuhkan penanganan serius. Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih dalam guna menemukan solusi yang tepat dalam mengatasi permasalahan sosial tersebut. Salah satu pihak yang berperan dalam penanganan masalah ini adalah relawan sosial, atau yang dikenal sebagai Pekerja Sosial Masyarakat. Penelitian ini berfokus pada peran Pekerja Sosial Masyarakat dalam menangani anak jalanan, gelandangan, dan pengemis di Yogyakarta. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, tulisan ini menganalisis peran Pekerja Sosial Masyarakat berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Nomor 10 Tahun 2019. Penelitian ini menekankan pentingnya kerjasama antara Pekerja Sosial Masyarakat dengan lembaga-lembaga sosial pemerintah di Kota Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Pekerja Sosial Masyarakat dalam menangani permasalahan sosial ini merupakan wujud empati, kepedulian, dan jiwa pengabdian terhadap masyarakat Kota Yogyakarta. Kata Kunci: Pekerja Sosial Masyarakat , Anak Jalanan, Gelandangan, pengemis, sosial
Understanding Pornography Access Behavior Among Children and Adolescents with Disabilities: A Mixed-Methods Study Nurtarisa; Prahastuti, Nurul Fajriyah; Harfi Alfiah; Umi Kholifah
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 12 No. 1 (2023): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2023.121-05

Abstract

This study aims to explore the behavior of children and adolescents with disabilities in accessing pornography at the SLB Negeri 1 Panjatan Dormitory, Kulon Progo. Children and adolescents with disabilities face challenges in cognitive development, including understanding sexual issues, which is further exacerbated by heightened curiosity during puberty. This research employs a mixed-method approach, combining quantitative methods through questionnaires and qualitative methods through in-depth interviews, observation, and documentation. The results show that 69% of respondents exhibit moderate levels of behavior in accessing pornography, which aligns with previous literature on the vulnerability of cognitively impaired children to inappropriate content. The study also reveals no significant difference between males and females in this behavior, contrasting with findings in the general population where males tend to be more dominant. The primary reason for accessing pornography is curiosity, compounded by limited access to appropriate reproductive health education. Furthermore, peers play a crucial role in providing information about accessing pornography, with 69% of respondents stating they received such information from their friends. These findings highlight the need for interventions through proper sex education, social environment supervision, and controlled access to technology to mitigate the negative impacts of pornography exposure on children and adolescents with disabilities. Keywords: pornography access behavior, children and adolescents with disabilities, sex education, peer influence, cognitive limitations.   Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perilaku anak dan remaja penyandang disabilitas dalam mengakses pornografi di Asrama SLB Negeri 1 Panjatan, Kulon Progo. Anak-anak dan remaja penyandang disabilitas menghadapi tantangan dalam perkembangan kognitif, termasuk dalam memahami isu-isu seksual, yang diperparah dengan rasa ingin tahu yang tinggi selama masa pubertas. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mix methods), dengan pendekatan kuantitatif melalui kuesioner dan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69% responden berada pada kategori sedang dalam perilaku mengakses pornografi, yang sejalan dengan literatur sebelumnya tentang kerentanan anak-anak dengan keterbatasan kognitif terhadap konten yang tidak pantas. Penelitian ini juga mengungkap bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam perilaku ini, berbeda dengan temuan di populasi umum yang menunjukkan kecenderungan laki-laki lebih dominan. Alasan utama mengakses pornografi adalah rasa penasaran, yang diperkuat oleh kurangnya akses terhadap pendidikan kesehatan reproduksi yang sesuai. Selain itu, teman sebaya menjadi faktor utama dalam memberikan informasi mengenai akses pornografi, dengan 69% responden mengaku mendapatkannya dari teman. Temuan ini menekankan perlunya intervensi melalui pendidikan seks yang tepat, pengawasan lingkungan sosial, serta kontrol terhadap akses teknologi untuk mengurangi dampak negatif dari paparan konten pornografi pada anak dan remaja penyandang disabilitas. Kata kunci: perilaku mengakses pornografi, anak dan remaja penyandang disabilitas, pendidikan seks, teman sebaya, keterbatasan kognitif.
Nurturing Social Skills in Adolescents: Patterns of Development in Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Muhammadiyah Kota Bandung Hassa Yanura Khairina; Yoyoh Jubaedah; Nenden Rani Rinekasari
WELFARE : Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 12 No. 2 (2023): WELFARE: Jurnal Ilmu Kesejahtaraan Sosial
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/welfare.2023.122-02

Abstract

 Enhancing social skills in adolescents facing complex challenges, such as those residing in orphanages, follows a distinct trajectory compared to their counterparts living with families. This research endeavors to uncover the nuanced patterns of adolescent social skill development within the Muhammadiyah Child Welfare Institution (LKSA) in Bandung City. Employing a qualitative methodology with an intervention theory approach in casework, this study seeks to identify strategies for improving social skills. The results indicate that the enhancement of social skills among adolescents in LKSA Muhammadiyah Bandung City is achieved by addressing aspects of peer relations, self-management, and compliance. This is facilitated through increased adolescent participation, the cultivation of emotional intelligence, and the promotion of productive self-management. These interventions contribute to heightened self-identity and independence in social activities among adolescents. The cultivation of self-reliance becomes integral to improving adolescents' societal functioning, leading to an augmentation in social community acceptance. This positive transformation stems from bolstering the mental and physical readiness of adolescents through affective and psychomotor strengthening. Keywords: Caregiver, Social Skills, Early Adolescents   Peningkatan keterampilan sosial pada remaja yang memiliki kompleksitas problem, seperti remaja yang berada di panti asuhan memiliki pola berbeda dengan remaja yang hidup bersama keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola peningkatan keterampilan sosial remaja di Lembaga Kesejateraan Anak (LKSA) Muhammadiyah di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori intervensi dalam casework. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan sosial pada remaja di LKSA Muhammadiyah Kota Bandung dicapai dengan peningkatan pada aspek peer relation skills, self-management skill, and compliance skill melalui peningkatan partisipasi remaja, pembangunan intelegensi emosional, dan pengelolaan diri secara produktif. Tiga aspek yang dilakukan mengarah pada peningkatan identitas diri dan kemandiran remaja dalam aktivitas sosialnya. Penanaman terhadap kemandirian diri merupakan bagian dari peningkatan keberfungsian remaja dalam masyarakat agar aspek penerimaan komunitas sosialnya semakin meningkat. Peningkatan tersebut dihasilkan dari penanaman kesiapan mental dan fisik remaja melalui penguatan afektif dan psikomotorik. Kata Kunci: Pengasuh, Keterampilan Sosial, Remaja Awal

Page 8 of 10 | Total Record : 93