cover
Contact Name
Richa Mardianingrum
Contact Email
j.pharmacosript@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
j.pharmacosript@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pembela Tanah Air No.177, Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacoscript
ISSN : 26224941     EISSN : 26851121     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Pharmacoscript merupakan jurnal penelitian yang dikelola oleh Prodi Farmasi dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Perjuangan Tasikmalaya (P-ISSN: 2622-4941 E-ISSN: 2685-1121) Jurnal ini merupakan media publikasi penelitian dan review artikel pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif, kreatif, original dan didasarkan pada scientific yang diterbitkan 2 kali dalam 1 tahun yakni pada bulan Agustus dan Februari. Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia farmasi, teknologi farmasi, farmakologi, biologi farmasi, farmasi klinik, dan bioteknologi farmasi.
Arjuna Subject : -
Articles 206 Documents
PENINGKATAN SIFAT FISIKOKIMIA KELARUTAN DAN DISOLUSI RAMIPRIL DENGAN KRISTAL MULTIKOMPONEN MENGGUNAKAN KOFORMER GOLONGAN ASAM KARBOKSILAT Muhamad Reza, Pahlevi; M. Ramadhan, Saputro; Jajang Japar, Sodik; Reza, Pratama
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2040

Abstract

Salah satu tantangan utama pengembangan obat saat ini adalah kelarutan yang buruk, karena diperkirakan 40% dari semua obat yang baru dikembangkan memiliki kelarutan dan permeabilitas yang buruk. Akibatnya, kandidat baru yang memasuki jalur pengembangan obat gagal karena sifat biofarmasi yang tidak optimal. Ramipril termasuk ke dalam BCS kelas II dengan nilai pKa 5,2 dan memiliki kelarutan air yang buruk dengan nilai bioavailabilitas yang rendah yaitu 28%. Absorbsi ramipril setelah pemberian oral yaitu 50%-60%. Keterbatasan sifat fisikokimia yang dimiliki ramipril dapat diatasi dengan modifikasi kristal salah satunya dengan pembentukkan kristal multikomponen menggunakan teknik kokristalisasi. Pendekatan dalam memperbaiki sifat fisikokimia ramipril dengan konteks kelarutan dan disolusi masih jarang dilakukan, sehingga dengan teknik kokristalisasi dalam modifikasi kristal ramipril menjadi suatu novelty dalam penelitian ini. Pendekatan dengan kristal multikomponen bertujuan untuk meningkatkan sifat fisikokimia ramipril seperti kelarutan dan disolusi. Metode yang digunakan dalam preparasi kristal multikomponen dengan teknik kokristalisasi yaitu liquid assisted grinding menggunakan koformer golongan asam karboksilat seperti asam tartrat dengan perbandingan 1:1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelarutan kristal multikomponen ramipril 4,35 mg/10 mL dan ramipril murni 1,69 mg/10 mL dalam aquadest. Kristal multikomponen ramipril terdisolusi 73,27% dan ramipril murni 51,74% selama 60 menit menggunakan media aquadest. Modifikasi kristal ramipril menggunakan teknik kristal multikomponen menggunakan metode liquid assisted grinding memberikan dampak perubahan sifat fisikokimia dalam meningkatkan kelarutan dan laju disolusi.
IDENTIFIKASI PENGGUNAAN OBAT HIGH ALERT PADA PASIEN LANSIA DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH GAMPING BERDASARKAN BEERS CRITERIA Woro, Supadmi; Bahrul Adhim, Rahmana; Joko, Sudibyo
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2045

Abstract

Pasien lanjut usia (lansia) adalah pasien yang sering dikaitkan dengan berbagai penyakit dan penurunan fungsi organ sehingga berisiko lebih besar pada saat menggunakan obat. Penggunaan obat high alert pada lansia perlu kewaspadaan. High alert merupakan obat yang memiliki risiko tinggi menimbulkan efek berbahaya jika penggunaannya tidak tepat. Beers Criteria merupakan salah satu alat untuk mengidentifikasi penggunaan obat pada pasien lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat high alert mengacu dalam daftar ISMP dan kajian berdasarkan beers criteria 2019 pada pasien lanjut usia di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional secara retrospektif. Jumlah sampel ditentukan berdasarkan rumus slovin dan diperoleh 417 sampel. Data diambil dari rekam medik elektronik RS PKU Muhammadiyah Gamping periode Juni – Agustus 2023 yang mendapatkan terapi obat high alert. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menghitung persentase golongan obat high alert yang paling banyak digunakan dan persentase kajian terapi obat high alert berdasarkan beers criteria 2019. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa dari 417 pasien terdapat 233 (55,88%) pasien laki-laki dan 184 (44,12%) pasien perempuan dan dari 643 penggunaan obat high alert berdasarkan ISMP, obat yang paling banyak digunakan adalah obat golongan insulin dengan persentase 39,35%. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa dari seluruh sampel penelitian penggunaan obat high alert pada pasien lanjut usia di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping, terdapat 380 (59,10%) obat masuk dalam beers criteria 2019 sebagai obat yang berpotensi tidak tepat, sementara 263 (40,90%) tidak masuk dalam beers criteria 2019.
EFIKASI DAN KEAMANAN INHIBITOR PCSK9 DALAM PENCEGAHAN STROKE ISKEMIK: LITERATURE REVIEW Shofia Ummu, Lathifa; Suharjono, Suharjono
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2047

Abstract

Stroke iskemik merupakan kelainan neurologis yang ditandai dengan berkurangnya suplai darah ke otak sehingga mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi kemudian menjadi nekrotik. salah satu penyebab stroke iskemik yang paling umum adalah terbentuknya aterosklerosis yang dikaitkan dengan kejadian stroke berulang. Penggunaan inhibitor PCSK9 dapat diberikan sebagai terapi pencegahan stroke iskemik dan kejadian stroke berulang sehingga perlu dilakukan kajian tentang efikasi dan keamanan inhibitor PCSK9 dalam pencegahan stroke dan penurunan angka kejadian stroke berulang. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pencarian artikel dibatasi pada rentang waktu antara 2013 – 2023. Inhibitor PCSK9 secara signifikan dapat menurunkan LDL-C dan trigliserida sehingga mengurangi pembentukan aterosklerosis yang merupakan penyebab utama kejadian stroke. Kesimpulannya, inhibitor PCSK9 dapat digunakan sebagai pencegahan stroke iskemik dan stroke berulang tetapi pada beberapa penelitian belum menunjukkan keamanan ditandai dengan adanya efek samping kejang dan reaksi terhadap tempat suntikan sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
IN SILICO STUDY OF APIGENIN AND ITS DERIVATIVES AS POTENTIAL INHIBITORS OF TNF-Α AND MMP-9 FOR BURN WOUND HEALING Baharun, Rasyid; Rini Madyastuti, Purwono; Bayu Febram, Prasetyo; Vetnizah, Juniantito
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2062

Abstract

The prevalence of burns ranks fourth in trauma after traffic accidents, falls, and violence. The prevalence of burns ranks fourth in trauma after traffic accidents, falls, and violence. The healing of burn wounds results from a complex inflammatory response where pro-inflammatory cytokines, for instance, TNF-α and MMP-9, play a pivotal role. Flavonoids with strong anti-inflammatory activity are apigenin, this compound comes from plants. In this study, we evaluated apigenin and its derivatives to determine their effectiveness as burn wound healing agents using molecular docking modeling techniques. To evaluate the molecular docking of these compounds with their target proteins, we used computer-aided drug design tools such as AutoDock Vina, PyMOL, and Discovery Studio. The data showed that apigenin compounds have better affinity than natural ligands to inhibit MMP-9 which can increase the rate of the inflammatory phase of burn wound healing. These findings indicate that apigenin and its derivatives have good potential to be candidates in the development of new therapeutic interventions for burn wound healing.
CHARACTERIZATION AND ANTIOXIDANT ACTIVITY OF KALAKAI (Stenochlaena palustris) LEAVES EXTRACT IN NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER SYSTEM Fahrina, Nurhaliza; Aris, Fadillah; Muhammad, Fauzi
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2066

Abstract

Exposure to ultraviolet light can cause damage and death of skin cells through multiple mechanisms, including the formation of free radicals that can cause hyperpigmentation, erythema, sunburn, photo-aging, and even skin cancer. Kalakai (Stenochlaena palustris) is a typical Kalimantan plant with the ability to be a high antioxidant. However, it is still very rarely utilized. Kalakai leaves contain polyphenolic groups that function as free radical antidotes, as well as flavonoid compounds that can stabilize radical compounds. Various technology-based drug delivery systems have been developed to improve therapeutic effectiveness, including nanotechnology. Nanostructured lipid carrier (NLC) is the second-generation lipid-based carrier designed to overcome the limitations of previous-generation lipid-based carriers. This system consists of a mixture of and unstructured due to their different constituent parts. This research will develop a formula for kalakai leaf extract in a nanostructured lipid carrier system using the emulsification-sonication method. Based on the data, the characteristics of kalakai leaf extract in a nanostructured lipid carrier system that meet the standards are F1 (5%) and F2 (10%). Among the three formulas, F3 showed the highest IC50 value compared to F1 and F2, which is 14,967 ± 0,240 with powerful antioxidant activity, followed by F2 with an IC50 value of 24,186 ± 1,797, and F1 with IC50 value of 65,504 ± 5,041.
QUANTIFICATION OF TOTAL FLAVONOID CONTENT IN FRACTIONATED YOUNG LEAF EXTRACTS OF RED SHOOT LEAVES (Syzygium myrtifolium) USING UV-VIS SPECTROPHOTOMETRY Vilya, Syafriana; Rika, Amelia; Nissa, Maftucha; Munawarohthus, Sholikha; Windri, Handayani; Yasman, Yasman
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2075

Abstract

Syzygium myrtifolium (red shoot leaves) is widely known for its rich phytochemical profile, particularly flavonoids, which exhibit various pharmacological properties. This study aimed to determine the total flavonoid content in the crude extract, n-hexane fraction, ethyl acetate fraction, and water fraction of red shoot leaves (Syzygium myrtifolium) using a colorimetric method with quercetin as a standard. The results revealed that the ethyl acetate fraction had the highest flavonoid content (65.781 ± 6.365 mgQE/g), followed by the crude extract (26.093 ± 0.961 mgQE/g), n-hexane fraction (18.293 ± 2.925 mgQE/g), and water fraction (12.583 ± 0.824 mgQE/g). The study also found that the solvent polarity significantly influenced the flavonoid extraction efficiency, with ethyl acetate, a moderately polar solvent, being most effective for isolating flavonoid aglycones. The n-hexane fraction contained polymethyl flavonoids, which are more soluble in nonpolar solvents, while flavonoid glycosides were more soluble in polar solvents like water and alcohol mixtures. Furthermore, the research highlights the importance of extraction methods, as the total flavonoid content in mature red shoot leaves was found to be higher than in younger leaves, likely due to increased secondary metabolite production in mature tissues. This study emphasizes the role of solvent polarity in flavonoid extraction and provides insights into the phytochemical composition of S. myrtifolium leaves for potential applications in natural product research.
FORMULASI DAN UJI KARAKTERISTIK GRANUL INSTAN POLIHERBAL BANGJALE (BANGLE, JAHE, DAN LEMON) SEBAGAI ANTIOKSIDAN Nur, Aji; Shandra Isasi , Sutiswa
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2078

Abstract

Pada penelitian sebelumnya, serbuk instan kombinasi rimpang bangle, rimpang jahe dan sari buah lemon telah terbukti memiliki aktivitas antioksidan. Formulasi dalam serbuk instan dengan maltodekstrin DE 18-20 sebagai bahan pengisi dan PEG-40 HCO sebagai peningkat kelarutan menghasilkan serbuk instan yang baik dalam hal kelarutan, akan tetapi daya alirnya kurang baik. Salah satu upaya memperbaiki kekurangan tersebut peneliti melakukan pengembangan produk dalam bentuk granul dan penambahan anti adheren. Penelitian tentang pengembangan produk kombinasi bangle, jahe dan lemon untuk memperoleh sediaan dengan karakteristik yang baik dalam bentuk sediaan granul instan. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium yang terbagi menjadi empat tahap pengerjaan. Pertama adalah penyiapan bahan uji dan pengujian parameter bahan. Tahap kedua, optimasi basis granul instan. Tahap ketiga, formulasi granul instan bangle jahe dan lemon. Tahap keempat, uji aktivitas antioksidan  mengunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) dari sediaan granul instan dan uji karakteristik sediaan granul instan. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak rimpang jahe, ekstrak rimpang bangle, dan sari buah lemon memiliki aktivitas anti oksidan dengan kategori kuat. Optimasi penggunaan PVP 2% sebagai pengikat pada menghasilkan granul dengan presentase paling banyak sebesar 52,1%. Formulasi granul bangjale (Bangle, jahe dan lemon) dengan penambahan aerosil menghasilkan granul dengan karakteristik sifat alir, faktor Hausner, kecepatan alir, dan sudut istirahat yang baik. Granul instan yang dihasilkan memiliki aktivitas antioksidan dengan kategori kuat. Formulasi Bangjale (bangle, jahe, dan lemon) dalam sediaan granul instan dengan penambahan aerosil dapat memperbaiki karakteristik granul terutama sifat alirnya.
FORMULATION AND ANTIOXIDANT ACTIVITY TEST OF PEEL OFF GEL MASK KOMBUCHA BUNGA TELANG USING THE DPPH METHOD Yayan, Rizikiyan; Fasiha Nur, Fadila; Ine, Suharyani; Renny, Amelia
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2079

Abstract

Free radicals are unpaired molecules that can cause damage to body cells. This cellular damage can be countered with natural antioxidants derived from plants, one of which is butterfly pea flower, when combined with kombucha, resulting in butterfly pea kombucha that has better antioxidant activity for the body. Peel-off gel masks are facial cosmetic preparations that have a gel-like consistency when applied to the face. After a certain period, they dry and form a film layer that can be peeled off. The concentrations of butterfly pea flower kombucha used were 5%, 7.5%, and 10%. The purpose of the study was to determine the antioxidant activity of the butterfly pea flower kombucha peel-off gel mask using the DPPH method and to obtain the optimum formula. The DPPH method was used to assess the ability of the antioxidant activity to inhibit DPPH. The evaluation of the peel-off gel mask formulation was conducted through organoleptic testing, homogeneity, pH, spreadability, adhesion, drying time, viscosity, and flow properties. To determine antioxidant activity, antioxidant activity testing was performed using a UV-Vis spectrophotometer. The results of the evaluation of the peel-off gel mask formulations 1, 2, and 3 fulfill all testing requirements, with antioxidant activity showing IC50 values of 56.03 ppm ± 0,02 for Formula 1, 52.50 ppm ± 0,02 for Formula 2, and 49.32 ppm ± 0,04 for Formula 3
OPTIMASI METODE EKSTRAKSI TERHADAP KADAR FLAVONOID TOTAL DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ASETON DAGING KERANG DARAH (Anadara granosa) Juliana, Baco; Citra, Dewi; Mus, Ifaya; Mulyadi, Prasetyo; Syawal, Abdurrahman; Nesha, Repista
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2086

Abstract

Kerang darah (Anadara granosa) merupakan kelompok famili Arcidae, yang diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan mengandung berbagai senyawa bioaktif salah satunya flavonoid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode maserasi dan sonikasi terhadap kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan ekstrak aseton kerang darah (Anadara granosa). Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental, sampel kerang darah (Anadara granosa) diekstraksi dengan metode maserasi dan sonikasi menggunakan pelarut aseton, untuk penentuan kadar flavonoid total ditentukan dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 436 nm, adapun uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH yang diukur dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak aseton kerang darah (Anadara granosa) melalui uji skrining positif mengandung flavonoid, alkaloid, dan terpenoid. Hasil uji kadar flavonoid total menggunakan metode maserasi memiliki kadar flavonoid 584,03 mgQE/g ekstrak atau sebesar 58,4% b/v mg/ml, sedangkan ekstrak aseton kerang darah (Anadara granosa) menggunakan metode sonikasi memiliki kadar flavonoid 662,7 mgQE/g ekstrak atau sebesar 66,2% b/v mg/ml. Hasil uji aktivitas antioksidan dari ekstrak aseton kerang darah (Anadara granosa) menggunakan metode maserasi yang dinyatakan dalam nilai IC50 diperoleh sebesar 64,18 μg/mL dengan kategori antioksidan kuat, sedangkan hasil uji aktivitas antioksidan dari ekstrak aseton kerang darah (Anadara granosa) menggunakan metode sonikasi diperoleh sebesar 48,66 μg/mL dengan kategori antioksidan sangat kuat. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan melakukan fraksinasi senyawa flavonoid dan juga membuat sediaan farmasi yang cocok dari ekstrak aseton kerang darah (Anadara granosa) yang mempunyai aktivitas antioksidan.
IN VITRO AND MOLECULAR DOCKING ANALYSIS OF NUTMEG EXTRACT ANTIBACTERIAL ACTIVITY AGAINST Propionibacterium acnes Angga Saputra, Yasir; Indah Puspita, Sari; Veni Putri, Nurhayati; Aida Febina, Sholeha
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2107

Abstract

This study investigated the antibacterial activity of nutmeg (Myristica fragrans Houtt.) extract against Propionibacterium acnes  through in vitro and molecular docking approaches. The nutmeg flesh was extracted using ultrasonication with 96% ethanol, yielding 8.21% extract. Phytochemical screening revealed the presence of alkaloids, flavonoids, tannins, and steroids. The antibacterial activity was evaluated using the microdilution method, determining Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) values of 0.5% and 1%, respectively. Molecular docking analysis was performed to understand the interaction between nutmeg's bioactive compounds and three essential Propionibacterium Acnes proteins: Sialidase (7LBV), lipase (5H6G), and Penicillin-Binding Protein 2 (3UPO). Among the tested compounds, myristicin showed the strongest binding affinity with 7LBV (-6.8 kcal/mol), while lignan exhibited notable interactions with 3UPO (-6.6 kcal/mol) and 5H6G (-5.9 kcal/mol). The molecular interactions were primarily stabilized through hydrophobic interactions and hydrogen bonding with specific amino acid residues. These findings suggest that nutmeg extract possesses significant antibacterial activity against Propionibacterium Acnes, potentially mediated through multiple molecular targets, supporting its development as a natural anti-acne ingredient.