cover
Contact Name
Richa Mardianingrum
Contact Email
j.pharmacosript@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
j.pharmacosript@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pembela Tanah Air No.177, Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacoscript
ISSN : 26224941     EISSN : 26851121     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Pharmacoscript merupakan jurnal penelitian yang dikelola oleh Prodi Farmasi dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Perjuangan Tasikmalaya (P-ISSN: 2622-4941 E-ISSN: 2685-1121) Jurnal ini merupakan media publikasi penelitian dan review artikel pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif, kreatif, original dan didasarkan pada scientific yang diterbitkan 2 kali dalam 1 tahun yakni pada bulan Agustus dan Februari. Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia farmasi, teknologi farmasi, farmakologi, biologi farmasi, farmasi klinik, dan bioteknologi farmasi.
Arjuna Subject : -
Articles 206 Documents
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SERUM WAJAH BERBASIS EKSTRAK ETANOL DAUN SUKUN (Artocarpus altilis) SEBAGAI PRODUK KOSMETIK ALAMI Anisa Dhea, Octavia; Lina Rahmawati, Rizkuloh; Salsabila, Adlina
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2253

Abstract

Ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus altilis) berpotensi menjadi sumber antioksidan alami untuk mengatasi masalah penuaan dini dan kerusakan kulit akibat radikal bebas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan formulasi serum wajah berbahan dasar ekstrak daun sukun dan mengevaluasi aktivitas antioksidannya. Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi dengan perbandingan simplisia terhadap pelarut sebesar 1:10. Simplisia direndam dalam wadah tertutup dengan penggantian pelarut secara bertahap setiap 24 jam selama 3 hari pada suhu 500C, lalu dilakukan skrining fitokimia pada ekstrak yang mengkonfirmasi keberadaan senyawa flavonoid serta tanin. Sediaan serum wajah dibuat menggunakan seri konsentrasi ekstrak 0% (F0), 0,25% (F1), 0,5% (F2), dan 0,75% (F3). Hasil uji evaluasi fisik semua sediaan homogen, daya sebarnya berada di rentang 5,0-7,0 cm, nilai pH di rentang 6,9-8,0, serta nilai viskositas berada pada rentang 2000-5000 mPa.S.  Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH menghasilkan angka IC₅₀ 44,14 ppm (F0), 27,80 ppm (F1), 16,73 ppm (F2), dan 4,08 ppm (F3), yang tergolong sangat kuat. Sehingga berpotensi sebagai alternatif bahan aktif dalam produk perawatan kulit berbasis bahan alami.
STUDI KEMOMETRIK SPEKTRUM INFRAMERAH BUAH CABAI JAWA (Piper retrofractum Vahl.) DARI BERBAGAI DAERAH DI INDONESIA Melvia, Sundalian; Sri Gustini, Husein; Tatik, Rokayah
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2256

Abstract

Cabai Jawa (Piper retrofractum Vahl.) merupakan tanaman herbal yang banyak dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk membantu mengatasi berbagai kondisi, seperti asma, gangguan pencernaan, kelelahan, dan infeksi. Aktivitas farmakologisnya berkaitan erat dengan kandungan metabolit sekunder, yang komposisinya dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, varietas, dan asal geografis. Perbedaan komposisi ini sulit diidentifikasi secara akurat menggunakan metode konvensional, sehingga diperlukan pendekatan kemometrik untuk memetakan variasi kimianya. Penelitian ini bertujuan menganalisis profil spektral buah Cabai Jawa dari berbagai daerah di Indonesia menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR), serta mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan karakteristik kimia antar sampel melalui Principal Component Analysis (PCA) dan analisis klaster. Sampel buah kering yang diperoleh dari Bandar Lampung, Bengkulu, Jember, Madura, Malang, Pamekasan, Pati, Sleman, Sumenep, dan Tanggamus dianalisis menggunakan FTIR tanpa proses ekstraksi, pada rentang bilangan gelombang 4000–500 cm⁻¹. Data spektrum kemudian diolah dengan PCA dan analisis klaster. Hasil skrining fitokimia dan analisis FTIR menunjukkan keberadaan gugus fungsi yang terkait dengan metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, fenol, saponin, steroid, dan tanin. PCA menghasilkan varians kumulatif sebesar 99%, dengan pengelompokan Malang–Jember, Madura–Sumenep–Pamekasan, serta Bandar Lampung–Tanggamus, sementara perbedaan paling menonjol ditemukan pada Pati dan Sleman. Analisis klaster mengonfirmasi terbentuknya kelompok alami sesuai kesamaan spektral. Pendekatan kemometrik terbukti efektif dalam membedakan dan mengelompokkan profil kimia Cabai Jawa, serta berpotensi mendukung autentikasi geografis dan pengendalian mutu bahan baku herbal di Indonesia.
KARAKTERISASI, SKRINING FITOKIMIA, IDENTIFIKASI DAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOL KULIT JERUK BABY (Citrus sinensis L. Osbeck) Fitratul, Wahyuni; Vivi, Sofia; Widya, Kardela
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2257

Abstract

Kulit jeruk baby (Citrus sinensis L. Osbeck) merupakan limbah pertanian yang berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi, skrining fitokimia, identifikasi, serta penentuan kadar flavonoid total pada ekstrak etanol kulit jeruk baby. Proses penyarian dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Untuk menentukan parameter spesifik dan  nonspesifik simplisia kulit jeruk baby, dilakukan uji organoleptik, pengukuran kadar air, total kadar abu, kadar abu larut asam, serta susut pengeringan. Skrining fitokimia dilakukan menggunakan berbagai reagen untuk mengidentifikasi metabolit sekunder yang terkandung dalam kulit jeruk baby. Identifikasi flavonoid dilakukan dengan teknik kromatografi lapis tipis (KLT), sedangkan kadar flavonoid total ditentukan melalui spektrofotometri UV-Vis dengan AlCl₃ sebagai pereaksi dan rutin sebagai standar pembanding. Hasil pengukuran kadar air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam dan susut pengeringan bertuturut-turut sebesar 2,47%; 2,33%; 0,84% dan 5,90%. Pemeriksaan fitokimia pada ekstrak etanol menunjukkan hasil positif untuk alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Kandungan flavonoid total yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 1,61 ± 0,036%.
PENGARUH PENGETAHUAN PASCA KONSELING TERHADAP KEPATUHAN TERAPI ANTIRETROVIRAL PADA ODHIV DI RUMAH SAKIT X GARUT Genialita, Fadhilla; Doni Anshar, Nuari; Risa, Susanti; Asri Dewi, Latiefah; Ai, Nurazizah
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2258

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat berkembang menjadi penyakit Acquired Immuno deficiency Syndrome (AIDS). Orang dengan HIV (ODHIV) memerlukan terapi seumur hidup karena virus tidak dapat dieliminasi, namun dapat dikontrol melalui terapi antiretroviral (ARV). Kepatuhan terapi menjadi kunci keberhasilan, dan konseling berperan penting dalam meningkatkan pemahaman pasien terhadap penyakit dan pengobatannya guna menekan jumlah virus dalam tubuh. Tujuan penelitian ini yaitu menilai pengaruh pengetahuan ODHIV yang telah mendapatkan konseling terhadap kepatuhan dalam terapi antiretroviral di salah satu rumah sakit di Garut. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Sampel didapatkan menggunakan teknik purposive sampling.  Data diambil secara konkuren menggunakan kuesioner dengan skala pengukuran Guttman. Skor total dari kuesioner pengetahuan terapi ARV diklasifikasikan menjadi kategori baik (76-100%), cukup (60-75%), dan kurang (<60%). Skor dari kuesioner kepatuhan terapi ARV dikategorikan menjadi baik (skor > median) dan buruk (skor < median). Untuk menilai pengaruh antara pengetahuan dan kepatuhan terapi ARV dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman’s rho dengan p-value <0.05. Hasil menunjukkan 81% responden memiliki pengetahuan yang terapi ARV yang baik dan 93% responden memiliki kepatuhan terapi ARV yang baik. Berdasarkan uji korelasi menunjukkan adanya pengaruh yang kuat antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan terapi ARV (p<0.05). Hal ini menunjukkan semakin baik pengetahuan pasien, maka semakin patuh pasien menjalani terapi ARV.
FORMULASI, KARAKTERISASI, DAN STABILITAS GEL NIOSOM EKSTRAK KULIT NANAS (Ananas comosus (L.) Merr) SEBAGAI ANTIOKSIDAN Ai Rian , Julyanti; Widia Primi, Annisya; Fauzan Sebastian, Ramadhan; Vilsa, Purnama; Nizzar Nazzah, Nugraha
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2295

Abstract

Ekstrak kulit nanas (Ananas comosus (L.) Merr) mempunyai kandungan flavonoid yang berpotensi sebagai sumber antioksidan. Khasiat senyawa flavonoid dapat dimanfaatkan menjadi produk kecantikan diantaranya dalam bentuk gel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperbaiki bioavalilabilitas yang kurang baik dari flavonoid dimodifikasi menjadi sediaan dalam bentuk nanovesikel jenis niosom untuk mengoptimalkan penyerapan zat aktif. Niosom dibuat dengan menggunakan metode dingin. Basis niosom dan niosom ekstrak dikarakterisasi melalui ukuran partikel, indeks polidispersitas, zeta potensial, dan morfologi. Hasil karakterisasi basis niosom dan niosom ekstrak diperoleh bahwa sediaan berturut-turut menghasilkan ukuran partikel 98,82 nm dan 125,9 nm ; nilai indeks polidispersitas 0,3209 dan 0,3396, nilai potensial zeta -13,8 mV dan -16,17 mV, dan bentuk niosom ekstrak sferis. Sediaan gel niosom dievaluasi melalui organoleptik, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, stabilitas fisik dengan freeze thaw.  Hasil evaluasi diperoleh bahwa Formula 3 menghasilkan sifat fisik gel niosom ekstrak kulit nanas terbaik dengan organoleptik kental, bau khas, serta berwarna kuning jernih, dan tidak ada pemisahan; pH 4,567±0,200; viskositas 11131,1±1031,56 cps, daya sebar 5,61±0,285, daya lekat 34,428±13,550, serta stabil secara fisik melalui pengujian freeze thaw. Pengujian efisiensi penjerapan sediaan niosom ekstrak dan gel niosom diperoleh hasil sebesar 94,7960% dan 95,8224%.
PERBANDINGAN BIAYA MEDIK LANGSUNG DAN TARIF INA-CBG’S PADA PASIEN BEDAH ORTOPEDI DI RUMAH SAKIT X KOTA YOGYAKARTA FEBRUARI-MEI 2025 Aprilia Hatija, Manumpil; Woro, Supadmi; Adriyanto Rahmat, Basuki; Endang, Darmawan
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2305

Abstract

Bedah ortopedi merupakan intervensi utama pada gangguan muskuloskeletal yang membutuhkan biaya tinggi. Sistem pembayaran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia menggunakan tarif INA-CBG’s sebagai standar klaim. Namun, dalam praktiknya sering ditemukan ketidaksesuaian antara tarif klaim dengan biaya aktual yang dikeluarkan rumah sakit. Ketidaksesuaian ini berpotensi menimbulkan beban finansial bagi rumah sakit dan dapat memengaruhi keberlanjutan layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis biaya medik langsung perspektif rumah sakit dan membandingkan dengan tarif INA-CBG's, serta menganalisis perbedaan biaya pada pasien bedah ortopedi rawat inap di Rumah Sakit X Kota Yogyakarta. Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif-analitik dengan desain cross-sectional. Penentuan sampel pasien rawat inap menggunakan purposive sampling selama periode Februari–Mei 2025 diperoleh 60 pasien. Data dikumpulkan secara retrospektif dari penelusuran rekam medis dan rincian biaya rumah sakit. Data dianalisis secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik pasien dan distribusi biaya medis langsung, serta bivariat menggunakan uji Kruskal–Wallis untuk mengetahui perbedaan biaya berdasarkan karakteristik pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan total biaya medis langsung aktual lebih tinggi dibanding tarif INA-CBG’s yaitu  sebesar Rp 1.061.344.050, sedangkan tarif INA-CBG’s sebesar Rp 771.068.027. Selisih biaya medis aktual dengan tarif INA-CBG’s, adalah Rp 290.276.023. Persentase tertinggi adalah pada komponen biaya obat dan BMHP sebesar (49,3%). Terdapat perbedaan biaya medis langsung yang signifikan pada karakteristik lama rawat inap (p=0,001). Rumah sakit berpotensi mengalami kerugian yang menyebabkan pembatasan alokasi anggaran perawatan dengan mengurangi fasilitas layanan kesehatan.
PENGARUH ASAM SITRAT DAN JENIS KEMASAN TERHADAP MUTU MINYAK ATSIRI JAHE MERAH (Zingiber officinale var. rubrum) Rizki Safira, Faza; Nadhilah, Hasyyati; Permana, Setia; Putri, Selly Harnesa
Pharmacoscript Vol. 7 No. 1 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i1.1294

Abstract

Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) adalah varietas jahe dengan kandungan volatil lebih tinggi daripada jenis jahe lainnya, minyak atsiri jahe merah memiliki banyak aktivitas farmakologis seperti antimikroba, antiinflamasi, antikanker, dan antioksidan. Jenis kemasan dan keberadaan bahan pengkelat bisa mempertahankan mutu minyak atisri jahe merah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mutu minyak atisri jahe merah setelah penambahan variasi kadar asam sitrat yang disimpan dalam kemasan plastik HDPE dan botol kaca gelap. Minyak atsiri jahe merah dimasukkan ke dalam kemasan botol kaca gelap (BKG) dan high-density polyethylene (HDPE) dan masing-masing ditambahkan asam sitrat dengan variasi kadar 0, 2, 4, 6% (b/b) dan didiamkan selama 14 hari. Parameter mutu ditetapkan meliputi kadar zingiberen dan sifat organoleptik (warna, aroma, dan rasa). Hasil penetapan kadar zingiberen secara gas chromatography-mass spectrophotometry (GC-MS) menunjukkan kadar zingiberen tertinggi adalah 21,46±0,03% yang terdapat pada kemasan BKG dengan kadar asam sitat 4% (BKG4). Sampel dengan penambahan asam sitrat 2% dan 4% b/b pada kemasan BKG memiliki warna paling stabil. Sampel dengan botol kaca gelap menghasilkan aroma jahe segar yang lebih baik dibandingkan sampel yang disimpan dalam HDPE. Hasil penelitian dapat disimpulkan minyak atsiri jahe merah yang disimpan di dalam botol kaca gelap dengan penambahan asam sitrat 4% b/b memiliki kadar zingiberen tertinggi yang dimana 0,56% lebih tinggi dibandingkan tanpa penambahan asam sitrat dengan sifat organoleptik stabil.
SERBUK EFFERVESCENT KOMBINASI EKSTRAK JAHE MERAH (Zingiber officinale var.rubrum) DAN MADU SEBAGAI PENGOBATAN RADANG TENGGOROKAN Yuliana, Anna; Ningsih, Widia; Suhendy, Hendy
Pharmacoscript Vol. 7 No. 1 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i1.1381

Abstract

Faringitis atau radang tenggorokan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Bakteri yang dapat menyebabkan faringitis atau radang tenggorokan yaitu bakteri Streptococcus β hemoliticus grup A atau Streptococcus pyogenes. Pengobatan penyakit infeksi biasanya menggunakan antibiotik, tetapi penggunaan antibiotik yang sering dapat menyebabkan resistensi.  Jahe merah merupakan tanaman yang mempunyai kandungan senyawa metabolit sekunder seperti  fenol, flavonoid, saponin dan minyak astiri yang memiliki aktivitas salah satunya yaitu sebagai antibakteri. Selain tanaman jahe, madu juga mempunyai kandungan vitamin C dan pinobankisne yang bermanfaat sebagai antibakteri dan berfungsi untuk menurunkan tingkat keparahan batuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antibakteri ekstrak jahe merah terhadap Streptococcus pyogenes secara invitro. Rimpang jahe merah di ekstraksi menggunakan etanol 96%. Untuk mengetahui apakah kombinasi ekstrak jahe merah dan madu dapat dijadikan sebagai sediaan serbuk effervescent serta untuk mengetahui apakah sediaan serbuk effervescent kombinasi ekstrak jahe merah dan madu tersebut masih memberikan aktivitas antibakteri Streptococcus pyogenes penyebab radang tenggorokan. Formulasi serbuk effervescent dibuat dengan konsentrasi 1%, 5% dan 10% ekstrak jahe merah dengan penambahan madu 5%. Uji karakteristik serbuk effervescent meliputi uji organoleptik, kelembaban, waktu alir, sudut istirahat, waktu larut, tinggi busa, pH serta uji hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak rimpang jahe merah dapat memberikan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus pyogenes penyebab radang tenggorokan dan formulasi serbuk effervescent telah memenuhi persyaratan uji karakterisktik fisik sediaan tetapi tidak memberikan aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus pyogenes.
ISOLASI KOLAGEN DARI TULANG IKAN GURAME (OSPHRONEMUS GORAMY) YANG DIFORMULASIKAN DALAM SEDIAAN MINUMAN SERBUK INSTAN Lilis, Tuslinah; Ferina Muthiara Putri, Utami; Mochamad, Fathurohman
Pharmacoscript Vol. 7 No. 2 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i2.1382

Abstract

Kolagen adalah protein yang asam amino utamanya adalah hidroksiprolin dan prolin. Produksi kolagen bisa didapatkan dari tulang ikan gurame (Oshpronemus goramy). Kolagen banyak bersumber dari hewan seperti babi yang banyak mengandung kolagen tetapi dari segi kehalalannya tidak terjamin. Maka dari itu, tujuan dilakukan penelitian ini untuk mempeoleh kolagen dari tulang ikan gurame sebagai alternatif lain penghasil kolgen. Kolgen dibuat sediaan minuman serbuk instan yang memenuhi syarat SNI. Metode yang dilakukan pada penelitian dimulai dari pengumpulan sampel gurame, penyiapan sampel, produksi kolagen menggunakan metode hidrolisis kimia dengan asam asetat 0,5 M dan 0,75 M, karakterisasi kolagen sesuai standar SNI 8076-2014. Tahapan akhir yaitu pembuatan sediaan minuman serbuk instan sesuai syarat dan mutu SNI 01-4320-1996 dengan perbedaan penambahan asam sitrat. Hasil dari penelitian ini diperoleh kolagen menggunakan pelarut asam asetat 0,5 M dan 0,75 M menghasilkan nilai rendemen dengan nilai berturut-turut 1,178 % dan 9,368%. Nitrogen total dari kolagen dengan penggunaan asam asetat 0,75 M sebesar 12,115% dan protein 75,718%. Analisis gugus fungsi menggunakan FTIR diketahui gugus fungsi yang terdapat dalam kolagen yaitu Amida A, Amida B, Amida I, Amida II dan Amida III. Hasil uji syarat mutu minuman serbuk instan kolagen semua formula memenuhi standar SNI 01-4320-1996. Hasil uji hedonik menunjukan formula III menjadi formula terbanyak disukai dari segi citra rasa oleh perbandigan asam sitrat pada ketiga formula.
PENGEMBANGAN SEDIAAN SERUM WAJAH EKSTRAK ETANOL DAUN KATUK (Sauropus androgynus (L) Merr) SEBAGAI ANTIOKSIDAN Lusi Nurdianti; Fathurohman, Mochamad; Prolina, Riska; Setiawan, Fajar; Yeni Aprilia, Ade; Firmansya, Ardianes
Pharmacoscript Vol. 7 No. 1 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i1.1411

Abstract

Proses penuaan pada setiap orang akan terjadi secara alamiah dan tidak dapat dihindari. Banyak faktor yang menjadi penyebab proses penuaan lebih cepat dari waktu yang seharusnya, salah satunya adalah faktor eksternal seperti radikal bebas dan dari paparan sinar UV. Tujuan dari penelitian ini untuk mengembangkan sediaan serum wajah ekstrak etanol daun katuk (Sauropus androgynus L.Merr) sebagai antioksidan. Metode penelitian meliputi pengolahan daun katuk menjadi simplisia kering hingga diperoleh berupa serbuk halus, pembuatan ekstrak daun katuk dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%, skrining fitokimia, karakteristik ekstrak, pengujian antioksidan dengan metode DPPH menggunakan Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 516 nm, pembuatan formula sediaan serum wajah dengan penambahan ekstrak etanol daun katuk dengan masing-masing konsentrasi 3% (F1), 5% (F2) dan 7% (F3) ke dalam serum. Evaluasi sediaan serum meliputi pengujian organoleptik, homogenitas, pH, viskositas dan daya sebar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun katuk bisa dikembangkan dalam serum wajah dengan hasil evaluasi semua formula sediaan yang baik memenuhi syarat diperoleh F3 sebagai formula terbaik dengan nilai IC50 sebesar 34,93 ppm termasuk kedalam kategori antioksidan sangat kuat. Dengan demikian sediaan serum ekstrak daun katuk bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam mengurangi proses penuaan dini yang baik.