cover
Contact Name
Richa Mardianingrum
Contact Email
j.pharmacosript@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
j.pharmacosript@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pembela Tanah Air No.177, Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacoscript
ISSN : 26224941     EISSN : 26851121     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Pharmacoscript merupakan jurnal penelitian yang dikelola oleh Prodi Farmasi dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Perjuangan Tasikmalaya (P-ISSN: 2622-4941 E-ISSN: 2685-1121) Jurnal ini merupakan media publikasi penelitian dan review artikel pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif, kreatif, original dan didasarkan pada scientific yang diterbitkan 2 kali dalam 1 tahun yakni pada bulan Agustus dan Februari. Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia farmasi, teknologi farmasi, farmakologi, biologi farmasi, farmasi klinik, dan bioteknologi farmasi.
Arjuna Subject : -
Articles 206 Documents
SEVERITAS INTERAKSI OBAT CLOZAPINE PADA PASIEN SKIZOFRENIA: ANALISIS KARAKTERISTIK Siska, Lidiya; Muhammad, Fauzi; Juwita, Ramadhani; Karina, Erlianti
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2110

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan mental kronis yang memerlukan penanganan farmakologis, seringkali melibatkan penggunaan clozapine sebagai terapi lini akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keparahan interaksi obat pada penggunaan clozapine dan menganalisis karakteristik pasien skizofrenia yang mempengaruhi interaksi obat di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Sambang Lihum. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan retrospektif. Rekam medis pasien skizofrenia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dipilih secara purposive dari data tahun 2023. Analisis dilakukan dari 100 pasien ditemukan 96 pasien memiliki potensi interaksi obat. Mayoritas interaksi (78%) tergolong farmakodinamik dengan 72 kasus berada pada tingkat keparahan mayor. Obat yang paling sering berinteraksi dengan clozapine antara lain haloperidol, lorazepam, trifluoperazine, trihexyphenidyl, dan chlorpromazine. Karakteristik pasien terdiri dari pasien skizofrenia yang menggunakan clozapine mayoritas berjenis kelamin laki-laki (66%), berusia 26–45 tahun (68%), tidak bekerja (79%), berpendidikan maksimal SD (40%), dan telah menjalani terapi selama < 5 – 10 tahun (83%). Hasil analisis menunjukkan interaksi farmakodinamik pada tingkat keparahan mayor sering terjadi pada pasien skizofrenia. Faktor usia berhubungan signifikan terhadap potensi interaksi obat ( ) dimana pasien usia > 45 tahun memiliki kemungkinan 1.262 kali lebih besar mengalami interaksi obat katagori mayor dibandingkan pasien < 45 tahun. Temuan ini menunjukkan perlunya diperhatikan faktor usia dalam optimalisasi terapi clozapine guna mengurangi risiko efek samping akibat interaksi obat.
KADAR TOTAL FLAVONOID DAN AKTIVITAS ANTIDIABETES DAUN Gnetum gnemon L.: STUDI IN SILICO Nurrizka, Kurniawati; Lintang Nur, Hayati; Nurul Hidayatul, Mar'ah
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2114

Abstract

Gnetum gnemon L. adalah herbal yang banyak digunakan di Indonesia, dikenal karena kandungan metabolit sekundernya seperti flavonoid, terpenoid, stillbenoid, dan polifenol. Meskipun berbagai penelitian telah menunjukkan potensi senyawa bioaktif dalam melinjo, studi yang mengeksplorasi pengaruh tahap kematangan daun terhadap kandungan flavonoid serta evaluasi mekanisme molekulernya terhadap protein target diabetes masih jarang dilakukan. Penelitian ini mengevaluasi total kandungan flavonoid dalam ekstrak etanol 70% daun melinjo (muda dan tua) menggunakan spektrofotometri UV-Vis, serta afinitas senyawa terhadap target protein diabetes (GLUT1, PPAR-γ, glukokinase) melalui analisis in silico. Hasil menunjukkan bahwa daun tua memiliki konsentrasi flavonoid sebesar 1,42%, lebih tinggi dibandingkan daun muda yang hanya 1,27%, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik (p<0,05). Analisis in silico mengungkapkan bahwa senyawa gnemonoside D dan gnetin C menunjukkan energi pengikatan tertinggi terhadap target protein diabetes (-10,13 dan -10 kkal/mol), melampaui obat kontrol positif gliburida dan luteolin. Temuan ini menegaskan potensi G. gnemon L. sebagai agen anti-diabetes alami. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi efektivitas senyawa ini melalui uji in vivo dan uji klinis, serta mengeksplorasi pengembangan formulasi obat berbasis flavonoid. Selain itu, meskipun hasil in silico menunjukkan bahwa senyawa flavonoid memiliki aktivitas penghambatan lebih tinggi daripada obat kontrol, uji farmakokinetik dan farmakodinamik diperlukan untuk memastikan efektivitasnya dibandingkan obat konvensional dalam pengobatan diabetes.
OPTIMALISASI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN NARINGENIN MELALUI SISTEM PENGHANTARAN NANOTRANSFERSOM Putri Rovita, Sari; Ilham, Kuncahyo; Titik, Sunarni
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2115

Abstract

Naringenin sebagai agen antioksidan secara alami yang telah banyak di teliti, namun efektivitasnya terbatas disebabkan penyerapannya yang buruk karena sulit melewati membran sel. Transfersom diperkenalkan sebagai sistem penghantaran yang memiliki gugus hidrofilik dan hidrofobik sehingga mampu mengubah bentuk sehingga mudah melewati pori-pori dengan diameter yang jauh lebih kecil. Tujuan penelitian ini adalah mengoptimalkan aktivitas antioksidan naringenin melalui sistem penghantaran nanotransfersom. Nanotransfersom naringenin dibuat menggunakan metode hidrasi lapis tipis dan dikarakterisasi berdasarkan ukuran, indeks polidispersi partikel, zeta potensial, efisiensi penjebakan dan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Berdasarkan hasil penelitian nanotransfersom naringenin mampu menjebak hingga 92,4% dengan ukuran partikel 62,6 nm, nilai PDI 0,209, potensi zeta −32,5 mV. Naringenin dalam nanotransfersom menunjukkan potensi 2 kali lebih baik sebagai antioksidan dibandingkan dengan naringenin dengan nilai IC50 naringenin 6.132 ± 0.325 dan transfersom naringenin adalah 3.739 ± 0.144. Hasil ini menunjukkan bahwa nanotransfersom naringenin dapat digunakan sebagai pembawa yang efektif untuk sediaan obat oral maupun topikal.
PENGARUH KOMBINASI EKSTRAK PROPOLIS Heterotrigona itama DAN DAUN Sonneratia caseolaris TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Muhammad Bayu , Radityo; Paula Mariana, Kustiawan
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2126

Abstract

Radikal bebas adalah molekul reaktif yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan dan dapat merusak jaringan tubuh seperti protein dan DNA. Antioksidan yang ditemukan di alam berperan dalam menetralkan radikal bebas dan mencegah kerusakan tersebut. Bahan alam propolis Heterotrigona itama dan daun Sonneratia caseolaris diketahui mengandung senyawa antioksidan alami. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari kombinasi ekstrak H. itama propolis dan daun S. caseolaris menggunakan metode DPPH. Hasil pengujian antioksidan menunjukkan bahwa variasi kombinasi ekstrak H. itama propolis (EP) dan daun S. caseolaris (ESC) rasio 1:1 (IC50 56,6 ppm), 2:1 (IC50 71,5 ppm), 0:1 (IC50 50,36 ppm), dan 1:0 (IC50 73,13 ppm). Sedangkan rasio 1:2 memiliki nilai IC50 35,1 ppm dan kategori aktivitas antioksidan yang sangat kuat dibandingkan variasi kombinasi ekstrak lainnya. Hal ini menunjukan kombinasi ekstrak tersebut dapat bersinergi dalam meningkatkan aktivitas antioksidan.
SISTEM PENGHANTARAN OBAT ACNE PATCH DARI ISOLAT PIPERIN SEBAGAI ANTI JERAWAT Retty, Handayani; Nurul, Auliasari; Zahra Shafira Nur, Aurulianti
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2128

Abstract

Jerawat merupakan penyakit kulit yang timbul akibat peradangan pada folikel pilosebasea yang salah satunya disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes. Piperin (Piper nigrum L.) merupakan senyawa utama pada tumbuhan lada hitam yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antijerawat dari isolat piperin dalam bentuk sediaan acne patch. Pada penelitian ini isolat piperin dilakukan uji karakteristik menggunakan Spektrometri Massa (MS) untuk melihat analisis fragmen molekul yang diperoleh yang diperoleh. Basis patch diformulasikan dengan variasi konsentrasi HPMC dan PEG 400 dan dibuat dengan metode solvent casting. Formulasi acne patch dibuat dalam empat variasi formula dengan konsentrasi isolat piperin yaitu F0 tanpa isolat; F1 isolat 20%; F2 isolat 30%; F3 isolat 40%. Sediaan acne patch dievaluasi stabilitas fisik meliputi organoleptik, keseragaman bobot, ketebalan patch, ketahanan lipat, pH, susut pengeringan dan daya serap kelembaban. Uji aktivitas antijerawat dilakukan terhadap bakteri Propionibacterium acnes menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukan bahwa sediaan acne patch dengan konsentrasi 20%, 30% dan 40% menghasilkan sediaan patch dengan stabilitas fisik yang baik dan memiliki aktivitas antijerawat terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan diameter hambat pada F1 isolat 20% memiliki daya hambat 12,99 ± 1,62 mm (F1, 20%), 13,29 ± 0,28 mm (F2, 30%), dan 13,49 ± 1,17 mm (F3, 40%), yang termasuk kategori daya hambat kuat.
COST-EFFECTIVENESS DEXKETOPROFEN VS KETOROLAC IN CAESAREAN PATIENTS AT 'X' HOSPITAL, PANDEGLANG Yusransyah, Yusransyah; Sofi Nurmay, Stiani; Farahdina, Chairani; Latifah Nur, Rizki; Baha, Udin
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2150

Abstract

Post-cesarean section pain must be treated promptly and appropriately to prevent chronic conditions. Dexketoprofen and Ketorolac are non-narcotic analgesics commonly used to manage such pain. This study aimed to analyse the cost-effectiveness of dexketoprofen and ketorolac in patients undergoing cesarean sections at Mother and Child Hospital "X" in Pandeglang. The study used a cross-sectional design with cost-effectiveness analysis, specifically the Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER). Pain intensity was measured one hour after surgery using the Faces Pain Rating Scale and Visual Analog Scale (VAS). Inclusion criteria were patients who underwent cesarean section and received non-narcotic analgesics. A total of 90 patients participated: 39 in the dexketoprofen group and 51 in the ketorolac group. Data were analyzed using ACER and the Mann-Whitney test. The ACER, based on the Faces Pain Rating Scale, showed a cost of IDR 1,142 for the dexketoprofen group and IDR 958.03 for the ketorolac group. Using the VAS, the cost was IDR 1,110 for dexketoprofen and IDR 657.45 for ketorolac. Statistical results showed a p-value < 0.05 for both pain measurement tools, indicating a significant difference in effectiveness between the two therapies. Based on both instruments, ketorolac was more cost-effective than dexketoprofen in managing post-cesarean section pain. This finding suggests that ketorolac may be a preferable option in clinical settings where cost and effectiveness are key considerations for post-operative analgesia in cesarean section patients.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT BUAH NAGA (Hylocereus Monacanthus) Ummy, Mardiana; Fadhilah, Sayyidina; Korry, Novitriani
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2159

Abstract

Kulit buah naga bisa dijadikan sebagai obat herbal alami yang dimanfaatkan sebagai antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat ataupun menangkal proses oksidasi lipid. Sebagian besar penyakit tubuh dipicu oleh radikal bebas yang merupakan bahan yang berbahaya. Pada umumnya pemanfaatan buah naga merah hanya pada bagian daging buahnya saja, sehingga kulit buah naga yang dihasilkan masih berupa limbah yang belum dimanfaatkan potensinya. Keberadaan antioksidan pada kulit buah naga perlu diidentikasi dan dioptimalkan pemanfaatannya.  Untuk melihat potensi antioksidan pada kulit buah naga, maka perlu dilakukan studi lebih lanjut. Tujuan penelitian ini  yaitu untuk mengetahui keberadaan antioksidan dan nilai IC50 ekstrak kulit buah naga. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental, menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) dengan seri konsentrasi ekstrak yang dibuat yaitu 2; 4; 6; 8 dan 10 ppm. Pengukuran aktivitas antioksidan ekstrak kulit buah naga ditentukan  sampai diperoleh IC50 dengan memasukan nilai y (y=50) pada persamaan garis y = bx + a.  Absorban yang dihasilkan diukur menggunakan alat Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 515 nm. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan ekstrak kulit buah naga mengandung aktivitas antioksidan dengan kadar IC50 sebesar 9,16 setelah dihitung menggunakan persamaan garis regresi y = 0,0054x + 0,5061. sementara IC50 asam askorbat yag digunakan sebagai standar diperoleh nilai 1,47.  Nilai IC50 kulit buah naga dinyatakan memiliki kandungan aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Aktivitas antioksidan fraksi etanol kulit buah naga diduga karena adanya senyawa metabolit sekunder golongan alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin.
THE ROLE OF TRIBULUS TERRESTRIS ON MALE INFERTILITY BASED ON CLINICAL TRIALS PERSPECTIVE: A NARRATIVE REVIEW Dona, Suzana; Kintoko, Kintoko; Mochammad Saiful, Bachri
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2171

Abstract

Tribulus terrestris is a widely recognized herb with potential applications in healthcare. Male factor infertility, often stemming from testicular disorders, is frequently linked to inadequate sperm quantity and quality. While botanical products, including herbal medicines, have shown both positive and negative effects on male fertility and testicular function in the literature, this narrative review specifically aimed to identify clinical trials investigating the potential benefits of Tribulus terrestris in reducing male infertility and enhancing semen and hormonal parameters. A literature review methodology was employed, utilizing Scopus, PubMed, and Cochrane databases to gather full-text accessible published works from 2013 to 2022. Initially, 28 studies were identified; 24 were excluded, leaving three for full-text evaluation. Ultimately, three articles met the inclusion criteria and were included in this review. Based on the reviewed articles, Tribulus terrestris extract appears to influence the quantity and quality of spermatozoa, as well as reproductive hormone levels. Two articles reported a significant increase in sperm parameters and hormone levels. However, one article indicated no meaningful correlation between Tribulus terrestris use and an increase in testosterone levels. Further data are needed to definitively determine the efficacy of Tribulus terrestris as an infertility treatment.
THE EFFECT OF GLUCOSE ON Streptococcus mutans ATCC 25175 GROWTH BY VARIATION OF CONCENTRATION AND INCUBATION TIME Widyawati, Widyawati; Boima, Situmeang
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2179

Abstract

Streptococcus mutans is one of the main causative agents of dental caries. Glucose has been reported as one of the factors influencing the growth of S. mutans. This study aims to determine the effect of glucose concentration and incubation time on the growth of S. mutans. The glucose concentrations used in this study were 0, 2, 4, 6, 8, and 10%. The incubation times used were 1, 10, and 15 hours. The result showed that glucose concentration significantly affects the growth of S. mutans. Higher glucose level lead to increase bacterial growth, with the highest absorbance observed at 10% glucose after 10 hours of incubation. Specific growth rate (μ) analysis further supports this finding, showing that S. mutans grows more rapidly during the exponential phase (1–10 hours) with increased glucose concentration, while the growth rate stabilizes or declines during the later phase (10–15 hours). This result indicate that both glucose availability and incubation time are critical factors influencing the growth dynamics of S. mutans.
DESAIN VAKSIN MULTI-EPITOP TERHADAP VIRUS MARBURG (MARV) BERBASIS PROTEIN VP35 MENGGUNAKAN PENDEKATAN IMMUNOINFORMATIKA: IN-SILICO Ilham Nurfadilah, Asopari; Anindita Tri Kusuma , Pratita; Richa, Mardianingrum; Ruswanto, Ruswanto
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2184

Abstract

Virus Marburg (MARV) merupakan salah satu virus zoonosis dari keluarga Filoviridae dengan tingkat kematian hingga 88%. Pertumbuhan populasi global yang pesat meningkatkan risiko paparan penyakit akibat perubahan iklim dan ekologi. Untuk pencegahan, vaksin menjadi upaya terbaik. Penelitian ini bertujuan merancang vaksin berbasis peptida dari protein VP35 dan mengevaluasi interaksinya dengan sistem imun (TLR3, MHC-I, dan MHC-II) berdasarkan parameter stabilitas interaksi molekuler seperti skor ikatan, nilai elektrostatik, dan desolvasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan immunoinformatics secara in silico, meliputi pemilihan protein target, prediksi antigenisitas, prediksi epitop T CD8+, prediksi epitop T CD4+, prediksi epitop B, konstruksi vaksin & visualisasi 3D, validasi struktur vaksin, analisis docking dan prediksi cakupan populasi. Hasil menunjukkan bahwa desain vaksin memiliki interaksi yang stabil terhadap TLR3, MHC-I (HLA-A*11:01), dan MHC-II (HLA-DR1), dengan nilai skor total berturut-turut sebesar –43,698, –42,192, dan –51,899, menunjukkan afinitas ikatan yang kuat secara in silico. Temuan ini mengindikasikan potensi desain vaksin berbasis epitop VP35 sebagai kandidat imunogenik terhadap MARV, meskipun perlu dioptimalkan lebih lanjut mengingat cakupan populasi yang masih terbatas.