cover
Contact Name
Richa Mardianingrum
Contact Email
j.pharmacosript@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
j.pharmacosript@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pembela Tanah Air No.177, Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacoscript
ISSN : 26224941     EISSN : 26851121     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Pharmacoscript merupakan jurnal penelitian yang dikelola oleh Prodi Farmasi dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Perjuangan Tasikmalaya (P-ISSN: 2622-4941 E-ISSN: 2685-1121) Jurnal ini merupakan media publikasi penelitian dan review artikel pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif, kreatif, original dan didasarkan pada scientific yang diterbitkan 2 kali dalam 1 tahun yakni pada bulan Agustus dan Februari. Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia farmasi, teknologi farmasi, farmakologi, biologi farmasi, farmasi klinik, dan bioteknologi farmasi.
Arjuna Subject : -
Articles 206 Documents
OPTIMASI TWEEN PADA SEDIAAN GRANUL INSTAN FOAM MAT DRYING EKTRAK BUAH HONJE LAKA (Etlingera elatior (JACK) R.M.SM.) MENGGUNAKAN METODE SIMPLEX LATTICE DESIGN Lilis, Tuslinah; Aldy, Pangestu; Anna, Yuliana
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.1889

Abstract

Minuman jus Buah honje laka (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) sering dikonsumsi masyarakat sebagai minuman kesehatan. Senyawa metabolit skunder yang terkandung dalam buah honje laka yang memberikan warna merah dan mempunyai efek farmakologi adalah  flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Flavonoid tidak stabil terhadap panas dan cahaya sehingga sediaan dalam bentuk sirup tidak mempunyai umur simpan lama. Dalam penelitian ini  dikembangkan dalam bentuk granul instan menggunakan metode foam mat drying untuk meningkatkan stabilitas dan memperpanjang umur simpan sediaan honje laka (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian adalah memperoleh formula granul instan yang memenuhi persyaratan granul dan potensi antioksidan. Formula sediaan granul dilakukan  optimasi dengan metode Simplex Lattice Design melalui perubahan konsentrasi  tween 80 dan tween 20. Na-CMC 0,3% ditambahkan sebagai foam stabilizer. Setiap  formula dievaluasi meliputi respon sesuai dengan persyaratan granul dan stabilitas busa. Formula terbaik diverifikasi melalui One Sample T-Test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan formula dengan Tween 80 sebesar 10% dengan nilai desirability 0,981 adalah formula terbaik. Berdasarkan formula tersebut diperoleh laju alir 5,47 g/s, kelarutan  97,37%  kadar air  3,91% dan stabilitas busa  102,78%. Metode uji aktivitas antioksidan dengan metode  DPPH ( 1,1 diphenyl -2- picrylhidrazil) diperoleh nilai IC50 yaitu sebesar  11,77 ppm menunjukkan bahwa sediaan granul instan mempunyai potensi antioksidan sangat kuat.
HUBUNGAN PROSEDUR PERACIKAN DENGAN KUALITAS SEDIAAN RACIKAN NONSTERIL DI RUMAH SAKIT “X” KOTA TASIKMALAYA Heni, Oktaviani; Indri, Hapsari; Tita, Nofianti
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.1900

Abstract

Pembuatan sediaan farmasi dalam bentuk racikan merupakan solusi dari keterbatasan formulasi anak yang memiliki keuntungan yaitu dapat dikombinasikan dengan obat lain sesuai kebutuhan pasien serta dapat disesuaikan dengan umur dan berat badan pasien. Banyak permasalahan yang terjadi dalam peracikan sediaan nonsteril di Indonesia yang mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pengobatan. Pembuatan sediaan farmasi dalam bentuk racikan harus mempunyai panduan untuk mencegah terjadinya kesalahan peracikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan prosedur peracikan dengan kualitas sediaan racikan nonsteril di Rumah Sakit “X” Kota Tasikmalaya. Metode pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan metode purposive sampling. Proses observasi peracikan menggunakan pertanyaan yang mengacu pada USP 795 dan Standar Operasional Prosedur dari Rumah Sakit dan Ikatan Apoteker Indonesia yaitu aspek proses, fasilitas, peralatan, bahan, penyimpanan, dokumentasi dan teknik peracikan kemudian dilakukan uji fisik (organoleptis, homogenitas, keseragaman bobot, pH, daya sebar, daya lekat, viskositas, bobot jenis) dan uji mikrobiologi sampel. Analisis hasil diuji secara statistik menggunakan uji Spearman-rank. Hasil penelitian menyatakan bahwa hasil observasi proses peracikan sediaan padat dan cair sudah sesuai dengan prosedur peracikan yang terdapat di Rumah Sakit “X” Kota Tasikmalaya (100%), untuk sediaan semi padat belum semua sesuai dengan standar Ikatan Apoteker Indonesia (83,33%). Uji kualitas fisik sediaan racikan stabil dan memenuhi persyaratan untuk sediaan padat dan cair (100%), untuk sediaan semi padat (75%). Adanya kontaminasi jamur Candida albican pada sediaan racikan padat (33,33%), semi padat (33,33%) dan sediaan racikan cair (100%). Hasil uji korelasi untuk kualitas sediaan menggunakan uji Spearman-rank, menyatakan ada hubungan signifikan antara prosedur peracikan dengan kualitas sediaan racikan non steril dilihat dari hasil uji korelasi yang  diperoleh p value 0.018 (p<0.05) dengan tingkat hubungan yang kuat 0.756 (0.51-0.75).  
ANALISIS HUBUNGAN KESESUAIAN PROSEDUR PERACIKAN DAN KUALITAS SEDIAAN RACIKAN NONSTERIL BEBERAPA APOTEK DI KABUPATEN PEKALONGAN Rizqi Aulia, Rachim; Indri, Hapsari; Tita, Nofianti
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.1908

Abstract

Sediaan racikan yang ada di fasilitas kesehatan mempunyai permasalahan utama yaitu tentang kualitas sediaan karena dalam proses peracikannya belum menggunakan persyaratan yang ketat seperti pada industri farmasi. Kualitas sediaan yang baik menunjukkan terpenuhinya persyaratan fisik dan terhindarnya dari kontaminan patogen. Namun, pada implementasinya tenaga peracik tidak begitu memperhatikan standar prosedur operasional yang dapat mempengaruhi kualitas dari sediaan yang diracik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi prosedur peracikan, kualitas sediaan racikan nonsteril dan hubungan diantara kesesuaian prosedur peracikan dengan kualitas sediaan. Penelitian dilaksanakan di beberapa apotek wilayah Kabupaten Pekalongan secara observasional analitik yang dilakukan pada Januari-Maret 2024. Instrumen penelitian berupa lembar checklist yang tervalidasi dan hasil uji fisik maupun mikrobiologi dari sampel. Ditemukan kesesuaian implementasi aspek dan prosedur peracikan berdasarkan Pedoman United State Pharmacopeia (USP) dan Standar Prosedur Operasional (SPO) Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) masing-masing 94,29% dan 91,23%; tidak memenuhi syarat seperti homogenitas pulveres (46%), keragaman bobot (22%), daya sebar salep (33.34%) dan kontaminan bakteri Staphylococcus aureus (100%) serta jamur Candida albicans (33.34%) pada sediaan racikan cair. Adanya hubungan yang lemah dan tidak signifikan antara kesesuaian aspek peracikan berdasarkan pedoman USP <795> p=0.554 (p<0.05) serta adanya hubungan yang kuat dan signifikan antara kesesuaian prosedur peracikan berdasarkan SPO IAI pusat terhadap kualitas sediaan p=0.007 (p<0.05). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa kesesuaian prosedur  peracikan berdasarkan SPO IAI memiliki hubungan yang kuat dan signifikan terhadap kualitas sediaan, tetapi masih banyak aspek kualitas sediaan yang tidak memenuhi syarat dan memiliki hubungan yang lemah terhadap aspek peracikan berdasarkan pedoman USP <795>, sehingga perlunya sosialisasi, monitoring dan evaluasi terkait prosedur operasional kepada tenaga peracik yang ada di pelayanan kefarmasian khususnya di apotek Kabupaten Pekalongan.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN PROFIL KLT-BIOAUTOGRAFI TUMBUHAN KUPA TERHADAP Escherichia coli Pia, Yuniar; Ira, Rahmiyani; Hendy, Suhendy
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.1911

Abstract

Kupa (Syzygium polycephalum Miq (Merr & Perry)), tanaman asli Indonesia, telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional karena mengandung senyawa bioaktif dengan potensi farmakologis. Flavonoid, sebagai salah satu komponen utama dalam tanaman ini, diketahui memiliki sifat antimikroba. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi profil KLT-bioautografi serta menilai efek antibakteri ekstrak etanol kupa yang diperoleh dari berbagai bagian tanaman, yaitu daun, batang, buah, dan biji, terhadap Escherichia coli. Metode difusi cakram diterapkan untuk menilai efektivitas antibakteri ekstrak pada konsentrasi 10%–100%. Dalam pengujian ini, tetrasiklin digunakan sebagai kontrol positif, NaCl 0,9% sebagai kontrol negatif, dan DMSO sebagai blanko. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah kupa menghasilkan zona hambat dengan diameter 7,76 ± 0,72 mm, 8,26 ± 1,53 mm, 11,17 ± 0,05 mm, dan 12,7 ± 0,91 mm pada konsentrasi masing-masing 70%, 80%, 90%, dan 100%. Keberadaan zona hambat pada titik penotolan diidentifikasi dalam analisis KLT-bioautografi menunjukkan adanya senyawa polifenol, yang berperan dalam mekanisme antibakteri terhadap E. coli. Secara keseluruhan, ekstrak etanol buah kupa menunjukkan aktivitas antibakteri pada tingkat sedang hingga tinggi.
DESAIN DAN STUDI IN-SILICO TURUNAN TIOUREA SEBAGAI KANDIDAT RADIOFARMAKA 131I-THIOUREA UNTUK KANKER PAYUDARA Ruswanto, Ruswanto; Nur, Rahayuningsih; Febby, Pratama; Ummy, Mardiana
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.1920

Abstract

Berdasarkan data terbaru dari Global Cancer Statistics, kanker tetap menjadi tantangan kesehatan global yang signifikan, dengan sekitar 20 juta kasus baru dan 9,7 juta kematian yang dilaporkan pada tahun 2022. Kanker payudara, sebagai salah satu jenis kanker dengan prevalensi tertinggi, menekankan pentingnya pengembangan pendekatan diagnostik dan terapeutik yang inovatif. Radiofarmaka, khususnya yang menggunakan Iodium-131 (¹³¹I), telah menunjukkan potensi besar dalam diagnosis dan terapi kanker. Dalam penelitian ini, senyawa turunan thiourea yang dikenal memiliki potensi farmakologis terhadap kanker payudara, dievaluasi sebagai kandidat radiofarmaka teranostik. Penelitian ini menggunakan metode in-silico untuk mengevaluasi senyawa turunan thiourea yang ditandai dengan ¹³¹I. Molecular docking dilakukan menggunakan AutoDockTools untuk menilai energi ikatan dan interaksi senyawa dengan reseptor HER2 (PDB ID: 3PP0). Senyawa dengan afinitas pengikatan terbaik kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan simulasi dinamika molekul dengan perangkat lunak Desmond untuk mengevaluasi kestabilannya selama 200 ns. Selain itu, profil farmakokinetik dan toksisitas senyawa diprediksi menggunakan platform pkCSM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa ¹³¹I-(4-Decylbenzoyl)-3-methylthiourea merupakan kandidat paling potensial dengan nilai afinitas pengikatan (ΔG) sebesar -8,64 kkal/mol. Simulasi dinamika molekul menunjukkan bahwa senyawa ini stabil selama 200 ns. Selain itu, senyawa ini memiliki profil farmakokinetik yang baik dan tidak bersifat toksik, meskipun nilai LogP-nya sedikit melebihi batas yang ditetapkan dalam aturan Lipinski’s Rule of Five. Sebagai kesimpulan, senyawa ¹³¹I-(4-Decylbenzoyl)-3-methylthiourea menunjukkan potensi yang kuat sebagai kandidat radiofarmaka yang stabil dan efektif untuk pengobatan kanker payudara. Meskipun senyawa ini memenuhi sebagian besar kriteria kelayakan obat, validasi eksperimental lebih lanjut dan studi klinis diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya. Hasil penelitian ini memberikan landasan yang menjanjikan bagi penelitian lanjutan dalam aplikasi radiofarmaka untuk pengobatan kanker.
EVALUASI PEMBERIAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS BEDAH DIGESTIF DAN KAITANNYA DENGAN INFEKSI DAERAH OPERASI (IDO) DI RSUP FATMAWATI Bekti, Wahyuningrum; Hesty Utami, R; Prih, Sarnianto; Magdalena, Niken
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.1954

Abstract

Penggunaan antibiotik profilaksis dalam tindakan bedah dilakukan untuk mengurangi kejadian Infeksi Daerah Operasi (IDO), diperlukan evaluasi berkala untuk dapat membuat pedoman penggunaan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik pasien dan kesesuaian pemberian antibiotik profilaksis bedah digestif dan bagaimana pengaruhnya dengan IDO serta analisis DDD dan Gyssens di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta. Metode penelitiannya adalah deskriptif cross sectional dengan data retrospektif dari rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi, dilakukan dengan menilai karakteristik pasien, kesesuaian pemberian antibiotik profilaksis,  serta Defined Daily Dose (DDD) dan Gyssens periode Januari-Desember 2021. Hasil penelitian dari sampel 112 pasien didapatkan IDO sebanyak 8 pasien. Terdapat hubungan yang bermakna antara jenis operasi (ρ-value 0,018) dengan kejadian Infeksi Daerah Operasi (IDO). Pada analisis kesesuaian antibiotik profilaksis dan kaitannya dengan Infeksi Daerah Operasi (IDO) yang mempunyai hubungan bermakna adalah jenis operasi  bersih terkontaminasi dan terkontaminasi (ρ-value 0,008) dan waktu pemberian antibiotik profilaksis    (ρ-value 0,020). Jenis operasi yang diteliti adalah bersih terkontaminasi dan terkontaminasi. Analisis lanjutan Post Hoc Bonferroni pada jenis operasi dan waktu pemberian antibiotik terdapat perbedaan bermakna baik yang sesuai, tidak sesuai serta tidak ada antibiotik (ρ-value kurang dari 0,05). Hasil dari DDD didapatkan untuk profilaksis 5,77 DDD/100 hari rawat, empiris 50,3 DDD/100 hari rawat, definitif 3,77 DDD/100 hari rawat. Hasil evaluasi Gyssens yang tertinggi yaitu untuk antibiotik profilaksis dengan kategori terbanyak adalah kategori I sebesar 58,9 %, empiris kategori 0 (tepat dan rasional)  sebanyak 40,9%,  antibiotik definitif dengan kategori terbanyak adalah kategori 0 (tepat dan rasional) sebesar 60%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah jenis operasi bersih terkontaminasi dan terkontaminasi dan waktu diberikannya antibiotik profilaksis dapat menurunkan angka Infeksi Daerah Operasi (IDO).
DEVELOPMENT AND EVALUATION OF PEPEROMIA PELLUCIDA L. PEEL-OFF GEL MASK AS ANTI-ACNE AGENT Indra, Indra; Yadi Aditya, Prawira; Fajar, Setiawan
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.1981

Abstract

This study investigates the development of a peel-off gel mask formulated with Peperomia pellucida L. extract as a natural treatment for acne. Peperomia pellucida L., traditionally valued for its medicinal properties, was characterized microscopically and macroscopically to confirm the plant’s identity and quality. Ethanol extraction yielded 16.54% bioactive compounds, including flavonoids, tannins, saponins, and triterpenoids, known for their antibacterial and anti-inflammatory activities. The research utilized a concentration-dependent approach, formulating three gel variants with 5% (F1), 10% (F2), and 15% (F3) extract concentrations. Antibacterial testing against Propionibacterium acnes showed that F3 exhibited the largest inhibition zone (10.72 mm), significantly outperforming the positive control (4.6 mm). Stability testing revealed that the formulations maintained consistent color, odor, and pH but faced challenges in viscosity and homogeneity at extreme temperatures. Hedonic testing indicated that participants favored F2 (10% extract) for its balanced aroma, color, and ease of application, although F1 and F3 were preferred for texture. Despite stability challenges, the formulations, mainly F3, demonstrated promising antibacterial efficacy. In conclusion, the peel-off gel mask containing Peperomia pellucida L. extract (F3) shows significant potential as a natural alternative to synthetic acne treatments. Further refinement is needed to enhance stability and user experience while maintaining its high antibacterial activity. study explores the development of a peel-off gel mask formulated with Peperomia pellucida L. extract for acne treatment. Peperomia pellucida L., traditionally known for its medicinal properties, was characterized microscopically and macroscopically, confirming the plant’s identity and quality. The ethanol extraction process yielded 16.54% of bioactive compounds, including flavonoids, tannins, saponins, and triterpenoids, known for their antibacterial and anti-inflammatory properties. Phytochemical screening confirmed these compounds’ presence, and antibacterial testing against Propionibacterium acnes revealed concentration-dependent inhibition, with the highest inhibition zone observed in the 15% extract formulation (F3). The gel formulations were evaluated for physical properties, stability, and user acceptance. Stability testing demonstrated consistency in colour, odour, and pH but revealed challenges in inhomogeneity and viscosity at extreme temperatures. Despite these issues, the formulations maintained antibacterial efficacy, mainly F3. Hedonic testing showed that participants favored F2 (10% extract) for its balanced aroma, color, and ease of application, although F1 and F3 were preferred for texture. In conclusion, the peel-off gel mask containing Peperomia pellucida L. shows significant potential as a natural, effective treatment for acne. However, further refinement is needed to optimize stability and user-friendliness while maintaining high antibacterial efficacy. These findings suggest that the extract could be a valuable addition to topical acne treatments, offering a natural alternative to synthetic products
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN KRIM PEWARNA RAMBUT DARI Monascus purpureus Anna, Yuliana; Meisya, Aulia; Resha Resmawati, Shaleha
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.1998

Abstract

Rambut merupakan satu dari beberapa elemen penting dalam penampilan seseorang dan sering kali dianggap sebagai mahkota yang mempercantik tampilan. Budaya di masyarakat rambut diberikan perhatian khusus sebagai ekspresi diri dan keindahan dimana pewarna rambut dapat dipakai sebagai tempat untuk mengekspresikan diri, dimana pewarna rambut telah dikembangkan dengan memakai pewarna alami karena dinilai lebih aman dibandingkan dengan memakai pewarna sintetik. Angkak mengandung metabolit sekunder berupa pigmen Monascus dengan tiga kelompok utama, yakni pigmen kuning, merah, dan jingga dimana angkak sendiri merupakan produk fermentasi beras Monascus sp. Tujuan dari riset ini ialah memperoleh hasil dari proses emanfaatan ekstrak pigmen merah dan pigmen kuning Monascus purpureus sebagai pewarna rambut dibuat menjadi 4 formula dimana formula 1 mengandung angkak sebanyak 10%, formula 2 mengandung angkak sebanyak 15%, dan formula 3 mengandung angkak sebanyak 20%. Formula terbaik diperoleh ada F3 dari pigmen kuning dan telah memenuhi standar menurut SNI 16-4339-1996 pada uji pH, daya sebar, dan viskositas. Untuk uji organoleptik, homogenitas, stabilitas warna pada rambut, iritasi memiliki hasil yang baik. Uji hedonik dilakukan terhadap 15 panelis dengan hasil F3 dari pigmen kuning yang paling banyak disukai.
HYPOGLYCEMIA POTENTIAL OF ETHANOL EXTRACT OF MELINJO LEAVES (Gnetum gnemon L.) ON WISTAR MALE WHITE RATS Herlina, Herlina; Dina Permata, Wijaya; Viva, Starlista; Annisa, Amriani; Herin, Noviarny
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2011

Abstract

Male rats were used in the study to evaluate the ethanol extract of melinjo leaf (Gnetum gnemon L.) for hypoglycemia after being given alloxan and having their pancreatic histology observed. Secondary metabolites with antidiabetic properties found in melinjo leaf include flavonoids, tannins, saponins, and phenolics. This study sought to ascertain the ethanol extract of melinjo leaves' ED50 as well as its impact on lowering blood glucose levels and monitoring pancreatic histology. The doses of melinjo leaf ethanol extract were varied to 125, 250, and 500 mg/kgBW. An insulin dosage of 1 IU/kgBW served as the positive control, a 0.5% Na CMC suspension served as the negative control, and a normal control group did not receive any therapy. Rats were tested by utilizing a DTN-410-K photometer to measure their fasting blood glucose levels on days 0, 10, 15, and 20 using the GOD-PAP enzymatic method. Hematoxylin-eosin staining was used in histopathology preparations, which were prepared in accordance with established protocols. Melinjo leaf ethanol extract dosages of 125, 250, and 500 mg/kgBW resulted in three treatment groups with corresponding the percentage of blood glucose reduction (%BGR) of 31.48, 34.39, and 42.90%, whereas the positive control had an average BGR of 40.68%. Melinjo leaf ethanol extract has an ED50 of 720.86 mg/kgBW. According to the histological image, the positive control group and the three treatment groups showed improvement, whereas the negative group's Langerhans islet endocrine cells showed necrosis. The 500 mg/kg BW dosage group shows the greatest improvement.
FORMULASI DAN KARAKTERISASI SEDIAAN GEL ITRACONAZOLE DENGAN SISTEM PEMBAWA VESICULAR TRANSFERSOM SEBAGAI ANTIJAMUR Widia Primi, Annisya; Ai Rian, Julyanti; Dika Tri, Agustina; Rizka Sri, Jayanti
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2013

Abstract

Itraconazole merupakan obat anti jamur yang memiliki keterbatasan kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi termasuk kedalam (Biopharmaceutical Classfication System) Kelas II. Hal ini menjadi permasalahan dalam bioavailabilitas yang dimiliki itraconazole sehingga menurunkan nilai terapetiknya. Oleh karena itu, perlunya meningkatkan kelarutan sehingga dapat meningkatkan laju disolusi, kelarutan dan absorbsi itraconazole. Untuk mengatasi keterbatasan itraconazole, maka dilakukan pengembangan teknologi formulasi terhadap peningkatan kelarutan dengan dibuat sistem vesicular dalam bentuk transfersom serta diinkorporasikan kedalam bentuk sediaan gel untuk mempermudah pengaplikasian transfersom itraconazole sebagai antijamur. Mekanisme transfersom dengan mengkombinasikan fosfolipid dan surfaktan sehingga membuat transfersom sangat fleksibel dan mampu menembus lapisan kulit yang sulit ditembus oleh sistem penghantaran obat konvensional. Untuk mengetahui keberhasilan transfersom dilakukan karakteristik transfersom yaitu pengujian  Particle Size Analisis, Potensial Zeta, PDI dan Stabilitas. Formula transfersom pada penelitian ini dilakukan variasi konsentrasi surfaktan dan fosfolipid yang digunakan 10%. Dari ke 3 formula tersebut didapatkan nilai PSA FT1 124 nm ± 0.47,  FT2 135 ± 0.58, dan FT3 146± 0.47 memenuhi persyaratan <150 nm. Nilai Potensial Zeta ke 3 Formula FT1 -42.5 mV, FT2 -45.8 Mv dan FT3 -43.2 mV memenuh kriteria ±-35 mV. Nilai PDI mendekati 1 yang artinya sediaan formula transfersom Itraconazole homogen. Pengujian morfologi Transfersom menggunakan TEM. Pengembangan sediaan gel dengan komponen formula utama Carbopol dilakukan variasi konsentrasi 0.3%, 0.6% dan 0.9%. Didapatkan pH dan viskositas yang memenuhi persyaratan pada formula FCB 0.6 dengan pH 5.1 ± 0.2 dan viscositas gel 23453 cPs ±1.95.