cover
Contact Name
Lilin Rosyanti
Contact Email
jurnaldanhakcipta@poltekkes-kdi.ac.id
Phone
(0401) 3190492
Journal Mail Official
edoffice@myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id
Editorial Address
Jalan Jendral A.H Nasution No.G-14, Anduonohu, Kambu, Kec. Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara 93231, Phone (0401) 3190492
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Health Information : Jurnal Penelitian
ISSN : 20850840     EISSN : 26225905     DOI : 10.36990/hijp
Core Subject : Health,
Health Information : Jurnal Penelitian adalah jurnal kesehatan yang bersifat mandiri, amanah, rasional, akuntabel dan global yang berisi hasil penelitian dengan metode kuantitatif dan kualitatif.
Articles 664 Documents
Risiko Paparan Asap Rokok Pada Ibu Hamil Terhadap Kejadian Penyakit Paru Anak : Tinjauan Pustaka Syarifah, Anisa Ulaya; Riskyana, Claudya Dwie; Tjahyanto, Teddy
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan pada masa kehamilan harus dijadikan perhatian khusus pada ibu hamil karena memiliki pengaruh terhadap kesehatan janin dan anak di masa mendatang. Terutama pengaruh paparan asap rokok pada lingkungan yang menjadi salah satu faktor risiko penyakit saluran pernapasan. Dalam hal ini Secondhand Smoke (SHS) memiliki pengaruh kuat yang dapat berdampak pada gangguan perkembangan janin seperti pada organ paru, Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), peningkatan kejadian ISPA, dll. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menyimpulkan zat SHS yang berdampak pada perkembangan dan penyakit paru anak. Penulis melakukan pencarian, pemilahan dan analisis literatur-literatur ilmiah dengan kata kunci exposure tobacco smoke, pregnancy, prenatal, maternal, respiratory tract disease, children. Sumber literatur yang digunakan adalah google scholar, pubmed, science direct dengan jangka waktu 10 tahun terakhir (2012-2022). Hal yang paling penting dalam SHS yaitu zat yang terkandung dalam asap rokok yang dihirup oleh ibu hamil. Terdapat tiga jenis zat yang memiliki mekanisme kuat yang mempengaruhi janin, diantaranya Karbon Monoksida menyebabkan kurangnya pasokan oksigen pada darah bayi melalui plasenta sehingga dapat menyebabkan cacat lahir, dll. Nikotin yang mempengaruhi perkembangan paru janin dengan nAChRs (reseptor asetilkolin nikotinat) dan mengurangi aktivitas enzim antioksidan dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) yang dapat menimbulkan asma pada anak dengan memodulasi metilasi DNA dari gen pertumbuhan melalui plasenta ibu. Dari ketiga jenis zat tersebut dapat disimpulkan bahwa SHS berpengaruh kuat terhadap perkembangan dan penyakit paru anak dengan mekanisme sama yaitu dapat melewati plasenta. Namun, mengenai dampak langsung atau terdapat durasi rentang dari prenatal ke postnatal penyakit paru pada anak belum didapatkan laporan pasti, diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat menguraikan lebih lanjut.
Biomarker Terkini Untuk Membedakan Diagnosis Stroke Iskemik Dan Hemoragik Pada Pasien Dewasa Dan Lansia : Sebuah Review Ariyanto, Cindy Rachmadewi; Novela, Cindy; Yohan, David; Wahyu, Intan Dwi; Alhaq, Ilham
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Stroke adalah kejadian defisit neurologis yang terjadi secara mendadak akibat berkurangnya atau terhambatnya suplai darah ke bagian otak tertentu. Stroke menjadi penyebab kematian kelima terbanyak di Amerika Serikat dan penyebab kematian ketiga terbanyak di dunia. Saat ini, pemeriksaan neuroimaging seperti CT Scan dan MRI menjadi gold standard dalam menentukan diagnosis stroke. Namun, pemeriksaan tersebut terbatas, membutuhkan biaya yang mahal, dan memakan waktu. Biomarker menjadi salah satu alat yang saat ini sedang banyak diteliti untuk membantu mendiagnosis stroke secara cepat dan tepat serta digunakan untuk membedakan stroke iskemik dan hemoragik. Tujuan: Mengetahui biomarker terkini yang dapat digunakan untuk membedakan diagnosis stroke iskemik dan hemoragik pada pasien dewasa dan lansia. Metode: Tinjauan literatur dari empat database PubMed, DOAJ, Cochrane, dan Google Scholar yang diterbitkan dalam rentang waktu 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2018-2022. Hasil: Didapatkan 14 literatur yang melaporkan biomarker yang efektif untuk mendiagnosis stroke iskemik dan hemoragik seperti Matrix Metalloproteinase (MMP), Thioredoxin, N-terminal brain natriuretic peptide (NT-proBNP), C-reactive protein (CRP), Sphingosine 1-phosphate (S1P), S100, Glial Fibrillary Acidic Protein (GFAP), dan Cystatin C (CysC). Kesimpulan: Dari literatur ini didapatkan bahwa Matrix Metalloproteinase (MMP), Thioredoxin, N-terminal brain natriuretic peptide (NT-proBNP), C-reactive protein (CRP), dan Sphingosine 1-phosphate (S1P) dapat digunakan sebagai alat diagnosis stroke iskemik. Sedangkan biomarker S100 dan Glial Fibrillary Acidic Protein (GFAP) dapat mendiagnosis stroke hemoragik, sehingga dapat digunakan untuk menyingkirkan diagnosis stroke iskemik. Cystatin C (CysC) dapat digunakan sebagai biomarker penanda stroke pada pasien lansia.
Tinea Berulang Pada Pengguna Anti-Epileptik Jangka Panjang Pasya, Aurora Rahyu; Ramadhani, Dian kusumadewi
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tinea kapitis adalah kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies dermatofita yang mampu menginfeksi keratin, seperti Trichophyton dan Microsporum. Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya tinea kapitis diantaranya adalah jenis kelamin, usia, tingkat kebersihan, lokasi tempat tinggal, status ekonomi, tingkat pendidikan, kontak dengan penderita tinea kapitis, serta keadaan yang dapat menurunkan sistem imun melawan infeksi seperti penggunaan obat-obatan, diabetes melitus, dan obesitas. Klasifikasi tinea kapitis dibagi berdasarkan bentuknya, yaitu Gray Patch Rin worm, Blackdot Ringworm, Kerion, dan Favus. Dilaporkan kasus tinea kapitis pada seorang anak laki laki berusia 16 tahun dengan keluhan gatal pada kulit kepala sejak 2 minggu sebelum periksa ke rumah sakit. Ditemukan lokasi lesi pada scalp dengan efloresensi berupa papul eritema, ukuran lentikular dengan jumlah multipel, didapatkan skuama keabuan serta erosi, konfigurasi tidak khas dan batas si kumskrip. Pemeriksaan Lampu Wood didapatkan fluoresensi kuning kehijauan. Pasien didiagnosis tinea kapitis dan diberikan sampo ketononazole 2% yang digunakan dua kali seminggu, griseofulvin 125mg 2 kali sehari dua tablet, dan cetirizine 10mg satu kali sehari. Prognosis pasien baik tetapi dapat terjadi kekambuhan karena pasien juga memiliki riwayat epilepsi dan rutin mengonsumsi antiepileptik yang merupakan salah satu faktor predisposisi tinea kapitis.
Pengaruh Profilaksis Pra-Pajanan (PPRP) Terhadap Insiden Infeksi Menular Seksual Pada Lelaki Seks Lelaki (LSL) Christian, Cindy; Rianto, Louis; Likawidjaya, Sherin Christy; Elhapidi, Nafisa Zulpa; Ongko, Felix
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi menular seksual (IMS) seringkali ditemukan pada kelompok lelaki seks lelaki (LSL) dengan atau tanpa HIV. Profilaksis pra-pajanan (PPrP) yang seringkali digunakan untuk menurunkan insidensi HIV-AIDS juga dapat dipertimbangkan penggunaannya untuk menurunkan insidensi IMS pada kelompok LSL. Studi ini dilakukan untuk meninjau efek pemberian PPrP dalam menurunkan transmisi dan penyebaran IMS pada LSL. Kami melakukan telaah literatur dengan mencari artikel jurnal pada Google Scholar, Science Direct, PubMed, Hindawi dan Ebsco yang dipublikasikan dalam periode 2013-2023. Berdasarkan penelitian, tingginya angka IMS pada kelompok LSL disebabkan karena perilaku berisiko seperti perilaku seks tanpa kondom, berganti-ganti pasangan, dan perilaku seks anal. Walaupun PPrP terbukti efektif menurunkan insidensi HIV-AIDS, penggunaan PPrP belum terbukti efektif untuk menurunkan insidensi IMS pada kelompok LSL dengan atau tanpa HIV akibat meningkatnya perilaku berisiko setelah penggunaan PPrP.
Perbandingan Hipotiroid Kongenital Dengan Eutiroid Terhadap Kelainan Ginjal Dan Traktus Urinarius Pada Anak Salim, Ruth Brigitta; Natalie, Michelle Ruth; Ratana, Angelica Devi; Abdiwijoyo, Mario; Winata, Gisela
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipotiroid kongenital adalah kelainan kongenital yang sangat umum dijumpai pada neonatus, di mana satu dari 3000-4000 bayi di dunia mengalami hipotiroid kongenital. Angka kejadian hipotiroid kongenital di Indonesia sendiri yaitu 1:2500 per penduduk. Hipotiroid kongenital dapat berhubungan dengan kelainan kongenital lainnya, salah satunya kelainan ginjal dan traktus urinarius. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti mutasi gen (PAX8, FOXE1, TTF1, TTF2, TSHR, TPO, dan NIS) dan gangguan maternal (hipotiroid dan epilepsi dalam kehamilan). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan hipotiroid kongenital dengan kelainan ginjal dan traktus urinarius sehingga dapat menurunkan risiko penyakit ginjal stadium akhir pada bayi dan anak. Pencarian literatur diambil dari artikel jurnal terpercaya seperti Pubmed, Google Scholar, Ebsco, Medline, Science Direct, Cochrane, dan Hindawi yang diterbitkan dalam rentang waktu 10 tahun terakhir. Selain gen PAX8, mutasi pada gen-gen lain yang terlibat dalam perkembangan ginjal dan sistem urinarius seperti WT1, WNT4, SALL1, serta NKX2-1 dapat menyebabkan gangguan sistem urinarius kongenital seperti gangguan fungsi ginjal atau pembentukan ginjal. Kondisi dehidrasi hipernatremik pada anak akibat glomerulonefritis akut seringkali menyebabkan cedera ginjal akut pada hipotiroid kongenital. Hipotiroid dapat menurunkan fungsi ginjal dan mempengaruhi proses filtrasi, reabsorbsi, dan sekresi. Hal ini dapat mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit dan menyebabkan gangguan ginjal. Terjadinya hipotiroid juga dapat menurunkan produksi urin dan memperlambat proses penyerapan cairan, yang menyebabkan dehidrasi dan memperburuk kondisi ginjal. Kelainan kongenital ginjal dan traktus urinarius lebih banyak ditemukan pada anak hipotiroid kongenital dibandingkan anak eutiroid, dengan odds ratio (OR) 13,2.
Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji Dengan Status Gizi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Di Masa Pandemi Covid-19 San Murdoko, Ilham Wicaksono; Frisca, Frisca
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu masalah kelebihan gizi yang terjadi pada anak dan remaja serta mendapatkan perhatian khusus di dunia kesehatan adalah obesitas. Beberapa faktor risiko yang menyebabkan meningkatnya prevalensi obesitas khususnya obesitas pada remaja adalah terjadinya perubahan pola hidup. Pandemi COVID-19 memperbesar risiko terjadinya obesitas pada anak dan remaja karena perubahan gaya hidup. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian overweight dan obesitas di masa pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain penelitian berupa jenis analitik dengan pendekatan Cross-Sectional. Pengambilan subjek dilakukan dengan purposive non probability sampling dan didapatkan sebanyak 201 mahasiswa menjadi responden dalam penelitian ini. Penelitian ini dilakukan secara daring dengan memberikan kuesioner melalui google form. Analisis statistik menggunakan table 2x2 dengan uji chi-square dan didapatkan hasil mayoritas subjek berjenis kelamin perempuan dengan rata–rata usia 20,30 tahun. Pada penelitian ini didapatkan 98 (48,7%) subjek menderita gizi lebih yaitu overweight dan obesitas, juga sebagian besar subjek (69,2%) mengalami peningkatan berat badan selama pandemi COVID-19. Pada penelitian ini juga didapatkan sebelum masa pandemi terdapat 50 (24,9%) subjek yang mengonsumsi makanan cepat saji ? 3x/minggu dan selama masa pandemi sebanyak 70 (34,8%) subjek mengonsumsi makanan cepat saji ?3x/minggu. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan konsumsi makanan cepat saji dengan status gizi (p = 0,580), dengan nilai prevalens ratio 0,849 berarti mahasiswa yang mengonsumsi makanan cepat saji ? 3x/minggu memiliki risiko 0,849 kali lebih besar untuk terkena obesitas dibandingkan dengan mahasiswa yang mengonsumsi makanan cepat saji < 3x/minggu.
Non-Traumatic Intraventricular Hemorrhage With Hydrocephalus Hafidz, Rosha Aulia Fadhilah; Berlianza, El Varel Baby
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Non-traumatic intracerebral hemorrhage (ICH) in younger population is a relatively rare event but is associated with considerable mortality and poor functional outcome. Imaging plays a crucial role in determining the underlying cause and guide treatment of ICH. Method: A 67-year-old man was brought by his family members to Royal Taruma Hospital emergency department in an unconscious state. The patient has been unconscious for almost 4.5 hours before presenting to the hospital. Before the incidence, the patient was claimed to be normal and able to carry out daily activities normally.  The patient had a history of hypertension, diabetes mellitus, and ischaemic stroke (exact history of disease couldn’t be assessed due to guardian’s inability to recall ), and has stopped going for monthly follow-up appointments due to personal reasons. Result: On physical examination, the patient was comatose with GCS of 6 (E1M3V2), vital signs were measured and results are as follow : blood pressure 208/133 mmHg, pulse 98 x/min, respiration rate 16x/min, temperature 36.6°c, oxygen saturation 98%. Cranial nerve examination revealed isochore pupils, with diameters of 3 mm, light reflex (+). Laboratory examination results were as follow : Hemoglobin 15.3 mg/dL, leucocytes 198500/ uL, hematocrit 4%, thrombocytes 248000/uL, erythrocyte sedimentation rate (ESR) 10 mm/hour. Renal and liver functions were within normal limits. Blood glucose was found elevated to 226 mg/dL. Electrolytes, including calcium, sodium, potassium, chloride were within normal limits. Magnesium was decreased to 1.6 mg/dL. Conclusion: Hydrocephalus is very sensitive for detecting the underlying structural and local causes of ICH in young adults. Thus, Hydrocephalus should be considered in the diagnostic work-up of all young Hydrocephalus patients to enable targeted secondary prevention
Peran Cranberry Terhadap Rekurensi Infeksi Saluran Kemih: Sebuah Review Dimas Tara, Audina aliansa; Tambunan, Bella Chechelia; Khatimah, Gita Khusnul; Pasya, Aurora Rahyu; Susanti, Kezia
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi saluran kemih (ISK) berulang didefinisikan sebagai setidaknya tiga episode ISK dalam dua belas bulan, atau setidaknya dua episode dalam enam bulan. Menurut World Health Organization (WHO), penyakit infeksi saluran kemih (ISK) adalah penyakit infeksi kedua tersering dan sebanyak 8,3 juta kasus dilaporkan per tahun. Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan dan kekambuhan ISK. Wanita yang pernah mengalami ISK berulang memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah terdiagnosis ISK. Antibiotik merupakan tatalaksana profilaksis pada ISK berulang. Namun ada alternatif yang tersedia, seperti cranberry, probiotik, dan obat tradisional cina. Cranberry merupakan alternatif yang dapat dipilih dalam pencegahan ISK di era tingginya angka resistensi terhadap antibiotik dan ISK berulang. Cranberry bekerja terutama dengan mencegah perlekatan pili tipe 1 dan strain p-fimbriae ke epitel saluran kemih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat penggunaan cranberry terhadap ISK berulang serta efektivitas penggunaan cranberry terhadap profilaksis terjadinya ISK berulang dibandingkan dengan antibiotik profilaksis. Metode penelitian ini merupakan literature review dengan pencarian dan pemilihan literatur-literatur yang diterbitkan dalam rentang 10 tahun terakhir kemudian telah dilakukan seleksi jurnal dengan kriteria akses terbuka dan yang memenuhi didapatkan 47 jurnal. Hasil penelitian menunjukkan jus Cranberry dikatakan dapat menurunkan pH urin untuk mengobati ISK dan memiliki zat proanthocyanidins sehingga mencegah perlekatan bakteri dalam saluran kemih. Studi lain melaporkan bahwa konsentrasi asam hipurat dalam urin tidak cukup untuk efek antibakteri. Selain itu beberapa studi menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara penggunaan produk Cranberry dengan pasien yang menerima placebo. Sehingga konsumsi ekstrak Cranberry ini tidak dapat menggantikan antibiotik saat terjadi ISK yang sedang aktif. Konsumsi ekstrak cranberry dapat disarankan untuk terapi tambahan pada ISK yang sedang aktif, maupun sebagai profilaksis ISK berulang, namun harus tetap bersamaan dengan antibiotik..
Efikasi Suplementasi Kolagen Dalam Mencegah Tanda Penuaan Agnes Jap, Claudia; Pertiwii, Amelia Suci; Andrew, Johannes; Eric, Eric
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia dan menyumbang sekitar 16% dari total berat badan. Seiring bertambahnya usia, terjadi perubahan pada tubuh termasuk kulit. Manifestasi yang jelas adalah kerutan, pigmentasi dan elastisitas kulit yang berkurang. Kulit mengandung sekitar 70% kolagen yang memberikan efek mengencangkan pada kulit. Komposisi kolagen akan berkurang seiring bertambahnya usia. Beberapa tahun terakhir, suplemen kolagen semakin banyak digunakan sehingga literatur ini dibuat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pemberian suplementasi kolagen dalam hal dapat mencegah terjadinya proses penuaan di Indonesia. Sumber literatur yang digunakan adalah Pubmed, Google Scholar, Medline, Ebsco, Hindawi, Science Direct dan Cochrane. Setelah itu dilakukan seleksi untuk memilih literatur yang sesuai serta dilakukan penyusunan artikel. Penggunaan suplementasi kolagen untuk memperlambat proses penuaan telah menjadi trend pada bidang dermatologi dan kosmetik. Suplemen kolagen yang terdiri atas sediaan oral dan topikal dikatakan berkontribusi dalam mencegah terjadinya proses penuaan. Berdasarkan penelusuran literatur yang telah dilakukan, kolagen memiliki efek positif dalam mencegah penuaan kulit dengan cara meningkatkan kelembaban dan elastisitas kulit, mengurangi kerutan serta mengkompensasi kerusakan oksidatif pada fibroblas. Penuaan kulit merupakan suatu proses biologis multifaktorial dan normalnya terjadi pada dekade ketiga kehidupan. Tanda penuaan kulit ditandai dengan kerutan, elastisitas kulit yang berkurang dan tekstur yang kasar. Suplementasi kolagen telah terbukti dapat mencegah terjadinya proses penuaan kulit dengan berbagai mekanisme fisiologisnya.
Patofisiologi Otitis Media Efusi (OME) Pada Pasien Dengan Refluks Laringofaringeal (LPR) Pasya, Aurora Rahyu; Alica, Tri Yunita; Liow, Chanelia Dirgatni; Rinaldo, Alvin; Adinata, Yonatan
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otitis media dengan efusi (OME) adalah suatu kondisi di mana terdapat efusi non-purulen pada telinga tengah tanpa disertai perforasi membran timpani. Selama beberapa dekade terakhir, refluks gastroesofageal, yang kemudian dapat berkembang menjadi refluks laringofaringeal, telah diusulkan sebagai salah satu faktor etiologi yang penting untuk OME. Sebuah studi prevalensi pada tahun 2019 menyatakan kejadian OME ditemukan 4,5 kali lebih banyak pada kelompok pasien dengan LPR dibandingkan kelompok tanpa riwayat LPR. Mekanisme patofisiologis ini sering dipertanyakan dalam penelitian terdahulu, karena terdapat berbagai hipotesis yang dapat menjelaskan pengaruh LPR terhadap patogenesis OME. Tujuan: Penulis ingin memberikan referensi baru yang lebih akurat mengenai patofisiologi terjadinya otitis media efusi pada kasus refluks laringofaringeal berdasarkan referensi-referensi yang telah dibuat sebelumnya. Metode: Pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan database seperti PubMed, Cochrane Library, dan Science Direct dengan kata kunci “patofisiologi”, “otitis media efusi", “OME”, “refluks laringofaringeal” dan “LPR”. Kriteria inklusi dalam studi ini adalah semua studi yang membahas definisi, etiologi, epidemiologi dan mekanisme patofisiologi OME pada pasien dengan LPR. Literatur-literatur yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara sistematis dan disajikan dalam bentuk artikel, tabel dan diagram yang sesuai untuk mempermudah pemahaman mengenai patofisiologi otitis media efusi pada kasus refluks laringofaringeal. Hasil: Mekanisme LPR dalam mengembangkan OME dapat dibagi menjadi beberapa kemungkinan sugestif: a) disfungsi tuba Eustachius karena LPR; b) stimulasi inflamasi di telinga tengah oleh H. pylori; dan c) aktivitas proteolitik pepsin di telinga tengah. Konten yang mengalami refluks dari gaster dapat mencapai tuba Eustachius dan menyebabkan obstruksi tuba secara langsung atau menyebabkan inflamasi, adhesi, dan kolaps pada saluran tersebut sehingga memfasilitasi mikroorganisme untuk mengembangkan OME. Di sisi lain, konten refluks yang mengandung bakteri H. pylori dan pepsin juga berperan dalam memicu respon inflamasi yang menyebabkan OME. Kesimpulan: Mekanisme yang paling mungkin menjelaskan patogenesis otitis media efusi (OME) pada kasus refluks laringofaringeal (LPR) terbagi dalam tiga proses patofisiologi utama sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pembahasan lebih lanjut mengenai upaya eradikasi H. pylori dan modifikasi gaya hidup yang bersifat preventif untuk LPR perlu dilakukan.