cover
Contact Name
Dr. Supian, S.Ag., M.Ag.
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltitian.fib@unja.ac.id
Editorial Address
Gedung G, LT. III, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi, Mendalo, Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora
Published by Universitas Jambi
ISSN : 26153440     EISSN : 25977229     DOI : -
Titian merupakan jurnal ilmiah akademik dalam bidang kajian ilmu Humaniora (budaya) yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi. Penerbitan jurnal ini dimaksudkan untuk mempublikasikan berbagai artikel hasil penelitian, studi kepustakaan, studi lapangan, gagasan konseptual, kajian penerapan teori dalam bidang ilmu humaniora. Jurnal ini dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, maupun Arab. Jurnal ini mengutamakan pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan ilmu bahasa (linguistik), ilmu sastra (Daerah, Indonesia, Inggris, Arab), Sejarah, Arkeologi, Seni, Sosiologi, Antropologi, Etnografi dan Agama. Jurnal Titian terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember.
Articles 244 Documents
Dinamika Adiksi Digital: Tantangan Kognitif dan Psikososial di Era AI, Media Sosial, dan Teknologi Persuasif Agustini, Dewi
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 10 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v10i1.56699

Abstract

The massive integration of Artificial Intelligence (AI) and hyper-personalized, curated social media algorithms has triggered an escalation of cognitive crises and psychosocial degradation on a global scale. This paper conducts a comprehensive synthesis of 24 multidisciplinary scientific literatures (spanning 2013–2026) to map the causal dynamics and correlations among three interdependent phenomena: Digital Amnesia, Doomscrolling, and Phubbing. Digital Amnesia & Cognitive Erosion: Key findings indicate that the externalization of cognitive functions to AI-based assistants consistently erodes long-term memory retrieval through an amplified Google Effect. The human brain adaptively prioritizes energetic efficiency, outsourcing the burden of information storage to the digital ecosystem, which in the long run triggers functional atrophy within working memory circuits. Doomscrolling & Affective Desensitization: On the other hand, constant exposure to negative content stimulation facilitated by omnipresent algorithms drives doomscrolling behavior. Neurobiologically, this information asymmetry exploits the dopaminergic reward system and induces a state of chronic stress (constant activation of the HPA axis). The systemic impact of this condition manifests as up to a 20% decline in affective empathy scores, a form of emotional desensitization toward external suffering. Phubbing & Social Fragmentation: This cognitive fragmentation mutates into phubbing (phone-snubbing) behavior within the social sphere. Empirical data confirms that phubbing has undergone sociological normalization, shifting the structure of interpersonal interactions from deep engagement to mediated presence. This phenomenon significantly damages relationship satisfaction in romantic partnerships and degrades the quality of qualitative social cohesion. In conclusion, the accumulation of these three digital pathologies increases the risk of digital dementia—a decline in functional cognitive capacity that resembles organic brain injury. This study recommends structural interventions based on digital mindfulness and the regulated restoration of face-to-face interactions as the primary mitigation protocols to restore the cognitive homeostasis of modern humans. Abstrak Integrasi masif kecerdasan buatan (AI) dan algoritma media sosial yang terkurasi secara hiper-personal telah memicu eskalasi krisis kognitif dan degradasi psikososial pada skala global. Makalah ini melakukan sintesis komprehensif terhadap 24 literatur ilmiah multidisipliner (rentang waktu 2013–2026) untuk memetakan dinamika kausalitas dan korelasi antara tiga fenomena interdependen: Digital Amnesia, Doomscrolling, dan Phubbing. Digital Amnesia & Erosi Kognitif, temuan kunci menunjukkan bahwa eksternalisasi fungsi kognitif kepada asisten berbasis AI secara konsisten mengikis retensi memori jangka panjang (long-term memory retrieval) melalui efek Google Effects yang teramplifikasi. Otak manusia secara adaptif memprioritaskan efisiensi energetik, mentransfer beban penyimpanan informasi ke ekosistem digital, yang pada jangka panjang memicu atrofi fungsional pada sirkuit memori kerja. Doomscrolling & Desensitisasi Afektif, di sisi lain, paparan konstan terhadap stimulasi konten negatif yang difasilitasi oleh algoritma omnipresent mendorong perilaku doomscrolling. Secara neurobiologis, asimetri informasi ini mengeksploitasi sistem penghargaan dopaminergik dan menginduksi kondisi stres kronis (aktivasi konstan aksis HPA). Dampak sistemik dari kondisi ini bermanifestasi pada penurunan skor empati afektif hingga 20%, sebuah bentuk desensitisasi emosional terhadap penderitaan eksternal. Phubbing & Fragmentasi Sosial, fragmentasi kognitif ini bermutasi menjadi perilaku phubbing (phone-snubbing) di ranah sosial. Data empiris mengonfirmasi bahwa phubbing telah mengalami normalisasi sosiologis, menggeser struktur interaksi interpersonal dari deep engagement menjadi mediated presence. Fenomena ini secara signifikan merusak kepuasan hubungan romantis (relationship satisfaction) dan menurunkan kualitas kohesi sosial kualitatif. Sebagai konklusi, akumulasi dari ketiga patologi digital ini meningkatkan risiko digital dementia—sebuah penurunan kapasitas kognitif fungsional yang menyerupai cedera otak organik. Kajian ini merekomendasikan intervensi struktural berbasis digital mindfulness dan restorasi interaksi tatap muka secara terregulasi sebagai protokol mitigasi utama untuk memulihkan homeostasis kognitif manusia modern.
Pottery Discoveries at the Penanggootu Site, East Kolaka Regency, Southeast Sulawesi: A Study of Form, Decorative Varieties, and Technology Sabri, M; Syah, Muh. Ardian; Suryanto, Suryanto
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 10 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v10i1.55055

Abstract

Archaeological research in East Kolaka Regency, Southeast Sulawesi, remains limited, particularly in the Mendoke Mountain region. This study reports the discovery of pottery fragments from the Penanggootu Site and aims to examine their typological diversity, as well as stylistic and technological attributes. Employing a qualitative-descriptive approach, the research encompasses stages of data collection, processing, analysis, and interpretation. The results reveal a range of vessel forms, including cooking pots, bowls, and jars. Motif analysis indicates the continuity of an early pottery tradition alongside a high degree of visual complexity, suggesting the intergenerational transmission of technical and artistic knowledge. These findings contribute new insights into the dynamics of ancient cultural development in the Mendoke Mountains and underscore the significance of this area as an important cultural landscape that has remained largely overlooked in regional archaeological and historical studies. Abstrak Kajian arkeologis di Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, hingga kini masih relatif terbatas, khususnya pada wilayah Pegunungan Mendoke. Penelitian ini melaporkan temuan fragmen gerabah dari Situs Penanggootu dan bertujuan mengkaji keragaman tipologi, serta aspek stilistik dan teknologi pembuatannya. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif-deskriptif yang meliputi tahapan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan eksplanasi data. Hasil penelitian menunjukkan variasi bentuk gerabah berupa periuk, mangkuk, dan kendi. Analisis motif mengindikasikan keberlanjutan tradisi gerabah tua yang berpadu dengan tingkat kompleksitas visual yang tinggi, mengisyaratkan adanya transmisi pengetahuan antargenerasi. Temuan ini memberikan kontribusi baru terhadap pemahaman dinamika budaya kuna di Pegunungan Mendoke serta menegaskan posisi wilayah ini sebagai lanskap budaya penting yang selama ini terabaikan dalam kajian arkeologi dan sejarah regional.
Membaca Papua sebagai “Timur”: Kajian Orientalisme Edward Said dalam Antologi Puisi Bertemu Belalang Karya Gody Usnaat Febriani, Rini; A, Syahrizal Firdaus; Maulida, Aulia; S, Muhammad Erlangga; Rahariyoso, Dwi
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 10 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v10i1.59002

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap representasi Papua sebagai “Timur” atau the Other dalam kumpulan puisi Bertemu Belalang karya Gody Usnaat serta menjelaskan posisi pengarang sebagai outsider dalam merepresentasikan Papua. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kritik sastra pascakolonial. Objek material penelitian berupa puisi "Bertemu Belalang" dan "Belajar Mengeja Huruf" dalam antologi Bertemu Belalang karya Gody Usnaat, sedangkan objek formalnya adalah representasi Papua sebagai “Timur” atau the Other dalam perspektif orientalisme Edward Said. Data penelitian berupa diksi, metafora, suasana, dan simbol-simbol kultural yang diperoleh melalui teknik baca dan catat, kemudian dianalisis secara deskriptif-interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Papua direpresentasikan sebagai wilayah pinggiran yang menempati posisi simbolik sebagai “Timur” melalui empat pola utama, yaitu keterpinggiran pendidikan, trauma konflik, kekhasan ekologis, dan solidaritas komunal. Keempat pola tersebut membangun Papua sebagai ruang yang berbeda dari pengalaman dominan yang dibentuk oleh pusat sehingga memposisikannya sebagai Timur (the Other). Penggunaan idiom lokal, nama-nama satwa, dan lanskap budaya Papua menunjukkan upaya pengarang menghadirkan dunia hidup masyarakat Papua secara lebih manusiawi sekaligus mengkritik marginalisasi yang dialami masyarakat Papua. Akan tetapi, sebagai pengarang yang berasal dari luar Papua, Gody Usnaat tidak sepenuhnya terbebas dari logika orientalisme yang dikritiknya. Penekanan yang berulang pada keterbelakangan, keterpencilan, dan pengalaman konflik justru memperlihatkan adanya ambivalensi karena di satu sisi mengkritik representasi dominan mengenai Papua, tetapi di sisi lain masih mereproduksi sebagian stereotip tentang Papua sebagai wilayah yang berbeda dan tertinggal. Penelitian ini menunjukkan bahwa orientalisme tidak hanya bekerja dalam relasi geografis antara Barat dan Timur, tetapi juga dapat dibaca secara analogis melalui relasi antara pusat dan pinggiran dalam konteks Indonesia. Abstract This study aims to examine the representation of Papua as the “East” or the Other in Gody Usnaat’s poetry collection Bertemu Belalang and to explain the author’s position as an outsider in representing Papua. The study employs a qualitative descriptive method within a postcolonial literary criticism framework. The material objects of the study are the poems “Bertemu Belalang” and “Belajar Mengeja Huruf” from Bertemu Belalang by Gody Usnaat, while the formal object is the representation of Papua as the “East” or the Other through Edward Said’s theory of Orientalism. The data consist of diction, metaphors, atmosphere, and cultural symbols collected through close reading and note-taking techniques and analyzed using a descriptive-interpretative approach. The findings reveal that Papua is represented as a peripheral region occupying the symbolic position of the “East” through four dominant patterns: educational marginalization, the trauma of conflict, ecological distinctiveness, and communal solidarity. These patterns construct Papua as a space differentiated from the dominant experience shaped by the center, thereby positioning it as the Other. The use of local idioms, the names of indigenous fauna, and Papua’s cultural landscapes reflects the poet’s effort to portray the lived experiences of Papuan communities in a more humane manner while simultaneously criticizing their marginalization. Nevertheless, as an author originating from outside Papua, Gody Usnaat is not entirely free from the Orientalist logic that he seeks to challenge. The recurring emphasis on underdevelopment, remoteness, and experiences of conflict reveals an inherent ambivalence: on the one hand, the poems contest dominant representations of Papua; on the other hand, they inadvertently reproduce certain stereotypes that portray Papua as a remote and underdeveloped region. This study demonstrates that Orientalism operates not only through the geographical relationship between the West and the East but can also be understood analogically through the relationship between the center and the periphery within the Indonesian context.
Dinamika Sosial Budaya dalam Pernikahan Transnasional (Studi Kasus Terhadap Perempuan Minangkabau dengan Laki-Laki Korea Selatan) Sung, Jung Ji; Syafril, Syafril; Nopriyasman, Nopriyasman
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 10 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v10i1.59194

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika sosial budaya dalam pernikahan transnasional antara perempuan Minangkabau dan Laki-laki Korea Selatan. Fokus penelitian diarahkan pada tiga hal : (1) tantangan yang dialami oleh pasangan sebelum menikah (2) dinamika kehidupan setelah menikah, khususnya dalam aspek adaptasi budaya, relasi dengan keluarga besar, peran gender, dan bahasa (3) dampak pernikahan terhadap keturunan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teori hibridisasi budaya, melalui wawancara mendalam terhadap pasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan sebelum menikah meliputi kesulitan memperoleh restu keluarga, perbedaan agama, perbedaan ritual pra nikah, kerumitan administrasi hukum, serta tekanan sosial psikologis. Setelah menikah, pasangan menghadapi perbedaan dalam adaptasi budaya sehari-hari, kesulitan membangun hubungan baik dengan keluarga besar, perbedaan sistem kekerabatan matrilineal dan patrilineal, serta hambatan bahasa. Konflik karena perbedaan ini dapat dikelola melalui kompromi, pembagian peran yang lebih setara, serta penggunaan bahasa Inggris sebagai medium komunikasi utama. Dalam kehidupan anak, pernikahan transnasional membawa pengaruh signifikan. Anak memperoleh pendidikan dengan pola hybrid yang menggabungkan nilai Korea dan Minangkabau. Anak menjadi multilingual dengan menguasai bahasa Indonesia, Korea, Inggris, dan Palembang, serta anak memiliki identitas budaya multilapis yang bersifat hybrid. Dari sisi kewarganegaraan, anak berada dalam posisi unik karena memiliki kewarganegaraan ganda bahkan tiga (Amerika Serikat, Indonesia, Korea Selatan). Kesimpulannya, pernikahan transnasional perempuan Minangkabau dengan laki-laki Korea Selatan menghasilkan proses hibridisasi budaya yang kompleks, baik dalam hubungan pasangan maupun dalam pembentukan identitas anak. Temuan ini memperlihatkan bagaimana kompromi, negosiasi, dan strategi adaptasi menjadi kunci keberlangsungan pernikahan transnasional. ABSTRACT This study examines the socio-cultural dynamics in a transnational marriage between a Minangkabau woman and a South Korean man. The focus of the research is directed toward three aspects: (1) challenges experienced by the couple prior to marriage; (2) post-marital life dynamics, particularly in terms of cultural adaptation, relationships with extended families, gender roles, and language; and (3) the impact of marriage on offspring. This research employs a qualitative method and applies the theory of cultural hybridization through in-depth interviews with the couple. The findings reveal that pre-marital challenges include difficulties in obtaining family approval, religious differences, differences in pre-marital rituals, legal and administrative complexities, as well as socio-psychological pressures. After marriage, the couple encounters differences in daily cultural adaptation, challenges in establishing harmonious relationships with extended families, disparities between matrilineal and patrilineal kinship systems, and language barriers. Conflicts arising from these differences can be managed through compromise, more egalitarian role-sharing, and the use of English as the primary medium of communication. In the life of the child, transnational marriage brings significant influence. The child receives education through a hybrid pattern that integrates Korean and Minangkabau values. The child becomes multilingual, mastering Indonesian, Korean, English, and Palembang, and develops a multilayered, hybrid cultural identity. In terms of citizenship, the child occupies a unique position by holding dual or even triple citizenship (the United States, Indonesia, and South Korea). In conclusion, a transnational marriage between a Minangkabau woman and a South Korean man produces a complex process of cultural hybridization, both in the marital relationship and in the formation of the child’s identity. These findings demonstrate that compromise, negotiation, and adaptive strategies are key factors in sustaining transnational marriage.