cover
Contact Name
Dr. Supian, S.Ag., M.Ag.
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltitian.fib@unja.ac.id
Editorial Address
Gedung G, LT. III, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi, Mendalo, Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora
Published by Universitas Jambi
ISSN : 26153440     EISSN : 25977229     DOI : -
Titian merupakan jurnal ilmiah akademik dalam bidang kajian ilmu Humaniora (budaya) yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi. Penerbitan jurnal ini dimaksudkan untuk mempublikasikan berbagai artikel hasil penelitian, studi kepustakaan, studi lapangan, gagasan konseptual, kajian penerapan teori dalam bidang ilmu humaniora. Jurnal ini dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, maupun Arab. Jurnal ini mengutamakan pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan ilmu bahasa (linguistik), ilmu sastra (Daerah, Indonesia, Inggris, Arab), Sejarah, Arkeologi, Seni, Sosiologi, Antropologi, Etnografi dan Agama. Jurnal Titian terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember.
Articles 244 Documents
The Language of Shame in Cyber Discourse: A Critical Discourse Analysis of Gendered Moral Policing on X Media Istiqomah, Istiqomah; Sastia, May; Salsabila, Elfa; Rangkuti, Rahmadsyah
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.48850

Abstract

Cyber Discourse Analysis (CDA), which analyzes how language constructs and maintains power relations in online communication, enables us to study gendered moral policing on the internet. This research aims to provide linguistic evidence of how moral judgment and gender discrimination are realized in public reaction to Erika Carlina's pregnancy scandal on the social media site X. A qualitative descriptive approach, theorized by Fairclough's (1995) three-dimensional CDA model and supported by Van Dijk's (2015) discourse theory and Cameron's (2012) verbal hygiene theory, is employed. The research demonstrates that male respondents employ rational and evaluative language with a consideration of responsibility and social norms, while female respondents use emotional and corrective language that demonstrates internalized patriarchal ideology. The findings show that online discussion is an electronic extension of classical moral control, whereby the discourse of shame is employed as a communal tool of gendered judgment and social control in Indonesian society. Abstrak Analisis Wacana Siber (Cyber Discourse Analysis/CDA), yang menelaah bagaimana bahasa membangun dan mempertahankan relasi kuasa dalam komunikasi daring, memungkinkan penelitian terhadap praktik gendered moral policing atau pengawasan moral berbasis gender di internet. Penelitian ini bertujuan memberikan bukti linguistik mengenai bagaimana penilaian moral dan diskriminasi gender direalisasikan dalam reaksi publik terhadap skandal kehamilan Erika Carlina di media sosial X. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan kerangka teori Analisis Wacana Kritis tiga dimensi dari Fairclough (1995), serta didukung oleh teori wacana Van Dijk (2015) dan teori verbal hygiene dari Cameron (2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden laki-laki cenderung menggunakan bahasa yang rasional dan evaluatif dengan mempertimbangkan tanggung jawab serta norma sosial, sedangkan responden perempuan menampilkan bahasa yang emosional dan korektif yang merepresentasikan internalisasi ideologi patriarki. Temuan ini mengungkap bahwa diskusi daring merupakan perpanjangan elektronik dari praktik kontrol moral klasik, di mana wacana malu digunakan sebagai alat komunal untuk menghakimi dan mengontrol perilaku berbasis gender dalam masyarakat Indonesia
The Existence of Blind Radio Drama Represents the Real World Adnan, Muhammad; Tantri, Niki Raga; Pribadi, Fantri; Astari, Andi Tenri Juli; Utama, Galuh Tulus
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.49489

Abstract

Radio drama, as an auditory medium, is often perceived as "blind" due to its lack of visual modality, making its representation of reality a unique challenge. This qualitative research, employing a semiotic analysis approach, aims to analyze the forms of denotative and connotative messages in radio drama and examine its strategies for conveying a story that listeners can understand. Data were collected through literature study and in-depth interviews with listeners, then analyzed interactively. The results indicate that radio drama constructs understanding through audio symbols, such as dialogue, sound effects, and music, which listeners recognize based on prior sensory experiences. These symbols convey not only literal meaning (denotative) but also evoke emotional and cultural values (connotative). Therefore, although "blind," radio drama richly represents the real world through the power of sound and the listener's active imagination, proving that the absence of visuals is not a limitation but a unique characteristic that enables the creation of its own reality. Abstract Drama radio, sebagai medium auditif, sering dianggap “buta” karena tidak menyertakan modalitas visual, sehingga representasi realitasnya menjadi tantangan tersendiri. Penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pesan denotatif dan konotatif dalam drama radio serta mengkaji strateginya dalam menyampaikan cerita yang dapat dipahami pendengar. Data dikumpulkan melalui studi literatur dan wawancara mendalam dengan pendengar, kemudian dianalisis secara interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa drama radio membangun pemahaman melalui simbol-simbol audio, seperti dialog, efek suara, dan musik, yang dikenali pendengar berdasarkan pengalaman inderawi sebelumnya. Simbol-simbol ini tidak hanya menyampaikan makna harfiah (denotatif) tetapi juga membangkitkan nilai emosional dan kultural (konotatif). Dengan demikian, meskipun “buta,” drama radio justru merepresentasikan dunia nyata secara kaya melalui kekuatan suara dan imajinasi aktif pendengar, membuktikan bahwa ketiadaan visual bukanlah bentuk keterbatasan, melainkan keunikan yang memungkinkan terciptanya realitas tersendiri.
Analisis Bentuk Linguistik pada Penerjemahan Judul Buku Berbahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia Suandari, Fitri; Zulprianto, Zulprianto; Lindawati, Lindawati
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.49580

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Objek penelitian ini adalah penerjemahan judul buku berbahasa Inggris (BSu) dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia (BSa). Tujuannya adalah menganalisis bentuk linguistik yang ditemukan pada judul BSu dan BSa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang pembelajaran bahasa Inggris serta bidang penerjemahan, khususnya dalam konteks penerjemahan judul buku berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Pengambilan data dilakukan dengan observasi dan dokumentasi, baik daring maupun luring. Data diperoleh secara acak sehingga terkumpul 212 judul buku (122 novel dan 90 buku motivasi). Analisis dilakukan berdasarkan satuan bahasa berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk frasa paling dominan (159 data), diikuti kalimat (34), klausa (11), dan kata (8). Bentuk frasa dinilai efektif karena bersifat deskriptif dan minim ambiguitas, sedangkan klausa dan kalimat cenderung sulit diterjemahkan tanpa mengubah gaya atau nuansa teks asli. Abstract This study uses a descriptive qualitative approach. The object of this study is the translation of English book titles (SL) and their translations into Indonesian (TL). The aim is to analyze the linguistic forms found in the SL and TL titles. This study is expected to make a significant contribution to English language learning and translation field, especially in the context of translating English book titles into Indonesian. Data collection was carried out through observation and documentation, both online and offline. Data were obtained randomly, resulting in 212 book titles (122 novels and 90 motivational books). Analysis was carried out based on linguistic units in the form of words, phrases, clauses, and sentences. The results show that the phrase form was the most dominant (159 data), followed by sentences (34), clauses (11), and words (8). The phrase form is considered effective because it is descriptive and has minimal ambiguity, while clauses and sentences tend to be difficult to translate without changing the style or nuance of the original text.
The Inheritance System and Functional Changes of Niti Naik Mahligai Dance in Siulak Mukai Tengah, Kerinci Community Jambi Regency Utari, I Dewa Ayu Sri; Abbas, Zaini Bin; Supenida, I Dewa Nyoman
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.49663

Abstract

This study aims to explain the inheritance system and changes the function of dance Niti naik Mahligai community Siulak Middle Mukai Kerinci in Jambi. By using qualitative data, descriptive analytical method used is done with data collection techniques in which there are literature study, observation, interviews, and the data were analyzed. As to analyze the approach of science and art, as well as using multiple inheritance dance theory, change theory, and the theory of functions. The results of the study dance inheritance system Niti naik Mahligai a kinship system vertically as seen from the genetic mechanisms that they have a blood relationship. Besides, the system is legally customary inheritance is matrilineal system according to (maternal lineage). On the other hand changes the function of climbing Niti naik Mahligai dance influenced by modernization, technology, and is also influenced by internal and external factors. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sistem pewarisan dan perubahan fungsi tari Niti Naik Mahligai pada Masyarakat Siulak Mukai Tengah Kabupaten Kerinci Jambi. Dengan menggunakan data kualitatif, Metode yang digunakan deskriptif analitis yang dilakukan dengan teknik pengumpulan data yang didalamnya terdapat studi pustaka, observasi, wawancara, kemudian data yang diperoleh dianalisis. Adapun untuk menganalisis menggunakan pendekatan ilmu budaya, serta menggunakan beberapa teori pewarisan tari, teori perubahan, dan teori fungsi. Hasil penelitian sistem pewarisan tari Niti Naik Mahligai merupakan sistem kekeluargaan secara vertikal yang dilihat dari mekanisme genetik yang masih mempunyai hubungan darah. Selain itu sistem pewarisan secara hukum adat adalah menurut sistem matrilineal (garis keturunan pihak ibu). Disisi lain Perubahan fungsi tari Niti Naik Mahligai dipengaruhi oleh modernisasi, teknologi, dan juga dipengaruhi faktor internal serta eksternal.
Representasi Perempuan dalam Seni Lukis Kontemporer Berbasis Media Cat Air: Kajian Narasi Visual dan Identitas Sanjaya, Jesslyn; Djenmakani, Laurens Enrico; Baene, Basituasi; Ernawan, Erika; Suryana, Wawan
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.50151

Abstract

The power of female figures is often invisible and implied, but in many works of art, women often become symbols of beauty and hidden strength. Identity, existence, and social reflection are often represented in female figures behind the visible visual side. The issue raised is how female figures depicted in visual form can still have a strong visual narrative and identity that supports the visual work. The aim of this research is to reveal the visual form of female figures represented in contemporary art based on watercolor media so that they have a strong visual narrative and identity. The method used is qualitative descriptive with literature studies and analysis of the works of artists who raise the theme of women.  The results show that with personal experience as a woman and comparing with other artists, the representation of female figures can also reveal emotional narratives and complex social identities behind their beautiful and aesthetic visual forms. This paper is expected to provide new insights into the representation of female figures in contemporary art, especially from the perspective of visual narrative and identity. Abstract Kekuatan dari sosok perempuan sering kali tidak terlihat dan tersirat langsung, namun dalam banyak karya seni rupa, perempuan sering menjadi simbol kecantikan sekaligus kekuatan yang terselubung. Identitas, eksistensi, dan refleksi sosial sering direpresentasikan ke dalam sosok perempuan dibalik sisi visual yang terlihat. Permasalahan yang diangkat adalah bagaimana sosok perempuan yang digambarkan ke dalam bentuk visual tetapi memiliki narasi visual dan identitas yang kuat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengungkapkan wujud visual figur perempuan yang direpresentasikan ke dalam seni kontemporer berbasis media cat air sehingga memiliki narasi visual dan identitas yang kuat. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan estetis.  Hasilnya menunjukkan bahwa dengan pengalaman pribadi yang direpresentasikan sebagai wujud visual perempuan dapat memperlihatkan narasi emosional dan juga identitas sosial yang kompleks dibalik bentuk visualnya yang terlihat cantik dan estetis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman baru tentang representasi figur perempuan dalam seni rupa kontemporer khususnya dari sisi narasi visual dan identitasnya.
Cultural Dimensions of Symbols Style and Power Artifactual Communication in Abdul Muhaimin Iskandar Declaration Video Maskuri, M. Ibnu Naufal; Daulay, Hamdan; Rifa'i, Akhmad; Ridho, Ali; Tahrus, Zainun Nur Hisyam
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 10 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v10i1.53935

Abstract

Abdul Muhaimin Iskandar is a national political figure facing image challenges due to several controversies, such as the "durian cardboard" corruption case, the decline of PKB's votes in the 2009 election, and conflicts with Gus Dur that resurfaced following statements by Yenny Wahid. Ahead of the 2024 presidential election, he seeks to reconstruct his political image through nonverbal communication in his declaration video. This study analyzes the content of the political declaration, the forms of artifactual communication, and positive image building strategies. Using a qualitative approach and Ferdinand de Saussure’s semiotic theory, the study found that the artifactual communication employed falls under symbolic practices (practical artifacts), which convey emotional information, behavior, and identity differentiation. To build a positive image, a low-fashion strategy is used to portray simplicity, closeness to the people, and cultural ties with Nahdliyin voters. This strategy serves as an important tool for constructing political symbols that strengthen identity and effectively gain public sympathy. Abstrak Abdul Muhaimin Iskandar adalah tokoh politik nasional yang menghadapi tantangan citra akibat beberapa kontroversi, seperti kasus korupsi "karton durian", penurunan perolehan suara PKB dalam pemilihan umum 2009, dan konflik dengan Gus Dur yang kembali mencuat setelah pernyataan Yenny Wahid. Menjelang pemilihan presiden 2024, ia berupaya membangun kembali citra politiknya melalui komunikasi nonverbal dalam video deklarasinya. Studi ini menganalisis isi deklarasi politik, bentuk-bentuk komunikasi artefaktual, dan strategi membangun citra positif. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori semiotika Ferdinand de Saussure, studi ini menemukan bahwa komunikasi artefaktual yang digunakan termasuk dalam praktik simbolik (artefak praktis), yang menyampaikan informasi emosional, perilaku, dan diferensiasi identitas. Untuk membangun citra positif, strategi busana sederhana digunakan untuk menggambarkan kesederhanaan, kedekatan dengan rakyat, dan ikatan budaya dengan pemilih Nahdliyin. Strategi ini berfungsi sebagai alat penting untuk membangun simbol politik yang memperkuat identitas dan secara efektif mendapatkan simpati publik.
Bugis Folk Songs as a Source of Linguistic Learning Based on Local Wisdom Muhsyanur, Muhsyanur; Weifen, Qin; Murugesan, Manivannan
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 10 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v10i1.54471

Abstract

This research aims to examine Bugis folk songs (elong) as a source of linguistic learning grounded in authentic, contextual local wisdom. Bugis folk songs contain a wealth of phonological, morphological, syntactic, semantic, and pragmatic structures that have not been optimally utilized in formal education. Using an ethnolinguistic approach and qualitative content analysis, this study identifies five main elong genres and their relevant linguistic features for learning. The results of the study show that Bugis folk songs contain complex layers of meaning, diverse language registers, and socio-cultural values that can enrich students' holistic understanding of the structure and function of language. The integration of elong into the linguistic curriculum not only enhances linguistic competence but also strengthens cultural identity and preserves the intangible heritage of the Bugis. This study recommends the development of structured, context-based teaching modules as an innovation in regional linguistic learning. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lagu-lagu rakyat Bugis (elong) sebagai sumber pembelajaran linguistik berdasarkan kearifan lokal yang otentik dan kontekstual. Lagu-lagu rakyat Bugis mengandung banyak struktur fonologis, morfologis, sintaksis, semantik, dan pragmatis yang belum dimanfaatkan secara optimal dalam pendidikan formal. Dengan menggunakan pendekatan etnolinguistik dan analisis konten kualitatif, penelitian ini mengidentifikasi lima genre elong utama dan fitur linguistiknya yang relevan dengan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu rakyat Bugis mengandung lapisan makna yang kompleks, register bahasa yang beragam, dan nilai-nilai sosial budaya yang dapat memperkaya pemahaman holistik siswa tentang struktur dan fungsi bahasa. Integrasi elong ke dalam kurikulum linguistik tidak hanya meningkatkan kompetensi linguistik tetapi juga memperkuat identitas budaya dan melestarikan warisan takbenda Bugis. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan modul pengajaran berbasis konteks yang disusun sebagai inovasi dalam pembelajaran linguistik daerah.
Leksikon Kemaritiman dalam Bahasa Tobelo: Kajian Etnolinguistik Masyarakat Pesisir Pulau Obi Boriri, Agus
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 10 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v10i1.55652

Abstract

This research was conducted with the aim of describing the form of lexicon and interpreting the cultural connections contained behind these terms ethnolinguistically. The research relies on qualitative descriptive based on the phenomenological paradigm using an ethnolinguistic approach. The data sources for this research consist of; (1) Local fishermen, (2) Traditional leaders, and (3) Boat builders. In collecting data, this research used the listening method, the conversation method, and continued with recording and note-taking techniques. The data analysis process was carried out through; 1) Obtaining a general overview. 2) Taxonomic analysis. 3) Searching for specific characteristics. 4) Integrating all findings from domain, taxonomic, and componential analysis. The results of the study prove that the Tobelo tribe on Obi Island has a rich marine vocabulary (lexicon) that is very detailed, ranging from fish classification to traditional navigation. The uniqueness of this language is not just a means of communication, but a reflection of their dependence on and ecological adaptation to local waters. Ethnolinguistically, the marine is closely related to cultural identity which is seen as a sacred space containing taboo values. Abstrak Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan bentuk leksikon dan memaknai kaitan budaya yang terkandung di balik istilah-istilah tersebut secara etnolinguistik. Penelitian mengandalkan deskriptif kualitatif yang berpijak pada paradigma fenomenologi dengan menggunakan pendekatan etnolinguistik. Sumber data penelitian ini terdiri dari; (1) Nelayan lokal, (2) Tokoh adat, dan (3) Pembuat perahu. Dalam mengumpulkan data, penelitian ini menggunakan metode simak, metode cakap, dan dilanjutkan dengan teknik rekam dan catat. Proses analisis data dilakukan melalui; 1) Memperoleh gambaran umum. 2) Analisis taksonomi. 3) Mencari ciri spesifik. 4) mengintegrasikan seluruh temuan dari analisis domain, taksonomi, dan komponensial. Hasil penelitian membuktikan bahwa masyarakat suku Tobelo di Pulau Obi memiliki kekayaan kosakata (leksikon) laut yang sangat mendetail, mulai dari klasifikasi ikan hingga navigasi tradisional. Kekhasan bahasa ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin dari ketergantungan hidup dan adaptasi ekologis mereka terhadap perairan setempat. Secara etnolinguistik, kelautan berkaitan erat dengan identitas budaya yang dipandang sebagai ruang sakral mengandung nilai tabu.
Konstruksi Cantik Mahasiswi: Studi Kasus Akun Media Sosial Instagram Rachma, Dhela Asyalia; Liestyasari, Siany Indria
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 10 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v10i1.56140

Abstract

Perkembangan teknologi dan sosial media turut berpengaruh pada bagaimana masyarakat mendefinisikan, menormalisasikan dan meyakini suatu hal sebagai kebenaran. Artikel ini membahas bagaimana akun media sosial melalui beragam konten berkontribusi dalam konstruksi kecantikan pada perempuan melalui analisa Peter L. Berger & Luckman tentang Teori Konstruksi Sosial Atas Realitas. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian analisis konten terarah. Penelitian ini menggunakan data primer berupa kontan dan data sekunder yang berupa ebook, jurnal-jurnal ilmiah, dan konsep teori konstruksi Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Teknik pengumpulan berupa studi dokumen dan observasi virtual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa standar kecantikan dan isu-isu perempuan saling terkait. Adanya perspektif individu mungkin berubah sebagai akibat dari kemajuan informasi dan teknologi terutama dampak dari platform media sosial yaitu Instagram. Hal ini ditunjukkan oleh munculnya akun Instagram @cantik.id dan @cantik yang menampilkan dua universitas ternama sebagai produk digital yang dapat mempengaruhi bagaimana standar kecantikan dibentuk terutama di kalangan mahasiswi seperti memiliki bentuk tubuh yang proposional, pengambilan angle yang pas, wajah yang mulus, dan badan yang putih. Abstract The development of technology and social media also affects how society defines, normalizes, and believes something as truth. This article discusses how social media accounts, through various content, contribute to the construction of beauty in women through the analysis of Peter L. Berger & Luckman's Theory of Social Construction of Reality. This research uses a qualitative approach with a directed content analysis type of study. This study uses primary data in the form of content and secondary data in the form of ebooks, scientific journals, and the theoretical concepts of Peter L. Berger and Thomas Luckman. This research uses purposive sampling techniques. Data collection techniques include document study and virtual observation. The results of this study indicate that beauty standards and women's issues are interconnected. Individual perspectives may change as a result of advances in information and technology, particularly the impact of social media platforms such as Instagram. This is demonstrated by the emergence of Instagram accounts @cantik.id and @cantik, which feature two prestigious universities as digital products that can influence how beauty standards are formed, especially among female students, such as having a proportional body shape, capturing the right angles, smooth skin, and a fair body.
Creative content: Studi Etnografi Virtual pada Postingan Akun Instagram @Teensclub.Pigeonteens Frenky, Frenky; Subandi, Zera Edenzwo
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 10 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v10i1.56625

Abstract

This study aims to examine how follower interactions and participation on the Instagram account @teensclub.pigeonteens contribute to the formation of virtual community dynamics among teenage girls. Using a qualitative approach with virtual ethnography methods, this research is analyzed through George Herbert Mead’s Symbolic Interactionism Theory, focusing on the concepts of mind, self, and society. The findings show that @teensclub.pigeonteens functions not only as a promotional platform for beauty products but also as a social space where identity, values, and digital culture are constructed. Interactions through posts, captions, comments, and community-specific terms foster emotional closeness and solidarity among members. Active participation is reflected in engagement with interactive content and community activities conducted through Instagram and WhatsApp. The study concludes that digital communication facilitates meaningful social relationships and supports the development of virtual communities among teenage girls in cyberspace. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana interaksi dan partisipasi pengikut pada akun Instagram @teensclub.pigeonteens berkontribusi terhadap terbentuknya dinamika komunitas virtual di kalangan remaja perempuan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi virtual serta dianalisis menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead yang berfokus pada konsep mind, self, dan society. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akun @teensclub.pigeonteens tidak hanya berfungsi sebagai media promosi produk perawatan kulit, tetapi juga sebagai ruang sosial tempat identitas, nilai, dan budaya digital dikonstruksi. Interaksi yang terjalin melalui unggahan, caption, komentar, serta penggunaan istilah khas komunitas mampu menciptakan kedekatan emosional dan solidaritas antaranggota. Partisipasi aktif pengikut terlihat melalui keterlibatan dalam konten interaktif dan berbagai aktivitas komunitas yang dilakukan melalui Instagram dan WhatsApp. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi digital mampu memfasilitasi terbentuknya hubungan sosial yang bermakna serta mendukung perkembangan komunitas virtual di kalangan remaja perempuan di ruang siber.