cover
Contact Name
Dr. Supian, S.Ag., M.Ag.
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltitian.fib@unja.ac.id
Editorial Address
Gedung G, LT. III, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi, Mendalo, Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora
Published by Universitas Jambi
ISSN : 26153440     EISSN : 25977229     DOI : -
Titian merupakan jurnal ilmiah akademik dalam bidang kajian ilmu Humaniora (budaya) yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi. Penerbitan jurnal ini dimaksudkan untuk mempublikasikan berbagai artikel hasil penelitian, studi kepustakaan, studi lapangan, gagasan konseptual, kajian penerapan teori dalam bidang ilmu humaniora. Jurnal ini dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, maupun Arab. Jurnal ini mengutamakan pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan ilmu bahasa (linguistik), ilmu sastra (Daerah, Indonesia, Inggris, Arab), Sejarah, Arkeologi, Seni, Sosiologi, Antropologi, Etnografi dan Agama. Jurnal Titian terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember.
Articles 235 Documents
Bahasa Podcast Pada Akun Youtube Rene Njagong: Kajian Sosiolinguistik Nafilda, Natasya Febby; Lestari, Prembayun Miji
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i1.44607

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan variasi bahasa dan karakteristik podcast Rene nJagong. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiolinguistik. Data yang digunakan berupa tuturan-tuturan dalam beberapa video podcast Rene nJagong yang berjudul “Dikira Kelinci Putih, Saat Lompat Berubah Jadi Pocong??!”, “Semarang 24 Jam Aman dari Gangster Alias Kreak!! Info Valid dari Om Hery Jabrik Polrestabes Semarang”, dan “Danang The Sadewa Ospek Sekarang Isinya di Sayang-Sayang??”. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat. Teknik analisis yang digunakan yaitu teknik interaktif Miles Huberman meliputi reduksi data, penyediaan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini ditemukan variasi bahasa dari segi penutur meliputi dialek Semarangan, dialek arek-an, dialek Solo-Yogya, kronolek sejumlah 30 kata, dan sosiolek berupa variasi slang 66 kata dan variasi vulgar 18 kata. Karakteristik bahasa podcast mencakup kata makian sebanyak 8 kata, akronim 40 kata, serta gaya bahasa sebanyak 6 unsur. Abstract Rene nJagong features podcast content that primarily uses the Javanese language. This study aims to describe the language variations and characteristics of the Rene nJagong podcast. This research employs a qualitative descriptive method with a sociolinguistic approach. The data used consists of utterances from several Rene nJagong podcast videos, namely "Dikira Kelinci Putih, Saat Lompat Berubah Jadi Pocong??!", "Semarang 24 Jam Aman dari Gangster Alias Kreak!! Info Valid dari Om Hery Jabrik Polrestabes Semarang", and "Danang The Sadewa Ospek Sekarang Isinya di Sayang-Sayang??". The data collection techniques used are free listening and note-taking techniques. The analysis technique used is Miles Huberman's interactive model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The results of this study found language variations in terms of speakers, including the Semarang dialect, Arek-an dialect, Solo-Yogyakarta dialect, 30 chronolexical words, and sociolects in the form of 66 slang words and 18 vulgar words. The language characteristics of the podcast include 8 swear words, 40 acronyms, and 6 elements of language style.
Alih Kode dan Campur Kode dalam Serial Arab Bayt Thahir Karya Sultan Al-Abdulmohsen Nurfaiqa, Yusriana; Khomisah, Khomisah; Muslikah, Siti
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i1.44667

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk-bentuk alih kode dan campur kode dalam dialog tokoh-tokoh serial Bayt Thahir, serta menggali faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Dengan pendekatan sosiolinguistik dan teori komponen tutur Dell Hymes, penelitian ini menelaah bagaimana praktik alih kode dan campur kode mencerminkan dinamika sosial, identitas, serta realitas kebahasaan masyarakat Arab urban yang terglobalisasi. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif analitis, dengan data berupa dialog dari enam episode serial Bayt Thahir yang tayang di Netflix pada 6 September 2023. Hasil penelitian menunjukkan 9 temuan: 4 data alih kode eksternal dan 5 data campur kode eksternal, yang terdiri atas bentuk kata, frasa, klausa, dan idiom. Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Inggris dalam dialog mencerminkan identitas sosial dan gaya komunikasi karakter yang modern, urban, dan global. Temuan ini diharapkan dapat memperkaya kajian sosiolinguistik, khususnya dalam konteks pergeseran bahasa Arab modern akibat kontak bahasa. Abstract This study aims to identify and analyze the forms of code-switching and code-mixing in the dialogues of characters in the series Bayt Thahir, as well as to explore the underlying factors behind these phenomena. Using a sociolinguistic approach and Dell Hymes' SPEAKING model, the research examines how code-switching and code-mixing practices reflect social dynamics, identity, and the linguistic realities of globalized urban Arab societies. The study adopts a qualitative descriptive-analytical method, with data drawn from the dialogues in six episodes of Bayt Thahir, which premiered on Netflix on September 6, 2023. The findings reveal 9 instances: 4 cases of external code-switching and 5 cases of external code-mixing, encompassing words, phrases, clauses, and idioms. These phenomena indicate that the use of English in the dialogues serves as a marker of the characters’ social identity and a communication style that is modern, urban, and global. This research contributes to the field of sociolinguistics, particularly in understanding language shifts in modern Arabic influenced by language contact.
Representasi Ruang Pembebasan dan Pemberdayaan: Telaah Sosiologis pada Agensi Sozo Creative Lab dalam Perspektif Development of Freedom Amartya Sen Kamiliyana, Ayu Asih; Salsabilla, Nazwa Reina
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i1.44671

Abstract

This article discusses the Sozo Creative Lab's Creative Team Agency as a representation of a space of liberation and empowerment in the perspective of Development as Freedom by Amartya Sen. Starting from the phenomenon of increasing participation of the younger generation in the creative economy sector, this research examines how student groups are able to create alternative spaces that are not only economically oriented but also rich in values of autonomy, creativity, and capability development. Using a qualitative method with a phenomenological approach, data was obtained through observation and in-depth interviews. The study results show that Sozo Creative Lab as a creative agency can develop and utilize its capabilities as a representative embodiment of substantive freedom and social opportunity aspects as well as economic facilities as a form of instrumental freedom. The creative and collaborative process they undergo reflects a human development model that empowers, expands life choices, and demonstrates that development is not always about economic growth, but rather about how individuals are able to control their lives meaningfully.  Abstrak Artikel ini membahas tentang Agensi Tim Kreatif Sozo Creative Lab sebagai representasi ruang pembebasan dan pemberdayaan dalam perspektif Development as Freedom oleh Amartya Sen. Berangkat dari fenomena maraknya partisipasi generasi muda dalam sektor ekonomi kreatif, penelitian ini menelaah bagaimana kelompok mahasiswa mampu menciptakan ruang alternatif yang bukan hanya bertujuan ekonomis, tetapi juga sarat nilai-nilai otonomi, kreativitas, dan pembangunan kapabilitas dalam kacamata sosiologi pembangunan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, data diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam. Hasil kajian menunjukkan bahwa Sozo Creative Lab sebagai agensi kreatif mampu mengembangkan serta menggunakan kemampuannya sebagai perwujudan representatif dari kebebasan substantif dan aspek peluang sosial serta fasilitas ekonomi sebagai bentuk kebebasan instrumental. Proses kreatif dan kolaboratif yang mereka jalani mencerminkan model pembangunan manusia yang memberdayakan, memperluas pilihan hidup, serta memperlihatkan bahwa pembangunan tidak selalu soal pertumbuhan ekonomi, melainkan soal bagaimana individu mampu mengontrol kehidupannya secara bermakna.
Hierarki Musikal Nyanyian Mantra Nyaru dalam Ritual Asyeik di Kerinci: Pendekatan Analisis GTTM Dekti, Gen; Pramasheilla, Dinda Assalia Avero; Tomi, Masvil; Kumala, Ofa Yutri; Anandhita, Nur Arif
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i1.45963

Abstract

Penelitian ini mengkaji struktur hierarki dan sistem tonalitas dalam nyanyian mantra nyaru yang digunakan dalam ritual asyeik di Kerinci dengan menerapkan pendekatan analisis generatif (GTTM). Studi ini mengintegrasikan metode kualitatif melalui observasi partisipatif dan wawancara dengan pelaku ritual, serta metode kuantitatif melalui analisis notasi digital untuk mengidentifikasi grouping structure, metrical structure, time-span reduction, dan prolongational reduction dalam komposisi musik tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun mantra nyaru merupakan ekspresi spontan yang diwariskan secara lisan, terdapat struktur musikal yang kompleks dengan dominasi cabang kanan, di mana pola ketegangan dan resolusi tonal tampak jelas. Temuan ini mengungkap koherensi struktural yang mendasari mekanisme musikal dalam tradisi Kerinci serta membuka peluang untuk penelitian komparatif dan pengembangan model analisis musikal guna mendukung pelestarian budaya tradisional. Abstract This study investigates the hierarchical structure and tonal system inherent in the "mantra nyaru" chants performed during the asyeik ritual in Kerinci, employing a generative analytical approach based on the Generative Theory of Tonal Music (GTTM). The research integrates qualitative methods—through participatory observations and interviews with ritual practitioners—with quantitative techniques involving digital transcription analysis to identify grouping structures, metrical frameworks, time-span reduction, and prolongational reduction within the musical compositions. Findings reveal that although the mantra is an orally transmitted and seemingly spontaneous expression, it possesses a complex musical architecture marked by a dominant right-branch formation where clear tonal tensions and resolutions are discernible. These results underscore the structural coherence that underpins the musical mechanisms of the Kerinci tradition and provide a promising foundation for comparative studies and the development of analytical models aimed at enhancing the preservation of traditional culture.
Afghan Pilgrimage Routes to Arabia (1100–1900 CE): A Historical–Geographical Analysis of Religious Logistics and the Caravanserai Network Mazloum Yar, Fayaz Gul; Sadaat, Sayed Habibullah
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i1.47573

Abstract

This study presents a historical–geographical reconstruction of overland pilgrimage routes used by Afghan Hajj pilgrims between 1100 and 1900 CE. By integrating geo-referenced historical maps, GPS-verified field surveys, and classical pilgrimage narratives, the research examines the spatial configuration of caravanserai infrastructure and the evolution of religious logistics across multiple political and environmental contexts. Through Geographic Information Systems (GIS) and spatial network analysis, the study identifies a small-world structure within the caravanserai network, highlighting five central hubs that served as critical points for provisioning and connectivity. Temporal segmentation of the network reveals shifts in node density and service typologies under Seljuk, Ilkhanid, Timurid-Safavid, and Qajar-Afghan rule. The findings contribute to the fields of historical geography and pilgrimage studies by offering a replicable framework for analyzing sacred mobility systems. They also inform heritage conservation strategies and sustainable pilgrimage logistics in arid and mountainous contexts.
The Philosophy of Divine Love (ʿIshq) in Sufism and Its Application in Psychospiritual Therapy: A Critical Analysis of al-Niffārī’s Kitāb al-Mawāqif Achmad, Adang Darmawan; Subhan, Subhan; Qotadah, Hudzaifah Achmad; Al Faruq, Abdillah Achmad
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.47659

Abstract

This article explores the philosophical and practical dimensions of Ishq Ilāhī (Divine Love) within the classical Sufi tradition, focusing on the seminal work al-Mawāqif by al-Niffārī, a 10th-century CE (4th-century AH) mystic renowned for his profound existential and spiritual expressions. In Sufism, Ishq represents the pinnacle of the spiritual relationship between the servant and the Divine, transcending ordinary love (maḥabbah) and serving as a transformative force that purifies the soul and dissolves the ego in the Divine Presence. This study employs a qualitative approach through document analysis and hermeneutic interpretation of the al-Mawāqif manuscript. The findings indicate that Ishq in this text is not merely a theoretical concept but a practical path of spiritual healing, characterized by ecstatic experiences (wajd), ego annihilation (fanāʾ), and spiritual subsistence (baqāʾ). Furthermore, the article argues that the values and experiential insights of Divine Love can be contextually adapted for contemporary psychospiritual therapy, particularly in addressing issues of existential void, spiritual crisis, and inner psychological distress. This study thus opens an interdisciplinary dialogue between classical Sufism and modern spiritual psychology, positioning Islamic mystical heritage as a potential source of holistic healing and inner transformation. Abstrak Artikel ini mengkaji secara filosofis dan aplikatif konsep Ishq Ilāhī (cinta Ilahi) dalam khazanah tasawuf klasik dengan fokus pada kitab al-Mawāqif karya al-Niffārī, seorang sufi mistikus abad ke-4 H/10 M yang dikenal dengan ungkapan-ungkapan eksistensial dan spiritual yang mendalam. Dalam tradisi tasawuf, ishq merupakan puncak dari hubungan spiritual antara hamba dan Tuhan yang melampaui cinta biasa (maḥabbah), menjadi kekuatan transformatif yang memurnikan jiwa dan meleburkan ego dalam kehadiran Ilahi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi dokumen dan analisis hermeneutik terhadap naskah al-Mawāqif. Temuan menunjukkan bahwa ishq dalam kitab ini bukan hanya bersifat teoretis, tetapi menjadi jalan praksis penyembuhan spiritual melalui pengalaman ekstasis, kehancuran ego (fanā’), dan pencerahan spiritual (baqā’). Lebih lanjut, artikel ini mengusulkan bahwa nilai-nilai dan pengalaman cinta Ilahi dapat diadaptasi secara kontekstual dalam terapi psikospiritual modern, khususnya untuk membantu individu yang mengalami kekosongan makna hidup, krisis eksistensial, dan tekanan psikis yang bersifat spiritual. Studi ini membuka ruang interdisipliner antara tasawuf dan psikologi spiritual kontemporer dengan menjadikan warisan mistik Islam sebagai sumber terapi dan penyembuhan holistik.
Navigating The Global And Local: The Intersection Of Religious Symbolism In Indonesian Literature And Islamic Modernization Mahbubi, M; Ahmad, Amala Bilqis
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.47804

Abstract

This study examines the influence of globalization on religious symbolism in Indonesian literature, focusing on the role of religious symbols in literature that reflects local religious identity and responses to Islamic modernization. The research aims to understand how Indonesian writers interpret Islamic symbolism in the face of global influences and how these symbols remain relevant in shaping religious identity in Indonesia. A qualitative approach with content analysis was used on literary works depicting religious symbols. The results show that despite the strong global influence, local religious symbolism still plays a central role in defining Indonesian religious identity, with writers adapting these symbols to reflect broader social dynamics. This study contributes to the understanding of how Indonesian literature responds to globalization and introduces relevant religious values in a contemporary context. Abstrak Penelitian ini mengkaji pengaruh globalisasi terhadap simbolisme agama dalam sastra Indonesia, dengan fokus pada peran simbol agama dalam literatur yang mencerminkan identitas agama lokal dan respon terhadap pengaruh modernisasi Islam. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana penulis Indonesia menginterpretasikan simbolisme Islam di tengah pengaruh global, serta bagaimana simbol tersebut tetap relevan dalam membentuk identitas agama di Indonesia. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis konten pada karya sastra yang menggambarkan simbol-simbol agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat pengaruh global yang kuat, simbolisme agama lokal tetap memainkan peran sentral dalam mendefinisikan identitas agama Indonesia, dengan penulis yang menyesuaikan simbol tersebut untuk mencerminkan dinamika sosial yang lebih luas. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman bagaimana sastra Indonesia menanggapi globalisasi dan memperkenalkan nilai-nilai agama yang relevan dalam konteks kontemporer.
Meme Indo di Instagram: Artikulasi Identitas Kolektif pada Ruang Digital Indirawati, Salwa; Tambunan, Shuri Mariasih Gietty
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.48377

Abstract

Humor adalah cara efektif untuk mengekspresikan identitas dan membangun keterhubungan dalam komunitas daring. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana akun Instagram @indosbelike memanfaatkan humor berbasis meme untuk menegosiasikan identitas Indo. Dengan metode analisis konten terhadap 80 unggahan meme berupa foto dan video selama periode Januari 2021–Desember 2024, penelitian ini menelaah simbol budaya yang muncul dalam visual, caption, serta respons audiens. Analisis dilakukan dengan menggunakan kerangka artikulasi identitas Stuart Hall (1990) serta diperkaya dengan kajian Nissenbaum & Shifman (2017) tentang meme sebagai medium identitas kolektif. Temuan memperlihatkan tema-tema yang muncul dalam meme mencerminkan perpaduan antara budaya Indo dan pengalaman hidup di Belanda. Tema kuliner dan pengalaman keluarga muncul dominan dalam unggahan meme, memperlihatkan cara identitas Indo dipertahankan, dinegosiasikan, dan diturunkan antar generasi. Meme berfungsi tidak hanya sebagai sarana hiburan, melainkan sebagai medium artikulasi identitas yang memungkinkan komunitas Indo membangun ruang kolektif dan menandai diferensiasi dari budaya dominan Belanda. Abstract Humor is an effective way to express identity and build connection within online communities. This study aims to examine how the Instagram account @indosbelike utilizes meme-based humor to negotiate Indo identity. Using content analysis of 80 meme posts in the form of photos and videos published between January 2021 and December 2024, the research explores cultural symbols embedded in visuals, captions, and audience responses. The analysis applies Stuart Hall’s (1990) articulation theory alongside Nissenbaum and Shifman’s (2017) framework on memes as a medium of collective identity. The findings demonstrate that the themes emerging in the memes reflect a fusion between Indo culture and lived experiences in the Netherlands. Themes of culinary and family practices dominate, illustrating how Indo identity is preserved, negotiated, and transmitted across generations. Memes function not merely as entertainment, but as a medium of identity articulation that enables the Indo community to create collective space and mark differentiation from dominant Dutch culture.
Dramaturgi Pada Praktik Sharenting: Peran Orang Tua dalam Membangun Identitas Keluarga Ideal di Sosial Media Hapsari, Yuanita Dwi; Reftantia, Ghina; Rahmawati, Triana; Gunawan, Gunawan; Hendris, Hendris
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.48438

Abstract

The development of digital media has given rise to the phenomenon of sharenting, namely the practice of parents sharing their children’s lives on social media. This activity is not merely an expression of affection but also a social practice that involves identity construction, privacy negotiation, and the potential commodification of children. This study analyzes sharenting through Erving Goffman’s dramaturgical perspective, viewing parents as actors who present an ideal family image on the frontstage while concealing realities in the backstage. The research employs a qualitative approach with a library research strategy, utilizing scholarly articles, academic books, and policy reports. The findings reveal that sharenting serves as a tool of impression management but also generates serious risks such as blurred private–public boundaries, the permanence of digital footprints, the potential for cyberbullying, and commercial exploitation of children. Therefore, sharenting must be understood as a complex phenomenon that demands ethical awareness, clear regulations, and critical reflection from both parents and policymakers. Abstrak Perkembangan media digital memunculkan fenomena sharenting, yakni praktik orang tua membagikan kehidupan anak di media sosial. Aktivitas ini bukan sekadar ekspresi kasih sayang, tetapi juga praktik sosial yang melibatkan konstruksi identitas, negosiasi privasi, dan potensi komodifikasi anak. Penelitian ini menganalisis sharenting melalui perspektif dramaturgi Erving Goffman, dengan melihat orang tua sebagai aktor yang menampilkan citra keluarga ideal di panggung depan sekaligus menyembunyikan realitas di panggung belakang. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, memanfaatkan artikel ilmiah, buku akademik, dan laporan kebijakan. Hasil kajian menunjukkan bahwa sharenting berfungsi sebagai sarana manajemen kesan, tetapi juga menimbulkan risiko serius seperti kaburnya batas privat–publik, permanensi jejak digital, potensi cyberbullying, serta eksploitasi komersial anak. Karena itu, sharenting perlu dipahami sebagai fenomena kompleks yang menuntut kesadaran etis, regulasi yang jelas, dan refleksi kritis dari orang tua maupun pemangku kebijakan.
Disinformasi dan Krisis Kepercayaan: Turbulensi Budaya Hukum di Era Post-Truth & Artificial Intelligence Prianto, Yuwono; Santoso, Albert Wibowo; Limputri, Euginia Maxine; Kristinawati, Kristinawati; Siantar, Paula Roxyana Lumban
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.48743

Abstract

The development of digital technology has accelerated the integration of artificial intelligence into media ecosystems, reshaping how information is produced and disseminated. The growing use of artificial intelligence-generated content has expanded the circulation of inaccurate or misleading information, weakening public trust and triggering turbulence within legal culture. This trend aligns with the post-truth era, where emotional persuasion outweighs factual accuracy. Using a descriptive qualitative approach combining survey data and literature analysis, this study examines how artificial intelligence influences disinformation dynamics and the stability of legal culture. The findings underscore the need for adaptive state regulation, accountable technological development, and strengthened digital literacy supported by empathetic approaches to address disinformation and restore public trust. Abstrak Perkembangan teknologi digital telah mempercepat integrasi kecerdasan buatan ke dalam ekosistem media, sehingga membentuk ulang cara informasi diproduksi dan disebarluaskan. Meningkatnya penggunaan konten berbasis artificial intelligence turut memperluas peredaran informasi yang tidak akurat atau menyesatkan, yang pada akhirnya dapat melemahkan kepercayaan publik dan memicu turbulensi dalam budaya hukum. Perkembangan ini sejalan dengan kondisi era post-truth yang lebih menonjolkan persuasi emosional dibandingkan akurasi faktual. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif yang memadukan data survei dan analisis literatur, penelitian ini mengkaji bagaimana kecerdasan buatan memengaruhi dinamika disinformasi dan stabilitas budaya hukum. Hasil penelitian menegaskan pentingnya regulasi negara yang adaptif, pengembangan teknologi yang akuntabel, serta penguatan literasi digital dengan dukungan pendekatan yang empatik untuk menghadapi disinformasi dan memulihkan kepercayaan publik.