cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2019)" : 12 Documents clear
Pola Adaptasi Nelayan Terhadap Perubahan Iklim: Studi Kasus Nelayan Desa Bambu Kabupaten Mamuju Ansaar Ansaar
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.46 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v5i2.40

Abstract

          Materi tulisan yang disajikan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang dilakukan di Kabupaten Mamuju. Tulisan ini, selain bertujuan untuk mengetahui seberapa besar gejala-gejala perubahan iklim mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat nelayan di Desa Bambu Kabupaten Mamuju, juga untuk memahami bagaimana pola adaptasi yang dilakukan masyarakat nelayan tersebut dalam menghadapi perubahan ekologis lautan sebagai dampak perubahan iklim. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dilengkapi dengan studi literatur. Pengambilan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan Focused Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan, bahwa dampak perubahan iklim terhadap kegiatan ekonomi nelayan di Desa Bambu, melalui dua aspek yaitu aspek ekologis dan sosial ekonom. Pada aspek ekologis, dampaknya dapat dilihat seperti perubahan musim ikan dan pola angin yang selalu berubah sehingga menyebabkan nelayan mengalami kerugian, karena semakin sulit menentukan waktu yang tepat untuk melaut. Sementara aspek sosial ekonomi, dampaknya yakni menurunnya kualitas sumber air penduduk, menurunnya hasil tangkapan nelayan yang dipicu oleh beberapa faktor, seperti sulitnya menentukan wilayah atau lokasi tangkapan, sulitnya menentukan musim penangkapan ikan, serta meningkatnya resiko melaut. Nelayan di Desa Bambu memiliki strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, meskipun pada kenyataannya masih terdapat pula yang tidak melakukan aktifitas apapun ketika hasil tangkapan menurun. Ada beberapa pola adaptasi dan strategi ekonomi yang dilakukan nelayan setempat dalam menghadapi perubahan iklim, antara lain menjadi buruh bangunan, bertani, mengolah atau mengeringkan ikan untuk selanjutnya dijual kembali di pasar, menjadi tukang ojek, serta melakukan penghematan dengan cara mencukup-cukupkan apa yang ada agar kebutuhan makan setiap hari terpenuhi. Kata Kunci: Pola adaptasi, masyarakat nelayan, perubahan iklim.   
SISTEM KEPEMIMPINAN PUA PADA MASYARAKAT ADAT CEREKANG iriani sarah
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.702 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v5i2.29

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem kepemimpinan tradisional di Luwu, khususnya Pua sebagai pemimpin masyarakat adat Cerekang yang dianggap sebagai bekas kerajaan tertua di Kabupaten Luwu. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif melalui teknik wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa masyarakat Cerekang masih memegang teguh adat istiadat mereka dan menganggap dirinya masih keturunan dari raja pertama di Luwu, yakni Sawerigading. Oleh karena itu, masyarakat Cerekang masih mememiliki pemimpin adat yang dikenal dengan istilah pua, yakni pua laki-laki dan pua perempuan. Pua laki-laki yang menghubungkan antara manusia dengan Tuhannnya dan pua perempuan mengurus masalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bumi. Sampai saat ini, Pua merupakan seorang pemimpin informal yang sangat disegani oleh masyarakat Cerekang, karena dianggap sebagai penerus kepercayaan Sawerigading. Oleh sebab itu, tidak sembarang orang bisa menjadi Pua, karena ditentukan berdasarkan hasil pilihan dari dewata atau sang pencipta, menurut masyarakat Cerekang dan sampai saat ini masyarakat Cerekang sangat menghargai pua dan mengakui keberadaannya sebagai pemimpin spiritual mereka.
PENGOBATAN TRADISIONAL PENYAKIT “NONMEDIS” PADA MASYARAKAT ADAT KAJANG KABUPATEN BULUKUMBA SULAWESI – SELATAN Abdul Hafid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2060.348 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v5i2.37

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan tentang pengobatan tradisional berkenaan dengan penyakit nonmedis, penyakit kajakkalang (arwah leluhur), kasamperoan (penghuni kampung), pappitaba (guna-guna), dan pangngisengang (pekasih). Pengobatan mengenai penyakit nonmedis merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat adat Kajang untuk mengatasi persoalan penyakit yang sering diderita oleh masyarakat adat Kajang. Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat Kajang masih tetap mempertahankan sistem pengobatan tradisional yang terkait dengan penyakit nonmedis. Menurut pandangan masyarakat adat Kajang bahwa penyakit nonmedis adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara medis oleh ilmu kedokteran karena jenis penyakit ini disebabkan oleh hal gaib, seperti kemasukan roh leluhur, setan atau jin, dan sebagainya. Penyakit nonmedis biasa juga disebabkan oleh perbuatan manusia yang menggunakan makhluk gaib atau makhluk halus (guna-guna). Jenis penyakit seperti ini diyakini oleh masyarakat adat Kajang bahwa pengobatannya harus melalui dukun atau sanro. Pengobatan dilakukan berdasarkan gejala dan penyebab masing-masing penyakit, gejalanya ada sebagian mirip satu dengan lainnya, akan tetapi sanro memiliki pengetahuan lokal untuk mengobati penyakit dengan melihat kondisi dan perilaku pasien.
NILAI KARAKTER DALAM ÉLOKKÉLONG PAKKACAPI PADA MASAYARAKAT BUGIS SIDENRENG RAPPANG arisal ical; Rismawidiawati Rusli
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.09 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v5i2.42

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai dan makna pendidikan karakter Bugis dalam élokkelong pakkacapi masyarakat Bugis Sidenreng Rappang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan desain deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah élokkélong pakkacapi yang mengandung nilai pendidikan karakter. Sumber data dalam penelitian ini adalah para pemain Pakkacapi yang biasa melantunkan nyanyian pada saat melakukan pertunjukan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi,- rekam, -k catat, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui enam tahap, yaitu mengumpulkan data, mentranskripsi data rekaman, mengidentifikasi dan mengklasifikasi data, menyajikan data, mendeskripsikan dan menginterpretasikan data, serta membuat simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sepuluh jenis nilai pendidikan karakter yang ditemukan dengan berdasar pada 18 nilai karakter yang dirumuskan oleh Kemendikbud. Nilai karakter yang ditemukan meliputi karakter religius, kerja keras, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, cinta tanah air, peduli lingkungan, peduli sosial, dan cinta damai. Adapun nilai karakter baru yang ditemukan yakni nilai ketabahan dalam menghadapi berbagai macam persoalan kehidupan. Berdasarkan maknanya, nilai pendidikan karakter dalam élokkélong pakkacapi menggambarkan hubungan yang tak terpisahkan antara manusia dan diri sendiri (pangkaukeng rupa tau lao ri aléna), manusia dan manusia yang lain (pangkaukeng seuwa tau lao ri tau lainngé), dan manusia dan Tuhannya (seuwwa tau lao ri Puangna).
PRANATA BUDAYA DALAM PERKAWINAN SUKU PAMONA DI LUWU TIMUR Mrs Musdalifah; Abdul Rahman; Mr Rifal; Mr Ahmadin
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.262 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v5i2.33

Abstract

Pranata budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sosial masyarakat. Fungsi pranata budaya memberi pedomaan pada masyarakat dalam bertingkah laku, menjaga keutuhan masyarakat, dan sebagai sistem pengendali sosial (social control). Penelitian ini bertujuan mengungkapkan fungsi pranata budaya baik secara laten maupun manifes, demi terciptanya keteraturan sosial (social order). Ketentuan pranata budaya ketika melakukan pelanggaran berupa hamil di luar nikah akan dikenakan denda sebesar 1,5 juta rupiah. Pranata budaya pada masyarakat Suku Pamona masih bertahan hingga kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tipe deskriptif. Teknik pengumpulan data diperoleh dengan penelitian lapangan yang mencakup observasi, dokumentasi dan wawancara. Adapun teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Masyarakat suku Pamona tidak dapat serta merta menghilangkan aturan-aturan adat yang telah ada dan dijalankan sejak dahulu serta masyarakat menganggap bahwa hukum adat lebih kuat dari peraturan negara serta mampu memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh masyarkat.
PERILAKU KORUPTIF DALAM TINJAUAN ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL BUGIS: SEBUAH AGENDA REVOLUSI MENTAL ANTI KORUPSI Jum Mardi
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.667 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v5i2.32

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada permasalahan bangsa yang kompleks dan fundamental, yang diindikasikan oleh lemahnya mentalitas, sehingga berdampak pada budaya korupsi secara masif. Tujuan dari penelitian ini untuk membangun mental anti korupsi, melalui kajian perspketif Islam dan kearifan lokal Bugis. Penelitian ini juga berupaya untuk merumuskan dan menemukan konsep perlawanan terhadap perilaku koruptif berdasarkan nilai Islam dan kearifan lokal Bugis. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deksriptif-kualitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder, atau disebut dengan studi literatur. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan tiga alur, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitin ini menunjukkan bahwa perilaku koruptif sangat bertentangan dengan nilai-nilai keadilan dan akhlaq dalam Islam, dan berlawanan dengan nilai-nilai kearfian lokal Bugis. Islam memulai pencegahan dari sisi dalam pada manusia berdasarkan konsep perubahan aqli (pola pikir), qalb (hati), dan nafs (nafsu). Kemudian melalui kearifan lokal Bugis, pencegahan korupsi harus senantiasa merujuk pada prinsip yaitu lempu‟ (kejujuran), amaccang (kecendikiaan), agettengeng (keteguhan), asitinajang (kepatutan), reso (usaha keras), dan ati mapaccing (bawaan hati yang baik). Nilai-nilai ini harus diperkuat dan diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mampu membangun mentalitas budaya anti korupsi pada level individu, sosial, bangsa.
PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP PERILAKU REMAJA PADA TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS DI TOMONI LUWU TIMUR Fatmawati P
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.976 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v5i2.39

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap pengaruh media sosial terhadap perilaku remaja pada siswa tingkat sekolah menengah atas di Tomoni, Kabupaten Luwu Timur. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, pengamatan, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa perkembangan teknologi informasi, khususnya media online mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan manusia sekarang ini, terutama di kalangan remaja yang masih berstatus sebagai pelajar. Munculnya situs-situs pertemanan di media sosial membawa dampak positif dan negatif terhadap perkembangan kepribadian remaja. Selain hal tersebut, keberadaan media sosial saat ini juga mempunyai nilai-nilai yang dapat menjaga kelestarian dan kearifan dalam perilaku remaja sehari-hari, dimana nilai-nilai ini banyak dirasakan oleh para remaja yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas, seperti: nilai informasi, nilai sosialisasi, nilai kerajinan atau kepatuhan, dan nilai ketekunan.
Masa Awal dan Terbentuknya Federasi Duri XIV Ira Hadrayani; Abd Karim
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.001 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v5i2.34

Abstract

Narasi besar sering kali memburamkan bahkan menutupi narasi kecil dalam penulisan sejarah. Narasi besar sejarah di satu Kerajaan acap kali memburamkan beberapa narasi sejarah di sekitarnya. Kondisi itu terjadi karena pengaruh kuasa Kerajaan itu begitu kuat. Kekayaan narasi di Sulawesi Selatan beberapa dekade terakhir sangat didominasi oleh Kerajaan Gowa dan Bone. Kedua kerajaan itu memang memiliki pengaruh yang cukup besar di masa lalu. Berbicara tentang Sulawesi Selatan tidak akan lepas dari perbincangan Kerajaan Gowa dan Bone. Representasi kedua kerajaan tersebut adalah antara Makassar dan Bone. Artikel ini berusaha memunculkan kerajaan-kerajaan bagian utara Sulawesi Selatan yakni kerajaan yang termasuk dalam rumpun suku Massenrempulu Kabupaten Enrekang. Kerajaan tersebut tergabung dalam Federasi Duri. Artikel ini menggambarkan masa awal dan terbentuknya Federasi Duri. Kajian ini mengungkap bagaimana asal-usul Federasi Duri, bagaimana proses terbentuknya Federasi Duri dan bagaimana kepercayaan awal Federasi Duri. Artikel ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.
FABEL ONLINE SEBAGAI SARANA EDUKASI BAGI ANAK (ANALISIS NILAI PENDIDIKAN KARAKTER) iswan afandi
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (958.114 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v5i2.38

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan mendeskripsikan nilai pendidikan karakter dalam fabel online. Penelitian ini menggunakan pendekatan sastra anak dan pendidikan karakter. Metode yang dipakai dalam penelitian, yakni kualitatif deskriptif dengan teknik analisis isi. Teknik pengumpulan data yakni berdasarkan kepustakaan. Analisis data berdasarkan analisis deskriptif dan teknik analisis isi. Sumber data dalam penelitian, yaitu fabel bertema pendidikan karakter yang diunduh melalui web penuliscilik.com/. Nilai karakter diuraikan secara terperinci sesuai dengan kutipan yang terdapat dalam teks fabel. Analisis data melalui tahapan pereduksian data, penyajian, pengambilan simpulan, dan verifikasi. Hasil penelitian ditemukan 10 nilai karakter dalam tujuh fabel di antaranya: (a) fabel Buaya yang Serakah, yakni karakter banyak akal/cerdas; (b) Anak Beruang sakit Gigi, yakni karakter religius dan disiplin; (c) Anak Bebek Buruk Rupa , yakni karakter mandiri dan bersahabat/komunikatif, (d) Ikan dan Burung, yakni karakter peduli lingkungan, (e) Kancil, yakni bijaksana; (f) Kepiting Merah dan Tipu Muslihat Bangau, yakni karakter rasa ingin tahu; (g) Keputusan Sang Raja Rimba, yakni karakter cinta tanah air, bijaksana dan visioner.
MENGKRITISI DINAMIKA KOLONISASI DAN TRANSMIGRASI DI TOMONI/MANGKUTANA, LUWU TIMUR (1937-1985) Sahajuddin M.Si.
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.081 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v5i2.35

Abstract

Kajian ini mengungkapkan dan menjelaskan tentang penting tidaknya pelaksanaan kebijakan migrasi, khususnya masalah kolonisasi pada masa Hindia Belanda dan masalah transmigrasi pada pascakemerdekaan Indonesia dengan melihat kasus penempatannya di Tomoni, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang menjelaskan persoalan berdasarkan perspektif sejarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelaksanaan kebijakan kolonisasi dan transmigrasi memiliki perbedaan dan persamaan dari segi tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, yaitu antara pengerahan tenaga kerja dan pemerataan penduduk. Kebijakan itu dalam pelaksanaannya ada yang menganggap gagal karena tujuan kurang tercapai dengan beban anggaran yang besar, tetapi juga ada yang menilai berhasil. Namun, penempatan kolonis dan transmigran di Mangkutana/Tomoni terbilang berhasil setelah ada stimulusisasi dengan adanya migrasi swakarsa lokal dan nasional. Secara kultural di Sulawesi Selatan, juga berfungsi sebagai salah satu faktor yang menstimulus keberhasilan itu karena migrasi menjadi budaya dan perilaku yang kerap dilakukan oleh orang-orang Sulawesi Selatan di nusantara sejak abad XVII dan berlangsung hingga masa kemerdekaan. 

Page 1 of 2 | Total Record : 12