cover
Contact Name
Zulfakriza
Contact Email
zulfakriza@gmail.com
Phone
+6281360729183
Journal Mail Official
secretariat@hagi.or.id
Editorial Address
Patra Jasa Tower, 18th Floor (Suite 1820), Jl. Gatot Subroto Kav. 32-34, Kuningan Jakarta Selatan
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Geofisika
ISSN : 0854352     EISSN : 24776084     DOI : https://doi.org/10.36435/jgf
Core Subject : Science,
Jurnal Geofisika [e-ISSN : 2477-6084] is a scientific journal published by Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI). This journal is referenced, each paper was assessed and evaluated by editors and reviewers who are experts in the relevant fields and come from education institutions and industry, both from within and outside the country. The published article covers all science and technology including Geophysics, Meteorology, Oceanography, Geology and Geodesy.
Articles 100 Documents
An attempt to Model Final Reservoir at Mt. Merapi Using Receiver Function Auly, Muhammad Fariq Riesky; Zaky, Dicky Ahmad; Saputra, Ryandika; Suhardja, Sandy Kurniawan; Widiyantoro, Sri; Ramdhan, Mohammad 
Jurnal Geofisika Vol 21 No 1 (2023): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v21i1.537

Abstract

Studi di daerah Gn. Merapi sudah banyak dilakukan sebelumnya untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan pada area tersebut, khususnya untuk mengetahui mekanisme vulkanik dari Gn. Merapi itu sendiri. Hal yang sering menjadi topik pembahasan pada studi di Gn. Merapi adalah kondisi dari reservoir magma yang ada di bawah permukaan. Untuk memperkirakan hal tersebut dilakukan teknik receiver function dengan membuat model kecepatan sintetik yang kemudian diolah menjadi kurva synthetic receiver function. Hasil synthetic receiver function kemudian dikorelasikan dengan hasil receiver function observasi hingga didapatkan korelasi yang paling baik. Sebelum dilakukan pembuatan synthetic receiver function untuk mencitrakan kondisi bawah permukaan Gn. Merapi, perlu dilakukan terlebih dahulu analisis awal terhadap respon hasil receiver function dari model sederhana yang dibuat dengan memberikan sumber-sumber sinyal utama pada kurva receiver function yang dihasilkan agar mempermudah pembuatan model kecepatan sintetik. Sumber-sumber respon sinyal utama yang mempengaruhi bacaan receiver function di antaranya adalah kontras nilai kecepatan gelombang seismik terutama Vs, adanya lapisan sedimen yang memiliki ketebalan tipis, adanya zona berkecepatan rendah (low velocity zone) yang diinterpretasikan sebagai reservoir magma, dan kedalaman dari batas kerak dan mantel atas yaitu moho discontinuity. Berdasarkan hasil synthetic receiver function di stasiun ME25, ME32 dan ME36, didapatkan kedalaman dari moho berkisar antara 26-29 km dan semakin dangkal ke arah Gn. Merapi, yaitu arah selatan dari daerah studi. Kedalaman dari low velocity zone juga bervariasi yaitu berkisar antara 5-15 km dan juga semakin dangkal ke arah selatan.
Analisis Porositas Dan Permeabilitas Batuan Pada Daerah Rawan Longsor Menggunakan Teknik Pengolahan Citra Digital Sa'adah, Nailis; Irayani, Zaroh; Raharjo, Sukmaji Anom
Jurnal Geofisika Vol 21 No 2 (2023): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v21i2.577

Abstract

Porositas dan permeabilitas batuan merupakan salah satu sifat batuan penyebab terjadinya tanah longsor. Analisis porositas dan permeabilitas penting dilakukan untuk mengetahui struktur pori untuk memprediksi pergerakan fluida di dalam pori batuan. Citra digital sampel batuan yang digunakan merupakan citra digital sampel batuan DP II, DP III, DP IV, dan DP V dari daerah rawan longsor Desa Prendengan Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara. Sampel batuan dianalisis menggunakan citra digital melalui pemindaian dengan Micro-CT Skyscan 1173 dengan resolusi citra sebesar 7,8375 µm/pixel. Data yang didapatkan selanjutnya dihitung nilai porositas dan permeabilitas batuan, agar diketahui pengaruhnya terhadap kelongsoran. Nilai porositas yang dihitung merupakan porositas total, porositas terbuka, dan porositas tertutup menggunakan sofware CT-Analyser. Sedangkan nilai permeabilitas dihitung menggunakan Palabos (Parallel Lattice Boltzmann Solver) dengan bahasa pemrograman pada software Matlab dan teknik grup renormalisasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa batuan DP II memiliki nilai porositas sebesar 6,55%, batuan DP III memiliki nilai porositas sebesar 4,61%, batuan DP IV memiliki nilai porositas sebesar 51,18%, dan batuan DP V memiliki nilai porositas sebesar 60,21%. Permeabilitas sampel batuan DP III memiliki nilai terendah dari DP II, DP IV, dan DP V. Berdasarkan hasil yang diperoleh diketahui bahwa rendahnya porositas dan permeabilitas pada batuan DP III menunjukkan bahwa batuan DP III memiliki struktur yang kompak dan impermeable, sehingga memungkinkan DP III berfungsi sebagai bidang gelincir tanah longsor. Sedangkan sampel batuan DP IV dan DP V memiliki nilai permeabilitas yang tinggi sehingga berpotensi sebagai zona longsoran. Semakin tinggi porositas yang saling terkoneksi satu sama lain pada batuan maka semakin besar permeabilitas batuan tersebut yang mengakibatkan laju infiltrasi yang tinggi dan berpotensi sebagai zona longsoran. Hasil analisis menunjukkan bahwa batuan DP II memiliki nilai porositas sebesar 6,55%, batuan DP III memiliki nilai porositas sebesar 4,61%, batuan DP IV memiliki nilai porositas sebesar 51,18%, dan batuan DP V memiliki nilai porositas sebesar 60,21%. Permeabilitas sampel batuan DP III memiliki nilai terendah dari DP II, DP IV, dan DP V. Kecilnya porositas dan permeabilitas pada batuan DP III menunjukkan bahwa batuan DP III memiliki struktur yang kompak dan impermeable sehingga memungkinkan DP III berfungsi sebagai bidang gelincir tanah longsor. Sampel batuan DP IV dan DP V memiliki nilai permeabilitas yang tinggi sehingga berpotensi sebagai zona longsoran.
ESTIMASI PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM DAN PERCEPATAN TANAH DI PERMUKAAN MENGGUNAKAN MODEL FUNGSI ATENUASI BOORE (1997) Raharjo, Furqon Dawam
Jurnal Geofisika Vol 21 No 1 (2023): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v21i1.548

Abstract

Gempabumi yang terjadi pada tanggal 25 februari 2022 di Kabupaten Pasaman Barat dengan magnitudo momen (Mw) 6.2, menghasilkan guncangan tanah yang kuat sehingga banyak bangunan yang mengalami kerusakan berat. Tingkat besarnya guncangan tanah dapat ditentukan dengan nilai percepatan tanah maksimum dibatuan dasar (PGA) dan percepatan tanah dipermukaan (PGAm). Informasi parameter tanah maksimum dibatuan dasar (PGA) dan percepatan tanah dipermukaan (PGAm) memegang peranan penting untuk menggambarkan tingkat kerusakan bangunan akibat event gempabumi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dengan nilai percepatan tanah maksimum dibatuan dasar (PGA) dan percepatan tanah dipermukaan (PGAm) akibat gempabumi Mw6.1 di Kabupaten Pasaman Barat. Pada penelitian ini menggunakan data parameter gempabumi utama, selanjutnya percepatan tanah maksimum dibatuan dasar (PGA) dihitung menggunakan model fungsi atenuasi Boore (1997) dan percepatan tanah dipermukaan (PGAm) dianalisis berdasarkan faktor amplifikasi dari SNI 1726-2012 yang dipengaruhi parameter Vs30. Hasil penelitian ini diperoleh nilai percepatan tanah maksimum dibatuan dasar (PGA) dan percepatan tanah dipermukaan (PGAm) berkisar antara 0.066 g - 0.345 g dan 0.223 g hingga 0.627 g. Wilayah yang terdampak kerusakan berat di Kab. Pasaman Barat, seperti Talamau, Kajai, Rimbo Panti, Tigo Nagari dan Malampah mempunyai nilai percepatan tanah maksimum dibatuan dasar (PGA) dan percepatan tanah dipermukaan (PGAm) sekitar 0,115 g - 0.345 g dan 0.423 g - 0.627 g dan didominasi dengan jenis klasifikasi (site class) tanah sedang (stiff soil) berdasar dari data Vs30 model USGS. Kata kunci : Percepatan Tanah Maksimum Dibatuan Dasar (PGA), Percepatan Tanah Dipermukaan (PGAm), Model Fungsi Atenuasi Boore (1997), Gempabumi Kab.Pasaman Barat
Analisis Euler Deconvolution untuk Mengidentifikasi Patahan Lembang Berdasarkan Data Gravitasi GGMplus Aziz, Khafidh Nur; Fitrianingtyas, Rahmawati; Darmawan, Denny; Laatifah, Laatifah
Jurnal Geofisika Vol 21 No 2 (2023): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v21i2.558

Abstract

Sesar Lembang mengalami pergerakan 6 mm/tahun dan memiliki prediksi gempa dengan magnitudo 6,8. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui korelasi data gravitasi GGMplus terhadap data gravitasi TOPEX dan pola sebaran Anomali Bouger Lengkap (ABL) GGMplus, mengidentifikasi posisi dan kedalaman sumber anomali Sesar Lembang berdasarkan analisis Euler Deconvolution, dan memodelkan struktur bawah permukaan Sesar Lembang. Penelitian ini menggunakan data GGMplus dan TOPEX. Data gravity disturbance GGMplus akan digunakan dalam perhitungan koreksi terrain untuk mendapatkan nilai ABL, pemisahan anomali, analisis Euler Deconvolution, dan pemodelan 2D. Hasil penelitian menunjukkan korelasi data gravitasi GGMplus dan TOPEX sebesar 0,871. Nilai ABL daerah penelitian dalam rentang 8 mGal hingga 37 mGal. Kedalaman sumber anomali Sesar Lembang dalam rentang 820 m – 1096 m dan memiliki 4 formasi batuan, Formasi Cilanang, Formasi dari hasil gunung api tua, Tufa Berbatuapung, dan Formasi Tufa Pasir. Formasi yang mendominasi adalah Formasi Cilanang dengan densitas 2,52 – 2,83 dan bersesuaian dengan batu gamping.
Analisis Struktur Geologi Sistem Panas Bumi Menggunakan Metode Gaya Berat di Daerah Danau Maninjau Sumatera Barat putra, yoga satria
Jurnal Geofisika Vol 21 No 1 (2023): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v21i1.551

Abstract

A geothermal system is generally associated with faults in geological structures. Therefore, identifying faults in the geothermal system is a critical study. This study aims to identify the presence of faults and to model the geological structure of a geothermal system in the Maninjau Lake area using the gravity method. Indication of the faults is determined based on gradient analysis of the first horizontal derivative (FHD) and second vertical derivative (SVD). While the subsurface structure modelling is done using forward modelling. The data used in this study is gravity disturbance data obtained on the GGMplus page. Based on the study's results, the geothermal system that developed in the Maninjau Lake area was the remnants of magma from the eruption of the Maninjau volcano. This residual magma becomes a heat source that controls the geothermal system in this area, as evidenced by the presence of volcanic rock formations in the form of basaltic andesite, pumice lapilli and basalt rock in the study area. Based on the analysis, the geological structure of the geothermal system in this area is composed of reservoir rock and cap rock. Based on the results of 2D modelling of subsurface geology, the reservoir rock consists of sandstone with a rock density of 2.76 gr/cm3 at a depth of up to 600 m. This study did not detect cover rock because it is located at a very shallow depth. The faults around the hot springs of Lake Maninjau were identified using derivative analysis. This fault can be used as a hydrothermal route for geothermal manifestations in the Maninjau Lake area. Geologically, the geothermal system in the Lake Maninjau area is included in the volcano-tectonic geothermal system.
Identification of the Subsurface Structure of the Great Sumatra Fault Dikit Segment Based on First Horizontal Derivative (FHD), Second Vertical Derivative (SVD), and Forward Modelling Analyses Forward Modelling of 2D Gravity Anomaly Data Rinanda, Shelya Trya
Jurnal Geofisika Vol 22 No 2 (2024): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v22i2.631

Abstract

The Dikit segment has a length of 66.19067 km, located at coordinates 2.291° - 2.748° N and 101.155° - 101.599° E. This segment shows tectonic activity with a slip rate of 9-11 mm/year. One of the effective Geophysical methods to recognise the presence of faults is the gravity method. The purpose of this study is to determine the distribution pattern of heavy force anomalies and to identify subsurface structures in the Dikit segment area by taking GGMPlus heavy force anomaly data. Based on the Bouguer anomaly value, the high anomaly in this area is controlled by the presence of metamorphic rocks around the study area. Meanwhile, the low Bouguer anomaly is due to the presence of a weak zone around the Gunung Masurai area triggered by geothermal activity in the area. The separation of regional and residual anomalies uses a moving average by taking the average value of the cut-off wave number from the results of the spectrum analysis. Based on the analysis of FHD and SVD values, it has been identified that the Dikit segment has a right strike-slip mechanism that extends from northwest to southeast. Forward modelling was carried out using Grav2DC software to map the subsurface structure in the study area.
Analisis Tensor Fase dan Pemodelan 2D Data Magnetotellurik Dahlila, Dea; Irawati, Selvi Misnia; Paembonan, Andri Yadi
Jurnal Geofisika Vol 22 No 1 (2024): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v22i1.563

Abstract

Salah satu metode geofisika untuk mengetahui bawah permukaan bumi adalah metode magnetotellurik yang memanfaatkan sumber alami berupa medan magnet bumi dari medan listrik dan variasi medan magnet. Namun, data yang diperoleh dari lapangan masih dipengaruhi oleh noise atau distorsi yang akan menutupi dimensionalitas sebenarnya dari struktur bawah permukaan, sehingga dapat mengakibatkan kesalahan dalam melakukan interpretasi. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis tensor fase untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan yang tidak dipengaruhi distorsi galvanik. Berdasarkan hasil yang diperoleh daerah penelitian memiliki dimensionalitas 2D dengan arah geo-electrical strike N1750E berarah Utara Barat Laut hingga Tenggara. Hasil inversi 2D menunjukkan bahwa resistivitas rendah 1-10 Ωm diidentifikasi sebagai zona alterasi atau clay cap yang berupa batuan sedimen yang berada kedalaman ~1.5 km dimana zona alterasi ini memiliki kemenerusan ke arah timur laut. Pada resistivitas 200-500 Ωm diidentifikasikan sebagai basal berpori. Pada resistivitas 50-70 Ωm diidentifikasikan sebagai riolit yang berasosiasi dengan fluida geotermal.
Investigasi Karakteristik Bawah Permukaan di Sekitar Sumber Gempa Sumedang 31 Desember 2023 Menggunakan Parameter Vs 30 dan Kurva HVSR Guna Pemetaan Daerah Rawan Potensi Gempa Syafarudin, Izal
Jurnal Geofisika Vol 22 No 2 (2024): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v22i2.637

Abstract

Sumedang, sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia, terletak di zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, sehingga rentan terhadap gempa bumi. Pada 31 Desember 2024, gempa berkekuatan M4,8 mengguncang Sumedang dengan episenter 2 km timur laut dari pusat Kota Sumedang dan kedalaman 5 km. Penelitian pasca-gempa oleh BMKG menemukan adanya Sesar Sumedang yang sebelumnya belum terpetakan, sehingga diperlukan prediksi bahaya seismik sebagai upaya mitigasi bencana. Penelitian ini menggunakan metode Horizontal-to-Vertical Spectral Ratio (HVSR) untuk mengkarakterisasi struktur bawah permukaan di zona gempa Sumedang 2023. Data mikrotremor diperoleh dari pencatatan di 60 stasiun yang dioperasikan pada Juli 2024. HVSR adalah metode yang digunakan untuk memperoleh informasi bawah permukaan dari pengukuran stasiun tunggal dengan membandingkan spektrum Fourier dari komponen horizontal dengan komponen vertikalnya. Rasio ini menghasilkan kurva H/V yang merupakan fungsi dari frekuensi. Nilai frekuensi dominan pada kurva HVSR mewakili frekuensi alami daerah tersebut. Indeks Kerentanan Seismik (Kg), yang digunakan untuk menentukan zona lemah tanah, dapat dihitung dari kurva H/V. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, karakteristik daerah di sekitar Zona Sumber Gempa Sumedang 2023 menunjukkan frekuensi dominan yang bervariasi, dengan frekuensi rendah di Barat Laut. Faktor amplifikasi cenderung rendah hingga sedang, namun ada titik tinggi di Barat Laut dan Tenggara. Kerentanan seismik umumnya tinggi hingga sangat tinggi, kecuali anomali rendah di bagian tengah dan timur laut. Berdasarkan nilai Vs30, batuan dasar didominasi oleh lempung lunak, dengan ketebalan sedimen lebih besar di Barat (40-80 m). Kondisi ini menunjukkan risiko seismik yang tinggi di sekitar zona gempa.
Survei Air Tanah Menggunakan Metode Resistivitas Untuk Mitigasi Kekeringan di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat Prabowo, Adi
Jurnal Geofisika Vol 22 No 1 (2024): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v22i1.528

Abstract

Survei air tanah di Kecamatan Bolo, Kecamatan Palibelo , Kecamatan Woha , Kecamatan Langgudu , Kecamatan Wawo, Kecamatan Sape, dan Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat telah dilaksanakan. Daerah penelitian terletak di kawasan mayoritas berbukit-bukit dengan jenis tanah rentan kekeringan. Air berlimpah saat musim hujan. Namun, saat musim kemarau permukaan tanahnya retak dan terjadi kekurangan air bersih. Situasi ini meresahkan masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Bima. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode konfigurasi Geolistrik Resistivitas Schlumberger. Titik pengukuran berada di tujuh Kecamatan dengan total 18 titik pengukuran. Lokasi penelitian di 118,6305833 SL; -8,300888889 EL sampai dengan 119,01925 SL; -8,704638889 EL atau meliputi area seluas ±1.961 Km2. Panjang lintasan yang digunakan maksimal 400 meter. Berdasarkan hasil data resistivitas geolistrik, ditemukan dua jenis akuifer yaitu akuifer terbuka dengan kedalaman berkisar antara 1 m sampai dengan 26 m dan akuifer tertekan dengan kedalaman berkisar antara 90 sampai dengan 115 m. Selain data informasi geolistrik, digunakan pula data pemboran di titik yang dapat dijangkau alat berat di Desa Lanta Barat, Kecamatan Lambu. Di titik pemboran, didapatkan keberadaan lapisan akuifer pada kedalaman sekitar 80 meter. Penemuan sumur bor ini kemudian dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN DATA ANOMALI GRAVITY CITRA SATELIT- STUDI KASUS SUMUR AIR PANAS DI DESA PEMATANG BULUH KECAMATAN BETARA, TANJUNG JABUNG BARAT Novianda, Cici; Dewi, Ira Kusuma; Marlinda, Lenny
Jurnal Geofisika Vol 22 No 2 (2024): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v22i2.591

Abstract

Identifikasi struktur bawah permukaan di desa Pematang Buluh dilakukan dengan metode gravitasi berdasarkan anomali gravitasi yang dihasilkan dari citra satelit. Pengukuran citra satelit didapatkan dari hasil pengukuran Geodetic Satellite (GeoSat) dan European Remote Sensing-1 (ERS-1) yang telah terkoreksi hingga koreksi udara bebas. Pengolahan data dilakukan untuk memperoleh nilai Complete Bouger Anomaly (CBA). Metode yang digunaan yaitu metode analisa derivative (First horizontal derivative dan Second vertical derivative) dan pemodelan secara 2 dimensi. Hasil yang diperoleh pada analisis struktur terhadap grafik SVD diidentifikasi terdapatnya patahan berupa patahan naik pada kedua slicing. Hasil pemodelan bawah permukaan secara 2D terdapat dua lapisan batuan dan diinterpretasi adanya sistem panas bumi. Lapisan pertama dengan densitas 2.21 gr/cm3 berupa batu lempung diinterpretasi sebagai batuan penutup (Caprock). Lapisan kedua dengan densitas 2.35 gr/cm3 berupa batu pasir diinterpretasi sebagai reservoir. Pada lapisan kedua diinterpretasi terdapat sub cekungan yang diduga adanya lapisan akuifer. Kata kunci : Struktur bawah permukaan, Metode gravity, SVD (Second Vertical Derivative), Pemodelan 2D

Page 9 of 10 | Total Record : 100