cover
Contact Name
Widodo Kushartomo
Contact Email
widodokushartomo@gmail.com
Phone
+628176869150
Journal Mail Official
jmts@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No. 1, Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : 2622545X     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/jmts
Core Subject : Engineering,
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil dikelola oleh Program Studi Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil merupakan media publikasi hasil penelitian dan studi ilmiah dalam bidang Teknik Sipil yang diterbitkan 4 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal ini terbit pertama kali pada 1 Agustus 2018.
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Volume 9, Nomor 1, Februari 2026" : 28 Documents clear
DAMPAK REAKTIVASI STASIUN WANARAJA TERHADAP KINERJA SIMPANG JALAN CIKOLE DAN JALAN RAYA WANARAJA DI KABUPATEN GARUT Iscahyono, Achmad Fauzan; Khairullah, Rafi Arqam; Putri, Siti Calulla
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 1, Februari 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i1.33667

Abstract

The reactivation of Wanaraja Railway Station was carried out in March 2022 after 39 years of dormancy since 1983. With the reactivation of Wanaraja Railway Station, this is estimated to affect the intersection performance at the intersection of Cikole Street and Wanaraja Highway where the instersection is the road most often passed to get to the station. This purpose of this research is to identify the impact of reactivation of Wanaraja Railway Station on the intersectioin performance of Cikole Street and Wanaraja Highway by calculating the degree of saturation, delay, and queuing opportunities. This research uses a quantitative descriptive approach and intersection performance analytical method refers to Indonesia Highway Capacity Manual (PKJI) 2014. The results of the analysis show that the performance of the intersection of Cikole Street and Wanaraja Highway has increased that is on degree of saturation value from 0.49 to 0.74. The increase also occurs in the value of intersection delays and queue opportunities. This is because no substantial impact has been observed from the reactivation of Wanaraja Railway Station on the performance of the intersection of Cikole Street and Wanaraja Highway. Abstrak Reaktivasi Stasiun Wanaraja dilakukan pada bulan Maret 2022 setelah 39 tahun lamanya tertidur sejak tahun 1983. Reaktivasi Stasiun Wanaraja diperkirakan akan memengaruhi kinerja simpang di persimpangan Jalan Cikole dan Jalan Raya Wanaraja di mana persimpangan tersebut merupakan jalan yang paling sering dilewati untuk menuju stasiun tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak reaktivasi Stasiun Wanaraja terhadap kinerja simpang Jalan Cikole dan Jalan Raya Wanaraja dengan memperhitungan derajat kejenuhan, tundaan, serta peluang antrian. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif serta metode analisis kinerja lalu lintas simpang mengacu kepada Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) tahun 2014. Hasil analisis menunjukkan bahwa kinerja simpang Jalan Cikole dan Jalan Raya Wanaraja mengalami peningkatan yaitu pada nilai derajat kejenuhan dari 0,49 menjadi 0,74. Peningkatan juga terjadi pada nilai tundaan simpang dan peluang antrian. Hal tersebut dikarenakan belum ada dampak yang signifikan dari reaktivasi Stasiun Wanaraja terhadap kinerja simpang Jalan Cikole dan Jalan Raya Wanaraja.
TINJAUAN KEPUASAN PELANGGAN TERHADAP LAYANAN KA BANDARA SOEKARNO-HATTA Putranto, Leksmono Suryo; Pranata, Ariyo Harry
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 1, Februari 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i1.34126

Abstract

Transportation is a very important basic need, especially in areas with high levels of activity such as education, entertainment, housing, and others. Since its inauguration on January 2, 2018, the Soekarno-Hatta Airport Train has been present as one of the alternative public transportation options to the airport. This train has six stopping stations, namely Soekarno-Hatta Airport, Batu Ceper, Rawa Buaya, Duri, BNI City, and Manggarai, which connect Tangerang City and South Jakarta through various strategic points. This study aims to evaluate the level of passenger satisfaction with the Airport Train service using the Importance Performance Analysis (IPA) method through a survey of 9 service statements, including punctuality, station/train officer service, comfort, ticket booking process, ticket price, information system, station/train security, facilities, and services for the disabled. The results of the analysis show that no statements fall into Quadrant A (low performance, high expectations), while 4 statements (44.4%) fall into Quadrant B (high performance, high expectations), namely satisfaction with officers, cleanliness, schedule information, and station/train security. The other 4 statements (44.4%) are in Quadrant C (low performance, low expectations), including punctuality, ticket booking process, ticket price, and disability services. 1 statement (11.1%) is in Quadrant D (high performance, low expectations), namely the comfort of facilities such as AC, seats, and Wi-Fi. These findings indicate that improvements need to be focused on aspects in Quadrant C in order to encourage overall passenger satisfaction with Soekarno-Hatta Airport Train services. Abstrak Transportasi adalah kebutuhan dasar yang sangat penting, terutama di daerah dengan tingkat aktivitas tinggi seperti pendidikan, hiburan, perumahan, dan lainnya. Sejak diresmikan pada 2 Januari 2018, KA Bandara Soekarno-Hatta hadir sebagai salah satu pilihan transportasi publik alternatif menuju bandara. Kereta ini memiliki enam stasiun pemberhentian, yaitu Bandara Soekarno-Hatta, Batu Ceper, Rawa Buaya, Duri, BNI City, dan Manggarai, yang menghubungkan Kota Tangerang dan Jakarta Selatan melalui berbagai titik strategis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kepuasan penumpang terhadap layanan KA Bandara dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA) melalui survei terhadap 9 pernyataan layanan, meliputi ketepatan waktu, pelayanan petugas stasiun/kereta, kenyamanan, proses pemesanan tiket, harga tiket, sistem informasi, Keamanan stasiun/kereta, fasilitas, dan pelayanan terhadap disabilitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada pernyataan yang masuk Kuadran A (kinerja rendah, harapan tinggi), sedangkan 4 pernyataan (44,4%) masuk Kuadran B (kinerja tinggi, harapan tinggi), yaitu kepuasan terhadap petugas, kebersihan, informasi jadwal, dan Keamanan stasiun/kereta. 4 pernyataan lainnya (44,4%) berada pada Kuadran C (kinerja rendah, harapan rendah), meliputi ketepatan waktu, proses pemesanan tiket, harga tiket, dan pelayanan disabilitas. 1 pernyataan (11,1%) masuk Kuadran D (kinerja tinggi, harapan rendah), yaitu kenyamanan fasilitas seperti AC, kursi, dan Wi-Fi. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan perlu difokuskan pada aspek-aspek yang berada di Kuadran C guna mendorong kepuasan penumpang secara keseluruhan terhadap layanan KA Bandara Soekarno-Hatta.
PENGARUH KONFIGURASI KELOMPOK TIANG TERHADAP PENURUNAN DAN GAYA DALAM PADA TIANG Buntara, Jasson; Suhendra, Andryan; Leman, Sunarjo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 1, Februari 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i1.34195

Abstract

Fondasi memiliki peranan penting dalam perencanaan konstruksi karena berfungsi menyalurkan beban dari struktur bangunan ke lapisan tanah yang lebih stabil di bawah permukaan. Dalam proses perancangannya, fondasi dibagai menjadi 2 bagian yaitu: fondasi dangkal dan fondasi dalam (tiang pancang/bor). Tiang pancang diklasifikasikan sebagai fondasi dalam dan digunakan saat lapisan tanah bagian atas tidak cukup kuat untuk menopang beban struktur atau bangunan, sehingga beban perlu dialihkan ke tanah yang lebih dalam dan stabil. Dalam dunia konstruksi juga dikenal sistem tiang kelompok, yaitu susunan beberapa tiang yang digabung dan disatukan menggunakan pile cap. Dalam penggunaan tiang kelompok, jumlah tiang dan bentuk pile cap dapat disesuaikan, yang biasa disebut dengan konfigurasi tiang. Penelitian ini akan difokuskan pada analis kelompok tiang pancang yang mencakup perhitungan daya dukung ujung, daya dukung selimut, serta deformasi tiang berdasarkan data tanah dan konfigurasi tiang yang telah ditetapkan. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis dan membandingkan penurunan konfigurasi tiang yang optimal sesuai dengan karakteristik tanah yang digunakan.
EVALUASI PERMEABILITAS CAMPURAN TANAH BSD DENGAN VARIASI BENTUK BUTIRAN PASIR MENGGUNAKAN METODE FALLING HEAD Gumilar , Shauqy Azka; Christianto, Daniel; Yuwono, Amelia
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 1, Februari 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i1.34225

Abstract

This study aims to evaluate the permeability levels of soil and various types of sand, as well as to examine the influence of their physical properties on permeability values. The soil sample was sourced from Bumi Serpong Damai (BSD), while the sand samples consisted of six variants: Red Malang Sand, Black Malang Sand, river sand, Cibeet Sand, Lombok Sand, and Garut Sand. The research involved a series of laboratory tests, including index properties, Atterberg limits, soil compaction, and permeability testing using the falling-head method. The falling head tests employed standpipes with three different diameters of 4 mm, 6 mm, and 10 mm. The findings reveal that the physical characteristics of the sand—such as grain size distribution, gradation, density, and moisture content *significantly affect the permeability values. Moreover, the combination of soil and sand with mixture variations of 20%, 30%, and 40% also influences permeability levels, with higher sand content generally resulting in greater permeability. These results provide insight into the permeability variations among different soil and sand types, which could serve as a valuable reference in construction planning and implementation. This study is also expected to contribute to more effective permeability control strategies. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat permeabilitas pada tanah dan berbagai jenis pasir serta menelaah pengaruh sifat-sifat fisik terhadap nilai permeabilitas tersebut. Tanah diambil dari Bumi Serpong Damai (BSD), sementara pasir yang digunakan terdiri dari enam varian, yaitu Pasir Malang Merah, Pasir Malang Hitam, pasir sungai, Pasir Cibeet, Pasir Lombok, dan Pasir Garut. Proses penelitian dilakukan melalui sejumlah uji laboratorium, meliputi pengujian index properties, Atterberg limit, pemadatan tanah (compaction), serta uji permeabilitas dengan metode falling head. Pengujian falling head ini menggunakan selang ukur dengan tiga variasi diameter yaitu 4 mm, 6 mm, dan 10mm. Temuan menunjukkan bahwa karakteristik fisik pasir, seperti distribusi ukuran butir, tingkat gradasi, densitas, dan kadar air, berpengaruh signifikan terhadap nilai permeabilitas. Selain itu, kombinasi tanah dan pasir dengan variasi campuran 20%, 30%, dan 40% juga memengaruhi tingkat permeabilitas; di mana proporsi pasir yang lebih tinggi cenderung meningkatkan permeabilitas campuran. Hasil ini memberikan pemahaman mengenai variasi permeabilitas pada berbagai jenis pasir dan tanah, yang berpotensi menjadi dasar pertimbangan dalam perencanaan dan pelaksanaan konstruksi. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi dalam upaya pengendalian permeabilitas secara lebih efektif.
FAKTOR HAMBATAN DALAM PENGADAAN BARANG/JASA ELEKTRONIK DI DPRKPP KABUPATEN NGANJUK Anggitasari, Inge
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 1, Februari 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i1.35186

Abstract

E-procurement, also known as an electronic system for the procurement of goods and services, is a mechanism for acquiring goods and services that utilizes the latest developments in the field of information and communication technology to create a workflow that is more accessible, accountable, efficient, and effective. In practice, several obstacles are still often encountered, including in local government institutions, such as the Office handling Housing, Settlement Areas, and Land Affairs in Nganjuk Regency. This study aims to map the barrier elements in the e-procurement implementation process at the institution, while also formulating strategic steps that can be applied to mitigate the impact of these obstacles. To identify the most dominant barrier factors, this study analyzed the data using the relative importance index (RII) and confidence interval methods. The research results indicate that habitual practices in service provision and weak communication are the main barriers to the implementation of e-procurement in the relevant department. To minimize the impact of these two factors, it is necessary to increase the capacity of the human resources involved, as well as develop more adequate facilities, infrastructure, and technology to support the sustainability of the e-procurement system. Abstrak E-procurement, juga dikenal sebagai sistem elektronik untuk pengadaan barang dan jasa merupakan sebuah mekanisme perolehan barang dan jasa yang mendayagunakan perkembangan mutakhir dalam ranah teknologi informasi dan komunikasi guna mewujudkan suatu alur kerja yang lebih aksesibel, akuntabel, berdaya guna, dan efektif. Dalam praktiknya, sejumlah kendala masih sering dijumpai, termasuk pada lembaga pada tatanan pemerintahan lokal, sebagai contoh, Dinas yang menangani urusan Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan di Kabupaten Nganjuk. Kajian ini bertujuan untuk memetakan elemen-elemen penghalang pada proses implementasi e-procurement pada instansi tersebut, sekaligus merumuskan langkah-langkah strategis yang dapat diterapkan untuk mengurangi dampak dari hambatan tersebut. Untuk mengidentifikasi faktor hambatan yang paling dominan, penelitian ini menganalisis data menggunakan metode relative importance index (RII) dan confidence interval. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kebiasaan dalam penyediaan jasa dan lemahnya komunikasi menjadi hambatan utama dalam implementasi e-procurement di Dinas terkait. Guna meminimalkan dampak kedua faktor tersebut, dibutuhkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat, disertai pengembangan sarana, prasarana, dan infrastruktur teknologi yang lebih memadai guna mendukung keberlanjutan sistem e-procurement.
03 Redaksi Vol. 9 No. 1 Sandjaya, Arif
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 1, Februari 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

EKSPLORASI POTENSI COCOPEAT DALAM PENGEMBANGAN GEOMEMBRAN RAMAH LINGKUNGAN UNTUK PENAHAN AIR BAWAH TANAH Syahwanti, Hezliana; Irvhaneil; Alwi, Abubakar
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 1, Februari 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i1.35481

Abstract

This study aims to explore the potential of cocopeat as an environmentally friendly alternative material for groundwater retention applications. Conventional geomembranes made of High-Density Polyethylene (HDPE) have been proven to be highly effective in controlling water infiltration; however, they present sustainability challenges due to their non-biodegradable nature. Therefore, cocopeat, a coconut husk by-product abundantly available in West Kalimantan, is investigated as an organic-based alternative material—not as a replacement for synthetic geomembranes, but as a complementary solution for groundwater conservation under specific conditions and scales of application. This research employed a laboratory experimental method involving the washing and drying of cocopeat, mixing with biodegradable resin and water, sample molding, and permeability testing using the falling head method. The results indicate that cocopeat-based geomembranes exhibit an average permeability coefficient of 3.5902 × 10⁻⁶ cm/s, which falls into the slightly impermeable (semi-impermeable) category. These findings demonstrate that cocopeat is capable of functioning as a water infiltration barrier, although its impermeability remains lower than that of synthetic geomembranes such as HDPE. With its fine porous structure, high water absorption capacity, and stable pH ranging from 5.07 to 6.5, cocopeat shows potential for use as a groundwater retention material in conservation-oriented applications, including infiltration ponds, small reservoirs, and eco-friendly drainage base layers. Furthermore, the utilization of cocopeat contributes to organic waste reduction and supports the development of sustainable, locally sourced materials in civil engineering. This study provides a fundamental basis for further research focusing on composition optimization, compaction techniques, and field-scale testing to expand the application of cocopeat as an alternative material for groundwater retention. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi cocopeat sebagai material alternatif ramah lingkungan dalam aplikasi penahan air bawah tanah. Geomembran konvensional berbahan High-Density Polyethylene (HDPE) telah terbukti sangat efektif dalam mengendalikan infiltrasi air, namun memiliki keterbatasan dari sisi keberlanjutan karena bersifat non-biodegradable. Oleh karena itu, cocopeat yang merupakan limbah sabut kelapa dengan ketersediaan melimpah di Kalimantan Barat dikaji sebagai material alternatif berbasis organik, bukan sebagai pengganti geomembran sintetis, melainkan sebagai solusi tambahan untuk aplikasi konservasi air tanah pada skala dan kondisi tertentu. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen laboratorium yang meliputi proses pencucian dan pengeringan cocopeat, pencampuran dengan resin biodegradable dan air, pencetakan sampel, serta pengujian permeabilitas menggunakan metode falling head. Hasil pengujian menunjukkan bahwa geomembran berbahan cocopeat memiliki nilai koefisien permeabilitas rata-rata sebesar 3,5902 × 10⁻⁶ cm/s, yang termasuk dalam kategori material sedikit kedap air (semi-impermeable). Nilai ini menunjukkan bahwa cocopeat mampu berfungsi sebagai lapisan penahan infiltrasi air, meskipun tingkat impermeabilitasnya masih berada di bawah geomembran sintetis seperti HDPE. Dengan karakteristik porositas halus, daya serap air yang tinggi, serta kestabilan pH pada rentang 5,07–6,5, cocopeat berpotensi diaplikasikan sebagai material penahan air bawah tanah untuk kebutuhan konservasi, seperti kolam resapan, embung kecil, atau lapisan dasar sistem drainase ramah lingkungan. Pemanfaatan cocopeat juga memberikan nilai tambah dari sisi keberlanjutan dengan mengurangi limbah organik dan mendukung pengembangan material teknik sipil berbasis sumber daya lokal. Penelitian ini menjadi dasar awal untuk pengembangan lebih lanjut terkait optimasi komposisi, teknik pemadatan, dan pengujian lapangan guna memperluas aplikasi cocopeat sebagai material alternatif penahan air bawah tanah.
EFEK VARIASI PERILAKU SENDI PLASTIS PADA ANALISIS PUSHOVER SISTEM RBKK TIPE INVERTED-V Siahaan, Hanavi; Prabowo, Andy
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 1, Februari 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i1.35823

Abstract

The study was conducted on a six story plus an additional roof level of Special Concentrically Braced Frame (SCBF) steel structure. The lateral force resisting system consists of inverted-V bracing arranged as single-bay frames along each building perimeter. Variable of this study is the location of plastic hinges. In model 1, deformation controlled plastic hinges are assigned to the bracing, while force controlled plastic hinges are assigned to the columns and beams. In model 2, deformation controlled plastic hinges are assigned to columns, beams, and bracing. Structural evaluation was performed using pushover analysis by ETABS. The results show that hinge location variations have minimal influence on the performance point and ductility parameters (R, Ω0, dan Cd). The average differences in base shear dan displacement at the performance point between model 1 dan model 2 are 0.51% and 0.56% respectively. The differences in ductility parameters for model 1 and model 2 are 1%, 0%, 1.4% in the x direction and 1%, 0%, 1% in the y direction for R, Ω0, dan Cd respectively. However, it significantly affects the plastic hinge mechanism and performance level. The first component to exceed >CP level in model 2 is the bracing, whereas in model 1 it is the beams. The performance targets for model 2 at the MCE hazard level is LS for both directions but the performance targets for model 1 at the MCE hazard level are LS in the x direction and CP in the y direction. Overall, model 1 exhibits poorer structural performance level. Abstrak Penelitian dilakukan pada struktur rangka baja terbreis konsentris khusus (RBKK), 6 lantai ditambah atap. Struktur penahan beban lateral berupa rangka baja dengan breis tipe V-terbalik (inverted-V) yang terdiri dari 1 bentang frame terletak di masing-masing perimeter bangunan. Variasi penelitian pada lokasi sendi plastis yaitu untuk model 1 lokasi sendi plastis deformation controlled ada di breis sedangkan force controlled ada di kolom dan balok sedangkan untuk model 2 lokasi sendi plastis deformation controlled ada di ketiga komponen struktur (kolom, balok, dan breis). Evaluasi struktur dilakukan menggunakan analisis pushover dengan bantuan program ETABS. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan variasi lokasi sendi plastis tidak memberikan banyak pengaruh terhadap performance point maupun nilai parameter daktilitas struktur (R, Ω0, dan Cd). Perbedaan rata-rata gaya geser dan deformasi pada performance point untuk model 1 dan model 2 berturut-turut adalah 0,51% dan 0,56%, sedangkan perbedaan nilai parameter daktilitas struktur antara model 1 dan model 2 untuk R, Ω0, dan Cd adalah 1%, 0%, 1,4% untuk arah x dan 1%, 0%, 1% untuk arah y. Namun, variasi pemodelan berpengaruh terhadap mekanisme sendi plastis dan target kinerja struktur. Komponen yang lebih dulu mencapai level >CP pada model 2 adalah breis sedangkan pada model 1 adalah balok. Target kinerja struktur di model 2 pada level gempa MCE adalah LS untuk arah x dan y. Target kinerja struktur di model 1 pada level gempa MCE adalah LS untuk arah x dan CP untuk arah y. Model 1 memberikan hasil kinerja yang lebih buruk.
ANALISIS STABILITAS LERENG MENGGUNAKAN BAMBOO CRIB WALL Nirmala, Angelina Christi Agung; Prihatiningsih, Aniek
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 1, Februari 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i1.35910

Abstract

Slope stability is a critical aspect of geotechnical engineering, particularly on steep terrains prone to landslides. This study analyzes the effectiveness of Bamboo Crib Walls as an eco-friendly and economical reinforcement alternative by comparing single-trap and multi-trap (terraced) designs. Stability analysis was conducted using the Limit Equilibrium Method on a 14-meter high slope with a 60° inclination in Tambakmerang Village, Wonogiri. Simulation results showed the existing slope has a Safety Factor (SF) of 1.366. While categorized as relatively stable, it fails to meet the SNI 8460:2017 standard for permanent slopes with high uncertainty, which requires an SF ≥ 2.0. The single-trap design (H = 4 m, B = 3 m) increased the SF to 1.571, yet remained below the minimum national requirement. In contrast, the terraced design (2-trap) with identical dimensions achieved optimal stability with an SF of 2.823, significantly exceeding the safety standard. This study concludes that the terraced Bamboo Crib Wall is the most effective solution, as the terracing system provides superior load distribution and retention compared to the single-trap model in resisting driving forces on steep slopes. Abstrak Stabilitas lereng merupakan aspek krusial dalam rekayasa geoteknik, terutama pada topografi curam yang rentan terhadap kelongsoran. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Bamboo Crib Wall sebagai alternatif perkuatan ramah lingkungan dan ekonomis dengan membandingkan desain tunggal (single-trap) dan bertingkat (multi-trap). Analisis stabilitas dilakukan menggunakan Metode Kesetimbangan Batas pada lereng setinggi 14 meter dengan sudut kemiringan 60° di Desa Tambakmerang, Wonogiri. Hasil simulasi menunjukkan bahwa lereng eksisting memiliki Faktor Keamanan (FK) sebesar 1,366. Kondisi ini dikategorikan relatif stabil namun belum memenuhi standar SNI 8460:2017 untuk lereng permanen dengan tingkat ketidakpastian tinggi yang mensyaratkan FK ≥ 2,0. Penerapan Bamboo Crib Wall desain single-trap (H = 4 m, B = 3 m) meningkatkan FK menjadi 1,571, tetapi masih di bawah persyaratan minimum standar nasional. Sementara itu, variasi desain bertingkat (2-trap) menghasilkan stabilitas paling optimal dengan nilai FK sebesar 2,823, yang telah jauh melampaui batas aman minimum. Penelitian ini menyimpulkan bahwa modifikasi Bamboo Crib Wall model bertingkat adalah solusi paling efektif karena sistem terasering memberikan distribusi beban dan retensi yang lebih baik dibandingkan model tunggal dalam menahan gaya penggerak pada lereng curam.
KINERJA SEISMIK SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN BEBAN GRAVITASI DENGAN SCWB DAN WCSB PADA GEDUNG BAJA 5 LANTAI Setiawan, Aji; Prabowo, Andy; Leman, Sunarjo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 1, Februari 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i1.35932

Abstract

This study reviews the performance of the special moment resisting frame (SMRF) structure of steel structure buildings using highly ductile member (HDM) steel profiles in high seismic areas against gravity loads as a 'baseline' before further seismic analysis is carried out aimed at evaluating the performance level, how many performance points, collapse patterns, and capacity curves. This study conducted structural modeling into 4 models, model 1 was designed using joint placement and strong column weak beam (SCWB) steel profiles. Model 2 was designed using clamped placement and SCWB steel profiles. Model 3 was designed using joint placement and weak column strong beam (WCSB) steel profiles. Model 4 was designed using clamped placement and WCSB steel profiles. Then from the four models, a pushover analysis was carried out to compare the performance of the building structure which model is better. Through the performance evaluation method, namely the capacity spectrum method (CSM), the results of the study show that model 2 shows the best balance between stiffness and the highest capacity and maintains high elastic and strength performance, making it the most efficient and safe design choice. Abstrak Penelitian ini meninjau kinerja struktur sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK) bangunan struktur baja menggunakan profil baja highly ductile member (HDM) di wilayah seismik tinggi terhadap beban gravitasi sebagai 'baseline' sebelum dilakukan analisis seismik lebih lanjut bertujuan untuk evaluasi level kinerja, berapa performance point, pola runtuh, dan kurva kapasitas. Penelitian ini dilakukan pemodelan struktur menjadi 4 model, model 1 dirancang menggunakan perletakan sendi serta profil baja strong column weak beam (SCWB). Model 2 dirancang menggunakan perletakan jepit serta profil baja SCWB. Model 3 dirancang menggunakan perletakan sendi serta profil baja weak column strong beam (WCSB). Model 4 dirancang menggunakan perletakan jepit serta profil baja WCSB. Kemudian dari keempat model tersebut dilakukan analisis pushover untuk membandingkan kinerja struktur bangunan model mana yang lebih baik. Melalui metode evaluasi kinerja yaitu capacity spectrum method (CSM), hasil penelitian bahwa pada model 2 menunjukkan keseimbangan terbaik antara kekakuan dan kapasitas tertinggi serta mempertahankan kinerja elastis dan kekuatan yang tinggi sehingga menjadikannya pilihan desain yang paling efisien dan aman.

Page 1 of 3 | Total Record : 28