cover
Contact Name
Muhrisun Afandi
Contact Email
risonaf@yahoo.com
Phone
+6282242810017
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat
ISSN : 25983865     EISSN : 26143461     DOI : https://doi.org/10.14421/panangkaran
Jurnal Panangkaran merupakan jurnal Assosiasi Peneliti Agama-agama yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai media komunikasi hasil penelitian para peneliti, ilmuwan dan cendekiawan. Tujuannya adalah untuk mewadahi, menyebarluaskan dan mendialogkan wacana ilmiah di bidang penelitian sosial keagamaan. Naskah yang dimuat dalam jurnal berasal dari hasil-hasil penelitian maupun kajian-kajian kritis para peneliti agama atau akademisi yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan sosial keagamaan, kelekturan, pendidikan dan keagamaan, agama dan sains. Jurnal terbit setahun 2 kali pada bulan Juni dan Desember.
Articles 161 Documents
Tradisi Batimung dalam Tinjauan Sosiologi Hukum Islam: Studi di desa Pematang Limau, Seruyan Hilir, kabupaten Seruyan Yolanda, Dhea; Daud, Fathonah K.; Umar, Mas
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i2.3845

Abstract

This study discusses the batimung tradition in Pematang Limau village, Seruyan Hilir sub-district, Seruyan regency. The batimung tradition is a steam bath originating from the Banjar tribe, carried out by steaming the body using traditional concoctions of spices and leaves that have a fragrant aroma. This tradition is carried out within a period of 1 to 3 days before the wedding reception. Both the groom and the bride are involved in this tradition, which is carried out in a closed room to keep the steam from disappearing quickly. This study aims to determine the implementation and find cultural values ​​in the batimung tradition in Pematang Limau village, Seruyan Hilir sub-district, Seruyan regency. This study is a field research using qualitative methods. The author collects data from informants and compares information from various informants and documentation in Pematang Lima village, then reviews it from a legal sociology perspective. The results of the study indicate that the batimung tradition includes cleansing and purification rituals as preparation for facing important moments. In addition, there are also prayers given to the bride and groom. The values ​​contained in the batimung tradition include cooperation between the two families, respect for tradition, mental and spiritual preparation for the bride and groom. These values ​​are in line with the principles of Islamic law on marriage, which emphasize the importance of cleanliness, mental and spiritual readiness before entering married life. [Penelitian ini membahas tentang tradisi batimung di desa Pematang Limau, kecamatan Seruyan Hilir, kabupaten Seruyan. Tradisi batimung merupakan mandi uap yang berasal dari suku Banjar, dilakukan dengan menguapi tubuh menggunakan ramuan tradisional dari rempah-rempah dan daun-daunan yang memiliki aroma harum. Tradisi ini dilaksanakan dalam rentang waktu 1 hingga 3 hari sebelum acara resepsi pernikahan. Baik mempelai laki-laki maupun perempuan terlibat dalam tradisi ini, yang dilakukan di dalam ruangan tertutup untuk menjaga agar uap tidak cepat hilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan dan menemukan nilai-nilai kebudayaan dalam tradisi batimung di desa Pematang Limau, kecamatan Seruyan Hilir, kabupaten Seruyan. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan yang menggunakan metode kualitatif. Penulis mengumpulkan data dari narasumber dan membandingkan informasi dari berbagai narasumber dan dokumentasi yang ada di desa Pematang Lima, kemudian meninjaunya dengan perspektif sosiologi hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi batimung mencakup ritual pembersihan dan penyucian sebagai persiapan untuk menghadapi momen penting. Selain itu, terdapat juga doa-doa yang diberikan kepada kedua mempelai. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi batimung meliputi kerjasama antara kedua keluarga, penghargaan terhadap tradisi, persiapan mental dan spiritual bagi kedua mempelai. Nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip-prinsip hukum Islam tentang pernikahan, yang menekankan pentingnya kebersihan, kesiapan mental dan spiritual sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.]
Gender Equality Representation in the Movie Avatar the Last Airbender M. Ibnu Naufal Maskuri; Angella Dias Paramitha
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i2.3862

Abstract

The film industry is often considered as a mere entertainment medium, but the reality is that today's films are a communication medium that contains many representations of real-world life portraits, one of which is the topic of gender equality. Gender equality and the feminist movement have always had a place in the world of film, but there is still a stigma that women who only rely on their appearance or physique will be more dominantly displayed than women with good acting skills in the entertainment world. As the largest animation company in the world, Disney also released a film that also voiced gender equality through the film Avatar the Last Airbender through scenes and Katara characters in the film. The purpose of this study is to determine and understand the representation of the message of gender equality contained in the film Avatar the Last Airbender based on the scalpel approach of Roland Bartes' semiotic theory with 3 elements of meaning, namely denotation, connotation and myth. This study found that in the film Avatar the Last Airbender through dialogues and images there is a message about equality represented by the character Katara both in terms of connotation, denotation and myth. Katara as a female character in the film emphasizes the character of a woman who is brave, intelligent and does not want to be underestimated. Seen through the character of Katara in the scene leading to the practice of voicing and representing the importance of gender equality to be voiced in community life. [Industri perfilman sering dianggap sebagai media hiburan semata, namun realitanya saat ini film merupakan media komunikasi yang memuat banyak representasi potret kehidupan dunia nyata salah satunya topik mengenai kesetaraan gender. Kesetaraan gender dan gerakan feminisme selalu mendapat tempat didunia perfilman namun masih ada stigma bahwa perempuan hanya mengandalkan rupa atau fisik akan lebih dominan sering ditampilkan dibandingkan perempuan yang kemampuan aktingnya baik dalam dunia hiburan. Sebagai perusahaan animasi terbesar di dunia Disney juga merilis film yang ikut menyuarakan mengenai kesetaraan gender melalui film Avatar the Last Airbender melalui adegan-adegan dan tokoh Katara dalam film know know. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami representasi pesan kesetaraan gender yang terdapat pada film Avatar the Last Airbender berdasarkan pendekatan pisau bedah teori semiotika Roland Bartes dengan 3 elemen makna yaitu denotasi, konotasi dan mitos. Penelitian ini menemukan bahwa dalam film Avatar the Last Airbender melalui dialog-dialog serta gambar adanya pesan mengenai kesetaraan yang diwakili oleh tokoh Katara baik secara konotasi, denotasi dan mitos. Katara sebagai tokoh perempuan dalam film menonjolkan karakter perempuan yang berani, cerdas serta tidak ingin dipandang sebelah mata. Terlihat melalui tokoh katara dalam adegan mengarah kepada praktik pada aksi menyuarakan serta merepresentasikan akan pentingnya kesetaraan gender untuk disuarakan dalam kehidupan bermasyarakat.]
Strategi Organisasi Mahasiswa Islam dalam Membangun Budaya Muslim yang Cinta Al-Qur’an Raudhatul Jannah; Aisyatul Latifah; Alya Rosadiana; Juliana Setefani Usaini
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i2.3886

Abstract

The increase in interest in reading the Qur'an is one of the signs that a person's love for the Qur'an has also increased. The culture of loving the Qur'an as an effort to strengthen Muslim identity must certainly be done by muslims themselves. One way to create this culture can be by involving organizations. This study examines strategies, supporting factors and inhibiting factors in building a Muslim culture that loves the Qur'an with a case study at the Jam'iyatul Qurra Wal Huffadz Student Activity Unit,  Salatiga State Islamic University. The research approach used is a descriptive qualitative method. Data analysis: Data collection, data reduction, data presentation and conclusion drawn. Data was obtained from the results of observations, questionnaires, interviews and documentation. The results show that in determining the strategy, there are four factors that are considered, namely observation of the surrounding environment, analyzing the chances of achieving a program, estimating possible threats and alternative solutions. Then there are seven rules that are the main focus in developing a strategy, namely the interpretation of the future, the existence of a plan, focusing on competitive advantages, top-down application, the existence of external orientation, flexibility, and centering on long-term results. Then, there are four supporting factors to build the culture, namely interest factors, motivational factors, habituation and repetition factors, and environmental factors. Furthermore, there are three inhibiting factors in building this culture, namely lazy attitudes and feelings, an attitude of responsibility that is not paid attention to, and the nature of angel srawung. [Peningkatan minat baca Al-Qur'an menjadi salah satu tanda kecintaaan seseorang terhadap Al-Qur'an juga meningkat. Budaya mencintai Al-Qur'an sebagai upaya memperkuat identitas muslim ini tentu harus dilakukan oleh muslim itu sendiri. Salah satu cara untuk menciptakan budaya tersebut bisa dengan melibatkan organisasi. Pada penelitian ini mengkaji tentang strategi, faktor pendukung dan faktor penghambat dalam membangun budaya muslim yang cinta Al-Qur'an dengan studi kasus di Unit Kegiatan Mahasiswa Jam'iyatul Qurra Wal Huffadz Universitas Islam Negeri Salatiga. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif. Analisis datanya: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data diperoleh dari hasil observasi, kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa organisasi ini dalam menentukan strategi ada empat faktor yang diperhatikan yaitu pengamatan lingkungan sekitar, menganalisis peluang ketercapaian suatu program, memperkirakan ancaman yang mungkin terjadi, dan solusi alternatifnya. Kemudian ada tujuh aturan yang menjadi fokus utama dalam menyusun strategi yaitu adanya interpretasi masa depan, adanya rencana, berfokus pada keunggulan kompetitif, pengaplikasian dari atas ke bawah, adanya orientasi eksternal, fleksibilitas, dan berpusat pada hasil jangka panjang. Lalu, ada empat faktor pendukung untuk membangun budaya tersebut yaitu faktor minat, faktor motivasi, faktor pembiasaan dan pengulangan, serta faktor lingkungan. Selanjutnya ada tiga faktor penghambat dalam membangun budaya tersebut yaitu sikap dan rasa malas, sikap tanggung jawab yang kurang diperhatikan, serta sifat angel srawung.]
Perbedaan dalam Kebersamaan: Pembacaan Doa Pasca Meninggal Lintas Iman di Desa Cisantana Kabupaten Kuningan Jawa Barat Hidayah, Sokhifah; Aryanti, Dwi; Fadilah, Muhammad; Putri Pasund, Reskika; Rahmatul Husna, Nabila; Ibrahim Lubis, Alwi; Uriawan , Wisnu; Kusnawan, Aep
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i2.3888

Abstract

The paper explores the practice of religious moderation in Cisantana village, Kuningan, West Java through the practice of interfaith post-death prayers. This research highlights a series of funeral events starting from the announcement of the news of death to post-death prayers. Qualitative methods were used in this study to gain an in-depth and comprehensive understanding. This research design refers to ethnographic research that allows researchers to participate and directly observe the phenomenon. Research data in addition to participatory observation was also collected through in-depth interviews with the community. While the data analysis technique used is content analysis technique. The findings of this research are: (1) interfaith prayer began because of the diversity of religions that exist in one family as well as ancestral heritage; (2) the phenomenon of interfaith prayer is an effort of the Cisantana hamlet community in maintaining harmony in the midst of diversity; (3) the phenomenon of interfaith prayer is a manifestation of a high sense of brotherhood and a form of implementation of the 3 main Sundanese teachings namely silih asah (learning from each other), silih asih (caring for each other), silih asuh (loving each other).[Tulisan mengeksplorasi praktik moderasi beragama masyarakat desa Cisantana, Kuningan, Jawa Barat melalui praktik doa pasca meninggal lintas iman. Penelitian ini menyoroti serangkaian acara pemakaman mulai dari pengumuman berita meninggal hingga doa pasca meninggal. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam dan komprehensif. Desain penelitian ini mengacu pada penelitian etnografi yang memungkinkan peneliti untuk berpartisipasi dan mengamati secara langsung fenomena tersebut. Data penelitian selain melalui observasi partisipatif juga dihimpun melalui wawancara mendalam kepada masyarakat. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis isi (content analysis). Temuan penelitian ini berupa: (1) doa lintas iman bermula karena keragaman agama yang ada dalam satu keluarga sekaligus merupakan warisan leluhur; (2) fenomena doa lintas iman merupakan upaya masyarakat dusun Cisantana dalam merawat kerukunan di tengah keragaman; (3) fenomena doa lintas iman merupakan perwujudan dari tingginya rasa persaudaraan dan bentuk implementasi dari 3 pokok ajaran Sunda yaitu silih asah (saling belajar), silih asih (saling peduli), silih asuh (saling menyayangi).]
Interpreting Meditation as an Interreligious Occasion: an Interrituality Approach Aditya, Refan
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i2.4101

Abstract

This research examines meditation as a form of interreligious engagement through an interrituality approach. The concept of interrituality involves interreligious encounters that are catalysed by rituals. The meditation considered here is a public meditation organised by one of the Buddhist institutions in Indonesia, namely Karangdjati vihara Yogyakarta. This research uses semi-structured interviews and participatory observation of regular non-Buddhist participants in the vihara. Drawing on the interrituality approach, this research aims to present the plurality of interpretations of the one Buddhist ritual of meditation based on the participants' immersions, and needs that allows for the sharing of religious experiences in a hospitality moment. In that way, this study aims to contribute to broadening the interest of interreligious studies from theological, theoretical, and discursive dialogue to the more practical, lived interreligious encounters through the realm of ritual. [Penelitian ini meneroka meditasi sebagai momen perjumpaan lintas agama melalui pendekatan interrituality. Konsep interrituality bermakna perjumpaan lintas agama yang diwujudkan oleh ritual. Meditasi yang diteliti adalah meditasi umum yang diselenggarakan salah satu institusi agama Buddha di Indonesia, yaitu vihara Karangdjati Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode wawancara semi-struktur dan observasi partisipatif terhadap partisipan reguler non-Buddhist di vihara. Dengan menggunakan pendekatan interritualitas, penelitian ini berupaya menampilkan pluralitas penafsiran atas satu ritual meditasi berdasarkan penghayatan dan kebutuhan para partisipannya yang memungkinkan terjadinya saling berbagi pengalaman religius dalam suasana ramah tamah. Dengan cara itu, penelitian ini hendak berkontribusi untuk memperluas perhatian studi lintas agama dari dialog teologis, teoritis dan diskursif ke perjumpaan lintas agama yang lebih praktis dan hidup melalui ranah ritual.]
Ethnobotany of Pace (Morinda Citrifolia) as Identity Flora in Pacitan Regency East Java Imtihana, Ezif Rizqi; Utami, Riani Ken
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i1.4212

Abstract

Ethnobotany study in Pacitan on pace (Morinda citrifolia) as identity flora is very important to be done as knowledge for Pacitan community. This study aims to study and reveal the potential of pace (Morinda citrifolia) as identity flora of Pacitan. This study was conducted descriptively with combination of survey methods and document studies. The results of study show that the form of utilization of pace (Morinda citrifolia) as identity flora of Pacitan that is currently being carried out and running is as batik pattern known as batik pace and the name of contemporary creative dance, there are pace batik dance and mbabar pace. Ethnobotanical research of pace (Morinda citrifolia) in Pacitan has broad practical implications for cultural preservation, strengthening local identity and developing the creative economy through batik and dance. [Kajian etnobotani di Pacitan tentang pace (Morinda citrifolia) sebagai flora identitas sangat penting dilakukan sebagai pengetahuan bagi masyarakat Pacitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengungkap potensi pace (Morinda citrifolia) sebagai flora identitas Pacitan. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan kombinasi metode survei dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bentuk pemanfaatan pace (Morinda citrifolia) sebagai flora identitas Pacitan yang saat ini sudah dilakukan dan berjalan adalah sebagai motif batik yang dikenal dengan batik pace dan nama tari kreasi kontemporer yaitu tari batik pace dan mbabar pace. Penelitian etnobotani tanaman pace (Morinda citrifolia) di Pacitan memiliki implikasi praktis yang luas bagi pelestarian budaya, penguatan identitas lokal, dan pengembangan ekonomi kreatif melalui batik dan tari.]
“Yang Sakral” dalam Ritual Ziarah Kubur di Makam Kiai Nur Iman Mlangi Perspektif Mircea Eliade Muhammad Rusidi; Dina Istiqomah; Opi Yensi; Laksamana Naufal Hadi
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i1.4294

Abstract

The grave pilgrimage ritual in Dusun Mlangi, Yogyakarta centered at the tomb of Kiai Nur Iman represents a significant spiritual tradition among local Muslims. This study analyzes the ritual using Mircea Eliade's perspective, particularly the concepts of hierophany, sacred time repetition, and sacred space. Employing a qualitative case study method, data were collected through observation and in-depth interviews with religious leaders and pilgrims. The findings reveal that the tomb is not merely a burial site, but a sacred space where the human and divine realms intersect. The ritual is perceived as a cyclical return to sacred time, providing pilgrims with inner peace and blessings. The tomb’s architecture, reflecting the grandeur of Mataraman Palace, functions symbolically to reinforce its spiritual aura and supports the idea of hierophany. Beyond its religious meaning, the ritual also nurtures communal bonds and enhances social cohesion. This study deepens our understanding of how local communities interpret sacredness not only as a theological construct, but also as a lived, socially unifying cultural experience. [Ritual ziarah kubur di Dusun Mlangi, Yogyakarta tepatnya di makam Kiai Nur Iman merupakan tradisi spiritual penting bagi masyarakat Muslim setempat. Penelitian ini menganalisis ritual tersebut dengan menggunakan perspektif Mircea Eliade, khususnya konsep hierofani, pengulangan waktu sakral, dan ruang sakral. Dengan pendekatan kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan tokoh agama serta peziarah. Temuan menunjukkan bahwa makam ini tidak sekadar tempat pemakaman, tetapi ruang sakral tempat dunia manusia dan dimensi ilahi saling bersentuhan. Ritual ziarah dipahami sebagai bentuk pengulangan waktu sakral yang memberikan ketenangan batin dan keberkahan bagi peziarah. Arsitektur makam yang menyerupai kemegahan Keraton Mataram memperkuat aura spiritual dan simbol hierofani. Selain dimensi religius, ritual ini juga mempererat ikatan sosial dan membangun kohesi antarwarga. Penelitian ini memperkaya pemahaman mengenai bagaimana masyarakat lokal memaknai kesakralan tidak hanya sebagai konsep teologis, tetapi juga sebagai pengalaman budaya yang hidup dan menyatukan sosial.]
Manajemen Keterbukaan Informasi Sekolah Guna Membangun Kepercayaan Masyarakat Dalam Pendidikan Di SDIT Qurrota A’yun Kabupaten Ponorogo Riris
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i1.3239

Abstract

The success of building public trust in education at an institution is inseparable from how that institution manages its information disclosure. This study was conducted to describe the results related to school information disclosure in order to build public trust in the educational process at SDIT Qurrota A'yun Ponorogo. The method used in this study was descriptive-qualitative analysis. Data was collected through observation, interviews, school documents, and infrastructure. The results of this study indicate that information transparency in education will build trust between the school and the community, thereby indirectly attracting the community's attention to the school. At SDIT Qurrota A’yun, information transparency management is carried out by managing information policies, where the school must have information policies that are stored, accessed, and shared within the school. The school always manages information about school activities and programs, which is shared through social media and posted on the school bulletin board. The school always maintains effective communication among various parties within the school, such as students, parents, teachers, staff, and school administration, and always practices financial transparency, where the school must provide access to parents and relevant parties to understand how school funds are used and allocated. This may include the school budget, financial reports, expenditures, and revenues.   [Keberhasilan membangun kepercayaan masyarakat dalam pendidikan di suatu lembaga tidak lepas dari bagaimana lembaga tersebut melakukan manajemen keterbukaan informasinya. Penelitian ini dilakukan untuk menguraikan hasil terkait keterbukaan informasi sekolah guna membangun kepercayaan masyarakat pada proses pendidikan di SDIT Qurrota A’yun Ponorogo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif-analisis kualitatif. Data yang dikumpulkan yakni melalui observasi, wawancara, dokumen-dokumen sekolah, serta sarana prasarana. Hasil dari penelitian ini yaitu keterbukaan informasi pada pendidikan akan membangun kepercayaan antara pihak sekolah dan masyarakat, sehingga secara tidak langsung akan menarik perhatian masyarakat itu sendiri terhadap sekolah tersebut. Di SDIT Qurrota A’yun manajemen keterbukaan informasi dilakukan dengan mengelola kebijakan informasi, dimana sekolah harus memiliki kebijakan informasi yang disimpan, diakses, dan dibagikan dalam sekolah. pihak sekolah selalu mengelola informasi kegiatan dan program-program sekolah, di mana informasi ini dibagikan melalui sosial media dan ditempel di mading sekolah. Pihak sekolah selalu melakukan komunikasi yang efektif antara berbagai pihak di sekolah, seperti siswa, orangtua, guru, staf, dan administrasi sekolah, dan selalu melakukan transparansi keuangan, dimana Sekolah harus memberikan akses kepada orangtua dan pihak terkait untuk mengetahui bagaimana dana sekolah digunakan dan dialokasikan. Hal ini dapat meliputi anggaran sekolah, laporan keuangan, pengeluaran, dan penerimaan.]
Ethics of Using Social Media Based on Religious Values for Students as an Effort to Give Birth to Digital Piety Aulia Tasha Z. M.
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i1.3721

Abstract

The use of social media has become an unavoidable phenomenon in everyday life, especially among students. However, along with technological advances, various ethical challenges arise that need to be addressed, especially from the perspective of religious values. This study aims to examine the importance of ethical use of social media based on religious values for students to foster digital piety. This research uses a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected by distributing questionnaires and observations to students at Jambi University. The results of this study show that the majority of Jambi University students use social media throughout the day, with many of them considering religious values important in their interactions. A total of 81.8% stated that they consider religious values when choosing content to share on social media, and around 57.6% feel that social media can be a means to strengthen religious values in daily life. Expectations for achieving digital piety in this digital era include expanding da'wah networks through social media, providing training programs on the use of technology, and raising awareness of the impact of online actions. [ Penggunaan media sosial telah menjadi fenomena yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan pelajar. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi, muncul berbagai tantangan etika yang perlu disikapi, terutama dari perspektif nilai-nilai agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya etika penggunaan media sosial berdasarkan nilai-nilai agama bagi mahasiswa untuk menumbuhkan kesalehan digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dan observasi kepada mahasiswa di Universitas Jambi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa Universitas Jambi menggunakan media sosial sepanjang hari, dengan banyak dari mereka yang menganggap nilai-nilai agama penting dalam interaksi mereka. Sebanyak 81,8% menyatakan bahwa mereka mempertimbangkan nilai-nilai agama ketika memilih konten yang akan dibagikan di media sosial, dan sekitar 57,6% merasa bahwa media sosial dapat menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Harapan untuk mencapai kesalehan digital di era digital ini antara lain dengan memperluas jaringan dakwah melalui media sosial, menyediakan program pelatihan penggunaan teknologi, dan meningkatkan kesadaran akan dampak dari tindakan online.]  
Pengaruh IOT terhadap Kemudahan Akses Penyebaran Agama Islam di Era Globalisasi Elzia Wanoko
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i1.3961

Abstract

In the era of globalization, Internet of Things (IoT) technology has changed the way information is disseminated and accessed, including in the context of spreading Islam. This study aims to analyze how IoT affects the ease of access and dissemination of Islamic religious information. The research methodology involves data from interviews. The results of the study indicate that IoT expands the reach of da'wah through various digital platforms, such as smartphone applications, smart speakers, and social media connected to IoT devices. In addition, IoT technology facilitates more personal and real-time interactions between preachers and congregations, increasing participation and involvement in religious activities. However, this study also found challenges such as data security risks and dependence on technology. By understanding the influence of IoT, it is hoped that da'wah efforts can be more effective and efficient in conveying Islamic teachings to the wider community. This study concludes that IoT has great potential to support the spread of Islam in the era of globalization, but it requires proper management and strategies to minimize existing risks.   [ Dalam era globalisasi, teknologi Internet of Things (IoT) telah mengubah cara informasi disebarkan dan diakses, termasuk dalam konteks penyebaran agama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana IoT mempengaruhi kemudahan akses dan penyebaran informasi agama Islam. Metodologi penelitian melibatkan data dari wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IoT memperluas jangkauan dakwah melalui berbagai platform digital, seperti aplikasi smartphone, smart speakers, dan media sosial yang terhubung dengan perangkat IoT. Selain itu, teknologi IoT memfasilitasi interaksi yang lebih personal dan real-time antara pendakwah dan jamaah, meningkatkan partisipasi dan keterlibatan dalam kegiatan keagamaan. Namun, penelitian ini juga menemukan tantangan seperti risiko keamanan data dan ketergantungan pada teknologi. Dengan memahami pengaruh IoT, diharapkan upaya dakwah dapat lebih efektif dan efisien dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat luas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa IoT memiliki potensi besar untuk mendukung penyebaran agama Islam di era globalisasi, namun perlu pengelolaan dan strategi yang tepat untuk meminimalkan risiko yang ada.]